<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Silviculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 18:46:02 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-03T18:46:02Z</dc:date>
<item>
<title>Pertumbuhan dan Cadangan Karbon Tegakan Rubroshorea leprosula Miq. di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173188</link>
<description>Pertumbuhan dan Cadangan Karbon Tegakan Rubroshorea leprosula Miq. di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Bogor
KANIA, CHERYN
Hutan tanaman berperan dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon yang dipengaruhi oleh jarak tanam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jarak tanam (2m × 2m, 3m × 3m, 4m × 4m) terhadap pertumbuhan dan stok karbon R. leprosula Miq. tahun tanam 1997 dan 1998 di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Bogor, dengan parameter diameter, tinggi, luas bidang dasar, kerapatan tegakan, kerapatan tajuk, dan cadangan karbon yang dianalisis menggunakan ANOVA (95%). Hasil menunjukkan jarak tanam berpengaruh signifikan (p &lt; 0,05) terhadap diameter, tinggi, kerapatan tegakan, dan kerapatan tajuk. Diameter tertinggi pada 4m × 4m (47,60 cm) dan terendah pada 2m × 2m (20,91 cm), tinggi tertinggi 22,24m dan terendah 16,05m. Kerapatan tertinggi pada 2m × 2m (761,67 ind/ha) dan terendah pada 4m × 4m (166,67 ind/ha), sedangkan kerapatan tajuk tertinggi pada 4m × 4m. Cadangan karbon tidak berbeda nyata terhadap ketiga jarak tanam nilainya berkisar antara 126,44-158,17 tonC/ha, hal ini menunjukkan kompensasi antara ukuran dan jumlah pohon.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173188</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penilaian Kerusakan Pohon dan Pendugaan Cadangan Karbon di Hutan Kota Srengseng</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173165</link>
<description>Penilaian Kerusakan Pohon dan Pendugaan Cadangan Karbon di Hutan Kota Srengseng
Deandra, Inez Deska
Hutan Kota Srengseng merupakan ruang terbuka hijau di Jakarta Barat yang berperan dalam penyimpanan karbon perkotaan. Penelitian ini bertujuan menilai kerusakan pohon dan menduga cadangan karbon menggunakan persamaan alometrik dan aplikasi i-Tree Eco. Data dikumpulkan secara non-destruktif melalui pengukuran diameter, tinggi, jenis pohon, serta penilaian kerusakan menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 132 pohon, 63% diantaranya tergolong sehat, 35% mengalami kerusakan ringan, dan 2% kerusakan sedang, tanpa ditemukan kerusakan berat. Kerusakan dominan terdapat pada cabang berupa hilangnya ujung dominan. Cadangan karbon diperoleh sebesar 27,20 ton/ha (i-Tree Eco) dan 27,50 ton/ha (alometrik). Serapan CO2 sebesar 1,51 ton/ha/tahun (i-Tree Eco) dan 103,87 ton/ha (persamaan konversi C ? CO2). Produksi O2 sebesar 4,13 ton/ha/tahun (i-Tree Eco) dan 75,83 ton/ha (persamaan fotosintesis). Hasil ini menunjukkan bahwa Hutan Kota Srengseng berperan dalam menyediakan jasa lingkungan berupa cadangan karbon, penyerapan CO2, dan produksi O2 yang mendukung kualitas lingkungan perkotaan.; Srengseng Urban Forest is a green open space in West Jakarta that plays an important role in urban carbon storage. This study aimed to assess tree damage and estimate carbon stocks using allometric equations and the i-Tree Eco application. Data were collected non-destructively through measurements of diameter, height, and tree species, as well as damage assessment using the Forest Health Monitoring (FHM) method. The results of the study showed that of 132 trees, 63% of them were classified as healthy, 35% had minor damage, and 2% had moderate damage, with no severe damage observed. The most common damage occurred in the branches, primarily in the form of loss of the dominant leader. Carbon stocks were estimated at 27.20 ton/ha (i-Tree Eco) and 27.50 ton/ha (allometric). CO2 sequestration was 1.51 ton/ha/year (i-Tree Eco) and 103.87 ton/ha (C ? CO2 conversion equation). O2 production was 4.13 ton/ha/year (i-Tree Eco) and 75.83 ton/ha (photosynthesis equation). These results indicate that Srengseng Urban Forest plays a role in providing ecosystem services in the form of carbon storage, CO2 sequestration, and O2 production, which support urban environmental quality.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173165</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Tipe Vegetasi terhadap Kelimpahan dan Kadar Air Bahan Bakar Serasah di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173118</link>
<description>Pengaruh Tipe Vegetasi terhadap Kelimpahan dan Kadar Air Bahan Bakar Serasah di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai
FADILAH, KHANSA
KHANSA FADILAH. Pengaruh Tipe Vegetasi terhadap Kelimpahan dan Kadar Air Bahan Bakar Serasah di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Dibimbing oleh BAMBANG HERO SAHARJO.&#13;
&#13;
Kebakaran hutan merupakan gangguan yang sering terjadi di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kadar air serasah menjadi salah satu faktor penentu kerawanan kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tipe vegetasi terhadap kadar air serasah dan menilai tingkat kerawanan kebakaran berdasarkan parameter tersebut di TNGC. Metode penelitian meliputi analisis sampel serasah dan inventarisasi vegetasi pada tiga jenis tipe vegetasi: hutan alam, hutan pinus, dan semak belukar. Hasil penelitian menunjukkan variasi kadar air serasah antar tipe vegetasi. Kadar air tertinggi diamati pada semak belukar (55,55%), sedangkan hutan pinus (39,37%) dan hutan alam (31,12%) menunjukkan nilai yang lebih rendah. Berdasarkan kriteria Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, kadar air di bawah ambang 30% mengindikasikan kategori rawan. Temuan ini mengonfirmasi adanya hubungan antara tipe vegetasi dengan kondisi bahan bakar mati. Implikasi studi ini menyoroti perlunya pendekatan pengelolaan bahan bakar yang berbeda sesuai karakteristik tegakan, dengan perhatian lebih pada lokasi yang memiliki kadar air serasah rendah.&#13;
&#13;
Kata kunci: bahan bakar, kadar air, kebakaran hutan, tipe vegetasi; KHANSA FADILAH. The Effect of Vegetation Type on the Abundance and Moisture Content of Litter Fuel in the Gunung Ciremai National Park Area. Supervised by BAMBANG HERO SAHARJO&#13;
&#13;
Forest fires are a recurrent disturbance in Mount Ciremai National Park (TNGC). Litter moisture content is a determinant factor of fire risk. This study aimed to examine the influence of vegetation type on litter moisture content and to assess the fire risk level based on this parameter in TNGC. The research method included litter sample analysis and vegetation inventory in three vegetation types: natural forest, pine forest, and shrubland. The results showed variation in litter moisture content among stands. The highest moisture content was observed in shrubland (55,55%), Pine Forest (39,37%), and natural forest (31,12%) showed lower values. According to the Forestry Research and Development Agency criteria, moisture content below the 30% threshold indicates a fire-prone category. This finding confirms a relationship between vegetation type and dead fuel condition. The study's implication underscores the need for differentiated fuel management approaches according to stand characteristics, with greater attention to areas with low litter moisture content. &#13;
&#13;
Keywords: forest fires, fuel, moisture content, type vegetation
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173118</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Identifikasi Cendawan Endofit dari Tanaman Leda (Eucalyptus deglupta) dan Potensinya dalam Menghambat Patogen Hawar Daun secara in Vitro</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173076</link>
<description>Identifikasi Cendawan Endofit dari Tanaman Leda (Eucalyptus deglupta) dan Potensinya dalam Menghambat Patogen Hawar Daun secara in Vitro
RAHMADHANTI, INTAN NUR
Tanaman leda (Eucalyptus deglupta) merupakan spesies kehutanan bernilai ekonomis tinggi yang rentan terhadap penyakit hawar daun akibat sistem monokultur. Pengendalian ramah lingkungan dapat dilakukan melalui pemanfaatan cendawan endofit sebagai agen biokontrol. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi cendawan endofit dari E. deglupta secara morfologi dan molekuler serta mengevaluasi potensinya dalam menghambat patogen hawar daun secara in vitro. Sebanyak empat isolat cendawan endofit diuji terhadap tiga patogen (Rhizoctonia sp., Colletotrichum sp., dan Pestalotiopsis sp.) menggunakan metode dual culture. Identifikasi molekuler dilakukan menggunakan analisis filogenetik dengan penanda ITS. Hasil menunjukkan isolat REI9.1 dan DEI6.1 berkerabat dekat dengan Phyllosticta fallopiae, REC19.1 dengan Xenoacremonium recifei, dan DEC1.1 dengan Pseudopithomyces toxicarius. Isolat DEC1.1 menunjukkan daya hambat tertinggi terhadap seluruh patogen (75,39%), sementara REI9.1 tertinggi terhadap Colletotrichum sp. (71,97%), DEI6.1 terhadap Rhizoctonia sp. (77,85%) dan Pestalotiopsis sp. (76,36%), serta REC19.1 terhadap Rhizoctonia sp. (41,63%). Isolat DEC1.1 (Pseudopithomyces toxicarius) berpotensi sebagai agen hayati yang potensial dalam menghambat patogen hawar daun pada tanaman E. deglupta secara in vitro.; The Leda plant (Eucalyptus deglupta) is a forest species with high economic value that is susceptible to leaf blight disease due to monoculture systems. Environmentally friendly disease management can be achieved through the use of endophytic fungi as biocontrol agents. This study aimed to identify endophytic fungi from E. deglupta based on morphological and molecular characteristics and to evaluate their potential to inhibit leaf blight pathogens in vitro. Four endophytic fungal isolates were tested against three pathogens (Rhizoctonia sp., Colletotrichum sp., and Pestalotiopsis sp.) using the dual culture method. Molecular identification was conducted using phylogenetic analysis based on the ITS marker. The results showed that isolates REI9.1 and DEI6.1 were closely related to Phyllosticta fallopiae, REC19.1 to Xenoacremonium recifei, and DEC1.1 to Pseudopithomyces toxicarius. Isolate DEC1.1 showed the highest inhibition against all pathogens (75.39%), while REI9.1 showed the highest inhibition against Colletotrichum sp. (71.97%), DEI6.1 against Rhizoctonia sp. (77.85%) and Pestalotiopsis sp. (76.36%), and REC19.1 against Rhizoctonia sp. (41.63%). Isolate DEC1.1 (Pseudopithomyces toxicarius) shows strong potential as a biocontrol agent in inhibiting leaf blight pathogens in E. deglupta under in vitro conditions.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173076</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
