<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Agroindustrial Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/101</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 07 Apr 2026 18:56:41 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-07T18:56:41Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Aerasi dan Agitasi pada Proses Produksi Enzim Inulinase Kasar dari Aspergillus niger</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172016</link>
<description>Pengaruh Aerasi dan Agitasi pada Proses Produksi Enzim Inulinase Kasar dari Aspergillus niger
Setiawan S, Alim
Enzim inulinase mcrupakan salah satu enzim yang dapat digunakan untuk&#13;
hidrolisis dalam proses produksi sirup fruktosa. Enzim ini memotong satuan&#13;
fruktosa dari inulin pada posisi terminal P-2, 1 polifruktosa. Hidrolisis enzimatis&#13;
pada inulin ini dapat terjadi oleh aksi tunggal exoinulinase (EC 3.2.2.80; P-Dfructan-&#13;
fructohydrolase) atau aksi bersama antara exoinulinase dengan&#13;
endoinulinasc (EC 3.2.1.7; 2,1 P-D-fructo-fructohydrolase) (Byun dan Nahm,&#13;
1978; Vandamme dan Derycke, 1983; Kim et al., 1997; Park et al., 1999).&#13;
Hidrolisis enzimatis terscbut membcrikan banyak kountungan seperti pemotongan&#13;
ikatan inulin yang spesifik, wama produk yang lebih baik, dan kccilnya&#13;
kcmungkinan tcrbcntuknya difruktosa anhidrid (Sulistyo, 1992). Meskipun&#13;
dcmikian, hidrolisis cnzimatis masih sedikit digunakan dalam industri sirup&#13;
fruktosa, mcngingat enzim inulinase masih harus di impor.&#13;
Aspergillus niger merupakan salah satu mikroorganisme pcnghasil cnzim&#13;
inulinase. Untuk produksi enzim inulinase ini, Aspergilbs niger dikultivasi pada&#13;
suhu 37°C selama 84 jam dalam fermentor Biostat-M 2 liter dengan volume kerja&#13;
1200 ml medium. Komposisi medium ini adalah substrat in:ilin 5% (w/v),&#13;
(NH4)2SO4 1.0% (w/v), larutan garam 5% (v/v), MgSO4 2.25 M 0.5 % (v/v), trace&#13;
element 0.1 % (v/v), dan suspensi kapang Aspergillus niger dalam 100 ml media&#13;
propagasi. Kandungan pada larutan garam adalah NaNO3, KCI, K2SO4, sedangkan&#13;
trace element mengandung ZnSO4, asam borat, Fe2(SO4)2, CoCfi, CuSO4,&#13;
ammonium molibdate, dan EDTA (disodium salt) dengan konsentrasi terlarutnya&#13;
masing-masing.&#13;
Dalan1 setiap proses kultivasi aerobik, aerasi dan agitasi merupakan faktor&#13;
yang sangat penting. Fungsi utamanya adalah untuk mensuplai kebutuhan oksigen&#13;
bagi aktifitas metabolik mikroorganisme, selain juga untuk mengaduk&#13;
mikroorganisme agar dapat tersuspensi secar.1 homogen dan merata (Gumbira&#13;
Sa'id, 1987). Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini adalah dengan&#13;
rnemvariasikan aerasi dan agitasi pada proses kultivasi. Faktor perlakuan untuk&#13;
agitasi adalah 400 rpm dan 600 rpm, sedangkan faktor perlakuan aerasi adalah 0.5&#13;
vvm, 1.0 vvm dan 1.5 vvm. Kedua faktor perlakuan tersebut kemudian&#13;
dikombinasikan, sehingga didapat 6 jenis perlakuan. Pada tiap perlakuan,&#13;
pengamtilan sampel dilakukan tiap 12 jam sekali untuk mengukur nilai pH, kadar&#13;
biomassa, serta nilai aktifitas enzimnya.&#13;
Pada analisis nilai aktifitas enzim, dapat diketahui bahwa kombinasi&#13;
perlakuan agitasi 600 rpm dan aerasi 1.0 vvm merupakan perlakuan yang relatif&#13;
lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Nilai aktifitas enzimnya pada jam ke-&#13;
84 adalah 6,85 U-enzim/ml. Hasil perhitungan rendemen produk terhadap kadar&#13;
biomassa (Y pix) dan laju pertumbuhan spesifik (μ), sebagai parameter utama&#13;
pcnelitian, juga membuktikan hal yang sama. Nilai Y p/x dan μ untuk perlakuan&#13;
terse but masing-masing adalah sebesar 1.0156 U-enzim mr1 /g biomassa dan&#13;
0,0114 jam·1&#13;
Sementara itu, pada hasil rancangan percobaan pada sclang&#13;
kcpercayaan 99% dan dilanjutkan dengan uji Duncan, menunjukkan bahwa&#13;
pcrlakuan aerasi sangat berpcngaruh terhadap jalannya proses ferrnentasi.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Jan 2005 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172016</guid>
<dc:date>2005-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Teknis Dan Teknologis Dalam Perancangan Agroindustri Berbasis Kaliks Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Di UGTechnopark</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171847</link>
<description>Analisis Teknis Dan Teknologis Dalam Perancangan Agroindustri Berbasis Kaliks Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Di UGTechnopark
Taqiyuddin, Muhammad Ihsa
Dominasi pewarna sintetis dalam industri pangan menimbulkan risiko&#13;
kesehatan sehingga diperlukan alternatif alami yang aman dan berkelanjutan.&#13;
Kaliks rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung antosianin yang berpotensi&#13;
sebagai pewarna alami sekaligus antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menganalisis aspek teknis dan teknologis perancangan agroindustri pewarna alami&#13;
pangan dengan penerapan flexible manufacturing di UG Technopark. Metode&#13;
meliputi ekstraksi bahan baku segar dan kering dengan variasi rasio pelarut, analisis&#13;
matriks keputusan, dan perancangan teknis mencakup kapasitas, fasilitas, konsumsi&#13;
energi, tata letak, dan harga pokok produksi. Hasil terbaik pada tahapan eksperimen&#13;
diperoleh dari kaliks kering dengan rasio pelarut 1:15 menghasilkan rendemen&#13;
45,80% bk dan kadar air 93,08%. Penerapan flexible manufacturing meningkatkan&#13;
efisiensi proses dan membuka peluang diversifikasi produk pertanian milik UG&#13;
Technopark. Penelitian ini menghasilkan perancangan dasar agroindustri pewarna&#13;
alami pangan berbasis kaliks rosella dalam bentuk konsentrat yang adaptif, efisien,&#13;
dan mendukung hilirisasi komoditas pertanian berkelanjutan.; The dominance of synthetic dyes in the food industry poses health risks,&#13;
necessitating safe and sustainable natural alternatives. Roselle (Hibiscus sabdariffa&#13;
L.) contains anthocyanins that have potential as natural dyes and antioxidants. This&#13;
study aims to analyze the technical and technological aspects of designing a natural&#13;
food dye agroindustry with the application of flexible manufacturing at UG&#13;
Technopark. The methods included the extraction of fresh and dried raw materials&#13;
with varying solvent ratios, decision matrix analysis, and technical design covering&#13;
capacity, facilities, energy consumption, layout, and cost of production. The best&#13;
results in the experimental stage were obtained from dried calyxes with a solvent&#13;
ratio of 1:15, yielding 45.80% db, and a moisture content of 93.08%. The&#13;
application of flexible manufacturing improves process efficiency and opens up&#13;
opportunities for diversifying UG Technopark's agricultural products. This research&#13;
produced a basic design for a natural food coloring agroindustry based on rosella&#13;
calyx in the form of a concentrate that is adaptive, efficient, and supports the&#13;
downstreaming of sustainable agricultural commodities.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171847</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengembangan Produk Snack Bite Dengan Bahan Dasar Biji Rosella di UG Technopark</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171823</link>
<description>Pengembangan Produk Snack Bite Dengan Bahan Dasar Biji Rosella di UG Technopark
Kacaribu, Andrew Raphael
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat serta belum optimalnya pemanfaatan biji rosella sebagai hasil samping produksi rosella di UG Technopark menjadi latar belakang pengembangan produk snack bite berbasis biji rosella sebagai alternatif diversifikasi pangan bernilai tambah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi snack bite berbasis biji rosella, menentukan formulasi terbaik melalui uji hedonik, serta menganalisis kandungan gizinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji rosella memiliki potensi tinggi sebagai bahan pangan fungsional dengan kandungan protein 32,48%, serat 30,07%, dan energi 321,1 kkal/100 g. Uji hedonik menghasilkan formulasi terbaik pada formulasi keempat yang mengkombinasikan biji rosella, biji bunga matahari, biji labu, rice crispy, virgin coconut oil, dan gula merah. Analisis gizi terhadap formulasi terbaik menunjukkan kandungan lemak 8,73 g/100 g, protein 8,37 g/100 g, karbohidrat 57,14 g/100 g, gula 51,43 g/100 g, dan energi 317,77 kkal/100 g. Hasil penelitian ini adalah pembuktian bahwa biji rosella yang sebelumnya dianggap limbah dapat dijadikan bahan dasar camilan fungsional dengan karakteristik sensori yang dapat diterima dan profil gizi kompetitif.; Increasing public awareness of healthy food and the underutilization of roselle seeds as a by-product of roselle processing at UG Technopark form the basis for developing a roselle seed–based snack bite as a value-added food diversification alternative. This study aims to develop a formulation for roselle seed based snack bites, determine the best formulation through hedonic testing, and analyze their nutritional content. The results show that roselle seeds have strong potential as a functional food ingredient, containing 32.48% protein, 30.07% fiber, and 321.1 kcal/100 g of energy. The hedonic test identified the fourth formulation combining roselle seeds, sunflower seeds, pumpkin seeds, rice crispy, virgin coconut oil, and palm sugar as the most preferred by panelists. Nutritional analysis of this formulation revealed fat content of 8.73 g/100 g, protein 8.37 g/100 g, carbohydrates 57.14 g/100 g, sugar 51.43 g/100 g, and energy 317.77 kcal/100 g. A key finding of this study is the demonstration that roselle seeds, previously considered waste, can be utilized as a functional snack ingredient with acceptable sensory characteristics and competitive nutritional profile.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171823</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Desain Proses Produksi Ekstrak Kaliks Rosella di UG Technopark</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171744</link>
<description>Desain Proses Produksi Ekstrak Kaliks Rosella di UG Technopark
Maulana, Aksan
Universitas Gunadarma Technopark (UG Technopark) adalah kawasan terpadu yang mengembangkan teknologi, manajemen, pendidikan, dan bisnis, dengan fokus pada Agroecoedutourism, termasuk Agrotechnopark. Agrotechnopark berfokus pada pengembangan pertanian berbasis teknologi, seperti pasca panen, peternakan, dan perikanan. Salah satu tanaman yang dibudidayakan adalah rosella, yang kaya antioksidan, antosianin, dan asam organik, sehingga berpotensi besar di industri. Namun untuk saat ini, produk berbasis rosella yang telah dikembangkan oleh UGTP terdiri dari produk selai rosella dan teh celup rosella. Padahal, kaliks rosella (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan salah satu sumber potensial senyawa bioaktif, terutama antosianin dan fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan sekaligus pewarna alami. Sehingga. diperlukan pengembangan produk baru demi memperbanyak lini produk yang dimiliki UG Technopark.&#13;
&#13;
Pengembangan produk ini bertujuan untuk mendukung diversifikasi produk dan hilirisasi hasil panen rosella, sekaligus menawarkan alternatif pewarna alami yang lebih aman dibandingkan pewarna sintetis. Metodologi yang digunakan mencakup pendekatan desain keteknikan sistematis, mulai dari eksplorasi masalah, pendefinisian kebutuhan, pengembangan ide, pembuatan prototipe, hingga validasi. Metode ekstraksi yang terpilih untuk digunakan adalah cair-padat berbantu suhu 52,50 ± 2,50oC dan pengadukan 200 rpm menggunakan pelarut aquades. &#13;
&#13;
Hasil analisa menunjukkan bahwa perlakuan terbaik untuk rendemen ekstrak diperoleh dari penggunaan kaliks kering dengan rasio pelarut 1:15, yang menghasilkan rendemen ekstrak mencapai 56,64 ± 2,63% dengan kadar air 76,39 ± 2,17% pada skala laboratorium. Namun, analisis kualitas bioaktif mengungkapkan bahwa kaliks segar dengan rasio yang sama menghasilkan kadar total fenolik tertinggi, yaitu 74,20 ± 0,41 mg GAE/g, dan kadar antosianin total sebesar 11,18 ± 0,01 mg/L. Uji stabilitas pigment terhadap suhu tinggi menunjukkan bahwa ekstrak dari kaliks segar dengan rasio 1:15 memiliki stabilitas terbaik, dengan persentase degradasi warna terendah pada suhu 80°C (24,29 ± 0,80%) dan 120°C (29,10 ±1,40%). &#13;
&#13;
Penentuan konfigurasi proses optimal dilakukan melalui analisis matriks keputusan berbobot dengan mempertimbangkan parameter rendemen, kadar air, kadar antosianin, dan stabilitas warna. Berdasarkan bobot yang disesuaikan dengan mitra, kaliks kering dengan rasio pelarut 1:15 terpilih sebagai alternatif terbaik dengan skor 0,899. Optimasi proses lebih lanjut melalui penambahan pendingin balik berhasil menekan loss massa selama ekstraksi dari 6,10% menjadi 0,77%. Validasi proses melalui penggandaan skala dari 50 gram menjadi 500 gram membuktikan konsistensi hasil tanpa perbedaan signifikan, yang mengindikasikan skalabilitas rancangan proses yang baik.; UG Technopark is an integrated complex dedicated to developing technology, management, education, and business, with a focus on Agroecoedutourism, including an Agrotechnopark. The Agrotechnopark concentrates on technology-based agricultural development, such as post-harvest handling, livestock, and fisheries. One of the cultivated plants is roselle, which is rich in antioxidants, anthocyanins, and organic acids, giving it significant potential for various industries. Currently, the roselle-based products developed by UGTP are limited to roselle jam and roselle tea bags. However, the roselle calyx (Hibiscus sabdariffa L.) is a potential source of bioactive compounds, especially anthocyanins and phenolics, which function as antioxidants and natural colorants. Therefore, new product development is necessary to diversify UG Technopark's product lines.&#13;
&#13;
This product development aims to support the diversification of roselle-based products and the downstream processing of the harvest, while also offering a safer alternative to synthetic dyes. The methodology employed a systematic engineering design approach, encompassing problem exploration, requirement definition, idea development, prototype creation, and validation. The selected extraction method was temperature- and agitation-assisted solid-liquid extraction using aquades as the solvent.&#13;
&#13;
Analysis results indicated that the optimal treatment for extract yield was obtained using dried calyces with a 1:15 solvent ratio, yielding 56,64 ± 2,63% with a moisture content of 76,39 ± 2,17% at the laboratory scale. However, bioactive quality analysis revealed that fresh calyces with the same ratio produced the highest total phenolic content, 74,20 ± 0,41 mg GAE/g, and total anthocyanin content, 11,18 ± 0,01 mg/L. Pigment stability tests under high temperatures showed that the extract from fresh calyces with a 1:15 ratio had the best stability, with the lowest color degradation percentages at 80°C (24,29 ± 0,80%) and 120°C (29,10 ±1,40%). &#13;
&#13;
The determination of the optimal process configuration was conducted using a weighted decision matrix analysis, considering yield, moisture content, anthocyanin content, and color stability parameters. Based on weights assigned by the partner, where yield was given the highest priority (50%), dried calyces with a 1:15 solvent ratio were selected as the best alternative with a score of 0.899. Further process optimization using a reflux condenser successfully reduced mass loss during extraction from 6.10% to 0.77%. Process validation through scale-up from 50 grams to 500 grams demonstrated consistent results without significant differences, indicating good process scalability.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171744</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
