<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Aquaculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 17 Sep 2026 18:53:54 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-17T18:53:54Z</dc:date>
<item>
<title>Performa Reproduksi Induk Betina Mas Koki (Carassius auratus (Linnaeus, 1758)) melalui Pemberian Plasma Darah Sapi Betina (Bos indicus)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179924</link>
<description>Performa Reproduksi Induk Betina Mas Koki (Carassius auratus (Linnaeus, 1758)) melalui Pemberian Plasma Darah Sapi Betina (Bos indicus)
SOFIAWAN, MUHAMMAD BIMOSENA
Darah sapi betina merupakan limbah rumah pemotongan hewan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber molekul bioaktif untuk mendukung reproduksi ikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dan menentukan dosis terbaik plasma darah sapi betina untuk meningkatkan performa reproduksi induk betina mas koki. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan individu, yaitu kontrol serta plasma dosis 0,5, 1,0, dan 1,5 mL kg?¹ induk yang diberikan melalui pakan selama 23 hari. Pemberian plasma meningkatkan fekunditas dari 3.475±352 butir menjadi 4.538±208–6.552±553 butir, derajat penetasan dari 71,02±0,65% menjadi 77,11±0,74–81,33±0,34%, dan produktivitas induk dari 16.654±1.802 ekor tahun?¹ menjadi 34.668±1.654–47.164±1.452 ekor tahun?¹. Pemberian plasma juga meningkatkan pertumbuhan bobot mutlak, diameter telur, kelangsungan hidup larva, dan proyeksi keuntungan, tetapi tidak meningkatkan derajat pembuahan serta tidak memengaruhi kadar hemoglobin dan hematokrit. Dosis 1,5 mL kg?¹ induk menghasilkan performa terbaik dengan meningkatkan fekunditas 1,89 kali, derajat penetasan 1,15 kali, dan produktivitas induk 2,83 kali dibandingkan kontrol. Plasma darah sapi betina berpotensi menjadi bahan bioaktif lokal untuk meningkatkan performa reproduksi induk betina mas koki tanpa mengganggu kondisi fisiologis kesehatan induk.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179924</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Maskulinisasi Ikan Rainbow Paskai (Pseudomugil paskai) melalui Pakan menggunakan Ekstrak Biji Pepaya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179916</link>
<description>Maskulinisasi Ikan Rainbow Paskai (Pseudomugil paskai) melalui Pakan menggunakan Ekstrak Biji Pepaya
Jibrali, Jibran
Penelitian ini mengkaji penggunaan ekstrak biji pepaya (Carica papaya) sebagai bahan alami untuk maskulinisasi ikan rainbow paskai (Pseudomugil paskai) melalui suplementasi pakan dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan. Larva P. paskai diberi pakan komersial yang dilapisi dengan berbagai dosis bahan perlakuan selama 30 hari, yaitu kontrol (K), 17a-metiltestosteron  1 mg kg?¹ pakan (MT), bubuk biji pepaya 6 g kg?¹ pakan (B6), serta ekstrak biji pepaya 1,5; 2,5; dan 3,5 mL kg?¹ pakan (E1,5; E2,5; E3,5). Ikan kemudian dipelihara hingga umur 60 hari dan diamati persentase kelamin jantan, pertumbuhan, serta tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan E2,5 menghasilkan persentase kelamin jantan tertinggi sebesar (96,67±5,77%), yang tidak berbeda nyata dengan MT (93,33±11,55%). Perlakuan E2,5 juga menghasilkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi sebesar (96,67±5,77%). Perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan panjang mutlak. Tidak ditemukan abnormalitas pada seluruh perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak biji pepaya dosis 2,5 mL kg?¹ pakan merupakan dosis terbaik untuk maskulinisasi larva P. paskai dan berpotensi menjadi alternatif alami penggunaan 17a-metiltestosteron.; This study investigated the use of papaya seed (Carica papaya) extract as a natural material for masculinization of rainbow paskai (Pseudomugil paskai) larvae through feed supplementation and its effects on growth. Larvae were fed commercial feed coated with different treatments for 30 days, consisting of a control (K), 17a-methyltestosterone at 1 mg kg?¹ feed (MT), papaya seed powder at 6 g kg?¹ feed (B6), and papaya seed extract at 1,5; 2,5, and 3,5 mL kg?¹ feed (E1,5, E2,5, and E3,5). Fish were subsequently reared until 60 days of age, and the percentage of males, growth, and survival rate were evaluated. The results showed that E2,5 produced the highest male percentage (96,67±5,77%), which was not significantly different from MT (93,33±11,55%). E2,5 also resulted in the highest survival rate (96,67±5,77%). The treatments had no significant effect on absolute weight and length growth. No abnormalities were observed in any treatment. Therefore, papaya seed extract at 2,5 mL kg?¹ feed was the best treatment for masculinization of P. paskai larvae and showed potential as a natural alternative to 17a-methyltestosterone.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179916</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Strain yang Berbeda pada Fase Pembesaran</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179912</link>
<description>Evaluasi Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Strain yang Berbeda pada Fase Pembesaran
AGRIEZKY, AL RAFA
Penurunan kualitas genetik ikan nila akibat perkawinan sekerabat&#13;
memerlukan solusi hibridisasi antarnama varietas unggul guna mengevaluasi&#13;
performa fenotipe kuantitatifnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan&#13;
membandingkan performa laju pertumbuhan serta efisiensi pakan antara benih ikan&#13;
nila strain Nirwana dan Bangkok pada fase pembesaran. Metode eksperimen&#13;
rancangan acak lengkap digunakan dengan dua perlakuan strain dan tiga ulangan&#13;
selama tiga puluh hari masa pemeliharaan di dalam wadah hapa kolam percobaan.&#13;
Hasil analisis menggunakan uji statistik Independent T-Test menunjukkan nilai&#13;
signifikansi lebih besar dari 0,05 pada seluruh parameter uji. Temuan baru&#13;
penelitian ini mengungkapkan bahwa kedua strain memiliki kapasitas biologis,&#13;
efisiensi metabolisme, pola pertumbuhan alometrik positif, dan daya adaptasi&#13;
lingkungan yang relatif setara tanpa adanya ketimpangan performa yang nyata&#13;
secara ilmiah. Rata-rata laju pertumbuhan harian total Nirwana mencapai 1,21 gram&#13;
per hari dan Bangkok sebesar 1,18 gram per hari, dengan tingkat kelangsungan&#13;
hidup masing-masing sebesar 95,55% dan 91,11%. Implikasi faktual penelitian ini&#13;
membuktikan bahwa kedua komoditas memiliki mutu produktivitas seimbang&#13;
sehingga dapat diaplikasikan secara bergantian dalam industri akuakultur selama&#13;
kualitas air media budidaya dikelola secara optimal.; The decline in the genetic quality of Nile tilapia due to inbreeding requires&#13;
hybridization solutions among superior varieties to evaluate their quantitative&#13;
phenotypic performance. This study aimed to evaluate and compare the growth rate&#13;
and feed efficiency between Nirwana and Bangkok strain Nile tilapia seeds during&#13;
the grow-out phase. A Completely Randomized Design experimental method was&#13;
used with two strain treatments and three replications over thirty days of rearing in&#13;
hapa nets within an experimental pond. The Independent T-Test statistical analysis&#13;
showed a significance value greater than 0.05 across all tested parameters. The&#13;
novel findings of this study revealed that both strains possess relatively equal&#13;
biological capacity, metabolic efficiency, positive allometric growth patterns, and&#13;
environmental adaptability, with no scientifically significant performance disparity.&#13;
The average total daily growth rate reached 1.21 grams per day for Nirwana and&#13;
1.18 grams per day for Bangkok, with survival rates of 95.55% and 91.11%,&#13;
respectively. The factual implications of this research prove that both commodities&#13;
have balanced productivity quality, allowing them to be applied interchangeably in&#13;
the aquaculture industry as long as the culture water quality is optimally managed.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179912</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Efektivitas  Fine Bubble pada Padat Tebar Berbeda terhadap Performa Pertumbuhan Ikan Denisoni (Sahyadria denisonii)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179865</link>
<description>Efektivitas  Fine Bubble pada Padat Tebar Berbeda terhadap Performa Pertumbuhan Ikan Denisoni (Sahyadria denisonii)
Jamla, Aghnia Batrisyia
Budidaya ikan denisoni (Sahyadria denisonii) dengan padat tebar berbeda dapat memengaruhi kondisi media pemeliharaan dan performa ikan selama pemeliharaan. Teknologi fine bubble dapat diterapkan untuk membantu mempertahankan ketersediaan oksigen terlarut pada media pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknologi fine bubble pada&#13;
padat tebar berbeda terhadap performa pertumbuhan ikan denisoni. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu padat tebar 3, 5, dan 7 ekor L-1 selama 28 hari pemeliharaan. Parameter yang diamati meliputi tingkat konsumsi oksigen (TKO), tingkat kelangsungan hidup (TKH), rasio konversi pakan (RKP), laju pertumbuhan spesifik panjang (LPSP), distribusi frekuensi panjang, kualitas air, serta analisis biaya. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan padat tebar dengan penerapan teknologi fine bubble tidak memberikan pengaruh nyata (p&gt;0,05) terhadap TKO, RKP, dan LPSP, tetapi memberikan pengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap TKH. Fine bubble meningkatkan kadar oksigen terlarut dari 6,7 – 7,5 mg L-1, menurunkan kadar amonia pada nilai&#13;
0,35 – 2,50 mg L-1 sehingga mampu mempertahankan kinerja pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan denisoni dengan perlakuan terbaik pada padat tebar 5 ekor L-1.&#13;
&#13;
Kata kunci: fine bubble, ikan denisoni, oksigen terlarut, padat tebar, pertumbuhan; The culture of Denison barb (Sahyadria denisonii) at different stocking densities may affect water quality and fish performance during the rearing period. Fine bubble technology can be applied to help maintain dissolved oxygen availability in the rearing medium. This study aimed to analyze the effectiveness of fine bubble technology at different stocking densities on the growth performance of Denison barb. The study employed a Completely Randomized Design with three treatments and three replications, consisting of stocking densities of 3, 5, and 7 fish L-1 over a 28-day rearing period. The observed parameters included oxygen consumption rate (OCR), survival rate (SR), feed conversion ratio (FCR), specific growth rate in length (SGRL), length-frequency distribution, water quality, and cost analysis. Statistical analysis showed that different stocking densities with the application of fine bubble technology had no significant effect (p&gt;0.05) on OCR, FCR, and SGRL, but significantly affected SR (p&lt;0.05). Fine bubble technology increased dissolved oxygen levels to 6.7–7.5 mg L-1 and reduced ammonia levels to 0.35–2.50 mg L-1, thereby sustaining growth performance and survival rates with the best results observed at a stocking density of 5 fish L-1.&#13;
&#13;
Keywords: denison barb, dissolved oxygen, fine bubble, growth, stocking density
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179865</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
