<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83">
<title>DF - Agriculture Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177730"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177720"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177577"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177398"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-12T20:10:02Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177730">
<title>Model Pengelolaan Hubungan Industri Kertas dengan Pemasok Bahan Aditif untuk Perumusan Strategi Peningkatan Daya Saing</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177730</link>
<description>Model Pengelolaan Hubungan Industri Kertas dengan Pemasok Bahan Aditif untuk Perumusan Strategi Peningkatan Daya Saing
Diem, Daisy Ade Riany
Industri pulp dan kertas merupakan sektor strategis nasional yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaaan lapangan kerja dan peningkatan devisa non-migas. Peningkatan kapasitas terpasang produksi kertas nasional hingga 20,86 juta ton pada tahun 2024 menunjukkan prospek pertumbuhan yang besar, namun masih dihadapkan pada tingginya ketergantungan terhadap bahan aditif impor yang berperan penting dalam menentukan kualitas produk, efisiensi proses produksi, dan inovasi industri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan hubungan pembeli-pemasok serta penguatan industri bahan aditif domestik menjadi faktor strategis dalam meningkatkan daya saing industri kertas nasional. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi hubungan industri kertas dengan pemasok bahan aditif serta implikasinya terhadap daya saing industri; (2) menganalisis permasalahan dalam sistem rantai pasok bahan aditif; (3) mengembangkan model sistem dinamik dan skenario strategis peningkatan daya saing industri berbasis pengelolaan hubungan pembeli-pemasok; serta (4) menentukan prioritas strategi pengembangan industri kertas nasional.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan Soft System Dynamics Methodology (SSDM) yang mengintegrasikan analisis kualitatif dan kuantitatif untuk memahami kompleksitas hubungan antaraktor dalam sistem industri. Data empiris diperoleh melalui survei terhadap pelaku industri kertas dan pemasok bahan aditif di Jawa Barat dengan melibatkan 35 responden. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS), sedangkan analisis kualitatif diperkuat melalui in-depth interview dengan pihak industri, pemasok, dan pemerintah. Simulasi kebijakan dilakukan dengan model sistem dinamik, sementara penentuan prioritas strategi dilakukan menggunakan Best Worst Method (BWM).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan, etika bisnis, dan tata kelola relasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap hubungan pembeli-pemasok dan dampaknya terhadap daya saing industri kertas. Tata kelola relasional menjadi faktor dominan dengan nilai koefisien tertinggi (ß = 0,469), yang menegaskan pentingnya kepercayaan, komitmen jangka panjang, dan kolaborasi strategis dalam hubungan industrial. Hubungan pembeli-pemasok juga terbukti memiliki pengaruh sangat kuat terhadap daya saing industri (ß = 0,900), sehingga kualitas hubungan antar aktor rantai pasok menjadi determinan utama dalam meningkatkan efisiensi biaya, kualitas produk, stabilitas pasokan, dan posisi kompetitif industri. Berdasarkan analisis faktor dan analisis konten, didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan pembeli-pemasok pada daya saing adalah: fleksibilitas logistik, kualitas bahan aditif, komunikasi, pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia, komitmen, perencanaan dan pemecahan masalah bersama, kepercayaan, serta kolaborasi.&#13;
Berdasarkan hasil simulasi, dikembangkan tiga skenario strategis, yaitu: (1) peningkatan kapabilitas sumber daya manusia; (2) peningkatan kualitas dan stabilitas pasokan bahan aditif lokal; dan (3) pembangunan ekosistem industri terintegrasi berbasis kolaborasi antara industri kertas, pemasok bahan aditif, pemerintah, dan institusi pendukung. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario ketiga memberikan dampak paling optimal terhadap peningkatan hubungan pembeli-pemasok, kapasitas produksi, dan profitabilitas industri hingga tahun 2035. Simulasi menunjukkan peningkatan hubungan buyer–supplier sebesar 0,897, peningkatan kapasitas produksi mencapai 475.314 ton per tahun, serta peningkatan profit industri hingga Rp 811 miliar pada tahun 2035. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan ekosistem industri berbasis kolaborasi dan inovasi merupakan strategi paling efektif dalam meningkatkan daya saing industri kertas nasional.&#13;
Hasil analisis BWM menunjukkan bahwa strategi prioritas utama adalah penguatan kolaborasi inovasi melalui joint research and development (joint R&amp;D) antara industri kertas dan pemasok bahan aditif dengan bobot prioritas sebesar 0,265. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan kualitas produk, mempercepat inovasi proses produksi, memperkuat stabilitas rantai pasok, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing industri secara berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini menghasilkan model strategis terintegrasi yang mengombinasikan pendekatan relasional, sistem dinamik, dan pengembangan ekosistem industri dalam peningkatan daya saing industri kertas. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan kajian buyer–supplier relationship management melalui integrasi SSDM dan sistem dinamik dalam konteks industri manufaktur strategis. Secara praktis, penelitian ini menawarkan kerangka kebijakan bagi pemerintah dan pelaku industri dalam meningkatkan substitusi impor, pengembangan industri bahan aditif lokal, serta peningkatan daya saing industri berbasis inovasi dan keberlanjutan.; The pulp and paper industry is a strategic national sector that contributes to economic growth, job creation, and increased non-oil and gas foreign exchange earnings. The increase in national installed paper production capacity to 20.86 million tons by 2024 indicates significant growth prospects; however, the industry still faces high dependence on imported additives, which play a crucial role in determining product quality, production process efficiency, and industrial innovation. These conditions indicate that managing buyer-supplier relationships and strengthening the domestic additive industry are strategic factors in enhancing the competitiveness of the national paper industry.&#13;
This study aims to: (1) identify the factors influencing the relationship between the paper industry and additive suppliers and their implications for industrial competitiveness; (2) analyse issues within the additive supply chain system; (3) develop a dynamic systems model and strategic scenarios for enhancing industrial competitiveness based on buyer-supplier relationship management; and (4) determine the priorities for the national paper industry’s development strategy.&#13;
The study employs the Soft System Dynamics Methodology (SSDM), which integrates qualitative and quantitative analysis to understand the complexity of relationships among actors within the industrial system. Empirical data were collected through a survey of paper industry stakeholders and additive material suppliers in West Java, involving 35 respondents. Quantitative analysis was conducted using Structural Equation Modelling–Partial Least Squares (SEM-PLS), while qualitative analysis was reinforced through in-depth interviews with industry representatives, suppliers, and government officials. Policy simulations were performed using a dynamic systems model, while strategic prioritization was conducted using the Best Worst Method (BWM).&#13;
The research results indicate that service quality, business ethics, and relational governance have a positive and significant impact on buyer–supplier relationships and the competitiveness of the paper industry. Relational governance emerged as the dominant factor with the highest coefficient value (ß = 0.469), underscoring the importance of trust, long-term commitment, and strategic collaboration in industrial relationships. Buyer–supplier relationships were also found to have a very strong influence on industry competitiveness (ß = 0.900), making the quality of relationships among supply chain actors the primary determinant in improving cost efficiency, product quality, supply stability, and the industry’s competitive position. Analysis of factors and content analysis reveal that the determinants affecting the buyer-supplier relationship regarding competitiveness include logistics flexibility, paper additives quality, communication, human resource expertise dan capabilities, commitment, joint planning and problem solving, trust, and collaboration.&#13;
 &#13;
Based on the simulation results, three strategic scenarios were developed: (1) enhancing human resource capabilities; (2) improving the quality and stability of local additive supply; and (3) building an integrated industrial ecosystem based on collaboration among the paper industry, additive suppliers, the government, and supporting institutions. The simulation results indicate that the third scenario yields the most optimal impact on improving buyer-supplier relationships, production capacity, and industry profitability through 2035. The simulation indicates an improvement in buyer–supplier relationships of 0.897, an increase in production capacity reaching 475,314 tons per year, and an increase in industry profits to Rp 811 billion by 2035. These findings confirm that strengthening a collaborative and innovation-based industrial ecosystem is the most effective strategy for enhancing the competitiveness of the national paper industry&#13;
The results of the BWM analysis indicate that the top priority strategy is strengthening innovation collaboration through joint research and development (joint R&amp;D) between the paper industry and additive suppliers, with a priority weight of 0.265. This strategy is assessed as capable of improving product quality, accelerating production process innovation, strengthening supply chain stability, and enhancing industrial efficiency and competitiveness sustainably.&#13;
This study produces an integrated strategic model that combines relational, dynamic systems, and industrial ecosystem development approaches to enhance the competitiveness of the paper industry. Theoretically, this study contributes to the development of buyer–supplier relationship management research through the integration of SSDM and dynamic systems within the context of strategic manufacturing industries. Practically, this research offers a policy framework for the government and industry stakeholders to strengthen import substitution, develop the domestic additive materials industry, and enhance industrial competitiveness based on innovation and sustainability.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177720">
<title>Disertasi_S3 F2601211009_Nina Jusnita</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177720</link>
<description>Disertasi_S3 F2601211009_Nina Jusnita
Jusnita, Nina
Kemasan pangan telah mengalami evolusi yang signifikan seiring dengan meningkatnya tuntutan keamanan dan kualitas produk. Pada awalnya, kemasan hanya berfungsi sebagai pelindung fisik yang bersifat pasif berbasis plastik petrokimia yang sulit terdegradasi dan menimbulkan permasalahan lingkungan serius. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang sulit terdegradasi, sehingga mendorong peralihan menuju kemasan biopolimer yang ramah lingkungan. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, konsep kemasan berkembang menjadi kemasan aktif yang mampu menghambat kerusakan produk secara langsung, hingga kemasan cerdas yang dapat memantau dan mengomunikasikan kondisi mutu produk secara real-time kepada konsumen. &#13;
Gelatin sebagai biopolimer merupakan matriks yang menjanjikan karena sifatnya yang biodegradable, biokompatibel dan mampu membentuk film dengan baik. Inkorporasi ZnO sebagai agen antibakteri yang memberikan sifat aktif  dan ekstrak tanaman yang mengandung antosianin sebagai pigmen alami yang sensitif terhadap pH memberikan sifat cerdas, berpotensi menghasilkan sistem kemasan yang bersifat aktif dan cerdas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan film kemasan berbasis gelatin yang diinkorporasi dengan nanopartikel ZnO (NPZnO) dan ekstrak tanaman dari sumber lokal. Film yang dihasilkan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai kemasan aktif dan cerdas yang berkelanjutan untuk mempertahankan kesegaran filet ikan nila selama penyimpanan pada suhu 4 oC. &#13;
Pada tahap pertama, dilakukan eksplorasi dan karakterisasi potensi antosianin dari empat sumber lokal sebagai indikator pH alami terhadap buah buni (Antidesma bunius (L.) Spreng), buah juwet (Syzygium cumini (L.) Skeels), kelopak kembang sepatu merah (Hibiscus ? archeri W. Watson) dan bunga honje merah (Etlingera hemisphaerica (Blume) R.M.Sm.). Ekstraksi dilakukan dengan metode ultrasound-assisted extraction menggunakan pelarut etanol 96%.  Kandungan total antosianin berkisar antara 33,06–88,89 mg C3G/g ekstrak, dengan ekstrak kelopak kembang sepatu merah memiliki kandungan tertinggi (88,89 ± 1,40 mg C3G/g) dan aktivitas antioksidan terbesar (25,46 ± 1,62 mg AEAC/g sampel). Korelasi kuat antara kandungan total antosianin dan aktivitas antioksidan (r = 0,859; p &lt; 0,001) menunjukkan bahwa antosianin berperan penting terhadap kapasitas antioksidan. Ekstrak kelopak kembang sepatu merah juga menunjukkan sensitivitas perubahan warna terhadap pH terbaik yang dapat diamati secara visual. Berdasarkan metode efektivitas De Garmo, ekstrak kelopak kembang sepatu merah memperoleh nilai indeks efektivitas tertinggi (0,78). Ekstrak ini kemudian dipilih sebagai komponen utama dalam pengembangan film.&#13;
Pada tahap kedua, pengembangan dan optimasi formula film gelatin yang diinkorporasi dengan NPZnO dan ekstrak kelopak kembang sepatu merah (SF Gel-NPZnO-EKS) dilakukan menggunakan metode simplex lattice design. Formula optimum diperoleh pada kombinasi 4,27% (0,286 g) NPZnO dan 6,18% (0,414 g) EKS dengan nilai desirability 0,969, menghasilkan kekuatan tarik 6,27 MPa, elongasi 262,03%, WVTR 7,30 g/m²/h, dan zona hambat bakteri sebesar 18,24 mm. NPZnO berperan sebagai penguat fisik matriks gelatin melalui mekanisme ikatan silang fisik (physical crosslinking), sementara antosianin yang terkandung pada ekstrak kelopak kembang sepatu merah juga berperan sebagai plasticizer yang meningkatkan fleksibilitas film. Film menunjukkan sifat hidrofobik yang baik (sudut kontak 106°) dan sensitivitas pH sangat baik dengan perubahan warna dari merah (pH asam) hingga kuning (pH basa) yang dapat diamati secara visual. Analisis FTIR menunjukkan adanya interaksi antarkomponen tanpa bukti pembentukan ikatan kovalen baru yang terdeteksi melalui FTIR. Film juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap Listeria monocytogenes (18,96 mm), Salmonella Typhimurium (18,97 mm), dan Aeromonas hydrophila (18,24 mm).&#13;
Pada tahap ketiga, formula optimum film gelatin yang diinkorporasi dengan NPZnO dan ekstrak kelopak kembang sepatu merah diaplikasikan pada filet ikan nila dan dievaluasi selama 12 hari penyimpanan pada suhu 4 ?C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film secara konsisten mampu memperlambat kenaikan pH, penumpukan senyawa basa volatil (TVB-N), dan pertumbuhan total bakteri (TPC) dibandingkan dengan kontrol tanpa kemasan. Sampel kontrol telah melampaui batas kelayakan konsumsi berdasarkan nilai TVB-N (&gt;30 mg N/100 g) dan TPC sejak hari ke-6, sedangkan sampel yang dikemas dengan film masih menunjukkan mutu yang dapat diterima hingga hari ke-10 dengan nilai pH 6,83, TVB-N 20 mg N/100 g, dan TPC 4,92 log CFU/g. Analisis senyawa volatil menggunakan HS-SPME-GC-MS mengidentifikasi 47 senyawa pada kontrol dan hanya 10 senyawa pada sampel yang dikemas. Sampel kontrol menunjukkan akumulasi senyawa amina, sulfur, alkohol, dan keton sejak hari ke-6, yang dapat dikaitkan dengan proses pembusukan lanjut. Film gelatin yang diinkorporasikan dengan NPZnO dan ekstrak kelopak kembang sepatu merah berpotensi memperpanjang umur simpan filet ikan nila hingga 10 hari, dibandingkan dengan kontrol hanya 4 hari, melalui kombinasi mekanisme yang saling melengkapi, yaitu fungsi penghalang fisik matriks gelatin, aktivitas antibakteri NPZnO, dan kapasitas antioksidan dari ekstrak kelopak kembang sepatu merah.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177577">
<title>Sifat Fisik, Aktivitas Antioksidan, dan Profil Metabolom Serbuk Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) pada Berbagai Ukuran Partikel</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177577</link>
<description>Sifat Fisik, Aktivitas Antioksidan, dan Profil Metabolom Serbuk Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) pada Berbagai Ukuran Partikel
Aminah, Siti
Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan rempah yang kaya senyawa bioaktif dan dilaporkan memiliki berbagai bioaktivitas. Hal ini menjadikan jahe merah lebih unggul dibandingkan jenis jahe lainnya seperti jahe gajah dan jahe emprit. Pengolahan menjadi serbuk banyak diaplikasikan karena mampu memperpanjang umur simpan dan memudahkan penanganan. Pengecilan ukuran partikel hingga skala nanometer berpotensi memperluas permukaan dan meningkatkan pelepasan senyawa bioaktif sehingga dapat mengubah profil metabolom dan aktivitas antioksidan. Namun, kajian pada rentang ukuran ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh ukuran partikel pada skala milimeter hingga nanometer terhadap sifat fisik serbuk jahe merah meliputi distribusi ukuran partikel, morfologi, kemampuan alir, kadar air, kelarutan dalam air, dan warna. Profil sidik jari inframerah berbasis attenuated total reflectance–fourier transform infrared spectroscopy (ATR-FTIR), profil metabolom nonvolatil ekstrak metanol jahe merah berbasis liquid chromatography–high resolution mass spectrometry (LC-HRMS) dan profil metabolom volatil serbuk jahe merah berbasis solid phase microextraction–gas chromatography–mass spectrometry (SPME-GC-MS) dikaji dalam penelitian ini. Senyawa volatil dan gugus fungsi penanda aktivitas antioksidan dengan metode 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) diidentifikasi dengan analisis multivariat.&#13;
Serbuk disiapkan pada sembilan tingkat ukuran partikel (D50 2256; 2066; 636; 580; 47,38; 40,37; 39,98; 34,82; dan 0,22 µm) melalui kombinasi metode penggilingan blender, dry food grinder (DFG), dan planetary ball mill (PBM). Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu karakterisasi sifat fisik serbuk, karakterisasi profil sidik jari inframerah menggunakan ATR-FTIR dan profil senyawa nonvolatil menggunakan LC-HRMS serta karakterisasi profil senyawa volatil dengan metode SPME-GC-MS. Hasil analisis ATR-FTIR dan SPME-GC-MS selanjutnya dipadukan dengan analisis multivariat meliputi principal component analysis (PCA), orthogonal partial least squares-discriminant analysis (OPLS-DA), dan orthogonal partial least squares (OPLS). &#13;
Ukuran partikel serbuk jahe merah pada skala milimeter hingga nanometer (D50 2256–0,22 µm) memberikan pengaruh yang berbeda pada tiap rentang ukuran. Pada rentang D50 2256–34,82 µm, terjadi peningkatan kerapatan curah (0,32–0,35 g/cm³) dan kerapatan mampat (0,36–0,56 g/cm³), disertai peningkatan rasio Hausner, indeks kompresibilitas, dan sudut curah yang mengindikasikan penurunan kemampuan alir. Kelarutan meningkat dari 19,64–31,65%, dan kecerahan L* meningkat dari 27,9–55,4. Hal ini berkaitan dengan bertambahnya luas permukaan spesifik dan mekanisme hamburan cahaya difus. Pada skala nano (D50 0,22 µm), teramati pola yang khas, yaitu rasio Hausner, indeks kompresibilitas, dan sudut curah menurun kembali (1,54; 34,95%; 37,07°) disertai penurunan kadar air menjadi 10,81%. Citra SEM menunjukkan morfologi yang mengindikasikan terjadinya aglomerasi yang diduga dapat dikategorikan menjadi dua jenis aglomerat, yaitu soft agglomerate akibat gaya van der Waals dan hard agglomerate.&#13;
Yield ekstraksi meningkat dari 3,36% pada D50 2256 µm menjadi 10,31% pada D50 0,22 µm. Aktivitas antioksidan dalam penelitian ini dianalisis dengan metode DPPH. Hasilnya menunjukkan dua pola berbeda. Jika dinyatakan per gram ekstrak aktivitas antioksidan tidak meningkat secara linier seiring pengecilan ukuran partikel. Nilai tertinggi teramati pada serbuk kasar (D50 2256–580 µm) sebesar 17,20–18,10 mg TE/g, menurun pada skala mikro (D50 40,37–34,82 µm) menjadi 14,47–14,67 mg TE/g, dan sedikit naik kembali pada skala nano (D50 0,22 µm) menjadi 15,88 mg TE/g. Sebaliknya, jika dinyatakan per gram serbuk, nilai tersebut meningkat signifikan dari 0,61 mg TE/g pada D50 2256 µm menjadi 1,64 mg TE/g pada D50 0,22 µm. Pola ini mengindikasikan bahwa penggilingan intensif meningkatkan yield ekstraksi, tetapi turut mengekstrak senyawa nontarget sehingga konsentrasi senyawa aktif per gram ekstrak menurun, meskipun per gram serbuk tetap meningkat. Analisis ATR-FTIR yang dikombinasikan dengan PCA dan OPLS-DA mengelompokkan ekstrak menjadi dua kelompok, yaitu ekstrak dari serbuk berukuran kasar (D50 = 580 µm) dan ekstrak dari serbuk berukuran halus - nano (D50 = 47,38 µm). Model OPLS mengidentifikasi tujuh bilangan gelombang yang berkorelasi positif dan berpotensi menjadi penanda aktivitas antioksidan ekstrak, yaitu 3750,6; 1715,44; 1514,59; 1457,2; 1268,65; 1151,82; dan 1121,08 cm?¹. Bliangan-bilangan gelombang tersebut mencirikan vibrasi ulur O-H, vibrasi ulur C=O, vibrasi ulur C=C pada cincin fenil, vibrasi tekuk asimetris C-CH3, asimetris C-O-C, vibrasi ulur C-O. Pita-pita tersebut merepresentasikan gugus fungsi yang umum dijumpai pada senyawa fenolik dan senyawa berkabonil, termasuk kandidat struktur keton fenolik. LC-HRMS mengidentifikasi sementara 65 metabolit yang didominasi oleh 24 senyawa fenolik. &#13;
Analisis SPME-GC-MS mengidentifikasi sementara 150 senyawa volatil yang dikelompokkan ke dalam sembilan kelas, dengan dominasi golongan terpen (79,50–94,57%). Seiring pengecilan ukuran partikel, kontribusi area relatif monoterpen terhadap keseluruhan profil volatil menurun dari 26,31% pada serbuk kasar (D50 2256 µm) menjadi 4,52% pada serbuk nano (D50 0,22 µm), disertai peningkatan relatif kontribusi monoterpenoid, aldehida, dan keton. Analisis PCA dan OPLS-DA menghasilkan tiga kelompok, yaitu kelompok serbuk jahe merah berukuran kasar (D50 2256 µm), halus (D50 2066–34,82 µm), dan nano (D50 0,22 µm). Model OPLS mengidentifikasi sementara delapan senyawa volatil yang berkorelasi positif dengan aktivitas antioksidan, berdasarkan VIP &gt; 1 dan koefisien regresi positif, yaitu 2-nonyl acetate, a-trans-bergamotenol, eucalyptol, neral, (E)-DMNT, sulcatone, a-phellandrene, dan (1S)-ß-pinene. &#13;
Ukuran partikel serbuk jahe merah pada rentang skala milimeter hingga nanometer berpengaruh terhadap sifat fisik, profil kimia, dan aktivitas antioksidan. Pendekatan metabolomik untargeted berbasis ATR-FTIR, LC-HRMS, dan SPME-GC-MS yang dipadukan dengan analisis multivariat menunjukkan bahwa pengendalian ukuran partikel merupakan faktor penting dalam mengoptimalkan mutu fungsional serbuk jahe merah sebagai bahan baku maupun bahan tambahan pada berbagai produk pangan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177398">
<title>METABOLOMIK PROPOLIS LEBAH TANPA SENGAT Trigona laeviceps ASAL JAWA BARAT SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIBAKTERI</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177398</link>
<description>METABOLOMIK PROPOLIS LEBAH TANPA SENGAT Trigona laeviceps ASAL JAWA BARAT SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIBAKTERI
Azni, Intan Nurul
Propolis merupakan senyawa resin yang merupakan campuran dari air liur, lilin, dan hasil metabolisme cabang, bunga, serbuk sari, tunas, dan eksudat pohon pada lebah. Propolis sudah lama dikenal karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Propolis dan ekstrak propolis bersifat antiseptik, antiinflamasi, antioksidan, antibakteri, antijamur, antimaag, antikanker, dan imunomodulator. Komponen bioaktif propolis bervariasi tergantung pada sumber tanaman yang dihisap oleh lebah. Komponen yang umumnya terkandung pada propolis yakni lilin, resin, balsam, minyak atsiri, serta metabolit primer dan sekunder dari tanaman yang dihisap seperti asam amino, vitamin, fenol, terpenoid, dan alkaloid. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk meneliti komposisi kimia propolis dari lebah Trigona laeviceps asal Jawa Barat dan mengidentifikasi komponen antibakteri dari propolis dari lebah Trigona laeviceps dengan pendekatan metabolomik. &#13;
Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama terdiri dari karakterisasi propolis Trigona laeviceps mentah (analisis lilin, gum, proksimat, total fenol, tanin, flavonoid, alkaloid, dan saponin), ekstraksi propolis Trigona laeviceps dengan 3 pelarut, dan uji aktivitas antibakteri ekstrak propolis Trigona laeviceps dengan menggunakan metode difusi cakram. Pelarut yang digunakan yaitu akuades (polar), etanol (semi polar), dan n-heksanaa (non polar). Tahap kedua terdiri dari profiling senyawa pada ekstrak propolis Trigona laeviceps dari tiga wilayah di Jawa Barat yaitu Bandung, Sumedang, dan Purwakarta dengan pendekatan metabolomik; uji aktivitas antibakteri dari senyawa pada ekstrak propolis Trigona laeviceps dengan konsentrasi hambat minimum (KHM)/minimum inhibitory concentration (MIC). Data aktivitas antibakteri dianalisis dengan one way Analysis of Varian (ANOVA) pada perangkat Statistical Product and Service Solutions (IBM SPSS) versi 27 dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf 5%. Analisis data multivariat  komponen aktif diterapkan dengan menggunakan area puncak senyawa serta mengorelasikan dengan aktivitas antibakteri dengan teknik Orthogonal Projection to Latent Structure (OPLS). Data OPLS dianalisis menggunakan software SIMCA versi 18. &#13;
Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan komponen terbesar dari propolis mentah lebah Trigona laeviceps asal Bogor adalah lemak (65,47%). Berdasarkan hasil uji kualitatif, lilin, gum, tanin, flavonoid, dan alkaloid terdeteksi dalam propolis mentah. Kandungan fenol pada sampel sebesar 3,08 GAE/g, tanin sebesar 34,45 mg/g, dan flavonoid sebesar 21,88 mgQCE/g. Semua sampel tidak memiliki zona hambat terhadap bakteri Gram-negatif (Escherichia coli dan Salmonella Typhimurium). Sementara itu, pada bakteri Gram-positif (Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Listeria monocytogenes, dan Streptococcus mutans), ekstrak etanol propolis menunjukkan zona hambat tertinggi (16,92 mm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa etanol merupakan pelarut yang paling sesuai untuk mengekstrak komponen antibakteri pada propolis dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai jual dari industri propolis lebah Trigona laevicep di Bogor.&#13;
Hasil penelitian tahap kedua menunjukkan bahwa ekstrak heksana memiliki aktivitas antibakteri tertinggi pada seluruh lokasi pengambilan sampel (p&lt;0,05), dengan rentang nilai MIC antara 2,92% hingga 10,42%. Analisis antibakteri menggunakan metode MIC karena metode difusi cakram pada penelitian tahap pertama diduga tidak efektif untuk sampel ekstrak propolis dengan heksana. Analisis multivariat, meliputi principal component analysis (PCA) dan orthogonal partial least squares–discriminant analysis (OPLS–DA), menunjukkan bahwa variasi profil kimia ekstrak berasosiasi dengan polaritas pelarut yang digunakan. Analisis OPLS mengidentifikasi  senyawa yang berkorelasi positif dengan aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus dan Salmonella Typhimurium yaitu asam oleat, ester geranil asetat, asam stearat, a-mangostin, dan kaempferol. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelarut non-polar, khususnya heksana, lebih efektif dalam mengekstraksi komponen antibakteri dari propolis T. laeviceps, sehingga menunjukkan potensinya sebagai antibakteri alami.; Propolis is a resinous compound composed of a mixture of saliva, wax, and the metabolic products of bees derived from branches, flowers, pollen, buds, and tree exudates. Propolis has long been recognized for its numerous health benefits. Both propolis and its extracts exhibit antiseptic, anti-inflammatory, antioxidant, antibacterial, antifungal, anti-ulcer, anticancer, and immunomodulatory properties. The bioactive components of propolis vary depending on the plant sources visited by the bees. Propolis generally contains wax, resin, balsam, essential oils, as well as primary and secondary plant metabolites such as amino acids, vitamins, phenolic compounds, terpenoids, and alkaloids. The general objective of this study was to investigate the chemical composition of propolis produced by Trigona laeviceps from West Java and to identify the antibacterial compounds in propolis from Trigona laeviceps using a metabolomic approach.&#13;
This study consisted of two stages. The first stage included the characterization of raw Trigona laeviceps propolis (wax, gum, proximate, total phenol, tannin, flavonoid, alkaloid, and saponin analysis), extraction of Trigona laeviceps propolis using three solvents, and antibacterial activity testing of the propolis extracts using the disc diffusion method. The solvents used were distilled water (polar), ethanol (semi-polar), and n-hexane (non-polar). The second stage involved compound profiling of Trigona laeviceps propolis extracts from three regions in West Java, namely Bandung, Sumedang, and Purwakarta, using a metabolomic approach; and antibacterial activity testing of the compounds in the propolis extracts using the minimum inhibitory concentration (MIC) method. Antibacterial activity data were analyzed using one-way Analysis of Variance (ANOVA) in the Statistical Product And Service Solutions (IBM SPSS) version 27, followed by Duncan’s multiple range test at a 5% significance level. Multivariate analysis of active compounds was conducted using compound peak areas and correlating them with antibacterial activity using the Orthogonal Projection to Latent Structure (OPLS) technique. OPLS data were analyzed using SIMCA software version 18.&#13;
The results of the first stage showed that the major component of raw Trigona laeviceps propolis from Bogor was fat (65.47%). Based on qualitative tests, wax, gum, tannins, flavonoids, and alkaloids were detected in the raw propolis. The phenolic content of the sample was 3.08 GAE/g, tannin content was 34.45 mg/g, and flavonoid content was 21.88 mgQCE/g. None of the samples exhibited inhibitory zones against Gram-negative bacteria (Escherichia coli and Salmonella Typhimurium). In contrast, against Gram-positive bacteria (Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Listeria monocytogenes, and Streptococcus mutans), the ethanol extract of propolis showed the highest inhibitory zone (16.92 mm). The results indicated that ethanol was the most suitable solvent for extracting antibacterial compounds from propolis using the disc diffusion method. These findings may contribute to increasing the commercial value of the Trigona laeviceps propolis industry in Bogor.&#13;
The results of the second stage demonstrated that the hexane extract exhibited the highest antibacterial activity across all sampling locations (p &lt; 0.05), with MIC values ranging from 2.92% to 10.42%. Antibacterial analysis was conducted using the MIC method because the disc diffusion method applied in the preliminary stage was presumed ineffective for hexane propolis extracts. Multivariate analyses, including principal component analysis (PCA) and orthogonal partial least squares–discriminant analysis (OPLS–DA), revealed that variations in the chemical profiles of the extracts were associated with the polarity of the solvents used. OPLS analysis identified compounds that were positively correlated with antibacterial activity against Escherichia coli, Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, and Salmonella Typhimurium, namely oleic acid, geranyl acetate, stearic acid, kaempferol, and a-mangostin. These findings indicate that non-polar solvents, particularly hexane, are more effective in extracting antibacterial compounds from Trigona laeviceps propolis, highlighting its potential as a natural antibacterial agent.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
