<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Silviculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 11:58:10 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-07-01T11:58:10Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Pemberian Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala)  terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173891</link>
<description>Pengaruh Pemberian Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala)  terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)
Derima, Sri
Kelor (Moringa oleifera) adalah tanaman multiguna dengan komoditas &#13;
ekspor bernilai tinggi. Strategi budidaya diperlukan untuk memperoleh &#13;
produktivitas optimal, seperti sistem agroforestri dan penambahan bahan organik. &#13;
Lamtoro (Leucaena leucocephala) adalah salah satu tanaman yang dapat diterapkan &#13;
di sistem agroforestri karena daunnya memiliki unsur hara makro yang dapat &#13;
mendukung pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh &#13;
pemberian daun lamtoro dan mengetahui perlakuan yang paling baik bagi &#13;
pertumbuhan tanaman kelor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap &#13;
dengan 5 perlakuan yaitu kontrol, daun lamtoro segar ditaburkan, daun lamtoro &#13;
segar dibenamkan, kompos daun lamtoro ditaburkan, dan kompos daun lamtoro &#13;
dibenamkan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian daun lamtoro &#13;
berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan yang diamati meliputi &#13;
tinggi, diameter, jumlah helai daun, dan biomassa. Perlakuan daun lamtoro segar &#13;
dan kompos daun lamtoro yang ditaburkan memberikan pengaruh yang paling baik &#13;
bagi pertumbuhan tanaman kelor.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173891</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pendugaan Keanekaragaman Jenis Tegakan dan Serapan Karbon Menggunakan Penginderaan Jauh di Hutan Wakaf YPM, Mojokerto</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173793</link>
<description>Pendugaan Keanekaragaman Jenis Tegakan dan Serapan Karbon Menggunakan Penginderaan Jauh di Hutan Wakaf YPM, Mojokerto
MARSELINO, HERRY
Hutan Wakaf Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis keanekaragaman jenis dan struktur tegakan, menduga simpanan dan serapan karbon hutan, serta membangun model spasial hubungan antara indeks vegetasi dengan kerapatan (ind/ha), jumlah jenis, luas bidang dasar (LBDS) dan serapan karbon di Hutan Wakaf YPM, Mojokerto. Penelitian dilakukan di Hutan Wakaf YPM dengan luas 2,4 haktar. Metode penelitian meliputi pembangunan 48 plot berukuran 10 × 10 meter untuk analisis vegetasi, pendugaan serapan karbon secara destruktif dan non-destruktif, serta analisis indeks vegetasi (Forest Canopy Density/FCD, Difference Vegetation Index/DVI, dan kombinasi FCD-DVI). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 84 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 28 famili. Famili terbanyak adalah Fabaceae. Jenis yang paling dominan adalah Tectona grandis. Indeks keanekaragaman jenis tergolong sedang. Rata-rata biomassa, simpanan karbon, serapan karbon secara berurutan adalah 22,40 ton/ha, 10,53 ton/ha, 38,63 ton/ha. DVI mampu menduga serapan karbon (R2 = 71,54%) dengan model serapan karbon (Y) = 12,887DVI – 3,2406.; The Ma'arif Education and Social Foundation (YPM) Waqf Forest plays an important role in maintaining climate stability. This study aims to analyze species diversity and stand structure, estimate forest carbon stock and sequestration, and build a spatial model of the relationship between vegetation index and density (ind/ha), number of species, basal area (BA) and carbon sequestration in the YPM Waqf Forest, Mojokerto. The study was conducted in the YPM Waqf Forest with an area of 2,4 hectares. The research method included the construction of 48 plots measuring 10 × 10 meters for vegetation analysis, destructive and non-destructive carbon stock and sequestration estimation, as well as vegetation index analysis (Forest Canopy Density/FCD, Difference Vegetation Index/DVI, and a combination of FCD-DVI). The results showed that there were 84 plant species belonging to 28 families. The largest family was Fabaceae. The most dominant species was Tectona grandis. The species diversity index was classified as moderate. The average biomass, carbon stock, and carbon sequestration were 22,40 tons/ha, 10,53 tons/ha, and 38,63 tons/ha, respectively. DVI was able to predict carbon uptake (R2 = 71.54%) with the model carbon sequestration (Y) = 12.887DVI – 3.2406.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173793</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penilaian Risiko Pohon, Kenyamanan, dan Jasa Lingkungan untuk Mendukung Kualitas Ruang Terbuka Hijau Tebet Eco Park.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173775</link>
<description>Penilaian Risiko Pohon, Kenyamanan, dan Jasa Lingkungan untuk Mendukung Kualitas Ruang Terbuka Hijau Tebet Eco Park.
RAMADHAN, SALSABILA
Ruang Terbuka Hijau (RTH) seperti Tebet Eco Park (TEP) dituntut untuk memberikan kenyamanan lingkungan sekaligus jaminan keamanan fisik bagi pengunjung dan masyarakat umum. Namun, informasi risiko pohon terkait keamanan dan kenyamanan TEP masih belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi risiko pohon (ISA Tree Risk Assessment dan morfometri), kenyamanan termal (Thermal Humidity Index/THI), dan penyediaan jasa ekosistem (i-Tree Eco) pada delapan zona lanskap TEP. Hasil analisis morfometri menunjukkan mayoritas tegakan memiliki tingkat stabilitas yang tinggi, dan evaluasi risiko pohon mengidentifikasi 77% pohon berada pada kategori Rendah, 20% Sedang, dan 3% Tinggi. Kategori tinggi terpusat pada empat zona akibat irisan tingginya intensitas target dan cacat struktural. Pengukuran THI menunjukkan mayoritas kawasan berstatus "Tidak Nyaman", kecuali zona Forest Buffer. Analisis i-Tree Eco mencatat total simpanan karbon 738 ton C dan penyerapan 45,58 ton C/tahun, yang didominasi oleh spesies introduksi Eucalyptus deglupta. Keanekaragaman ekosistem lanskap ini tergolong sedang (H' = 2,7) dengan tingkat kemerataan tinggi (E’ = 0,8). Sebagai implikasi manajerial, pengelola disarankan memprioritaskan mitigasi segera pada pohon berisiko tinggi dan menyeleksi spesies peneduh berakar dalam untuk area perkerasan.; Green Open Spaces (GOS) such as Tebet Eco Park (TEP) are required to provide environmental comfort while ensuring physical safety for visitors. This study aimed to evaluate tree risk (the ISA Tree Risk Assessment method and morphometry), thermal comfort (Thermal Humidity Index/THI), and the provision of ecosystem services i-Tree Eco) across eight landscape zones in TEP. Morphometric analysis results indicated that the majority of stands possess a high level of stability, and risk evaluation identified that 77% of trees were in the Low category, 20% Moderate, and 3% High. The high-risk category was concentrated in four zones due to the intersection of high target intensity and structural defects. THI measurements showed that most areas were classified as "Uncomfortable," except for the Forest Buffer zone. The i-Tree Eco analysis recorded a total carbon storage of 738 tons and sequestration of 45.58 tons/year, dominated by the introduced species Eucalyptus deglupta. The landscape's ecosystem diversity was categorized as moderate (H' = 2,7) with high evenness (E’ = 0,8). As a managerial implication, managers are advised to prioritize immediate mitigation for high-risk trees and select deep-rooted shade species for paved areas.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173775</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Keanekaragaman Semut (Hymenoptera: Formicidae) pada Tiga Tipe Ekosistem yang Berbeda di Kabupaten Lebak Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173700</link>
<description>Keanekaragaman Semut (Hymenoptera: Formicidae) pada Tiga Tipe Ekosistem yang Berbeda di Kabupaten Lebak Banten
Firdaus, Sholehudin
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tinggi, termasuk semut (Hymenoptera: Formicidae) sebagai bioindikator ekosistem. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis, menganalisis keanekaragaman, serta mengkaji hubungan karakteristik habitat dengan kelimpahan semut pada tiga tipe ekosistem di Desa Sindangratu, Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, Banten. Metode pengambilan sampel menggunakan pitfall trap selama tiga hari dan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, kekayaan, dan kemerataan, serta uji ANOVA dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas semut terdiri atas 3.177 individu, 29 morfospesies, 18 genus, dan 4 subfamili, dengan kelimpahan tertinggi pada hutan alam dan terendah pada perkebunan kelapa sawit. Keanekaragaman semut tergolong sedang dan kelimpahan semut berbeda secara signifikan antarekosistem (p &lt; 0,001). Kelembapan, vegetasi, dan serasah memiliki korelasi positif yang sangat kuat dengan kelimpahan semut, sedangkan suhu memiliki korelasi negatif dengan kelimpahan semut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompleksitas habitat memengaruhi komunitas semut dan berpotensi menjadi indikator kualitas lingkungan.; Indonesia has high biodiversity, including ants (Hymenoptera: Formicidae) as bioindicators of ecosystem conditions. This study aimed to identify species, analyze diversity, and examine the relationship between habitat characteristics and ant abundance across three ecosystem types in Sindangratu Village, Panggarangan District, Lebak Regency, Banten. The sampling method used pitfall traps for three days and data were analyzed using diversity, richness, and evenness indices, as well as ANOVA and Spearman correlation. The results showed that the ant community consisted of 3.177 individuals, 29 morphospecies, 18 genera, and 4 subfamilies, with the highest abundance recorded in the natural forest and the lowest in the oil palm plantation. Ant diversity was classified as moderate and ant abundance differed significantly among ecosystems (p &lt; 0.001). Humidity, vegetation, and leaf litter had very strong positive correlations with ant abundance, whereas temperature had a negative correlation with ant abundance. These findings indicate that habitat complexity influences ant communities and has the potential to serve as an indicator of environmental quality.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173700</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
