<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Nutrition Science and Feed Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/108</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 15:18:32 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-08T15:18:32Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Suplementasi Niasin dalam Liquid Diet terhadap Penyerapan Niasin, Neraca Energi dan Nitrogen serta Karakteristik Karkas Domba Prasapih</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177739</link>
<description>Pengaruh Suplementasi Niasin dalam Liquid Diet terhadap Penyerapan Niasin, Neraca Energi dan Nitrogen serta Karakteristik Karkas Domba Prasapih
HARYOYUDHANTO, AHMAD ARMEN
The pre-weaning phase is a critical period supporting young lamb meat production, as body tissue growth and organ development occur rapidly, requiring optimal nutritional support. Niacin supplementation in the liquid diet is expected to improve energy and protein metabolism efficiency to support muscle tissue growth. This study aimed to evaluate the effect of niacin supplementation in a liquid diet on niacin absorption, energy balance, nitrogen balance, and carcass characteristics of pre-weaning lambs. The study used 18 local lambs aged approximately one month with two treatments: liquid diet (P1) and liquid diet + niacin 800 mg kg?¹ DM feed (P2). Data were analyzed using an independent samples t-test. The results showed that niacin supplementation increased niacin intake from the liquid diet, total niacin intake, and niacin absorption, while decreasing dry matter and niacin intake from starter feed as well as fecal niacin excretion (P0.05). The conclusion of this study is that niacin supplementation in a liquid diet can increase niacin availability, but it has not yet improved energy and protein utilization or carcass characteristics of pre-weaning lambs.; Fase prasapih merupakan periode kritis dalam mendukung produksi daging domba muda karena pertumbuhan jaringan dan perkembangan organ berlangsung cepat, sehingga membutuhkan dukungan nutrisi optimal. Suplementasi niasin dalam liquid diet diduga dapat meningkatkan efisiensi metabolisme energi dan protein untuk mendukung pertumbuhan jaringan otot. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh suplementasi niasin dalam liquid diet terhadap penyerapan niasin, neraca energi, neraca nitrogen dan Karakteristik karkas domba pra sapih. Penelitian menggunakan 18 ekor domba lokal umur 1 bulan dengan dua perlakuan, yaitu liquid diet (P1) dan liquid diet dengan suplementasi niasin 800 mg kg?¹ BK pakan (P2). Data dianalisis menggunakan independent sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan suplementasi niasin meningkatkan konsumsi niasin liquid diet, konsumsi total niasin dan penyerapan niasin semu, serta menurunkan konsumsi bahan kering dan niasin pakan starter serta ekskresi niasin (P&lt;0,05). Penyerapan niasin semu meningkat dari 69,18% pada P1 menjadi 81,83% pada P2. Suplementasi niasin tidak berpengaruh nyata terhadap neraca energi, neraca nitrogen dan karakteristik karkas (P&gt;0,05). Simpulan dari penelitian ini yaitu suplementasi niasin dalam liquid diet dapat meningkatkan ketersediaan niasin, tetapi belum mampu meningkatkan pemanfaatan energi, protein dan karakteristik karkas domba prasapih.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177739</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Kualitas Sifat Fisikokimia Ampas Kelapa (Cocos nucifera L.) Fermentasi dan Amofer Selama Penyimpanan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177521</link>
<description>Evaluasi Kualitas Sifat Fisikokimia Ampas Kelapa (Cocos nucifera L.) Fermentasi dan Amofer Selama Penyimpanan
Munfangil, Amirah Salwa Azis
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh metode pengolahan dan umur simpan terhadap kualitas fisikokimia ampas kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai bahan baku pakan alternatif. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 3 dengan faktor umur simpan (minggu 4 dan 24) dan metode pengolahan yaitu ampas kelapa kering (P1), ampas kelapa fermentasi (P2), dan ampas kelapa amofer (P3). Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara umur simpan dan metode pengolahan terhadap kadar air, aktivitas air, berat jenis (P&lt;0,01), dan kerapatan tumpukan (P&lt;0,05). Tidak ditemukan pertumbuhan jamur secara visual pada seluruh perlakuan. Secara nutrien, P2 menghasilkan serat kasar terendah (23,29%) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) tertinggi (54,18%), sedangkan P3 menghasilkan protein kasar lebih tinggi (7,55%) dan penurunan lemak kasar terrendah (9,48%) dibanding P1. Dengan demikian, fermentasi dan amofer berpotensi meningkatkan kualitas fisikokimia serta mempertahankan stabilitas penyimpanan ampas kelapa hingga 24 minggu penyimpanan.; This study aimed to evaluate the effects of processing methods and storage duration on the physicochemical quality of coconut dregs (Cocos nucifera L.) as an alternative feed ingredient. A 2 x 3 factorial completely randomized design (CRD) was employed with storage duration (4 and 24 weeks) and processing method consisting dried coconut dregs (P1), fermented coconut dregs (P2), ammoniation– fermentation coconut dregs, amofer (P3). The results showed significant interactions between storage duration and processing method on moisture content, water activity (P&lt;0,01), and specific gravity (P&lt;0,05). No visible mold growth was observed in any treatment throughout the storage period. In terms of nutrient composition, P2 resulted in the lowest crude fiber (23.29%) and the highest nitrogen-free extract (NFE) content (54.18%), whereas P3 showed the highest crude protein content (7.55%) and the lowest crude fat content (9.48%) compared with P1. Overall, fermentation and amofer treatments have the potential to improve the physicochemical quality and maintain the storage stability of coconut dregs for up to 24 weeks.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177521</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Kadar Saponin Tumbuhan Miconia crenata (Vahl) Michelang dan Ficus septica Burm.f pada Bagian yang Berbeda sebagai Aditif Pakan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177428</link>
<description>Analisis Kadar Saponin Tumbuhan Miconia crenata (Vahl) Michelang dan Ficus septica Burm.f pada Bagian yang Berbeda sebagai Aditif Pakan
ALFIANA, AYU
Stres panas pada ternak ruminansia dapat menyebabkan terjadinya penurunan sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut mendorong perlunya eksplorasi tumbuhan kaya saponin yang berpotensi dikembangkan sebagai aditif pakan untuk menjaga imunitas ternak. Penelitian ini bertujuan menganalisis kadar saponin secara kuantitatif pada daun, batang, dan buah dari tumbuhan Miconia crenata (Vahl) Michelang (senduduk bulu) dan Ficus septica Burm.f (awar-awar) guna menentukan jenis dan bagian tumbuhan dengan kadar saponin tinggi yang berpotensi dikembangkan menjadi aditif pakan untuk ternak ruminansia. Ekstrak dari tumbuhan diperoleh menggunakan metode Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE), kemudian kuantifikasi kadar saponin dilakukan dengan metode vanilin-asam sulfat. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Tersarang dengan dua faktor, yaitu faktor bagian berbeda pada tumbuhan (B) yang tersarang dalam faktor jenis tumbuhan (A). Hasil ANOVA menunjukkan bahwa tumbuhan dan bagiannya berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap kandungan nutrien. Nilai rendemen ekstrak pada senduduk bulu dan awar-awar bervariasi dengan pola tren yang berbeda. Jenis dan bagian tumbuhan yang tersarang berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap kadar saponin. Bagian buah pada senduduk bulu (157,75 ± 2,41 mg SE.g-1 ekstrak) dan awar-awar (165,93 ± 3,13 mg SE.g-1 ekstrak) menunjukkan hasil kadar saponin tertinggi pada tiap tumbuhannya. Buah senduduk bulu dan awar-awar menunjukkan kelimpahan kadar saponin dalam total ekstrak terbesar pada masing-masing jenis tumbuhannya, yaitu berturut-turut 1,33 ± 0,02 g SE.50 g-1 simplisia dan 1,45 ± 0,03 g SE.50 g-1 simplisia. Simpulan dari penelitian ini adalah bagian buah menunjukkan kadar saponin dan kadar saponin dalam total ekstrak tertinggi pada masing-masing jenis tumbuhan, sehingga berpotensi dikembangkan menjadi aditif pakan dengan sifat biologis sebagai imunomodulator untuk ternak ruminansia.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177428</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kandungan Nutrien dan Kualitas Fisik Silase  Campuran Kulit Pisang Raja Bulu (Musa paradisiaca L. var. sapientum) dan  Tepung Indigofera</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177389</link>
<description>Kandungan Nutrien dan Kualitas Fisik Silase  Campuran Kulit Pisang Raja Bulu (Musa paradisiaca L. var. sapientum) dan  Tepung Indigofera
OKTAVIA, ANANDA RANI
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penambahan tepung Indigofera terhadap kualitas fisik, kualitas fermentasi, dan kandungan nutrien silase kulit pisang raja bulu. Rancangan acak lengkap digunakan dengan empat perlakuan taraf tepung indigofera, yaitu P0 (100% kulit pisang + 0% tepung indigofera + 5% onggok), P1 (90% kulit pisang + 10% tepung Indigofera + 5% onggok), P2 (80% kulit pisang + 20% tepung Indigofera + 5% onggok), dan P3 (70% kulit pisang + 30% tepung Indigofera + 5% onggok). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung indigofera pada silase kulit pisang berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap tekstur silase, kadar PK, LK, SK, BETN, dan fraksi serat ADF, serta berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap kualitas fermentasi, kadar BK dan fraksi serat NDF. Disimpulkan bahwa penambahan tepung indigofera pada silase kulit pisang raja bulu memengaruhi karakteristik fisik dan kandungan nutrien silase. Seluruh perlakuan menghasilkan kualitas fermentasi yang baik. Penambahan tepung indigofera dapat menurunkan kadar air silase yang menjadi salah satu kendala pemanfaatan kulit pisang.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177389</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
