<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Fisheries Resource Utilization</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111</link>
<description/>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2026 01:50:11 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-11-08T01:50:11Z</dc:date>
<item>
<title>Potensi Risiko Operasional Tangkahan terhadap Fungsi Kepelabuhanan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180224</link>
<description>Potensi Risiko Operasional Tangkahan terhadap Fungsi Kepelabuhanan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
Darmawan, Agung
AGUNG DARMAWAN. Potensi Risiko Operasional Tangkahan terhadap Fungsi Kepelabuhanan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Dibimbing oleh DARMAWAN DAN MUHAMMAD FEDI ALFIADI SONDITA.&#13;
&#13;
Penelitian ini mengkaji status dan pengelolaan faktual Dermaga Lomanis, Batere, dan Sleko, serta risiko administrasi pembongkaran ikan di luar wilayah kerja Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumen yang tersedia; analisis menggunakan process tracing, legal mapping, pemetaan aktor, serta skenario risiko kualitatif. Dermaga Lomanis diidentifikasi sebagai fasilitas PSDKP Cilacap, sedangkan hak atas lahan dan dasar pengelolaan formal Batere–Sleko belum dapat dipastikan karena dokumen primer tidak diperoleh dan keterangan informan berbeda. Dalam kasus yang ditelusuri, surat olah gerak mencantumkan Lomanis, tetapi lokasi pembongkaran aktual dilaporkan berada di Batere atau Sleko. Data tangkapan tetap dilaporkan masuk ke sistem PPS Cilacap, namun formulir enumerasi contoh tidak mencantumkan lokasi bongkar aktual. Bukti belum memadai untuk menetapkan pemenuhan alasan keadaan darurat per kasus, pelimpahan kewenangan pemeriksaan, atau dampak fiskal praktik tersebut. Penelitian tidak menyimpulkan adanya kehilangan data atau kebocoran PNBP yang telah terbukti. Lima alternatif penataan dibandingkan menurut prasyarat hukum, kelembagaan, dan konsekuensi potensial; perbaikan ketertelusuran lokasi dapat dipertimbangkan lebih dahulu, sedangkan penataan aset dan integrasi administratif memerlukan verifikasi tambahan.&#13;
&#13;
Kata Kunci:	tangkahan, pelabuhan perikanan, PPS Cilacap, pola operasional, tata kelola perikanan
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180224</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perbekalan Melaut Armada Pancing Ulur dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180210</link>
<description>Perbekalan Melaut Armada Pancing Ulur dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu
ANUGRAH, MUHAMAD RAMADITYA RIZKY
MUHAMAD RAMADITYA RIZKY ANUGRAH. Perbekalan Melaut Armada&#13;
Pancing Ulur dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Dibimbing oleh&#13;
DWI PUTRA YUWANDANA dan MUHAMMAD FEDI ALFIADI SONDITA.&#13;
Armada pancing ulur di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu&#13;
belum memiliki acuan baku dalam menentukan jumlah perbekalan per trip.&#13;
Jumlah solar, pelumas, air bersih, dan bahan makanan masih ditentukan&#13;
berdasarkan pengalaman pengurus kapal, prinsip cadangan, dan perkiraan kondisi&#13;
operasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik armada,&#13;
menguraikan modus perancangan perbekalan, menghitung kebutuhan perbekalan,&#13;
dan membandingkan perbekalan aktual dengan kebutuhan teoritis. Penelitian&#13;
dilaksanakan pada Oktober–November 2025 di PPN Palabuhanratu. Data&#13;
dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi literatur pada 17 kapal&#13;
contoh, kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif. Kapal contoh berukuran&#13;
6–88 GT, berawak 4–13 orang, dan bermesin 180–350 PK. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan solar aktual melebihi kebutuhan teoritis 39.54ton atau 10,05%,&#13;
dengan 64,71% kapal membawa solar berlebih. Sebaliknya, oli aktual kurang 40&#13;
liter atau 0,85%, dan air bersih kurang 144ton atau 49,48%. Perbekalan bahan&#13;
makanan cukup beragam, tetapi ketersediaan sayuran dan buah masih terbatas&#13;
selama trip. Perencanaan perbekalan perlu didukung pencatatan penggunaan per&#13;
trip untuk mengurangi kelebihan biaya, beban muatan, dan risiko kekurangan&#13;
logistik.; MUHAMAD RAMADITYA RIZKY ANUGRAH. Fishing Supplies of Handline&#13;
Fishing Vessels Based at Palabuhanratu National Fishing Port. Supervised by&#13;
DWI PUTRA YUWANDANA and MUHAMMAD FEDI ALFIADI SONDITA.&#13;
Handline fishing vessels based at Palabuhanratu National Fishing Port do&#13;
not yet have a fixed reference for determining supplies per trip. The amount of&#13;
fuel, lubricants, clean water, and food provisions is still determined based on&#13;
vessel managers’ experience, safety margins, and expected operating conditions.&#13;
This study aimed to describe vessel characteristics, explain the planning mode of&#13;
fishing supplies, estimate supply requirements, and compare actual supplies with&#13;
theoretical requirements. The study was conducted from October to November&#13;
2025 at Palabuhanratu National Fishing Port. Data were collected through&#13;
observation, interviews, and literature review on 17 sample vessels and analyzed&#13;
using descriptive comparative analysis. The vessels ranged from 6 to 88 GT, had 4&#13;
to 13 crew members, and used engines of 180 to 350 HP. The results showed that&#13;
actual fuel exceeded theoretical requirements by 39.54 tons or 10.05%, with&#13;
64.71% of vessels carrying excess fuel. In contrast, actual lubricants were lower&#13;
by 40 liters or 0.85%, and clean water was lower by 144 tons or 49.48%. Food&#13;
provisions were diverse, but vegetables and fruits remained limited during fishing&#13;
trips. Regular trip-based supply records are needed to reduce excessive costs,&#13;
vessel load, and the risk of supply shortages.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180210</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Variabilitas Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a, Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Ikan Tembang (Sardinella gibbosa) di Perairan Teluk Jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180186</link>
<description>Variabilitas Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a, Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Ikan Tembang (Sardinella gibbosa) di Perairan Teluk Jakarta
Aulia, Muhamad Fajri
Teluk Jakarta memiliki potensi perikanan pelagis kecil, terutama ikan tembang (Sardinella gibbosa), namun hubungan antara dinamika oseanografi dan hasil tangkapannya belum banyak dikaji secara kuantitatif. Penelitian ini menganalisis variabilitas musiman suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a, serta hubungannya dengan hasil tangkapan per upaya (CPUE) ikan tembang menggunakan analisis kuantitatif deskriptif per musim. Hasil menunjukkan SPL berkisar antara 28,42 sampai 31,57 °C dengan nilai tertinggi pada musim peralihan, sedangkan klorofil-a mencapai nilai tertinggi pada musim timur. Fluktuasi CPUE ikan tembang tidak menunjukkan pola yang sejalan dengan dinamika SPL dan klorofil-a, dan kedua parameter tersebut tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan CPUE ikan tembang, baik pada keseluruhan data maupun pada setiap musim. Oleh karena itu, kajian terhadap variabel lain di luar SPL dan klorofil-a diperlukan untuk menjelaskan fluktuasi hasil tangkapan ikan tembang di Teluk Jakarta.; Jakarta Bay holds potential for small pelagic fisheries, particularly fringescale sardine (Sardinella gibbosa), but the relationship between oceanographic dynamics and catch performance has rarely been examined quantitatively. This study analyzes the seasonal variability of sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a concentration, and their relationship with the catch per unit effort (CPUE) of fringescale sardine using descriptive quantitative analysis by season. Results show that SST ranges from 28.42 to 31.57 °C, with the highest values during the transition season, while chlorophyll-a reaches its highest value during the east season. Fringescale sardine CPUE fluctuations do not show a pattern aligned with SST and chlorophyll-a dynamics, and neither parameter is significantly correlated with fringescale sardine CPUE, either for the combined data or in any season. Therefore, further studies on variables other than SST and chlorophyll-a are needed to explain the fluctuations of fringescale sardine catches in Jakarta Bay
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180186</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penentuan  Daerah  Potensial Penangkapan  Ikan  Karang  Berdasarkan  Parameter  Ekologi  Perairan  Teluk Palabuhanratu,  Sukabumi.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180177</link>
<description>Penentuan  Daerah  Potensial Penangkapan  Ikan  Karang  Berdasarkan  Parameter  Ekologi  Perairan  Teluk Palabuhanratu,  Sukabumi.
RINALDHY, PUTRA PERTAMA DONY
Teluk Palabuhanratu merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki potensi sumberdaya ikan karang yang tinggi, namun kegiatan penangkapan oleh nelayan masih dilakukan berdasarkan pengalaman sehingga informasi mengenai lokasi penangkapan yang potensial masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  kualitas  air,  kondisi  terumbu  karang,  struktur  komunitas  ikan karang,  serta  menentukan  daerah  penangkapan  ikan  karang  yang  potensial berdasarkan parameter ekologi di Teluk Palabuhanratu. Penelitian dilaksanakan pada November 2026 di empat lokasi pengamatan menggunakan metode Line Intercept  Transectt  (LIT)  untuk  mengukur  tutupan  terumbu  karang  dan Underwater  Visual  Census  (UVC)  untuk  mengamati  komunitas  ikan  karang. Analisis meliputi kualitas air, tutupan karang, struktur komunitas ikan karang, serta penentuan daerah penangkapan ikan melalui metode skoring berdasarkan parameter ekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air secara umum masih memenuhi baku mutu untuk biota terumbu karang, dengan tutupan karang hidup tertinggi terdapat pada Site 3 sebesar 83,60% (kategori sangat baik). Site 1 memiliki tutupan karang hidup terendah sebesar 11,62%. Struktur komunitas ikan karang terdiri atas 19–27 spesies dengan jumlah spesies tertinggi ditemukan pada Site 3, nilai indeks keanekaragaman berkisar 2,65–2,77 (kategori sedang), indeks keseragaman  0,84–0,90  (kategori  tinggi),  dan  indeks  dominansi  0,01–0,10 (kategori  rendah),  yang  menunjukkan  komunitas  ikan  karang  berada  dalam kondisi relatif stabil. Persentase ikan target layak tangkap tertinggi terdapat pada Site  4  sebesar  77%.  Berdasarkan  hasil  skoring  parameter  ekologi,  Site  4 ditetapkan sebagai daerah penangkapan ikan karang yang paling potensial karena memiliki kondisi habitat yang baik serta didominasi oleh ikan target yang telah mencapai ukuran layak tangkap.; Palabuhanratu Bay is one of Indonesia’s coastal areas with abundant reef fish resources; however, local fishers generally determine fishing grounds based on  experience,  resulting  in  limited  scientific  information  regarding  potential fishing locations. This study aimed to analyze water quality, coral reef condition, reef fish community structure, and determine potential reef fish fishing grounds based  on  ecological  parameters  in  Palabuhanratu  Bay.  The  research  was conducted in November 2026 at four observation Sites using the Line Intercept Transectt (LIT) method to assess live coral cover and the  Underwater Visual Census (UVC) method to observe reef fish communities. Data analysis included water  quality,  coral  cover,  reef  fish  community  structure,  and  fishing  ground determination using a scoring method based on ecological parameters. The results indicated that water quality generally met the marine water quality standards for coral  reef  ecosystems.  The  highest  live  coral  cover  was  recorded  at  Site  3 (83.60%), categorized as excellent, while the lowest was found at Site 1 (11.62%). Reef  fish  communities  consisted  of  19–27  species,  with  the  highest  species richness recorded at Site 3. The Shannon–Wiener diversity index ranged from 2.65 to 2.77 (moderate category), the evenness index ranged from 0.84 to 0.90 (high  category),  and  the  dominance  index  ranged  from  0.01  to  0.10  (low category),  indicating  a  relatively  stable  reef  fish  community.  The  highest proportion of harvestable target fish was observed at Site 4 (77%). Based on the ecological scoring analysis, Site 4 was identified as the most potential reef fish fishing ground due to its favorable habitat condition and the high proportion of target fish that had reached the length at first maturity.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180177</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
