<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Forest Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 28 Jul 2026 02:37:45 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-28T02:37:45Z</dc:date>
<item>
<title>Pemodelan Biomassa Tegakan Berbasis Indeks Vegetasi Citra Sentinel-2 di Hutan Pendidikan Gunung Walat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175984</link>
<description>Pemodelan Biomassa Tegakan Berbasis Indeks Vegetasi Citra Sentinel-2 di Hutan Pendidikan Gunung Walat
Insani, Aprillya Gading
Keterbatasan pengukuran biomassa lapangan pada areal bertopografi mendorong pemanfaatan indeks vegetasi Sentinel-2 sebagai alternatif pendugaan above-ground biomass (AGB) di areal rehabilitasi Hutan Pendidikan Gunung Walat. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai dugaan AGB pada seluruh petak dengan tahun tanam berbeda dan menguji enam indeks vegetasi (MSAVI, SAVI, ARVI, IRECI, NDRE, NDWI) untuk menyusun model terbaik penduga biomassa. Sebanyak 54 plot contoh lingkaran berukuran 0,04 ha dipilih secara sengaja (purposive) mewakili seluruh petak tahun tanam berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata AGB sebesar 146,97 ton/ha dan bervariasi antarpetaknya. Keragaman ini dipengaruhi oleh heterogenitas komposisi jenis dan kerapatan tegakan akibat riwayat penyulaman. Model regresi kubik menjadi penduga AGB terbaik dengan MSAVI sebagai prediktor (R2 = 51,14%; s = 0,196). Namun, model ini belum divalidasi sehingga belum direkomendasikan untuk penerapan praktis. Peningkatan kualitas model penduga AGB dapat dilakukan melalui integrasi variabel biofisik atau data multi-sensor.; Field measurement limitations in complex terrains have prompted the use of Sentinel-2 vegetation indices as an alternative approach for estimating above-ground biomass (AGB) in the rehabilitation area of Gunung Walat Educational Forest (HPGW). This study analyzed estimated AGB values across all plots with different planting years and evaluated six vegetation indices (MSAVI, SAVI, ARVI, IRECI, NDRE, NDWI) to develop the best predictive model. Fifty-four circular plots (0.04 ha) were purposively selected to represent all plots across planting years. The average AGB was 146.97 ton/ha and varied among plots. This variability was driven by heterogeneity in species composition and stand density resulting from replanting history. Cubic regression yielded the best AGB model with MSAVI as the predictor (R² = 51.14%; s = 0.196). However, this unvalidated model is not yet recommended for practical application. Improving the AGB predictive model can be achieved through the integration of biophysical variables or multi-sensor data.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175984</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penerapan Berbagai Metode Penyadapan untuk&#13;
Meningkatkan Produktivitas Penyadapan Getah Pinus</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175594</link>
<description>Penerapan Berbagai Metode Penyadapan untuk&#13;
Meningkatkan Produktivitas Penyadapan Getah Pinus
ARKAN, ABYAN HAIDAR
Metode quarre meningkatkan risiko kerusakan batang karena koakan yang&#13;
terlalu lebar dan dalam, sehingga dikembangkan metode alternatif yaitu metode bor.&#13;
Metode bor terus mengalami perkembangan, kini menggunakan metode bor baterai&#13;
karena bor modifikasi membutuhkan biaya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan&#13;
menentukan metode penyadapan yang optimal dan menganalisis biaya penyadapan&#13;
getah pinus menggunakan metode bor modifikasi, bor baterai, dan metode quarre&#13;
di Hutan Pendidikan Gunung Walat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak&#13;
Lengkap pada 90 pohon Pinus merkusii yang dibagi secara merata dengan 10 kali&#13;
pemanenan. Hasil penelitian menunjukkan jenis metode penyadapan berpengaruh&#13;
nyata terhadap produktivitas getah. Produktivitas rata-rata penyadapan tanpa&#13;
menggunakan stimulansia tertinggi dihasilkan oleh metode quarre (12,63&#13;
g/sadapan/hari), bor baterai (9,22 g/sadapan/hari), dan bor modifikasi (8,40&#13;
g/sadapan/hari). Analisis biaya menunjukkan biaya tertinggi pada bor modifikasi&#13;
(Rp16.335,72/kg), dibandingkan bor baterai (Rp5.946,46/kg) dan metode quarre&#13;
(Rp5.033,52/kg). Metode bor baterai disimpulkan sebagai metode paling optimal&#13;
karena lebih praktis, menghasilkan getah lebih bersih, meminimalkan kerusakan&#13;
pohon, serta lebih hemat dibandingkan bor modifikasi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175594</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Kopi Excelsa Berbasis Agroforestri: Studi Kasus Kecamatan Wonosalam, Jawa Timur.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175557</link>
<description>Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Kopi Excelsa Berbasis Agroforestri: Studi Kasus Kecamatan Wonosalam, Jawa Timur.
Ferdiansyah, Muhammad Arizal
Kopi Excelsa merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan di Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan finansial usaha budidaya kopi Excelsa pada tingkat pengolahan cherry, green bean, dan green bean bersubsidi. Analisis finansial dilakukan selama periode usaha 20 tahun menggunakan metode Discounted Cash Flow dengan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Payback Period. Analisis sensitivitas dilakukan terhadap penurunan harga jual dan kenaikan biaya produksi sebesar 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tingkat pengolahan kopi Excelsa layak untuk diusahakan. Tingkat pengolahan green bean bersubsidi memberikan nilai terbaik yaitu NPV sebesar Rp714.540.645,55/ha, BCR sebesar 5,44, IRR dan Payback Period yang tidak terdefinisi karena cash flow bernilai positif pada tahun 0. Sementara tingkat pengolahan cherry dan green bean juga menunjukkan nilai NPV, IRR, BCR, dan Payback Period yang memenuhi kriteria kelayakan finansial. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa seluruh tingkat pengolahan tetap layak meskipun terjadi perubahan kondisi ekonomi dengan penurunan harga jual berpengaruh lebih besar terhadap indikator finansial dibandingkan kenaikan biaya produksi.&#13;
Kata kunci: analisis finansial, kopi Excelsa, agroforestri, analisis sensitivitas, cash flow; Excelsa coffee is one of the leading agricultural commodities in Wonosalam Village, Wonosalam Subdistrict, Jombang Regency. This study aims to analyze the financial feasibility of Excelsa coffee cultivation at the cherry processing stage, the green bean stage without subsidies, and the green bean stage with machinery subsidies. The financial analysis was conducted over a 20-year business period using the Discounted Cash Flow method with indicators including Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), and Payback Period. A sensitivity analysis was performed for a 20% decrease in selling price and a 20% increase in production costs. The results of the study indicate that all processing levels of Excelsa coffee are viable for cultivation. The green bean processing level with machine subsidies yields the best results an NPV of Rp714,540,645.55/ha, a BCR of 5.44, and an IRR and Payback Period that are undefined because the cash flow is positive in year 0. Meanwhile, the cherry and green bean processing levels without subsidies also demonstrate NPV, IRR, BCR, and Payback Period values that meet financial feasibility criteria. The results of the sensitivity analysis indicate that all processing levels remain viable even under changing economic conditions, with a decline in selling prices having a greater impact on financial indicators than an increase in production costs.&#13;
Keywords: financial analysis, Excelsa coffee, agroforestry, sensitivity analysis, cash flow
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175557</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Penduga Diameter Tajuk pada Tegakan Pinus dan Agathis di Areal Rehabilitasi TOSO Hutan Pendidikan Gunung Walat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175535</link>
<description>Model Penduga Diameter Tajuk pada Tegakan Pinus dan Agathis di Areal Rehabilitasi TOSO Hutan Pendidikan Gunung Walat
Putriani, Khansa Nur
Pengukuran diameter tajuk relatif lebih sulit dan memakan waktu &#13;
dibandingkan pengukuran diameter setinggi dada (DBH), sehingga diperlukan &#13;
model penduga yang efisien. Penelitian ini bertujuan menyusun model penduga &#13;
diameter tajuk berdasarkan DBH dan menentukan model terbaik pada tegakan &#13;
pinus dan agathis di areal rehabilitasi TOSO Hutan Pendidikan Gunung Walat. &#13;
Pengambilan data pohon contoh dilakukan secara sengaja (purposive) didasarkan &#13;
pada jenis pohon, sebaran kelas DBH, dan petak tahun tanam. Data yang digunakan &#13;
dalam penelitian sebanyak 96 pohon masing-masing jenis pinus dan agathis. &#13;
Pemilihan model terbaik (linear, power, exponential, dan quadratic) berdasarkan &#13;
nilai skoring dan peringkat pada parameter koefisien determinasi (R2), standard &#13;
error (SE), bias, Root Mean Square Error (RMSE), dan Mean Absolute Error &#13;
(MAE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model exponential (y = &#13;
2,2662e^0,0254DBH) terpilih untuk jenis pinus dan model quadratic (y = 1,6041 + &#13;
0,1979DBH - 0,0022DBH^2) terpilih untuk jenis agathis. Oleh karena itu, kedua &#13;
model dapat digunakan untuk menduga diameter tajuk berdasarkan DBH.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175535</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
