<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Agricultural and Biosystem Engineering</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/103</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 19:59:18 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-12T19:59:18Z</dc:date>
<image>
<title>UF - Agricultural and Biosystem Engineering</title>
<url>http://repository.ipb.ac.id:80/bitstream/id/c63f18b4-66c7-483f-9b13-9c3e810147a2/</url>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/103</link>
</image>
<item>
<title>Kajian Teknologi Air Blast Freezer untuk Mempertahankan Mutu Pisang Kepok Goreng Beku</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178344</link>
<description>Kajian Teknologi Air Blast Freezer untuk Mempertahankan Mutu Pisang Kepok Goreng Beku
PRATIWI, TIA KARISMA
Pisang kepok goreng beku merupakan salah satu produk pangan siap olah yang berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas pisang. Mutu produk dipengaruhi oleh metode pembekuan dan metode penyajian yang diterapkan selama proses pengolahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh metode pembekuan dan metode penyajian terhadap mutu fisik dan sensori pisang kepok goreng beku serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik. Bahan yang digunakan adalah pisang kepok dengan kematangan ±90% (green mature) yang diperoleh dari petani di Kabupaten Bogor, tepung dan minyak goreng sawit. Pisang disortasi, dikupas kulitnya dan dibelah menjadi empat bagian (ketebalan ±0,5 cm), dilapisi adonan, digoreng (pre-frying), dikemas, dibekukan dan disimpan beku pada suhu -18°C. Penyajian dilakukan setelah dilakukan thawing pada suhu ±27°C selama 30 menit dan kemudian digoreng dengan metode deep frying dan air frying. Parameter yang diamati meliputi laju pembekuan,  thawing loss, daya serap minyak, kekerasan, warna (chroma, hue, dan ?E), serta mutu sensori. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor yaitu metode pembekuan (air blast freezer (ABF) dan chest freezer) dan metode penyajian (deep frying dan air frying). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pusat bahan dengan pembekuan ABF mencapai -18°C dalam 62 menit dengan laju pembekuan 0,24°C/menit, sedangkan dengan chest freezer memerlukan 615 menit dengan laju 0,03°C/menit. Metode pembekuan berpengaruh nyata terhadap thawing loss dan nilai chroma (p&lt;0,05), sedangkan metode penyajian tidak berpengaruh nyata terhadap sebagian besar parameter. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata terhadap atribut aroma dan penerimaan keseluruhan (p&lt;0,05) pada hasil uji organoleptik. Seluruh perlakuan berada pada kategori penerimaan netral hingga suka. Berdasarkan keseluruhan mutu fisik dan sensori, kombinasi pembekuan menggunakan ABF dan penyajian dengan air frying direkomendasikan sebagai perlakuan terbaik.; Frozen plantain fritters are a ready-to-cook food product with the potential to increase the added value of banana commodities. Product quality is influenced by the freezing method and serving method applied during processing. This study aimed to analyze the effects of freezing method and serving method on the physical and sensory quality of frozen plantain fritters and to determine the best treatment combination. The materials used were kepok bananas with a ripeness level of ±90% &#13;
(green mature), obtained from farmers in Bogor Regency, along with flour and palm cooking oil. The bananas were sorted, peeled, and cut into four pieces (thickness of ±0.5 cm), coated with batter, pre-fried, packaged, frozen, and stored under frozen conditions at -18°C. Serving was carried out after thawing at ±27°C for 30 minutes, followed by frying using either the deep frying or air frying method. The parameters observed included freezing rate, thawing loss, oil absorption, hardness, color (chroma, hue, and ?E), and sensory quality. The study used a completely randomized factorial design with two factors: freezing method (air blast freezer (ABF) and chest freezer) and serving method (deep frying and air frying). The results showed that the core temperature of the material with ABF freezing reached -18°C within 62 minutes, with a freezing rate of 0.24°C/minute, whereas the chest &#13;
freezer required 615 minutes, with a freezing rate of 0.03°C/minute. The freezing method significantly affected thawing loss and chroma value (p &lt; 0.05), while the serving method had no significant effect on most parameters. The interaction between the two factors significantly affected the aroma attribute and overall acceptance (p &lt; 0.05) in the organoleptic test results. All treatments fell within the neutral-to-like acceptance category. Based on overall physical and sensory quality, &#13;
the combination of ABF freezing and air-frying serving is recommended as the best treatment.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178344</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi Performansi Irigasi Tetes untuk Budidaya Cabai Rawit pada Berbagai Media Tanam</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178244</link>
<description>Studi Performansi Irigasi Tetes untuk Budidaya Cabai Rawit pada Berbagai Media Tanam
Ranissa, Chyntia Farah
Kebutuhan air tanaman tergantung oleh media tanam. Kebutuhan air tanaman cabai rawit tergantung oleh media tanam dan pemberian irigasinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan tanaman cabai rawit pada berbagai variasi media tanam dan volume pemberian larutan nutrisi melalui sistem irigasi tetes. Perlakuan media tanam terdiri atas (1) tanah dari lahan pertanian, (2) campuran tanah dan sekam, dan (3) campuran tanah, sekam, dan pupuk kendang. Perlakuan pemberian larutan nutrisi menggunakan irigasi tetes terdiri atas (1) kurang 25% dari rekomendasi, (2) sesuai rekomendasi, dan (3) lebih 25% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata pada seluruh parameter pertumbuhan dan produksi tanaman, sedangkan volume pemberian larutan nutrisi hanya berpengaruh nyata terhadap saat pemunculan bunga. Perlakuan media tanam campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang serta pemberian larutan irigasi lebih 25% dari rekomendasi menghasilkan pertumbuhan dan produksi tanaman terbaik yaitu, tinggi tanaman rata-rata 379,4 mm, saat pemunculan bunga rata-rata pada 57 hari setelah tanam (HST), bobot buah rata-rata 0,60 gram per buah, panjang buah rata-rata 21,20 mm, dan diameter buah rata-rata 4,26 mm per buah. Hasil produksi tertinggi terdapat pada media tanam lengkap (tanah + arang sekam + pupuk kandang) yaitu dengan produksi cabai rata-rata sebesar 23,04 g/polybag. Biaya persiapan media tanam dan konsumsi pupuk cair berkisar Rp 2.933/polybag hingga RP 7.866/polybag pada semua perlakuan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178244</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rancang Bangun Sistem Pengendalian Suhu dan Kelembaban Berbasis PID Pada Pengering Tipe Rotari Kabinet Untuk Pengeringan Cabai Merah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178174</link>
<description>Rancang Bangun Sistem Pengendalian Suhu dan Kelembaban Berbasis PID Pada Pengering Tipe Rotari Kabinet Untuk Pengeringan Cabai Merah
YONAN, FAHRIE SYAM
Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura strategis yang memerlukan pengeringan terkontrol untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pengendalian suhu dan kelembaban berbasis PID pada pengering tipe rotari kabinet, menganalisis efektivitas pengendalian, mengevaluasi kinerja respons sistem, serta menganalisis kinerja pengeringan cabai merah pada lima kombinasi perlakuan setpoin suhu, kelembaban relatif, dan nilai minimum kipas. Sistem dibangun menggunakan mikrokontroler ESP32 dengan dua loop kontrol independen. Loop suhu mengendalikan elemen pemanas melalui SSR dan loop kelembaban mengendalikan kipas DC. Parameter PID suhu diperoleh melalui metode ZieglerNichols dan fine-tuning. Sistem berhasil mempertahankan suhu dengan steady-state error 0,05-0,29°C, sedangkan pengendalian kelembaban efektif pada setpoin rendah namun mengalami keterbatasan pada setpoin tinggi akibat penurunan laju penguapan air bahan pada fase falling rate. Seluruh perlakuan berhasil mencapai kadar air akhir sesuai SNI 3389:2023 dengan durasi 12-21 jam. Perlakuan P1 menghasilkan laju pengeringan tertinggi sebesar 59,18%bk/jam, mekanisme rotasi bahan menghasilkan keseragaman kadar air akhir antar rak dengan selisih 0,01- 0,04%bk. Total konsumsi energi listrik seluruh perlakuan berada dalam rentang yang sempit, yaitu 3,037-3,123 kWh meskipun durasi pengeringan berbeda sangat jauh.; Red chili (Capsicum annuum L.) is a strategic horticultural commodity that requires controlled drying to maintain quality and extend shelf life. This study aimed to design and build a PID-based temperature and humidity control system for a rotary cabinet dryer, analyze control effectiveness, evaluate system response performance, and analyze red chili drying performance under five treatment combinations of temperature setpoint, relative humidity setpoint, and minimum fan speed. The system was built using an ESP32 microcontroller with two independent control loops i.e. temperature and humidity. The heating element via SSR was controlled by temperature loop while DC exhaust fan was controlled by humidity loop. PID temperature parameters were obtained through Ziegler-Nichols tuning and fine-tuning. The system successfully maintained temperature with a steadystate error of 0.05-0.29°C, while humidity control was effective at low setpoints but limited at high setpoints due to reduced moisture evaporation rate during the falling rate period. All treatments achieved final moisture content below 11% wet basis in accordance with SNI 3389:2023 within 12-21 hours. P1treatment produced the highest drying rate of 59,18%db/hour, the tray rotation mechanism achieved excellent drying uniformity with inter-tray moisture content difference of only 0.01- 0.04%db, and total energy consumption across all treatments remained within a narrow range of 3.037-3.123 kWh despite significantly different drying durations.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178174</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Produksi Gula Pereduksi dari Eucheuma cottonii sebagai Bahan Baku Bioetanol melalui Proses Hidrolisis Asam Berbantukan Microwave</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177960</link>
<description>Produksi Gula Pereduksi dari Eucheuma cottonii sebagai Bahan Baku Bioetanol melalui Proses Hidrolisis Asam Berbantukan Microwave
PUTRA, RIGEL ADIKA
Indonesia merupakan produsen rumput laut merah Eucheuma cottonii terbesar di dunia sehingga berpotensi menjadikannya bahan baku bioetanol generasi ketiga. Produksi gula pereduksi sebagai prekursor bioetanol melalui hidrolisis asam konvensional terkendala waktu reaksi yang lama dan pembentukan inhibitor 5-hidroksimetilfurfural. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi asam sulfat (H2SO4), waktu reaksi, dan interaksinya terhadap perolehan gula pereduksi hidrolisat E. cottonii berbantukan microwave, serta menentukan kombinasi optimumnya dalam rentang yang diuji. Tepung E. cottonii dihidrolisis dalam microwave domestik 100 W dengan rasio padatan-pelarut 1:10 pada H2SO4 0,1; 0,2; dan 0,3 M serta waktu 10, 15, dan 20 menit, yang disusun sebagai rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan tiga ulangan. Gula pereduksi ditetapkan dengan metode asam dinitrosalisilat (DNS), kemudian dianalisis menggunakan ANOVA, uji Duncan, metode permukaan respons (RSM), dan analisis energi. Waktu reaksi berpengaruh nyata dan dominan, konsentrasi berpengaruh sekunder, sedangkan interaksinya tidak nyata. Perolehan gula pereduksi tertinggi sebesar 18,317 g/L setara glukosa dicapai pada 0,3 M dan 20 menit, kondisi yang juga menuntut konsumsi energi spesifik tertinggi (33,5 kJ/g). Hasil ini menunjukkan microwave domestik berpotensi sebagai reaktor hidrolisis yang cepat dan terjangkau, meskipun nilai berbasis DNS masih perlu diverifikasi dengan kromatografi.; Indonesia is the world's largest producer of the red seaweed Eucheuma cottonii, a potential feedstock for third-generation bioethanol. Producing its reducing-sugar precursor by conventional acid hydrolysis is limited by long reaction times and formation of the inhibitor 5-hydroxymethylfurfural. This study aimed to determine the effects of sulfuric acid (H2SO4) concentration, reaction time, and their interaction on the reducing sugar yield of microwave-assisted E. cottonii hydrolysate, and identify the optimal combination within the tested range. E. cottonii powder was hydrolyzed in a 100 W domestic microwave at a 1:10 ratio using H2SO4 at 0.1, 0.2, and 0.3 M for 10, 15, and 20 minutes, arranged as a completely randomized design (CRD) with a full factorial and three replicates. Reducing sugar was quantified by the dinitrosalicylic acid (DNS) method and analyzed using ANOVA, Duncan's test, response surface methodology, and energy analysis. Reaction time had a significant and dominant effect, acid concentration a secondary effect, and their interaction was not significant. The highest yield, 18.317 g/L glucose equivalent, occurred at 0.3 M and 20 minutes, which also required the highest specific energy consumption (33.5 kJ/g). These results indicate a domestic microwave is a potential rapid, low-cost hydrolysis reactor, although DNS-based values require chromatographic verification.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177960</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
