<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Aquatic Resources Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 04:34:06 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-14T04:34:06Z</dc:date>
<item>
<title>Jasa dan Valuasi Ekosistem Padang Lamun di Pulau Tidung Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174480</link>
<description>Jasa dan Valuasi Ekosistem Padang Lamun di Pulau Tidung Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
SINDI, AFRITA
Ekosistem padang lamun memiliki peran penting melalui jasa penyediaan berupa sumber daya perikanan, jasa pengaturan berupa peredaman gelombang dan penyimpanan karbon, serta jasa budaya yang mendukung kegiatan wisata di Pulau Tidung. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jasa ekosistem padang lamun serta mengestimasi nilai ekonomi jasa penyediaannya. Metode yang digunakan meliputi observasi lapang, wawancara nelayan, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan ekosistem lamun di Pulau Tidung dimanfaatkan sebagai sumber perikanan, habitat biota laut, kawasan wisata, serta berfungsi sebagai peredam gelombang, pengendap sedimen dan penyimpan karbon. Nilai rata-rata tutupan lamun sebesar 31,44% tergolong kurang sehat, dengan kerapatan rata-rata 94,67 ind/m² tergolong agak rapat serta ditemukan 4 jenis lamun, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, dan Cymodocea rotundata dengan sebaran yang cukup merata. Rata-rata hasil tangkapan nelayan mencapai 304,15 kg/tahun dengan nilai valuasi ekonomi sebesar Rp 234.002.370/tahun.; Seagrass meadow ecosystems play an important role through provisioning services like fisheries resources, regulating services such as wave attenuation and carbon storage, and cultural services that support tourism activities on Tidung Island. This study aims to identify the ecosystem services of seagrass meadows and estimate the economic value of their provisioning services. The methods used include field observations, interviews with fishermen, and literature review. Research results show that the seagrass ecosystem on Tidung Island is used as a source of fisheries, a habitat for marine life, a tourist area, and also functions as a wave breaker, sediment trap, and carbon storage. The average seagrass cover is 31.44%, which is considered unhealthy, with an average density of 94.67 ind/m², which is somewhat dense, and four types of seagrass were found: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, and Cymodocea rotundata, with a fairly even distribution. On average, fishermen catch about 304.15 kg per year with an economic valuation of IDR 234,002,370 per year.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174480</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Identifikasi Kerusakan Mangrove sebagai Dasar Rehabilitasi di Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174414</link>
<description>Identifikasi Kerusakan Mangrove sebagai Dasar Rehabilitasi di Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon
NUBLAH, IASYA SHABRINA
Ekosistem mangrove Desa Gebang Mekar mengalami degradasi akibat konversi lahan tambak, aktivitas perikanan, dan pengembangan wisata pesisir yang berpotensi menurunkan kualitas habitat mangrove. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kerusakan mangrove dan kualitas lingkungan perairan sebagai dasar penyusunan arahan rehabilitasi mengrove di Gebang Mekar. Data dikumpulkan melalui pengukuran kualitas perairan dan pengamatan vegetasi mangrove menggunakan metode line transect, kemudian dianalisis menggunakan Indeks Kesehatan Mangrove (IKM) dan Indeks Kualitas Lingkungan Mangrove (IKLM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan pohon mangrove tergolong rendah (167–333 ind/ha), dengan tutupan kanopi berkisar antara 63,47–67,36% (kategori sedang). Nilai IKM sebesar 36,55% berkategori sedang (moderate), sedangkan IKLM sebesar 84,72% berkategori tinggi. Rehabilitasi mangrove direkomendasikan melalui strategi replantasi menggunakan bambu ajir berjarak 100 cm serta pemilihan spesies yang disesuaikan dengan kondisi hidrologi dan salinitas.; The mangrove ecosystem in Gebang Mekar Village has experienced degradation due to pond conversion, fisheries activities, and coastal tourism development, which potentially reduce mangrove habitat quality. This study aimed to identify mangrove degradation and assess water environmental quality as a basis for developing mangrove rehabilitation recommendations in Gebang Mekar. Data were collected through water quality measurements and mangrove vegetation surveys using the line transect method and analyzed using the Mangrove Health Index (MHI) and Mangrove Environmental Quality Index (MEQI). The results showed that mangrove tree density was low, ranging from 167 to 333 ind/ha, while canopy cover ranged from 63.47% to 67.36%, indicating a moderate category. The MHI value was 36.55%, indicating moderate mangrove health, whereas the MEQI value was 84.72%, indicating high environmental quality. Mangrove rehabilitation is recommended through a replanting strategy using bamboo stakes spaced 100 cm apart and selecting species according to hydrological and salinity conditions.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174414</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Kerapatan Mangrove terhadap Kelimpahan Ikan  Glodok  (Boleophthalmus boddarti) di Baro Gebang, Cirebon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174413</link>
<description>Hubungan Kerapatan Mangrove terhadap Kelimpahan Ikan  Glodok  (Boleophthalmus boddarti) di Baro Gebang, Cirebon
Pasaribu, Nola Fitrida
Penelitian ini menganalisis hubungan antara kerapatan mangrove dan kelimpahan ikan glodok (Boleophthalmus boddarti) di pesisir Baro Gebang, Cirebon. Pengambilan data dilakukan Januari 2026 pada tiga stasiun dengan kerapatan berbeda (tinggi, sedang, rendah). Kerapatan mangrove diukur menggunakan metode transek 10×10 m dan plot. Ikan glodok dikumpulkan saat surut dengan transek 10×10 m. Analisis menggunakan korelasi Pearson. Hasil menunjukkan kerapatan mangrove tertinggi di Stasiun 2 (2.500 ind/ha anakan), &#13;
terendah di Stasiun 3. Jenis Avicennia marina  mendominasi seluruh stasiun. Kelimpahan ikan glodok tertinggi di Stasiun 2 (844,44 ind/ha)  dan terendah di Stasiun 3 (300 ind/ha). Korelasi Pearson menunjukkan hubungan sangat kuat dan positif (r = 0,9997), artinya semakin tinggi kerapatan mangrove, semakin tinggi kelimpahan ikan glodok. Faktor oksigen terlarut, kekeruhan, dan tekanan antropogenik juga berpengaruh.; This study analyzed the relationship between mangrove density and mudskipper (Boleophthalmus boddarti) abundance in Baro Gebang, Cirebon. Data were collected in January 2026 at three stations with different density levels (high, moderate, low). Mangrove density was measured using transect 10×10 m and plot methods. Mudskippers were collected during low tide using 10×10 m transects. Pearson correlation was used for analysis. Results showed the highest mangrove density at Station 2 (2,500 ind/ha for saplings) and the lowest at Station 3. Avicennia marina  dominated all stations. The highest mudskipper abundance was at Station 2 (844.44 ind/ha) and the lowest at Station 3 (300 ind/ha). Pearson correlation revealed a very strong positive relationship (r = 0.9997), indicating that higher &#13;
mangrove density corresponds to higher mudskipper abundance. Dissolved oxygen, turbidity, and anthropogenic pressure also influenced abundance.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174413</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Desain Rencana Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Kawasan Wisata Mangrove Pulau Pari</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174407</link>
<description>Desain Rencana Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Kawasan Wisata Mangrove Pulau Pari
Kamil, Fauzi Insan
Ekosistem mangrove di Pulau Pari yang dimanfaatkan sebagai kawasan wisata &#13;
belum mencapai kesesuaian sebagai kawasan ekowisata. Untuk mencapai kesesuaian &#13;
ekowisata, perlu dilakukannya rehabilitasi dan pengembangan ekosistem mangrove &#13;
yang terencana. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana rehabilitasi dan &#13;
pengembangan ekosistem mangrove dalam upaya meningkatkan kawasan wisata &#13;
mangrove. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai dengan November 2025. &#13;
Analisis ekologi meliputi Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Kesehatan Mangrove &#13;
(IKM), Indeks Kualitas Lingkungan Mangrove (IKLM), Analisis kesenjangan, dan &#13;
matriks rehabilitasi. Analisis demografi masyarakat menggunakan analisis deskriptif &#13;
untuk mengetahui karakteristik penduduk, pengetahuan, persepsi, dan kontribusi &#13;
masyarakat terhadap pelestarian ekosistem mangrove. Hasil penelitian menunjukkan &#13;
terdapat enam spesies mangrove dengan Rhizophora stylosa sebagai spesies dominan. &#13;
IKM berada pada kategori sedang (38-42%), IKLM berada pada kategori tinggi (71&#13;
75%). Strategi rehabilitasi yang direkomendasikan adalah replantasi dengan kelompok &#13;
masyarakat yang sudah ada menjadi penggerak utama dalam program rehabilitasi.; The mangrove ecosystem on Pari Island, which is utilized as a tourism area, has &#13;
not yet met the criteria for a suitable ecotourism destination. To achieve suitability as &#13;
a ecotourism area, planned rehabilitation and development of the mangrove ecosystem &#13;
are necessary. This study aims to develop a plan for the rehabilitation and development &#13;
of the mangrove ecosystem an effort to enhance the mangrove tourism area. The &#13;
research was conducted from September to November 2025. Ecological analysis &#13;
included the Importance Value Index (IVI), Mangrove Health Index (MHI), Mangrove &#13;
Environmental Quality Index (MEQI), gap analysis, and a rehabilitation matrix. &#13;
Community demographic analysis used descriptive analysis to determine population &#13;
characteristics, knowledge, perceptions, and community contributions to mangrove &#13;
ecosystem conservation. The results of the study indicate the presence of six mangrove &#13;
species, with Rhizophora stylosa as the dominant species. The MHI falls within the &#13;
moderate category (38-42%), while the MEQI falls within the high category (71-75%). &#13;
The recommended rehabilitation strategy is replanting, with existing community &#13;
groups serving as the primary drivers of the rehabilitation program.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174407</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
