<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Food Science and Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/102</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 05:53:53 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-08T05:53:53Z</dc:date>
<item>
<title>Penyusunan Rancangan Pedoman Validasi Proses Dry Mixing pada Produk Pangan Olahan Kebutuhan Gizi Khusus MPASI.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177529</link>
<description>Penyusunan Rancangan Pedoman Validasi Proses Dry Mixing pada Produk Pangan Olahan Kebutuhan Gizi Khusus MPASI.
NADIA, DYTHIA ASMA
Proses pencampuran merupakan tahap penting dalam produksi Pangan Olahan Keperluan Gizi Khusus (PKGK) berbentuk bubuk, salah satunya Makanan&#13;
Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Produk PKGK memiliki risiko tinggi sehingga memerlukan pengawasan ketat dan validasi proses untuk menjamin keseragaman&#13;
campuran dan konsistensi mutu produk. Namun, hingga saat ini belum tersedia pedoman yang secara khusus mengatur validasi proses mixing pada industri PKGK.&#13;
Penelitian ini bertujuan memperkaya kajian teknis proses dry mixing dan menyusun rancangan pedoman validasi proses mixing sebagai panduan bagi pelaku usaha.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, evaluasi laporan validasi mixing dari industri PKGK yang telah memiliki Izin Produksi Program Manajemen Risiko,&#13;
penyebaran kuesioner, dan penyusunan rancangan pedoman. Hasil evaluasi terhadap 11 laporan validasi menunjukkan tingkat kelengkapan laporan berkisar&#13;
antara 8–100%. Hasil kuesioner terhadap 29 industri (tingkat respon 74,4%) menunjukkan bahwa 79% industri menggunakan proses dry blend dan 69%&#13;
menggunakan convective mixer. Dari 29 industri, empat industri memproduksi MPASI dan seluruhnya merupakan industri skala besar. Koefisien variasi dan&#13;
Persamaan Horwitz merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk olah data hasil uji homogenitas, serta 79% responden menyatakan membutuhkan&#13;
pedoman resmi BPOM. Penelitian ini menghasilkan rancangan pedoman validasi proses mixing yang terdiri atas 10 bab, yaitu definisi, kompetensi operator mixer,&#13;
jenis mixer, pohon keputusan penentuan marker, penentuan pengambilan sampel, alat pengambilan sampel, pengaturan operasi pencampuran, metode analisis,&#13;
pengolahan data, dan tindak lanjut.; Mixing is a critical stage in the production of powdered Foods for Special Dietary Uses (FSDU), including Complementary Foods for Infants and Young&#13;
Children or MPASI. FSDU products are considered high-risk products that require strict quality control and process validation to ensure blend uniformity and&#13;
consistent product quality. However, no specific guideline is currently available for the validation of mixing processes in the FSDU industry. This study aimed to&#13;
strengthen the technical basis of dry mixing processes and develop a mixing process validation guideline for industry implementation. The study employed a literature&#13;
review, evaluation of mixing validation reports from FSDU manufacturers holding a Risk Management Program Production License, a questionnaire survey, and&#13;
guideline development. The evaluation of 11 validation reports showed that report completeness ranged from 8–100%. The questionnaire results from 29&#13;
manufacturers (74.4% response rate) indicated that 79% used dry blending and 69% used convective mixers. Among the respondents, four manufacturers produced&#13;
complementary infant foods, all of which were large-scale manufacturers. The coefficient of variation and the Horwitz equation were the most commonly used&#13;
methods for processing homogeneity test data, and 79% of respondents expressed the need for an official BPOM guideline. This study produced a mixing process&#13;
validation guideline consisting of ten chapters: definitions, mixer operator competency, mixer types, a marker selection decision tree, sampling determination,&#13;
sampling equipment, mixing operation control, analytical methods, data processing, and corrective actions.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177529</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Penambahan CuCl2 terhadap Karakteristik Fisikokimia Bubuk Pewarna Pangan Kombinasi Ekstrak Daun Suji dan Daun Pandan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177523</link>
<description>Pengaruh Penambahan CuCl2 terhadap Karakteristik Fisikokimia Bubuk Pewarna Pangan Kombinasi Ekstrak Daun Suji dan Daun Pandan
Sutrisno, Fara Attira
Klorofil merupakan pigmen alami yang berpotensi dikembangkan sebagai alternatif pewarna pangan, namun pemanfaatannya masih terkendala karena sifatnya yang mudah terdegradasi selama proses pengolahan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penambahan CuCl2 terhadap karakteristik fisikokimia bubuk pewarna dari kombinasi ekstrak daun suji dan daun pandan. Bubuk pewarna dihasilkan melalui proses pengeringan semprot dengan penambahan CuCl2 pada konsentrasi 0, 25, 50, dan 75 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan CuCl2 dapat meningkatkan retensi klorofil sebesar 67,16–87,76% dibandingkan dengan kontrol, sekaligus memperbaiki mutu bubuk pewarna dari segi warna, kelarutan, dan aktivitas antioksidan. Konsentrasi CuCl2 50 ppm memberikan hasil terbaik, dengan total klorofil sebesar 6,08 mg/g, aktivitas antioksidan sebesar 42,89 mg AAE/g, kadar air sebesar 5,30%, dan kelarutan sebesar 97,13%. Konsentrasi CuCl2 75 ppm menghasilkan intensitas warna hijau yang lebih pekat, tetapi disertai kadar tembaga yang lebih tinggi serta penurunan aktivitas antioksidan. Secara keseluruhan, penambahan CuCl2 sebesar 50 ppm mampu meningkatkan mutu fisikokimia bubuk pewarna dari kombinasi ekstrak daun suji-pandan, baik pada parameter warna, kelarutan, total klorofil, kadar tembaga, dan aktivitas antioksidan.; Chlorophyll is a natural pigment with potential as an alternative food  colorant; however, its application is still limited due to its susceptibility to  degradation during processing. This study aimed to examine the effect of CuCl2  addition on the physicochemical characteristics of coloring powder derived from a  combination of suji and pandan leaf extracts. The coloring powder was produced  through spray drying with the addition of CuCl2 at concentrations of 0, 25, 50, and  75 ppm. The results showed that the addition of CuCl2 increased chlorophyll  retention by 67.16–87.76% relative to the control and improved the powder's color,  solubility, and antioxidant activity. The addition of 50 ppm CuCl2 gave the best  results, with a total chlorophyll content of 6.08 mg/g, antioxidant activity of 42.89  mg AAE/g, moisture content of 5.30%, and solubility of 97.13%. The addition of  75 ppm CuCl2 resulted in a more intense green color but was associated with higher  copper content and decreased antioxidant activity. Overall, the addition of 50 ppm  CuCl2 improved the physicochemical quality of the coloring powder from the  combined suji-pandan extract in terms of color, solubility, total chlorophyll, copper  content, and antioxidant activity.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177523</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Variasi Jenis dan Konsentrasi dari Susu serta Pemanis terhadap Kapasitas Antioksidan dan Total Fenolik Minuman Kopi Instan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177492</link>
<description>Pengaruh Variasi Jenis dan Konsentrasi dari Susu serta Pemanis terhadap Kapasitas Antioksidan dan Total Fenolik Minuman Kopi Instan
NURHAYATI, IMAS
Konsumsi kopi instan di Indonesia terus meningkat, seiring disertai penambahan susu dan pemanis yang dapat memengaruhi kapasitas fungsionalnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi jenis serta konsentrasi susu dan pemanis terhadap kapasitas antioksidan dan total fenolik minuman kopi instan. Susu yang digunakan adalah low fat dan full cream pada konsentrasi rendah (20%) dan sedang (40%), sedangkan pemanis yang digunakan adalah gula aren dan sorbitol masing-masing pada konsentrasi rendah (7,5% dan 1,125%) dan sedang (10% dan 1,5%). Kapasitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH dan FRAP, sedangkan total fenolik diukur menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Hasil menunjukkan bahwa penambahan susu, menurunkan kapasitas antioksidan dan total fenolik kopi. Gula aren meningkatkan kapasitas antioksidan dan total fenolik seiring kenaikan konsentrasinya, sedangkan sorbitol tidak berpengaruh signifikan. Nilai tertinggi diperoleh pada penambahan gula aren 10%, dengan nilai DPPH (2,34 ± 0,03 mg AEAC/mL, FRAP (2,21 ± 0,05 mg TEAC/mL), dan total fenolik (1,54 ± 0,09 mg GAE/mL), sedangkan nilai terendah pada low fat 40% sebesar 0,77 ± 0,03 mg AEAC/mL (DPPH), 0,71 ± 0,03 mg TEAC/mL (FRAP), dan 0,69 ± 0,02 mg GAE/mL (total fenolik). Kombinasi susu full cream 20% dengan gula aren 10% direkomendasikan sebagai formulasi terbaik untuk mempertahankan kapasitas fungsional minuman kopi instan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177492</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Faktor Pembentukan Fouling pada Proses Sterilisasi Susu UHT Full Cream PT XYZ</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177354</link>
<description>Analisis Faktor Pembentukan Fouling pada Proses Sterilisasi Susu UHT Full Cream PT XYZ
RIYANTORO, AKHMAD ANDY
AKHMAD ANDY RIYANTORO. Analisis Faktor Pembentukan Fouling pada Proses Sterilisasi Susu UHT Full Cream PT XYZ. Dibimbing oleh PROF. DR. NUGRAHA EDHI SUYATMA, S.T.P., D.E.A. dan FERY NURDIN FERDIYAN, S.SI.&#13;
&#13;
Fouling pada unit sterilisasi Shell and Tube (S&amp;T) merupakan salah satu permasalahan dalam produksi susu UHT karena meningkatkan hambatan perpindahan panas yang ditandai oleh kenaikan nilai ?T serta meningkatkan frekuensi pelaksanaan Cleaning in Place (CIP). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan fouling pada proses sterilisasi susu UHT full cream di PT XYZ sebagai dasar penyusunan tindakan pengendalian sesuai kondisi operasional perusahaan. Penelitian menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA). Tahap Plan dilakukan melalui identifikasi faktor pembentukan fouling menggunakan diagram Ishikawa. Tahap Do meliputi analisis data operasional, pengujian kadar abu pada deposit fouling, simulasi efektivitas CIP skala laboratorium, serta pengujian laboratorium menggunakan fresh milk untuk menganalisis pengaruh suhu dan waktu pemanasan terhadap pembentukan agregat protein. Tahap Check dilakukan menggunakan scoring, diagram Pareto, dan why–why analysis, sedangkan tahap Act menghasilkan usulan tindakan pengendalian fouling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan ?T merupakan indikator operasional perkembangan fouling akibat akumulasi deposit pada permukaan heat exchanger. Hasil karakterisasi deposit menunjukkan kadar abu sebesar 79,95% yang mengindikasikan bahwa deposit didominasi oleh komponen mineral (fouling tipe B). Faktor prioritas yang berkontribusi terhadap pembentukan fouling meliputi karakteristik susu, penggunaan bahan tambahan, suhu dan waktu final mixing, serta tipe heat exchanger. Hasil karakterisasi deposit digunakan sebagai bukti pendukung untuk menjelaskan mekanisme pembentukan fouling, sedangkan rekomendasi pengendalian difokuskan pada pengendalian karakteristik bahan, formulasi produk, serta parameter proses sesuai dengan kondisi operasional PT XYZ.&#13;
&#13;
&#13;
Kata kunci: fouling, PDCA, Shell and Tube, sterilisasi UHT, susu UHT full cream; AKHMAD ANDY RIYANTORO. Analysis of Factors Contributing to Fouling Formation during the Sterilization Process of Full Cream UHT Milk at PT XYZ. Supervised by PROF. DR. NUGRAHA EDHI SUYATMA, S.T.P., D.E.A. and FERY NURDIN FERDIYAN, S.SI. &#13;
&#13;
Fouling in Shell and Tube (S&amp;T) sterilization units is one of the major challenges in UHT milk production because it increases heat transfer resistance, as indicated by an increase in the temperature difference (?T), and leads to more frequent Cleaning in Place (CIP) operations. This study aimed to analyze the factors contributing to fouling formation during the sterilization process of full cream UHT milk at PT XYZ as a basis for developing fouling control measures that are compatible with the company's operating conditions. The study employed the Plan–Do–Check–Act (PDCA) approach. The Plan stage involved identifying the factors contributing to fouling formation using the Ishikawa diagram. The Do stage included operational data analysis, ash content determination of fouling deposits, laboratory-scale simulation of CIP effectiveness, and laboratory experiments using fresh milk to evaluate the effects of heating temperature and holding time on protein aggregate formation. The Check stage employed scoring, Pareto analysis, and why–why analysis, while the Act stage generated proposed fouling control measures. The results showed that an increase in ?T serves as an operational indicator of fouling progression caused by deposit accumulation on the heat exchanger surface. Deposit characterization revealed an ash content of 79.95%, indicating that the deposits were predominantly composed of mineral components (Type B fouling). The priority factors contributing to fouling formation were milk characteristics, the use of additives, final mixing temperature and holding time, and the type of heat exchanger. Deposit characterization was used as supporting evidence to explain the fouling formation mechanism, while the proposed control measures focused on controlling raw material characteristics, product formulation, and process parameters in accordance with the operating conditions at PT XYZ.&#13;
&#13;
Keywords: fouling,  PDCA, Shell and Tube, UHT full cream milk, UHT sterilization
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177354</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
