<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Conservation of Forest and Ecotourism</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2026 22:44:04 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-11-04T22:44:04Z</dc:date>
<item>
<title>Studi Populasi Beruang Madu (Helarctos malayanus) di Hutan Lindung Batutegi dan Way Waya Berdasarkan Camera Trap Tahun 2025</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180216</link>
<description>Studi Populasi Beruang Madu (Helarctos malayanus) di Hutan Lindung Batutegi dan Way Waya Berdasarkan Camera Trap Tahun 2025
Himawari, Atikah Rizkia
Penelitian ini bertujuan mengetahui sex ratio, kepadatan populasi, dan kelimpahan relatif beruang madu di Hutan Lindung Batutegi. Pengambilan data dilakukan di Lanskap Way Sekampung, KPH Batutegi, Provinsi Lampung, menggunakan camera trap selama satu tahun (Januari–Desember 2025). Data dianalisis menggunakan Relative Abundance Index (RAI) dan model N-mixture Poisson-Poisson, sedangkan sex ratio diidentifikasi secara visual dari dokumentasi camera trap. Hasil menunjukkan proporsi independent events (IE) jantan sebesar 38,53% (42 IE), betina 9,17% (10 IE), dan unidentified 52,29% (57 IE). Nilai RAI meningkat dari 0,3369 foto/100 hari pada musim hujan (25 IE) menjadi 0,4109 foto/100 hari pada musim kemarau (31 IE). Estimasi kepadatan populasi turut meningkat dari 30,48 individu/100 km² (95% CI: 17,55–62,81) pada musim hujan menjadi 35,10 individu/100 km² (95% CI: 21,24–63,73) pada musim kemarau, meskipun tumpang tindih credible interval menunjukkan bahwa perbedaan tersebut belum signifikan secara statistik.Penelitian selanjutnya disarankan mengoptimalkan penempatan camera trap, menambah occasion pengamatan, dan memantau secara multitahun untuk meningkatkan presisi estimasi kepadatan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180216</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Zonasi Pemulihan Hutan Berbasis Mitigasi Bencana dan Keberlanjutan Lingkungan Perhutanan Sosial Desa Tarumajaya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180153</link>
<description>Zonasi Pemulihan Hutan Berbasis Mitigasi Bencana dan Keberlanjutan Lingkungan Perhutanan Sosial Desa Tarumajaya
Dzaky, Naufal Harist
Kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum berperan penting menjaga kestabilan tata air, tetapi rentan terhadap banjir dan longsor akibat perubahan tutupan lahan sehingga diperlukan arahan pemulihan hutan berbasis mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat dan sebaran kerawanan banjir dan longsor serta merancang zonasi dan arahan pemulihan hutan pada wilayah Hutan Desa Tarumajaya. Analisis dilakukan dengan menumpangsusunkan parameter biofisik. Hasil menunjukkan kerawanan banjir didominasi oleh kelas rendah (63,80%), sedangkan kerawanan longsor didominasi oleh kelas tinggi (55,91%). Zonasi pemulihan hutan sebagian besar berprioritas sangat rendah hingga rendah (85,03%) yang cukup ditangani melalui perlindungan dan pengamanan &#13;
kawasan. Zona prioritas sedang di bagian selatan diarahkan pada agroforestri, sedangkan zona prioritas tinggi hingga sangat tinggi di bagian utara diarahkan pada rehabilitasi vegetasi berbasis spesies lokal. Hasil ini dapat menjadi acuan spasial bagi pengelola hutan desa dalam menyusun rencana kerja perhutanan sosial yang selaras dengan mitigasi bencana.; The upstream Citarum watershed (DAS) plays an important role in maintaining water regime stability but is vulnerable to flood and landslide hazards caused by land cover change, requiring disaster-mitigation-based forest recovery guidance. This study aimed to analyze the level and spatial distribution of flood and landslide hazards and to design forest recovery zoning and guidance for the Tarumajaya Village Forest area. The analysis was conducted by overlaying biophysical parameters. Results showed that flood hazard was dominated by the low class (63,80%), while landslide hazard was dominated by the high class (55,91%). Forest recovery zoning was mostly classified as very low to low priority (85,03%), which could be adequately addressed through area protection and security. Medium &#13;
priority zones in the southern part were directed toward agroforestry, while high to very high priority zones in the northern part were directed toward vegetation rehabilitation using local species. These results can serve as a spatial reference for village forest managers in preparing social forestry work plans aligned with disaster mitigation.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180153</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemodelan Potensi Konflik Manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180110</link>
<description>Pemodelan Potensi Konflik Manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh
KARIMAH, FUTUCHATUR RISKINAL
Konflik manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh terus meningkat akibat perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan penyusutan dan fragmentasi habitat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesesuaian habitat gajah sumatera, probabilitas konflik manusia–gajah, serta faktor yang memengaruhinya di Aceh. Pemodelan dilakukan menggunakan algoritma random forest. Model kesesuaian habitat menggunakan 588 titik kehadiran gajah, sedangkan model probabilitas konflik menggunakan 531 titik konflik pada periode 2020–2025. Kedua model menunjukkan kinerja yang baik dengan nilai Area Under the Curve (AUC) masing-masing sebesar 0,88 dan 0,87. Jarak dari antropogenik menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap kesesuaian habitat, sedangkan jarak dari hutan paling berpengaruh terhadap probabilitas konflik. Potensi tinggi konflik tertinggi pada Kabupaten Bener Meriah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Pidie yang cenderung berada pada wilayah peralihan antara hutan dengan lahan budidaya, dan permukiman.; Conflict humans and sumatran elephants (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) in Aceh Province continues to rise due to changes in land use that cause habitat loss and fragmentation. This study aims to identify Sumatran elephant habitat suitability, the probability of human–elephant conflict, and the factors influencing it in Aceh. Modeling was carried out using the random forest algorithm. The habitat suitability model used 588 elephant presence points, while the conflict probability model used 531 conflict points from 2020 to 2025. Both models showed good performance with Area Under the Curve (AUC) values of 0.88 and 0.87, respectively. Distance from anthropogenic areas was the most influential variable for habitat suitability, while distance from forests was the most influential for conflict probability. High conflict probability in Bener Meriah, East Aceh, Aceh Tamiang, North Aceh, and Pidie, which tend to be in transitional areas between forest, agricultural land, and settlements.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180110</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Distribusi dan Ritme Aktivitas Mamalia Artiodactyla di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Lampung</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180104</link>
<description>Model Distribusi dan Ritme Aktivitas Mamalia Artiodactyla di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Lampung
MALIK, MUHAMMAD ICHSAN
Perubahan habitat dan tekanan antropogenik dapat memengaruhi keberadaan serta pola aktivitas mamalia Artiodactyla di Hutan Lindung Batutegi. Penelitian ini bertujuan menganalisis ritme aktivitas harian, distribusi spasial, faktor lingkungan yang memengaruhi kesesuaian habitat, serta menyusun rekomendasi pengelolaan. Data diperoleh dari 41 titik  stasiun kamera jebakan tahun 2025 yang mencakup dua Resort pada lanskap Hutan Lindung Batutegi yaitu Way Sekampung dan Way Waya dan dianalisis menggunakan perangkat lunak R dan Maximum Entropy. Hasil menunjukkan bahwa rusa sambar dan kijang memiliki pola aktivitas krepuskular, sedangkan babi hutan cenderung diurnal. Model distribusi menghasilkan nilai AUC rata-rata 0,724 untuk rusa sambar, 0,737 untuk kijang, dan 0,738 untuk babi hutan. Kelerengan menjadi variabel paling dominan pada rusa sambar, sedangkan jarak dari sungai dominan pada kijang dan babi hutan. Habitat yang sesuai bagi ketiga spesies hanya seluas 390 ha, sehingga perlindungan habitat bersama perlu diprioritaskan melalui pemeliharaan tutupan hutan dan sumber air serta pengendalian gangguan antropogenik.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180104</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
