<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Forest Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 17:39:02 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-01T17:39:02Z</dc:date>
<item>
<title>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya Pengangkutan Kayu di Hutan Rakyat di Kabupaten Wonosobo</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173872</link>
<description>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya Pengangkutan Kayu di Hutan Rakyat di Kabupaten Wonosobo
Pauzi, Irpan
Pengangkutan kayu merupakan salah satu tahapan penting dalam pemanenan hutan yang membutuhkan biaya operasional yang besar. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kerja, produktivitas, dan biaya pengangkutan kayu di hutan rakyat. Sistem pengangkutan terdiri atas dua tahapan, yaitu pengangkutan kayu jarak dekat (langsir) menggunakan pick up dan pengangkutan jarak jauh (hauling) menggunakan truk. Unit contoh dalam penelitian ini adalah siklus kerja pengangkutan kayu. Jumlah total siklus yang diamati sebanyak 31 siklus, yang terdiri atas 26 siklus langsir dan 5 siklus hauling. Data waktu kerja diukur menggunakan metode null-stop. Produktivitas kerja dihitung berdasarkan produksi pengangkutan kayu per satuan waktu efektif, sedangkan biaya diperoleh melalui wawancara dan pencatatan biaya operasional kendaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu kerja rata-rata pengangkutan langsir sebesar 0,54 jam/siklus dengan produktivitas 4,80 m³/jam, sedangkan hauling sebesar 2,66 jam/siklus dengan produktivitas 2,64 m³/jam. Biaya total pengangkutan kayu sebesar Rp72.326/m³, yang terdiri atas biaya langsir kayu sebesar Rp35.362/m³ dan hauling Rp36.964/m³.; Timber transportation is an important stage in forest harvesting that requires considerable operational costs. This study analyzed the working time, productivity, and cost of timber transportation in private forests. The transportation system consisted of short-distance transportation (langsir) using pick up and long-distance transportation (hauling) using trucks. The unit of observation was the timber transportation work cycle. A total of 31 cycles were observed, comprising 26 langsir cycles and 5 hauling cycles. Working time was measured using the null-stop method. Productivity was calculated based on timber volume transported per effective working time, while costs were obtained through interviews and vehicle operational cost records. The results showed that the average working time for langsir was 0.54 hours/cycle with a productivity of 4.80 m³/hour, while hauling required 2.66 hours/cycle with a productivity of 2.64 m³/hour. The total transportation cost was Rp72,326/m³, consisting of Rp35,362/m³ for langsir and Rp36,964/m³ for hauling.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173872</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kepadatan Tanah Sebelum dan Sesudah Pemanenan Kayu Acacia mangium Willd. di RPH Maribaya, BKPH Parung Panjang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173854</link>
<description>Kepadatan Tanah Sebelum dan Sesudah Pemanenan Kayu Acacia mangium Willd. di RPH Maribaya, BKPH Parung Panjang
GAOL, ZIWEL NECLESIA LUMBAN
Kepadatan tanah merupakan indikator penting kualitas fisik tanah yang &#13;
memengaruhi porositas, permeabilitas, dan pertumbuhan tanaman. Pada hutan &#13;
produksi, aktivitas pemanenan kayu berpotensi meningkatkan kepadatan tanah &#13;
akibat tekanan mekanis selama penebangan, penyaradan, dan pengumpulan kayu, &#13;
yang berdampak pada penurunan laju infiltrasi dan peningkatan tahanan penetrasi. &#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan kepadatan tanah sebelum dan &#13;
sesudah pemanenan kayu Acacia mangium serta perbedaan tingkat kepadatan pada &#13;
berbagai lokasi operasional di RPH Maribaya, BKPH Parung Panjang. Pengukuran &#13;
dilakukan menggunakan ring infiltrometer dan digital cone penetrometer pada &#13;
empat lokasi, yaitu jalan sarad, TPN, area pohon rebah, dan kontrol, dengan masing&#13;
masing 10 titik pengamatan. Analisis data menggunakan uji paired t-test, ANOVA, &#13;
dan Tukey HSD. Hasil menunjukkan peningkatan kepadatan tanah yang signifikan, &#13;
ditandai penurunan laju infiltrasi dari 8,85 cm/jam menjadi 4,5 cm/jam dan &#13;
peningkatan tahanan penetrasi dari 6,38 kg/cm² menjadi 7,67 kg/cm². Dampak &#13;
terbesar terjadi pada jalan sarad dan TPN.; Soil density is an important indicator of soil physical quality that influences &#13;
porosity, permeability, and plant growth. In production forests, timber harvesting &#13;
activities have the potential to increase soil density due to mechanical pressure &#13;
during felling, skidding, and timber collection, which results in reduced infiltration &#13;
rates and increased penetration resistance. This study aims to analyze changes in &#13;
soil density before and after the harvesting of Acacia mangium timber, as well as &#13;
differences in density levels across various operational sites within the RPH &#13;
Maribaya, BKPH Parung Panjang. Measurements were conducted using an &#13;
infiltrometer ring and a digital cone penetrometer at four locations skidtrail, TPN, &#13;
fallen tree areas, and a control site with 10 observation points at each location. Data &#13;
analysis employed paired t-tests, ANOVA, and Tukey HSD. Results indicated a &#13;
significant increase in soil density, marked by a decrease in infiltration rate from &#13;
8.85 cm/h to 4.5 cm/h and an increase in penetration resistance from 6.38 kg/cm² to &#13;
7.67 kg/cm². The greatest impact occurred on the skidtrail and TPN.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173854</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemodelan Spasial Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Muaro Jambi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173850</link>
<description>Pemodelan Spasial Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Muaro Jambi
Ts, Nova Yanti Peronica
Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Muaro Jambi menjadi permasalahan penting karena adanya sebaran lahan gambut yang rentan terbakar, terutama pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan menganalisis sebaran titik panas tahun 2016–2025 dan membangun model spasial tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan. Pemodelan dilakukan menggunakan metode Composite Mapping Analysis dengan mengintegrasikan variabel tutupan lahan, jenis tanah, jarak dari jalan, permukiman, dan sungai. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5.153 titik panas yang terkonsentrasi pada lahan gambut di Kecamatan Kumpeh dan Kumpeh Ulu. Variabel lingkungan berpengaruh lebih dominan terhadap kebakaran dengan bobot makro 0,63 dibandingkan variabel sosial sebesar 0,37. Model spasial terbaik diperoleh pada klasifikasi tiga kelas kerawanan dengan akurasi menyeluruh 70,82%. Wilayah kerawanan tinggi seluas 71.029,94 ha perlu diprioritaskan dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan.; Forest and land fires in Muaro Jambi Regency are a major concern due to the presence of fire-prone peatlands, especially during the dry season. This study aimed to analyze hotspot distribution from 2016 to 2025 and develop a spatial model of &#13;
forest and land fire susceptibility. The model was developed using the Composite Mapping Analysis method by integrating land cover, soil type, distance from roads, settlements, and rivers. The results showed 5,153 hotspots concentrated in peatland &#13;
areas, particularly in Kumpeh and Kumpeh Ulu Districts. Environmental variables had a more dominant influence on fire occurrence, with a macro weight of 0.63, compared to social variables with a macro weight of 0.37. The best spatial model &#13;
was obtained using a three-class susceptibility classification, with an overall accuracy of 70.82%. High-susceptibility areas covering 71,029.94 ha should be prioritized for forest and land fire mitigation.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173850</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya  Pengangkutan Kayu Jarak Pendek Menggunakan Tenaga Manusia di Hutan Rakyat.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173842</link>
<description>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya  Pengangkutan Kayu Jarak Pendek Menggunakan Tenaga Manusia di Hutan Rakyat.
AULIA, RIFA NAZWA
Teknik pengangkutan kayu jarak pendek menggunakan tenaga manusia masih umum dilakukan di hutan rakyat, terutama di daerah dengan akses terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kerja, produktivitas, dan biaya pengangkutan kayu jarak pendek menggunakan tenaga manusia. Penelitian dilakukan di hutan rakyat Wonosobo, Jawa Tengah. Variasi teknik pengangkutan kayu yang diamati terdiri atas teknik panggul oleh 1 orang (P1) dan 2 orang (P2), serta teknik pikul oleh 3 orang (P3), 4 orang (P4), 5 orang (P5), 6 orang (P6), dan 8 orang (P7). Pengumpulan data waktu kerja dilakukan dengan menggunakan metode null-stop. Jumlah siklus yang diamati sebanyak 290 siklus kerja. Data dimensi kayu bulat, jarak angkut, kemiringan sarad dikumpulkan dan digunakan untuk menghitung produktivitas. Data komponen biaya diperoleh melalui wawancara dengan pekerja hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu total teknik pengangkutan kayu jarak pendek menggunakan tenaga manusia berkisar antara 0,11–0,37 jam/siklus dan produktivitas sebesar 0,96–1,58 m³/jam. Waktu kerja efektif lebih tinggi dibandingkan dengan waktu kerja tidak efektif. Variabel jarak, kemiringan, volume dan jumlah tenaga kerja merupakan faktor yang memengaruhi waktu kerja. Biaya pengangkutan kayu jarak pendek menggunakan tenaga manusia berkisar Rp6.316–Rp10.467/m³.; Short-distance wood extraction using human power is still commonly practiced in private forests, particularly in areas with limited access. This study aimed to analyze the working time, productivity, and costs of short-distance wood extraction using human power. The study was conducted in private forests in Wonosobo, Central Java. The extraction techniques observed consisted of carrying by one worker (P1) and two workers (P2), as well as pole-carrying by three workers (P3), four workers (P4), five workers (P5), six workers (P6), and eight workers (P7). Working time data were collected using the null-stop method. A total of 290 work cycles were observed. Data on log dimensions, skidding distance, and trail slope were collected and used to calculate productivity. Cost component data were obtained through interviews with forest workers. The results showed that the total working time of short-distance wood extraction using human power ranged from 0.11 to 0.37 h/cycle, with productivity ranging from 0.96 to 1.58 m³/h. Effective working time was more dominant than ineffective working time. Skidding distance, slope, timber volume, and the number of workers were factors affecting working time. The cost of short-distance wood extraction using human power ranged from IDR 6,316 to IDR 10,467/m³.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173842</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
