<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80">
<title>MT - Multidiciplinary Program</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172909"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172899"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172861"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172859"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-11T12:13:24Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172909">
<title>Potensi Penerapan Verifikasi Berbasis Ilmiah untuk Penelusuran Kayu di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172909</link>
<description>Potensi Penerapan Verifikasi Berbasis Ilmiah untuk Penelusuran Kayu di Indonesia
Ferdyan, Dhio Teguh
Tesis ini mengkaji peluang integrasi metode verifikasi kayu berbasis ilmiah ke dalam sistem tata kelola kayu di Indonesia sebagai upaya memperkuat tata kelola hutan dan meningkatkan kredibilitas sistem legalitas kayu. Penelitian ini berangkat dari tantangan masih terjadinya pembalakan liar dan keraguan sebagian pihak terhadap efektivitas pengecekan berbasis dokumen administratif. Dalam konteks meningkatnya tuntutan pasar global terhadap transparansi dan keterlacakan rantai pasok, pendekatan ilmiah seperti identifikasi anatomi kayu, analisis stabel isotope, NIRS, DART TOFMS, analisis DNA dipandang memiliki potensi untuk memperkuat sistem yang ada melalui pembuktian berbasis ilmiah. Penelitian menggunakan kombinasi berbagai pendekatan yang memungkinkan analisis komprehensif. Tahapan awal berupa tinjauan literatur sistematis menggunakan kerangka PECO untuk mengidentifikasi indikator, yang kemudian dianalisis melalui kerangka PESTLE dan SWOT untuk memetakan faktor pendorong dan penghambat integrasi. Dalam penentuan prioritas strategi, penelitian ini memanfaatkan metode AHP untuk mengevaluasi indikator berdasarkan penilaian para ahli dari berbagai latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi metode identifikasi kayu berbasis ilmiah ke dalam sistem tata kelola kayu Indonesia memiliki landasan yang kuat baik secara konseptual, terutama didukung oleh kebutuhan penguatan penegakan hukum, perkembangan teknologi, dan inovasi. Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, seperti pertimbangan biaya implementasi dalam mendukung kesiapan infrastruktur dan basis data nasional, kapasitas sumber daya manusia, serta komitmen politik jangka panjang. Faktor hukum, teknologi, dan ekonomi muncul sebagai aspek strategis yang paling menentukan dalam proses integrasi. Secara keseluruhan, tesis ini menegaskan bahwa verifikasi kayu berbasis ilmiah diposisikan strategi penguatan tata kelola dan legitimasi sistem yang telah berjalan, bukan sebagai substitusi sistem yang telah ada. Integrasi yang bertahap, didukung penguatan kelembagaan, kolaborasi multipihak, serta strategi kebijakan yang terencana, akan menjadi kunci untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan legitimasi tata kelola kayu Indonesia.; This thesis examines the potential integration of science-based wood verification methods into Indonesia’s timber governance system as a strategy to strengthen forest governance and enhance the credibility of the national timber legality framework. The study is grounded in the persistent challenges of illegal logging and the limitations of document-based administrative verification mechanisms. Amid growing global market demands for transparency and supply chain traceability, scientific approaches including wood anatomical identification, stable isotope analysis, NIRS, DART-TOFMS, and DNA-based analysis are considered to offer significant potential to reinforce existing systems through objective, evidence-based verification. The research adopts a mixed-methods design to ensure a comprehensive analytical framework. It begins with a systematic literature review using the PECO framework to identify relevant sustainability indicators. These indicators are subsequently examined through PESTLE and SWOT analyses to assess the political, economic, social, technological, legal, and environmental dimensions influencing integration. To establish strategic priorities, the AHP is employed to evaluate and rank sustainability indicators based on expert judgments from diverse disciplinary backgrounds. The findings demonstrate that the integration of science-based wood identification methods into Indonesia’s timber governance system is conceptually well-founded, particularly in light of the need to strengthen law enforcement, support technological advancement, and promote innovation in forest governance. Nevertheless, several constraints must be addressed, including implementation costs associated with infrastructure development and the establishment of a national reference database, limited human resource capacity, and the necessity of sustained political commitment. Among the assessed dimensions, legal, technological, and economic factors emerge as the most critical determinants in the integration process. Overall, this thesis argues that science-based wood verification should be positioned as a complementary instrument to enhance governance effectiveness and reinforce the legitimacy of the existing system, rather than as a replacement mechanism. A phased and strategic integration supported by institutional strengthening, multi-stakeholder collaboration, and coherent policy planning will be essential to advancing transparency, accountability, and the overall integrity of Indonesia’s timber governance framework.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172899">
<title>Produksi Bioetanol Berbahan Baku Rebung Melalui Rekayasa Bioreaktor Respiratif-Fermentatif Sinambung</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172899</link>
<description>Produksi Bioetanol Berbahan Baku Rebung Melalui Rekayasa Bioreaktor Respiratif-Fermentatif Sinambung
Ropingi, Hendri
Bioetanol adalah produk metabolisme primer yang diproduksi dari biomassa oleh  mikroorganisme. Bioetanol dapat berperan sebagai bahan bakar untuk menggantikan penggunaan bahan bakar yang bersumber dari fosil. Rebung merupakan sumber lignoselulosa yang dapat digunakan sebagai substrat bioetanol. Rebung memiliki kandungan lignin relatif rendah dibandingkan dengan lignoselulosa lain dan juga memiliki kandungan protein yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi rebung bambu ampel (Bambusa vulgaris), membandingkan produksi bioetanol dari rebung (B. vulgaris) menggunakan teknik SSF konvensional dan terekayasa, dan memproduksi bioetanol menggunakan metode rekayasa sinambung bioreaktor dua tahap aerasi penuh-tanpa aerasi. Produksi bioetanol dari rebung menggunakan metode simultaneous saccharification and fermentation (SSF) dengan menggunakan Trichoderma reesei untuk hidrolisis dan Saccharomyces cerevisiae untuk fermentasi. Untuk kondisi teknik respiratif (dengan aerasi)-fermentatif (tanpa aerasi) dengan rekayasa aerasi pada kultur sinambung dengan volume 100 mL.&#13;
&#13;
Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa rebung mengandung protein sebesar 25,51 ± 0,46% dan serat sebesar 18,89 ± 0,37%. Selain itu, kadar selulosa, hemiselulosa, dan lignin masing-masing terukur sebesar 28,40 ± 0,49%, 31,28 ± 0,23%, dan 3,77 ± 0,40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik SSF konvensional menghasilkan etanol pada konsentrasi 3,42 ± 0,02 g/L, dengan nilai Yp/s sebesar 0,37 ± 0,01 g/g. Setelah penerapan rekayasa aerasi melalui metode SSF terekayasa, konsentrasi etanol meningkat menjadi 4,50 ± 0,01 g L?¹, dengan nilai Yp/s sebesar 0,50 ± 0,02 g/g. Nilai laju pembentukan etanol dan Yp/s pada metode SSF terekayasa juga lebih tinggi, yaitu 0,06 ± 0,00 g/L/jam dan 0,50 ± 0,02 g/g dibandingkan dengan SSF konvensional sebesar 0,05 ± 0,00 g/L/jam dan 0,37 ± 0,02 g/g. Peningkatan rendemen etanol dari metode SSF terekayasa sebesar 1,35 ± 0,05 kali lipat dibandingkan dengan metode SSF konvensional. Untuk produksi bioetanol pada kultur sinambung pada semua variasi laju alir menunjukkan konsentrasi selulosa rendah, glukosa rendah, dan tidak terdeteksinya etanol.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172861">
<title>Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat: Kasus Pada LMDH Puncak Lestari di Bogor dan KTHKm Mandiri di Kulon Progo</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172861</link>
<description>Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat: Kasus Pada LMDH Puncak Lestari di Bogor dan KTHKm Mandiri di Kulon Progo
Rumangkang, Febiola
Ekowisata merupakan salah satu bisnis unggulan dalam program Perhutanan Sosial. Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) memegang peran krusial dalam mengelola bisnis ekowisata di tingkat tapak, namun seringkali menghadapi tantangan kapasitas internal dan dinamika pasar yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan arah strategi pengembangan yang komprehensif guna meningkatkan kinerja bisnis ekowisata pada dua entitas pengelola, yaitu LMDH Puncak Lestari di Wonderful Citamiang (Kabupaten Bogor) dan KTHKm Mandiri di Objek Wisata Alam Kalibiru (Kabupaten Kulon Progo).&#13;
Penelitian ini mengadopsi pendekatan Sustainable Livelihoods Framework (SLF) untuk membedah posisi kekuatan dan kelemahan relatif dari lima jenis modal penghidupan: modal alam, fisik, manusia, sosial, dan finansial. Kinerja ekowisata dievaluasi secara multidimensional dengan menggunakan kriteria lingkungan, sosial, dan ekonomi. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner terstruktur dan observasi lapangan, yang kemudian diolah menggunakan analisis SWOT serta matriks pengambilan keputusan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) untuk mendapatkan nilai Total Attractiveness Score (TAS).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lokasi memiliki konfigurasi modal yang kontras. Wonderful Citamiang menunjukkan keunggulan signifikan pada modal fisik dan alam melalui investasi infrastruktur glamping yang masif, namun terkendala oleh rendahnya modal sosial dan partisipasi komunitas. Sebaliknya, Objek Wisata Alam Kalibiru, meski mengalami penurunan kualitas aset fisik dan finansial pascapandemi, tetap menunjukkan kinerja bisnis yang stabil berkat reputasi historis, identitas kolektif masyarakat, dan loyalitas pengunjung yang kuat. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan ekowisata tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya fisik, tetapi pada kapasitas kelembagaan yang adaptif dan kekuatan jejaring antarpemangku kepentingan.&#13;
Strategi pengembangan yang dirumuskan disesuaikan dengan karakteristik unik masing-masing lokasi. Strategi untuk Wonderful Citamiang difokuskan pada penguatan kelembagaan inklusif, optimalisasi paket wisata edukasi, dan kemandirian manajerial. Sementara itu, strategi untuk Kalibiru menitikberatkan pada regenerasi organisasi, digitalisasi promosi, serta revitalisasi modal sosial guna merespons kejenuhan pasar. Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan pentingnya sinkronisasi antara penguatan kapasitas internal dan pemanfaatan peluang eksternal untuk menciptakan model ekowisata berbasis komunitas yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172859">
<title>Bioprospeksi Metabolit Sekunder Kapang Halotoleran serta Halofilik Asal Bledug Kuwu dan Nusa Tenggara Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172859</link>
<description>Bioprospeksi Metabolit Sekunder Kapang Halotoleran serta Halofilik Asal Bledug Kuwu dan Nusa Tenggara Barat
ARSITA, RAJIDAH
Kapang yang berasal lingkungan ekstrem seperti ladang garam dan lumpur panas  memiliki mekanisme adaptasi terhadap tekanan osmotik tinggi dengan memproduksi senyawa osmoprotektan dan metabolit sekunder, sehingga memiliki sifat sebagai halofilik dan halotoleran. Lingkungan ekstrem memiliki potensi dalam menghasilkan kapang metabolit sekunder. Metabolit ini penting sebagai mekanisme pertahanan diri, yang dibantu oleh dinding sel yang tersusun atas  polisakarida dan protein yang disebut sebagai kitin. Metabolit sekunder yang berasal dari bahan alam mendapat perhatian besar karena potensinya sebagai komponen kunci dalam pengembangan obat baru. Kapang berfilamen dari lingkungan halofilik dapat menghasilkan beragam senyawa bioaktif seperti antioksidan, antibakteri, dan antikanker, antivirus. Genus Arthinium dan Apiospora memiliki potensi sebagai  sitotoksik terhadap sel kanker  dan antibakteri pada bakteri gram negatif dan positif. Berdasarkan hal tersebut maka kapang yang berasal dari lingkungan ekstrem seperti ladang garam dan lumpur panas seperti Bledug Kuwu perlu dieksplorasi untuk mengetahui potensinya dalam menghasilkan senyawa bioaktif yang dimanfaatkan sebagai sumber senyawa obat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan spesies kapang yang bersifat halotoleran/halofilik dengan kemampuan sebagai antioksidan, antibakteri dan sitotoksitas, selanjutnya mendapatkan kapang terpilih berdasarkan aktivitas antibakteri, antioksidan dan sitotoksitas, serta mengetahui golongan senyawa aktif yang terkandung pada kapang terpilih. Pengujian antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH  pengujian antibakteri dengan menggunakan metode zona hambat (Difusion disk) dan pengujian sitotoksik di lakukan dengan menggunakan uji MTT menggunakan kanker prostat (PC3). Kapang yang terpilih memiliki bioaktivitas terbaik diidentifikasi secara morfologi dengan menggunakan mikroskop dan secara molekuler dengan menggunakan primer ITS 1 dan ITS 4. Isolat yang terpilih dilakukan pengamatan kurva pertumbuhan selama 14 hari dan ditumbuhkan kembali dalam media PDB sebanyak 1 liter untuk produksi skala kecil. Ekstraksi metabolit   pada kaldu (broth) dilakukan dengan menggunakan etil asetat sedangkan metabolit yang terdapat pada miselium diekstraksi dengan campuran metanol dan diklorometan dengan perbandingan 1:1. Ekstrak yang diperoleh dan dipekatkan dengan rotavapor vakum dan dikeringkan menggunakan vakum konsentrator. Profil senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak kapang dianalisis dengan menggunakan LCMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat kapang yang berasal dari Bledug Kuwu berjumlah 23 isolat sedangkan dari  ladang garam NTB sebanyak 18 isolat. Berdasarkan bioaktivitas yang dilakukan, telah didapatkan satu  jenis kapang yang memiliki bioaktivitas terbaik yaitu isolat LT0418 yang berasal dari Ladang Garam NTB. Berdasarkan identifikasi secara morfologi dan molekuler, LT0418 teridentifikasi sebagai Apiospora malaysiana. Ekstrak kaldu LT0418  memiliki bioaktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak miselium. Nilai IC50 ekstrak kaldu terhadap radikal bebas DPPH sebesar 216.1  µg/mL. diameter zona hambat ekstrak kaldu sebesar 12,1 dan 3,8 mm  terhadap bakteri  S. aureus  dan E. Coli. Pengujian sitotoksisitas ekstrak kaldu  terhadap sel kanker prostat (PC3) memiliki  nilai IC50 sebesar 3,9 µg/mL, sedangkan ekstrak miselium memiliki nilai IC50 sebesar 2380 µg/mL. Hasil uji LCMS ekstrak kaldu LT0418 mengandung senyawa dari golongan poliketida, peptida,terpenoid, NRPS dan ester. Penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan untuk eksplorasi metabolomik, BGCs (Biosynthetic gene clusters) dari isolat LT0418 sebagai salah satu isolat potensial dalam memproduksi metabolit senyawa aktif untuk penelitian bioteknologi yang berkelanjutan. &#13;
Kata kunci : Antibakteri, antioksidan, kapang, ladang garam, sitotoksik; Fungi originating from extreme environments, such as salt fields and mud volcanoes, have adapted to high osmotic pressure by producing osmoprotectant compounds and secondary metabolites, endowing them with halophilic and halotolerant properties. These extreme environments have the potential to produce fungi that produce secondary metabolites with unique antioxidant activity. These metabolites are important for self-defence, aided by cell walls composed of polysaccharides and proteins called chitin. Secondary metabolites derived from natural materials have attracted considerable attention due to their potential as key components in the development of new drugs. Filamentous fungi from halophilic environments can produce various bioactive compounds, including antioxidants, antibacterials, antitumor agents, antivirals, and others. Some of these are from the genera Arthinium and Apiospora, which exhibit cytotoxic and antibacterial activities against gram-negative and gram-positive bacteria. Based on this, fungi originating from extreme environments, such as salt fields and volcanic mud, including Bledug Kuwu, need to be explored to determine their potential to produce bioactive compounds that can be utilised as sources of medicinal compounds. The aim of this study was to obtain halotolerant/halophilic fungi with antioxidant, antibacterial and cytotoxic activities from selected fungi and to analyse the profile of active compounds in the fungi using LC-MS. Isolates were obtained from salt fields in West Nusa Tenggara and Bledug Kuwu Grobogan in Central Java, and were subjected to morphological observation, antioxidant activity testing, antibacterial activity testing, and cytotoxicity testing. Antioxidant activity testing was conducted using the DPPH method, antibacterial activity testing using the zone inhibition method (disc diffusion), and cytotoxicity testing using the MTT assay with prostate cancer cells (PC3). The selected fungi (with the highest bioactivity) were identified morphologically using a microscope and molecularly using ITS1 and ITS4 primers. The selected isolates were observed for growth curves over 14 days, and grown in 1 litre of PDB medium for small-scale production. Extraction of metabolites present in the broth were extracted using ethyl acetate, while metabolites present in the mycelium were extracted using a mixture of methanol and dichloromethane in a 1:1 ratio. The resulting extract was concentrated using a vacuum rotary evaporator and dried using a vacuum concentrator. The secondary metabolite profile of the extract was analyzed by LC-MS. The results showed that 23 fungal isolates were obtained from Bledug Kuwu, while 18 were obtained from the NTB salt fields. Based on the bioactivity tests, one type of fungus showed the highest bioactivity. The fungus was isolated as number LT0418, originating from the NTB salt fields. Based on morphological and molecular identification, LT0418 was determined to be Apiospora malaysiana. The liquid extract had better bioactivity than the mycelium extract. The IC50 value of the liquid extract against DPPH free radicals was 216.1 µg/mL. The inhibition zone diameters of the liquid extract against S. aureus and E. coli bacteria were 12.1 and 3.8 mm, respectively. In addition, the cellular toxicity of the liquid extract against  &#13;
prostate cancer cells (PC3) had an IC50 value of 3.9 µg/mL, while the mycelial extract had an IC50 value of 2380 µg/mL. LCMS analysis of the LT0418 liquid extract revealed the presence of compounds from the polyketide, peptide, terpene, NRPS, and ester groups. This research is expected to continue for metabolomic exploration and biosynthetic gene cluster (BGCS) analysis of the LT0418 isolate, a potential isolate for the metabolism of active compounds in sustainable biotechnology research.&#13;
Keywords : Antibacterial, antioxidant, cytotoxic, fungi, salt fields.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
