<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Soil Science and Land Resources</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 29 May 2026 22:33:44 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-29T22:33:44Z</dc:date>
<item>
<title>PENJADWALAN APLIKASI PUPUK HAYATI PROVIBIO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS PADI IF20</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173170</link>
<description>PENJADWALAN APLIKASI PUPUK HAYATI PROVIBIO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS PADI IF20
Oktaviyandi, Iqballzah
Pupuk hayati merupakan inovasi pertanian berkelanjutan yang mengandung &#13;
mikroorganisme fungsional untuk meningkatkan ketersediaan hara dan kesuburan &#13;
tanah salah satunya yaitu Provibio yang memiliki sembilan mikroorganisme &#13;
bermanfaat bagi tumbuhan yaitu: bakteri penambat N2 (Azospirillum lipoferum &#13;
ICBB 6088 dan Azotobacter vinelandii ICBB 9098), bakteri pembentuk bintil akar &#13;
(Bradyrhizobium japonicum ICBB 9251), produsen hormon tumbuh (Lactobacillus &#13;
sp. ICBB 6099), mikrob pengurai bau (Saccharomyces cerevisiae ICBB 8808), &#13;
pengurai selulosa (Microbacterium lactium ICBB 7125), pengurai lignin &#13;
(Phanerochaete sp. ICBB 9182), dekomposer (Paenibacillus macerans ICBB &#13;
8810), dan bakteri pengendali hama (Bacillus thuringiensis ICBB 6095). Penelitian &#13;
dilaksanakan Mei sampai Desember 2025 di ICBB dan Laboratorium Unggulan &#13;
Pusat studi Bioteknologi IPB. Rancangan penelitian yang digunakan adalah &#13;
Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan. Percobaan lapang &#13;
dilakukan dengan menggunakan petak berukuran 2,5 × 2,5 m, dengan perlakuan &#13;
sebagai berikut P0.K1 (50% pupuk kimia), P0.K2 (100% pupuk kimia), P1.K1 &#13;
(Provibio + KNO3 + 50% pupuk kimia), dan P2.K1 (Provibio + ZnSO4·7H2O + &#13;
CuSO4 + 50% pupuk kimia). Parameter yang diamati meliputi total mikrob tanah &#13;
(TPC), aktivitas enzim, pH, C-organik, N-total, P-tersedia, dan KTK. Data &#13;
dianalisis menggunakan uji lanjut DMRT. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi &#13;
Provibio dan pupuk kimia 50% meningkatkan aktivitas mikrob tanah, kandungan &#13;
C-organik, serta efisiensi pemupukan dibandingkan perlakuan tunggal pupuk &#13;
kimia. Perlakuan kombinasi juga mampu mempertahankan produktivitas padi &#13;
dengan penggunaan pupuk kimia yang lebih rendah. Disimpulkan bahwa integrasi &#13;
pupuk hayati dan pupuk Urea, SP36, dan KCL berpotensi meningkatkan kesuburan &#13;
tanah dan produktivitas padi secara lebih efisien dan berkelanjutan. Oleh karena itu, &#13;
penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aplikasi dan penjadwalan Provibio &#13;
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi IF20 pada fase vegetatif, serta &#13;
menentukan kombinasi dosis dan waktu pengaplikasi pupuk yang optimal untuk &#13;
tanaman padi.; Biofertilizer are a sustainable agriculture innovation containing function &#13;
microorganisms that enhance nutrient availability and soil fertility. One such &#13;
product is Provibio, which consist of nine beneficial microorganisms for plants, &#13;
namely: nitrogen-fixing bacteria (N2) (Azospirillum lipoferum ICBB 6088 and &#13;
Azotobacter vinelandii ICBB 9098), root nodule-forming bacteria (Bradyrhizobium &#13;
japonicum ICBB 9251), plant growth hormone producers (Lactobacillus sp. ICBB &#13;
6099), odor-degrading microbes (Saccharomyces cerevisiae ICBB 8808), &#13;
cellulose-degading microbes (Microbacterium lactium ICBB 7125), lignin&#13;
degading microbes (Phanerochaete sp. ICBB 9182), decomposers (Paenibacillus &#13;
macerans ICBB 8810), and pest-controlling bacteria (Bacillus thuringiensis ICBB &#13;
6095). This study was conducted from May to December 2025 at ICBB and center &#13;
of excellence Laboratory, IPB Biotechnology Center. The experimental  design &#13;
used was a Randomized Complete Block Design (RCBD) with four treatments. &#13;
Field experiments were carried out using plots measuring 2.5 x 2.5 m, with the &#13;
following treatments: P0.K1 (50% chemical fertilizer), P0.K2 (100% chemical &#13;
fertilizer), P1.K1 (Provibio + KNO3 + 50% chemical fertilizer), and P2.K1 &#13;
(Provibio + Provibio + ZnSO4·7H2O + CuSO4 + 50% chemical fertilizer). Observed &#13;
parameters included total soil microbes (TPC), enzyme activity, pH, organic C, total &#13;
N, available P, and cation exchange capacity (CEC). Data were analyzed using the &#13;
Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the combination of &#13;
Provibio and 50% chemical fertilizer increased soil microbial activity, organic C &#13;
content, and fertilization efficiency compared to the single application of chemical &#13;
fertilizers. The combined treatment was also able to maintain rice productivity with &#13;
reduced chemical fertilizer usage. It can be concluded that the integration of &#13;
biofertilizers with Urea, SP36, and KCL fertilizers has the potential to improve soil &#13;
fertility and rice productivity in a more efficient and sustainable manner. Therefore, &#13;
this study aims to analyze the effect of Provibio application and scheduling on the &#13;
growth and yield of IF20 rice during the vegetative phase, as well as to determine &#13;
the optimal combination of dosage and application timing for rice cultivation.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173170</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sifat Fisik Dan Retensi Air Tanah Berdasarkan&#13;
Umur Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173069</link>
<description>Sifat Fisik Dan Retensi Air Tanah Berdasarkan&#13;
Umur Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
ADINDA, DWI PERMATA
Perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, namun keberlanjutan produksinya sangat ditentukan oleh kualitas tanah sebagai media tumbuh. Aktivitas pengelolaan kebun yang berlangsung dalam jangka panjang, seperti pemupukan, pemanenan, dan pemeliharaan piringan, berpotensi memengaruhi sifat fisik tanah seperti distribusi pori, serta kemampuan tanah dalam menyimpan dan menyediakan air bagi tanaman. Perubahan kondisi tersebut dapat terjadi seiring bertambahnya umur tanaman dan perbedaan zona pengelolaan di dalam kebun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur tanaman kelapa sawit terhadap sifat fisik dan retensi air tanah pada zona gawangan hidup dan piringan. Penelitian dilakukan pada tanaman berumur 7 dan 11 tahun di PT. AMP Plantation Unit 1, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dengan tiga ulangan pada tanah Ultisol Palembayan. Parameter yang diamati meliputi bobot isi, porositas, retensi air (KAKL dan TLP), infiltrasi, dan C-organik tanah. Data yang diperoleh dari seluruh parameter tersebut kemudian dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5% untuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan, serta analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan umur tanaman kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap sifat fisik dan retensi air tanah di zona gawangan hidup dan piringan pada parameter bobot isi, porositas, dan KAKL. Pada tanaman berumur 11 tahun, nilai bobot isi cenderung lebih tinggi, sedangkan porositas dan KAKL lebih rendah dibandingkan dengan tanaman berumur 7 tahun. Perbedaan tersebut mengindikasikan adanya kecenderungan penurunan kemampuan tanah dalam menahan air seiring dengan meningkatnya umur tanaman. Pori air tersedia menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat dengan kadar air kapasitas lapang dan C-organik, serta hubungan negatif yang kuat dengan bobot isi. Intensitas pengelolaan yang lebih tinggi dan vegetasi penutup bawah seperti rerumputan yang lebih jarang pada tanaman tua menyebabkan kualitas fisik tanah cenderung menurun.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173069</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Sistem Agri-Photovoltaic terhadap  Sifat Kimia Tanah, Serapan Hara, Pertumbuhan, dan Hasil Kedelai (Glycine max (L.))</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173040</link>
<description>Pengaruh Sistem Agri-Photovoltaic terhadap  Sifat Kimia Tanah, Serapan Hara, Pertumbuhan, dan Hasil Kedelai (Glycine max (L.))
RAHAYU, ELSA KALAM
Sistem Agri-Photovoltaic (APV) menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi dan pangan suatu negara dengan mengintegrasikan antara pertanian dengan panel surya untuk memproduksi energi sehingga penggunaan lahan menjadi lebih optimal. Sistem ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu strategi peningkatan produksi kedelai yang merupakan komoditas pangan &#13;
strategis nasional. Agri-Photovoltaic Research Station (APRS) Kebun Pendidikan Cikabayan merupakan unit agri-photovoltaic pertama di Indonesia yang dirancang sebagai solusi integratif dalam mendukung produksi energi terbarukan sekaligus mempertahankan produktivitas lahan pertanian di Indonesia. Namun, keberadaan panel surya menciptakan efek naungan yang berpotensi mempengaruhi kapasitas tanaman dalam menyerap hara dan menghasilkan biji. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan sifat kimia tanah dan membandingkan respon pertumbuhan dan produktivitas kedelai yang tumbuh di bawah naungan panel surya dan di luar naungan panel surya. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nyata pada nilai pH, C-organik, N-total, dan Mg-dd antara di bawah naungan panel surya (PS) dengan di luar naungan panel surya (LPS), sedangkan parameter P-tersedia, KTK (Kapasitas Tukar Kation), K-dd, Ca-dd, dan Na-dd tidak menunjukkan perbedaan nyata. Perbedaan tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi iklim mikro di bawah naungan panel surya. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh nyata meningkatkan serapan hara N, P, dan K oleh tanaman kedelai. Selain itu, perlakuan PS juga meningkatkan parameter pertumbuhan dan panen tanaman kedelai, terutama produktivitas, tetapi menurunkan nilai indeks panen (Harvest Index) akibat tingginya total akumulasi biomassa vegetatif. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem APV potensial dalam meningkatkan produktivitas lahan dengan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih optimal.; Agri-Photovoltaic System (APV) offers an alternative approach to simultaneously address energy and food demands by integrating agricultural production with photovoltaic panels, thereby improving land-use efficiency. The system can be considered a strategy to enhance soybean production, a nationally strategic food commodity in Indonesia. Agri-Photovoltaic Research Station (APRS) at Cikabayan Teaching Farm is the first agri-photovoltaic unit in Indonesia, designed as an integrated solution to support renewable energy production while maintaining agricultural land productivity in Indonesia. However, the presence of solar panels creates shading effects that may influence soil nutrient availability, crop nutrient uptake, and crop productivity. This research aimed to evaluate differences in soil chemical properties and to compare the growth response and productivity of soybean cultivated under solar panel shading and open-field condition. The result showed significant differences in soil pH, soil organic carbon, total nitrogen, and exchangeable magnesium under the solar panel shading (PS) compared to area without solar panel shading (WPS), while available phosphorus, cation exchange capacity (CEC), and exchangeable potassium, calcium, and sodium did not differ significantly. These differences were associated with the changes in microclimate conditions created under the solar panel shading. These conditions subsequently resulted in a significant increase in nitrogen (N), phosphorus (P), and potassium (K) uptake by soybean plants. In addition, solar panel shading treatment enhanced soybean growth and yield components, particulary productivity, but reduced the harvest index (HI) due to greater accumulation of vegetative biomass. Overall, the results suggest that APV represents a promising approach for improving land productivity through the creation of favorable microenvironmental conditions for crop growth.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173040</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Aplikasi Spektroradiometer untuk Pengamatan Kelas Umur Padi pada Beberapa Kultivar</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172910</link>
<description>Aplikasi Spektroradiometer untuk Pengamatan Kelas Umur Padi pada Beberapa Kultivar
Achmad, Alferdian
Beras merupakan bahan makanan pokok utama bagi sebagian besar (97%) masyarakat Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemantauan fase tumbuh padi menjadi salah satu faktor dalam menentukan perencanaan terkait ketersediaan beras. Teknologi penginderaan jauh digunakan untuk mengidentifikasi fase tumbuh/umur tanaman pada beberapa kultivar tanaman padi dengan menggunakan data spektral padi. Spektroradiometer digunakan untuk merekam iradians spektral dari rentang gelombang cahaya tampak (visible) sampai near-infrared (NIR) dengan menempatkan sensor pada perangkat portabel. Tujuan penelitian adalah menganalisis karakteristik spektral reflektan kelas umur pada beberapa kultivar tanaman padi berbasis data spektroradiometer dan implikasinya terhadap kanal Landsat 8. Sampel diambil sebanyak 35 titik yang terdiri dari tiga kultivar berbeda (Inpari 32, Padjadjaran Agritan, dan Siliwangi Agritan) untuk melihat perbedaan respons spektral antarkultivar. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menghitung data spektroradiometer menjadi nilai reflektan dan analisis deskriptif terhadap hubungan antara panjang gelombang spektroradiometer dengan nilai reflektan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ketiga kultivar yang diamati, semuanya menunjukkan respons reflektan yang sama yaitu semakin tua umur padi, maka semakin rendah reflektan pada rentang gelombang cahaya tampak dan sebaliknya pada reflektan di rentang gelombang NIR semakin tinggi. Selain itu, berdasarkan pola reflektan yang didapat pada tiga kelas umur yaitu kelas umur 21 HST dan 56 HST menunjukkan perbedaan yang signifikan di mana reflektan gelombang NIR dapat membedakan ketiga kultivar berdasarkan visual pola reflektan. Sementara pada 14 HST, reflektan gelombang NIR Inpari 32 dan Padjadjaran Agritan saling berhimpitan sehingga sulit dibedakan. Implikasi spektral spektroradiometer dengan kanal Landsat 8 mampu memisahkan kombinasi kelas umur dan kultivar padi secara signifikan pada kanal Red dan NIR.; Rice is the main staple food for the majority (97%) of Indonesians. Therefore, monitoring of the growth phase is one of the factors in determining planning related to rice availability. Remote sensing technology is employed to identify growth phase, age, or rice cultivar using spectral data. Spectroradiometer is designed to measures the spatial irradiance in the range from visible light to near-infrared (NIR) by placing sensor on portable device. This study aims to analyze the spectral variability of several rice cultivars based on spectroradiometer data and its implications for Landsat 8 spectra. There are 35 samples consist of three different cultivars (Inpari 32, Padjadjaran Agritan, and Siliwangi Agritan) to see the difference in spectral responses. The method used in this study is to transform the spectroradiometer data into reflectance values and descriptive analysis of the relationship between spectroradiometer wavelength and the reflectance value. In the three cultivars observed, all showed the same reflectance response, i.e. the older the rice, the lower the reflectance in the visible wavebands, while high NIR reflectance was maintained. In addition, based on reflectance patterns obtained in the three age classes, age classes 21 and 56 DAS showed clearest differences where the red edge and reflectance of NIR waves could distinguish the three cultivars based on visual reflectance pattern. Meanwhile, at 14 DAS, the reflectance of NIR waves on Inpari 32 and Padjadjaran Agritan coincided with each other, making it difficult to distinguish. The spectral implication of the spectroradiometer with Landsat 8 is able to separate the combination of age class and rice cultivar in Red and NIR wavebands.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2020 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172910</guid>
<dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
