<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95">
<title>UF - Nutrition Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177785"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177782"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177660"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177534"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-08T00:47:49Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177785">
<title>Hubungan Food Skill dan Cooking Skill dengan Kualitas Diet pada Siswa Sekolah Menengah Atas Kota Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177785</link>
<description>Hubungan Food Skill dan Cooking Skill dengan Kualitas Diet pada Siswa Sekolah Menengah Atas Kota Bogor
INDRAWAN, MUHAMMAD FADHIL
Permasalahan gizi pada remaja masih menjadi perhatian karena meningkatnya prevalensi gizi lebih dan obesitas akibat perubahan pola konsumsi pangan. Pada masa remaja, individu mulai memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan makanan sehingga food skill dan cooking skill berperan penting dalam mendukung perilaku makan sehat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan food skill dan cooking skill dengan kualitas diet pada siswa SMA di Kota Bogor. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik cluster random sampling pada 126 siswa SMA Negeri di Kota Bogor. Data food skill dan cooking skill diperoleh menggunakan kuesioner hasil adaptasi penelitian sebelumnya, sedangkan kualitas diet diukur menggunakan Healthy Eating Index (HEI)-2015 berdasarkan food recall 2×24 jam. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank Correlation dan Chi-square (p&lt;0,05). Sebagian besar subjek memiliki food skill kategori sedang (65%) dengan rata-rata skor 3,49±0,53 dan cooking skill kategori sedang (66%) dengan rata-rata skor 3,34±0,64. Rata-rata skor HEI-2015 sebesar 55,92±8,97 dengan mayoritas subjek berada pada kategori perlu perbaikan (74%). Food skill berhubungan positif dengan cooking skill (r=0,575; p&lt;0,001). Selain itu, food skill (r=0,255; p=0,004) dan cooking skill (r=0,232; p=0,009) berhubungan positif dengan kualitas diet. Remaja dengan food skill dan cooking skill yang lebih baik cenderung memiliki kualitas diet yang lebih baik.; Nutritional problems among adolescents remain a public health concern due to the increasing prevalence of overweight and obesity associated with changes in dietary patterns. As adolescents become more independent in making food choices, food skills and cooking skills play an important role in supporting diet quality. This study aimed to analyze the relationship between food skills, cooking skills, and diet quality among high school students in Bogor City. A cross-sectional study with cluster random sampling was conducted among 126 public high school students. Food skills and cooking skills were assessed using am adapted questionnaire from previous study, while diet quality was measured using the Healthy Eating Index (HEI)-2015 based on two 24-hour dietary recalls. Data were analyzed using Spearman Rank Correlation and Chi-square tests (p&lt;0.05). Most subjects had moderate food skills (65%; mean 3.49±0.53) and moderate cooking skills (66%; mean 3.34±0.64). The mean HEI-2015 score was 55.92±8.97, with 74% of subjects classified as “needs improvement.” Food skills were positively associated with cooking skills (r=0.575; p&lt;0.001). In addition, food skills (r=0.255; p=0.004) and cooking skills (r=0.232; p=0.009) were positively associated with diet quality. Adolescents with better food skills and cooking skills tended to have better diet quality.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177782">
<title>Hubungan Kebiasaan Makan, Aktivitas Fisik, dan Lemak Tubuh dengan Kadar Kreatinin Pasien Penyakit Ginjal Kronis di RS Islam Jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177782</link>
<description>Hubungan Kebiasaan Makan, Aktivitas Fisik, dan Lemak Tubuh dengan Kadar Kreatinin Pasien Penyakit Ginjal Kronis di RS Islam Jakarta
ARLIAZZAHRA, SAFA
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyakit progresif yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara irreversible. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan persentase lemak tubuh dengan kadar serum kreatinin pasien PGK di RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Penelitian menggunakan desain cross-sectional terhadap 51 pasien PGK yang dipilih secara purposive. Data kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan persentase lemak tubuh diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), International Physical Activity Questionnaire Short Form (IPAQ-SF), dan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), sedangkan data serum kreatinin diperoleh dari rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman (p&lt;0,05). Sebagian besar subjek berjenis kelamin perempuan, berusia dewasa, hanya memiliki riwayat hipertensi, serta berada pada stadium 5 PGK. Sebagian besar subjek memiliki IMT normal, tingkat kecukupan protein dan lemak berlebih, tingkat kecukupan karbohidrat defisit berat, aktivitas fisik ringan, dan persentase lemak tubuh normal. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan energi, protein, lemak, karbohidrat, maupun persentase lemak tubuh dengan kadar serum kreatinin (p&gt;0,05). Namun, aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan kadar serum kreatinin (p=0,046; r=-0,281). Disimpulkan bahwa hanya aktivitas fisik yang berhubungan dengan kadar serum kreatinin.; Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive disease characterized by an irreversible decline in kidney function. This study aimed to analyze the association between eating habits, physical activity, body fat percentage, and serum creatinine levels among patients with CKD at Jakarta Islamic Hospital Cempaka Putih. A cross-sectional study was conducted involving 51 CKD patients selected using purposive sampling. Data on eating habits, physical activity, and body fat percentage were collected using the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), the International Physical Activity Questionnaire Short Form (IPAQ-SF), and Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), while serum creatinine data were obtained from patients' medical records. Data were analyzed using Spearman's correlation test (p&lt;0.05). Most participants were female, adults, had hypertension only as a comorbidity, and were in Stage 5 CKD. Most participants had a normal BMI, excessive protein and fat adequacy, severely deficient carbohydrate adequacy, low physical activity, and normal body fat percentage. No significant associations were found between energy, protein, fat, carbohydrate adequacy, or body fat percentage and serum creatinine levels (p&gt;0.05). However, physical activity was significantly associated with serum creatinine levels (p=0.046; r=-0.281). In conclusion, only physical activity was significantly associated with serum creatinine levels.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177660">
<title>Hubungan Kebiasaan Mendengarkan Musik, Stres Akademik, dan Emotional Eating dengan Asupan Mahasiswa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177660</link>
<description>Hubungan Kebiasaan Mendengarkan Musik, Stres Akademik, dan Emotional Eating dengan Asupan Mahasiswa
Sagala, Nadya Haprima Indah Br
Mahasiswa tahun pertama rentan mengalami stres akademik yang memicu emotional eating dan memengaruhi asupan. Musik menjadi salah satu strategi koping nonfarmakologis untuk menurunkan stres. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan mendengarkan musik, stres akademik, dan emotional eating dengan asupan mahasiswa tahun pertama IPB University. Penelitian dilakukan secara cross-sectional pada 85 mahasiswa yang dipilih secara random sampling. Data dikumpulkan melalui Music Preference Questionnaire, Perception of Academic Stress Scale, Dutch Eating Behaviour Questionnaire-Emotional, dan food recall 2×24 jam. Hasil analisis menunjukkan jenis kelamin berhubungan signifikan dengan stres akademik (p=0,007), serta uang saku berhubungan negatif signifikan dengan asupan energi (p=0,049), sedangkan durasi mendengarkan musik, stres akademik, dan emotional eating tidak berhubungan signifikan satu sama lain maupun dengan asupan zat gizi. Temuan ini menunjukkan bahwa stres akademik pada mahasiswa tahun pertama lebih dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin dibandingkan kebiasaan mendengarkan musik, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami hubungan antara musik, stres, dan pola makan mahasiswa.; First-year college students are prone to academic stress, which can trigger emotional eating and affect their food intake. Music is one non-pharmacological coping strategy for reducing stress. This study aims to analyze the relationship between music listening habits, academic stress, and emotional eating with the dietary intake of first-year students at IPB University. The study was conducted as a cross-sectional study involving 85 students selected via random sampling. Data were collected using the Music Preference Questionnaire, the Perception of Academic Stress Scale, the Dutch Eating Behavior Questionnaire-Emotional, and a 2×24-hour food recall. The results showed that gender was significantly associated with academic stress (p=0.007), and that pocket money was significantly and negatively associated with energy intake (p=0.049), while the duration of music listening, academic stress, and emotional eating were not significantly associated with one another or with nutrient intake. These findings indicate that academic stress among first-year students is more influenced by gender than by music listening habits, highlighting the need for a more comprehensive approach to understanding the relationship between music, stress, and students' dietary patterns.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177534">
<title>Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik, Stres, dan Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Kejadian Dismenorea Primer pada Mahasiswi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177534</link>
<description>Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik, Stres, dan Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Kejadian Dismenorea Primer pada Mahasiswi
SABRILLA, TALITHA NASYWA
Dismenorea primer merupakan keluhan ginekologis yang paling sering dialami mahasiswi dan dapat mengganggu produktivitas akademik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat aktivitas fisik, stres, konsumsi makanan cepat saji (fast food), dan persentase lemak tubuh dengan derajat keparahan dismenorea primer, serta membandingkannya antara mahasiswi program studi kesehatan dan non-kesehatan. Penelitian ini menggunakan comparative study dengan desain cross-sectional yang melibatkan 120 mahasiswi IPB University berusia 19–24 tahun, dipilih melalui purposive sampling. Aktivitas fisik diukur dengan IPAQ, stres dengan DASS-21, konsumsi fast food dengan Food Frequency Questionnaire, persentase lemak tubuh dengan bioelectrical impedance analysis, dan derajat keparahan dismenorea dengan WaLIDD Score. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney, Chi-Square, Rank Spearman, dan regresi logistik ordinal. Derajat keparahan dismenorea (p=0,026) dan tingkat stres (p=0,012) berbeda signifikan antar kelompok. Tingkat stres (r=0,224), konsumsi gula (r=0,211), garam (r=0,202), lemak (r=0,187), serta persentase lemak tubuh (r=0,209) berhubungan positif signifikan dengan kekuatan lemah, sedangkan aktivitas fisik tidak (p=0,433). Analisis multivariat menunjukkan tingkat stres sebagai faktor paling dominan (OR=1,078; p=0,011). Kesimpulannya, stres, fast food, dan persentase lemak tubuh berkaitan dengan dismenorea primer, dengan stres sebagai faktor paling dominan, menegaskan bahwa dismenorea bersifat multifaktorial.; Primary dysmenorrhea is the most common gynecological complaint among female students and may interfere with academic productivity. This study aimed to analyze the relationship between physical activity level, stress, fast food consumption, and body fat percentage with the severity of primary dysmenorrhea, and to compare it between health and non-health students. This study used a comparative study with a cross-sectional design involving 120 female students of IPB University aged 19–24 years, selected through purposive sampling. Physical activity was measured using IPAQ, stress using DASS-21, fast food consumption using the Food Frequency Questionnaire, body fat percentage using bioelectrical impedance analysis, and dysmenorrhea severity using the WaLIDD Score. Data were analyzed using Mann-Whitney, Chi-Square, Spearman rank correlation, and&#13;
ordinal logistic regression. The severity of dysmenorrhea (p=0.026) and stress level (p=0.012) differed significantly between groups. Stress (r=0.224), sugar (r=0.211), salt (r=0.202), fat consumption (r=0.187), and body fat percentage (r=0.209) had significant positive correlations of weak strength, whereas physical activity did not (p=0.433). Multivariate analysis showed stress as the most dominant factor (OR=1.078; p=0.011). In conclusion, stress, fast food, and body fat percentage were associated with primary dysmenorrhea, with stress as the most dominant factor, confirming its multifactorial nature
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
