<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81">
<title>MT - Professional Master</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172689"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172686"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172677"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172638"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-29T14:33:26Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172689">
<title>Analisis Pelaksanaan Pemberian Kredit Usaha Kecil di PT Bank Syariah Indonesia (Study kasus pada Bank Syariah Indonesia KCP Sukabumi Sudirman)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172689</link>
<description>Analisis Pelaksanaan Pemberian Kredit Usaha Kecil di PT Bank Syariah Indonesia (Study kasus pada Bank Syariah Indonesia KCP Sukabumi Sudirman)
Herlina, Farida
Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a crucial role in Indonesia’s economy by supporting employment, regional growth, and economic resilience. With more than 65 million business units contributing over 60% of national GDP, MSMEs represent a strategic sector for financial inclusion. In Sukabumi, the growth of MSME credit reflects increasing confidence between banks and entrepreneurs. Islamic banking, particularly through Sharia-compliant microfinance such as BSI KUR, holds strong potential to support MSME development. This study aims to identify internal and external factors affecting the microfinance portfolio of BSI KCP Sukabumi Sudirman, formulate development strategies using SWOT analysis, and determine strategic priorities through the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). A descriptive qualitative case study approach was applied using primary data from interviews and questionnaires with five BSI experts and twenty-five MSME actors, supported by secondary data from institutional reports and relevant literature. Strategic analysis employed IFE, EFE, IE, SWOT, and QSPM matrices. The results indicate that expanding BSI KUR Micro financing by leveraging competitive pricing, fast processing, and increasing public interest in Islamic banking is the most prioritized strategy to strengthen sustainable MSME financing.&#13;
Keywords: development strategy, microfinance, MSMEs, QSPM, SWOT
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172686">
<title>Pengembangan Strategi Pemasaran &amp;#160;Di Era Digital Untuk Meningkatkan Penjualan di Klaten Jawa Tengah (Studi Kasus PT PANMA METAL Agung Sejahtera)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172686</link>
<description>Pengembangan Strategi Pemasaran &amp;#160;Di Era Digital Untuk Meningkatkan Penjualan di Klaten Jawa Tengah (Studi Kasus PT PANMA METAL Agung Sejahtera)
Arahmah, Melina
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi penerapan Business Model Canvas (BMC), analisis SWOT, dan Analytic Hierarchy Process (AHP) dalam mengembangkan strategi pemasaran yang efektif di PT Panma Metal Agung Sejahtera. Sebagai alat pemasaran digital, situs web memainkan peran kritis dalam memperluas jangkauan konsumen dan meningkatkan penjualan. Di Indonesia, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi tulang punggung perekonomian nasional, berkontribusi sebesar 61,97% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97% tenaga kerja. Penelitian ini melibatkan 10 informan, termasuk pemilik usaha, karyawan, dan konsumen, untuk mendapatkan perspektif yang komprehensif. &#13;
Kerangka kerja BMC digunakan untuk memetakan elemen bisnis utama perusahaan, seperti segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi, dan sumber daya kunci. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal yang memengaruhi arah strategis perusahaan. Selain itu, AHP digunakan untuk memprioritaskan strategi dengan menilai pentingnya relatif dan dampaknya. Hasil menunjukkan bahwa memperkuat sistem digital dan sumber daya manusia merupakan prioritas strategis utama, diikuti oleh strategi pemasaran produk dan penyesuaian harga. &#13;
Integrasi platform digital seperti media sosial, situs web, dan pasar daring terbukti efektif dalam memperluas jangkauan pasar, meningkatkan keterlibatan pelanggan, dan mempercepat transaksi. Inisiatif digital ini sejalan dengan tujuan perusahaan untuk meningkatkan penjualan dan beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis. Secara keseluruhan, kombinasi BMC, SWOT, AHP, dan alat pemasaran digital menawarkan pendekatan komprehensif dan terstruktur untuk meningkatkan efektivitas pemasaran dan daya saing di era transformasi digital.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172677">
<title>Pengaruh Ruang Publik dan Kegiatan Masyarakat Terhadap Pemulihan Ekonomi UMKM di Cipayung Provinsi DKI Jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172677</link>
<description>Pengaruh Ruang Publik dan Kegiatan Masyarakat Terhadap Pemulihan Ekonomi UMKM di Cipayung Provinsi DKI Jakarta
Asri, Muthia Puspita
Sebagai respons terhadap perubahan sosial dan ekonomi pasca pandemi, pemanfaatan ruang publik kembali menjadi perhatian penting dalam mendukung aktivitas masyarakat dan perekonomian lokal. Untuk menyikapi keadaan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh pembangunan ruang publik dan kegiatan masyarakat terhadap pemulihan ekonomi UMKM di Kecamatan Cipayung, Provinsi DKI Jakarta, serta menyusun strategi guna mempercepat pemulihan ekonomi UMKM di wilayah tersebut. Pemerintah daerah melakukan revitalisasi dan pembangunan ruang publik selama masa pembatasan sosial, yang kemudian menjadi pusat interaksi sosial setelah pandemic COVID 19. Ruang publik yang kembali aktif diharapkan mampu mempercepat pemulihan ekonomi UMKM yang sebelumnya terdampak signifikan.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan 100 responden pelaku UMKM yang beraktivitas di 10 ruang publik utama di Cipayung. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert, kemudian diuji menggunakan SPSS untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrument. Metode analisis hirarki proses (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas strategi guna mempercepat pemulihan ekonomi.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenyamanan ruang publik menjadi faktor paling dominan dalam mendukung pemulihan ekonomi UMKM. Aspek kebersihan, keamanan, fasilitas dasar, serta desain ruang yang tertata memberikan dampak langsung terhadap meningkatnya jumlah pengunjung dan aktivitas transaksi UMKM. Faktor kedua adalah ragam kegiatan masyarakat, seperti bazar, festival, acara olahraga, dan kegiatan komunitas, yang terbukti meningkatkan omzet UMKM secara signifikan. Jumlah ruang publik memiliki pengaruh lebih kecil karena kualitas dan aktivitas jauh lebih menentukan dibanding kuantitas.&#13;
Peningkatan omzet penjualan, peningkatan daya saing UMKM, dan penciptaan lapangan pekerjaan dinilai sama pentingnya oleh responden. Temuan ini menegaskan bahwa pemulihan ekonomi UMKM merupakan proses multidimensi yang membutuhkan dukungan lintas aspek, termasuk ruang publik yang fungsional dan keterlibatan masyarakat.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa ruang publik bukan hanya sekadar area interaksi sosial, tetapi juga instrumen strategis dalam pemulihan ekonomi lokal. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan pelaku UMKM menjadi elemen kunci untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan di Kecamatan Cipayung Provinsi DKI Jakarta. Dari hasil analisis strategi prioritas, pelaku UMKM perlu mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah serta memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluan pasar dan mempercepat pemulihan ekonomi.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172638">
<title>Evaluasi Penggunaan Lahan Untuk Pertanian Pangan Padi Yang Berkelanjutan Di Kabupaten Garut</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172638</link>
<description>Evaluasi Penggunaan Lahan Untuk Pertanian Pangan Padi Yang Berkelanjutan Di Kabupaten Garut
Handoko, Naufal Nashrullah
Pengggunaan lahan merupakan bentuk campur tangan mausia terhadap&#13;
lingkungan untuk memenuhi kebutuhan sandang, papan, dan pangan. Pertumbuhan&#13;
jumlah penduduk berperan penting sebagai faktor utama dalam perubahan&#13;
penggunaan lahan. Upaya pemerintah dalam mengendalikan hal tersebut melalui&#13;
penataan rencana tata ruang wilayah. Salah satu yang ditata dalam pemenuhan&#13;
kebutuhan pangan adalah lahan pertanian. Kabupaten Garut pada interval tahun&#13;
2019 hingga 2023 terjadi penurunan luas tanam padi dengan rata-rata 1.188 ha/&#13;
tahun. Ancaman kebutuhan pangan dengan peningkatan populasi manusia dan&#13;
penurunan luas lahan sawah di Kabupaten Garut, menjadi tantangan untuk&#13;
mewujudkan kemandirian pangan di daerah ini. Hal tersebut memerlukan multi&#13;
sektor untuk produksi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki&#13;
tujuan untuk mengevaluasi penggunaan lahan berkelanjutan tanaman padi di&#13;
Kabupaten Garut. Adapun mencapai tujuan utama tersebut dibutuhkan tujuan&#13;
antara, yakni (1) menganalisis tutupan lahan di tahun 2022 dan perubahan&#13;
penggunaan lahan antara tahun 2015 hingga tahun 2022 di Kabupaten Garut, (2)&#13;
menganalisis potensi lahan yang tersedia dan sesuai untuk padi di Kabupaten Garut,&#13;
(3) menganalisis status dan faktor pengungkit keberlanjutan pertanian pangan padi&#13;
di Kabupaten Garut, dan (4) merumuskan strategi kebijakan peningkatan produksi&#13;
padi dalam mendukung perencanaan penggunaan lahan berkelanjutan tanaman&#13;
pangan di Kabupaten Garut. Identifikasi tutupan/ penggunaan lahan menggunakan&#13;
peta citra spot 6 tahun 2022. Peta tutupan/penggunaan lahan dan peta rencana pola&#13;
ruang yang dioverlay untuk mendapatkan informasi lahan tersedia. Potensi lahan&#13;
diketahui melalui evaluasi kesesuaian lahan menggunakan metode Multi Criteria&#13;
Decission Making (MCDM) untuk mencari area lahan yang sesuai untuk produksi&#13;
pertanian pangan padi. Analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan metode&#13;
Multiaspect Sustainability Analysis (MSA) melalui kuisioner MSA, sedangkan&#13;
analisis strategi perencanaan penggunaan lahan berkelanjutan diperoleh dengan&#13;
metode Interprectative Structural Modeling (ISM).&#13;
Hasil interpretasi citra menunjukkan kondisi tutupan lahan di Kabupaten&#13;
Garut ditemukan dalam bentuk delapan belas macam, diantaranya berupa sungai,&#13;
area pemukiman, bangunan, danau/situ, empang/tambak, hutan, hutan bakau,&#13;
kebun/perkebunan, kolam ikan, mata air, padang rumput/ belukar, pasir darat,&#13;
pertambangan, sawah irigasi, sawah tadah hujan, semak belukar, tanah ladang, dan&#13;
tanggul pasir. Selain itu, perubahan penggunaan lahan pangan padi antara tahun&#13;
2015 ke 2022, terjadi pada penggunaan lahan sawah menjadi permukiman, badan&#13;
air, semak belukar, ladang, dan pertambangan.&#13;
Hasil analisis potensi lahan menunjukkan sebagian besar wilayah berpotensi&#13;
untuk pengembangan pertanian pangan padi di Kabupaten Garut, yaitu 221.630,64&#13;
ha atau 71,41 % dari 310.356,37 ha wilayah penelitian. Informasi lahan yang&#13;
tersedia untuk padi, ditunjukkan pada luas 37.988,94 ha yang terdiri dari 4 kelas&#13;
kesesuaian lahan (S1, S2, S3, dan N), sedangkan lahan yang tersedia dan sesuai&#13;
iii&#13;
untuk prioritas tanam padi, pada luas 35.437,60 ha yang terdiri dari 3 kelas&#13;
kesesuaian lahan (S1, S2, dan S3).&#13;
Hasil analisis keberlanjutan pertanian tanaman pangan padi di Kabupaten&#13;
Garut menunjukan status kurang berkelanjutan (34,83%), yang terdiri pada aspek&#13;
sosial (28%), ekonomi (25,73%), lingkungan (55,8%), infrastruktur dan teknologi&#13;
(48%), serta hukum dan kelembagaan (16,63%), sehingga perlu mendorong empat&#13;
faktor pengungkit pada setiap aspek untuk meningkatkan status keberlanjutannya.&#13;
Selain itu, strategi kebijakan peningkatan produksi komoditas padi untuk&#13;
perencanaan penggunaan lahan sawah berkelanjutan dilakukan dengan&#13;
memperbaiki elemen stabilitas harga (E3), partisipasi keluarga dalam mengelola&#13;
lahan sawah (E1), pendapatan petani (E4), ketersediaan air (E5), lembaga&#13;
permodalan (E10), bibit unggul (E6), standarisasi mutu produk (E7), kesesuaian&#13;
teknologi dan bantuan di wilayah (E8), dan ansuransi pertanian (E9).
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
