<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Silviculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 16:29:22 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-01T16:29:22Z</dc:date>
<item>
<title>Laju Infiltrasi pada Berbagai Kondisi Lahan di Area Pertambangan Kapur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179871</link>
<description>Laju Infiltrasi pada Berbagai Kondisi Lahan di Area Pertambangan Kapur
RISYDA, FATHIRA AMALIA
Hutan memiliki peran penting dalam sistem pengatur tata air dan penopang kestabilan lahan. Kegiatan pertambangan memiliki dampak signifikan terhadap kondisi lingkungan, terutama pada aspek tanah dan laju infiltrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju infiltrasi pada berbagai kondisi lahan di area pertambangan. Penelitian dilakukan pada tiga kondisi lahan, yaitu lahan hutan sekunder, lahan pascatambang, dan lahan revegetasi. Pengamatan dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, sedangkan pengukuran laju infiltrasi menggunakan double ring infiltrometer. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata laju infiltrasi tertinggi hutan sekunder sebesar 10,80 ± 2,68 cm/jam, yang berbeda dengan lahan revegetasi sebesar 5,76 ± 0,54 cm/jam, dan lahan pascatambang sebesar 4,62 ± 4,63 cm/jam. Hutan sekunder dan revegetasi bertekstur clay, sedangkan lahan pascatambang memiliki tekstur loam, sandy clay loam, dan clay loam. Bobot isi tanah tertinggi ada pada lahan pascatambang (0,678 ± 0,074 g/cm³) dan terendah di hutan sekunder (0,455 ± 0,044 g/cm³). Uji korelasi menunjukkan bobot isi tanah dan fraksi pasir memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan laju infiltrasi, fraksi liat memiliki hubungan positif yang signifikan. Sementara fraksi debu serta kerapatan vegetasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan laju infiltrasi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179871</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PENGARUH SISTEM AGROFORESTRI DAN AGRIVOLTAIK TERHADAP KEANEKARAGAMAN SERANGGGA, LAJU FOTOSINTESIS DAN PROFIL METABOLIT LENGKUAS (Alpinia purpurata)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179846</link>
<description>PENGARUH SISTEM AGROFORESTRI DAN AGRIVOLTAIK TERHADAP KEANEKARAGAMAN SERANGGGA, LAJU FOTOSINTESIS DAN PROFIL METABOLIT LENGKUAS (Alpinia purpurata)
HAFIZHAT, FEBY ZAHARA QISTY
Sistem agroforestri merupakan model pemanfaatan lahan berkelanjutan yang memadukan tanaman pertanian dengan tegakan pohon sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan ekosistem. Di sisi lain, sistem agrivoltaik berkembang sebagai inovasi pemanfaatan lahan ganda yang mengintegrasikan pembangkitan energi surya dengan produksi pertanian. Meskipun kedua sistem sama-sama menciptakan kondisi ternaungi, karakteristik naungan alami dari pohon dan naungan buatan dari panel surya diduga memberikan respons yang berbeda terhadap tanaman maupun ekosistem. Namun, hingga saat ini kajian yang membandingkan kedua tipe naungan tersebut terhadap keanekaragaman hayati, laju fotosintesis dan profil metabolit rimpang A. purpurata, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh sistem agroforestri dan agrivoltaik terhadap keanekaragaman serangga, laju fotosintesis, dan profil metabolit A. purpurata. Serangga disampling menggunakan yellow pan trap pada kedua sistem, laju fotosintesis diukur menggunakan portable photosynthesis system LI-COR 6800, dan senyawa metabolit rimpang A. purpurata dianalisis menggunakan LCMS-HRMS. Uji Duncan digunakan untuk analisis lanjutan laju fotosintesis. Hasil menunjukkan sistem agroforestri memiliki keanekaragaman serangga lebih tinggi (H' = 3,342) dibandingkan sistem agrivoltaik; laju fotosintesis A. purpurata pada sistem agroforestri (5,47 µmol m?²s?¹) lebih tinggi dibanding sistem agrivoltaik meskipun cahaya masuk jauh lebih rendah; serta profil metabolit menunjukkan senyawa cinnamyl acetate, cinnamyl cinnamate, dan 13-L-hydroperoxylinoleic acid hanya terdeteksi pada sistem agroforestri dan agrivoltaik, sedangkan pada kontrol muncul senyawa 1'-acetoxyeugenol acetate yang memiliki bioaktivitas antikanker.&#13;
&#13;
Kata kunci:  agroforestri, agrivoltaik, laju fotosintesis, metabolit, serangga
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179846</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Respon Pertumbuhan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) terhadap Naungan Agrivoltaik (Suryatani) dan Agroforestri (Wanatani)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179822</link>
<description>Respon Pertumbuhan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) terhadap Naungan Agrivoltaik (Suryatani) dan Agroforestri (Wanatani)
Hafiz, Muhammad
Sistem agrivoltaik dan agroforestri merupakan pendekatan inovatif untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan meningkatkan produksi pertanian. Namun, penelitian yang membandingkan pengaruh kedua sistem naungan tersebut terhadap pertumbuhan lengkuas merah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan dan produksi biomassa lengkuas merah pada berbagai kondisi naungan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan satu faktor, yaitu dosis pemupukan (P), sedangkan naungan digunakan sebagai blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan tanpa naungan menciptakan iklim mikro yang ekstrem, sedangkan sistem agroforestri menghasilkan naungan yang terlalu rapat sehingga meningkatkan kompetisi hara dan air. Sebaliknya, sistem agrivoltaik mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil dengan intensitas cahaya 13.029-88.882 lux, suhu udara 26-36°C, dan kelembapan tanah hingga 65%. Kombinasi sistem agrivoltaik dengan dosis pupuk tertinggi (P3 sebesar 20 g/m²) memberikan hasil terbaik dengan rataan tinggi tanaman 43,2 cm, diameter batang 8,2 mm, biomassa rimpang 2,1 kg/m², dan biomassa batang 2,0 kg/m².; Agrivoltaic and agroforestry systems are innovative approaches to optimizing land use and improving agricultural production. However, studies comparing the effects of these two shading systems on the growth of red galangal remain limited. This study aimed to analyze the growth and biomass production of red galangal under different shading conditions. The experiment was conducted using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with one factor, namely fertilizer dosage (P), while shading conditions were used as blocks. The results showed that open-field conditions created an extreme microclimate that induced environmental stress, whereas the agroforestry system produced excessive shading, resulting in greater competition for nutrients and water. In contrast, the agrivoltaic system created a more stable microclimate, with light intensity ranging from 13.029 to 88,882 lux, air temperatures of 26–36°C, and soil moisture reaching up to 65%. The combination of the agrivoltaic system and the highest fertilizer dosage (P3, 20 g/m²) produced the best results, with a mean plant height of 43.2 cm, a mean stem diameter of 8.2 mm, a mean rhizome biomass of 2.1 kg/m², and a mean stem biomass of 2.0 kg/m².
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179822</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sebaran Hotspot dan Area Bekas Terbakar di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179798</link>
<description>Sebaran Hotspot dan Area Bekas Terbakar di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat
PRATAMA, RYANKA FATAH KING
Hutan memiliki peran penting bagi kehidupan, tetapi kondisinya di Indonesia memprihatinkan akibat deforestasi dan kebakaran hutan yang 99% disebabkan manusia. Kabupaten Bima sering mengalami kebakaran hutan signifikan, terutama pada periode 2019–2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola sebaran hotspot, hubungannya dengan curah hujan, dan luas area terbakar menggunakan metode Normalized Burn Ratio dengan citra Sentinel-2. Hasil analisis spasial menunjukkan sebaran hotspot berfluktuasi dinamis, terkonsentrasi masif pada fase El Nino dan menyusut ke tingkat minimum pada fase La Nina. Uji korelasi Spearman membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara curah hujan dan hotspot. Puncak kebakaran terluas terjadi pada tahun 2023 mencapai 43.042,31 ha akibat akumulasi bahan bakar vegetasi kering setelah Triple Dip La Nina, sedangkan luasan terendah terjadi pada tahun 2025 (1.552,17 ha).; Forests play a vital role in life, yet their condition in Indonesia is deeply concerning due to deforestation and forest fires, 99% of which are caused by humans. Kabupaten Bima frequently experiences significant forest fires, particularly during the 2019–2025 period. This study aims to analyze the spatial patterns of hotspots, their relationship with rainfall, and the burned area using the Normalized Burn Ratio method with Sentinel-2 imagery. Spatial analysis results indicate that hotspot distribution fluctuates dynamically, concentrating massively during the El Nino phase and shrinking to a minimum during the La Nina phase. Spearman correlation tests prove a significant relationship between rainfall and hotspots. The largest peak of burned area occurred in 2023, reaching 43,042.31 ha due to the accumulation of dry vegetation fuel following the Triple-Dip La Nina, while the lowest area occurred in 2025 (1,552.17 ha)..
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179798</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
