<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80">
<title>MF - Multidiciplinary Program</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179752"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179750"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179467"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179458"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-27T00:55:03Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179752">
<title>Rekayasa Genetika Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar IPB CP2 dengan Gen FBPase/ClRan1</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179752</link>
<description>Rekayasa Genetika Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar IPB CP2 dengan Gen FBPase/ClRan1
Hidayat, Abdan Arjaka
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu komoditas pangan pokok yang diproduksi terbanyak secara global dengan jumlah 390,4 juta ton di dunia pada tahun 2024. Indonesia menjadi salah satu negara yang memproduksi kentang kurang lebih 1,23 juta ton di tahun 2025. Namun, produksi umbi kentang di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan khususnya kebutuhan industri kentang olahan. Oleh karena itu, sebagian besar kebutuhan kentang industri masih diimpor. Impor kentang industri menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dari 71,2 ribu ton pada tahun 2022 menjadi 96,3 ribu ton per tahun 2025. Salah satu upaya dalam meningkatkan produksi kentang dalam negeri adalah menggunakan kultivar kentang unggul dengan produktivitas tinggi. Salah satu upaya untuk menghasilkan kultivar unggul adalah perbaikan genetik dengan menggunakan teknik rekayasa genetik. Kentang kultivar IPB CP2 merupakan salah satu kultivar kentang lokal yang dikembangkan oleh Pusat Bioteknologi IPB yang memiliki karakter sesuai untuk bahan baku industri kentang olahan, seperti keripik dan kentang goreng. Kultivar tersebut masih perlu ditingkatkan produktivitasnya dengan memasukkan gen Fructose-1,6-bisphosphatase dan gen Citrullus lanatus Ran 1. Gen Fructose-1,6-bisphosphatase (FBPase) merupakan gen yang berperan dalam percepatan akumulasi karbon dalam siklus Calvin yang mempengaruhi biosintesis pati dan sukrosa, sedangkan gen Citrullus lanatus Ran 1 (ClRan1) merupakan gen yang berperan dalam pembentukan mikrotubulus selama fase mitosis dan pemanjangan akar yang mempengaruhi penyerapan unsur hara secara optimal dan pembentukan umbi yang lebih cepat. Tujuan dari penelitian ini yaitu menghasilkan kentang kultivar IPB CP2 transgenik yang membawa gen FBPase/ClRan1, menganalisis karakter pertumbuhan dan produksi tanaman transgenik IPB CP2, menganalisis kandungan pati dan gula total pada umbi mikro tanaman transgenik IPB CP2, dan menganalisis ekspresi gen FBPase dan ClRan1. &#13;
Gen FBPase/ClRan1 diintegrasikan ke dalam kultivar IPB CP2 dengan transformasi genetik tanaman menggunakan Agrobacterium tumefaciens yang membawa gen FBPase/ClRan1. Bahan tanaman yang digunakan pada transformasi genetik tanaman adalah potongan batang tanpa buku tunas. Kalus dan tunas yang dihasilkan dikultivasi pada media seleksi kanamisin selama 2-4 minggu, dan dihitung persentase efisiensi transformasi dan regenerasi tanaman. Analisis integrasi gen dilakukan untuk memastikan keberadaan gen FBPase/ClRan1 di dalam genom tanaman transgenik dengan cara melakukan amplifikasi gen FBPase/ClRan1 menggunakan PCR. Untuk analisis produksi umbi, gula dan pati, klon IPB CP2 transgenik dan non-transgenik ditumbuhkan pada media induksi umbi mikro selama 8 minggu. Metode kolorimetri digunakan untuk mengukur kandungan gula total pada umbi menggunakan fenol-H2SO4, dan kandungan pati dengan menggunakan ?-amilase dan DNS. Ekspresi relatif gen FBPase dan ClRan1 dilakukan menggunakan qPCR.&#13;
Berdasarkan jumlah eksplan yang ditransformasikan hingga menghasilkan kalus yang resisten pada media seleksi kanamisin 100 mg/L, hasil penelitian ini menunjukkan efisiensi transformasi sebesar 55,1%. Sebagian kalus yang resisten mampu beregenerasi menghasilkan tunas dengan efisiensi regenerasi sebesar 43,1%. Keberhasilan transfer gen dikonfirmasi berdasarkan analisis integrasi dengan PCR menggunakan primer spesifik yang menghasilkan amplikon gen FBPase berukuran 581 pasang basa dan ClRan1 berukuran 798 pasang basa. Dari 44 tunas transgenik putatif, dihasilkan 4 klon transgenik. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan planlet meliputi tinggi tajuk, panjang akar, jumlah akar, bobot tajuk dan akar, karakter produksi planlet meliputi jumlah umbi, bobot umbi, serta kandungan gula dan pati pada umbi. Klon transgenik menunjukkan peningkatan tinggi tajuk, namun tidak diikuti oleh peningkatan bobot segar dan bobot kering tajuk yang mengindikasikan peralihan alokasi karbon menuju pembentukan organ penyimpanan. Jumlah akar klon transgenik CP2FB2, CP2FB3, dan CP2FB4 berbeda nyata dibandingkan klon non-transgenik, dengan bobot segar dan kering akar yang meningkat signifikan pada klon CP2FB4. Jumlah umbi mikro tidak berbeda nyata antarklon, namun klon CP2FB4 menunjukkan bobot umbi tertinggi. Umbi klon CP2FB3 dan CP2FB4 memiliki kadar gula total dan pati tertinggi dibandingkan non-transgenik dan klon transgenik lainnya. Ekspresi relatif gen FBPase klon transgenik lebih tinggi pada tajuk dibandingkan non-transgenik. Sedangkan pada ekspresi relatif gen ClRan1 cenderung meningkat pada klon transgenik, baik pada tajuk maupun akar.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179750">
<title>Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Ligninolitik Asal Tandan Sawit  sebagai Kandidat Agen Biokonversi Pakan Ruminansia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179750</link>
<description>Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Ligninolitik Asal Tandan Sawit  sebagai Kandidat Agen Biokonversi Pakan Ruminansia
Parastiwi, Hikmah Agustina
Limbah biomassa perkebunan sawit seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) melimpah tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. TKKS mengandung komponen lignoselulosa berupa selulosa dan hemiselulosa yang bermanfaat sebagai nutrien bagi ternak tetapi tingginya kandungan lignin menyebabkan kecernaan rendah, sehingga perlu dilakukan pengolahan. Berbagai metode pengolahan telah digunakan untuk meningkatkan kualitas TKKS, seperti perlakuan fisik, kimia, dan kombinasi keduanya. Metode tersebut umumnya memerlukan biaya tinggi, energi besar, dan menghasilkan limbah berbahaya. Pendekatan biologis melalui pemanfaatan mikroba penghasil enzim ligninolitik menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan efisien. Mikroba dari lingkungan perkebunan sawit diketahui memiliki potensi dalam mendegradasi TKKS. Namun eksplorasi terhadap mikroba dari tandan buah yang tidak mengalami proses termal belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan: (i) mengisolasi dan menyeleksi bakteri ligninolitik asal tandan sawit lapuk, (ii) mengidentifikasi isolat bakteri terpilih, (iii) menganalisis hasil aplikasi pretreatment biologis isolat bakteri ligninolitik terpilih pada TKKS. &#13;
Tahap awal penelitian yaitu dilakukan isolasi bakteri ligninolitik dari tandan sawit lapuk alami pada media nutrien agar (NA), seleksi kualitatif pada media lignin agar (LgA) dan media luria bertani (LB) agar mengandung 0,1% guaiacol (G-M) dan 0,01% aniline blue (AB-M) untuk menguji potensi isolat bakteri menghasilkan enzim ligninolitik. Seleksi kuantitatif dilakukan pada mineral salt medium mengandung lignin (MSM-Lg) 1g/L dan diamati nilai dekolorisasi (? 465 nm) serta degradasi (? 280 nm) lignin menggunakan spektrofotometer. Selain itu dilakukan uji aktivitas enzim lakase (Lac), lignin peroksidase (LiP), mangan peroksidase (MnP), dan lytic polysaccharide monooxygenase (LPMO). Sebanyak 20 isolat bakteri didapatkan dari proses isolasi. Proses seleksi kualitatif dan kuantitatif menghasilkan 5 isolat bakteri (OFB471, OFB545, OFB413, OFB412, dan OFB111) yang memiliki potensi tinggi dalam mendegradasi lignin. Pengukuran kapasitas degradasi lignin dan aktivitas enzim LiP, MnP, Lac, dan LPMO terbaik ditunjukkan oleh isolat OFB412 dengan nilai dekolorisasi lignin (52,27%), degradasi lignin (44,02%), dan aktivitas enzim LiP, MnP, Lac, LPMO secara berturut-turut (10,386 U/mL, 0,081 U/mL, 0,064 U/mL, dan 0,857 U/mL).&#13;
Identifikasi isolat terbaik OFB412 secara morfologi menunjukkan koloni berbentuk bundar dengan permukaan cembung, tepi rata, berwarna krem kekuningan, dan bertekstur halus. Hasil uji gram memperlihatkan warna ungu yang menandakan bakteri gram positif. Hasil identifikasi molekuler isolat OFB412 berdasarkan gen 16S rRNA memiliki kemiripan dengan Lysinibacillus xylanilyticus ON221880.1 dengan percent identity sebesar 99,49%. Pengamatan laju pertumbuhan OFB412 menunjukkan fase lag terjadi pada jam ke-0 hingga ke-3, fase eksponensial berlangsung hingga jam ke-18, dan setelah jam ke-18 memasuki fase stasioner. Time-study degradasi lignin menunjukkan peningkatan tajam degradasi lignin setelah jam ke-18 ketika bakteri memasuki fase stasioner. &#13;
Aplikasi pretreatment TKKS secara biologis dilakukan menggunakan isolat OFB412 (P1) dengan menyertakan konsorsium OFB412+OFB413 (P2) dan OFB412+OFB111 (P3), serta kontrol tanpa inokulan (P0). Hasil pengamatan fisik TKKS menggunakan scanning electron microscopy (SEM) menunjukkan adanya perubahan struktur permukaan serat TKKS lebih longgar, matriks serat tampak mulai terurai, dan hilangnya badan silika pada P1, P2, dan P3 sedangkan struktur serat tampak kaku dan padat pada P0. Kandungan fraksi serat neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), hemiselulosa, dan selulosa menurun signifikan pada P1 dan P3, diikuti P2 dibandingkan kontrol P0 (p &lt; 0,05). Sementara itu, kandungan lignin P1 dan P3 menurun secara signifikan dibandingkan P0, tetapi kandungan lignin P2 tidak berbeda nyata dengan P0 (p &lt; 0,05). Kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kecernaan fraksi serat NDF dan ADF (KCNDF, KNADF), dan kecernaan lignin (KCL) meningkat secara signifikan pada P1, P2,P3 dibandingkan kontrol P0 (p &lt; 0,05). Meskipun kandungan lignin P2 tidak berbeda nyata dengan kontrol , adanya kerusakan fisik serat akibat aktivitas bakteri mampu mengoptimalkan aksesibilitas mikroba rumen terhadap sumber pakan sehingga meningkatkan kecernaannya. Berdasarkan hal tersebut, isolat OFB412 merupakan bakteri ligninolitik yang memiliki aktivitas enzim LiP, MnP, Lac, serta LPMO, dan dapat diaplikasikan sebagai biotreatment untuk meningkatkan kualitas TKKS sebagai pakan ternak.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179467">
<title>Pengaruh Konsumsi Energi Terbarukan Tenaga Air dan Emisi Gas Rumah Kaca Terhadap Pertumbuhan Ekonomi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179467</link>
<description>Pengaruh Konsumsi Energi Terbarukan Tenaga Air dan Emisi Gas Rumah Kaca Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Firjatullah, Annisa
Perubahan iklim menjadi tantangan global yang semakin diperparah oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi yang masih didominasi penggunaan bahan bakar fosil. Sektor energi di Indonesia merupakan penyumbang emisi GRK terbesar akibat tingginya ketergantungan pada batu bara sebagai sumber utama pembangkit listrik. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kondisi tersebut mendorong pemerintah Indonesia mempercepat transisi energi melalui pengembangan energi terbarukan sebagai upaya menekan emisi GRK sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan. Meskipun demikian, pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan potensi yang dimiliki, serta menghadapi berbagai kendala berupa keterbatasan investasi, regulasi, kelembagaan, dan infrastruktur. &#13;
&#13;
Energi terbarukan tenaga air merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang memiliki potensi besar untuk mendukung transisi energi di Indonesia karena mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi GRK. Hubungan antara konsumsi energi terbarukan tenaga air, pertumbuhan ekonomi, dan emisi GRK masih menunjukkan hasil yang beragam pada berbagai penelitian terdahulu. Perbedaan tersebut melahirkan berbagai hipotesis mengenai hubungan energi dan pertumbuhan ekonomi, yaitu growth &#13;
hypothesis, conservation hypothesis, feedback hypothesis, dan neutrality hypothesis, serta belum memberikan kepastian mengenai keberadaan Environmental Kuznets Curve (EKC) di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kajian empiris yang mampu menjelaskan hubungan jangka pendek dan jangka panjang, hubungan kausalitas, serta keberadaan hipotesis EKC dalam konteks transisi energi di Indonesia. &#13;
&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konsumsi energi terbarukan tenaga air dalam dinamika hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi GRK di Indonesia serta menilai implikasinya terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan. Secara khusus, penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan jangka pendek dan jangka panjang antara konsumsi energi terbarukan tenaga air, emisi GRK, dan pertumbuhan ekonomi, menguji hubungan kausalitas di antara ketiga variabel tersebut, serta menganalisis keberadaan hipotesis EKC dalam &#13;
hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi GRK di Indonesia. &#13;
&#13;
Penelitian ini menggunakan Extended Solow Model sebagai kerangka analisis untuk menjelaskan keterkaitan antara konsumsi energi terbarukan tenaga air, emisi GRK, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Untuk menjawab tujuan penelitian, digunakan tiga metode analisis. Pertama, Autoregressive Distributed Lag (ARDL) digunakan untuk menganalisis hubungan jangka pendek dan jangka panjang antarvariabel. Kedua, uji kausalitas Granger digunakan untuk mengidentifikasi arah hubungan kausalitas antara konsumsi energi terbarukan tenaga air, emisi GRK, dan pertumbuhan ekonomi. Ketiga, hipotesis EKC diestimasi menggunakan model ARDL dengan spesifikasi polinomial kuadrat untuk menganalisis hubungan nonlinier antara pertumbuhan ekonomi dan emisi GRK di Indonesia. &#13;
&#13;
Hasil penelitian pada tujuan pertama menunjukkan bahwa konsumsi energi terbarukan tenaga air berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, tetapi tidak berpengaruh signifikan dalam jangka pendek. Sementara itu, emisi GRK tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek variabel tersebut tidak menghasilkan komponen perubahan dalam model karena memiliki lag optimal nol. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kontribusi &#13;
ekonomi dari pemanfaatan energi tenaga air lebih terlihat dalam jangka panjang, sementara keterkaitan antara emisi GRK dan pertumbuhan ekonomi belum menunjukkan hubungan yang konsisten pada hubungan jangka pendek maupun jangka panjang. &#13;
&#13;
Hasil penelitian pada tujuan kedua menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan kausalitas antara konsumsi energi terbarukan tenaga air dan pertumbuhan ekonomi. Hubungan keduanya mendukung hipotesis netralitas (neutrality hypothesis). Sementara itu, terdapat kausalitas dua arah (bidirectional causality) antara emisi GRK dan pertumbuhan ekonomi, yang menunjukkan bahwa perubahan emisi GRK menyebabkan pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya. &#13;
&#13;
Hasil penelitian pada tujuan ketiga menunjukkan adanya indikasi pola EKC di Indonesia dalam jangka panjang, yang ditunjukkan oleh hubungan berbentuk U terbalik (inverted U-shape) antara GDP riil per kapita dan emisi GRK. Meskipun koefisien GDP riil per kapita dan komponen kuadratiknya menunjukkan arah yang konsisten dengan pola EKC, dukungan statistik terhadap pola tersebut masih relatif terbatas karena koefisien kuadratik signifikan pada taraf nyata 15%. Hasil ini menunjukkan bahwa proses transisi menuju pembangunan rendah karbon di Indonesia masih berlangsung dan belum sepenuhnya terwujud. &#13;
&#13;
Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pencapaian pembangunan berkelanjutan memerlukan penguatan implementasi kebijakan transisi energi yang telah berkembang di Indonesia selama periode 2005-2024. Pengembangan energi terbarukan tenaga air perlu dipercepat melalui pembangunan infrastruktur, penyederhanaan perizinan, peningkatan akses pembiayaan, serta penguatan jaringan transmisi dan distribusi listrik. Dalam memperkuat keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dan penurunan emisi gas rumah kaca, dapat dilakukan melalui penguatan investasi hijau dan implementasi kebijakan dekarbonisasi melalui peningkatan pemanfaatan energi terbarukan, pengembangan teknologi &#13;
rendah karbon, penguatan sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV), serta optimalisasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK).; Climate change constitutes a significant global challenge, intensified by rising greenhouse gas (GHG) emissions originating from the energy sector, which remains predominantly reliant on fossil fuels. In Indonesia, the energy sector represents the principal source of GHG emissions, primarily due to its dependence on coal for electricity generation. Concurrently, energy demand continues to escalate in tandem with economic growth, industrialization, and enhancements in living standards. In response, the Indonesian government has sought to expedite the energy transition by advancing the development of renewable energy sources to mitigate GHG emissions while fostering economic growth and sustainable development. However, the deployment of renewable energy in Indonesia remains substantially below its potential, constrained by investment, regulatory, institutional, and infrastructural barriers. &#13;
&#13;
Hydropower represents a renewable energy source with considerable potential to facilitate Indonesia’s energy transition by providing a reliable &#13;
electricity supply and contributing to the reduction of GHG emissions. Nonetheless, extant literature has yielded inconclusive findings regarding the relationships among hydropower consumption, economic growth, and GHG emissions. These divergent results have given rise to several competing hypotheses within the energy–growth nexus, including the growth, conservation, feedback, and neutrality hypotheses. Furthermore, evidence supporting the Environmental Kuznets Curve (EKC) in Indonesia remains ambiguous. This situation underscores the necessity for empirical investigations capable of rigorously examining both short- and long run relationships, causal pathways, and the EKC within the context of Indonesia’s ongoing energy transition. &#13;
&#13;
This study seeks to examine the role of hydropower consumption within the relationship between economic growth and greenhouse gas (GHG) emissions in Indonesia and to evaluate the implications for sustainable development. In particular, the research investigates both short- and long-run relationships among hydropower consumption, GHG emissions, and economic growth; explores the causal linkages among these variables; and evaluates the Environmental Kuznets Curve (EKC) hypothesis as it pertains to the relationship between economic growth &#13;
and GHG emissions in Indonesia. &#13;
&#13;
The research utilizes the Extended Solow Model as the analytical framework to elucidate the interrelationships among hydropower consumption, GHG emissions, and economic growth in Indonesia. To address the research objectives, three analytical methods are employed. First, the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) approach is utilized to assess both short- and long-run relationships among the variables. Second, the Granger causality test is conducted to determine the directionality of causality among hydropower consumption, GHG emissions, and economic growth. Third, the EKC hypothesis is tested using an ARDL model with a quadratic polynomial specification to analyze the nonlinear association between economic growth and GHG emissions in Indonesia. &#13;
&#13;
The initial empirical finding demonstrates that hydropower consumption exerts a positive and statistically significant effect on economic growth in the long run, while its effect is not significant in the short run. Conversely, GHG emissions do not exhibit a significant effect on economic growth in the long run, and the short run change term for GHG emissions is omitted from the model due to an optimal lag length of zero. These results suggest that the economic benefits derived from hydropower consumption are more pronounced over the long term, whereas the association between GHG emissions and economic growth lacks statistical significance in the long run. &#13;
&#13;
The subsequent finding indicates the absence of a causal relationship between hydropower consumption and economic growth, thereby supporting the neutrality hypothesis. In contrast, a bidirectional causal relationship is identified between GHG emissions and economic growth, indicating that GHG emissions Grangercause economic growth, and economic growth also Granger-causes variations in GHG emissions.  &#13;
&#13;
The third empirical finding provides evidence of an EKC pattern in Indonesia over the long run, manifested as an inverted U-shaped relationship between real GDP per capita and GHG emissions. Nevertheless, the statistical support for this pattern is relatively limited, as the quadratic term of real GDP per capita achieves statistical significance at the 15 percent level. These observations imply that Indonesia's progress toward low-carbon development remains ongoing and has yet to reach full realization. &#13;
&#13;
The findings suggest that the attainment of sustainable development necessitates the reinforcement of Indonesia’s energy transition policies formulated during 2005–2024. Acceleration of hydropower development should be pursued through expanded infrastructure, streamlined licensing processes, improved financing accessibility, and strengthened electricity transmission and distribution networks. Additionally, the enhancement of green investment and decarbonization policies—through increased utilization of renewable energy, advancement of low&#13;
carbon technologies, improved Measurement, Reporting, and Verification (MRV) systems, and optimized implementation of Carbon Economic Value—will further strengthen the nexus between economic growth and reductions in GHG emissions
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179458">
<title>Analisis Keberlanjutan Aspek Biofisik Ekosistem Mangrove Berbasis Dinamika Tutupan Lahan di Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyumas Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179458</link>
<description>Analisis Keberlanjutan Aspek Biofisik Ekosistem Mangrove Berbasis Dinamika Tutupan Lahan di Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyumas Barat
SIREGAR, ABDUL HALIM
ABDUL HALIM SIREGAR. Analisis Keberlanjutan Aspek Biofisik&#13;
Ekosistem Mangrove Berbasis Dinamika Tutupan Lahan di Kesatuan&#13;
Pemangkuan Hutan Banyumas Barat. Dibimbing oleh DODIK RIDHO&#13;
NURROCHMAT dan YUDI SETIAWAN.&#13;
Kabupaten Cilacap memiliki kawasan mangrove seluas 6.286,80 hektar&#13;
yang berpotensi besar sebagai penyerap karbon dan penyedia jasa ekosistem&#13;
pesisir, namun belum tersedia data ilmiah yang komprehensif mengenai&#13;
dinamika tutupan lahan dan estimasi stok karbon, sehingga menjadi kendala&#13;
utama dalam merumuskan strategi pengelolaan yang efektif dan berbasis bukti.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut&#13;
melalui: (1) analisis perubahan tutupan lahan mangrove selama periode 2019–&#13;
2024, (2) analisis stok karbon mangrove, serta (3) perumusan strategi&#13;
pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan di KPH Banyumas Barat.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2025 hingga Mei 2026 di&#13;
Kawasan Mangrove KPH Banyumas Barat, Kabupaten Cilacap.&#13;
Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan dengan pendekatan machine&#13;
learning yang mengombinasikan citra Sentinel-2, indeks vegetasi multispektral,&#13;
dan klasifikasi Random Forest menggunakan platform Google Earth Engine.&#13;
Estimasi stok karbon dilakukan melalui pengukuran lapangan pada 50 titik plot&#13;
menggunakan persamaan alometrik spesifik jenis, yang kemudian dimodelkan&#13;
secara spasial dengan regresi yang mengintegrasikan dua indeks vegetasi&#13;
dengan korelasi tertinggi terhadap stok karbon aktual, yaitu Soil-Adjusted&#13;
Vegetation Index (SAVI) dan Inverted Red Edge Chlorophyll Index (iRECI).&#13;
Perumusan strategi dilakukan melalui wawancara terstruktur yang melibatkan&#13;
38 responden yang terdiri atas masyarakat lokal, nelayan, dan pelaku usaha&#13;
(responden internal) serta perwakilan instansi pemerintah, penyuluh kehutanan,&#13;
dan pakar konservasi (responden eksternal), yang datanya diolah secara&#13;
bertahap menggunakan matriks IFE, EFE, IE, SWOT, dan QSPM.&#13;
Dinamika perubahan tutupan lahan menunjukkan penurunan tutupan&#13;
mangrove sebesar 533,6 ha selama periode 2019–2024. Terjadi dua fase&#13;
perubahan, yaitu pada tahun 2019–2022 luas mangrove menunjukkan tren&#13;
peningkatan sebesar 46,4 ha, sementara pada tahun 2022–2024 luasan&#13;
mangrove mengalami penurunan tajam mencapai 580,1 ha yang disebabkan&#13;
oleh proses alami dan antropogenik, dengan laju kehilangan tertinggi terjadi&#13;
pada tahun 2023–2024 sebesar 10,30%/tahun. Kondisi ini berdampak pada&#13;
melemahnya fungsi ekologis kawasan, berkurangnya perlindungan pantai dari&#13;
abrasi, serta mengancam ketahanan penghidupan masyarakat nelayan pesisir&#13;
yang mata pencahariannya bergantung langsung pada produktivitas ekosistem&#13;
mangrove. Hasil klasifikasi Random Forest menunjukkan akurasi tinggi&#13;
dengan Overall Accuracy 97,82% dan koefisien Kappa 0,9521.&#13;
Hasil pengukuran pada 50 titik plot lapangan menunjukkan rata-rata&#13;
stok karbon atas permukaan sebesar 24,27 ton C/ha (kisaran 3,00–40,00 ton&#13;
C/ha), dengan Rhizophora mucronata memiliki stok karbon rata-rata tertinggi&#13;
(27,04 ton C/ha) dan Ceriops tagal terendah (17,70 ton C/ha). Model regresi&#13;
SAVI+iRECI yang dikembangkan untuk memetakan stok karbon secara&#13;
spasial menunjukkan akurasi yang baik, dengan RMSE 3,79 ton C/ha (RMSE&#13;
LOOCV 4,02 ton C/ha) dan MAPE 14,33% terhadap rata-rata stok karbon hasil&#13;
pengukuran lapangan. Model tersebut selanjutnya diterapkan pada seluruh&#13;
piksel yang terklasifikasi sebagai mangrove untuk menghasilkan peta distribusi&#13;
spasial stok karbon kawasan KPH Banyumas Barat.&#13;
Perumusan strategi melalui analisis SWOT menghasilkan 12 alternatif&#13;
strategi yang terbagi dalam empat kelompok SO, WO, ST, dan WT. Total skor&#13;
IFE sebesar 2,60 dan EFE sebesar 2,72 menempatkan posisi strategis KPH&#13;
Banyumas Barat pada Kuadran V matriks IE, yakni zona jaga dan pertahankan,&#13;
yang mencerminkan kawasan dengan potensi ekologis dan karbon yang&#13;
signifikan namun berada dalam tekanan degradasi yang nyata akibat lemahnya&#13;
kapasitas data, monitoring, dan penegakan regulasi. Prioritas strategi yang&#13;
ditetapkan melalui QSPM menempatkan tiga strategi sebagai yang paling&#13;
mendesak, yaitu: (1) optimalisasi skema perdagangan karbon melalui&#13;
mekanisme REDD+ berbasis data stok karbon terukur (STAS 3,58), (2)&#13;
pengembangan ekowisata mangrove berbasis edukasi dan konservasi (STAS&#13;
3,12), serta (3) pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk monitoring dan&#13;
evaluasi berkala kondisi mangrove (STAS 2,84). Ketiga strategi ini bersifat&#13;
saling melengkapi, di mana strategi monitoring berbasis penginderaan jauh&#13;
membangun basis data yang menjadi prasyarat keandalan skema karbon,&#13;
sementara pembangunan sistem database dan monitoring terpadu (STAS 2,50)&#13;
berperan sebagai fondasi infrastruktur pendukung bagi keberlanjutan&#13;
implementasi strategi-strategi prioritas tersebut. Strategi pelengkap meliputi&#13;
pengembangan zona penyangga mangrove dan tata ruang pesisir, rehabilitasi&#13;
kawasan terdegradasi, penguatan regulasi dan kapasitas kelembagaan,&#13;
pengembangan skema pendanaan alternatif melalui Payment for Ecosystem&#13;
Services (PES), serta peningkatan kesadaran masyarakat pesisir melalui&#13;
pendidikan lingkungan berbasis komunitas.; ABDUL HALIM SIREGAR. Sustainability Analysis Biophysical Aspect of&#13;
Mangrove Ecosystems Based on Land Cover Dynamics in Kesatuan&#13;
Pemangkuan Hutan Banyumas Barat. Supervised by Dodik Ridho Nurrochmat&#13;
and YUDI SETIAWAN&#13;
Cilacap Regency has a total of 6,286.80 hectares of mangrove area in&#13;
KPH Banyumas Barat, representing considerable potential as a carbon sink and&#13;
provider of coastal ecosystem services. However, the absence of&#13;
comprehensive scientific data on land cover dynamics and carbon stock&#13;
estimation remains a major obstacle to developing effective, evidence-based&#13;
management strategies. This study aimed to address this gap through: (1)&#13;
analysing mangrove land cover change over the 2019–2024 period, (2)&#13;
estimating mangrove carbon stock, and (3) formulating sustainable&#13;
management strategies for the mangrove ecosystem in KPH Banyumas Barat.&#13;
The study was conducted from January 2025 to May 2026 in the mangrove area&#13;
of KPH Banyumas Barat, Cilacap Regency.&#13;
Land cover change was analysed using a machine learning approach&#13;
that combined Sentinel-2 imagery, multispectral vegetation indices, and&#13;
Random Forest classification on the Google Earth Engine platform. Carbon&#13;
stock was estimated through field measurements at 50 sample plots using&#13;
species-specific allometric equations, which were then used to develop a spatial&#13;
regression model based on the two vegetation indices most strongly correlated&#13;
with measured carbon stock: the Soil-Adjusted Vegetation Index (SAVI) and&#13;
the Inverted Red Edge Chlorophyll Index (iRECI). Management strategies&#13;
were formulated through structured interviews with 38 respondents,&#13;
comprising internal respondents (local community members, fishermen, and&#13;
business actors) and external respondents (government agency representatives,&#13;
forestry extension officers, and conservation experts). The data were then&#13;
analysed in stages using the IFE, EFE, IE, SWOT, and QSPM matrices.&#13;
The land cover analysis showed a net decline of 533.6 ha in mangrove&#13;
cover over the 2019–2024 period, occurring in two distinct phases. During&#13;
2019–2022, mangrove area expanded by 46.4 ha, whereas during 2022–2024&#13;
it declined sharply by 580.1 ha as a result of natural and anthropogenic&#13;
processes, with the highest rate of loss recorded in 2023–2024 at 10.30% per&#13;
year. This decline has weakened the ecological functions of the area, reduced&#13;
coastal protection against abrasion, and threatened the livelihoods of coastal&#13;
fishing communities that depend directly on mangrove ecosystem productivity.&#13;
The Random Forest classification achieved high accuracy, with an Overall&#13;
Accuracy of 97.82% and a Kappa coefficient of 0.9521.&#13;
Field measurements at the 50 sample plots yielded a mean above-&#13;
ground carbon stock of 24.27 ton C/ha (range: 3.00 - 40.00 ton C/ha), with&#13;
Rhizophora mucronata showing the highest mean carbon stock (27.04 ton&#13;
C/ha) and Ceriops tagal the lowest (17.70 ton C/ha). The SAVI+iRECI&#13;
regression model developed to map carbon stock spatially performed well, with&#13;
an RMSE of 3.79 ton C/ha (LOOCV RMSE of 4.02 ton C/ha) and a MAPE of&#13;
14.33% relative to the field-measured mean. The model was then applied to all&#13;
pixels classified as mangrove to produce a spatial distribution map of carbon&#13;
stock for the KPH Banyumas Barat area.&#13;
The SWOT analysis produced 12 alternative strategies grouped into&#13;
four categories: SO, WO, ST, and WT. With an IFE score of 2.60 and an EFE&#13;
score of 2.72, KPH Banyumas Barat was placed in Quadrant V of the IE matrix&#13;
the hold-and-maintain zone reflecting an area with significant ecological and&#13;
carbon potential that nonetheless faces ongoing degradation pressure due to&#13;
weak data capacity, limited monitoring, and inadequate regulatory enforcement.&#13;
The QSPM ranked three strategies as the highest priority: (1) optimising carbon&#13;
trading schemes through the REDD+ mechanism, underpinned by measured&#13;
carbon stock data (STAS 3.58); (2) developing education- and conservation-&#13;
based mangrove ecotourism (STAS 3.12); and (3) leveraging remote sensing&#13;
technology for periodic monitoring and evaluation of mangrove condition&#13;
(STAS 2.84). These three strategies are mutually reinforcing: the remote&#13;
sensing monitoring strategy builds the data foundation required to substantiate&#13;
the carbon trading scheme, while the development of an integrated database&#13;
and monitoring system (STAS 2.50) provides the infrastructural basis needed&#13;
to sustain the implementation of these priority strategies over the long term.&#13;
Complementary strategies include developing mangrove buffer zones and&#13;
coastal spatial planning, rehabilitating degraded areas, strengthening&#13;
regulations and institutional capacity, developing alternative financing&#13;
mechanisms through Payment for Ecosystem Services (PES), and raising&#13;
coastal community awareness through community-based environmental&#13;
education.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
