<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/86">
<title>DF - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/86</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173820"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172994"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172594"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172579"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-09T08:46:17Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173820">
<title>DINAMIKA POPULASI STROMBUS SPP. SEPANJANG  GRADIEN EKOLOGIS PESISIR GUGUS PULAU BATAM:  INTEGRASI MORFOMETRIK, REPRODUKSI, DAN  KARAKTERISTIK HABITAT</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173820</link>
<description>DINAMIKA POPULASI STROMBUS SPP. SEPANJANG  GRADIEN EKOLOGIS PESISIR GUGUS PULAU BATAM:  INTEGRASI MORFOMETRIK, REPRODUKSI, DAN  KARAKTERISTIK HABITAT
Rahimah, Insaniah
Wilayah pesisir Indo-Pasifik merupakan pusat keanekaragaman hayati &#13;
moluska laut, termasuk kelompok keong laut Strombus spp. yang memiliki nilai &#13;
ekologis dan ekonomi penting bagi masyarakat pesisir. Di perairan Indonesia, &#13;
Strombus spp. berperan sebagai komponen kunci ekosistem padang lamun dan &#13;
substrat berpasir, sekaligus menjadi sumber daya perikanan tradisional yang rentan &#13;
terhadap tekanan eksploitasi dan perubahan lingkungan. Namun demikian, &#13;
pemahaman yang terintegrasi mengenai variasi morfologi, dinamika reproduksi, &#13;
serta keterkaitannya dengan kondisi lingkungan pada Strombus spp. masih terbatas &#13;
dan cenderung terfragmentasi.&#13;
Disertasi ini bertujuan untuk mengkaji variasi biologis Strombus spp. secara &#13;
komprehensif melalui pendekatan integratif yang mencakup analisis morfologi, &#13;
biologi reproduksi, dan hubungan lingkungan–biologi. Kajian diawali dengan &#13;
telaah sistematis literatur (Systematic Literature Review/SLR) untuk memetakan &#13;
perkembangan penelitian Strombus spp. di tingkat global, regional Indo-Pasifik, &#13;
dan nasional. Selanjutnya, penelitian lapangan dilakukan di beberapa pulau pesisir &#13;
dengan fokus pada tiga spesies utama, yaitu Laevistrombus canarium, &#13;
Laevistrombus turturella, dan Strombus canarium.&#13;
Analisis morfologi menunjukkan adanya variasi proporsi dan karakter &#13;
cangkang antar spesies dan antar lokasi, yang mencerminkan respons terhadap &#13;
kondisi habitat dan potensi adaptasi lokal. Kajian biologi reproduksi mengungkap &#13;
perbedaan strategi reproduksi antar spesies, yang tercermin dari pola Tingkat &#13;
Kematangan Gonad (TKG), variasi Gonadosomatic Index (GSI), fekunditas absolut, &#13;
serta ukuran pertama matang gonad (Lm50). L. canarium dan L. turturella&#13;
menunjukkan kapasitas reproduksi yang relatif lebih tinggi dan terstruktur secara &#13;
temporal, sedangkan S. canarium memperlihatkan aktivitas reproduksi yang lebih &#13;
terbatas. Perbandingan antara ukuran pertama matang gonad dan ukuran tangkap &#13;
menunjukkan bahwa sebagian populasi berpotensi mengalami tekanan eksploitasi &#13;
sebelum mencapai kematangan seksual.&#13;
Keterkaitan antara karakter morfometrik relatif dan kondisi lingkungan &#13;
dieksplorasi melalui pendekatan multivariat menggunakan Principal Component &#13;
Analysis (PCA). Sebelum analisis dilakukan, seluruh parameter morfometrik &#13;
dinormalisasi terhadap panjang cangkang (Shell Length/SL) untuk mengurangi &#13;
pengaruh ukuran tubuh absolut dan menekankan variasi bentuk cangkang relatif &#13;
antar individu dan spesies. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel morfometrik &#13;
relatif dan lingkungan membentuk gradien utama dalam ruang multivariat yang &#13;
merepresentasikan diferensiasi bentuk cangkang pada masing-masing habitat.&#13;
Secara keseluruhan, disertasi ini menunjukkan bahwa variasi biologis &#13;
Strombus spp. mencerminkan struktur morfometrik yang terbentuk sepanjang &#13;
gradien lingkungan pesisir. Hasil PCA secara konsisten mengidentifikasi dua &#13;
komponen utama, yaitu gradien konfigurasi proporsi morfologi relatif (PC1) yang &#13;
dibentuk oleh kombinasi beberapa parameter dimensi cangkang (SL, BWL, AL, &#13;
xii&#13;
SW, SD, MW), serta gradien bentuk morfologi (PC2) yang dikendalikan oleh trade off antara ketebalan bibir (LT) dan jumlah pusaran (WA). Distribusi spesies &#13;
menunjukkan pola diferensiasi yang jelas, dimana L. canarium cenderung &#13;
menunjukkan konfigurasi morfologi dengan perkembangan dimensi cangkang dan &#13;
bibir luar yang lebih dominan, S. canarium lebih terkait dengan karakter jumlah &#13;
pusaran dan struktur ulir, sementara L. turturella bersifat intermediet dengan &#13;
tingkat tumpang tindih yang tinggi. Secara spasial, pola ini membentuk gradien dari &#13;
kondisi yang relatif homogen di Pulau Galang hingga diferensiasi konfigurasi &#13;
morfometrik relatif yang lebih terstruktur di Pulau Panjang, yang mengindikasikan &#13;
bahwa variasi morfologi berkembang secara bertahap sebagai respons terhadap &#13;
heterogenitas habitat. Temuan ini menegaskan bahwa struktur morfometrik &#13;
Strombus spp. merupakan hasil integrasi respons jangka panjang terhadap kondisi &#13;
lingkungan, serta memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan sumber daya &#13;
pesisir.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172994">
<title>Reformulasi Tata Kelola Garam Nasional Berbasis Pemberdayaan Petambak Garam, Diversifikasi Produk Dan Kebijakan Afirmatif</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172994</link>
<description>Reformulasi Tata Kelola Garam Nasional Berbasis Pemberdayaan Petambak Garam, Diversifikasi Produk Dan Kebijakan Afirmatif
Kuswandono, Agung
Garam merupakan sumber daya alam strategis yang telah ditambang secara tradisional oleh masyarakat pesisir Indonesia selama berabad-abad, tetapi hingga kini, Petambak Garam belum menikmati kesejahteraan yang sepadan dengan peran vital mereka dalam produksi garam nasional. Pemerintah telah menetapkan target swasembada garam konsumsi dan industri, tetapi capaian hanya pada garam konsumsi. Petambak garam justru terpinggirkan dalam sistem tata kelola garam industri yang menuntut standar tinggi dan teknologi yang belum terjangkau.&#13;
&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pemberdayaan petambak garam melalui pendekatan interdisipliner yang mencakup analisis regulasi, pengelolaan wilayah pesisir (coastal management), pemetaan  stakeholder, dan identifikasi variabel kunci sistem. Data dikumpulkan melalui studi lapangan, wawancara mendalam, FGD, dan analisis dokumen kebijakan di wilayah penghasil garam pada lokasi studi yaitu Cirebon, Sumenep dan Buleleng. Analisis yang dilakukan meliputi analisis isi dan kesenjangan regulasi, analisis kebijakan tata guna lahan pesisir, analisis prospektif aktor dengan MACTOR, serta analisis faktor atau variabel kunci dengan analisis MICMAC. &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi nasional belum sepenuhnya berpihak pada petambak garam, RZWP3K belum mengatur zona tambak garam secara spesifik, dan relasi antar  stakeholder masih timpang. Diversifikasi produk garam rakyat—seperti garam spa, garam kesehatan, air distilasi, artemia, dan suvenir—terbukti memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petambak garam. Oleh karena itu, perlu disusun roadmap pemberdayaan petambak garam dalam tiga tahap: identifikasi dan pelatihan (jangka pendek), penguatan kelembagaan dan kawasan terpadu (jangka menengah), serta ekspansi pasar dan inovasi produk (jangka panjang).&#13;
&#13;
Penelitian ini merekomendasikan reformulasi kebijakan garam nasional yang lebih inklusif, berbasis komunitas, dan didukung oleh kebijakan afirmatif pasar institusional. Dengan pendekatan ini, garam rakyat tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga pilar ekonomi lokal yang berkelanjutan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172594">
<title>Stock Identification Of Leopard Coral Grouper (Plectropomus leopardus) And Orange-Spotted Grouper (Epinephelus coioides) In Saleh Bay: Implications For Capture Fisheries Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172594</link>
<description>Stock Identification Of Leopard Coral Grouper (Plectropomus leopardus) And Orange-Spotted Grouper (Epinephelus coioides) In Saleh Bay: Implications For Capture Fisheries Management
Darmawan, Regi
The delineation of grouper stocks in Saleh Bay is crucial for ensuring accurate &#13;
and sustainable fisheries management. Currently, Saleh Bay exhibits high species &#13;
diversity, with 21 grouper species identified. However, over the past five years, &#13;
increased fishing activity has led to overexploitation, necessitating conservation &#13;
measures. Grouper fishing takes place both inside and outside Saleh Bay, with the &#13;
catches being landed in Sumbawa Island. While data on fishing activities inside &#13;
Saleh Bay are well documented, information regarding fishing outside the bay, such &#13;
as in Sailus Island and Medang Island, remains limited. Therefore, comprehensive &#13;
catch recording is essential for future fisheries management. Additionally, it is &#13;
important to determine whether the grouper stocks caught inside and outside Saleh &#13;
Bay belong to the same population or are distinct. If they are separate populations, &#13;
differentiated management strategies must be implemented to ensure the &#13;
sustainability of grouper resources in the region. &#13;
The objectives of this study have been addressed to assess characteristics and &#13;
general condition of grouper fisheries in Saleh Bay, West Nusa Tenggara, Indonesia &#13;
(chapter 3 and chapter 4), to delineate the stock of leopard coral grouper (P. &#13;
leopardus) using various methods (morphology, fish parasite, and molecular &#13;
genetics) between Saleh Bay and Sailus Island (chapter 5), to identify the stock of &#13;
the orange-spotted grouper (E. coioides) using DNA barcoding in Saleh Bay, West &#13;
Nusa Tenggara, Indonesia (chapter 6), and to identify stock of orange-spotted &#13;
grouper (E. coioides) using fish parasites in Saleh Bay, West Nusa Tenggara, &#13;
Indonesia (chapter 7). &#13;
This study integrates multiple approaches to better understand the population &#13;
dynamics of grouper fisheries in Saleh Bay. Stock identification is conducted &#13;
through morphological analyses (morphometric-meristic), molecular genetics, and &#13;
fish parasites. Additionally, fisheries conditions in Saleh Bay are examined using &#13;
statistical modelling, including diversity indices, fish biological parameters, &#13;
exploitation levels, and factors affecting Catch Per Unit Effort (CPUE) using &#13;
Generalized Linear Models (GLMs). The findings of this research are expected to &#13;
provide valuable insights into the status of grouper stocks and the environmental &#13;
conditions in Saleh Bay. This information can serve as the foundation for &#13;
developing sustainable fisheries management strategies for the future. &#13;
By integrating morphometric, molecular genetics, and parasitological &#13;
evidence, this study demonstrates consistent stock differentiation between Saleh &#13;
Bay and adjacent comparison waters. For Plectropomus leopardus, morphometric &#13;
discrimination indicates pronounced separation between specimens from Saleh Bay &#13;
and Sailus Island, accompanied by different growth patterns both of localities. &#13;
These findings are substantiated by genetic analyses, which reveal subpopulation&#13;
level segregation between the two localities. Parasitological patterns further support &#13;
this differentiation: endoparasite assemblages differ markedly in both composition &#13;
and abundance, and these differences correspond with variation in stomach &#13;
contents, implying spatial heterogeneity in prey resources and trophic dynamics. In &#13;
Epinephelus coioides, evidence for localized population structure is indicated by &#13;
DNA barcoding, which places Saleh Bay individuals within a distinct geographic &#13;
cluster. This signal is consistent with parasitological results showing that parasite &#13;
communities in Saleh Bay form a discrete assemblage relative to those observed in &#13;
other waters. Therefore, based on three approaches provides support for &#13;
recognizing Saleh Bay populations of P. leopardus and E. coioides as distinct stock &#13;
units. Consequently, management interventions in Saleh Bay may be most effective &#13;
when implemented under a spatially explicit framework that treats the Saleh Bay as &#13;
an independent management unit to improve sustainable grouper fisheries &#13;
management. &#13;
Future research should prioritize broader spatiotemporal sampling, high&#13;
resolution population genomics, otolith-based tracers, and refined parasite &#13;
indicators to validate stock boundaries and mechanisms of differentiation. &#13;
Integrating movement ecology, reproductive dynamics, and trophic studies will &#13;
clarify demographic connectivity and local residency. Finally, implementing stock &#13;
structure into management strategy evaluation supported by socioeconomic &#13;
assessments will enable Saleh Bay to be managed as an effective, spatially explicit &#13;
unit for long-term grouper fisheries sustainability.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172579">
<title>Katir Mekanis Untuk Perahu = 5 GT di Palabuhanratu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172579</link>
<description>Katir Mekanis Untuk Perahu = 5 GT di Palabuhanratu
Malik, Fikri Rizky
Keberadaan perahu berkatir dengan outrigger atau katir berukuran = 5 GT di &#13;
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu menimbulkan permasalahan &#13;
serius terkait tata kelola kegiatan tambat labuh di kolam pelabuhan. &#13;
Permasalahannya terkait dengan konstruksi katir yang bersifat permanen dan &#13;
melebar di kedua sisi perahu, sehingga perahu membutuhkan area tambat yang &#13;
lebih luas dibandingkan perahu tanpa katir. Kondisi ini semakin diperparah dengan &#13;
jumlah perahu katir yang sangat banyak, yaitu 355 unit (PPN Palabuhanratu 2023). &#13;
Kolam Pelabuhan yang dipenuhi oleh perahu katir menyebabkan tata kelolanya &#13;
menjadi tidak efisien. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk &#13;
menyelesaikan permasalahan tersebut adalah memodifikasi konstruksi katir dengan &#13;
outrigger boom-nya yang dapat dipendekkan. &#13;
Katir dengan outrigger boom yang dapat dipendekkan dan dapat tetap &#13;
menjaga keseimbangan perahu ketika berada di dalam kolam pelabuhan belum &#13;
diteliti. Inovasi pemendekan outrigger boom untuk menghemat area tambat labuh &#13;
dengan tetap mempertimbangkan keselamatan nelayan dengan menggunakan teori &#13;
mitigasi risiko sangat diperlukan. Katir hasil inovasi akan memudahkan nelayan &#13;
saat tambat di pelabuhan dengan ruang yang sempit, menjaga stabilitas perahu &#13;
walaupun sedang dalam kondisi ditarik, dan aman karena bagian sambungan katir &#13;
hasil inovasi tetap mampu menahan hempasan gelombang laut ketika perahu &#13;
dioperasikan. &#13;
Inovasi katir ini akan dilakukan dengan menerapkan prinsip design &#13;
engineering yang diawali dengan mendefinisikan permasalahan yang terjadi &#13;
sebelum dan sesudah perubahan desain, penelusuran teori, perumusan desain, &#13;
pembuatan prototype, hingga uji coba. Penelitian menghasilkan rekomendasi &#13;
redesain katir mekanis dengan fitur utama bagian Outrigger boom yang dapat &#13;
ditarik mendekat ke badan perahu, dan dapat dibentangkan kembali. Dengan fitur &#13;
ini bagian outrigger boom pada konstruksi katir, dapat dipendekan ketika nelayan &#13;
melakukan kegiatan tambat labuh dan dapat dipanjangkan kembali ketika nelayan &#13;
ingin bermanufer keluar dari kolam pelabuhan menuju ke fishing ground. &#13;
hasil ujicoba roll decay dan simulasi dengan menggunakan aplikasi Maxsurf &#13;
(student version), membuktikan perahu katir dengan pemendekan ½ dari outrigger &#13;
boom dapat mempertahankan stabilitas perahunya. Hasil ujicoba material katir yang &#13;
digunakan pada katir mekanis ini juga terbukti mempunyai daya tahan yang baik &#13;
dan mampu bertahan pada lingkungan laut yang ekstrim. Inovasi katir mekanis &#13;
untuk perahu = 5 GT di Palabuhanratu, dapat menghemat area tambat labuh untuk &#13;
satu unit perahu katir menjadi 40,95 m2 (50% lebih kecil dari luas area tambat labuh &#13;
semula). Tentunya inovasi redesain katir mekanis untuk perahu = 5 GT di PPN &#13;
Palabuhanratu dapat bermanfaat bagi nelayan, pemilik perahu, dan juga bagi pihak &#13;
pengelola di PPN Palabuhanratu.; The presence of outrigger canoes or canoes = 5 GT at the Nusantara Fisheries &#13;
Port (PPN) Palabuhanratu poses a serious problem regarding the management of &#13;
mooring activities in the port basin. The problem is related to the permanent and &#13;
wide construction of the outriggers on both sides of the boat, which requires a larger &#13;
mooring area compared to boats without outriggers. This condition is further &#13;
exacerbated by the very large number of outrigger boats, which is 355 units (PPN &#13;
Palabuhanratu 2023). The harbour basin filled with outrigger boats made its &#13;
management inefficient. One alternative that can be done to solve this problem is &#13;
to modify the outrigger boom construction of the outrigger, which can be shortened. &#13;
Outrigger with a shortenable outrigger boom that maintain the boat's balance &#13;
in the harbour basin have not yet been studied. Therefore, innovation in shortening &#13;
the outrigger boom to save mooring areas while still considering the safety of &#13;
fishermen using risk mitigation theory is highly necessary. The innovation of the &#13;
outrigger will make it easier for fishermen to moor in narrow ports, maintain the &#13;
boat's stability even when being towed, and ensure safety because the outrigger's &#13;
innovative joint remains capable of withstanding the impact of ocean waves when &#13;
the boat is in operation. &#13;
This outrigger innovation will be carried out by applying design engineering &#13;
principles, starting with defining the problems that occur before and after the design &#13;
change, theoretical research, design formulation, prototype creation, and testing. &#13;
The research resulted in recommendations for redesigning the mechanical outrigger &#13;
with the main feature of outrigger boom section that can be retracted closer to the &#13;
boat's body and extended again. With this feature, the outrigger boom section on &#13;
the outrigger construction can be shortened when fishermen are anchoring and can &#13;
be extended again when fishermen want to manoeuvre out of the harbour basin &#13;
toward the fishing grounds. &#13;
The results of the roll decay test and simulation using the Maxsurf application &#13;
(student version) prove that outrigger boat with the supporting mast shortened by &#13;
½ can maintain its stability. The results of the outrigger material test used on this &#13;
mechanical outrigger also prove that it has adequate durability and can withstand &#13;
extreme marine environments. The innovation of mechanical outrigger for boats = &#13;
5 GT in Palabuhanratu can save mooring area for one outrigger boat unit by 40.95 &#13;
m² (50% smaller than the original mooring area). The innovation of redesigning &#13;
mechanical outrigger for vessels = 5 GT at the Palabuhanratu Fish Landing Site &#13;
(PPN) can benefit fishermen, vessel owners, and also the management at the &#13;
Palabuhanratu Fish Landing Site.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
