<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79">
<title>MF - Human Ecology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175208"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174623"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174558"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174327"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-21T17:09:37Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175208">
<title>Pendekatan Komunikasi Lingkungan untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Mangrove di Kaledupa, Wakatobi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175208</link>
<description>Pendekatan Komunikasi Lingkungan untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Mangrove di Kaledupa, Wakatobi
MUHJANING, ARISTA NUR
Tingginya degradasi mangrove dipengaruhi oleh tekanan ekonomi, kebergantungan masyarakat terhadap sumber daya mangrove, serta lemahnya penegakan aturan menjadi dasar pentingnya upaya pelestarian ekosistem mangrove. Terdapat perbedaan perspektif mengenai mangrove. Mayoritas masyarakat di pesisir Kaledupa memandang mangrove sebagai sumber penghidupan, sementara pemerintah dan lembaga konservasi menekankan fungsi ekologis dan keberlanjutan mangrove. Perbedaan perspektif tersebut memerlukan strategi komunikasi lingkungan yang mampu membangun kesepahaman antar pemangku kepentingan, menyelaraskan tujuan pelestarian dengan kebutuhan masyarakat lokal, serta mendorong terciptanya pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis komunikasi lingkungan yang dilaksanakan dalam pengelolaan mangrove, (2) menganalisis pengaruh antara karakteristik individu, proses komunikasi lingkungan, dan tingkat dukungan eksternal terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan mangrove, dan (3) menganalisis pengaruh partisipasi masyarakat dalam pengelolaan mangrove terhadap keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan di wilayah pesisir.  Penelitian dilakukan dengan metode survei melibatkan anggota kelompok binaan Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) Wilayah II Kaledupa. Data dikumpulkan mulai Juli sampai dengan Agustus 2024 di empat desa yaitu Desa Lewuto, Desa Ambeua Raya, Desa Haruo, dan Desa Mantigola, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Populasi penelitian adalah 229 orang anggota kelompok binaan BTNW.  Responden penelitian terpilih sebanyak 67 orang (29% dari populasi) yang memenuhi syarat berikut, yaitu:  berada di lokasi pada saat penelitian dan bersedia diwawancarai (convenience sampling). Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan 10 informan (Staf BTNW Wilayah II Kaledupa, Sara Barata Kahedupa, perwakilan perangkat desa, Forum Kahedupa Toudani (FORKANI), Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dan anggota kelompok pengelola kawasan mangrove. Data penelitian yang dikumpulkan meliputi profil responden, proses komunikasi lingkungan, dukungan eksternal, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan pengelolaan mangrove. Data dikumpulkan melalui observasi lapang dan wawancara mendalam. Data yang diperoleh diolah menggunakan statistik deskriptif dan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi lingkungan dalam pengelolaan kawasan mangrove di Kaledupa dilihat dari intensitas komunikasi dan konvergensi komunikasi yang dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Keberhasilan pengelolaan mangrove dipengaruhi oleh intensitas pertemuan terjadwal, seperti pelatihan dan pemanfaatan media komunikasi yang mendukung interaksi dua arah. Dalam hal ini, masyarakat mengikuti pelatihan sebanyak dua sampai tiga kali dalam setahun dan termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini mencerminkan tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya komunikasi dalam pertukaran informasi, koordinasi, dan kolaborasi untuk pelestarian mangrove. Begitu pula dengan konvergensi komunikasi, yang ditunjukkan oleh tingkat pengetahuan masyarakat yang tinggi. Pengetahuan yang didapat oleh masyarakat bukan berasal dari pendidikan formal, melainkan pendidikan nonformal, yaitu kegiatan penyuluhan dan pelatihan dari Balai Taman Nasional Wakatobi, FORKANI, dan YKAN. Dengan menggunakan pendekatan komunikasi konvergen, informasi dapat dipraktikkan dan dikembangkan menjadi tindakan kolektif, yang pada akhirnya menghasilkan kesepakatan bersama untuk pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan mangrove di Kaledupa dipengaruhi oleh proses komunikasi lingkungan yang dilakukan, serta dukungan eksternal dari pemerintah, kelembagaan lokal dan pihak swasta yang menunjukkan pengaruh yang signifikan. Tingkat partisipasi masyarakat berada pada level sering pada semua tahapan, baik perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil, maupun evaluasi. Partisipasi aktif lebih tinggi pada kelompok masyarakat yang memiliki pemahaman dan kepentingan langsung terhadap kelestarian mangrove. Tingkat partisipasi masyarakat berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan pengelolaan mangrove di Kaledupa. Partisipasi masyarakat terhadap upaya melestarikan mangrove berada pada kategori tinggi. Bentuk partisipasi tersebut meliputi keterlibatan dalam penyusunan rencana pengelolaan, rehabilitasi melalui pembibitan dan penanaman mangrove, pengawasan kawasan, serta evaluasi program pengelolaan. Keberhasilan ini didukung oleh program kemitraan konservasi, penyuluhan dan pelatihan, serta kegiatan rehabilitasi mangrove. Partisipasi masyarakat tercermin dari keikutsertaan dalam pertemuan kelompok, pelaksanaan rehabilitasi mangrove, patroli dan pengawasan kawasan, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan evaluasi program. Keberhasilan pengelolaan mangrove juga diperkuat oleh dukungan BTNW melalui pendampingan, penyuluhan, pelatihan, dan fasilitasi kemitraan konservasi, FORKANI melalui penguatan kelembagaan dan koordinasi masyarakat, serta YKAN melalui peningkatan kapasitas dan pendampingan teknis. Oleh karena itu, diperlukan penguatan komunikasi lingkungan dan kolaborasi multipihak secara berkelanjutan agar partisipasi masyarakat tetap terjaga dan mampu mendukung keberlanjutan pengelolaan mangrove di Kaledupa.; The high rate of mangrove degradation, driven by economic pressures, communities’ dependence on mangrove resources, and weak enforcement of regulations, underscores the importance of efforts to conserve mangrove ecosystems. There are differing perspectives on mangroves. The majority of the community along the Kaledupa coast view mangroves as a source of livelihood, while the government and conservation organizations emphasize the ecological functions and sustainability of mangroves. These differing perspectives require an environmental communication strategy capable of building mutual understanding among stakeholders, aligning conservation goals with the needs of local communities, and promoting sustainable mangrove management. This study aims to (1) analyze the environmental communication practices implemented in mangrove management, (2) analyze the interplay between individual characteristics, environmental communication processes, and the level of external support on community participation in mangrove management, and (3) analyze the impact of community participation in mangrove management on social, economic, and environmental sustainability in coastal areas. The study was conducted using a survey method involving members of the Wakatobi National Park Office (BTNW) Region II Kaledupa community development group. Data were collected from July through August 2024 in four villages Lewuto, Ambeua Raya, Haruo, and Mantigola in Kaledupa Subdistrict, Wakatobi Regency. The study population consisted of 229 members of the BTNW community groups. A total of 67 respondents (29% of the population) were selected based on the following criteria: they were present at the study sites during the research period and were willing to be interviewed (convenience sampling). Qualitative data were obtained through in-depth interviews with 10 informants (BTNW Region II Kaledupa staff, Sara Barata Kahedupa, village officials, the Kahedupa Toudani Forum (FORKANI), the Nusantara Nature Conservation Foundation (YKAN), and members of the mangrove area management group). The research data collected included respondent profiles, environmental communication processes, external support, community participation, and the sustainability of mangrove management. Data were collected through field observations and in-depth interviews. The data obtained were analyzed using descriptive statistics and multiple linear regression tests. The research findings show that the environmental communication process in mangrove area management in Kaledupa is characterized by the intensity and convergence of communication carried out through outreach and training activities. The success of mangrove management is influenced by the frequency of scheduled meetings, such as training sessions, and the use of communication media that support two-way interaction. In this regard, the community participates in training two to three times a year, which falls into the “high” category. This reflects the community’s high awareness of the importance of communication in information exchange, coordination, and collaboration for mangrove conservation. Similarly, communication convergence is demonstrated by the community’s high level of knowledge. The knowledge acquired by the community does not stem from formal education but rather from non-formal education specifically, outreach and training activities conducted by the Wakatobi National Park Office, FORKANI, and YKAN. By employing a convergent communication approach, information can be put into practice and developed into collective action, ultimately leading to a shared consensus on sustainable mangrove management. Community participation in mangrove management in Kaledupa is influenced by environmental communication processes, as well as external support from the government, local institutions, and the private sector, all of which have a significant impact. The level of community participation is frequent at all stages planning, implementation, enjoying the benefits, and evaluation. Active participation is higher among community groups that have a direct understanding of and stake in mangrove conservation. The level of community participation has a significant impact on the sustainability of mangrove management in Kaledupa. Community participation in mangrove conservation efforts is high. Forms of participation include involvement in the development of management plans, rehabilitation through mangrove propagation and planting, area monitoring, and evaluation of management programs. This success has been supported by conservation partnership programs, outreach and training, and mangrove rehabilitation activities. Community participation is reflected in their involvement in group meetings, the implementation of mangrove rehabilitation, patrols and monitoring of the area, as well as their involvement in decision-making and program evaluation. The success of mangrove management is also reinforced by support from BTNW through mentoring, outreach, training, and facilitation of conservation partnerships; from FORKANI through institutional strengthening and community coordination; and from YKAN through capacity building and technical assistance. Therefore, it is necessary to strengthen environmental communication and sustainable multi-stakeholder collaboration to ensure that community participation is maintained and can support the sustainability of mangrove management in Kaledupa.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174623">
<title>Pengaruh Kelekatan Santri Dengan Pembimbing dan Teman Sebaya, Stres Akademik, Kecerdasan Emosional, dan Self-Compassion Terhadap Kesejahteraan Psikologis Santri</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174623</link>
<description>Pengaruh Kelekatan Santri Dengan Pembimbing dan Teman Sebaya, Stres Akademik, Kecerdasan Emosional, dan Self-Compassion Terhadap Kesejahteraan Psikologis Santri
Nurfadillah
Kesejahteraan psikologis merupakan salah satu indikator penting keberhasilan perkembangan remaja karena mencerminkan kemampuan individu dalam menerima diri, menjalin hubungan positif dengan orang lain, mengelola lingkungan, memiliki tujuan hidup, serta terus berkembang secara optimal. Pada remaja yang menempuh pendidikan di pondok pesantren, upaya mencapai kesejahteraan psikologis menghadapi tantangan yang lebih kompleks karena mereka harus menjalani kehidupan jauh dari keluarga, beradaptasi dengan sistem pendidikan dan pembinaan yang ketat, memenuhi tuntutan akademik dan keagamaan yang tinggi, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru. Kondisi tersebut dapat menjadi sumber tekanan yang berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis santri apabila tidak diimbangi dengan sumber daya pendukung yang memadai. Dalam konteks kehidupan pesantren, kualitas kelekatan dengan pembimbing dan teman sebaya berperan sebagai sumber dukungan sosial- emosional yang dapat membantu santri menghadapi berbagai tantangan perkembangan. Sebaliknya, stres akademik yang muncul akibat tuntutan pembelajaran dan aktivitas pesantren dapat menjadi faktor risiko yang menghambat kesejahteraan psikologis. Selain itu, faktor internal seperti kecerdasan emosional dan self-compassion dapat membantu santri mengelola emosi, menghadapi kesulitan secara adaptif, serta mempertahankan kondisi psikologis yang positif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kelekatan santri dengan pembimbing dan teman sebaya, stres akademik, kecerdasan emosional, dan self- compassion terhadap kesejahteraan psikologis santri.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang melibatkan 298 santri berusia 15-18 tahun di Kota Makassar, dengan 160 santri di pesantren tradisional dan 138 santri di pesantren modern. Analisis dan interpretasi data menggunakan analisis deskriptif, uji beda t-test, uji korelasi, dan analisis SEM. Pengolahan dan analisis data menggunakan perangkat lunak Microsoft Office Excel 2022, Statistical Package for Social Science (SPSS) 25,0 dan SmartPLS. Penelitian ini menggunakan explanatory research design dengan metode yang digunakan adalah cluster random sampling. Peneliti bersama dengan perwakilan pihak pesantren menyebarkan kuesioner secara langsung pada responden yang diisi secara self- administered oleh santri di kelas. Pengambilan data di lapangan dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2025.&#13;
Rata-rata usia remaja yang terlibat dalam penelitian ini 16,99 tahun dan lebih dari setengahnya (53,7%) adalah santri pesantren tradisional. Persentase mayoritas usia orang tua berada pada kategori dewasa madya (41-65 tahun). Proporsi terbesar pendidikan ayah (42,3%) dan ibu (47,0%) mencapai pendidikan D4/S1, dengan 38,9 persen ayah bekerja sebagai wirausaha/pebisnis dan ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga (46%). Sebagian besar santri berasal dari keluarga dengan pendapatan jauh diatas standar UMK Makassar 2025. Santri memiliki kelekatan pembimbing dengan rataan indeks sebesar 51,44 yang termasuk dalam kategori rendah. Kelekatan teman sebaya memiliki rataan indeks sebesar 59,87 yang termasuk dalam kategori rendah. Tingkat stres akademik yang dialami santri memiliki rataan indeks sebesar 54,48 yang terkategori rendah. Santri di pesantren tradisional ditemukan memiliki rataan stres akademik lebih tinggi (p&lt;0,05). Santri memiliki kecerdasan emosional dengan rataan indeks sebesar 55,71 yang terkategori rendah. Tingkat self-compassion santri sebesar 58,39 yeng terkategori rendah. Kesejahteraan psikologis santri memiliki rataan indeks sebesar 38,39 yang termasuk dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil uji beda tidak ditemukan adanya perbedaan antara kelekatan pembimbing, kelekatan teman sebaya, kecerdasan emosional, self-compassion, dan kesejahteraan psikologis antara santri di pesantren tradisional dan modern.&#13;
Hasil analisis korelasi diketahui bahwa usia santri berhubungan negatif signifikan dengan kelekatan pembimbingan pada keluruhan santri. Pendidikan ibu menunjukkan adanya hubungan negatif signifikan dengan stres akademik pada keseluruhan santri. Terdapat korelasi signifikan anatara pekerjaan ayah dengan stres akademik pada keseluruhan santri. Sementara pekerjaan ibu juga menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan kelekatan pembimbing pada keseluruhan santri.&#13;
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa kelekatan pembimbing (musyrif/ah), dan kelekatan teman sebaya, dan stres akademik berpengaruh langsung terhadap kecerdasan emosional. Stres akademik juga menunjukkan adanya pengaruh langsung terhadap kesejahteraan psikologis, namun tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap self-compassion baik secara langsung maupun sebagai mediator terhadap kesejahteraan psikologis. Sementara itu, diketahui bahwa kecerdasan emosional dan self-compassion berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan psikologis. Selain itu, diketahui juga bahwa terdapat pengaruh tidak langsung yaitu, kelekatan pembimbing, kelekatan teman sebaya, dan stres akademik berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis melalui kecerdasan emosional.&#13;
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini kesejahteraan psikologis santri dipengaruhi oleh kualitas hubungan interpersonal dan kemampuan pengelolaan emosi yang berakar pada nilai-nilai spiritual islam. Oleh karena itu, keluarga sebagai mikrosistem utama berperan penting untuk membangun dan mengembangkan hubungan yang hangat dan komunikasi terbuka sebelum anak menempuh pendidikan di pesantren, agar anak memiliki dasar rasa aman emosional yang kuat. Selain itu, instansi pesantren perlu melakukan penguatan kapasitas pembimbing agar mampu menajdi figur kelekatan yang suportif melalui pelatihan komunikasi empatik dan pengembangan kecerdasan emosional. Pesantren juga perlu menyediakan program-program pembinaan emosional dan layanan konseling berbasis nilai-nilai islam untuk membantu santri mengelola stres dan menumbuhkan self-compassion dalam sudut islami. Peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini dengan berbagai perbaikan dan variasi dengan mengeksplorasi faktor-faktor lainnya yang mungkin berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis santri.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Kelekatan Pembimbing, Kelekatan Teman Sebaya, Kesejahteraan Psikologis, Stres Akademik, Self-Compassion.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174558">
<title>Analisis Intensi Fertilitas Keluarga dengan Pendekatan Extended Theory of Planned Behavior</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174558</link>
<description>Analisis Intensi Fertilitas Keluarga dengan Pendekatan Extended Theory of Planned Behavior
Amrullah, Hilma
Penurunan Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia hingga berada di bawah tingkat penggantian penduduk (replacement level) mencerminkan perubahan perilaku reproduksi keluarga. Kota Depok sebagai wilayah perkotaan menunjukkan penurunan fertilitas yang lebih cepat dibandingkan rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tekanan ekonomi subjektif, peran gender, dan nilai anak terhadap intensi fertilitas keluarga dengan mengembangkan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Penelitian menggunakan desain cross-sectional pada 155 keluarga pasangan usia subur berusia 19–35 tahun yang belum memiliki anak atau memiliki satu anak di Kota Depok. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, uji korelasi, dan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penleitian menunjukkan bahwa tekanan ekonomi subjektif berpengaruh negatif terhadap perceived behavioral control (PBC), tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap peran gender maupun nilai anak. Peran gender berpengaruh positif terhadap nilai anak dan attitude, serta berpengaruh negatif terhadap PBC. Nilai anak berpengaruh positif terhadap attitude, namun attitude tidak berpengaruh signifikan terhadap intensi fertilitas. Sebaliknya, subjective norm dan PBC berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi fertilitas. Selain itu, tekanan ekonomi subjektif menurunkan intensi fertilitas melalui PBC. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intensi fertilitas keluarga muda di wilayah perkotaan lebih dipengaruhi oleh norma sosial dan persepsi kemampuan keluarga dalam merealisasikan rencana memiliki anak dibandingkan oleh sikap terhadap anak. Pengembangan TPB menunjukkan bahwa subjective norm dan PBC merupakan prediktor utama intensi fertilitas, sedangkan attitude tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini diharapkan menjadi masukan bagi perumusan kebijakan kependudukan dan pembangunan keluarga dalam mendukung perencanaan fertilitas keluarga muda.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174327">
<title>Perspektif Gender pada Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk Ketahananan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174327</link>
<description>Perspektif Gender pada Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk Ketahananan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Bogor
Rahmin, Wulan Ali
Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) merupakan program pemerintah yang mendorong pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan, tidak hanya bertujuan meningkatkan ketersediaan dan akses pangan rumah tangga, tetapi juga mendorong keterlibatan anggota rumah tangga dalam kegiatan produksi dan pengelolaan pangan. Program ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan mengakhiri kelaparan, mewujudkan ketahanan pangan, dan mendorong pertanian berkelanjutan. Kabupaten Bogor merupakan salah satu lokus pelaksanaan Program P2L dalam mendukung ketahanan pangan rumah tangga (DKP Bogor 2021). Keberhasilan pelaksanaan program tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis budidaya, tetapi juga dipengaruhi oleh keterlibatan seluruh anggota rumah tangga dalam pengelolaan dan pemanfaatan pekarangan. Kesetaraan gender menjadi penting karena berkaitan dengan kesempatan yang setara dalam memperoleh akses terhadap sumber daya, berpartisipasi dalam pelaksanaan program, terlibat dalam pengambilan keputusan, serta memperoleh manfaat dari program. Perempuan dianggap berperan penting dalam usaha pertanian dan pengelolaan pangan rumah tangga, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi keterbatasan dalam akses terhadap sumber daya, informasi, pelatihan, serta pengambilan keputusan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi efektivitas pelaksanaan Program (P2L). Di sisi lain, penyuluhan pertanian merupakan bagian penting dalam pembangunan pertanian sebagai proses pembelajaran yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat agar mampu mengadopsi inovasi, memanfaatkan sumber daya secara optimal, serta mengembangkan kemandirian dalam pengelolaan pangan rumah tangga. Oleh karena itu, penyelenggaraan penyuluhan yang efektif menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan Program P2L. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat kesetaraan gender dalam implementasi Program (P2L), faktor-faktor yang memengaruhinya, serta pengaruh kesetaraan gender terhadap ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Bogor.&#13;
Penelitian dilaksanakan di tiga Desa di Kabupaten Bogor yang terdiri dari Desa Benteng Kecamatan Ciampea, Desa Rabak Kecamatan Rumpin, dan Desa Cijujung Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan metode survei terhadap seluruh anggota kelompok tani peserta Program P2L yang masih aktif terdiri dari 35 orang petani laki-laki dan 25 orang petani perempuan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara mendalam. Analisis data terdiri dari deskriptif dengan menggunakan statistik deskriptif yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel. Analisis pengaruh menggunakan Structutal Equation Modelling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) untuk menguji pengaruh antarpeubah penelitian yaitu karakteristik rumah tangga, pembagian kerja rumah tangga, tingkat dukungan sosial, dan penyelenggaraan penyuluhan sebagai variabel besar, serta kesetaraan gender dan ketahanan pangan sebagai variabel terikat.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesetaraan gender pada implementasi Program P2L belum memenuhi kesetaraan gender. Hal ini ditunjukkan tingkat kesetaraan gender yang masih berada pada kategori kurang setara sebesar 46,7 persen atau masih di bawah 50 persen. Perempuan telah memiliki kesempatan yang relatif baik dalam mengakses program, pengambilan keputusan, kontrol terhadap pelaksanaan program, serta pembagian manfaat masih belum berlangsung secara setara. Sementara itu, pembagian kerja dalam rumah tangga juga masih berada pada kategori tidak setara dengan rata-rata sebesar 50,6 persen, yang ditandai oleh dominannya perempuan dalam pekerjaan reproduktif, serta belum seimbangnya pembagian kerja produktif dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini juga menganalisis pengaruh karakteristik rumah tangga, tingkat dukungan sosial, dan penyelenggaraan penyuluhan sebagai faktor-faktor yang memengaruhi kesetaraan gender, yang dianalisis menggunakan SEM-PLS. &#13;
Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa dukungan sosial dan penyelenggaraan penyuluhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesetaraan gender, sedangkan karakteristik rumah tangga tidak berpengaruh signifikan. Kedua peubah tersebut mampu menjelaskan variasi kesetaraan gender sebesar 69 persen. Pada aspek ketahanan pangan, sebagian besar rumah tangga berada pada kategori sedang baik dari sisi ketersediaan maupun akses pangan. Hasil analisis SEM-PLS juga menunjukkan bahwa kesetaraan gender berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa semakin setara akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat yang diterima laki-laki maupun perempuan dalam implementasi Program P2L, semakin baik kondisi ketahanan pangan rumah tangga.&#13;
Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Program P2L belum menunjukkan tingkat kesetaraan gender yang setara pada aspek akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat, serta belum seimbangnya pembagian kerja reproduktif, produktif, dan sosial dalam rumah tangga. Pengambilan keputusan dalam pelaksanaan program masih cenderung didominasi oleh laki-laki, sedangkan perempuan masih memikul sebagian besar tanggung jawab domestik. Kesetaraan gender dalam implementasi Program P2L dipengaruhi secara signifikan oleh dukungan sosial dan penyelenggaraan penyuluhan, sedangkan karakteristik rumah tangga tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Selanjutnya, kesetaraan gender berpengaruh positif terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Oleh karena itu, penguatan penyuluhan yang responsif gender serta peningkatan dukungan sosial perlu terus didorong untuk meningkatkan keberhasilan Program P2L dan memperkuat ketahanan pangan rumah tangga secara berkelanjutan.&#13;
Kata kunci: Ketahanan pangan, kesetaraan gender, program pekarangan pangan lestari (P2L); The Sustainable Food Yard Program (P2L) is a government initiative that promotes the sustainable utilization of home yards to improve household food availability and access while encouraging the active involvement of household members in food production and management. The program also supports the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 2, which aims to end hunger, achieve food security, and promote sustainable agriculture. Bogor Regency is one of the designated implementation areas for the P2L Program to strengthen household food security (Bogor Food Security Office, 2021). The success of the program depends not only on technical cultivation practices but also on the participation of all household members in managing and utilizing home yards. Gender equality is therefore essential, as it determines equal access to resources, participation in program implementation, involvement in decision-making, and equitable distribution of program benefits. Although women play a vital role in agricultural activities and household food management, numerous studies indicate that they continue to face constraints in accessing resources, information, training, and decision-making opportunities. These limitations may reduce the effectiveness of the P2L Program. Meanwhile, agricultural extension services constitute an essential component of agricultural development by facilitating learning processes that enhance farmers' knowledge, attitudes, and skills, enabling them to adopt innovations, optimize available resources, and strengthen household food management. Therefore, effective extension service delivery is a key factor supporting the successful implementation of the P2L Program. Based on these conditions, this study aimed to examine the level of gender equality in the implementation of the P2L Program, identify the factors influencing gender equality, and analyze its effect on household food security in Bogor Regency.&#13;
This study was conducted in three villages in Bogor Regency, namely Benteng Village Ciampea District, Rabak Village Rumpin District, and Cijujung Village Cibungbulang District. A quantitative approach employing a survey method was applied to all active members of farmer groups participating in the P2L Program, consisting of 35 male and 25 female farmers. Data were collected through structured questionnaires and in-depth interviews. Data analysis comprised descriptive statistics to describe the characteristics of the research variables and Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) to examine the relationships among the research variables. The model included household characteristics, household division of labor, social support, and agricultural extension services as exogenous variables, while gender equality and household food security were treated as endogenous variables.&#13;
The results indicate that gender equality in the implementation of the P2L Program has not yet been achieved. The overall level of gender equality was classified as less equal, accounting for 46.7%, which remains below 50%. Although women had relatively good access to the program, equality in decision-making, control over program implementation, and benefit-sharing had not yet been attained. Furthermore, the household division of labor remained unequal, with an average score of 50.6%, characterized by women's dominant responsibility for reproductive work and the unequal distribution of productive and social activities between men and women. The SEM-PLS analysis further revealed that social support and agricultural extension services had positive and significant effects on gender equality, whereas household characteristics did not have a significant effect. These variables explained 69% of the variance in gender equality.&#13;
Regarding household food security, most households were categorized as having a moderate level of both food availability and food access. The SEM-PLS results also demonstrated that gender equality had a positive and significant effect on household food security. This finding indicates that greater equality in access, control, participation, and benefit-sharing between men and women in the implementation of the P2L Program contributes to improved household food security.&#13;
This study concludes that the implementation of the P2L Program has not yet achieved gender equality in terms of access, control, participation, and benefit-sharing, and that the division of reproductive, productive, and social labor within households remains unequal. Decision-making in program implementation continues to be predominantly controlled by men, while women still bear the majority of domestic responsibilities. Gender equality in the implementation of the P2L Program is significantly influenced by social support and agricultural extension services, whereas household characteristics do not exert a significant influence. Furthermore, gender equality positively contributes to household food security. Therefore, strengthening gender-responsive agricultural extension services and enhancing social support should be prioritized to improve the effectiveness of the P2L Program and sustainably strengthen household food security.&#13;
Keywords: Food security, gender equality, sustainable food yard program
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
