<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/86">
<title>DF - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/86</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177576"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177252"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175438"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173820"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-08T12:54:41Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177576">
<title>Strategi Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan Layang pada Kondisi Sumber Daya Ikan dan Habitat Terdegradasi di Laut Jawa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177576</link>
<description>Strategi Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan Layang pada Kondisi Sumber Daya Ikan dan Habitat Terdegradasi di Laut Jawa
Limbong, Mario
Laut Jawa yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 712 merupakan salah satu daerah penangkapan ikan (DPI) paling produktif dibandingkan wilayah pengelolaan perikanan lainnya di Indonesia. Kelompok sumber daya ikan demersal dan pelagis kecil menjadi hasil tangkapan utama di wilayah ini. Namun demikian, tingkat eksploitasi ikan pelagis kecil telah melampaui batas lestari (over-exploited), yang ditandai dengan tingginya tekanan penangkapan serta dominasi hasil tangkapan ikan yang belum matang gonad. Ikan layang (Decapterus spp.) merupakan spesies pelagis kecil yang dominan tertangkap di Laut Jawa, terdiri atas layang benggol (Decapterus russelli) dan layang deles (Decapterus macrosoma). Pemanfaatan kedua spesies tersebut telah berada pada tingkat jenuh, dengan kecenderungan biomassa yang menurun dan tingkat eksploitasi melampaui ambang optimal. Peningkatan jumlah trip dan lamanya waktu operasi penangkapan, yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan, mengindikasikan terjadinya degradasi daerah penangkapan ikan. Kondisi ini menegaskan urgensi pengelolaan perikanan layang yang berkelanjutan di Laut Jawa.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengkaji secara komprehensif pengelolaan daerah penangkapan ikan layang yang terdegradasi di Laut Jawa melalui tahapan analisis yang sistematis. Pertama, dilakukan kajian tingkat degradasi sumber daya ikan berdasarkan aspek biologi populasi. Kedua, dianalisis teknologi penangkapan dan tekanan penangkapan untuk mengidentifikasi potensi degradasi akibat aktivitas perikanan. Ketiga, dikaji karakteristik lingkungan perairan dan kondisi habitat secara spasial untuk mendeteksi indikasi degradasi habitat. Seluruh hasil analisis kemudian disintesis untuk menentukan status degradasi DPI dan merumuskan strategi pengelolaan yang efektif dan adaptif.&#13;
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara nelayan, observasi lapangan dan laboratorium, studi literatur, penginderaan jauh, Focus Group Discussion (FGD), dan brainstorming dengan para pemangku kepentingan. Analisis sumber daya ikan yang terdegradasi dilakukan secara deskriptif menggunakan metode pembobotan (scoring) pada parameter biologi. Tekanan penangkapan dianalisis berdasarkan penggunaan alat tangkap, nilai tangkapan lestari, serta upaya tangkap optimum. Karakteristik lingkungan dan degradasi habitat dievaluasi dengan mengacu pada baku mutu air laut untuk biota. Status degradasi DPI dianalisis menggunakan cluster analysis dan multiple discriminant analysis terhadap variabel sumber daya ikan, tekanan penangkapan, dan dinamika lingkungan. Model konseptual pengelolaan degradasi dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dan Soft System Methodology (SSM), sedangkan strategi prioritas pengelolaan DPI di perairan terdegradasi dirumuskan melalui Interpretive Structural Modelling (ISM).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat degradasi sumber daya layang benggol dan layang deles berada pada kategori degradasi sedang. Indikator utama degradasi ditunjukkan oleh tingginya proporsi ikan belum matang gonad (immature) dan dominannya ikan jantan dalam hasil tangkapan. Tekanan penangkapan yang berkontribusi terhadap degradasi ditentukan oleh intensitas penggunaan alat tangkap, pemanfaatan ruang laut yang padat, serta penurunan produktivitas penangkapan. Secara spasial, wilayah tengah dan timur Laut Jawa menunjukkan potensi degradasi yang relatif tinggi akibat akumulasi intensitas penangkapan dan kepadatan aktivitas perikanan. Sebaliknya, wilayah barat Laut Jawa yang berbatasan dengan WPPNRI 711 memiliki potensi degradasi relatif lebih rendah hingga sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa degradasi DPI layang bersifat spasial dan dinamis, dipengaruhi oleh konsentrasi aktivitas penangkapan pada wilayah tertentu.&#13;
Kualitas perairan Laut Jawa pada tahun 2024 secara umum masih berada dalam kisaran baku mutu untuk mendukung kehidupan biota laut dan habitat ikan layang. Namun, indikasi degradasi habitat ringan teridentifikasi di beberapa wilayah pesisir akibat peningkatan beban sedimen, terutama di perairan selatan Kalimantan. Hasil SEM menunjukkan bahwa faktor lingkungan habitat memiliki pengaruh lebih signifikan terhadap degradasi DPI layang dibandingkan tekanan penangkapan. Dengan demikian, dinamika lingkungan dan perubahan kualitas habitat menjadi faktor kunci dalam menentukan keberlanjutan daerah penangkapan ikan. Secara keseluruhan, degradasi DPI layang di Laut Jawa dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu degradasi ringan, sedang, dan berat. Klasifikasi ini menjadi dasar dalam penyusunan strategi pengelolaan yang terarah dan berbasis tingkat kerentanan wilayah.&#13;
Model konseptual DPI yang terdegradasi meliputi sistem pemantauan stok berbasis biologis, pengendalian upaya penangkapan, dan pemantauan lingkungan berbasis teknologi. Namun, kondisi nyata di lapangan masih menunjukkan adanya kesenjangan implementasi (implementation gap) yang signifikan, terutama dalam hal ketersediaan data ilmiah, penegakan hukum, integrasi teknologi, serta koordinasi antar pemangku kepentingan. Strategi pengelolaan DPI layang yang terdegradasi mencakup dimensi ekologis, teknis, sosial-ekonomi, kelembagaan, dan kebijakan, dengan melibatkan aktor-aktor kunci secara kolaboratif. Prioritas kebijakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai regulator meliputi: (1) pengendalian pencemaran laut; (2) pengaturan intensitas upaya penangkapan (fishing effort); (3) penanganan alternatif mata pencaharian; dan (4) penguatan data stok SDI.; The Java Sea, which is part of  Indonesian Fisheries Management Area (Indonesian FMA) 712, is one of the most productive fishing grounds among Indonesia’s fisheries management regions. Demersal and small pelagic fish resources constitute the dominant fishery commodities in this region. However, small pelagic fisheries have exceeded sustainable limits (over-exploited), as indicated by intense fishing pressure and the predominance of immature fish in the catches. Scads (Decapterus spp.) are among the most important small pelagic species harvested in the Java Sea, primarily consisting of indian scad (Decapterus russelli) and shortfin scad (Decapterus macrosoma). The exploitation of these species has reached, a saturated level, characterized by declining biomass and exploitation rates exceeding optimal thresholds. The increasing number of fishing trips and extended fishing duration, which are not proportional to the catch yields, indicate the degradation of fishing grounds. These conditions highlight the urgent need for sustainable management of scad fisheries management in the Java Sea.&#13;
This study aims to comprehensively assess the management of degraded scad fishing grounds in the Java Sea through a systematic analytical framework. First, the level of fish resource degradation was evaluated based on population biological parameters. Second, fishing technology and fishing pressure were analyzed to identify potential degradation resulting from fishing activities. Third, environmental characteristics and habitat conditions were examined spatially to detect indications of habitat degradation. The results of these analyses were subsequently synthesized to determine the degradation status of fishing grounds and to formulate effective and adaptive management strategies.&#13;
Data were collected through fishermen interviews, field and laboratory observations, literature review, remote sensing analysis, Focus Group Discussions (FGDs) and stakeholder brainstorming sessions. Fish resource degradation was analyzed descriptively using a scoring method based on biological parameters. Fishing pressure was assessed based on fishing gear utilization, maximum sustainable yield and optimum fishing effort. Environmental characteristics and habitat degradation were evaluated according to marine water-quality standards for aquatic biota. The degradation status of scad fishing grounds was analyzed using cluster analysis and multiple discriminant analysis, incorporating fish resource, fishing pressure, and environmental dynamics variables. The conceptual model of degradation management was analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) and Soft System Methodology (SSM), while management priorities were formulated using Interpretive Structural Modeling (ISM).&#13;
The results indicate that the degradation level of Indian scad and shortfin scad resources were classified as moderate. The primary indicators of degradation include a high proportion of immature fish and the dominance of male fish in the catch composition. Fishing pressure contributing to degradation is characterized by high fishing gear intensity, dense marine spatial utilization, and declining fishing productivity. Spatially, the central and eastern parts of the Java Sea exhibit relatively high degradation potential due to the accumulation of fishing intensity and dense fishing activities. In contrast, the western Java Sea, bordering Indonesian FMA 711, shows relatively low to moderate degradation potential. These findings demonstrate that scad fishing ground degradation is spatially dynamic and influenced by the concentration of fishing activities in specific areas.&#13;
The water quality of the Java Sea in 2024 generally remained within acceptable standards for supporting marine biota and scad habitats. Nevertheless indications of mild habitat degradation were identified in several coastal areas due to increased sediment loads, particularly in southern Kalimantan waters. SEM analysis revealed habitat environmental factors exerted a greater influence on scad fishing ground degradation than fishing pressure. Therefore, environmental dynamics and changes in habitat quality are key determinants of the sustainability of fishing grounds. Overall, scad fishing ground degradation in the Java Sea can be classified into three categories: mild, moderate, and severe degradation. This classification provides a basis for developing targeted management strategies based on regional vulnerability levels.&#13;
The conceptual model of a degraded fishing ground includes a biologically based stock monitoring, fishing effort control, and technology-based environmental monitoring systems. However, significant implementation gaps remain, particularly in the availability of scientific data, law enforcement, technology integration, and stakeholder coordination. The management strategy for degraded scad fishing grounds encompasses ecological, technical, socio-economic, institutional, and policy dimensions, and involve key actors working collaboratively. Policy priorities by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries as the regulator include: (1) marine pollution control; (2) regulation of fishing effort intensity; (3) provision of alternative livelihood; and (4) strengthening fish resource stock data.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177252">
<title>SMART CRAB HANDLING SYSTEM PADA KAPAL PENANGKAP RAJUNGAN</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177252</link>
<description>SMART CRAB HANDLING SYSTEM PADA KAPAL PENANGKAP RAJUNGAN
Wahab, Aulia Azhar
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu kontributor utama ekspor hasil perikanan Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir daya saing produk rajungan mengalami penurunan yang disebabkan oleh penurunan mutu hasil tangkapan, terutama pada tahap penanganan di atas kapal. Permasalahan umum yang dihadapi dalam perikanan skala kecil meliputi keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin, sanitasi yang kurang memadai, serta ketidakstabilan suhu selama proses penyimpanan. Selain itu, praktik perebusan rajungan di atas kapal menggunakan wadah terbuka berpotensi menimbulkan efek free surface yang dapat mengganggu stabilitas kapal dan membahayakan keselamatan awak. Kondisi ini menunjukkan perlunya suatu sistem terintegrasi yang mampu meningkatkan efisiensi penanganan, menjaga mutu produk, serta menjamin keselamatan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi Smart Crab Handling System (SCHS) sebagai sistem penanganan rajungan terintegrasi pada kapal penangkap rajungan skala kecil. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kapal dan praktik penanganan rajungan eksisting, merancang sistem penanganan rajungan berbasis palka pendingin hibrida es–termoelektrik/Peltier dengan pemantauan suhu berbasis Internet of Things (IoT), mengembangkan panci perebus bersirip peredam untuk mengurangi efek free surface, menganalisis pengaruh penerapan SCHS terhadap stabilitas kapal, serta mengevaluasi mutu rajungan berdasarkan parameter organoleptik, Angka Lempeng Total (ALT), dan Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N). Pendekatan yang digunakan adalah engineering design process yang meliputi observasi lapangan, wawancara, perancangan teknis, simulasi numerik, serta pengujian eksperimental. Analisis stabilitas kapal dilakukan menggunakan kurva lengan penegak (GZ), tinggi metasenter (GM), dan luas kurva stabilitas yang kemudian dibandingkan dengan kriteria International Maritime Organization (IMO). Sementara itu, mutu rajungan dianalisis melalui uji organoleptik, ALT, dan TVB-N. Kapal penangkap rajungan yang digunakan merupakan kapal bubu lipat berbahan kayu dengan dimensi relatif seragam, yaitu panjang 9,2–9,7 m, lebar 2,6–3,1 m, dan dalam 0,6–0,7 m. Kapal memiliki bentuk lambung U-bottom dan double pointed yang memberikan stabilitas transversal yang baik. Area kerja di atas kapal terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu buritan sebagai area navigasi, midship sebagai pusat operasi penangkapan, dan haluan sebagai area penanganan hasil tangkapan. Namun, keterbatasan ruang kerja dan fasilitas menyebabkan proses penanganan belum optimal. Smart Crab Handling System yang dikembangkan mengintegrasikan palka penyimpanan dengan sistem pendingin hibrida es–termoelektrik/Peltier yang dilengkapi sensor suhu berbasis Internet of Things (IoT), serta panci perebus yang dimodifikasi dengan penambahan sirip peredam untuk mengurangi pergerakan cairan. Sistem ini memungkinkan pemantauan suhu secara real time tanpa membuka palka, sehingga dapat menjaga stabilitas suhu dan mengurangi risiko kontaminasi. Stabilitas kapal menunjukkan bahwa penerapan SCHS tidak menurunkan kinerja stabilitas kapal. Nilai tinggi metasenter (GM), kurva GZ, dan parameter stabilitas lainnya tetap memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh IMO pada berbagai kondisi muatan. Modifikasi panci perebus terbukti mampu mengurangi efek free surface, sehingga meningkatkan keselamatan operasional selama proses perebusan di atas kapal. Dari aspek mutu, rajungan yang ditangani menggunakan SCHS menunjukkan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional. Nilai organoleptik berada pada kategori segar, sedangkan nilai ALT pada perlakuan SCHS cenderung lebih rendah. Nilai TVB-N pada kedua perlakuan masih berada jauh di bawah batas mutu dan tidak berbeda nyata secara statistik. Sistem pendinginan yang stabil berperan penting dalam mempertahankan kesegaran produk selama penyimpanan.; Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a high-value fisheries commodity and one of the major contributors to Indonesia’s fisheries export sector. However, in recent years, the competitiveness of blue swimming crab products has declined due to quality deterioration of the catch, particularly during onboard handling. Common problems faced in small-scale fisheries include limited cold storage facilities, inadequate sanitation, and unstable temperature conditions during storage. In addition, the onboard boiling practice using open containers may generate a free surface effect, which can disturb vessel stability and endanger crew safety. These conditions indicate the need for an integrated system that can improve handling efficiency, maintain product quality, and ensure operational safety. This study aimed to develop and evaluate the Smart Crab Handling System (SCHS) as an integrated blue swimming crab handling system for small-scale crab fishing vessels. Specifically, this study aimed to identify the characteristics of existing vessels and onboard crab handling practices, design a crab handling system based on a hybrid ice–thermoelectric/Peltier cooling fish hold equipped with Internet of Things (IoT)-based temperature monitoring, develop a finned boiling pan to reduce the free surface effect, analyze the influence of SCHS implementation on vessel stability, and evaluate crab quality based on organoleptic parameters, Total Plate Count (TPC), and Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N). The approach used in this study was the engineering design  process, which included field observation, interviews, technical design, numerical simulation, and experimental testing. Vessel stability was analyzed using the righting arm curve (GZ), metacentric height (GM), and the area under the stability curve, which were then compared with the criteria of the International Maritime Organization (IMO). Meanwhile, crab quality was analyzed through organoleptic testing, TPC, and TVB-N. The crab fishing vessel used in this study was a wooden collapsible trap vessel with relatively uniform dimensions, namely 9.2–9.7 m in length, 2.6–3.1 m in breadth, and 0.6–0.7 m in depth. The vessel had a U-bottom and double-pointed hull form, which provided good transverse stability. The working area on board was divided into three main sections: the stern as the navigation area, the midship as the main fishing operation area, and the bow as the catch handling area. However, limited working space and handling facilities caused the onboard handling process to remain suboptimal. The developed Smart Crab Handling System integrates a storage fish hold with a hybrid ice–thermoelectric/Peltier cooling system equipped with Internet of Things (IoT)-based temperature sensors, as well as a modified boiling pan with damping fins to reduce liquid movement. This system enables real-time temperature monitoring without opening the fish hold, thereby maintaining temperature stability and reducing the risk of contamination. The vessel stability analysis showed that SCHS implementation did not reduce the vessel’s stability performance. The metacentric height (GM), GZ curve, and other stability parameters still met the criteria established by the IMO under various loading conditions. The modified boiling pan was also shown to reduce the free surface effect, thereby improving operational safety during the onboard boiling process. In terms of quality, crabs handled using SCHS showed better quality than those handled using the conventional method. The organoleptic scores remained within the fresh category, while the TPC values in the SCHS treatment tended to be lower. The TVB-N values in both treatments remained far below the quality limit and were not statistically different. Stable cooling conditions played an important role in maintaining product freshness during storage.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175438">
<title>Evaluasi Persilangan Interpopulasi Ikan Hias Neon Tetra (Paracheirodon innesi) Asal Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175438</link>
<description>Evaluasi Persilangan Interpopulasi Ikan Hias Neon Tetra (Paracheirodon innesi) Asal Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat
Musthofa, Siti Zuhriyyah
Ikan hias neon tetra (Paracheirodon innesi) merupakan komoditas unggulan dalam perdagangan ikan hias internasional dan telah dibudidayakan secara intensif di Indonesia, dengan Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat sebagai salah satu sentra produksinya. Namun, praktik budidaya jangka panjang dengan penggunaan induk yang terbatas dan berkerabat dekat telah memicu penurunan kualitas genetik populasi, yang tercermin dari rendahnya kinerja reproduksi induk, pertumbuhan benih yang lambat dan tidak seragam, serta meningkatnya mortalitas. Kondisi ini menuntut strategi pemuliaan yang tepat dan berbasis ilmiah untuk menjamin keberlanjutan produksi neon tetra.&#13;
Disertasi ini bertujuan mengevaluasi persilangan interpopulasi ikan neon tetra (Paracheirodon innesi) asal Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat, untuk meningkatkan kinerja reproduksi dan mutu genetik pertumbuhan, melalui pendekatan pemuliaan yang terstruktur, meliputi karakterisasi sumber genetik, evaluasi persilangan interpopulasi, serta penerapan seleksi individu untuk perbaikan sifat pertumbuhan. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahapan utama yang saling terkait, di mana hasil setiap tahap digunakan sebagai dasar perancangan strategi pada tahap berikutnya.&#13;
Tahap pertama dari rangkaian penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat keragaman morfometrik dan molekuler ikan neon tetra dari tiga lokasi sentra budidaya di Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat (Bojongsari, Curug, dan Pondok Petir). Pendekatan truss morfometrik (25 karakter pengukuran) yang dianalisis menggunakan principal component analysis (PCA) menghasilkan tujuh komponen utama dengan nilai eigen &gt;1, yang mampu menjelaskan 74,38% variasi morfologi. Sementara itu, analisis penanda molekuler RAPD menggunakan tiga primer (OPB-10, OPC-05, dan OPW-02) menghasilkan 51 lokus polimorfik. Baik plot PCA maupun dendrogram RAPD menunjukkan pola pengelompokan yang sama, di mana populasi Bojongsari dan Pondok Petir memiliki kemiripan tinggi dan terpisah secara jelas dari klaster populasi Curug. Secara genetik, populasi Bojongsari menunjukkan tingkat polimorfisme dan heterozigositas tertinggi (58,82% dan 0,20), diikuti oleh Curug (49,02% dan 0,18) serta Pondok Petir (35,29% dan 0,14). Jarak genetik terjauh ditemukan antara populasi Curug dan Bojongsari (0,4138), sedangkan yang terdekat antara Pondok Petir dan Bojongsari (0,2883). Mengingat tingginya keragaman genetik dan jauhnya jarak genetik antara populasi Bojongsari dan Curug, keduanya merupakan kandidat induk yang potensial untuk digunakan dalam program pemuliaan melalui persilangan.&#13;
Tahap kedua bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas persilangan interpopulasi antara neon tetra asal Bojongsari dan Curug dalam meningkatkan kinerja reproduksi serta mutu genetik pertumbuhan benih generasi pertama (G1). Persilangan dilakukan secara resiprokal dengan sistem pemijahan berpasangan (1:1), dengan ulangan sebanyak 25 pasang induk. Parameter yang diamati meliputi keberhasilan pemijahan, fekunditas, derajat pembuahan, derajat penetasan, pertumbuhan benih, koefisien keragaman benih, serta estimasi nilai heterosis dan heritabilitas dalam arti luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan interpopulasi tidak menghasilkan efek heterosis positif, baik pada karakter reproduksi maupun pertumbuhan. Namun demikian, estimasi heritabilitas arti luas untuk karakter panjang tubuh tergolong moderat (H = 0,42), dengan prediks respons seleksi sebesar 0,13 cm per generasi. Hal ini menunjukkan bahwa komponen genetik aditif masih tersedia dan berpotensi dieksploitasi melalui program seleksi. Berdasarkan temuan tersebut, persilangan interpopulasi dinilai kurang efektif sebagai strategi utama perbaikan mutu genetik neon tetra, dan pendekatan seleksi direkomendasikan sebagai strategi lanjutan.&#13;
Penelitian dilanjutkan pada tahap ketiga dengan menerapkan seleksi individu pada populasi G1 untuk meningkatkan mutu genetik secara kumulatif. Seleksi difokuskan pada karakter pertumbuhan panjang tubuh sebagai karakter utama yang bernilai ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja reproduksi induk G1 dan mutu genetik pertumbuhan ikan neon tetra generasi kedua (G2) hasil seleksi. Induk ikan yang digunakan merupakan hasil seleksi dari tahapan penelitian sebelumnya, secara keseluruhan sebagai gene pool baru, dengan panjang total 3,37 ± 0,04 cm dan bobot tubuh 0,47 ± 0,08 g. Metode seleksi yang digunakan yaitu seleksi individu pada benih G2, dengan cut off seleski 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk neon tetra generasi pertama (G1) menghasilkan performa reproduksi yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, terutama pada parameter keberhasilan memijah dan fekunditas. Estimasi parameter genetik menghasilkan nilai diferensial seleksi (S) sebesar 0,31 cm, respons seleksi (R) sebesar 0,04 cm, heritabilitas nyata (h²) sebesar 0,13, dan genetic gain sebesar 1,5%. Meskipun heritabilitas nyata dan respons seleksi tergolong rendah, seleksi individu masih efektif dalam mengakumulasi gen-gen aditif yang menguntungkan. Hasil ini mengonfirmasi bahwa seleksi menghasilkan kemajuan genetik yang stabil dan terukur.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan mutu genetik ikan neon tetra budidaya di Kecamatan Bojongsari lebih efektif dicapai melalui pendekatan seleksi dibandingkan dengan persilangan interpopulasi. Kombinasi rendahnya keragaman genetik populasi dasar, kegagalan eksploitasi heterosis, serta keberhasilan seleksi menegaskan bahwa strategi pemuliaan neon tetra perlu difokuskan pada pemanfaatan varians genetik aditif. Populasi hasil seleksi dalam penelitian ini berpotensi menjadi populasi dasar yang lebih stabil untuk program pemuliaan jangka panjang, sekaligus mendukung peningkatan produktivitas, kualitas benih, dan keberlanjutan industri ikan hias nasional.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173820">
<title>DINAMIKA POPULASI STROMBUS SPP. SEPANJANG  GRADIEN EKOLOGIS PESISIR GUGUS PULAU BATAM:  INTEGRASI MORFOMETRIK, REPRODUKSI, DAN  KARAKTERISTIK HABITAT</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173820</link>
<description>DINAMIKA POPULASI STROMBUS SPP. SEPANJANG  GRADIEN EKOLOGIS PESISIR GUGUS PULAU BATAM:  INTEGRASI MORFOMETRIK, REPRODUKSI, DAN  KARAKTERISTIK HABITAT
Rahimah, Insaniah
Wilayah pesisir Indo-Pasifik merupakan pusat keanekaragaman hayati &#13;
moluska laut, termasuk kelompok keong laut Strombus spp. yang memiliki nilai &#13;
ekologis dan ekonomi penting bagi masyarakat pesisir. Di perairan Indonesia, &#13;
Strombus spp. berperan sebagai komponen kunci ekosistem padang lamun dan &#13;
substrat berpasir, sekaligus menjadi sumber daya perikanan tradisional yang rentan &#13;
terhadap tekanan eksploitasi dan perubahan lingkungan. Namun demikian, &#13;
pemahaman yang terintegrasi mengenai variasi morfologi, dinamika reproduksi, &#13;
serta keterkaitannya dengan kondisi lingkungan pada Strombus spp. masih terbatas &#13;
dan cenderung terfragmentasi.&#13;
Disertasi ini bertujuan untuk mengkaji variasi biologis Strombus spp. secara &#13;
komprehensif melalui pendekatan integratif yang mencakup analisis morfologi, &#13;
biologi reproduksi, dan hubungan lingkungan–biologi. Kajian diawali dengan &#13;
telaah sistematis literatur (Systematic Literature Review/SLR) untuk memetakan &#13;
perkembangan penelitian Strombus spp. di tingkat global, regional Indo-Pasifik, &#13;
dan nasional. Selanjutnya, penelitian lapangan dilakukan di beberapa pulau pesisir &#13;
dengan fokus pada tiga spesies utama, yaitu Laevistrombus canarium, &#13;
Laevistrombus turturella, dan Strombus canarium.&#13;
Analisis morfologi menunjukkan adanya variasi proporsi dan karakter &#13;
cangkang antar spesies dan antar lokasi, yang mencerminkan respons terhadap &#13;
kondisi habitat dan potensi adaptasi lokal. Kajian biologi reproduksi mengungkap &#13;
perbedaan strategi reproduksi antar spesies, yang tercermin dari pola Tingkat &#13;
Kematangan Gonad (TKG), variasi Gonadosomatic Index (GSI), fekunditas absolut, &#13;
serta ukuran pertama matang gonad (Lm50). L. canarium dan L. turturella&#13;
menunjukkan kapasitas reproduksi yang relatif lebih tinggi dan terstruktur secara &#13;
temporal, sedangkan S. canarium memperlihatkan aktivitas reproduksi yang lebih &#13;
terbatas. Perbandingan antara ukuran pertama matang gonad dan ukuran tangkap &#13;
menunjukkan bahwa sebagian populasi berpotensi mengalami tekanan eksploitasi &#13;
sebelum mencapai kematangan seksual.&#13;
Keterkaitan antara karakter morfometrik relatif dan kondisi lingkungan &#13;
dieksplorasi melalui pendekatan multivariat menggunakan Principal Component &#13;
Analysis (PCA). Sebelum analisis dilakukan, seluruh parameter morfometrik &#13;
dinormalisasi terhadap panjang cangkang (Shell Length/SL) untuk mengurangi &#13;
pengaruh ukuran tubuh absolut dan menekankan variasi bentuk cangkang relatif &#13;
antar individu dan spesies. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel morfometrik &#13;
relatif dan lingkungan membentuk gradien utama dalam ruang multivariat yang &#13;
merepresentasikan diferensiasi bentuk cangkang pada masing-masing habitat.&#13;
Secara keseluruhan, disertasi ini menunjukkan bahwa variasi biologis &#13;
Strombus spp. mencerminkan struktur morfometrik yang terbentuk sepanjang &#13;
gradien lingkungan pesisir. Hasil PCA secara konsisten mengidentifikasi dua &#13;
komponen utama, yaitu gradien konfigurasi proporsi morfologi relatif (PC1) yang &#13;
dibentuk oleh kombinasi beberapa parameter dimensi cangkang (SL, BWL, AL, &#13;
xii&#13;
SW, SD, MW), serta gradien bentuk morfologi (PC2) yang dikendalikan oleh trade off antara ketebalan bibir (LT) dan jumlah pusaran (WA). Distribusi spesies &#13;
menunjukkan pola diferensiasi yang jelas, dimana L. canarium cenderung &#13;
menunjukkan konfigurasi morfologi dengan perkembangan dimensi cangkang dan &#13;
bibir luar yang lebih dominan, S. canarium lebih terkait dengan karakter jumlah &#13;
pusaran dan struktur ulir, sementara L. turturella bersifat intermediet dengan &#13;
tingkat tumpang tindih yang tinggi. Secara spasial, pola ini membentuk gradien dari &#13;
kondisi yang relatif homogen di Pulau Galang hingga diferensiasi konfigurasi &#13;
morfometrik relatif yang lebih terstruktur di Pulau Panjang, yang mengindikasikan &#13;
bahwa variasi morfologi berkembang secara bertahap sebagai respons terhadap &#13;
heterogenitas habitat. Temuan ini menegaskan bahwa struktur morfometrik &#13;
Strombus spp. merupakan hasil integrasi respons jangka panjang terhadap kondisi &#13;
lingkungan, serta memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan sumber daya &#13;
pesisir.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
