<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Conservation of Forest and Ecotourism</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 04 Apr 2026 05:26:14 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-04T05:26:14Z</dc:date>
<item>
<title>Kesehatan Pohon dan Potensi Jasa Lingkungan di Hutan Kota Wasesa Kabupaten Purbalingga</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172751</link>
<description>Kesehatan Pohon dan Potensi Jasa Lingkungan di Hutan Kota Wasesa Kabupaten Purbalingga
Arifah, Farikhatul
Hutan kota merupakan ruang terbuka hijau perkotaan yang berperan dalam menjaga fungsi ekologis. Tekanan lingkungan dan aktivitas manusia dapat memengaruhi kesehatan pohon dan kemampuan penyediaan jasa lingkungannya. Penelitian ini bertujuan menilai kondisi kesehatan pohon serta menduga nilai jasa lingkungan di Hutan Kota Wasesa (HKW) menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM) dan aplikasi i-Tree Eco. Penilaian terhadap 53 individu pohon menunjukkan bahwa kondisi kesehatan pohon di HKW tergolong baik, yaitu 30,2% pohon berada pada kelas sehat, 60,4% pada kelas kerusakan ringan, dan 9,4% pada kelas kerusakan sedang. Pohon dengan kerusakan berat tidak ditemukan. Kondisi tajuk didominasi nilai visual peringkat tajuk (VCR) 4 dan kerapatan tegakan mencapai 82%. Nilai simpanan karbon berdasarkan i-Tree Eco mencapai 26,21 ton/ha, serapan CO2 mencapai 3,18 ton/ha/tahun, dan produksi O2 mencapai 8,55 ton/ha/tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa HKW berperan penting dalam menyediakan jasa lingkungan untuk mendukung kualitas lingkungan perkotaan.; Urban forests as an essential green open spaces play an important role in supporting ecological processes in urban environments. However, environmental pressures and human activities can affect tree health and their capacity to provide ecosystem services. This study aims to assess tree health conditions and estimate the value of ecosystem services at Wasesa Urban Forest (WUF) using the Forest Health Monitoring (FHM) method and the i-Tree Eco application. The assessment of 53 individual trees showed that for overall trees in WUF tree health was classified as having a good, with 30,2% of trees categorized as healthy, 60,4% experiencing minor damage, and 9,4% experiencing moderate damage. No trees were classified as severely damaged. Crown condition, which was dominated by a visual crown rating (VCR) value of 4, along with a stand density of 82%. Based on i-Tree Eco analysis, carbon storage reached 26,21 tons/ha, CO2 sequestration amounted to 3,18 tons/ha/yr, and oxygen production reached 8,55 tons/ha/yr. This strongly indicates that WUF has been playing an important role to support urban environmental quality.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172751</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengelolaan dan Pemanfaatan Wisata Rumah Kupu-kupu Bandulu Anyer, Provinsi Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172676</link>
<description>Pengelolaan dan Pemanfaatan Wisata Rumah Kupu-kupu Bandulu Anyer, Provinsi Banten
Wati, Siti Linda
Rumah Kupu-kupu Bandulu merupakan penangkaran kupu-kupu yang bertujuan sebagai sarana edukasi dan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan dan pemanfaatan wisata di Rumah Kupu-kupu Bandulu. Data diperoleh pada bulan November–Desember 2024 melalui pengamatan langsung, pengukuran, percobaan pemeliharaan, wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan dilakukan secara intensif dengan membagi kandang sesuai dengan fase hidup kupu-kupu dan pemilihan tanaman disesuaikan dengan jenis kupu-kupu. Doleschalia polibete merupakan salah satu spesies yang paling banyak ditemukan dan ada sepanjang tahun di Rumah Kupu-kupu Bandulu. Persentase keberhasilan penangkaran D. polibete mencapai 10% termasuk kategori rendah. Persepsi pengunjung terhadap pemanfaatan wisata di Rumah Kupu-kupu Bandulu menunjukkan hasil positif antara baik hingga sangat baik.; Rumah Kupu-kupu Bandulu  is a butterfly breeding center developed to serve as an educational and tourism facility. This study aims to describe the management of Bandulu Butterfly House and its use for tourism activities. Data were obtained in November–December 2024 through direct observation, measurement, breeding experiments, interviews, and literature studies. The study's results showed that the maintenance system was carried out semi-intensively, with cages divided according to the butterfly's life phase, and the selection of plants was adjusted to match the type of butterfly. Doleschalia polibete was one of the most commonly found species and was present throughout the year at Rumah Kupu-kupu Bandulu. Breeding experiment of D. polibete showed a 10% success rate, which was categorized as low. Visitors showed positive perception toward the use of Rumah Kupu-kupu Bandulu as tourism site, ranging from good and very good.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172676</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengelolaan Sampah TPS 3R Mutiara Bogor Raya, Mekar Mandiri, dan Griya Melati Kota Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172571</link>
<description>Pengelolaan Sampah TPS 3R Mutiara Bogor Raya, Mekar Mandiri, dan Griya Melati Kota Bogor
Azzahra, Fadhlina
Sampah merupakan permasalahan yang terus berlangsung di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Timbulan sampah yang meningkat menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat, sehingga diperlukan upaya pengelolaan melalui program TPS 3R yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara, tetapi juga tempat proses pengolahan. Penelitian bertujuan mengetahui teknis pengelolaan, timbulan dan komposisi sampah, tingkat partisipasi masyarakat, serta keberfungsian TPS 3R Griya Melati, Mekar Mandiri, dan Mutiara Bogor Raya berdasarkan Petunjuk Teknis TPS 3R Tahun 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya menerapkan tahapan pengangkutan, pemindahan, pemilahan, dan pengolahan sampah. Timbulan sampah masing-masing adalah 0,226; 0,521; dan 0,662 kg/orang/hari, dengan komposisi residu terbesar pada Griya Melati dan Mekar Mandiri, serta organik pada Mutiara Bogor Raya. Secara operasional, Mutiara Bogor Raya menunjukkan kinerja lebih baik karena perannya sebagai bank sampah, memberikan manfaat ekonomi, dan menghasilkan produk olahan yang beragam. Partisipasi masyarakat umumnya bersifat tidak langsung melalui kegiatan sosialisasi, pembayaran iuran, dan pemilahan sampah dari sumber
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172571</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Konflik Masyarakat Dengan Monyet Ekor Panjang di Sekitar Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172570</link>
<description>Konflik Masyarakat Dengan Monyet Ekor Panjang di Sekitar Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung
Ramadhantio, Tegar Nurrahman
Konflik antara masyarakat dan monyet ekor panjang (MEP) meningkat seiring perubahan penggunaan lahan dan intensifikasi aktivitas manusia di sekitar habitat satwa liar. Penelitian bertujuan mengidentifikasi konflik, menganalisis persepsi masyarakat, serta merumuskan alternatif solusi penanganan konflik di sekitar Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Metode penelitian meliputi observasi lapangan, wawancara, dan studi literatur. Hasil analisis DPSIR menunjukkan bahwa driving force konflik adalah keberlakuan Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2008 terkait pengelolaan wisata di kawasan Tahura. Pressure berasal dari perilaku manusia berupa pemberian pakan kepada monyet, pembuangan sampah sembarangan, serta kedekatan lahan pertanian dengan habitat. Kondisi ini memicu perubahan state berupa perilaku MEP yang semakin terbiasa mendekati manusia. Impact yang terjadi adalah masuknya kawanan monyet ke permukiman sehingga mengganggu kenyamanan masyarakat. Meskipun merasa terganggu, masyarakat memahami fungsi ekologis MEP dan menunjukkan keinginan menyelesaikan konflik secara damai. Response yang direkomendasikan meliputi edukasi masyarakat, pengelolaan sampah terpadu, pembangunan koridor satwa, pengendalian populasi MEP, dan rehabilitasi habitat secara berkelanjutan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172570</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
