<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85">
<title>DT - Economic and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173440"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173234"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173211"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173209"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-23T15:26:29Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173440">
<title>Konversi Lahan Kopi ke Kelapa Sawit dan Strategi Mata Pencaharian Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Provinsi Lampung</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173440</link>
<description>Konversi Lahan Kopi ke Kelapa Sawit dan Strategi Mata Pencaharian Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Provinsi Lampung
Hernanda, Tiara Aprilia Putri
Konversi lahan merupakan salah satu dinamika spasial paling signifikan dalam pembangunan wilayah perdesaan di Indonesia, khususnya pada sektor perkebunan.  Di Provinsi Lampung, ekspansi kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional telah mendorong alih fungsi lahan dari komoditas unggulan daerah, salah satunya kopi robusta, menuju sistem monokultur kelapa sawit rakyat.  Fenomena ini tidak hanya merepresentasikan perubahan tutupan dan penggunaan lahan secara fisik, tetapi juga mencerminkan restrukturisasi ekonomi wilayah, perubahan struktur mata pencaharian rumah tangga petani, serta pergeseran konfigurasi sosial-ekologis perdesaan.  Dalam perspektif perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan, konversi lahan kopi ke kelapa sawit perlu dipahami secara komprehensif dengan mengintegrasikan dimensi spasial, determinan struktural, serta implikasinya terhadap keberlanjutan penghidupan rumah tangga.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi pola spasial dan dinamika perubahan penggunaan lahan dari kopi ke kelapa sawit di Provinsi Lampung; (2) menganalisis determinan yang mendorong konversi lahan; (3) memprediksi tingkat keberlanjutan mata pencaharian rumah tangga petani kelapa sawit hasil konversi; serta (4) merumuskan strategi usahatani kelapa sawit rakyat berkelanjutan berbasis diferensiasi wilayah.  Wilayah studi difokuskan pada Kabupaten Way Kanan sebagai salah satu sentra kopi robusta sekaligus wilayah dengan perkembangan kelapa sawit rakyat yang progresif dan memungkinkan koeksistensi agroekologis kedua komoditas tersebut.&#13;
Penelitian ini disusun dalam format kumpulan esai yang terintegrasi melalui pendekatan stitching strategy.  Esai pertama menganalisis dinamika spasial konversi lahan menggunakan penginderaan jauh dan analisis sistem informasi geografis (GIS) untuk mengidentifikasi pola persebaran konversi berdasarkan aksesibilitas, topografi, dan karakteristik wilayah.  Hasil analisis menunjukkan bahwa konversi lahan cenderung terjadi pada wilayah dengan aksesibilitas tinggi, kemiringan lereng rendah–sedang, serta kedekatan dengan infrastruktur jalan dan pusat pengolahan. Pola ini mengindikasikan bahwa rasionalitas ekonomi dan kemudahan distribusi menjadi pertimbangan utama dalam keputusan alih komoditas.&#13;
Esai ke dua mengkaji struktur determinan konversi lahan menggunakan pendekatan MICMAC (Matrice d’Impacts Croisés Multiplication Appliquée à un Classement).  Analisis ini mengidentifikasi variabel kunci dengan daya pengaruh tinggi terhadap sistem konversi, antara lain harga komoditas, nilai land rent, akses pasar, dukungan kelembagaan, dan kapasitas modal rumah tangga.  Hasil pemetaan menunjukkan bahwa faktor ekonomi, khususnya insentif harga dan potensi peningkatan pendapatan, berfungsi sebagai variabel penggerak utama (driving variables), sementara faktor sosial dan kelembagaan berperan sebagai variabel penghubung yang memperkuat atau melemahkan keputusan konversi. Struktur sistem tersebut memperlihatkan bahwa konversi lahan merupakan hasil interaksi antara tekanan ekonomi makro, dinamika kebijakan, serta kapasitas adaptif rumah tangga.&#13;
Esai ke tiga memodelkan implikasi konversi lahan terhadap keberlanjutan mata pencaharian rumah tangga petani menggunakan metode Bayesian Belief Network (BBN). Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya menangani ketidakpastian dan memodelkan hubungan probabilistik antarvariabel. Kerangka analisis mengacu pada lima modal utama, yaitu modal manusia, finansial, sosial, fisik, dan alam. Hasil simulasi menunjukkan bahwa keberlanjutan penghidupan sangat dipengaruhi oleh kinerja ekonomi usahatani, diversifikasi sumber pendapatan, serta kapasitas adaptif rumah tangga dalam menghadapi fase belum produktif tanaman kelapa sawit.  Pada fase transisi, rumah tangga cenderung mengalami kerentanan pendapatan akibat jeda produksi, sehingga strategi diversifikasi dan penguatan modal manusia menjadi krusial.  Analisis sensitivitas dan inferensi balik menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas, kapasitas manajerial, serta akses pembiayaan dan pasar meningkatkan probabilitas keberlanjutan livelihood pada kategori tinggi.  Sebaliknya, ketergantungan tunggal pada kelapa sawit meningkatkan risiko kerentanan jangka panjang, terutama akibat fluktuasi harga global.  Temuan ini menegaskan bahwa keberlanjutan sawit rakyat tidak semata ditentukan oleh luasan lahan, melainkan oleh kualitas pengelolaan, kapasitas rumah tangga, dan dukungan kelembagaan.&#13;
Berdasarkan sintesis temuan spasial, struktural, dan probabilistik, penelitian ini merumuskan strategi tata kelola transisi penggunaan lahan berbasis diferensiasi wilayah, meliputi pengendalian konversi pada wilayah lindung dan lereng tinggi, penguatan intensifikasi berbasis good agricultural practices (GAP) pada wilayah produktif, pengembangan diversifikasi usaha pada fase transisi, serta penguatan kelembagaan dan akses pembiayaan. Pendekatan ini menegaskan bahwa kebijakan seragam tidak efektif dalam konteks heterogenitas spasial dan sosial perdesaan.&#13;
Secara konseptual, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka Theory of Change berbasis lokasi yang menghubungkan dinamika spasial, determinan struktural, mekanisme keputusan rumah tangga, dan keberlanjutan penghidupan. Secara metodologis, integrasi analisis spasial, MICMAC, dan Bayesian Belief Network menjembatani analisis makro–mikro dalam perencanaan wilayah. Secara praktis, hasil penelitian ini menjadi dasar perumusan kebijakan pengelolaan penggunaan lahan dan pengembangan sawit rakyat berkelanjutan di Provinsi Lampung, sehingga konversi lahan dipahami sebagai proses transformasi wilayah yang memerlukan intervensi terencana untuk memastikan keberlanjutan pembangunan perdesaan jangka panjang.; Land conversion constitutes one of the most consequential spatial processes shaping rural transformation in Indonesia, particularly within the plantation sector.  In Lampung Province, the expansion of oil palm as a nationally strategic commodity has accelerated the conversion of robusta coffee historically a dominant regional crop into smallholder oil palm monoculture systems.  This transition extends beyond physical land-use change; it reflects broader regional economic restructuring, shifts in household livelihood configurations, and reorganisation of rural socio-ecological systems.  From a regional and rural planning perspective, coffee to oil palm conversion must therefore be examined through an integrated framework that links spatial dynamics, structural determinants, and implications for household livelihood sustainability.&#13;
This dissertation aims to: (1) identify spatial patterns and trajectories of land-use change from coffee to oil palm in Lampung Province; (2) analyse the structural determinants driving land conversion; (3) predict livelihood sustainability among smallholder oil palm households following conversion; and (4) formulate differentiated regional strategies for sustainable smallholder oil palm development.  The empirical focus is Way Kanan Regency, a traditional robusta coffee production centre that has experienced rapid oil palm expansion, creating conditions for agro-ecological coexistence and commodity transition.&#13;
The dissertation adopts an integrated essay-based structure using a stitching strategy to connect macro-level spatial analysis with micro-level household modelling.  The first essay examines spatial conversion dynamics using remote sensing and Geographic Information Systems (GIS).  Conversion patterns are analysed in relation to accessibility, slope gradients, and regional characteristics.  The findings indicate that conversion predominantly occurs in highly accessible areas with low to moderate slopes and proximity to infrastructure and processing facilities, underscoring the central role of market integration and economic rationality in commodity transition decisions.&#13;
The second essay investigates the structural configuration of conversion determinants using the MICMAC (Matrice d’Impacts Croisés Multiplication Appliquée à un Classement) approach.  The analysis identifies key driving variables, including commodity prices, land rent differentials, market access, institutional support, and household capital capacity.  Economic incentives particularly price signals and expected income gains emerge as dominant drivers, while social and institutional factors operate as linkage variables that reinforce or constrain household decisions.  The resulting system structure demonstrates that land conversion is not merely an individual economic choice but an outcome of interactions among macroeconomic pressures, policy dynamics, and household adaptive capacity.&#13;
The third essay models the implications of land conversion for household livelihood sustainability using a Bayesian Belief Network (BBN).  This probabilistic framework captures uncertainty and interdependencies among human, financial, social, physical, and natural capital.  Simulation results indicate that livelihood sustainability is strongly influenced by farm performance, income diversification, and adaptive capacity during the immature phase of oil palm production.  The transition period generates temporary income vulnerability due to production gaps, making diversification and human capital strengthening critical stabilisation mechanisms.  Sensitivity and backward inference analyses show that productivity enhancement, managerial capacity improvement, and improved access to finance and markets significantly increase the probability of achieving high livelihood sustainability.  Conversely, reliance on oil palm as a single income source increases long-term vulnerability, particularly under global price volatility.  These findings suggest that smallholder oil palm sustainability depends less on land size than on management quality, institutional embeddedness, and adaptive capacity.&#13;
Synthesising spatial, structural, and probabilistic evidence, this research proposes a differentiated land-use transition governance framework.  Strategic recommendations include regulating conversion in environmentally sensitive and high-slope areas, promoting intensification through Good Agricultural Practices (GAP) in suitable zones, supporting on- and off-farm diversification during transition phases, and strengthening farmer institutions and financial access.  The differentiated approach highlights the limitations of uniform policy instruments in spatially and socially heterogeneous rural contexts.&#13;
Conceptually, this dissertation advances a place-based Theory of Change integrating spatial dynamics, structural drivers, household decision-making mechanisms, and livelihood sustainability outcomes within a unified regional planning framework. Methodologically, the integration of spatial analysis, MICMAC structural modelling, and Bayesian probabilistic simulation bridges macro-level regional planning and micro-level household livelihood analysis.  Practically, the findings provide an evidence-based foundation for land-use governance and sustainable smallholder oil palm development in Lampung Province, positioning land conversion as a structural regional transformation requiring context-sensitive planning interventions to ensure long-term rural sustainability.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173234">
<title>Strategi Pengembangan Minawisata Berkelanjutan di Kawasan Konservasi Perairan Gili Matra Provinsi Nusa Tenggara Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173234</link>
<description>Strategi Pengembangan Minawisata Berkelanjutan di Kawasan Konservasi Perairan Gili Matra Provinsi Nusa Tenggara Barat
Widianto, Arief
Kawasan Konservasi Perairan Gili Matra memiliki fungsi ganda, sebagai kawasan konservasi ekosistem, tapi tertekan dari keberlanjutan ekologis dan sosial akibat meningkatnya wisata. Estimasi nilai ekonomi ekowisata KKP Gili Matra dihitung dengan Metode TCM. Analisis berkelanjutan mencakup lima dimensi ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan infrastruktur menggunakan metode MDS RAPFISH, Estimasi nilai ekonomi ekowisata lebih dari Rp 4,3 triliun (USD 270,55 juta) per tahun. Tingkat keberlanjutan menunjukkan bahwa aspek kelembagaan (63,83), infrastruktur (58,32), dan ekonomi (56,53) cukup berkelanjutan, sedangkan aspek ekologis (44,91) dan sosial (45,26) kurang berkelanjutan. Strategi pengembangan ekowisata berkelanjutan di kawasan Gili Matra perlu diarahkan pada penguatan aspek ekologis dan sosial melalui peningkatan pengelolaan lingkungan, pengendalian aktivitas wisata berdasarkan daya dukung kawasan, peningkatan partisipasi masyarakat lokal, serta penguatan kelembagaan pengelolaan kawasan konservasi.; Gili Matra Marine Conservation Area has dual functions, as a center for marine ecosystem conservation as well as a ecotourism destination. Although ecotourism contributes significantly to the economy of local communities, the area faces challenges in maintaining ecological and social sustainability due to increased tourism activities. This study evaluates the economic value of ecotourism in the Gili Matra Island Conservation Area using the Travel Cost Method (TCM) to formulate a sustainable ecotourism development strategy by considering five main aspects; ecology, economy, social, institutions and infrastructure. The status of sustainability was conducted using the Multi Dimensional Scaling (MDS) method modified from RAPFISH, Leverage analysis and Monte Carlo. The economic valuation analysis show that estimated total economic contribution of the region reaching more than Rp 4.33 trillion per year. The results sustainability level for the study area indicated that the institutional (63.83), infrastructure (58.32) and economic (56.53) aspects were moderately sustainable, while the ecological (44.91) and social (45.26) aspects were less sustainable. The findings confirm the need for integrative policies that emphasize strengthening ecological and social aspects, accompanied by infrastructure and institutional support.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173211">
<title>Analisis Rantai Nilai Global Udang Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173211</link>
<description>Analisis Rantai Nilai Global Udang Indonesia
Rostwentivaivi, Vela
Udang merupakan salah satu komoditas strategis pada sektor perikanan Indonesia yang memiliki peran penting dalam perdagangan global, peningkatan devisa negara, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi nasional. Sebagai salah satu produsen dan eksportir utama dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri udang, baik untuk pasar domestik maupun internasional. Namun demikian, posisi Indonesia dalam rantai nilai global udang masih menghadapi tantangan struktural, kelembagaan, dan daya saing. Struktur industri udang nasional masih didominasi oleh ekspor produk primer, khususnya udang beku, sementara distribusi nilai tambah terbesar dinikmati oleh sektor pengolahan dan eksportir. Di sisi hulu, petambak sebagai aktor utama produksi masih menghadapi kendala seperti tingginya biaya pakan, keterbatasan benur unggul, rendahnya adopsi teknologi, serangan penyakit, lemahnya akses pembiayaan, serta posisi tawar yang rendah dalam sistem pemasaran. Sementara itu, pada sisi hilir, industri udang Indonesia juga menghadapi tekanan berupa standar internasional yang semakin ketat, hambatan non-tarif seperti Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan Technical Barriers to Trade (TBT), serta persaingan global yang semakin kompetitif. Kondisi tersebut menunjukan perlunya transformasi menyeluruh melalui penguatan rantai nilai global yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.&#13;
Melihat kondisi dan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis rantai nilai global udang Indonesia secara komprehensif melalui enam dimensi utama, yaitu struktur rantai nilai, aktor rantai nilai, kelembagaan, tata kelola, cakupan geografis, dan upgrading rantai nilai. Penelitian ini secara khusus bertujuan memetakan struktur dan aktor yang terlibat dalam rantai nilai global udang Indonesia, menganalisis kelembagaan dan tata kelola yang membentuk hubungan antaraktor, mengevaluasi daya saing udang Indonesia dan potensi perdagangan udang Indonesia di pasar global serta merumuskan strategi upgrading kinerja rantai nilai untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam GVC udang dunia. Penelitian dilakukan di dua wilayah utama produksi, yaitu Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Kebumen dengan menggunakan kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Analisis dilakukan melalui pemetaan rantai nilai, pengukuran margin pemasaran antaraktor, analisis tata kelola berbasis kompleksitas transaksi, kodifikasi informasi, dan kapabilitas pemasok, serta analisis daya saing menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamics (EPD), X-model, regresi data panel, dan analisis potensi perdagangan.&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa aktor rantai nilai global udang Indonesia terdiri atas petambak, pedagang besar, pedagang pengecer, industri pengolahan, eksportir, serta konsumen domestik dan internasional. Dalam aktor rantai nilai udang, petambak berperan sebagai produsen utama, namun nilai tambah yang diperoleh relatif lebih rendah dibandingkan aktor hilir seperti industri pengolahan dan eksportir. Nilai tambah terbesar terkonsentrasi pada sektor hilir karena kemampuan pengolahan, standarisasi mutu, akses pasar ekspor, serta penguasaan informasi pasar global. Temuan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih cenderung berada pada posisi produksi berbasis komoditas primer dengan keterbatasan di tingkat hulu. Ketimpangan distribusi nilai tambah ini menegaskan bahwa petambak masih menghadapi keterbatasan dalam menangkap manfaat ekonomi yang lebih besar dari rantai nilai global.&#13;
 &#13;
Penelitian menunjukkan pola tata kelola rantai nilai udang Indonesia cenderung modular. Petambak memiliki ketergantungan tinggi terhadap pedagang dalam akses pembiayaan, pemasaran, dan informasi pasar, sehingga posisi tawar petambak cenderung lemah. Kelembagaan formal seperti sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) serta standar ekspor internasional telah tersedia, namun implementasinya belum merata, khususnya pada petambak skala kecil dan menengah. Fragmentasi kelembagaan, lemahnya organisasi kolektif seperti koperasi, serta keterbatasan koordinasi antaraktor menyebabkan integrasi petambak ke pasar global belum optimal. Dengan demikian, penguatan kelembagaan menjadi faktor penting untuk memperbaiki posisi tawar dan kapasitas adaptif petambak dalam memenuhi standar global.&#13;
Pada dimensi cakupan geografis, penelitian memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki daya saing global yang relatif kuat di beberapa pasar utama, terutama Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Asia. Meskipun demikian, ekspor Indonesia masih sangat terkonsentrasi pada pasar tertentu, khususnya Amerika Serikat, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap perubahan kebijakan perdagangan, fluktuasi permintaan, dan tekanan persaingan. Analisis daya saing dan aliran perdagangan menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor ke negara-negara potensial lainnya melalui strategi diversifikasi pasar. Faktor-faktor seperti GDP, jarak ekonomi, populasi, hambatan perdagangan dan daya saing terbukti memengaruhi aliran ekspor udang Indonesia. Oleh karena itu, penguatan posisi geografis perdagangan tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga strategi penetrasi pasar yang lebih adaptif dan terdiversifikasi.&#13;
Penelitian menegaskan bahwa strategi upgrading rantai nilai udang menjadi kunci utama dalam meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Process upgrading perlu dilakukan melalui penerapan Good Aquaculture Practices (GAP), penguatan CBIB, penggunaan benur unggul, efisiensi pakan, biosekuriti, dan modernisasi teknologi budi daya. Product upgrading dilakukan melalui diversifikasi produk olahan bernilai tambah tinggi agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor udang beku. Functional upgrading diarahkan pada peningkatan kapasitas petambak melalui penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, serta keterlibatan lebih besar dalam proses distribusi dan pemasaran. Sementara itu, chain upgrading dapat dilakukan dengan perluasan pasar ekspor yang baru. Kombinasi keempat bentuk upgrading tersebut menjadi landasan strategis dalam meningkatkan daya saing, nilai tambah domestik, dan kesejahteraan aktor rantai nilai.&#13;
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam rantai nilai global udang, namun posisinya masih belum optimal dalam penciptaan dan distribusi nilai tambah. Penguatan daya saing nasional memerlukan transformasi struktural yang tidak hanya berfokus pada peningkatan peningkatan produksi, tetapi pada penguatan sektor hulu, modernisasi teknologi, perbaikan kelembagaan, hilirisasi industri, dan diversifikasi pasar ekspor. Dengan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan volume produksi dan ekspor, tetapi memperkuat nilai tambah domestik, meningkatkan kesejahteraan petambak, serta membangun industri udang nasional yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika perdagangan global.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173209">
<title>Pengaruh Perubahan Iklim dan Kapasitas Adaptasi Petani Terhadap Produksi dan Efisiensi Teknis Usahatani Padi di Provinsi Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173209</link>
<description>Pengaruh Perubahan Iklim dan Kapasitas Adaptasi Petani Terhadap Produksi dan Efisiensi Teknis Usahatani Padi di Provinsi Banten
Mulyaqin, Tian
Perubahan iklim yang termanifestasi melalui anomali ENSO, perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, dan kejadian cuaca ekstrem menimbulkan risiko nyata terhadap sistem produksi padi di Provinsi Banten. Risiko tersebut tercermin pada fluktuasi output, perubahan kalender tanam, gangguan ketersediaan air, tekanan organisme pengganggu tanaman, dan ketidakpastian penggunaan input produksi. Sebagai salah satu sentra produksi padi di Indonesia, Provinsi Banten memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap variabilitas iklim karena karakteristik agroekologi dan ketergantungan sebagian wilayah terhadap curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis pengaruh anomali iklim terhadap produksi padi; (2) mengukur kapasitas adaptasi petani beserta faktor pembentuknya; dan (3) menganalisis pengaruh kapasitas adaptasi terhadap efisiensi teknis usahatani padi.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggabungkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui survei terhadap 210 rumah tangga petani di empat sentra produksi utama, yaitu Lebak, Pandeglang, Serang, dan Tangerang, yang dikumpulkan pada periode Desember 2024–Februari 2025. Data sekunder mencakup data iklim, produksi padi, dan variabel ekonomi dalam bentuk runtut waktu dan panel. Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi fase ENSO menggunakan ONI, peramalan dan evaluasi produksi padi menggunakan model moving average, analisis pengaruh iklim dan ekonomi terhadap produksi padi dengan machine learning dan OLS, pengukuran kapasitas adaptasi dengan PLS-SEM, serta estimasi efisiensi teknis dan determinan inefisiensi dengan Stochastic Frontier Analysis (SFA).&#13;
Berdasarkan klasifikasi ONI periode 2000–2024, ditemukan bahwa dalam rentang pengamatan terdapat 10 tahun La Niña, 7 tahun El Niño, dan sisanya berada pada kondisi netral. Evaluasi model time-series menunjukkan bahwa model Moving Average (MA) ordo 2 dan 3 memberikan kecocokan terbaik untuk menjelaskan pola produksi padi di kabupaten sentra produksi, dibandingkan dengan model linier, kuadratik, maupun eksponensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengaruh ENSO terhadap produksi padi bersifat heterogen antarwilayah dan antarperiode. Secara umum, El Niño cenderung menekan produksi, sedangkan La Niña cenderung meningkatkan produksi, tetapi besaran dan arah pengaruhnya berbeda antarkabupaten. Kabupaten Tangerang menunjukkan kerentanan paling tinggi terhadap El Niño, sedangkan Kabupaten Lebak memperlihatkan pola respons yang lebih beragam. Temuan ini menegaskan bahwa pengaruh anomali iklim tidak seragam dan sangat dipengaruhi oleh karakteristik agroekologi serta kapasitas pengelolaan lokal.&#13;
Pada analisis pengaruh faktor iklim dan ekonomi terhadap produksi padi, hasil komparasi model menunjukkan bahwa Gradient Boosting Machine (GBM) merupakan model dengan kinerja terbaik, dengan nilai RMSE 96.970,35 ton, MAE 87.298,46 ton, dan R² 0,8514, sehingga lebih unggul dibandingkan Random Forest, Cubist Regression, SVM, XGBoost, dan OLS sebagai baseline. Hasil ini menunjukkan bahwa hubungan antara variabel agroklimat dan produksi padi bersifat nonlinier dan kompleks. Dalam analisis kepentingan variabel, suhu permukaan tanah muncul sebagai faktor paling dominan, diikuti oleh variabel input agrokimia dan beberapa variabel ekonomi berupa upah buruh tani dan harga gabah di tingkat produsen. Hasil OLS juga menunjukkan bahwa suhu permukaan tanah, curah hujan, dan upah tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi padi, sedangkan beberapa variabel input lain tidak signifikan secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa tekanan termal, curah hujan, dan biaya tenaga kerja merupakan determinan penting produksi padi di Provinsi Banten.&#13;
Pada aspek kapasitas adaptasi, hasil PLS-SEM menunjukkan bahwa indeks kapasitas adaptasi petani berada pada nilai rata-rata 0,527 pada skala 0–1, yang termasuk kategori moderat. Distribusi petani menunjukkan bahwa 61,9 persen berada pada kategori moderat, 21,9 persen pada kategori tinggi, dan 16,2 persen pada kategori rendah. Secara spasial, Kabupaten Tangerang dan Serang memiliki indeks rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeglang dan Lebak. Praktik adaptasi yang paling banyak dilakukan petani adalah penyesuaian varietas dan waktu tanam, sedangkan praktik konservasi jangka panjang seperti penggunaan pupuk organik serta konservasi tanah dan air masih relatif rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa kapasitas adaptasi petani menunjukkan perkembangan, tetapi masih perlu diperkuat terutama pada aspek sumber daya fisik, akses teknologi, dan adopsi praktik adaptasi berkelanjutan.&#13;
Estimasi Stochastic Frontier Analysis menunjukkan bahwa efisiensi teknis rata-rata petani padi di Provinsi Banten berada pada kisaran 0,7503 atau sekitar 75,03 persen, dengan nilai minimum 0,3274 dan maksimum 0,9686. Artinya, masih terdapat peluang peningkatan output sekitar 24,97 persen melalui perbaikan manajemen dan efisiensi penggunaan input tanpa harus menambah input fisik secara berlebihan. Sebaran skor efisiensi menunjukkan bahwa 34,29 persen petani berada pada kategori rendah, 42,86 persen pada kategori moderat, dan 22,86 persen pada kategori tinggi. Pada fungsi produksi frontier, luas lahan merupakan variabel yang paling dominan, diikuti oleh pupuk nitrogen (urea) yang berpengaruh positif signifikan, sedangkan beberapa input lain tidak signifikan. Nilai gamma yang tinggi, sekitar 0,938, menunjukkan bahwa sebagian besar variasi output lebih banyak dijelaskan oleh inefisiensi teknis daripada gangguan acak.&#13;
Analisis determinan efisiensi teknis menunjukkan bahwa kapasitas adaptasi dan frekuensi adaptasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis usahatani padi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kapasitas adaptasi dan semakin sering petani menerapkan praktik adaptasi, semakin tinggi tingkat efisiensi teknis yang dicapai. Sebaliknya, usia dan pengalaman tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, sedangkan pendidikan formal justru berpengaruh negatif terhadap efisiensi teknis.&#13;
Temuan ini mengindikasikan bahwa pendidikan formal yang dimiliki petani belum sepenuhnya terorientasi pada keterampilan pertanian cerdas iklim. Secara spasial, Kabupaten Serang menunjukkan rata-rata efisiensi teknis tertinggi sebesar 0,826, sedangkan Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Tangerang masing-masing berada pada tingkat yang lebih rendah tetapi masih dalam kategori menengah atau moderat.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh perubahan iklim terhadap produksi padi di Provinsi Banten bersifat heterogen antarwilayah, kapasitas adaptasi petani masih berada pada tingkat moderat, dan peningkatan kapasitas adaptasi berkaitan dengan peningkatan efisiensi teknis dan kinerja produksi. Implikasi kebijakan dari temuan ini menekankan perlunya penguatan strategi adaptasi yang bersifat spesifik lokasi. Pemerintah daerah perlu memprioritaskan penguatan infrastruktur irigasi, peningkatan akses petani terhadap informasi iklim dan teknologi budidaya, serta penyuluhan berbasis praktik adaptasi yang aplikatif di tingkat lapangan. Di wilayah dengan kapasitas adaptasi relatif rendah, intervensi perlu difokuskan pada peningkatan modal fisik, akses sarana produksi, dan pendampingan teknis yang lebih intensif. Sementara itu, di wilayah dengan efisiensi teknis relatif lebih tinggi, kebijakan dapat diarahkan pada difusi praktik terbaik melalui pendekatan petani ke petani agar praktik dan pengetahuan adaptasi dapat menyebar ke wilayah lain. Dengan pendekatan tersebut, peningkatan efisiensi dan ketahanan produksi padi di Provinsi Banten diharapkan tidak hanya bertumpu pada penambahan input, tetapi juga pada penguatan kapabilitas petani dan kemampuan mereka beradaptasi terhadap perubahan iklim.&#13;
Kata kunci: perubahan iklim, kapasitas adaptasi, efisiensi teknis, padi, Provinsi Banten.; Climate change, as reflected in ENSO anomalies, shifting rainfall patterns, rising temperatures, and extreme weather events, poses substantial risks to rice production systems in Banten Province. These risks manifest as output fluctuations, changes in planting calendars, water availability constraints, increased pest and disease pressure, and uncertainty in the use of production inputs. As one of Indonesia’s important rice-producing regions, Banten is highly vulnerable to climate variability, given its agroecological characteristics and the rainfall dependence of several rice-growing areas. This study aimed to: (1) analyze the effects of climate anomalies on rice production; (2) measure farmers’ adaptive capacity and identify its underlying determinants; and (3) analyze the effects of adaptive capacity on the technical efficiency of rice farming.&#13;
This study employed a quantitative approach by integrating primary and secondary data. Primary data were collected through a survey of 210 farming households in four major rice-producing districts: Lebak, Pandeglang, Serang, and Tangerang, from December 2024 to February 2025. Secondary data consisted of climate, rice production, and economic variables in time-series and panel-data formats. The analysis was conducted in several stages, including identification of ENSO phases using the Oceanic Niño Index (ONI), forecasting and evaluating rice production trends using moving average models, analyzing the effects of climate and economic factors on rice production using machine learning and Ordinary Least Squares (OLS), measuring adaptive capacity using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), and estimating technical efficiency and its determinants using Stochastic Frontier Analysis (SFA).&#13;
Based on the ONI classification for the 2000–2024 period, the observation years consisted of 10 La Niña years, 7 El Niño years, and the remaining years under neutral conditions. The time-series evaluation indicated that moving-average models of orders 2 and 3 provided the best fit for explaining rice production patterns across the major rice-producing districts, compared with linear, quadratic, and exponential models. The results further revealed that ENSO's effects on rice production were heterogeneous across regions and time periods. In general, El Niño tended to reduce rice production, whereas La Niña tended to increase production, although the magnitude and direction of the effects varied across districts. Tangerang District exhibited the highest vulnerability to El Niño, while Lebak District showed more diverse response patterns. These findings confirm that climate anomalies do not affect all regions equally and are strongly influenced by agroecological conditions and local management capacity.&#13;
In the analysis of climate and economic factors affecting rice production, model comparison demonstrated that the Gradient Boosting&#13;
Machine (GBM) was the best-performing model, with an RMSE of 96,970.35 tons, MAE of 87,298.46 tons, and R² of 0.8514, outperforming Random Forest, Cubist Regression, Support Vector Machine (SVM), Extreme Gradient Boosting (XGBoost), and OLS as the baseline model. These findings indicate that the relationship between agroclimatic variables and rice production is nonlinear and complex. The variable importance analysis showed that land surface temperature was the most influential factor, followed by agrochemical input variables and several economic variables, particularly agricultural labor wages and farm-gate rice prices. The OLS estimation also showed that land surface temperature, rainfall, and labor wages significantly affected rice production, whereas several other input variables were not statistically significant. These findings suggest that thermal stress, rainfall variability, and labor costs are important determinants of rice production in Banten Province.&#13;
Regarding adaptive capacity, the PLS-SEM results indicated that rice farmers' average adaptive capacity index was 0.527 on a scale from 0 to 1, indicating a moderate level of adaptive capacity. The distribution of farmers showed that 61.9 percent were classified in the moderate category, 21.9 percent in the high category, and 16.2 percent in the low category. Spatially, Tangerang and Serang districts exhibited higher average adaptive capacity indices than Pandeglang and Lebak districts. The most commonly adopted adaptation practices included adjustment of rice varieties and planting schedules, whereas long-term conservation practices, such as the use of organic fertilizers and soil and water conservation, remained relatively limited. These findings indicate that farmers’ adaptive capacity has been established, but still requires strengthening, particularly in terms of physical resources, access to technology, and the adoption of sustainable adaptation practices.&#13;
The SFA estimation showed that the average technical efficiency of rice farmers in Banten Province was 0.7503, or approximately 75.03 percent, with a minimum value of 0.3274 and a maximum value of 0.9686. This finding implies that there remains potential for an output increase of approximately 24.97 percent through improved farm management and more efficient use of production inputs, without excessive additional input use. The distribution of technical efficiency scores showed that 34.29 percent of farmers were categorized as low, 42.86 percent as moderate, and 22.86 percent as high. In the stochastic frontier production function, land area was identified as the most dominant variable, followed by nitrogen fertilizer (urea), which had a positive and statistically significant effect, whereas several other inputs were not statistically significant. The gamma value, estimated at approximately 0.938, indicates that most of the variation in rice output was attributable to technical inefficiency rather than random shocks.&#13;
The inefficiency determinant analysis revealed that adaptive capacity and the frequency of adaptation practices had positive and significant effects on technical efficiency. This implies that farmers with higher adaptive capacity and more frequent adoption of adaptation practices tend to achieve higher technical efficiency. In contrast, age and farming experience did not significantly affect technical efficiency, whereas formal education was negatively associated with technical efficiency. This finding suggests that formal education among farmers has not yet been adequately oriented toward&#13;
climate-smart agricultural skills. Spatially, Serang District had the highest average technical efficiency score at 0.826, while Lebak, Pandeglang, and Tangerang districts showed relatively lower efficiency levels, though still within the moderate category.&#13;
Overall, this study demonstrates that the effects of climate change on rice production in Banten Province are heterogeneous across regions, that farmers’ adaptive capacity remains at a moderate level, and that improvements in adaptive capacity are associated with higher technical efficiency and better production performance. The policy implications emphasize the importance of location-specific adaptation strategies. Local governments should prioritize strengthening irrigation infrastructure, improving farmers’ access to climate information and agricultural technologies, and enhancing extension services based on practical adaptive farming approaches. In areas with relatively low adaptive capacity, interventions should focus on strengthening physical capital, improving access to production inputs, and providing more intensive technical assistance. Meanwhile, in areas with relatively higher technical efficiency, policies should encourage the dissemination of best practices through farmer-to-farmer approaches to facilitate the diffusion of adaptive knowledge and practices across regions. Through such strategies, improvements in rice productivity and resilience in Banten Province are expected to depend not only on increasing input use but also on strengthening farmers’ capabilities and their capacity to adapt to climate change.&#13;
Keywords: climate change, adaptive capacity, technical efficiency, rice, Banten Province.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
