<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Marine Science And Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/110</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 17:01:31 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-11T17:01:31Z</dc:date>
<item>
<title>Hydroacoustic Application For Estimating Zooplankton Abundance In The Southeastern Waters of Pari Island</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172817</link>
<description>Hydroacoustic Application For Estimating Zooplankton Abundance In The Southeastern Waters of Pari Island
Ravelino, Muhammad
This study evaluated the application of hydroacoustic technology for estimating zooplankton abundance in the southeastern waters of Pari Island using a 200 kHz Single Beam Echosounder and a 20 µm mesh size plankton net. Acoustic backscatter was recorded stationary at 14 stations using Echoview 4.0, resulting in volume strength (SV) ranging from -75 to -71 dB covering integrated zooplankton distributed over 0-55 meters depth were derived and compared with laboratory counts of zooplankton abundance (208.33 - 828.61 ind/L). The hydroacoustic measurements revealed clear vertical scattering layers and spatial gradients of zooplankton that coincided with variations in temperature, salinity, and sound speed, indicating heterogeneous but productive coastal conditions. However, SV showed only a weak positive correlation toward net-based zooplankton abundance (R² = 0.15), indicating suitable nature of hydroacoustic approach for spatial estimation of zooplankton distribution. Integration of hydroacoustic with plankton-net sampling remains essential for quantitative assessment, while the combined approach provides a useful basis for future near-real time zooplankton assessment in supports of coastal ecosystem ecosystem management in the Jakarta Bay; Penelitian ini mengevaluasi penerapan teknologi hidroakustik untuk menduga kelimpahan zooplankton di perairan tenggara Pulau Pari menggunakan Single Beam Echosounder 200 kHz dan jaring plankton diameter mesh 20 µm. Hamburan balik direkam secara stasioner menggunakan Echoview 4.0 di 14 stasiun, dan volumenya (SV) berkisar dari -75 hingga -71 dB terintegrasi untuk kedalaman 0-55 meter. Sampling zooplankton menghasilkan kelimpahan sebesar 208,33 - 828,61 ind/L. Pengukuran hidroakustik mengungkapkan adanya lapisan hambur balik yang jelas dan gradien spasial zooplankton yang dipengaruhu suhu, salinitas, dan kecepatan rambat suara di air. Namun, korelasi SV dengan kelimpahan zooplankton menunjukkan nilai positif yang rendah (R² = 0,15), menunjukkan bahwa pendekatan hidroakustik cocok untuk menduga distribusi spasial zooplankton. Oleh karena itu, integrasi teknologi hidroakustik dengan pengambilan sampel plankton tetap penting untuk pendugaan kuantitatif, sementara pendekatan terintegrasi memberikan dasar pengembangan masa depan pemantauan near-real time yang mendukung pengelolaan ekosistem pesisir di Teluk Jakarta.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172817</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Bioakustik pada Ikan Sidat Anguilla spp Fase Yellow eel Menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dalam Identifikasi Perilakunya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172655</link>
<description>Analisis Bioakustik pada Ikan Sidat Anguilla spp Fase Yellow eel Menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dalam Identifikasi Perilakunya
Azka, Mikala
Ikan sidat (Anguilla spp.) merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi, baik di tingkat nasional maupun global. Bioakustik ikan sidat fase yellow eel dapat memberikan perspektif baru dalam mempelajari pola perilaku dan aktivitas dari suara yang dihasilkan saat bergerak atau mencari makan. Pengolahan suara yang dihasilkan akan diolah menggunakan metode Fast Fourier Transform (FFT). Penelitian ini bertujuan mengamati dan menganalisa bioakustik ikan sidat (Anguilla spp) fase yellow eel dan hubungannya dengan perilaku yellow eel di akuarium. Analisis bioakustik menunjukkan bahwa aktivitas akustik utama dominan terjadi pada frekuensi rendah hingga menengah (sekitar 200-500 Hz), yang merepresentasikan suara dari pergerakan tubuh dan interaksi dengan lingkungan. Ditemukan bahwa perlakuan pemberian pakan secara signifikan mempengaruhi profil akustik, baik dalam hal intensitas suara (dB) maupun energi total yang dihasilkan. Suara tidak hanya meningkat saat makan, tetapi sering kali menunjukkan puncak energi tertinggi justru pada fase antisipasi sebelum makan. Hal ini mengindikasikan bahwa metode bioakustik tidak hanya mampu mendeteksi tindakan fisik, tetapi juga dapat menjadi jendela untuk memahami keadaan perilaku hewan, seperti antisipasi atau kegelisahan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172655</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Keanekaragaman dan Struktur Komunitas Mangrove di Pulau Panjang Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172652</link>
<description>Keanekaragaman dan Struktur Komunitas Mangrove di Pulau Panjang Banten
Giri, Muhammad Emirza
Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki fungsi ekologis penting dan dibangun oleh beragam spesies vegetasi unik yang mampu beradaptasi di lingkungan ekstrim. Identifikasi spesies mangrove di pesisir penting dilakukan untuk mengevaluasi kondisi ekosistem, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan struktur komunitas mangrove di Pulau Panjang, Banten. Survei dilakukan pada Februari 2025 di 4 stasiun, menggunakan metode line transect sepanjang 50 meter (n=3) dan tiga plot kuadran untuk pencacahan spesies mangrove seluruh fase hidup (semai, anakan, pohon), pengukuran parameter fisik-kimia lingkungan, serta pengambilan sampel sedimen. Hasil penelitian mendapati tiga spesies mangrove, yaitu Lumnitzera racemosa, Rhizophora apiculata, dan R. stylosa. R. stylosa merupakan jenis dominan dengan Indeks Nilai Penting tertinggi dan dijumpai di seluruh stasiun pada seluruh fase vegetasi. Keanekaragaman mangrove Pulau Panjang tergolong rendah, karena ada spesies yang mendominasi komunitas mangrove. Indeks keseragaman bervariasi, karena dipengaruhi jumlah spesies dan distribusi individunya. Keanekaragaman genus mangrove di barat pulau lebih tinggi karena ditemukannya Lumnitzera pada dua fase (anakan dan pohon).; Mangroves are coastal ecosystems that have important ecological functions and are built by a variety of unique vegetation species that are able to adapt to extreme environments. Identification of mangrove species on the coast is important to evaluate ecosystem conditions, so this study aims to determine the diversity and structure of mangrove communities on Panjang Island, Banten. The survey was conducted on February 2025 at 4 stations, using the 50-m line transect (n=3) and three quadrants for enumeration of mangrove species in all life stages (seedlings, seedlings, trees), measurement of environmental physical- chemical parameters, and sediment sampling. The results of the study found three mangrove species, namely Lumnitzera racemosa, Rhizophora apiculata, and R. stylosa. R. stylosa is the dominant species with the highest Importance Value Index and is found at all stations in all vegetation phases. The diversity of Panjang Island mangroves is relatively low because there are species that dominate the mangrove community. The evenness index varies, because it is influenced by the number of species and the distribution of individuals. The diversity of mangrove genera in the west of the island is higher due to the discovery of Lumnitzera in two phases (saplings and trees).
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172652</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Konsentrasi Logam Berat Tembaga (Cu) dan Seng (Zn) serta Bahan Organik pada Sedimen di Perairan Pulau Untung Jawa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172559</link>
<description>Konsentrasi Logam Berat Tembaga (Cu) dan Seng (Zn) serta Bahan Organik pada Sedimen di Perairan Pulau Untung Jawa
Alfaruqie, Ahmad Raihan
Sedimen berperan penting sebagai media akumulasi logam berat dalam&#13;
waktu lama sehingga dapat mencerminkan tingkat pencemaran perairan.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi logam tembaga (Cu) dan seng&#13;
(Zn), kandungan bahan organik dan ukuran butir sedimen serta menghitung&#13;
tingkat pencemaran menggunakan Faktor Kontaminasi (CF), Indeks Beban&#13;
Pencemar (PLI), dan Indeks Geoakumulasi (Igeo). Pengambilan sampel&#13;
dilakukan di tiga lokasi di perairan Pulau Untung Jawa untuk menganalisis&#13;
ukuran butir sedimen, kandungan bahan organik, dan konsentrasi logam berat.&#13;
Konsentrasi logam diukur menggunakan AAS, ukuran butir sedimen dianalisis&#13;
dengan metode pengayakan kering, sedangkan kandungan bahan organik&#13;
ditentukan dengan metode LOI. Hasil penelitian menunjukkan sedimen&#13;
didominasi fraksi pasir. Kandungan bahan organik cenderung homogen.&#13;
Konsentrasi Cu antara 12,63-23,29 mg/kg dan Zn antara 93,12-133,57 mg/kg.&#13;
Korelasi antara konsentrasi logam berat Cu dan Zn dengan ukuran butir sedimen&#13;
menunjukkan korelasi yang lemah hingga kuat. Hubungan yang cukup kuat&#13;
terlihat antara kandungan bahan organik dengan fraksi halus. Hubungan antara&#13;
konsentrasi logam berat Cu dan Zn dengan kandungan bahan organik&#13;
menunjukkan korelasi yang lemah hingga kuat. Nilai Igeo Cu dan Zn&#13;
mengindikasikan kondisi tidak tercemar, sedangkan nilai CF Zn (0,64-1,46) dan&#13;
CF Cu (0.28-0.52) menunjukkan kategori tercemar ringan di beberapa titik. Nilai&#13;
PLI di semua lokasi &lt;1, yang berarti termasuk kategori tidak tercemar.; Sediments are an important medium for the long-term accumulation of&#13;
heavy metals and can reflect the level of water pollution. This study aims to&#13;
analyze the concentrations of copper (Cu) and zinc (Zn) metals, organic matter&#13;
content, and sediment grain size, as well as to calculate pollution levels using the&#13;
Contamination Factor (CF), Pollutant Load Index (PLI), and Geoaccumulation&#13;
Index (Igeo). Samples was conducted at three locations in the waters of Untung&#13;
Jawa Island to analyze sediment grain size, organic matter content, and heavy&#13;
metal concentration. Metal concentrations were measured using AAS, sediment&#13;
grain size was analysed using the dry sieving method, and organic matter content&#13;
was determined using the LOI method. The results showed that the sediment was&#13;
dominated by sand fractions. The organic material content tends to be&#13;
homogeneous. Cu concentrations ranged from 12,63 to 23,29 mg/kg and Zn&#13;
concentrations ranged from 93.12 to 133.57 mg/kg. The correlation between Cu&#13;
and Zn heavy metal concentrations and sediment grain size showed a weak to&#13;
strong correlation. A fairly strong relationship was seen between organic matter&#13;
content and fine fractions. The relationship between the concentrations of heavy&#13;
metals Cu and Zn and organic matter content showed a weak to strong&#13;
correlation. Igeo values for Cu and Zn indicated unpolluted conditions, while CF&#13;
values for Zn (0.64-1.46) and CF values for Cu (0.28-0.52) indicated light&#13;
pollution at several points. PLI values at all locations were &lt;1, indicating they&#13;
were in the unpolluted category.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172559</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
