<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Landscape Architecture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 21:10:15 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T21:10:15Z</dc:date>
<item>
<title>Evaluasi Pengelolaan Lanskap Wisata Papandayan Leisure Park, Kabupaten Garut</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159494</link>
<description>Evaluasi Pengelolaan Lanskap Wisata Papandayan Leisure Park, Kabupaten Garut
Farid, Tasep Miftah
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki dampak besar dalam&#13;
peningkatan pemasukan negara serta peningkatan lapangan kerja melalui&#13;
pemanfaatan kekayaan alam dan budaya di kota-kota Indonesia sebagai destinasi&#13;
wisata. Kabupaten Garut memiliki berbagai jenis objek wisata meliputi wisata&#13;
kampung adat, pantai, pegunungan, pantai hingga wisata kuliner. Pada lereng&#13;
Gunung Papandayan terdapat satu objek wisata yang bernama Papandayan Leisure&#13;
Park. Potensi keindahan lanskap dikombinasikan dengan penataan fasilitas untuk&#13;
mengoptimalkan kegiatan wisata. Penurunan jumlah pengunjung di objek wisata&#13;
ini terjadi pada periode waktu 2018 sampai 2023, sehingga kegiatan evaluasi&#13;
diperlukan untuk merumuskan solusi atas masalah-masalah pengelolaan lanskap&#13;
yang ada dengan menggunakan pendekatan kualitas visual, pola aktivitas, serta&#13;
persepsi dan preferensi pengunjung. Tujuan penelitian ini antara lain: menganalisis&#13;
kualitas visual lanskap dan pola aktivitas pengunjung, menganalisis persepsi dan&#13;
preferensi pengunjung terkait kegiatan wisata, serta memberikan rekomendasi&#13;
pengelolaan lanskap wisata Papandayan Leisure Park. Proses pengelolaan data akan&#13;
menggunakan metode Scenic Beauty Estimation (SBE), Behavior Mapping serta&#13;
statistika deskriptif. Poin-poin inventarisasi dan analisis data dimasukkan kedalam&#13;
poin faktor-faktor kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O) dan ancaman (T)&#13;
dalam penyusunan produk akhir berupa rekomendasi rencana pengelolaan lanskap.&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar lanskap Papandayan Leisure&#13;
Park memiliki kualitas visual sedang (44%) dengan pemanfaatan aktivitas paling&#13;
banyak di area utara. Pengunjung menilai bahwa elemen-elemen lanskap memiliki&#13;
kondisi fisik yang kurang baik. Kecenderungan penilaian yang sama juga terlihat&#13;
pada aspek kebersihan, informasi, dan promosi. Selanjutnya, mayoritas pengunjung&#13;
menginginkan adanya peningkatan frekuensi dan pengawasan pemeliharaan&#13;
lanskap, peningkatan aktivitas promosi lanskap, serta pengoptimalan ruang&#13;
aktivitas. Pada penelitian ini diperoleh sebanyak empat jenis rekomendasi yaitu S –&#13;
O, S – T, W – O dan W – T dengan total empat belas poin rencana pengelolaan&#13;
lanskap wisata Papandayan Leisure Park.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jan 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159494</guid>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengembanagn Lanskap Wisata Sejarah Kawasan Cagar Budaya Batutulis Kota Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/158199</link>
<description>Pengembanagn Lanskap Wisata Sejarah Kawasan Cagar Budaya Batutulis Kota Bogor
Nisa, Ridha Amaliatun
Kawasan Batutulis di Kota Bogor menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang erat kaitannya dengan Kerajaan Pajajaran. Namun, perubahan pandangan publik yang lebih menekankan aspek mistik dan penataan lanskap yang belum sesuai telah mengurangi daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi pengembangan lanskap wisata sejarah kawasan cagar budaya Batutulis. Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik dan kondisi lanskap sejarah, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan metode skoring untuk menilai signifikansi elemen bersejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kawasan Batutulis harus difokuskan pada wisata edukasi sejarah, memperkaya pemahaman pengunjung tentang Kerajaan Pajajaran. Melalui zonasi dan pembagian ruang yang jelas, pengembangan ini diharapkan dapat memastikan pengunjung mendapatkan pengalaman yang komprehensif dan mendalam tentang sejarah kawasan.; The Batutulis area in Bogor City holds significant historical and cultural wealth closely linked to the Pajajaran Kingdom. However, the shift in public perception, which increasingly emphasizes mystical aspects, along with landscape arrangements that are not yet appropriate, has diminished the area's appeal as a historical tourism destination. The aim of this research is to provide recommendations for developing the historical landscape of the Batutulis cultural heritage site. The research methods used include both qualitative and quantitative descriptive analysis. The qualitative analysis was conducted to describe the characteristics and conditions of the historical landscape, while the quantitative analysis employed a scoring method to assess the significance of historical elements. The research findings indicate that the development of the Batutulis area should focus on historical educational tourism, enriching visitors' understanding of the Pajajaran Kingdom. Through clear zoning and spatial divisions, this development is expected to ensure that visitors gain a comprehensive and in-depth experience of the area's history.heritage of Batutulis and shift public perception, making it a tourism destination focused on historical education.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jan 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/158199</guid>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi manajemen lanskap perkotaan sebagai waterfront landscape pada pesisir kota makassar</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153573</link>
<description>Evaluasi manajemen lanskap perkotaan sebagai waterfront landscape pada pesisir kota makassar
Rohadi, Putra Pamungkas
Kota Makassar merupakan salah satu kota pesisir yang ada di Indonesia dengan luas 175,77 km2 yang terdiri dari 15 kecamatan dengan panjang garis pantai kurang lebih 32 km. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Makassar 2015-2034 memiliki tujuan untuk mewujudkan wilayah kota berbasis pada konsep kota tepian air (waterfront city). Sebagai upaya dalam mencapai tujuan tersebut pemerintah melakukan berbagai kegiatan revitalisasi dan reklamasi pada kawasan pesisir. Kegiatan yang terjadi pada pesisir Kota Makassar membawa suatu perubahan pada kondisi pesisir baik itu secara positif ataupun negatif. Dampak negatif terlihat ialah adanya perubahan morfologi akibat adanya pendangkalan pada kawasan pesisir yang menyebabkan penurunan kualitas air laut akibat kurang optimalnya pertukaran air laut, berkurangan kawasan mangrove dan pencemaran lingkungan yang terjadi akibat kegiatan rumah tangga dan industri.&#13;
	Hal ini mempengaruhi kualitas lanskap pesisir, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan upaya dalam manajemen pengelolaan lanskap yang baik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menginventarisasi, memetakan, mengevaluasi manajemen lanskap pesisir berbasis waterfront city, dan analisis persepsi masyarakat. Metode yang digunakan ialah analisis kesesuaian lahan, analisis keindahan, analisis kenyamanan, dan analisis persepsi masyarakat. Hasil penelitian disusun menjadi rekomendasi strategi pengembangan dan manajemen waterfront city untuk mewujudkan waterfront landscape di Kota Makassar.&#13;
	Berdasarkan analisis kesesuaian lahan lanskap pesisir Kota Makassar berpotensi sebagai pengembangan kawasan wisata, konservasi, dan permukiman. Pengembangan kawasan perlu dilakukan dengan memperhatikan faktor pembatas pada lanskap eksisting setiap fungsi kawasan sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan.&#13;
	Kualitas visual lanskap pesisir Kota Makassar memiliki nilai Scenic Beauty Estimation (SBE) beragam. Kualitas visual tinggi didominasi oleh kawasan dengan pemandangan vegetasi dengan penataan yang baik dan rapi yang memperlihatkan view alam seperti laut dan langit. Sedangkan pada ruang dengan kualitas rendah terlihat kawasan yang tidak tertata baik dan sampah yang berserakan. Tingkat kenyamanan pada ruang terbuka lanskap pesisir memiliki tingkat kenyamanan yang baik pada pagi dan sore hari, sedangkan pada siang hari memiliki tingkat kenyamanan yang tidak nyaman.&#13;
	Analisis persepsi menunjukan bahwa faktor pendidikan dan jarak tempat tinggal memiliki nilai korelasi positif pada setiap aspek persepsi masyarakat terhadap penerapan konsep waterfront city. Hal ini menunjukan bahwa semakin baik tingkat pendidikan dan jarak tinggal responden menilai bahwa penerapan konsep tersebut belum terealisasikan dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya masalah lingkungan dan konflik yang masih terjadi. Selain itu aspek peran pemerintah dan pengawasan merupakan persepsi dengan nilai korelasi terendah yang menunjukan bahwa peran pemerintah dalam pelaksanaan dan pengelolaan waterfront kurang terlihat. Pemerintah sebagai penentu kebijakan perlu berperan aktif dalam penerapan konsep waterfront sehingga dapat menciptakan kondisi yang optimal bagi segala pihak dalam memanfaatkan lanskap pesisir Kota Makassar.&#13;
	Rekomendasi konsep diusulkan yaitu responsible dan resilience dengan strategi pengelolaan yaitu melakukan redevelopment waterfront dengan fungsi mixed use yang terdesentralisasi pada setiap ruang berdasarkan fungsi. Kota Makassar direkomendasikan menjadi tiga zona yaitu zona pariwisata, zona campuran, dan zona konservasi yang didukung oleh program pengelolaan masing-masing.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jan 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153573</guid>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Adaptasi anatomis pohon roof garden: studi kasus:kondomium taman anggrek, Jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/131863</link>
<description>Adaptasi anatomis pohon roof garden: studi kasus:kondomium taman anggrek, Jakarta
Arisanti, Andini
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh andanya suatu bentuk alternatif taman yang berada di atap suatu bangunan (roof garden) yang disebabkan oleh semakin terbatasnya lahan yang telah digunakan untuk menyediakan ruang bagi kebutuhan masyarakat atau pembangunan secara horizontal. Keadaan udara pada keadaan bangunan yang tinggi akan berbeda dengan keadaan udara ditempat yang lebih rendah. Hal ini dapat mempengaruhi bentuk adaptasi tanaman pohon pada khususnya untuk dapat hidup dengan baik pada roof garden. Penelitian mengambil tempat di roof garden kondominium Taman Anggrek Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mempelajari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan (stres) pada roof garden terhadap adaptasi anatomis tanaman pohon di roof garden.&#13;
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil contoh sample iklim terlebih dahulu pada dua lokasi yaitu pada tempat roof garden dan tempat non-roof garden. Pengambilan sampel iklim meliputi kecepatan angin, kelembaban dan suhu udara. Hasil yang didapat adalah kecepatan angin pada roof garden lebih besar dari non-roof garden dengan kelembaban suhu udara yang lebih rendah pada roof garden. Hasil pengukuran iklim ini menunjukkan bahwa lokasi roof garden memiliki keadaan udara yang sejuk berangin. Tanaman pohon yang telah dipilih yaitu pohon Bauhinia purpurea,&#13;
Erythrina christa-galli, Mussaenda erythophylla dan Wodyetia bifurcata kemudian diamati baik secara visual meliputi keadaan pertumbuhan dan kesegaran serta hijau daun. Pengamatan anatomis dilakukan pada daun dan akar. Pada daun diamati stomata untuk mengetahui kerapatan stomata, trikoma untuk mengetahui panjang dan kerapatan trikoma serta ketebalan daun untuk melihat keberadaan lapisan lilin. Pada akar diamati xilem untuk mempelajari konduktivitas akar atau kemempuan pohn dalam menyerap air. Dari hasil perhitungan ini kemudian diolah secara statistik dengan regresi sederhana antara kemampuan penyerapan air dari hasil perhitungan konduktivitas akar dengan transpirasi yang didekati dari jumlah stomata. Konduktivitas akar dengan trikoma dihubungkan dimana trikoma sebagai bentuk modifikasi epidermis yang berperan  alam membatasi pengeluaran air yang berlebihan. Lapisan lilin merupakan bentuk modifikasi lain yang juga dapat mempengaruhi pengeluaran air…
</description>
<pubDate>Sat, 01 Jan 2005 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/131863</guid>
<dc:date>2005-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
