<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Forest Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 10:58:43 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-11T10:58:43Z</dc:date>
<item>
<title>Penggunaan Media Sosial dalam Penyuluhan Kehutanan (Kasus di Desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173370</link>
<description>Penggunaan Media Sosial dalam Penyuluhan Kehutanan (Kasus di Desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor)
TYASADIRA, HEKSA RAHMANIA
Penelitian ini bertujuan menggambarkan penggunaan media sosial oleh petani Hutan Desa Malasari dan penyuluh kehutanan dalam pertukaran informasi mengenai pengelolaan hutan, menjelaskan informasi yang diperoleh petani melalui media sosial, serta menjelaskan hubungan pola penggunaan media sosial dengan karakteristik petani. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 50 petani yang dipilih secara purposive sampling menggunakan kuesioner dan wawancara, serta dilengkapi dengan wawancara terhadap empat penyuluh Kabupaten Bogor. Data dianalisis secara deskriptif dan melalui uji korelasi rank Spearman. Hasil menunjukkan bahwa 72% petani memiliki ponsel pintar untuk berkomunikasi, berbelanja online, dan mencari informasi pengelolaan hutan, terutama tentang budidaya tanaman. Petani mengakses informasi pengelolaan hutan melalui Whatsapp, YouTube, dan Google, sedangkan penyuluh hanya menggunakan Whatsapp untuk menyampaikan informasi. Tingkat pendidikan adalah karakteristik yang berhubungan signifikan dengan frekuensi (r? = 0,339) dan preferensi (r? = 0,410) penggunaan media sosial. Strategi penyuluhan yang efektif dilakukan dengan mempertahankan penyuluhan tatap muka dan mengintegrasikan Whatsapp untuk berkonsultasi jarak jauh.; This study aimed to describe the use of social media by forest farmers and forest extension agents in Malasari Village in exchanging forest management information, identify the information obtained by farmers through social media, and examine the relationship between social media use patterns and farmers’ characteristics. Data were collected through a survey of 50 farmers selected using purposive sampling, employing questionnaires and interviews, and were complemented by interviews with four forestry extension agents in Bogor Regency. Data were analyzed using descriptive statistics and Spearman’s rank correlation test. The results showed that 72% of farmers owned smartphones, which were used for communication, online shopping, and accessing forest management information, especially about plant cultivation. Farmers obtained forest management information through WhatsApp, YouTube, and Google, whereas extension agents only used WhatsApp as their sole platform for information sharing. Education level was the only characteristic significantly associated with both the frequency (r? = 0.339) and preference (r? = 0.410) of social media use. Effective extension strategies should combine face-to-face extension activities with the use of WhatsApp for remote consultation.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173370</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kajian Sosial-Ekonomi Ketergantungan Masyarakat Hutan Pada Pekerjaan Penyadapan Getah Pinus</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173364</link>
<description>Kajian Sosial-Ekonomi Ketergantungan Masyarakat Hutan Pada Pekerjaan Penyadapan Getah Pinus
Ramadhani, Aditya Forestry
Di berbagai daerah di Indonesia, banyak ditemui masyarakat sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan, termasuk hasil hutan bukan kayu, salah satunya getah pinus. Sebagian masyarakat sekitar hutan, menjadikan kegiatan penyadapan getah pinus sebagai pekerjaan utama, yang dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan yang mengelola hutan di wilayahnya. Masyarakat yang bekerja sebagai penyadap sebagian besar merupakan generasi kedua atau ketiga dari keluarga yang telah lama bekerja sebagai penyadap. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mendorong masyarakat sekitar hutan memilih bekerja sebagai penyadap getah pinus dan mengidentifikasi latar belakang masyarakat yang bertahan menjadi penyadap getah pinus secara turun-temurun. Penelitian dilakukan di TPG Cikakak, RPH Banteran, BKPH Lumbir, KPH Banyumas Barat. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan prinsip ketercukupan data (data saturation), yaitu ketika informasi yang diperoleh sudah dianggap cukup dan tidak ada hal baru yang muncul. Pekerjaan turun-temurun serta mudah dilakukan menjadi faktor yang dominan menjadi alasan masyarakat sekitar hutan memilih bekerja sebagai penyadap getah pinus. Jam kerja yang tidak terikat menjadi salah satu alasan bagi sebagian besar penyadap memilih tetap menjadi penyadap getah pinus meskipun hasil yang didapatkan sering kali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.; In various regions in Indonesia, many forest communities depend on forest products for their livelihoods, including non-timber forest products, one of which is pine resin. Most forest communities make pine resin tapping their primary occupation, conducted in collaboration with companies that manage the forests in their area. Most tappers are second or third generation members of families with long-standing tapping families. This study aims to analyze the factors that drive forest communities to choose pine resin tapping and to identify the background of those who persist in their hereditary pine resin tapping practices. The research was conducted at TPG Cikakak, RPH Banteran, BKPH Lumbir, KPH Banyumas Barat. The sample size was determined based on the principle of data saturation, which occurs when the information obtained is considered sufficient and no new information is available. Hereditary and easy-to-do work are the dominant factors behind why forest communities choose to work as pine resin tapping. Flexible working hours are among the reasons why most tappers choose to remain pine resin tapping, even though the income is often insufficient to meet their daily needs.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173364</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya Pengangkutan Kayu Jarak Pendek Menggunakan Sepeda Motor di Hutan Rakyat Wonosobo</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173339</link>
<description>Waktu Kerja, Produktivitas, dan Biaya Pengangkutan Kayu Jarak Pendek Menggunakan Sepeda Motor di Hutan Rakyat Wonosobo
ADELIA, RATU ZOYA
Pengangkutan kayu jarak pendek menggunakan sepeda motor merupakan teknik yang banyak diterapkan dalam pemanenan hutan rakyat. Teknik ini memiliki fleksibilitas tinggi dan dapat menjangkau medan yang sulit. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kerja, produktivitas, biaya, serta faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas pengangkutan kayu jarak pendek menggunakan sepeda motor di hutan rakyat. Pengamatan dilakukan terhadap 108 siklus kerja di 9 lokasi Tempat Pengumpulan Kayu Antara (TPA). Rata-rata waktu kerja per siklus adalah 11,17 menit dengan proporsi terbesar pada kegiatan pemuatan dan pembongkaran kayu. Rata-rata produktivitas sebesar 1,74 m³/jam. Total biaya usaha sebesar Rp17.213/jam didominasi oleh biaya variabel terutama upah tenaga kerja. Biaya pengangkutan per satuan volume berkisar Rp7.757-14.744/m³ dan biaya per satuan jarak Rp15-68/m³/m. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa jarak angkut, kemiringan jalan, dan volume kayu yang diangkut berpengaruh nyata terhadap produktivitas pengangkutan kayu jarak pendek menggunakan sepeda motor.; Short-distance timber transportation using motorcycles is a technique commonly applied in community forest harvesting operations. This method offers high flexibility and the ability to access difficult terrain. This study aimed to analyze work time, productivity, transportation costs, and factors affecting the productivity of short-distance timber transportation using motorcycles in community forests. Observations were conducted on 108 work cycles at nine intermediate log collection points (TPAs). The average work time per cycle was 11.17 minutes, with the largest proportion allocated to loading and unloading activities. The average productivity was 1.74 m³/hours. The total operating cost was IDR 17,213/hours, dominated by variable costs, particularly labor wages. Transportation costs ranged from IDR 7,757 to 14,744/m³ based on timber volume and from IDR 15 to 68 m³/mbased on transportation distance. Regression analysis showed that transportation distance, road slope, and timber volume transported significantly affected the productivity of short-distance timber transportation using motorcycles.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173339</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Kelayakan Ekonomi Pengelolaan Hutan Tanaman dengan Integrasi Pembayaran Karbon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173312</link>
<description>Analisis Kelayakan Ekonomi Pengelolaan Hutan Tanaman dengan Integrasi Pembayaran Karbon
RIENI, NURVICA BERLIANA
Pemerintah Indonesia mengembangkan pasar karbon untuk mendukung penurunan emisi. Namun, fluktuasi harga karbon menghambat pergeseran keputusan pengelolaan hutan dari produksi kayu ke konservasi karbon. Penelitian ini menganalisis pengaruh integrasi pembayaran karbon terhadap kelayakan ekonomi dan daur optimal hutan tanaman Acacia mangium, serta mengestimasi harga karbon minimum untuk menggeser keputusan pengelolaan. Analisis menggunakan model Faustmann untuk menghitung Net Present Value pada tiga skenario: (A) pengelolaan berbasis produksi kayu; (B) integrasi pembayaran penyerapan dan penyimpanan karbon; (C) keputusan akhir daur antara penebangan dan konservasi karbon. Tanpa pembayaran karbon, daur optimal tercapai pada umur 10 tahun dengan Net Present Value Rp27,25 juta/ha. Integrasi pembayaran karbon meningkatkan kelayakan ekonomi hingga Rp78,98 juta/ha pada umur tersebut dan memperpanjang daur hingga 21 tahun. Estimasi harga karbon minimum yang diperlukan agar pembayaran karbon mampu menggeser keputusan pengelolaan dari produksi kayu menjadi konservasi karbon sebesar Rp43.805,11/tCO2e/tahun. Integrasi pembayaran karbon berpotensi menjadi instrumen pengelolaan hutan lestari jika harga pasar stabil di atas ambang minimum.; The Indonesian government has developed a carbon market to support emission reduction targets. However, carbon price fluctuations hinder the shift in forest management decisions from timber production to carbon conservation. This study analyzes the impact of carbon payment integration on the economic feasibility and optimal rotation period of Acacia mangium plantation forests, and estimates the minimum carbon price required to shift management decisions. Analysis employed the Faustmann model to calculate Net Present Value across three management scenarios: (A) timber production only; (B) integration of carbon sequestration and storage payments; and (C) end-of-rotation decisions between harvesting and carbon conservation. Without carbon payments, optimal rotation occurs at 10 years with Net Present Value Rp27.25 million/ha. Carbon payment integration yields Net Present Value Rp78.98 million/ha and extends optimal rotation to 21 years. The minimum carbon price required to shift management from timber production to carbon conservation is Rp43,805.11/tCO2e/year. Carbon payment integration can become a sustainable forest management instrument if market prices remain stable above this threshold.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173312</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
