<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/97">
<title>UF - Resources and Environmental Economic</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/97</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179872"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179848"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179818"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179797"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-18T22:59:15Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179872">
<title>Pengaruh Urbanisasi dan Konsumsi Energi Listrik terhadap Emisi CO2 di Pulau Jawa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179872</link>
<description>Pengaruh Urbanisasi dan Konsumsi Energi Listrik terhadap Emisi CO2 di Pulau Jawa
Setyawan, Nurzika Viola
Indonesia berkomitmen terhadap mitigasi perubahan iklim melalui Second Nationally Determined Contribution (SNDC) 2025 dengan menargetkan total emisi hingga tahun 2035. Pulau Jawa sebagai pusat pembangunan nasional dengan perkembangan aktivitas sosial dan ekonomi yang lebih maju, turut memberikan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), khususnya emisi CO2. Hal ini dipengaruhi oleh pesatnya urbanisasi yang mendorong peningkatan permintaan energi listrik dan perkembangan sektor industri. Akibatnya, faktor-faktor tersebut memperkuat dinamika pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis pengaruh antara urbanisasi, konsumsi energi listrik, pertumbuhan ekonomi, dan industrialisasi terhadap emisi CO2 di Pulau Jawa; (2) menganalisis hubungan jangka panjang dan jangka pendek antara urbanisasi, konsumsi energi listrik, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan emisi CO2 di Pulau Jawa; (3) menguji hipotesis Environmental Kuznets Curve (EKC) pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan emisi CO2 di Pulau Jawa. Metode yang digunakan adalah regresi data panel dan Panel Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dengan periode pengamatan 2010-2024. Hasil penelitian model Fixed Effect Model (FEM) menunjukkan bahwa konsumsi energi listrik dan industrialisasi berpengaruh positif signifikan, sedangkan urbanisasi berpengaruh negatif dan signifikan. Sementara itu, PDRB per kapita berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap emisi CO2. Estimasi Panel ARDL menunjukkan adanya hubungan keseimbangan jangka panjang yang ditandai dengan Error Correction Term (ECT) bernilai negatif dan signifikan sebesar -0,311220. Pengujian hipotesis EKC menemukan pola hubungan berbentuk U, sehingga hipotesis tersebut tidak terbukti pada lima provinsi di Pulau Jawa.; Indonesia is committed to mitigating climate change through  The Second Nationally Determined Contribution (SNDC) 2025 by targeting total emissions by 2035. Java Island as a center of national development with the development of more advanced social and economic activities, also contributes greatly to greenhouse gas (GHG) emissions, especially CO2 emissions. This is influenced by rapid urbanization which encourages an increase in demand for electrical energy and the development of the industrial sector. As a result, these factors strengthen the dynamics of economic growth. This study aims to (1) analyze the influence between urbanization, electricity consumption, economic growth, and industrialization on CO2 emissions in Java; (2) analyze the long-term and short-term relationships between urbanization, electricity consumption, economic growth, industrialization, and CO2 emissions on the island of Java; (3) testing the hypothesis of the Environmental Kuznets Curve (EKC) on Gross Regional Domestic Product (GDP) and CO2 emissions in Java. The method used was panel data regression and Panel Autoregressive Distributed Lag (ARDL) with an observation period of 2010-2024. The results of The Fixed Effect Model (FEM) model study show that electrical energy consumption and industrialization have a significant positive effect, while urbanization has a negative and significant effect. Meanwhile, GDP per capita has a negative and insignificant effect on CO2 emissions. The ARDL Panel's estimate shows a long-term equilibrium relationship characterized by a negative and significant Error Correction Term (ECT) of -0,311220. The EKC hypothesis test found a U-shaped relationship pattern, so the hypothesis was not proven in five provinces on the island of Java.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179848">
<title>Evaluasi Program Pembayaran Jasa Lingkungan di Sub DAS Pusur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179848</link>
<description>Evaluasi Program Pembayaran Jasa Lingkungan di Sub DAS Pusur
Wafa, Muhammad Azmi
Program Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) merupakan instrumen ekonomi lingkungan yang memberikan insentif kepada penyedia jasa lingkungan untuk mendorong kegiatan konservasi. Program PJL di Sub DAS Pusur mulai diimplementasikan pada 31 Juli 2024, sehingga diperlukan evaluasi terhadap mekanisme pelaksanaan, desain skema, implementasi, dan pendapatan usahatani petani mitra. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme pelaksanaan Program PJL serta mengevaluasi program berdasarkan aspek desain skema, implementasi dan ekonomi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, FGD, dokumen PJL Sub DAS Pusur, dan kuesioner terhadap 30 petani peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program PJL menerapkan mekanisme indirect payment melalui Pusur Institute dengan penilaian jasa lingkungan menggunakan instrumen Inventarisasi Sumber Daya Lahan (ISDL). Evaluasi menunjukkan enam dari delapan kriteria desain skema telah terpenuhi, sedangkan implementasi program masih terkendala realisasi pembayaran dan tata kelola dana. Belum adanya pedoman distribusi insentif menyebabkan variasi dalam penggunaan insentif. Insentif yang diterima langsung memberikan kontribusi sebesar 8,62-11,13 % terhadap pendapatan usahatani, sedangkan pada kelompok lain dana dikelola secara kolektif. Hasil penelitian mengindikasikan perlunya penguatan mekanisme pembayaran, tata kelola kelembagaan, dan sumber pendanaan untuk meningkatkan efektivitas serta keberlanjutan Program PJL; The Payment for Environmental Services (PES) program is an environmental economic instrument that offers financial incentives to environmental service providers to promote conservation activities. This study aims to analyze the implementation mechanism of the PES program in the Sub DAS Pusur and evaluate its scheme design, execution, and economic. A descriptive research approach was employed, utilizing data gathered through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), Pusur Sub-watershed PES document, and questionnaires administered to 30 participating farmers. The results indicate that the program operates via an indirect payment mechanism facilitated by the Pusur Institute, with environmental service assessments conducted using the Land Resource Inventory instrument. The evaluation reveals that six out of eight scheme design criteria were met, whereas program execution remains constrained by delays in payment realization and weak fund governance. Furthermore, the lack of standardized incentive distribution guidelines has resulted in inconsistent utilization across recipient groups. Directly received incentives contributed 8.62%-11.13% to farming income, while other groups managed their allocated funds collectively. These findings highlight the critical need to strengthen payment mechanisms, institutional governance, and funding sources to enhance the overall effectiveness and long-term sustainability of the PES program.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179818">
<title>Struktur Pasar dan Daya Saing Ekspor Kapulaga Indonesia ke Kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179818</link>
<description>Struktur Pasar dan Daya Saing Ekspor Kapulaga Indonesia ke Kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur
Weldy, Faris
Kapulaga merupakan komoditas ekspor biofarmaka andalan Indonesia. Akan tetapi, kinerjanya di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur berfluktuasi akibat ketatnya persaingan dan tingginya konsentrasi pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur pasar dan daya saing serta menentukan pengembangan pasar ekspor kapulaga Indonesia ke kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Penelitian ini menggunakan metode Herfindahl-Hirschman Index (HHI), Concentration Ratio (CR4), Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), Export Product Dynamic (EPD), dan X-Model Potential Export Products dengan data pada periode 2014–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar kapulaga di Asia Tenggara dan Asia Timur berbentuk oligopoli dengan sedikit anggota dan tingkat konsentrasi pasar yang tinggi. Kapulaga Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang jauh lebih kuat di pasar Asia Timur dibandingkan dengan Asia Tenggara. Berdasarkan klasterisasi X-Model Potential Export Products, pasar Asia Timur direkomendasikan untuk menjadi fokus kawasan tujuan utama bagi pengembangan ekspor kapulaga Indonesia pada saat ini.; Cardamom is Indonesia's leading biopharmaceutical export commodity. However, its performance in the Southeast Asian and East Asian regions fluctuates due to intense competition and high market concentration. This study aims to analyze the market structure and competitiveness, as well as to determine the market development of Indonesian cardamom exports to the Southeast Asian and East Asian regions. This research uses the Herfindahl-Hirschman Index (HHI), Concentration Ratio (CR4), Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), Export Product Dynamic (EPD), and X-Model Potential Export Products methods, utilizing data from the 2014–2025 period. The results indicate that the cardamom market structure in Southeast Asia and East Asia is an oligopoly with few members and a high level of market concentration. Indonesian cardamom has a significantly stronger comparative and competitive advantage in the East Asian market compared to Southeast Asia. Based on the X-Model Potential Export Products clustering, the East Asian market is recommended as the primary target region focus for the development of Indonesian cardamom exports at present.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179797">
<title>Efisiensi Teknis Usahatani Padi pada Daerah Irigasi Rehabilitasi dan Non-rehabilitasi (Studi Kasus: Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179797</link>
<description>Efisiensi Teknis Usahatani Padi pada Daerah Irigasi Rehabilitasi dan Non-rehabilitasi (Studi Kasus: Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang)
Rusliningtyas, Lintang
Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi yang didukung oleh jaringan irigasi Daerah Irigasi Jatiluhur. Meskipun berada dalam satu daerah irigasi yang sama, sebagian jaringan telah menjalani rehabilitasi sementara sebagian lainnya belum, sehingga kondisi fisik dan kinerja layanan irigasi yang diterima petani antarwilayah tidak seragam. Kesenjangan ini diduga berdampak pada perbedaan penggunaan input, biaya produksi, pendapatan, hingga efisiensi teknis usahatani padi antara petani pada daerah irigasi hasil rehabilitasi dan non-rehabilitasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi petani terhadap kondisi dan kinerja irigasi, pendapatan usahatani, efisiensi teknis usahatani padi pada daerah irigasi hasil rehabilitasi dan non-rehabilitasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, yakni analisis deskriptif dengan skala Likert, analisis pendapatan dan r/c ratio, analisis efisiensi teknis dengan stochastic frontier, dan uji beda. Hasil penelitian menunjukan petani pada daerah irigasi rehabilitasi memiliki persepsi yang lebih baik terhadap kondisi fisik, distribusi, pemanfaatan, dan ketersediaan air dibandingkan petani pada daerah irigasi non-rehabilitasi. Usahatani padi pada daerah irigasi rehabilitasi memberikan pendapatan dan nilai r/c ratio yang lebih tinggi dibandingkan daerah irigasi non-rehabilitasi. Usahatani padi pada daerah irigasi rehabilitasi memiliki tingkat efisiensi teknis yang lebih tinggi dibandingkan daerah irigasi non-rehabilitasi.; Purwasari Subdistrict, Karawang Regency is one of the rice production centers supported by the Jatiluhur Irrigation Area network. Although situated within the same irrigation area, part of the network has undergone rehabilitation while another part has not, resulting in uneven physical conditions and service performance of irrigation received by farmers across regions. This disparity is presumed to affect differences in input use, production costs, income, and technical efficiency of rice farming between farmers in rehabilitated and non-rehabilitated irrigation areas. This study aims to analyze farmers' perceptions of irrigation conditions and performance, farm income, and technical efficiency of rice farming in rehabilitated and non-rehabilitated irrigation areas. The research employed a quantitative approach, comprising descriptive analysis using a Likert scale, income and r/c ratio analysis, technical efficiency analysis using stochastic frontier analysis, and difference tests. The results showed that farmers in rehabilitated irrigation areas held more favorable perceptions of physical conditions, distribution, utilization, and water availability compared to farmers in non-rehabilitated irrigation areas. Rice farming in rehabilitated irrigation areas generated higher income and r/c ratio values than in non-rehabilitated irrigation areas. Rice farming in rehabilitated irrigation areas also exhibited a higher level of technical efficiency than in non-rehabilitated irrigation areas.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
