<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Agricultural and Biosystem Engineering</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/103</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 09:16:40 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-23T09:16:40Z</dc:date>
<image>
<title>UF - Agricultural and Biosystem Engineering</title>
<url>http://repository.ipb.ac.id:80/bitstream/id/c63f18b4-66c7-483f-9b13-9c3e810147a2/</url>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/103</link>
</image>
<item>
<title>OPTIMASI KOMBINASI KECEPATAN UDARA DAN SUHU PADA ROTARY DRYER UNTUK PENGERINGAN GULA SEMUT</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179991</link>
<description>OPTIMASI KOMBINASI KECEPATAN UDARA DAN SUHU PADA ROTARY DRYER UNTUK PENGERINGAN GULA SEMUT
Putri, Annastasha Diandra
Gula semut merupakan produk gula aren yang bersifat higroskopis sehingga memerlukan proses pengeringan yang tepat untuk mencapai kadar air di bawah 3% sebagaimana ditetapkan dalam SNI 01-3743-2021. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu pemanas dan kecepatan udara blower terhadap waktu pengeringan, kadar air akhir, serta kehilangan bahan akibat tumpahan pada proses pengeringan gula semut menggunakan rotary dryer, serta menentukan kondisi operasi optimum menggunakan Response Surface Analysis. Penelitian menggunakan rancangan percobaan faktorial penuh 3×3 dengan tiga tingkat suhu (50°C, 60°C, dan 70°C) dan tiga tingkat kecepatan udara (8,21; 14,41; dan 25,95 m/s), dengan tiga kali ulangan untuk setiap perlakuan. Titik akhir pengeringan ditentukan ketika perbedaan kelembapan relatif antara udara masuk dan udara keluar mencapai sekitar 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan kecepatan udara dapat mengurangi waktu pengeringan dan kadar air. Kecepatan udara blower merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap waktu pengeringan (p = 0,002). Model regresi kuadratik dikembangkan untuk ketiga respons yang diamati. Optimasi multi-respons menggunakan composite desirability menghasilkan kondisi optimum pada suhu 70°C dan kecepatan udara 23,98 m/s, dengan waktu pengeringan yang diprediksi sebesar 29,69 menit, kadar air sebesar 2,75%, dan kehilangan bahan akibat tumpahan sebesar 20,51 g. Kondisi tersebut menghasilkan nilai composite desirability sebesar 0,9609.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179991</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rancang Bangun Mesin Steamer untuk Pelunakan Kayu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179966</link>
<description>Rancang Bangun Mesin Steamer untuk Pelunakan Kayu
Assidiek, Mochammad Rizky
Pelunakan kayu menggunakan uap panas merupakan salah satu metode yang &#13;
dapat digunakan untuk meningkatkan kemudahan kayu dalam proses pembentukan. &#13;
Penelitian ini bertujuan merancang dan menguji kinerja mesin steamer untuk &#13;
pelunakan kayu. Mesin steamer dirancang menggunakan boiler dan ruang steamer &#13;
berbahan stainless steel 304 dengan ketebalan 2 mm. Pengujian kinerja meliputi &#13;
karakteristik pemanasan, konsumsi LPG, perubahan berat, dan kekerasan kayu. &#13;
Pengujian perubahan berat dilakukan pada kayu jabon putih (Neolamarckia &#13;
cadamba) dengan perlakuan steaming pada suhu 100 °C, tekanan 0,2 bar, dan waktu &#13;
60 menit, sedangkan pengujian kekerasan dilakukan menggunakan Universal &#13;
Testing Machine (UTM) pada 20 sampel yang terdiri atas 10 sampel tanpa &#13;
perlakuan steaming dan 10 sampel dengan perlakuan steaming pada suhu 100 °C, &#13;
tekanan 0,5 bar, dan waktu 60 menit. Mesin mencapai suhu ruang steamer 100 °C &#13;
dalam waktu rata-rata 49,08 menit tanpa kayu dan 52,23 menit dengan kayu. &#13;
Konsumsi LPG selama satu siklus sebesar 0,86 kg dengan laju konsumsi 0,46 &#13;
kg/jam. Perlakuan steaming meningkatkan berat rata-rata kayu dari 202,33 g &#13;
menjadi 209,00 g atau sebesar 3,26%. Nilai kekerasan kayu dengan perlakuan &#13;
steaming sebesar 238,23 kgf/cm², lebih rendah dibandingkan kayu tanpa perlakuan &#13;
steaming sebesar 335,27 kgf/cm² dengan penurunan sebesar 28,95%. Hasil &#13;
penelitian menunjukkan bahwa mesin steamer memenuhi spesifikasi desain dan &#13;
mampu menyediakan kondisi operasi yang diperlukan untuk proses steaming serta &#13;
menghasilkan penurunan kekerasan sebagai indikator terjadinya pelunakan kayu
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179966</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Eksoskeleton dalam Meredistribusi Beban Otot Pemanen Kelapa Sawit dengan Analisis Biomekanik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179921</link>
<description>Evaluasi Eksoskeleton dalam Meredistribusi Beban Otot Pemanen Kelapa Sawit dengan Analisis Biomekanik
FADLI, ABI KARAMI
Pemanenan kelapa sawit secara manual menggunakan egrek berpotensi menimbulkan gangguan otot rangka akibat kerja (GOTRAK), terutama pada area bahu, lengan, dan punggung. Tim peneliti BRIN dan IPB telah mengembangkan prototipe Upper Limb Exoskeleton (ULE) pasif sebagai alat bantu untuk mereduksi beban muskuloskeletal pemanen. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas ULE dalam mereduksi beban muskuloskeletal pada aktivitas pemotongan tandan buah segar kelapa sawit. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan biomekanik berbasis inverse dynamics dengan data gerak yang diperoleh dari Noitom Motion Capture System dan diolah melalui Axis Studio. Pemodelan muskuloskeletal dilakukan menggunakan perangkat lunak Biomechanics of Bodies (BoB) untuk memperoleh estimasi muscle force dan joint contact force (JCF). Analisis difokuskan pada otot deltoid, trapezius, bisep, dan lumbar, serta pada sendi bahu, siku, dan L5-pelvis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otot bisep merupakan otot dengan estimasi muscle force tertinggi, sedangkan sendi L5-pelvis menerima estimasi JCF terbesar selama aktivitas pemotongan. Penggunaan ULE menunjukkan perubahan pola pembebanan antara sisi kanan dan kiri tubuh, dengan penurunan muscle force terbesar terjadi pada deltoid kanan, disertai peningkatan pada deltoid kiri. Pola tersebut menunjukkan adanya kecenderungan redistribusi beban antara sisi kanan dan kiri tubuh. Secara keseluruhan, ULE menunjukkan potensi sebagai intervensi ergonomi dalam mengurangi beban muskuloskeletal pada pemanen kelapa sawit.; Manual oil palm harvesting using an egrek poses a high risk of work-related musculoskeletal disorders (MSDs), particularly affecting the shoulders, arms, and lower back. A research team from BRIN and IPB has developed a passive Upper Limb Exoskeleton (ULE) prototype to reduce the musculoskeletal load experienced by harvesters. This study aimed to evaluate the effectiveness of the ULE in reducing musculoskeletal loads during the fresh fruit bunch cutting task. Biomechanical analysis was performed using an inverse dynamics approach based on motion data acquired with the Noitom Motion Capture System and processed using Axis Studio. A musculoskeletal model was developed in Biomechanics of Bodies (BoB) software to estimate muscle force and joint contact force (JCF). The analysis focused on the deltoid, trapezius, biceps, and lumbar muscles, as well as the shoulder, elbow, and the L5-pelvis joints. The results showed that the biceps exhibited the highest estimated muscle force, while the L5-pelvis joint experienced the highest estimated JCF during the cutting task. The use of ULE resulted in changes in the loading pattern between the right and left sides of the body, with the greatest decrease in muscle force occuring in the right deltoid, accompanied by an increase in the left deltoid. This pattern indicates a tendency toward load redistribution between the right and left sides of the body. Overall, the ULE shows potential as an ergonomic intervention for reducing musculoskeletal loading among oil palm harvesters.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179921</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perancangan dan Pengujian Sistem Pengukuran Kinerja Pompa Air Sentrifugal Berbasis Mikrokontroler ESP32</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179914</link>
<description>Perancangan dan Pengujian Sistem Pengukuran Kinerja Pompa Air Sentrifugal Berbasis Mikrokontroler ESP32
YUSRI, NABIEL MAULANA
Pemantauan kinerja pompa irigasi penting untuk mengevaluasi kinerja operasional dan pengelolaan energi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pemantauan pompa air sentrifugal berbasis Mikrokontroler ESP32 untuk mengukur tekanan dorong, tekanan hisap, debit, torsi, dan kecepatan putar. Sistem diuji pada 18 kombinasi kecepatan putar pompa dan bukaan katup. Data kemudian dievaluasi melalui analisis stabilitas, validasi terhadap pengukuran manual, dan analisis efisiensi energi. Nilai rata-rata berada pada rentang 0,265–2,141 mH2O untuk head dorong; -0,224 hingga -0,520 mH2O untuk head hisap; 0,040–0,108 m³/menit untuk debit; 2,163–8,987 Nm untuk torsi; dan 1.825–3.075 RPM untuk kecepatan putar. Hasil pengukuran tekanan dorong, tekanan hisap, dan debit menghasilkan nilai coefficient of variation (CV) yang tinggi, masing-masing pada rentang 0,98–191,24%; 19,04–94,05%; dan 13,60–106,05%. Hasil validasi menunjukkan R2 berada pada rentang 0,9808–1,000. Nilai efisiensi berada pada rentang 0,931–1,939% dengan nilai tertinggi didapat pada kecepatan putar 1830 RPM. Nilai tersebut relatif sangat kecil untuk pompa sentrifugal dan mengindikasikan keterbatasan sistem pengujian dan kondisi pengujian. Pengembangan selanjutnya dapat diterapkan pada berbagai pompa dan kondisi operasi yang beragam. Sistem ini berpotensi mendukung pemantauan kinerja pompa irigasi secara terpadu; Monitoring irrigation pump performance is essential for evaluating operational performance and energy management. This study aimed to develop an automatic ESP32 Microcontroler-based monitoring system to measure discharge pressure, suction pressure, flow rate, torque, and rotational speed. The system was tested under 18 combinations of pump rotational speed and valve-opening conditions. Data were evaluated through stability analysis, validation against conventional measurements, and energy efficiency analysis. Mean values ranged from 0,265–2,141 mH2O for discharge head; -0,224 to -0,520 mH2O for suction head; 0,040–0,108 m³/min for flow rate; 2,163–8,987 Nm for torque; and 1,825–3,075 RPM for rotational speed. The coefficient of variation ranged from 0,98–191,21%, 19,04–94,05%, 13,60–106,05%, 1,98–17,27%, and 0,03–0,06% respectively Validation resulted in R² values ranged from 0,9808–1,000. Pump efficiency ranged in 0,931–1.939%, with the highest pump efficiency obtained at a rotational speed of 1830 RPM, which is very low for a centrifugal pump and indicates limitations in the experimental system and testing conditions. Further development should involve multiple pumps and diverse operating conditions. This system has potential for integrated irrigation pump performance monitoring
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179914</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
