<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/9">
<title>Dissertations and Theses</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/9</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173006"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173005"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173003"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-28T14:41:44Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173006">
<title>Aktivitas Vesikel Ekstraseluler Sel Punca Mesenkimal Adiposa Macaca fascicularis pada Metastasis Sel Kanker Kolon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173006</link>
<description>Aktivitas Vesikel Ekstraseluler Sel Punca Mesenkimal Adiposa Macaca fascicularis pada Metastasis Sel Kanker Kolon
Al-Ozeir, Fadia Walid
Kanker kolon telah menyebabkan sekitar 935.000 kematian pada tahun 2020 dan diestimasi akan selalu meningkat. Kanker kolon dapat disebabkan oleh mutasi pada gen-gen tertentu seperti gen Kras, p53, dan B-Raf. Jika ditemukan dengan cepat, kanker kolon cenderung lebih mudah ditangani dibanding jenis kanker lain. Kanker kolon yang tidak terdeteksi dini akan memasuki tahap metastasis yang menyebabkan prognosis kehidupan buruk bagi pasien. Metastasis adalah pertumbuhan sel kanker pada organ-organ yang jauh dari mana kanker itu pertama muncul dan merupakan tahapan kanker terakhir dan terburuk. Salah satu molekul pengirim sinyal (kemokin) regulator metastasis adalah CXC motif chemokine receptor 3 (CXCR3) yang merupakan protein reseptor G. Peningkatan ekspresi dari CXCR3 meningkatkan metastasis dari kanker kolon kepada jaringan limfatik dan pembuluh darah. Vesikel ekstraseluler (EV) merupakan molekul pengirim sinyal yang dapat meregulasi komunikasi antara sel. EV hasil sel punca mesenkimal adiposa (ADMSC) memiliki kemampuan anti-proliferasi terhadap beberapa jenis sel kanker seperti kanker ovarium dan kanker prostat, namun pengaruh EV ADMSC terhadap migrasi dan invasi sel kanker kolon masih belum diketahui.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh EV ADMSC terhadap kemampuan migrasi dan invasi dari sel kanker kolon dan menganalisis ekspresi kelompok gen CXCR3 dari sel kanker yang diberi perlakuan EV.  Pengujian pengaruh EV ADMSC terhadap kemampuan migrasi dan invasi dari sel kanker kolon  dilakukan menggunakan metode wound-healing assay dan transwell-invasion assay terhadap sel lestari kanker kolon WiDr. Analisis terhadap ekspresi kelompok gen CXCR3 pada sel kanker kolon yang diambil dari uji migrasi akan dilakukan melalui two-step RT-qPCR.  Hasil uji migrasi pada sel kanker kolon menunjukkan bahwa aplikasi EV pada konsentrasi 5 µg/mL meningkatkan kecepatan dan persentase penutupan luka, sementara konsentrasi 10 µg/mL ke atas dapat menekan kedua hal tersebut. Aplikasi EV terhadap sel kanker kolon menunjukkan penurunan jumlah sel yang melakukan invasi yang signifikan secara statistik terhadap kontrol, namun tidak ditemukan perbedaan signifikan antara perlakuan 10 µg/mL dan 20 µg/mL. Gen CXCR3A mengalami peningkatan pada semua perlakuan dengan peningkatan terbesar pada EV 5 µg/mL yang dapat menjadi alasan mengapa kemampuan migrasi sel kanker kolon yang diberi perlakuan tersebut meningkat. Pada semua perlakuan gen CXCR3B menunjukkan peningkatan ekspresi. Perlakuan 10 µg/mL menunjukkan ekspresi CXCR3B tertinggi dari semua perlakuan, yang ditunjukan dari hasil uji migrasi dan invasinya yang rendah. Hal ini dikarenakan peran CXCR3B sebagai inhibitor invasi. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait jalur sinyal yang dipengaruhi oleh aplikasi EV ADMSC dan studi terkait konsentrasi efektif dari EV ADMSC.; Colon cancer has caused around 935.000 deaths in 2020 and it is predicted that these numbers will continue to increase in the upcoming years. Colon cancer can be caused by mutations in certain genes such as Kras, p53, and B-raf. If found early, colon cancer is much easier to handle compared to other forms of cancer. However, if diagnosed late, colon cancer has often metastasized already and this leads to poor prognosis. Metastasis is the growth of cancer cells beyond the original organ or tissue in which the cancer first appeared. It is the final and worst stadium of cancer progression. One of the signalling molecules (chemokine) which regulate metastasis is CXC motif receptor 3 (CXCR3), a G protein receptor. Upregulation of CXCR3 expression increases colon cancer metastasis into the lymphatic and blood vessel tissues. Extracellular vesicles (EV) are signalling molecules which can regulate communication between cells. EVs from adipose mesenchymal stem cells (ADMSC) have shown anti-proliferative abilities towards certain cancers such as ovarian and prostate cancer. However, the effect of ADMSC EVs towards the migration and invasion of colon cancer cells remains unknown. This research’s objective is to observe the effect of ADMSC EVs on the migratory and invasive abilities of colon cancer cells and to analyze the CXCR3 gene group from the cancer cells treated with EVs.  Observations on the effect of ADMSC EVs on migratory and invasive capabilities of colon cancer was conducted through wound-healing assay and transwell-invasion assay using the cancer cell line WiDr. Gene expression analysis was performed through RT-qPCR with cells taken from wound-healing assay. The data produced was then analysed using one-way ANOVA and the Kruskal-Wallis test. Data showing a stastically significant difference was then analysed further using the Tukey HSD post-Hoc test. Wound-healing assay results showed an increase in wound-closure when cancer cells are exposed to 5 µg/mL of ADMSC EVs, while application of 10 µg/mL ADMSC EVs and above lead to a decrease in overall wound-closure. Cells treated with ADMSC EVs showed a statistically significant decrease in invasiveness compared to both controls, but cancer cells treated with 10 µg/mL AMDSC EVs and 20 µg/mL had no significant difference between them. Cells treated with 5 µg/mL ADMSC EVs showed a marked increase in CXCR3A expression as well as CXCR3B expression, the former of which increased its migratory and proliferative abilities. Cells treated with 10 µg/mL of ADMSC EVs showed highest CXCR3B expression which inhibited cell migration and invasion which is likely caused by CXCR3B’s inhibitory effects on cell invasion. Further study on the pathways effected by ADMSC EVs application is needed, as well as testing of effective dosage of AMDSC EV application.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173005">
<title>Analisis Ultrafine Bubble untuk Meningkatkan Kinerja Bahan Bakar Motor Diesel</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173005</link>
<description>Analisis Ultrafine Bubble untuk Meningkatkan Kinerja Bahan Bakar Motor Diesel
Asbanu, Husen
Bahan bakar biosolar merupakan campuran solar fosil dan biodiesel (FAME) &#13;
yang digunakan di Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, &#13;
meningkatkan ketahanan energi nasional, serta mengurangi ketergantungan pada &#13;
bahan bakar minyak. Namun demikian, baik biosolar maupun biodiesel masih &#13;
memiliki beberapa kelemahan, seperti kestabilan oksidasi yang rendah, viskositas &#13;
yang relatif tinggi, serta performa pembakaran yang belum optimal. Untuk &#13;
mengatasi hal tersebut, salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah &#13;
pemanfaatan ultrafine bubble berbasis oksigen yang merupakan gelembung &#13;
berukuran kurang dari 1 µm yang memiliki stabilitas tinggi, mudah terdispersi, dan &#13;
mampu memengaruhi sifat fisika kimia bahan bakar. Penelitian ini bertujuan &#13;
mengevaluasi pengaruh injeksi ultrafine bubble dalam bahan bakar terhadap sifat &#13;
fisika kimia, kestabilan oksidatif, karakteristik gelembung secara mikroskopis, &#13;
kinerja pembakaran, serta perubahan struktur kimia FAME pada bahan bakar B0, &#13;
B35, dan B100. &#13;
Penelitian dilakukan melalui serangkaian uji eksperimental di laboratorium, &#13;
ultrafine bubble dihasilkan dengan mengalirkan oksigen melalui nozzle venturi &#13;
sehingga terbentuk gelembung berdiameter di bawah 1 µm, kemudian &#13;
disirkulasikan ke dalam 2,5 liter bahan bakar dengan laju oksigen 1, 3, dan 5 lpm &#13;
selama 10-60 menit. Sampel sebelum dan sesudah perlakuan diuji untuk melihat &#13;
perubahan kinerja dan sifat fisikokimia, meliputi densitas, viskositas, dan bilangan &#13;
asam, serta stabilitas oksidatif berdasarkan metode standar ASTM untuk minyak &#13;
dan gas. Ukuran dan distribusi gelembung diamati menggunakan particle analyzer, &#13;
stabilitas muatan permukaan dianalisis dengan zeta analyzer, sedangkan potensi &#13;
perubahan pada struktur kimia FAME diidentifikasi melalui pengujian GC-MS. &#13;
Seluruh data kemudian dianalisis secara statistik untuk menilai besarnya pengaruh &#13;
UFB terhadap kualitas bahan bakar. &#13;
Hasil pengujian karakteristik fisika kimia menunjukkan adanya peningkatan &#13;
angka cetana seiring meningkatnya laju alir dan durasi injeksi UFB. Pada B0, angka &#13;
cetana naik dari 56,5 menjadi 63; pada B100 meningkat dari 59,2 menjadi 61,4; dan &#13;
pada B35 naik dari 57,2 menjadi 60,6 pada injeksi 5 lpm selama 60 menit. &#13;
Perlakuan UFB pada ketiga jenis bahan bakar tersebut juga menyebabkan sedikit &#13;
penurunan viskositas, densitas, suhu titik distilasi, dan titik nyala yang &#13;
mengindikasikan perbaikan kualitas pembakaran. Stabilitas oksidasi bahan bakar  &#13;
menurun seiring bertambahnya volume dan durasi injeksi oksigen, namun masih &#13;
berada dalam batas standar mutu bahan bakar. &#13;
Hasil pengamatan karakteristik mikroskopis memperlihatkan bahwa ultrafine &#13;
bubble terdistribusi secara homogen di dalam bahan bakar dan mampu menurunkan &#13;
ukuran gelembung secara signifikan seiring bertambahnya durasi injeksi oksigen. &#13;
Perubahan diameter gelembung dominan pada B100 berkurang dari 12 nm menjadi &#13;
7 nm, pada B35 dari 295 nm menjadi 255 nm, serta pada B0 dari 141 nm menjadi &#13;
38 nm. Reduksi ukuran ini menunjukkan peran ultrafine bublke  dalam &#13;
mendispersikan partikel dengan memutus ikatan aglomerat sehingga sistem &#13;
menjadi lebih stabil. Seiring bertambahnya waktu penyimpanan hingga minggu &#13;
keempat, ukuran gelembung kembali meningkat akibat terjadinya penggabungan &#13;
dan aglomerasi partikel, dengan diameter gelembung 16 nm pada bahan bakar  &#13;
B100, 342 nm pada B35, dan 122 nm pada B0. Meskipun terjadi peningkatan &#13;
ukuran, bahan bakar yang diberi perlakuan ultrafine bubble  tetap menunjukkan &#13;
kestabilan dispersi yang lebih baik dan masih beraada pada standar gelembung &#13;
ultrafine bubble  dibandingkan sampel tanpa perlakuan. Zeta potensial negatif -25 &#13;
turut membantu mempertahankan kestabilan sistem selama waktu simpan. &#13;
Secara Keseluruhan, perlakuan ultrafine bubble  dengan laju 1, 3, dan 5 lpm selama &#13;
60 menit dan penyimpanan hingga 30 hari tetap memenuhi standar kualitas bahan &#13;
bakar B0, B35, dan B100. Analisis GC-MS mendukung bahwa perlakuan ultrafine &#13;
bubble  tidak mengubah struktur utama FAME pada B100, hanya menimbulkan &#13;
oksidasi ringan pada senyawa minor. Penurunan kecil pada metil oleat dan metil &#13;
linoleat serta kestabilan metil palmitat menunjukkan degradasi minimal yang justru &#13;
berpotensi meningkatkan homogenitas, stabilitas kimia, dan efisiensi pembakaran. &#13;
Penurunan stabilitas oksidasi terlihat dari berkurangnya waktu induksi. Pada &#13;
B0, waktu induksi turun dari 186,9 menjadi 115,9 menit; pada B35 dari 194,35 &#13;
menjadi 76,1 menit; dan pada B100 dari 77,33 menjadi 58,2 menit (perlakuan 5 lpm &#13;
selama 60 menit). Analisis regresi menunjukkan durasi injeksi optimum untuk &#13;
B100 adalah 100 menit dengan nilai stabilitas oksidasi BBM 49 menit, serta bahan &#13;
bakar B0 optimum pada 130 menit dengan stabilitas oksidasi BBM 45 menit, dan &#13;
bahan bakar B35 optimum pada 90 menit dengan Stabilitas Oksidasi  45 menit. &#13;
Hasil pengujian kinerja menunjukkan bahwa perlakuan ultrafine bubble &#13;
mampu meningkatkan kwalitas bahan bakar, daya mesin sekaligus menurunkan &#13;
konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang. Peningkatan daya tertinggi terjadi pada &#13;
bahan bakar B100 sebesar 18,2%, diikuti B35 sebesar 13,67% dan B0 sebesar &#13;
10,67%. Sementara itu, konsumsi bahan bakar mengalami penurunan masing&#13;
masing sebesar 19,40 ml/s untuk B100, 18,90 ml/s untuk B35, dan 16,58 ml/s untuk &#13;
B0. Selain itu, perlakuan UFB juga efektif menurunkan emisi, sebesar 51,7% untuk &#13;
B0, 37% untuk B35, dan 26% untuk B100. Temuan ini menegaskan bahwa injeksi &#13;
ultrafine bubble efektif dalam meningkatkan performa pembakaran, menurunkan &#13;
polusi serta efisiensi energi pada berbagai jenis bahan bakar diesel.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004">
<title>Uji Coba Penangkapan Krustasea dengan Alat Tangkap Krendet Bertingkat Satu Pintu dan Krendet Tradisional</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004</link>
<description>Uji Coba Penangkapan Krustasea dengan Alat Tangkap Krendet Bertingkat Satu Pintu dan Krendet Tradisional
ALI, MUHAMMAD HAFIDZ FATHUR
Penelitian ini dilaksanakan di perairan Teluk Palabuhanratu yang memiliki potensi sumber daya krustasea tinggi, khususnya rajungan dan lobster, dengan tujuan membandingkan efektivitas krendet bertingkat satu pintu dan krendet tradisional dalam meningkatkan hasil tangkapan. Metode yang digunakan adalah experimental fishing sebanyak 29 trip dengan sistem rawai, masing-masing menggunakan tiga unit krendet tradisional berdiameter 80 cm dan tiga unit krendet bertingkat satu pintu dengan diameter perangkap bawah 80 cm dan atas 60 cm, seluruhnya dilengkapi booster umpan berbahan ikan tembang, cumi-cumi, cacing tanah, dan telur ayam yang dibekukan. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah, berat, dan panjang karapas hasil tangkapan. Analisis dilakukan secara deskriptif kemudian diuji menggunakan uji normalitas dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krendet bertingkat satu pintu menghasilkan jumlah dan berat tangkapan krustasea lebih tinggi dibandingkan krendet tradisional. Produktivitasnya lebih besar dalam satuan ekor/trip, kg/trip, maupun kg/unit serta margin produksi yang meningkat signifikan sebesar 278,9% dalam ekor dan 354,6% dalam kg. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh perluasan catchable area dan desain satu pintu yang mengurangi peluang lolosnya tangkapan, sehingga krendet bertingkat satu pintu berpotensi menjadi alternatif teknologi penangkapan yang lebih efektif dan mendukung pemanfaatan sumber daya krustasea secara berkelanjutan.; This study was conducted in the waters of Palabuhanratu bay, which have high potential for crustacean resources, particularly swimming crabs and lobsters, with the objective of comparing the effectiveness of a single-door of the 2-deck cone hoop net and a traditional hoop net in improving catch performance. The research employed an experimental fishing method over 29 trips using a longline system, involving three units of traditional hoop net (80 cm diameter) and three units of single-door of the 2-deck cone hoop net (80 cm lower trap diameter and 60 cm upper trap diameter), all equipped with frozen bait boosters made from indian mackerel, squid, earthworms, and chicken eggs. Data collected included the number, weight, and carapace length of the catch, which were analyzed descriptively and tested using normality and Mann–Whitney tests at a 5% significance level. The results showed that the single-door of the 2-deck cone hoop net produced higher numbers and weights of crustacean catches compared to the traditional hoop net, with greater productivity in terms of individuals per trip, kilograms per trip, and kilograms per unit, as well as a significantly higher production margin increased significantly by 278,9% in individual and 354,6% in kg. This improvement is likely attributed to the expanded catchable area and the single-door design, which reduces the escape probability of the catch, indicating that the single-door of the 2-deck cone hoop net tiered krendet trap has strong potential as a more effective fishing technology to support sustainable crustacean resource utilization.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173003">
<title>Komunikasi Kolaboratif dalam Pengembangan Usaha Sosial Pertanian di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173003</link>
<description>Komunikasi Kolaboratif dalam Pengembangan Usaha Sosial Pertanian di Indonesia
Thirtawati
Kewirausahaan sosial pertanian di Indonesia menghadapi tantangan keberlanjutan yang bersumber dari lemahnya ekosistem kolaborasi lintas aktor. Petani kecil berhadapan dengan keterbatasan akses pasar, teknologi, dan modal, sementara usaha sosial yang hadir sebagai solusi kerap bergantung pada jaringan kolaboratif yang rapuh. Kajian yang ada selama ini lebih berfokus pada model bisnis dan dampak ekonomi, sementara dimensi komunikasi kolaboratif sebagai mekanisme pembentuk dan penstabil jaringan masih sangat kurang dieksplorasi. Penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis bagaimana komunikasi kolaboratif bekerja sebagai infrastruktur sosial-material yang membentuk, menstabilkan, dan mereproduksi jaringan dalam ekosistem kewirausahaan sosial pertanian.  Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengeksplorasi dan memahami bagaimana jaringan antaraktor terbentuk dan dimaknai oleh para pelaku dalam ekosistem kewirausahaan sosial pertanian di Indonesia; (2) mengeksplorasi bagaimana proses komunikasi kolaboratif dan translasi makna berlangsung di antara para aktor dalam pengembangan usaha sosial pertanian; (3) memahami bagaimana kolaborasi dan jaringan komunikasi antaraktor dimaknai oleh para pelaku dalam kaitannya dengan dampak sosial dan keberlanjutan usaha sosial pertanian; dan (4) mengkonstruksi pemahaman tentang strategi komunikasi kolaboratif yang relevan bagi para aktor untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan sosial pertanian, dalam konteks dimensi politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan regulasi (PESTLE).  &#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terjalin (embedded case study) pada dua kasus yaitu Usaha Sosial Kulaku Indonesia yang bergerak dalam pengolahan kelapa berbasis komunitas di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Nichoa Chocolate, usaha sosial berbasis kakao dengan pendekatan nilai tambah dan inovasi produk di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 18 informan kunci, observasi partisipatif pada 8 forum kewirausahaan sosial, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan secara integratif melalui empat pendekatan: Social Network Analysis (SNA) menggunakan UCINET 6.8 untuk memetakan struktur jaringan; Actor-Network Theory (ANT) untuk menganalisis proses translasi aktor; analisis tematik berbantuan NVivo untuk mengungkap dinamika komunikasi kolaboratif; dan analisis PESTLE untuk memetakan konteks eksternal.&#13;
Temuan utama dalam penelitian ini memperlihatkan: (1) Jaringan multi-aktor dengan usaha sosial sebagai obligatory passage point (OPP). Hasil SNA menunjukkan kedua usaha sosial menempati posisi sentral dengan betweenness centrality tinggi. Kulaku membangun jaringan terpusat berbasis komunitas lokal, sementara Nichoa mengembangkan jaringan tersebar berbasis pengetahuan dan inovasi. Perbedaan ini menghasilkan pola komunikasi yang berbeda yaitu relasional dan informal pada Kulaku, formal dan dimediasi artefak teknis pada Nichoa; (2) Proses translasi ANT mengkonstruksi jaringan secara aktif. Melalui tahapan problematization, interessement, enrolment, dan mobilization, kedua usaha sosial berhasil mengintegrasikan aktor manusia dan non-manusia ke dalam jaringan kolaboratif yang stabil. Aktor non-manusia, seperti standar fermentasi, SOP, sertifikasi, dan teknologi produksi menjadi media komunikasi yang mentranslasikan nilai dan komitmen usaha sosial; (3) Dialektika simultan antara struktur jaringan dan proses komunikasi kolaboratif, merupakan temuan paling sentral, di mana struktur jaringan dan proses komunikasi bukan bekerja secara sekuensial, melainkan saling membentuk secara simultan dan berulang. Aktor dengan centrality tinggi mendominasi negosiasi, di mana jaringan yang padat mempercepat pembentukan komitmen. Sebaliknya, setiap putaran siklus komunikasi mengubah konfigurasi jaringan. Hubungan dialektik ini terbukti secara empiris melalui perbandingan lintas kasus.  Temuan teakhir memperlihatkan bahwa kualitas kolaborasi menentukan besaran dan karakter dampak. Kulaku menghasilkan dampak sosial komunal yang meluas, berupa peningkatan kapasitas petani, pelibatan perempuan, beasiswa anak petani  dan dampak ekonomi melalui hilirisasi kelapa, sementara Nichoa menghasilkan dampak berorientasi transformasi kapasitas petani kakao dan akses pasar premium. &#13;
Penelitian ini menghasilkan model konseptual komunikasi kolaboratif dalam pengembangan usaha sosial pertanian.  Model terdiri dari lima komponen yang saling berinteraksi, yaitu: (1) anteseden jaringan melalui translasi ANT; (2) struktur jaringan terukur melalui SNA; (3) proses komunikasi kolaboratif yang siklikal; (4) dialektika simultan antara struktur dan proses; serta (5) dampak dan adaptasi terhadap konteks PESTLE. Seluruh komponen dimoderasi oleh konteks PESTLE sebagai variabel aktif. Model ini menawarkan kerangka analitis yang dapat diterapkan di luar kedua kasus yang diteliti.  Berdasarkan model konseptual dan analisis PESTLE, penelitian merumuskan strategi dalam tiga lapisan, yaitu: (1) penguatan jaringan aktor melalui desentralisasi komunikasi, aktivasi peluang jaringan dari dimensi PESTLE, dan pembangunan kepercayaan lintas lapisan; (2) optimalisasi proses komunikasi kolaboratif melalui institusionalisasi negosiasi, pemanfaatan strategis artefak non-manusia, dan mekanisme penilaian partisipatif; dan (3) adaptasi terhadap konteks PESTLE melalui komunikasi advokasi, komunikasi nilai, komunikasi inklusif digital, dan komunikasi keberlanjutan. Strategi ini bersifat kontekstual dan adaptif terhadap orientasi jaringan. &#13;
Penelitian ini membuktikan bahwa komunikasi kolaboratif dalam pengembangan usaha sosial pertanian merupakan infrastruktur sosial-material yang membentuk, menstabilkan, dan mereproduksi jaringan kolaborasi. Dialektika simultan antara struktur jaringan dan proses komunikasi adalah mekanisme yang dapat diamati dan diukur.  Tidak ada model kolaborasi yang berlaku universal, setiap model menghasilkan pola komunikasi dan dampak yang berbeda.  Keberlanjutan ekosistem usaha sosial pertanian ditentukan oleh kemampuan jaringan untuk merespons perubahan konteks PESTLE secara adaptif melalui rekonfigurasi struktur, praktik komunikasi, dan konfigurasi aktor.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
