<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Conservation of Forest and Ecotourism</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 01:35:50 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-15T01:35:50Z</dc:date>
<item>
<title>Pemodelan Potensi Konflik Manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180110</link>
<description>Pemodelan Potensi Konflik Manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh
KARIMAH, FUTUCHATUR RISKINAL
Konflik manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh terus meningkat akibat perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan penyusutan dan fragmentasi habitat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesesuaian habitat gajah sumatera, probabilitas konflik manusia–gajah, serta faktor yang memengaruhinya di Aceh. Pemodelan dilakukan menggunakan algoritma random forest. Model kesesuaian habitat menggunakan 588 titik kehadiran gajah, sedangkan model probabilitas konflik menggunakan 531 titik konflik pada periode 2020–2025. Kedua model menunjukkan kinerja yang baik dengan nilai Area Under the Curve (AUC) masing-masing sebesar 0,88 dan 0,87. Jarak dari antropogenik menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap kesesuaian habitat, sedangkan jarak dari hutan paling berpengaruh terhadap probabilitas konflik. Potensi tinggi konflik tertinggi pada Kabupaten Bener Meriah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Pidie yang cenderung berada pada wilayah peralihan antara hutan dengan lahan budidaya, dan permukiman.; Conflict humans and sumatran elephants (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) in Aceh Province continues to rise due to changes in land use that cause habitat loss and fragmentation. This study aims to identify Sumatran elephant habitat suitability, the probability of human–elephant conflict, and the factors influencing it in Aceh. Modeling was carried out using the random forest algorithm. The habitat suitability model used 588 elephant presence points, while the conflict probability model used 531 conflict points from 2020 to 2025. Both models showed good performance with Area Under the Curve (AUC) values of 0.88 and 0.87, respectively. Distance from anthropogenic areas was the most influential variable for habitat suitability, while distance from forests was the most influential for conflict probability. High conflict probability in Bener Meriah, East Aceh, Aceh Tamiang, North Aceh, and Pidie, which tend to be in transitional areas between forest, agricultural land, and settlements.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180110</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Distribusi dan Ritme Aktivitas Mamalia Artiodactyla di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Lampung</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180104</link>
<description>Model Distribusi dan Ritme Aktivitas Mamalia Artiodactyla di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Lampung
MALIK, MUHAMMAD ICHSAN
Perubahan habitat dan tekanan antropogenik dapat memengaruhi keberadaan serta pola aktivitas mamalia Artiodactyla di Hutan Lindung Batutegi. Penelitian ini bertujuan menganalisis ritme aktivitas harian, distribusi spasial, faktor lingkungan yang memengaruhi kesesuaian habitat, serta menyusun rekomendasi pengelolaan. Data diperoleh dari 41 titik  stasiun kamera jebakan tahun 2025 yang mencakup dua Resort pada lanskap Hutan Lindung Batutegi yaitu Way Sekampung dan Way Waya dan dianalisis menggunakan perangkat lunak R dan Maximum Entropy. Hasil menunjukkan bahwa rusa sambar dan kijang memiliki pola aktivitas krepuskular, sedangkan babi hutan cenderung diurnal. Model distribusi menghasilkan nilai AUC rata-rata 0,724 untuk rusa sambar, 0,737 untuk kijang, dan 0,738 untuk babi hutan. Kelerengan menjadi variabel paling dominan pada rusa sambar, sedangkan jarak dari sungai dominan pada kijang dan babi hutan. Habitat yang sesuai bagi ketiga spesies hanya seluas 390 ha, sehingga perlindungan habitat bersama perlu diprioritaskan melalui pemeliharaan tutupan hutan dan sumber air serta pengendalian gangguan antropogenik.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180104</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Pengembangan Pengelolaan Ijen UNESCO Global Geopark Berkelanjutan Berbasis Analisis Variabel Sistem dan Sinergi Aktor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180077</link>
<description>Strategi Pengembangan Pengelolaan Ijen UNESCO Global Geopark Berkelanjutan Berbasis Analisis Variabel Sistem dan Sinergi Aktor
Triwahyudi, Fajar Rizki
Geopark dikembangkan dengan tiga pilar utama yang bertujuan mendorong upaya konservasi, edukasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan melalui upaya pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis variabel sistem yang memengaruhi dan mengendalikan, karakteristik sinergi dan tingkat konvergensi antar aktor terhadap tujuan, menganalisis status atau capaian kinerja pengelolaan, dan merumuskan strategi berbasis hasil integrasi analisis faktor dan sinergi aktor penggerak Ijen UGGp secara berkelanjutan. Metode yang digunakan, yaitu studi literatur, wawancara terstruktur, dan observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberlanjutan Ijen UGGp secara mutlak dikendalikan oleh variabel kelembagaan yang berada di kuadran key driver. Konvergensi visi antar-aktor penggerak terhadap tujuan pengelolaan Ijen UGGp berkelanjutan sebesar 100%. Status kinerja yang ditinjau dari dimensi ekologi, sosial budaya, dan ekonomi tergolong tinggi. Empat strategi adaptif berbasis integrasi faktor dan aktor dirumuskan guna mewujudkan pengelolaan yang berkelanjutan.; The Geopark was developed with three main pillars aimed at encouraging conservation efforts, education, and encouraging local economic growth sustainably through community empowerment efforts. This study aims to analyze the system variables that influence and control, the characteristics of synergy and the level of convergence between actors towards the objectives, analyze the status or achievement of management performance, and formulate a strategy based on the results of the integration of factor analysis and synergy of actors driving the sustainability of Ijen UGGp. The methods used were literature study, structured interviews, and field observations. The results of this study indicate that the sustainability of Ijen UGGp is absolutely controlled by institutional variables located in the key driver quadrant. The convergence of visions between driving actors towards the objectives of sustainable Ijen UGGp management is 100%. The performance status reviewed from the ecological, socio-cultural, and economic dimensions is considered high. Four of adaptive strategy based on the integration of factors and actors are formulated to realize sustainable management.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180077</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Valuasi Ekonomi Rangkong Badak (Buceros rhinoceros, Linnaeus 1758)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179859</link>
<description>Valuasi Ekonomi Rangkong Badak (Buceros rhinoceros, Linnaeus 1758)
Ilhandi, Moch Gibran
Rangkong badak (Buceros rhinoceros) merupakan spesies burung dari famili Bucerotidae yang populasinya mengalami penurunan akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Upaya penegakan hukum terhadap kejahatan tersebut masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya adalah kesulitan bagi aparat penegak hukum dalam menentukan besaran sanksi dan nominal denda yang efektif dalam memberikan efek jera kepada pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai&#13;
ekonomi rangkong badak melalui metode biaya pemeliharaan, harga pasar, valuasi kontingensi serta menganalisis hubungan karakteristik responden dengan willingness to pay (WTP), kemudian membandingkan ketiga metode tersebut. Nilai ekonomi dengan menggunakan metode harga pasar menghasilkan nilai sebesar Rp6.906.332/ekor, metode valuasi kontingensi sebesar Rp7.999.000/ekor, dan metode biaya pemeliharaan menghasilkan nilai sebesar Rp8.410.394/ekor yang menghasilkan nilai ekonomi tertinggi karena memperhitungkan keseluruhan kebutuhan pemeliharaan dan pengelolaan satwa di lembaga konservasi. Meskipun demikian, ditinjau dari aspek efektivitas dalam pengambilan dan pengolahan data,&#13;
metode harga pasar cenderung lebih praktis dan paling efisien dari segi biaya yang dikeluarkan.&#13;
Kata kunci: perdagangan ilegal, rangkong badak, valuasi ekonomi
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179859</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
