<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Soil Science and Land Resources</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 15:25:43 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-12T15:25:43Z</dc:date>
<item>
<title>Pola Pelepasan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium pada Pupuk NPK-Zeolit dengan Metode Inkubasi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178248</link>
<description>Pola Pelepasan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium pada Pupuk NPK-Zeolit dengan Metode Inkubasi
PRATIWI, MUTIAH
Ketersediaan nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) merupakan faktor&#13;
penting yang menentukan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Pupuk NPK&#13;
konvensional umumnya melepaskan hara secara cepat, sehingga efisiensinya&#13;
rendah akibat pencucian, volatilisasi, dan fiksasi di dalam tanah. Pemanfaatan zeolit&#13;
sebagai matriks pupuk lepas lambat berpotensi mengendalikan pelepasan hara dan&#13;
mempertahankan ketersediaannya dalam tanah. Penelitian ini bertujuan&#13;
mengevaluasi dinamika pelepasan N-amonium (N-NH4?), N-nitrat (N-NO3?), Ptersedia,&#13;
dan K-tersedia, dan pengaruhnya terhadap pH dan daya hantar listrik&#13;
(electrical conductivity/EC) tanah, serta menentukan formulasi NPK-zeolit terbaik&#13;
selama 24 minggu inkubasi. Penelitian menggunakan tanah Latosol dengan&#13;
limaperlakuan, yaitu NPK konvensional 15-15-15 dan empat formulasi NPK-zeolit:&#13;
15-15-15, 12-12-12, 15-13-17, dan 17-13-15, masing-masing pada dosis setara 1&#13;
ton ha?¹. Pengamatan dilakukan pada minggu ke-1, 2, 3, 4, 6, 8, 10, 12, 16, 20, dan&#13;
24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi N-NH4? secara umum&#13;
menurun seiring waktu inkubasi, sedangkan N-NO3?, P-tersedia, K-tersedia, dan EC&#13;
tanah cenderung meningkat. Pola tersebut menunjukkan terjadinya nitrifikasi,&#13;
pelepasan fosfor secara bertahap, dan pertukaran kation K? pada zeolit. Penurunan&#13;
pH tanah berkaitan dengan pembentukan ion H? selama nitrifikasi, sedangkan&#13;
peningkatan EC mencerminkan bertambahnya konsentrasi ion hara terlarut.&#13;
Berdasarkan kestabilan dan keseimbangan pelepasan hara serta perubahan sifat&#13;
kimia tanah, formulasi NPK-zeolit 12-12-12 (A2) merupakan formulasi terbaik.&#13;
Formulasi ini mampu mempertahankan ketersediaan N, P, dan K secara lebih&#13;
bertahap dan stabil selama masa inkubasi, sehingga berpotensi meningkatkan&#13;
efisiensi pemupukan dan mengurangi kehilangan hara dalam tanah.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178248</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Komparatif Akurasi Model 3D dalam Pemantauan Fenotipe Tanaman Cabai pada Sistem Agrifotovoltaik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177579</link>
<description>Analisis Komparatif Akurasi Model 3D dalam Pemantauan Fenotipe Tanaman Cabai pada Sistem Agrifotovoltaik
WIDIYANTI, AULYA
Sektor pertanian global menghadapi tantangan menyusutnya lahan produktif akibat urbanisasi yang membutuhkan solusi modern seperti Agrifotovoltaik (APV) untuk menghasilkan peningkatan produktivitas lahan. Komoditas hortikultura memiliki pertumbuhan yang dipengaruhi oleh intensitas cahaya, menunjukkan bahwa kelebihan cahaya dapat menyebabkan penurunan hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas teknologi penginderaan jarak dekat melalui rekonstruksi 3D untuk memantau pertumbuhan tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) varietas Pillar 1 dibawah naungan sistem APV di Desa Babakan, Bogor. Budidaya dilakukan dengan pola zig-zag dan jarak tanam 60x50 cm, disertai pemupukan NPK dengan dosis 200gr/bedeng pada usia 2 dan 4 MST. Pemrosesan gambar menggunakan perangkat lunak Agisoft Metashape dan QGIS dilakukan untuk mengekstrak nilai fenotipe digital (tinggi dan lebar), yang kemudian divalidasi terhadap data manual menggunakan uji statistik MAE, RMSE, MAPE, dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model 3D memiliki korelasi yang baik dalam merepresentasikan dimensi fisik tanaman seiring bertambahnya usia, sehingga secara efektif meminimalkan intervensi manual. Untuk meningkatkan kualitas evaluasi di masa mendatang, disarankan agar pengambilan gambar dilakukan secara konsisten dengan tingkat Pertampalan foto minimal 80% untuk menghasilkan rekonstruksi model yang lebih komprehensif dan akurat.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177579</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Aluminium– dan Besi Oksida terhadap Bahan Organik Tanah Terikat Seskuioksida pada Lahan Reklamasi Tambang Emas Martabe</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177174</link>
<description>Hubungan Aluminium– dan Besi Oksida terhadap Bahan Organik Tanah Terikat Seskuioksida pada Lahan Reklamasi Tambang Emas Martabe
JANNAH, ROHIMATUL
Tanah pada lahan reklamasi tambang emas memiliki bahan organik yang rendah akibat hilangnya lapisan tanah pucuk (topsoil). Revegetasi menjadi salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut karena dapat memengaruhi dinamika bahan organik tanah. Fraksi bahan organik tanah yang terikat dengan Fe- dan Al-oksida berperan penting dalam melindungi bahan organik tanah dari dekomposisi, sehingga dapat mempertahankan kesuburan tanah dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menilai kandungan Fe- dan Al-oksida yang diekstrak dengan natrium pirofosfat, amonium oksalat, dan ditionit sitrat bikarbonat, serta kaitannya dengan bahan organik tanah terikat seskuioksida pada lahan reklamasi tambang emas. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan Fe- dan Al-oksida dari ketiga ekstrak bervariasi dengan dominasi fraksi kristalin. Namun demikian, Fe- dan Al-oksida ketiga ekstrak tidak memiliki pola hubungan yang spesifik dengan bahan organik tanah terikat seskuioksida. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pada lahan reklamasi yang masih muda, pembentukan kompleks organo-mineral masih berada pada tahap awal. Oleh karena itu, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai dinamika Fe- dan Al-oksida pada awal reklamasi serta kaitannya dengan bahan organik tanah terikat seskuioksida.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177174</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakterisasi Biologis dan Respirasi Tanah Gambut pada Zona Pengelolaan di Perkebunan Kelapa Sawit</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176951</link>
<description>Karakterisasi Biologis dan Respirasi Tanah Gambut pada Zona Pengelolaan di Perkebunan Kelapa Sawit
Rayyan, Mirza Muhammad
Lahan gambut di Indonesia termasuk dalam gambut tropis yang terbentuk dari akumulasi tumbuhan berkayu pada suhu yang relatif hangat dan curah hujan yang sangat tinggi. Lahan gambut banyak dimanfaatkan sebagai perkebunan kelapa &#13;
sawit yang memiliki manajemen pengelolaan berupa zona piringan dan gawangan mati. Perbedaan manajemen pengelolaan di perkebunan kelapa sawit ini diduga memengaruhi kondisi biologi dan kimia antarzona pengelolaan yang berimplikasi pada kondisi lingkungan, contohnya emisi gas CO2. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis total mikrob, fungi, dan respirasi tanah gambut pada piringan dan gawangan mati di dua blok perkebunan kelapa sawit, serta mengidentifikasi faktor pengaruhnya antarzona pengelolaan dan antarblok perkebunan kelapa sawit. Sampel tanah gambut diambil di Desa Mertasari, Kecamatan Pedongga, Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat. Pengambilan tanah dilakukan di dua blok, yakni OC08 dan OL02 dengan rincian plot: piringan (P) pada kedua blok, gawangan mati (GM) pada OC08, gawangan mati perlakuan tandan kosong kelapa sawit (GM-TKKS) pada OL02, dan kontrol (G) pada kedua blok. Analisis populasi total mikrob dan fungi menggunakan metode Total Plate Count (TPC), sementara laju respirasi menggunakan metode Verstaete. Hasil menunjukkan bahwa populasi total mikrob tertinggi pada GM sebesar 11,70 x 108 CFU/g BKM dan pada P di blok OL02 sebesar 4,92 x 108 CFU/g BKM. Sementara total fungi tertinggi pada P di blok OC08 sebesar 1,71 x 105 CFU/g BKM dan GM-TKKS sebesar 1,76 x 105 CFU/g BKM. Laju respirasi tertinggi terdapat pada GM sebesar 18,14 mg C-CO2/kg tanah/hari dan GM-TKKS sebesar 20,08 mg C-CO2/kg tanah/hari. Hasil tersebut diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti akumulasi pelepah kelapa sawit, eksudat akar, dan pemupukan.; Peatlands in Indonesia are classified as tropical peatlands, formed by the accumulation of woody vegetation in relatively warm temperatures and under conditions of very high rainfall. Peatlands are widely utilised as oil palm plantations, which employ management practices involving palm circle and interrow zones. Differences in management practices within these oil palm plantations are suspected to influence biological and chemical conditions among management zones, which in turn affect environmental conditions, such as CO2 emissions. The objective of this study was to analyse total microbial populations, fungi, and soil respiration in peatland palm circle plots and interrow areas across two blocks of oil palm plantations, as well as to identify influencing factors among management zones and plantation blocks of oil palm plantations. Peat soil samples were taken in Mertasari Village, Pedongga Sub-district, Pasangkayu District, West Sulawesi Province. Soil samples were collected from two blocks, namely OC08 and OL02, with the following plot details: palm circle (P) in both blocks, interrow aera (GM) in OC08, interrow area with empty fruit branches application (GM-TKKS) in OL02, and controls (K) in both blocks. Analysis of total microbial and fungal populations used the Total Plate Count (TPC) method, whilst respiration rates were measured using the Verstaete method. The results showed that the highest total microbial population was found in the GM plots at 11,70 × 108 CFU/g oven-dry soil and in the P plots in block OL02 at 4,92 × 108 CFU/g oven-dry soil. Meanwhile, the highest total fungal population was found in P in block OC08 at 1,71 × 105 CFU/g oven-dry soil and in GM-TKKS at 1,76 × 105 CFU/g oven-dry soil. The highest respiration rate was observed in GM at 18,14 g C-CO2/kg soil/day and in GMTKKS at 20,08 g C-CO2/kg soil/day. These results are thought to be influenced by several factors, such as the accumulation of oil palm fronds, root exudates, and fertilisation.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176951</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
