<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Silviculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 02:12:44 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-15T02:12:44Z</dc:date>
<item>
<title>Struktur dan Asosiasi Vegetasi pada Habitat Alami Shorea laevis Ridl. di Kalimantan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180112</link>
<description>Struktur dan Asosiasi Vegetasi pada Habitat Alami Shorea laevis Ridl. di Kalimantan
Prastiono, Rafi Chaidir Kusumo
Shorea laevis Ridl. merupakan jenis Dipterocarpaceae penting yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi di hutan Kalimantan. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi dan struktur vegetasi serta asosiasi S. laevis dengan spesies tumbuhan lain pada habitat alaminya di Kalimantan. Penelitian dilakukan pada empat populasi, yaitu Bukit Bangkirai, HCV PT Multi Kusuma Cemerlang, Taman Nasional Betung Kerihun–Danau Sentarum, dan PT Sarpatim, menggunakan 20 plot dengan metode purposive sampling. Analisis meliputi komposisi vegetasi, Indeks Nilai Penting (INP), kekayaan, keanekaragaman, kemerataan, serta asosiasi menggunakan uji Chi-square dan Indeks Ochiai. S. laevis memiliki INP 231,7 pada tingkat pohon dan 63,3 pada tingkat tiang. Keanekaragaman tingkat pohon tertinggi terdapat di TN Betung Kerihun–Danau Sentarum (H' = 3,29; Dmg = 8,01; J' = 0,95). Pada tingkat pohon, 80% pasangan menunjukkan asosiasi positif berkategori tinggi, yaitu Shorea laevis dengan Lithocarpus encleisocarpus, Rubroshorea parvifolia, Irvingia malayana, dan Palaquium stellatum, sedangkan seluruh pasangan tingkat tiang menunjukkan asosiasi positif berkategori rendah (Ochiai = 0,35).; Shorea laevis Ridl. is an important Dipterocarpaceae species with ecological and economic values in the forests of Kalimantan. This study aimed to analyze vegetation composition and structure, as well as the association of S. laevis with other plant species in its natural habitat in Kalimantan. The study was conducted in four populations, namely Bukit Bangkirai, HCV PT Multi Kusuma Cemerlang, Betung Kerihun–Danau Sentarum National Park, and PT Sarpatim, using 20 plots established through purposive sampling. The analyses included vegetation composition, Important Value Index (IVI), species richness, diversity, evenness, and species association using the Chi-square test and Ochiai Index. S. laevis had an IVI of 231.7 at the tree stage and 63.3 at the pole stage. The highest tree-stage diversity was found in Betung Kerihun–Danau Sentarum National Park (H' = 3.29; Dmg = 8.01; J' = 0.95). At the tree stage, 80% of species pairs showed strong positive associations, specifically between Shorea laevis and Lithocarpus encleisocarpus, Rubroshorea parvifolia, Irvingia malayana, and Palaquium stellatum, while all pole-stage pairs showed weak positive associations (Ochiai = 0.35).
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180112</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Komposisi, Struktur, dan Simpanan Biomassa Tegakan  di Hutan Wakaf Bogor, Ekoton, dan Zona Rehabilitasi TNGHS.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179970</link>
<description>Komposisi, Struktur, dan Simpanan Biomassa Tegakan  di Hutan Wakaf Bogor, Ekoton, dan Zona Rehabilitasi TNGHS.
Islami, Tantrie Nurcahya
The presence of ecotones in forest areas reflects ecological interaction between adjacent ecosystems. One such area is located in the transition zone between the Bogor Waqf Forest (HWB) and Gunung Halimun Salak National Park (TNGHS). This study aims to analyze species composition, stand structure, and biomass stock in the ecotone between HWB and TNGHS. Data were collected using the transect-plot method, the SexI-FS application, and allometric equations across six 20 × 100 m transects comprising 30 sample plots (20 × 20 m). The results showed that the study sites contained 37 species from 22 families, with HWB having the highest species composition (25 species from 19 families), followed by TNGHS (18 species from 14 families), and the ecotone (17 species from 14 families). The dominant species were Syzygium aromaticum in HWB, Schima wallichii in the ecotone, and Persea americana in TNGHS. Stand structure exhibited an inverted "J" shaped pattern dominated by the 1 - 10 cm diameter class and stratum C (4 - 20 m). The highest average of stand biomass stock was recorded in HWB (82.42 tons/ha), followed by TNGHS (28.54 tons/ha) and the ecotone (26.23 tons/ha).; Keberadaan ekoton di kawasan hutan mencerminkan interaksi ekologis yang dinamis antara dua ekosistem yang berbatasan. Salah satu kawasan tersebut berada pada zona peralihan antara Hutan Wakaf Bogor (HWB) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur tegakan, dan simpanan biomassa di HWB, ekoton, dan TNGHS. Data dikumpulkan melalui analisis vegetasi metode jalur berpetak, pengukuran struktur tegakan menggunakan aplikasi SexI-FS, serta pendugaan biomassa dengan persamaan alometrik. Penelitian dilakukan pada enam jalur berukuran 20×100 m yang terdiri atas 30 petak contoh berukuran 20×20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis pada ketiga lokasi penelitian &#13;
mencakup 37 jenis dari 22 famili, dengan HWB memiliki komposisi jenis tertinggi (25 jenis dari 19 famili), diikuti TNGHS (18 jenis dari 14 famili), dan ekoton (17 jenis dari 14 famili). Jenis dominan pada HWB adalah Syzygium aromaticum, di ekoton Schima wallichii, dan di TNGHS Persea americana. Struktur tegakan menunjukkan pola “J” terbalik, dengan rata-rata kelas diameter 1 - 10 cm serta dominasi stratum C (4 - 20 m). Rata-rata simpanan biomassa tegakan tertinggi terdapat di HWB (82,42 ton/ha), diikuti TNGHS (28,54 ton/ha), dan ekoton (26,23 ton/ha).
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179970</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Vegetasi di Blok  Bantaragung Taman Nasional Gunung Ciremai</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179969</link>
<description>Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Vegetasi di Blok  Bantaragung Taman Nasional Gunung Ciremai
Al-Faidzah, Naila
Kebakaran hutan merupakan gangguan yang dapat mengubah stuktur, komposisi, dan regenerasi vegetasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur vegetasi, dan proses suksesi pada lahan terbakar dan tidak terbakar di Blok Bantaragung, Taman Nasional Gunung Ciremai.  Data vegetasi dikumpulkan menggunakan metode analisis vegetasi pada tingkat tumbuhan  bawah, semai, pancang, tiang, dan pohon, kemudian INP, indeks keanekaragaman (H'), indeks kekayaan jenis (R), indeks kemerataan (E), dan indeks kesamaan  komunitas (IS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran mengubah  komposisi dan struktur vegetasi melalui pergeseran spesies dominan. Lahan terbakar didominasi oleh spesies pionir dan Pinus merkusii, sedangkan lahan tidak terbakar didominasi oleh Dysoxylum densiflorum. Nilai IS yang rendah menunjukkan perbedaan komposisi komunitas pada kedua lokasi. Regenerasi pada lahan terbakar mencerminkan suksesi sekunder yang masih berlangsung, sedangkan  lahan tidak terbakar menunjukkan kondisi vegetasi yang lebih berkembang dan mendekati kondisi hutan. Hasil penelitian ini menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan dan rehabilitasi vegetasi di Taman Nasional Gunung Ciremai.; Forest fires can alter vegetation structure, composition, and regeneration. This study analyzed species composition, vegetation structure, and succession on burned and unburned land in the Block Bantaragung of Gunung Ciremai National Park. Vegetation data were collected at the understory, seedling, sapling, pole, and tree levels and analyzed using the Importance Value Index (INP), diversity index (H’), species richness index (R), evenness index (E), and community similarity index (IS). Fire altered vegetation composition and structure, with burned areas dominated by pioneer species and Pinus merkusii, while unburned areas were dominated by Dysoxylum densiflorum. Low IS values indicated differences in species composition between the two sites. Burned areas showed ongoing secondary succession, whereas unburned areas exhibited more developed vegetation. These findings provide a scientific basis for vegetation management and rehabilitation in Gunung Ciremai National Park.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179969</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Laju Infiltrasi pada Berbagai Kondisi Lahan di Area Pertambangan Kapur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179871</link>
<description>Laju Infiltrasi pada Berbagai Kondisi Lahan di Area Pertambangan Kapur
Risyda, Fathira Amalia
Hutan memiliki peran penting dalam sistem pengatur tata air dan penopang kestabilan lahan. Kegiatan pertambangan memiliki dampak signifikan terhadap kondisi lingkungan, terutama pada aspek tanah dan laju infiltrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju infiltrasi pada berbagai kondisi lahan di area pertambangan. Penelitian dilakukan pada tiga kondisi lahan, yaitu lahan hutan sekunder, lahan pascatambang, dan lahan revegetasi. Pengamatan dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, sedangkan pengukuran laju infiltrasi menggunakan double ring infiltrometer. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata laju infiltrasi tertinggi hutan sekunder sebesar 10,80 ± 2,68 cm/jam, yang berbeda dengan lahan revegetasi sebesar 5,76 ± 0,54 cm/jam, dan lahan pascatambang sebesar 4,62 ± 4,63 cm/jam. Hutan sekunder dan revegetasi bertekstur clay, sedangkan lahan pascatambang memiliki tekstur loam, sandy clay loam, dan clay loam. Bobot isi tanah tertinggi ada pada lahan pascatambang (0,678 ± 0,074 g/cm³) dan terendah di hutan sekunder (0,455 ± 0,044 g/cm³). Uji korelasi menunjukkan bobot isi tanah dan fraksi pasir memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan laju infiltrasi, fraksi liat memiliki hubungan positif yang signifikan. Sementara fraksi debu serta kerapatan vegetasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan laju infiltrasi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179871</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
