<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Animal Disease and Veterinary Health</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/116</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 15:09:21 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T15:09:21Z</dc:date>
<item>
<title>Prevalensi dan Faktor Risiko  Helminthiasis pada Kuda Olahraga di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172061</link>
<description>Prevalensi dan Faktor Risiko  Helminthiasis pada Kuda Olahraga di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor
Trapsilo, Muhammad Shufi Laku
Peran kuda telah mengalami pergeseran dari sarana transportasi menjadi sarana olahraga. Helminthiasis tetap menjadi tantangan kesehatan yang signifikan dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi pemilik istal. Penelitian ini bertujuan menghitung prevalensi dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko infeksi cacing saluran pencernaan pada kuda olahraga di Kecamatan Ciampea. Desain penelitian yang digunakan adalah studi potong-lintang dengan dua sumber data utama: hasil pemeriksaan laboratorium (metode pengapungan sederhana dan metode McMaster) dan data wawancara dengan pemilik istal. Pemeriksaan terhadap 28 sampel feses menunjukkan prevalensi total 89,2%, yang terdiri atas prevalensi strongyle 82,1% dan prevalensi ascarid 7,1%. Faktor-faktor risiko yang menunjukkan korelasi signifikan terhadap helminthiasis di antaranya umur, jenis kelamin, kebiasaan merumput, dan frekuensi mandi harian. Derajat infeksi strongyle dan ascarid tergolong kategori infeksi sedang dengan rata-rata jumlah telur per gram tinja masing-masing sebesar 510,87 ± 455,26 dan 350,00 ± 212,13.; The role of horses has transitioned from a mode of transportation to a sport animal. Helminthiasis remains a significant health challenge and can result in considerable economic losses for stable owners. This study aimed to count the prevalence and identify risk factors associated with gastrointestinal nematode infections in sport horses in Ciampea District. A cross-sectional study design was employed, utilizing two main data sources: laboratory examination results (simple flotation and McMaster methods) and questionnaire data obtained from stable owners. Examination of 28 fecal samples revealed a total prevalence of 89.2%, comprising strongyle prevalence of 82.1% and ascarid prevalence of 7.1%. Risk factors demonstrating significant correlation with helminthiasis included age, sex, grazing habits, and daily bathing frequency. The intensity of strongyle and ascarid infections was classified as moderate, with mean egg counts per gram of feces of 510.87 ± 455.26 and 350.00 ± 212.13, respectively.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172061</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi Kasus Hubungan antara Tingkat Infeksi Kecacingan dengan Manajemen Pemberian Antelmintik pada Kuda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171165</link>
<description>Studi Kasus Hubungan antara Tingkat Infeksi Kecacingan dengan Manajemen Pemberian Antelmintik pada Kuda
Sudirman, Syalwa Almaira
Kuda merupakan hewan yang memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan &#13;
sehari-hari. Keberhasilan dalam pemeliharaan kuda sangat dipengaruhi oleh &#13;
manajemen pemeliharaan. Infeksi cacing gastrointestinal merupakan salah satu &#13;
permasalahan kesehatan utama yang dapat menurunkan performa dan kebugaran &#13;
kuda. Salah satu aspek penting dalam manajemen kesehatan adalah pengendalian &#13;
parasit melalui pemberian antelmintik. Penggunaan antelmintik dengan dosis yang &#13;
tidak tepat dan berulang tanpa rotasi dapat menyebabkan resistensi obat. Penelitian &#13;
ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat infeksi kecacingan pada kuda sebelum &#13;
dan sesudah pemberian antelmintik, serta menilai efektivitas manajemen pemberian &#13;
antelmintik di tiga stable di Kabupaten Bogor. Data dikumpulkan melalui &#13;
wawancara, observasi manajemen pemeliharaan, serta analisis sampel feses &#13;
menggunakan metode flotasi sederhana dan McMaster. Hasil penelitian &#13;
menunjukkan ketiga stable terinfeksi hanya oleh cacing Cyathostominae. Tingkat &#13;
infeksi kecacingan tertinggi terjadi pada stable 1 sedangkan stable 2 dan stable 3 &#13;
memiliki tingkat infeksi yang sama dan lebih rendah dari stable 1.  Manajemen &#13;
pemberian antelmintik memengaruhi penurunan tingkat infeksi helmintiasis secara &#13;
signifikan. Efektivitas pengobatan juga dipengaruhi oleh jenis obat, rotasi &#13;
antelmintik, dan kondisi sanitasi lingkungan.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171165</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Detection of Feline Panleukopenia Virus by Polymerase Chain Reaction (PCR) in Cats with Clinical Symptoms</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/169812</link>
<description>Detection of Feline Panleukopenia Virus by Polymerase Chain Reaction (PCR) in Cats with Clinical Symptoms
Akbar, M.Gifari
Feline Panleukopenia (FP) is a viral disease in cats that is endemic in&#13;
Indonesia. Diagnosis is generally based on clinical symptoms, but it is often&#13;
mistaken for infections by other viruses such as feline leukemia virus (FeLV) and&#13;
feline corona virus (FCoV). Therefore, supportive diagnostic tests are needed, for&#13;
example rapid antigen tests or detection of viral genetic material using PCR. This&#13;
study aimed to detect FPV from cats showing clinical symptoms of FP (n=7) and&#13;
cats with clinical symptoms ambiguous between FP and FIP (n=7). Fourteen&#13;
archived samples consisting of plasma (n=2), feces (n=3), and rectal swabs (n=9)&#13;
were analyzed by PCR targeting the viral protein (VP)2 gene. Out of 14 samples&#13;
tested, 4 showed bands after electrophoresis, but only 1 sample (a rectal swab from&#13;
a cat with clinical signs of FP) had a band at the expected size of 681 bp. No samples&#13;
from cats with ambiguous clinical signs between FP and FIP tested positive by PCR,&#13;
highlighting the importance of PCR as a diagnostic tool to differentiate FP from&#13;
other diseases with similar symptoms.; Feline Panleukopenia (FP) adalah salah satu penyakit virus pada kucing&#13;
yang endemik di Indonesia. Diagnosa umumnya berdasarkan gejala klinis, namun&#13;
sering dikelirukan oleh infeksi virus lainnya seperti feline leukimia virus (FeLV)&#13;
dan feline corona virus (FCoV). Oleh sebab itu, diperlukan uji diagnostik&#13;
penunjang seperti uji cepat antigen atau deteksi material genetik virus&#13;
menggunakan uji PCR. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi FPV dari kucing&#13;
yang menunjukkan gejala klinis FP (n=7) dan kucing dengan gejala klinis dubius&#13;
antara FP dan FIP (n=7). Empat belassampel arsip berupa plasma (n=2), feses (n=3),&#13;
swab rektal (n=9) dianalisis menggunakan PCR dengan gen target viral protein&#13;
(VP)2. Dari 14 sampel yang diuji, 4 menunjukkan pita setelah elektroforesis, tetapi&#13;
hanya 1 sampel (swab rektal dari kucing bergejala FP) yang memiliki pita pada&#13;
ukuran 681 bp. Tidak ada sampel dari kucing dengan gejala dubius FP dan FIP yang&#13;
positif PCR, menegaskan pentingnya PCR untuk membedakan FP dari penyakit&#13;
serupa
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/169812</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Keberadaan Cendawan yang Tahan Anticendawan di Lingkungan Klinik Hewan Satwagia Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/169146</link>
<description>Keberadaan Cendawan yang Tahan Anticendawan di Lingkungan Klinik Hewan Satwagia Bogor
Mumu, Vincent Trinity
VINCENT TRINITY MUMU. Keberadaan Cendawan yang Tahan Anticendawan di Lingkungan Klinik Hewan Satwagia Bogor. Dibimbing oleh EKO SUGENG PRIBADI dan TITIEK SUNARTATIE. &#13;
&#13;
Infeksi nosokomial akibat cendawan yang tahan terhadap obat anticendawan merupakan tantangan dalam praktik kedokteran hewan. Penelitian ini bertujuan mengenali cendawan patogen yang diisolasi dari berbagai fasilitas di klinik hewan dan mengetahui kepekaannya terhadap beberapa jenis obat anticendawan. Contoh usap permukaan dan contoh udara diambil dari enam titik di tiga Klinik Hewan Satwagia Bogor. Semua contoh dibiakkan di atas media PDA, CYA, dan MEA. Pengenalan morfologik mengungkap keberadaan Aspergillus niger, Aspergillus wentii, Aspergillus sydowii, Aspergillus montevidensis, dan Fusarium spp. Khamir tidak ditemukan dalam Penelitian ini. Uji antibiogram terhadap anticendawan dilakukan menggunakan metode difusi sumur. Obat anticendawan yang diuji adalah terbinafine, griseofulvin, bifonazole, itraconazole, fluconazole, dan miconazole. Hasil uji antibiogram memperlihatkan terbinafine sebagai anticendawan yang paling efektif diikuti miconazole. Bifonazole dan itraconazole memiliki daya hambat sedang hingga kuat, sedangkan griseofulvin dan fluconazole memperlihatkan daya hambat lemah.; VINCENT TRINITY MUMU. Existence of Antifungal-Resistant Fungi at the Bogor Satwagia Animal Clinic. Supervised by EKO SUGENG PRIBADI dan TITIEK SUNARTATIE. &#13;
&#13;
Nosocomial infections due to fungi that are resistant to antifungal drugs are a challenge in veterinary practice. This research aimed to identify pathogenic fungi isolated from various facilities in pet clinics and determined their sensitivity to several types of antifungal drugs. Surface swab samples and air samples were taken from six points in three pet clinics. All samples were cultured on PDA, CYA, and MEA media. Morphological recognition revealed the presence of Aspergillus niger, Aspergillus wentii, Aspergillus sydowii, Aspergillus montevidensis, and Fusarium spp. Yeasts were not found in this study. The antibiogram test against antifungals was carried out using the well diffusion method. The antifungal drugs tested were terbinafine, griseofulvin, bifonazole, itraconazole, fluconazole, and miconazole. Antibiogram test results showed terbinafine as the most effective anti-fungus followed by miconazole. Bifonazole and itraconazole have moderate to strong inhibition, while griseofulvin and fluconazole show weak.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/169146</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
