<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92">
<title>DT - Veterinary Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172164"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172153"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172067"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171466"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-20T22:11:31Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172164">
<title>Identifikasi dan Karakterisasi Variasi Genetik Virus African Swine Fever yang Bersirkulasi di Indonesia Tahun 2021-2023</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172164</link>
<description>Identifikasi dan Karakterisasi Variasi Genetik Virus African Swine Fever yang Bersirkulasi di Indonesia Tahun 2021-2023
Ratnawati, Atik
African swine fever (ASF) merupakan penyakit hemoragik virus yang menyerang babi domestik dan babi liar. ASF  muncul di Indonesia sejak tahun 2019. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menentukan genotipe virus ASF yang beredar di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa virus ASF penyebab wabah di Indonesia termasuk dalam genotipe II, genotipe yang paling dominan di Indonesia. Namun, studi literatur memberikan informasi terbatas tentang sifat molekuler dan epidemiologi virus ini. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang karakterisasi in vitro dan genetik serta variasi strain virus ASF yang bersirkulasi di Indonesia. Penyakit ASF disebabkan oleh virus DNA beruntai ganda berukuran antara 170 sampai dengan 190 kb termasuk ke dalam famili Asfarviridae dan genus Asfivirus. Penularan virus ASF ke babi domestik yang sehat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau cairan tubuh dan bangkai hewan yang terinfeksi, atau melalui kontak tidak langsung dengan material yang terkontaminasi atau melalui konsumsi produk yang terkontaminasi, termasuk swill feeding. Karakteristik genetik yang stabil dari genotipe II memberikan dasar penting untuk pengembangan strategi pengendalian dan pencegahan yang lebih terfokus. Terkait dengan kondisi ini, penelitian ini memiliki tujuan umum untuk mengidentifikasi karakter variasi genetik virus ASF yang bersirkulasi di Indonesia tahun 2021-2023.&#13;
Penelitian pertama bertujuan menentukan sirkulasi genotipe II dan variasi genetik dari virus ASF representatif penyebab wabah di Indonesia pada tahun 2021–2023. Hasil qPCR mengonfirmasi DNA virus ASF pada 33 sampel klinis dari organ dan sampel usap yang dikumpulkan dari tiga provinsi berbeda. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa kelima sampel virus ASF terpilih dari Kota Berau (Provinsi Kalimantan Timur), Kota Pematang Siantar (Provinsi Sumatera Utara), dan Kota Kupang (Provinsi NTT) tergolong genotipe II berdasarkan gen B646L (p72) dan E183L (p54). Hasil analisis asam amino gen E183L (p54) menunjukkan bahwa dua sampel Indonesia, yaitu IDN/2022/Pig/PSJ dan IDN/2022/Pig/PSB, memiliki variasi genetik berupa insersi lima asam amino (PVTDN). Analisis sekuens IGR antara gen I73R/I329L, khususnya pada TRS yang menampilkan motif GGAATATATA, menunjukkan bahwa varian IGR II bersirkulasi di tiga provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strain virus ASF yang beredar di Provinsi Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dan NTT di Indonesia selama wabah 2021–2023 menunjukkan keragaman genetik yang rendah dan menunjukkan stabilitas genetik di wilayah-wilayah tersebut. Variasi genetik diamati dalam bentuk insersi lima asam amino (PVTDN) berdasarkan gen E183L (p54) pada dua sampel Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara. Kesamaan genetik antar sampel ASFV di Indonesia pada IGR II antara gen I73R/I329L dengan motif GGAATATATA adalah 100% identik di seluruh sampel Indonesia, yang mengonfirmasi stabilitas genetik di wilayah-wilayah tersebut. &#13;
Penelitian kedua bertujuan untuk identifikasi karakteristik hasil propagasi virus ASF secara in vitro dan respon sel leukosit terhadap inokulasi virus ASF. Propagasi virus ASF dilakukan dengan menginokulasikan sampel lapang asal Sumatra Utara dengan kode IDN/2022/Pig/PSJ ke kultur sel primer leukosit babi yang konfluen (70-80%). Pengamatan morfologi sel dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya setiap 24, 48, 72, 96,120, 144, and 164 jam pasca inokulasi (jpi). Sampel lapang dari kultur sel primer leukosit babi dipurifikasi dengan menggunakan metode Percoll. Pelet virus di deteksi virus ASF dengan menggunakan uji qPCR. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan morfologis pada sel primer leukosit yang terinfeksi, dengan adanya reaksi hemadsorpsi (HAD) yang teramati pada 48 jpi, dibandingkan dengan sel kontrol yang tidak terinfeksi. Pengikatan eritrosit babi ke permukaan sel yang terinfeksi virus ASF, membentuk rosette-like structure. Reaksi hemadsorpsi (HAD) dapat diamati setelah 2 kali blind passage. Purifikasi virus ASF menggunakan Percoll dapat meningkatkan kemurnian virus yang ditandai dengan nilai Ct yang lebih rendah dibandingkan dengan supernatant hasil kultur sel primer leukosit babi. &#13;
Penelitian ketiga bertujuan mendeteksi koinfeksi virus ASF dengan virus CSF atau Salmonella pada sampel babi di Indonesia menggunakan metode multiplex qPCR. Sebanyak 33 organ dan swab sampel klinis yang dikoleksi dari Kota Berau (Provinsi Kalimantan Timur), Kota Pematang Siantar (Provinsi Sumatera Utara), dan Kota Kupang (Provinsi NTT) antara tahun 2021–2023 dideteksi menggunakan multiplex qPCR. Hasil multiplex qPCR mengonfirmasi positif  virus ASF pada 33 sampel berdasarkan gen B646L (p72) dan tidak ada virus CSF atau bakteri Salmonella yang dideteksi positif. Tidak adanya koinfeksi virus CSF atau bakteri Salmonella dalam sampel ini menunjukkan bahwa virus ASF adalah patogen utama yang bertanggung jawab atas kasus klinis yang diuji.&#13;
Penelitian keempat bertujuan mengidentifikasi kontaminasi virus ASF pada produk daging babi yang dibawa oleh wisatawan internasional ke Indonesia, dan jalur potensial masuknya ASF ke Indonesia. Koleksi sampel dilakukan pada produk daging babi yang disita di tiga bandara internasional di Indonesia dari tahun 2019 hingga 2020 . Deteksi virus ASF menggunakan qPCR TaqMan yang menargetkan gen B646L (p72), diikuti dengan sekuen gen B646L (p72) dan E183L (p54) untuk karakterisasi molekuler. Analisis filogenetik dilakukan untuk membandingkan strain virus ASF lokal dengan strain global. Di antara 29 sampel yang disita, dua produk daging babi asal China dinyatakan positif virus ASF. Produk-produk ini diidentifikasi sebagai genotipe II, konsisten dengan strain dari Afrika, Eropa, dan Asia. Analisis sekuens mengonfirmasi hubungan genetik yang erat antara strain Indonesia dengan isolat virus ASF genotipe II global, seperti yang berasal dari China, Vietnam, dan Georgia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172153">
<title>Aktivitas Biomolekul Dan Formulasi Sediaan Antiinflamasi Dari Mukus Bekicot Lissachatina fulica</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172153</link>
<description>Aktivitas Biomolekul Dan Formulasi Sediaan Antiinflamasi Dari Mukus Bekicot Lissachatina fulica
Supiyani, Atin
Mukus bekicot Lissachatina fulica secara etnozoologi telah digunakan sebagai obat alamiah, namun efektivitasnya bergantung pada kandungan senyawa aktif hasil biosintesis makromolekul dari pakan yang dikonsumsi bekicot. Lissachatina fulica, sebagai detritivora, mengonsumsi materi organik yang dapat terkontaminasi dengan mikroplastik seperti polistirena. Penelitian ini bertujuan utama untuk mengkaji perubahan kandungan biomolekul dalam musin bekicot setelah diberi pakan berupa sampah organik dan polistirena. Perlakuan polistirena dipilih untuk menguji hipotesis bahwa paparan polistirena dapat mengubah jalur biosintesis musin dan memengaruhi penyerapannya, yang pada akhirnya berdampak pada efikasi dan keamanan produk hilirnya. Sebagai aplikasi lanjut, penelitian ini juga akan memvalidasi secara in vivo melalui uji keamanan dan efikasi sediaan krim musin pada model dermatitis atopik (DA) mencit.&#13;
Penelitian tahap 1 meliputi standarisasi bahan baku dan perlakuan pakan pada bekicot, melalui identifikasi spesies dan budi daya bekicot Lissachatina fulica hingga stadia juvenil III, yang digunakan sebagai bekicot percobaan. Sebanyak 50 ekor bekicot juvenil III dibagi menjadi 2 kelompok pakan, yaitu pakan sampah organik (PO) (kacang panjang dan kulit melon) dan pakan sampah organik (kacang panjang dan kulit melon) kombinasi polistirena (POP) diberikan ad libitum selama 28 hari. Parameter meliputi pertumbuhan, karakteristik mukus, analisis proksimat pakan dan daging bekicot, serta analisis histologi sel mukus yang diwarnai dengan Periodic Acid Schiff-Alcian Blue (PAS-AB). Tahap 2 dilakukan analisis protein mukus dan network pharmacology (NP). Mukus di-freeze-dried pada suhu -53 ºC selama 72 jam menghasilkan musin. Protein musin diidentifikasi dengan LC-MS,&#13;
dilanjutkan dengan analisis in silico menggunakan basis data bioinformatika (PubChem, SwissTargetPrediction, STRING) untuk memprediksi target protein dan interaksi protein-protein target. Visualisasi menggunakan software Cytoscape 3.10.4 untuk memprediksi mekanisme kerja protein musin. Kelompok musin bekicot dengan mekanisme terbaik dalam patogenesis DA akan dipilih dan digunakan dalam uji in vivo.&#13;
Tahap 3 adalah uji in vivo, dimulai dengan pembuatan krim musin. Uji yang dilakukan meliputi uji toksisitas akut dermal (Fixed Dose Method dosis 0, 5, dan 10% selama 14 hari) dan uji efikasi pada dermatitis atopik (DA) yang diinduksi 2,4- dinitrochlorobenzena (DNCB) 1% pada mencit jantan strain BALB/c usia 2 bulan. Uji efikasi dilakukan pada lima kelompok perlakuan terdiri atas (1) kontrol negatif (DNCB); (2) kontrol positif (deksametason); (3) basis krim; (4) krim musin 5%; dan (5) krim musin 10% selama 7 hari. Parameter diukur pada hari ke-0, 3, 5, dan 7 meliputi penilaian skor Atopic Dermatitis Severity Index (ADSI), analisis histologi dermis, aktivitas imunologis (sel-sel peradangan, ekspresi interleukin-1b), dan profil hematologi. Data kuantitatif dianalisis dengan uji t-independen untuk pertumbuhan bekicot; dan data lainnya menggunakan uji Two-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey (p&lt;0,05). Data kualitatif dianalisis secara deskriptif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan kelompok POP memiliki pertambahan bobot dan konsumsi pakan lebih rendah dibandingkan kelompok PO (p&lt;0,05). Analisis proksimat pakan POP mengandung protein dan lemak yang lebih rendah, namun memiliki serta kasar yang jauh lebih tinggi dari pakan PO. Sementara itu, proksimat daging bekicot menghasilkan peningkatan kadar protein dan lemak kasar pada kelompok POP. Karakteristik mukus kelompok POP lebih berpigmen, berbusa, dan memiliki viskositas serta pH yang lebih tinggi dibanding PO. Secara histologi, jumlah sel penghasil mukus pada kelompok POP rendah signifikan (p&lt;0,05) pada area anterior-dorsal, anterior-ventral, dan posterior-ventral, dengan jumlah sekresi mukus asam di area dorsal dan mukus netral-asam di area ventral. Hasil analisis LC-MS menunjukkan bahwa pakan memengaruhi keragaman protein musin. Musin PO memiliki 61 protein dan 617 ligan protein yang lebih banyak dibandingkan musin POP (26 protein dan 291 ligan). Analisis network pharmacology (NP) musin PO memiliki mekanisme yang lebih kompleks dalam patogenesis DA. Dua jalur utama yang beririsan dengan patogenesis DA dan kerja deksametason yaitu CCL2 dan TNF. Tiga protein musin, yaitu macamide dan N-benzyloleamide menginhibisi jalur CCL2 dan eplerenone menginhibisi jalur TNF. Sementara itu, musin POP hanya melibatkan protein eplerenone sebagai inhibitor TNF.&#13;
Hasil uji toksisitas akut dermal menunjukkan sediaan krim musin bekicot bersifat aman, tanpa menimbulkan gejala toksik seperti iritasi kulit, pembengkakan, tremor, atau perubahan bobot organ. Pada uji efikasi, kelompok deksametason dan musin bekicot menunjukkan penurunan skor ADSI di bawah 2 pada hari ke-5 (p&lt;0,05) dibandingkan kelompok DNCB. Secara histologis, ketebalan lapisan epidermis kembali normal pada kelompok deksametason dan musin pada hari ke-7 (p&lt;0,05). Analisis imunologi menunjukkan kelompok musin 5% meningkat signifikan jumlah sel makrofag dan sel mast pada hari ke-5 (p&lt;0,05), serta terjadi peningkatan jumlah sel netrofil di atas nilai normal, sementara sel limfosit menurun pada hari ke-3 dan dalam kisaran normal (p&lt;0,05). Ekspresi IL-1b menunjukkan perbedaan yang signifikan antarkelompok dan antarhari perlakuan (p&lt;0,05).&#13;
Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa pakan sampah organik-polistirena (POP) secara signifikan memengaruhi bekicot. Perlakuan ini tidak hanya menurunkan pertumbuhan dan memengaruhi karakteristik mukus, tetapi juga mengakibatkan perubahan pada komposisi dan jumlah protein dalam musin. Secara mekanistik, protein dalam musin bekicot dari kedua kelompok pakan (PO dan POP) dapat menginhibisi jalur CCL2 dan TNF yang berperan penting sebagai aktivator sel-sel peradangan dan apoptosis pada DA. Efikasi ini dibuktikan pada uji in vivo, bahwa pemberian krim musin bekicot menyebabkan penurunan cepat gejala klinis (skor ADSI &lt; 2 pada hari ke-5). Respons ini sejalan dengan pola perbaikan dan resolusi inflamasi melalui aktivitas sel makrofag dan sel mast, serta ekspresi interleukin-1b pada jaringan kulit yang mengindikasikan respons imun cepat terhadap DA. Sementara itu, aktivitas sel netrofil dan limfosit merupakan bentuk respons inflamasi akut dan resolusi peradangan yang diinisiasi oleh musin. Secara keseluruhan, musin bekicot Lissachatina fulica yang diberi pakan sampah organik menghasilkan senyawa biomolekul yang efektif dan aman sebagai kandidat pengobatan topikal untuk dermatitis atopik.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172067">
<title>Upaya Peningkatan Potensi Sirih Hijau, Kurkumin, Dan Beta-Glukan Melalui Pendekatan Nanoteknologi Sebagai Agp Alternatif Di Peternakan Ayam Broiler</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172067</link>
<description>Upaya Peningkatan Potensi Sirih Hijau, Kurkumin, Dan Beta-Glukan Melalui Pendekatan Nanoteknologi Sebagai Agp Alternatif Di Peternakan Ayam Broiler
Wirahadikesuma, Ikhwan
Penelitian ini mengkaji secara mendalam aplikasi teknologi elektrospinning untuk pengembangan nanofiber berbasis polivinil alkohol (PVA) sebagai sistem penghantar senyawa aktif alami, yaitu zat di dalam sirih hijau (Piper betle L.), kurkumin, dan beta-glukan, yang bertujuan untuk meningkatkan performa pertumbuhan serta respons imun pada ayam broiler, sekaligus sebagai alternatif antibiotic growth promoter (AGP). Teknologi elektrospinning yang diterapkan berhasil dikembangkan dengan beberapa bagian alat seperti modul tegangan tinggi dan memanfaatkan komponen dari peralatan medis bekas, seperti syringe pump dan inkubator neonatal sehingga mencerminkan efisiensi ekonomi.&#13;
Penelitian ini berhasil merakit alat elektrospinning dari peralatan yang digunakan untuk menghasilkan serat nano PVA 10% yang mengandung ekstrak air sirih hijau/Piper betle L. dengan aktivitas antibakteri sedang (0,5 – 0,7 cm) pada patogen seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Serat nano yang dihasilkan memiliki diameter rata-rata 46,48 nm dan puncak serapan utama O-H stretching pada gelombang 3428 cm?¹. PVA-Piper betle filamen nanofibernya menunjukkan potensi sebagai pembalut luka antibakteri, karena didukung oleh kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, tanin, dan minyak atsiri. Selain itu, sirih dari hasil beberapa penelitian pada ayam broiler terbukti berpotensi meningkatkan tinggi vili jejunum dan duodenum, mengurangi populasi bakteri patogen, serta meningkatkan bobot karkas, yang menunjukkan efektivitasnya sebagai fitobiotik alami dalam meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak.&#13;
Penelitian ini juga menginvestigasi potensi nanofiber polivinil alkohol (PVA) dan kurkumin sebagai alternatif AGP untuk meningkatkan performa pertumbuhan ayam broiler. Nanofiber PVA-kurkumin disintesis menggunakan metode elektrospinning dengan konsentrasi PVA yang bervariasi (5%, 10%, dan 15%). Karakterisasi menggunakan SEM dan FTIR menunjukkan morfologi nanofiber yang halus dengan diameter serat 100-135 nm, pita serapan lebar dan kuat pada rentang 3100–3500 cm?¹ menunjukkan terjadinya ikatan hidrogen gugus hidroksil (-OH) kurkumin dan PVA. Selain itu, profil pelepasan kurkumin yang terkontrol/bertahap secara in vitro. Meskipun hasil uji performa pertumbuhan secara in vivo belum menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik antar kelompok perlakuan, data numerik menunjukkan tren positif berupa peningkatan bobot badan, konsumsi pakan, serta efisiensi konversi pakan (FCR). Uji in vivo selama 7 hari (dari umur 1-8 hari) pada ayam broiler menunjukkan peningkatan numerik pada bobot badan, konsumsi pakan, dan efisiensi pakan (FCR), meskipun tidak ditemukan perbedaan signifikan secara statistik antar perlakuan. Dengan demikian, nanofiber PVA-kurkumin memiliki prospek sebagai pengganti AGP yang aman dan ramah lingkungan di peternakan unggas.&#13;
Nanofiber PVA-beta glukan menunjukkan hasil paling optimal dibandingkan dengan formulasi lainnya, khususnya pada konsentrasi beta-glukan dua kapsul (400 mg), dengan diameter serat rata-rata sebesar 30,81 nm. Struktur permukaan nanofiber terlihat halus serta porositas yang optimal. FTIR pada sampel PVA-beta glukan menunjukkan beberapa pita serapan O-H stretching pada 3100–3500 cm?¹, C-H alifatik pada 2850–3000 cm?¹. Suplementasi dengan formulasi ini menunjukkan peningkatan bobot badan tertinggi serta nilai FCR terbaik di antara perlakuan lainnya, sekaligus mampu menurunkan rasio heterofil/limfosit (H/L), yang merupakan indikator kuat penurunan stres fisiologis pada ayam broiler. Uji serologi juga menunjukkan peningkatan signifikan respons imun melalui peningkatan titer antibodi, memperkuat peran beta-glukan sebagai agen imunomodulator yang potensial untuk meningkatkan status kesehatan ayam broiler.&#13;
Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa ketiga pendekatan nanoteknologi berbasis PVA tersebut menawarkan solusi inovatif dan berkelanjutan sebagai alternatif efektif pengganti AGP dalam industri peternakan unggas. Integrasi zat aktif alami, seperti senyawa di dalam Piper betle L., kurkumin, dan beta-glukan dalam bentuk nanofiber tidak hanya efektif dalam meningkatkan performa pertumbuhan unggas, tetapi juga secara substansial memperkuat respons imun serta kesehatan ayam secara komprehensif. Secara implikatif, pendekatan ini menjanjikan prospek signifikan dalam mengurangi risiko resistansi antibiotik, meningkatkan keberlanjutan industri peternakan unggas, serta mendorong pengembangan nutrisi ternak yang aman, efektif, dan ramah lingkungan melalui teknologi nanofiber.&#13;
&#13;
Kata kunci: Alternatif AGP, Beta-glukan, Broiler, Kurkumin, Nanoteknologi, Sirih Hijau; This research examines the use of elektrospinning technology to create polyvinyl alcohol (PVA) nanofibers for delivering natural active compounds—substances in green betel leaf (Piper betle L.), curcumin, and beta-glucan—to improve growth performance and immune response in broiler chickens as alternatives to antibiotic growth promoters (AGPs). The elektrospinning equipment was efficiently built using recycled medical devices, including syringe pumps and neonatal incubators, along with high-voltage modules.&#13;
This study successfully assembled an elektrospinning apparatus from repurposed equipment to fabricate 10% PVA nanofibers incorporating aqueous green betel (Piper betle L.) extract. The nanofibers demonstrated moderate antibacterial activity (0.5–0.7 cm inhibition zones) against pathogens including Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Characterization revealed an average fiber diameter of 46.48 nm and a prominent O-H stretching absorption peak at 3428 cm?¹. The PVA-Piper betle nanofiber filaments exhibit significant potential as antibacterial wound dressings, attributable to bioactive constituents such as flavonoids, phenolics, tannins, and essential oils. Furthermore, broiler studies substantiate betel's efficacy in enhancing jejunal and duodenal villus height, reducing pathogenic bacterial populations, and increasing carcass yield - confirming its utility as a natural phytobiotic for improving livestock health and productivity.&#13;
Concurrently, we investigated polyvinyl alcohol (PVA)-curcumin nanofibers as antibiotic growth promoter (AGP) alternatives to enhance broiler growth performance. Elektrospinning synthesis employed varying PVA concentrations (5%, 10%, 15%). SEM and FTIR characterization indicated smooth nanofiber morphology with fiber diameters of 100–135 nm. A broad and intense absorption band at 3100–3500 cm?¹ signified hydrogen bonding between the hydroxyl groups (-OH) of curcumin and PVA. In vitro analysis further demonstrated controlled release kinetics of curcumin. Although in vivo growth performance trials (days 1–8 post-hatch) showed no statistically significant intergroup differences, numerical data revealed positive trends in body weight gain, feed intake, and feed conversion ratio (FCR). These findings support PVA-curcumin nanofibers as promising environmentally benign AGP substitutes in poultry production.&#13;
PVA-beta glucan nanofibers exhibited optimal performance among formulations, particularly at the two-capsule concentrations, with an average fiber diameter of 30.81 nm. The nanofibers displayed smooth surface morphology and ideal porosity. FTIR analysis identified characteristic absorption bands: O-H stretching at 3100–3500 cm?¹ and aliphatic C-H stretching at 2850–3000 cm?¹. Supplementation with this formulation yielded the highest body weight gain and optimal FCR among treatments, while significantly reducing the heterophil-to-lymphocyte (H/L) ratio - a robust indicator of attenuated physiological stress. Serological assays confirmed significantly enhanced immune response (p&lt;0.05) through elevated antibody titers, substantiating beta-glucan's role as an effective immunomodulatory agent for improving broiler health status&#13;
Conclusion, these PVA-based nanotechnological approaches provide innovative, sustainable AGP alternatives in poultry production. Nanoencapsulation of Piper betle L., curcumin, and ß-glucan synergistically enhances growth metrics, immune competence, and overall broiler health. This paradigm holds significant potential for mitigating antimicrobial resistance risks while advancing eco-friendly poultry nutrition.&#13;
&#13;
Keywords: Alternative AGP, Beta-glucan, Broiler, Curcumin, Green betel leaf, Nanotechnology
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171466">
<title>Keamanan Ikan Asap di Kota Kendari berdasarkan Praktik Higiene dan Sanitasi, Kontaminasi Mikroorganisme serta Infeksi Parasit.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171466</link>
<description>Keamanan Ikan Asap di Kota Kendari berdasarkan Praktik Higiene dan Sanitasi, Kontaminasi Mikroorganisme serta Infeksi Parasit.
Tina, Lymbran
Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani penting di Indonesia,&#13;
terutama bagi masyarakat pesisir seperti di Kota Kendari. Salah satu produk olahan&#13;
ikan yang populer adalah ikan asap. Proses pengasapan diyakini mampu&#13;
memperpanjang masa simpan dan meningkatkan cita rasa, namun proses&#13;
pengolahan yang masih sederhana, serta tidak memperhatikan praktik higiene dan&#13;
sanitasi mengakibatkan ikan asap rentan terhadap kontaminasi biologis. Selain itu,&#13;
ikan sebagai bahan baku juga merupakan inang antara larva parasit dari famili&#13;
Anisakidae yang sebagian bersifat zoonotik bagi manusia.  &#13;
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi praktik higiene dan sanitasi dalam&#13;
proses pengolahan dan penjualan ikan asap. Penelitian ini juga menilai tingkat&#13;
keamanan ikan asap dari aspek mikrobiologis dan parasitologis, yakni melalui&#13;
deteksi tiga agen biologis utama: E. coli, Salmonella spp., dan larva anisakid.&#13;
Penelitian dilakukan di Kota Kendari dengan pendekatan deskriptif kuantitatif&#13;
dengan pendekatan cross-sectional study serta dilakukan dengan uji laboratorium&#13;
terhadap sampel ikan pada tahap proses pengolahan dan penjualan.&#13;
Penilaian praktik higiene dan sanitasi dilakukan kepada 13 pengolah ikan&#13;
asap dengan menggunakan sembilan kriteria berdasarkan cara pengolahan pangan&#13;
yang baik untuk industri rumah tangga (CPPB-IRT) oleh Badan Pengawas Obat&#13;
dan Makanan (BPOM). Kriteria terdiri dari beberapa subkriteria penilaian dengan&#13;
kategori kritis, serius dan mayor. Sebanyak 104 sampel ikan berasal dari empat&#13;
tahapan yaitu: sebelum pembersihan, setelah pembersihan, setelah pengasapan, dan&#13;
pada penjualan di pasar. Jumlah E. coli diuji menggunakan metode Most Probable&#13;
Number (MPN) yang diikuti dengan konfirmasi biokimia menggunakan uji IMViC,&#13;
isolasi dan identifikasi Salmonella spp. dilakukan melalui media XLD agar dan&#13;
konfirmasi dengan uji biokimia TSIA dan LIA. Koleksi parasit dilakukan melalui&#13;
pembedahan dan identifikasi melalui pengamatan morfologi larva dari ikan laut&#13;
mentah menggunakan mikroskop stereo (carton NSW) dan binokuler (Nicon&#13;
Eclipse E600) dilengkapi Dino Eye kamera.&#13;
Hasil penelitian menunjukan bahwa praktik higiene dan sanitasi pada proses&#13;
pengolahan dan penjualan ikan asap belum memenuhi persyaratan CPPB-IRT.&#13;
Terdapat ketidaksesuain praktik pada pengolah ikan asap pada kategori kritis yaitu,&#13;
tidak tersedia tempat sampah (100%), pekerja kurang merawat kebersihan diri&#13;
(23,1%), pekerti tidak mencuci tangan (100%), hewan ternak berkeliaran (100%),&#13;
tidak ada pelatihan keamanan pangan pada pekerja (100%). Pada kategori serius&#13;
juga diketahui bahwa lokasi pengolahan kotor dan tidak terawat (100%), lantai yang&#13;
kotor (100%), pintu dan jendela yang tidak terawat (100%), peralatan tidak&#13;
dipelihara dengan baik (61,6%), sarana cuci tangan tidak lengkap (100%), toilet&#13;
tidak terawat 69,2%), pekerja tidak mengenakan pakaian khusus (53,8%) dan tidak&#13;
memiliki program sanitasi berkala (100%). Ketidaksesuaian dalam kategori mayor&#13;
terdiri atas fasilitas tidak mudah dibersihkan (53,8%), sarana pembersihan tidak&#13;
tersedia (100%), pekerja tidak fokus (100%), dan tidak terdapat penanggung jawab higiene (100%). Penelitian ini mendapatkan jumlah E. coli pada sampel dari seluruh&#13;
tahapan sesuai ambang batas maksimum yang dipersyaratkan yaitu &lt;3 MPN/gram.&#13;
Keberadaan Salmonella spp. ditemukan pada seluruh tahapan pengolahan yaitu:&#13;
sebelum pembersihkan sebesar 38,5% (SK 95%: 19,8%–57,2%), setelah&#13;
pembersihan sebesar 26,9% (SK 95%: 9,9%–44,0%), setelah pengasapan sebesar&#13;
53,8% (SK 95%: 34,7%–73,0%), dan pada saat dijual di pasar sebesar 65,4% (SK&#13;
95%: 47,1%–83,7%). &#13;
Sebanyak 24 larva nematoda dikoleksi dari 7 ekor ikan laut positif yang&#13;
diperiksa dari total 26 ekor ikan. Hasil identifikasi menunjukkan larva termasuk&#13;
famili Anisakidae, umumnya disebut larva anisakid yang terdiri atas genus&#13;
Anisakis, Pseudoterranova, dan Contracaecum. Prevalensi larva anisakid sebesar&#13;
26,9% (SK 95%: 10,0%–44,0%) dengan intensitas rata-rata 3,4 larva per ikan&#13;
terinfeksi (SK 95%: 1,9–4,9). Larva anisakid sebagian bersifat zoonotik dan dapat&#13;
menyebabkan anisakidosis pada manusia, terutama bila ikan dikonsumsi mentah&#13;
atau tidak dimasak dengan baik. Proses pengasapan diharapkan dapat membunuh&#13;
larva anisakid, namun alergen larva masih dapat memicu reaksi alergi yang&#13;
berbahaya pada individu sensitif. Ketiga agen biologis yang teridentifikasi &#13;
berpotensi menimbulkan risiko yang memerlukan perhatian khusus karena &#13;
berdampak pada kesehatan manusia.&#13;
Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan praktik higiene dan sanitasi &#13;
yang buruk pada seluruh tahapan produksi dan penjualan menjadi salah satu&#13;
penyebab tingginya rekontaminasi mikroorganisme patogen pada ikan asap.&#13;
Potensi bahaya parasit zoonotik pada konsumen berasal dari bahan baku ikan asap.&#13;
Perlunya penguatan regulasi teknis terkait standar mutu mikrobiologis ikan asap.&#13;
Pengawasan menyeluruh serta edukasi kepada produsen dan konsumen menjadi&#13;
strategi utama dalam menjamin mutu dan keamanan ikan asap sebagai produk&#13;
olahan khas masyarakat Kota Kendari.; Fish is an important source of animal protein in Indonesia, especially for&#13;
coastal communities such as Kendari City. One popular fish food product is smoked&#13;
fish. The smoking process is believed to extend shelf life and enhance flavor, but&#13;
the processing is traditional and does not adhere to hygiene and sanitation practices,&#13;
making it susceptible to biological contamination. Furthermore, fish, as a raw&#13;
material, is also an intermediate host for parasitic larvae of the family Anisakidae,&#13;
some of which are zoonotic to humans.&#13;
This study aims to assess hygiene and sanitation practices in the processing&#13;
and sale of smoked fish. It also assesses the microbiological and parasitological&#13;
safety of smoked fish by detecting three main biological agents: E. coli, Salmonella&#13;
spp., and anisakid larvae. The study was conducted in Kendari City using a&#13;
quantitative descriptive approach with a cross-sectional study and laboratory&#13;
testing of fish samples during the processing and sale stages.&#13;
An assessment of hygiene and sanitation practices was conducted on 13&#13;
smoked fish processors using nine criteria based on Good Food Processing&#13;
Practices for Home Industries (CPPB-IRT) by the Food and Drug Monitoring&#13;
Agency (BPOM). The criteria consist of several sub-criteria, categorized as critical,&#13;
serious, and major. A total of 104 fish samples were collected from four stages:&#13;
before cleaning, after cleaning, after smoking, and at market sale. E. coli counts&#13;
were tested using the Most Probable Number (MPN) method, followed by&#13;
biochemical confirmation using the IMViC test. Salmonella spp. isolation and&#13;
identification were performed using XLD agar media, and confirmation was carried&#13;
out using the TSIA and LIA biochemical tests. Parasites were collected through&#13;
dissection and microscopic examination of raw marine fish using a stereo&#13;
microscope (NSW cardboard) and binoculars (Nicon Eclipse E600) equipped with&#13;
a Dino Eye camera.&#13;
The results showed that hygiene and sanitation practices in the processing and sale of smoked fish did not meet CPPB-IRT requirements. There are nonconformities in smoked fish processing practices in the critical category, namely, no trash bins available (100%), workers do not maintain personal hygiene (23.1%), do not wash hands (100%), livestock are scouts (100%), no food safety training for workers (100%). In the serious category, it was also found that the processing location was dirty and unkempt (100%), floors were dirty (100%), doors and windows were not maintained (100%), and equipments was not properly maintained (61.6%), handwashing facilities were incomplete (100%), toilets were not maintained (69.2%), workers did not wear special clothing (53.8%), and did not have a regular sanitation program (100%). Non-conformities in the major category consisted of facilities that were not easy to clean (53.8%), cleaning facilities were not available (100%), workers were not focused (100%), and there was no person in charge of hygiene (100%). This study found that the number of E. coli in samples from all stages met the required maximum threshold of &lt;3 MPN/gram. The presence of Salmonella spp. found in all stages of processing, namely: before cleaning 38.5% (95% SK: 19.8%–57.2%), after cleaning 26.9% (95% SK: 9.9%–44.0%), after smoking 53.8% (95% SK: 34.7%–73.0%), and when sold in the market 65.4% (95% SK: 47.1%–83.7%). &#13;
A total of 24 nematode larvae were collected from 7 positive marine fish examined from a total of 26 fish. The identification results showed that the larvae belonged to the Anisakidae family, generally called anisakid larvae consisting of the genera Anisakis, Pseudoterranova, and Contracaecum. The prevalence of anisakid larvae was 26.9% (95% CI: 10.0%–44.0%), with an average intensity of 3.4 larvae per infected fish (95% CI: 1.9–4.9). Anisakid larvae are partly zoonotic and can cause anisakidosis in humans, especially when the fish is consumed raw or undercooked. The smoking process is expected to kill anisakid larvae, but allergens can still trigger dangerous allergic reactions in sensitive individuals. The third identified biological agent poses a potential risk that requires special attention due to its impact on human health.&#13;
This study indicates that poor hygiene and sanitation practices at all stages of production and sales are one of the causes of the high rate of recontamination with  pathogenic microorganisms in smoked fish. The potential danger of zoonotic  parasites to consumers originates from the smoked fish raw materials. Strengthening technical regulations regarding microbiological quality standards for smoked fish is necessary. Comprehensive supervision and education for producers and consumers are key strategies to ensure the quality and safety of smoked fish, a&#13;
typical food product for the people of Kendari City.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
