<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79">
<title>MF - Human Ecology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178249"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178030"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178043"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177997"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-12T17:37:15Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178249">
<title>Komunikasi Kepemimpinan Transformasional dalam Meningkatkan Kewirausahaan Sosial UMKM Kampung Gunung Leutik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178249</link>
<description>Komunikasi Kepemimpinan Transformasional dalam Meningkatkan Kewirausahaan Sosial UMKM Kampung Gunung Leutik
Firdaus, Mohammad Dika Eka
Tingginya tingkat kemiskinan di wilayah pedesaan serta rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi tantangan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Salah satu pendekatan yang dinilai mampu menjawab persoalan tersebut adalah kewirausahaan sosial yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial bagi masyarakat. Keberhasilan kewirausahaan sosial sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Komunikasi pembangunan melalui kepemimpinan transformasional memiliki peran penting dalam membangun kesadaran, meningkatkan kapasitas, memotivasi, dan menggerakkan masyarakat agar terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan. Yayasan Perintis Pendidik Nusa (YPPN) di Kampung Gunung Leutik merupakan salah satu lembaga sosial yang mengembangkan kegiatan kewirausahaan sosial bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis hubungan karakteristik individu dan kepemimpinan transformasional dengan tingkat kewirausahaan sosial UMKM; (2) menganalisis proses komunikasi kepemimpinan transformasional pendiri YPPN; serta (3) mendeskripsikan kebermanfaatan kewirausahaan sosial yang dihasilkan bagi masyarakat sekitar.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimen yang diperkuat oleh data kualitatif. Lokasi penelitian berada di Kampung Gunung Leutik, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Populasi penelitian terdiri atas 40 pelaku UMKM penerima manfaat program kewirausahaan sosial YPPN yang seluruhnya dijadikan responden melalui metode sensus. Sementara 12 informan penelitian meliputi perangkat desa, pendiri dan pengurus YPPN, tokoh masyarakat, dan perwakilan pelaku UMKM Kampung Gunung Leutik. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner, wawancara mendalam, serta observasi lapangan. Analisis data kuantitatif menggunakan uji Chi-Square untuk menganalisis hubungan karakteristik individu dengan tingkat kewirausahaan sosial, serta uji korelasi Rank Spearman untuk menganalisis hubungan kepemimpinan transformasional dengan tingkat kewirausahaan sosial. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif sebagai pendukung dalam menjelaskan hasil analisis kuantitatif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu yang meliputi usia, pendidikan, motivasi berwirausaha, dan tingkat pendapatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kewirausahaan sosial pelaku UMKM. Sebaliknya, kepemimpinan transformasional memiliki hubungan nyata dengan tingkat kewirausahaan sosial pada kategori hubungan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kepemimpinan transformasional yang diterapkan, semakin tinggi pula tingkat kewirausahaan sosial pelaku UMKM. Implementasi kepemimpinan transformasional diwujudkan melalui empat karakteristik, yaitu kepemimpinan ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individu. Keempat karakteristik tersebut diterapkan melalui komunikasi yang mampu membangun kepercayaan masyarakat, memberikan motivasi untuk berwirausaha, mengembangkan kreativitas dan inovasi, serta memberikan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing pelaku UMKM. Dari perspektif komunikasi pembangunan, proses tersebut memperlihatkan implementasi fungsi peningkatan kapasitas dan penguatan jejaring dalam mendorong partisipasi masyarakat pada kegiatan kewirausahaan sosial. Selain meningkatkan kapasitas usaha, kegiatan kewirausahaan sosial juga menghasilkan manfaat sosial berupa terbukanya kesempatan kerja, tumbuhnya budaya berbagi melalui sedekah hasil usaha, meningkatnya kerja sama antarpelaku UMKM, berkembangnya pertukaran pengetahuan dan pengalaman usaha, serta meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan melalui berbagai aktivitas sosial yang dilakukan masyarakat.&#13;
Komunikasi kepemimpinan transformasional merupakan faktor yang berperan penting dalam meningkatkan kewirausahaan sosial UMKM di Kampung Gunung Leutik, sedangkan karakteristik individu tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap tingkat kewirausahaan sosial. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat melalui kewirausahaan sosial lebih ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam mengomunikasikan visi, membangun motivasi, memberikan ruang inovasi, memperhatikan kebutuhan anggota, serta membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Temuan ini memperkuat konsep komunikasi pembangunan yang menempatkan komunikasi sebagai instrumen strategis dalam membangun kapasitas masyarakat, meningkatkan partisipasi, dan menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Oleh karena itu, komunikasi kepemimpinan transformasional yang diterapkan Yayasan Perintis Pendidik Nusa dapat menjadi pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis kewirausahaan sosial yang relevan untuk direplikasi pada komunitas dan lembaga sosial lainnya.; The high poverty rate in rural areas and low quality of human resources pose challenges to achieving sustainable development in Indonesia. One approach deemed capable of addressing these issues is social entrepreneurship, which is oriented not only toward economic profit but also generating social benefits for the community. The success of social entrepreneurship is greatly influenced by community participation as the primary actors in development. Development communication through transformational leadership plays a crucial role in building awareness, increasing capacity, motivating, and mobilizing communities to actively participate in various empowerment activities. Yayasan Perintis Pendidik Nusa (YPPN) in Gunung Leutik Village is a social institution that develops social entrepreneurship activities for micro, small, and medium enterprises (MSMEs) as an effort to improve community welfare. This study aims to (1) analyze the relationship between individual characteristics and transformational leadership with the level of social entrepreneurship in MSMEs; (2) analyze the transformational leadership communication process of the YPPN founder; and (3) describe the benefits of social entrepreneurship for the surrounding community.&#13;
The study was conducted using a quantitative approach with a non-experimental design, supported by qualitative data. The research location was Gunung Leutik Hamlet, Benteng Village, Ciampea District, Bogor Regency. The study population consisted of 40 MSMEs beneficiaries of the YPPN social entrepreneurship program, all of whom were selected as respondents through a census method. The 12 informants included village officials, YPPN founders and administrators, community leaders, and representatives of MSMEs in Gunung Leutik Village. Data collection was conducted through questionnaires, in-depth interviews, and field observations. Quantitative data analysis used the Chi-Square test to analyze the relationship between individual characteristics and levels of social entrepreneurship, and the Spearman Rank correlation test to analyze the relationship between transformational leadership and levels of social entrepreneurship. Qualitative data were analyzed descriptively to support the explanation of the quantitative analysis results.&#13;
The results of the study indicate that individual characteristics, including age, education, entrepreneurial motivation, and income, do not significantly correlate with the level of social entrepreneurship among MSMEs. Conversely, transformational leadership communication has a significant relationship with the level of social entrepreneurship, with a moderate correlation. This indicates that the better transformational leadership communication, the higher level of social entrepreneurship among MSMEs. Transformational leadership is implemented through four characteristics: ideal leadership, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration. These four characteristics are implemented through communication that builds community trust, provides motivation for entrepreneurship, fosters creativity and innovation, and provides mentoring tailored to the needs of each MSME. From a development communication perspective, this process demonstrates the implementation of capacity building and network strengthening functions to encourage community participation in social entrepreneurship activities. In addition to increasing business capacity, social entrepreneurship activities also generate social benefits in the form of opening job opportunities, fostering a culture of sharing through almsgiving from business proceeds, increased cooperation among MSMEs, fostering the exchange of knowledge and business experience, and heightened environmental awareness through various community social activities.&#13;
Transformational leadership communication is a crucial factor in enhancing social entrepreneurship among MSMEs in Gunung Leutik Village, while individual characteristics do not significantly impact the level of social entrepreneurship. The success of community empowerment through social entrepreneurship is largely determined by the leader's ability to communicate a vision, build motivation, provide space for innovation, address members needs, and foster sustainable collaboration. These findings reinforce the concept of development communication, which positions communication as a strategic instrument for building community capacity, increasing participation, and creating sustainable social change. Therefore, the transformational leadership communication implemented by Yayasan Perintis Pendidik Nusa can be a relevant approach to social entrepreneurship-based community empowerment that can be replicated in other communities and social institutions.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178030">
<title>Pengaruh Kelekatan Orang Tua-Anak, Pengasuhan Orang Tua, dan Kualitas Pertemanan Terhadap Regulasi Emosi Remaja Awal</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178030</link>
<description>Pengaruh Kelekatan Orang Tua-Anak, Pengasuhan Orang Tua, dan Kualitas Pertemanan Terhadap Regulasi Emosi Remaja Awal
Wahyuningrum, Eko
Regulasi emosi merupakan kemampuan penting pada remaja awal karena berkaitan dengan kemampuan menghadapi tuntutan perkembangan dan mencegah munculnya perilaku maladaptif, seperti agresivitas, perundungan, dan kekerasan. Kemampuan regulasi emosi tidak berkembang secara terpisah, tetapi dipengaruhi oleh konteks perkembangan, terutama hubungan dengan orang tua dan teman sebaya. Berdasarkan Attachment Theory, kelekatan yang aman menjadi fondasi bagi perkembangan sosial-emosional dan dapat tercermin dalam praktik pengasuhan yang hangat, responsif, dan suportif. Seiring meningkatnya peran teman sebaya pada masa remaja, kualitas pertemanan juga menjadi konteks penting dalam perkembangan regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kelekatan orang tua–anak terhadap pengasuhan orang tua, kualitas pertemanan, dan regulasi emosi; pengaruh pengasuhan orang tua terhadap kualitas pertemanan dan regulasi emosi; serta pengaruh kualitas pertemanan terhadap regulasi emosi remaja awal. Penelitian menggunakan desain cross-sectional study dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Kota Depok dengan 224 responden siswa kelas VIII, dan setelah data cleaning diperoleh 184 responden yang memenuhi kelengkapan data untuk dianalisis. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan regulasi emosi diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire dan kualitas pertemanan menggunakan Friendship Quality Scale. Analisis dilakukan menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan orang tua–anak berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengasuhan orang tua dan regulasi emosi, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas pertemanan. Pengasuhan orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap regulasi emosi, tetapi tidak terhadap kualitas pertemanan. Kualitas pertemanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap regulasi emosi. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kelekatan, praktik pengasuhan yang positif, dan lingkungan pertemanan yang sehat dalam mendukung regulasi emosi remaja awal.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178043">
<title>Pengaruh Snack Bar Berbasis Sorgum (Sorghum bicolor L.) terhadap Daya Cerna Pati dan Indeks Glikemik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178043</link>
<description>Pengaruh Snack Bar Berbasis Sorgum (Sorghum bicolor L.) terhadap Daya Cerna Pati dan Indeks Glikemik
Husniyah, Maryam Nuha
Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan serealia lokal yang berpotensi sebagai pangan fungsional karena memiliki kandungan serat pangan yang tinggi dan struktur pati yang kompleks. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik fisik, karakteristik sensori, daya cerna pati, dan indeks glikemik snack bar berbasis sorgum sebagai alternatif makanan selingan untuk mendukung pengendalian kadar glukosa darah. Penelitian menggunakan tiga formulasi (F1, F2, dan F3) dengan perbedaan proporsi tepung sorgum dan flakes sorgum. Evaluasi sensori dilakukan menggunakan uji hedonik skala 9 poin terhadap 30 panelis terlatih. Analisis karakteristik fisik, proksimat, serat pangan, daya cerna pati secara in vitro, serta indeks glikemik pada subjek sehat juga dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan formulasi tidak memengaruhi tingkat penerimaan sensori. Secara fisik, snack bar memiliki struktur yang kompak dan seragam. Nilai daya cerna pati menunjukkan adanya fraksi pati tercerna lambat (slowly digestible starch). Selain itu, formula terpilih memiliki indeks glikemik rendah yang menunjukkan respons peningkatan glukosa darah yang lebih lambat setelah konsumsi. Dengan demikian, snack bar berbasis sorgum, khususnya Formula F2, berpotensi dikembangkan sebagai makanan selingan fungsional dengan mutu sensori yang baik, daya cerna pati lambat dicerna, dan indeks glikemik rendah sehingga dapat mendukung pengendalian kadar glukosa darah.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177997">
<title>Pengembangan Produk Snack Bar dari Tepung Ubi Banggai (Dioscorea Spp.) dan Tempe Sebagai Pangan Tambahan Olahragawan Tinggi Energi Protein</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177997</link>
<description>Pengembangan Produk Snack Bar dari Tepung Ubi Banggai (Dioscorea Spp.) dan Tempe Sebagai Pangan Tambahan Olahragawan Tinggi Energi Protein
DINITYA, KHALISHAH RAHMAH
Sepak bola merupakan olahraga dengan karakteristik aktivitas intermiten berintensitas tinggi yang menuntut kemampuan daya tahan (endurance), kekuatan, kecepatan, dan pemulihan yang optimal. Selama latihan maupun pertandingan, atlet mengalami peningkatan kebutuhan energi dan zat gizi, terutama karbohidrat dan protein. Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi utama untuk mempertahankan cadangan glikogen otot sehingga mampu mendukung performa selama aktivitas fisik, sedangkan protein berperan dalam proses sintesis protein otot, perbaikan jaringan yang mengalami kerusakan akibat latihan, serta mendukung adaptasi fisiologis setelah berolahraga. Ketidakcukupan asupan energi dan protein dapat menyebabkan penurunan performa, keterlambatan proses pemulihan, peningkatan risiko cedera, serta menurunkan kemampuan atlet dalam menjalani sesi latihan berikutnya.&#13;
Snack bar merupakan salah satu bentuk pangan tambahan yang berpotensi memenuhi kebutuhan tersebut karena praktis, mudah dibawa, dan dapat diformulasikan sesuai kebutuhan zat gizi atlet. Pengembangan snack bar berbasis bahan pangan lokal juga menjadi strategi untuk meningkatkan diversifikasi pangan dan pemanfaatan komoditas lokal Indonesia. Ubi Banggai (Dioscorea spp.) dipilih sebagai sumber karbohidrat karena memiliki kandungan pati dan karbohidrat yang tinggi, sedangkan tempe dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati yang memiliki kandungan protein tinggi, daya cerna yang baik, dan kaya akan asam amino esensial. Kombinasi kedua bahan tersebut diharapkan mampu menghasilkan snack bar tinggi energi dan protein yang sesuai sebagai pangan tambahan olahragawan.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengembangkan snack bar berbasis tepung ubi Banggai dan tempe sebagai pangan tambahan olahragawan tinggi energi dan protein. Penelitian juga bertujuan menganalisis kandungan gizi tepung ubi Banggai, menentukan formulasi terbaik berdasarkan evaluasi sensori, menganalisis kandungan gizi dan karakteristik fisik snack bar, mengevaluasi daya cerna protein secara in vitro, serta menilai kontribusi zat gizi dan kesesuaian produk terhadap persyaratan pangan tambahan olahragawan. Penelitian menggunakan desain eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga formulasi berdasarkan rasio tepung ubi Banggai dan tempe, yaitu F1 (60:40), F2 (50:50), dan F3 (40:60). Analisis yang dilakukan meliputi analisis proksimat, kadar pati, energi, total gula, serat pangan, karakteristik fisik (tekstur dan warna), uji sensori (hedonik, daya terima atlet, ranking, dan Quantitative Descriptive Analysis), serta analisis daya cerna protein secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung ubi Banggai mengandung karbohidrat sebesar 75,81%, protein 9,09%, lemak 0,63%, kadar air 12,71%, energi 345,3 kkal per 100 g, dan kadar pati 69,48%, sehingga berpotensi sebagai sumber karbohidrat lokal untuk produk pangan olahraga. Seluruh formulasi snack bar dapat diterima oleh panelis dan atlet dengan tingkat kesukaan pada kategori netral hingga suka. Berdasarkan uji ranking, formulasi F3 dipilih sebagai formula terbaik. Peningkatan proporsi tempe menghasilkan warna yang lebih gelap, aroma tempe yang lebih kuat, serta tekstur yang lebih padat akibat proses pemanggangan.&#13;
Perbedaan rasio tepung ubi Banggai dan tempe memengaruhi kandungan zat gizi produk. Formula F1 mengandung protein 23,18%, lemak 8,58%, karbohidrat 49,65%, dan energi 369,00 kkal per 100 g. Formula F2 mengandung protein 26,89%, lemak 9,57%, karbohidrat 44,02%, dan energi 369,35 kkal per 100 g. Sementara itu, Formula F3 memiliki kandungan protein tertinggi, yaitu 28,74%, dengan lemak 10,31%, karbohidrat 40,72%, dan energi 370,63 kkal per 100 g. Semakin tinggi proporsi tempe, kandungan protein dan lemak meningkat, sedangkan kandungan karbohidrat menurun.&#13;
Formula F3 memiliki nilai daya cerna protein in vitro sebesar 69,79%, yang menunjukkan bahwa protein dalam produk dapat dicerna dengan baik sebagai sumber protein nabati. Berdasarkan kandungan gizi per sajian dan evaluasi terhadap persyaratan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), formula ini memenuhi kriteria sebagai pangan tambahan olahragawan tinggi energi dan protein. &#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi tepung ubi Banggai dan tempe dapat menghasilkan snack bar dengan karakteristik sensori yang baik, kandungan energi dan protein yang tinggi, serta daya cerna protein yang memadai. Formula F3 (40:60) merupakan formulasi terbaik karena memiliki kandungan protein tertinggi, mutu sensori yang baik, dan memenuhi persyaratan sebagai pangan tambahan olahragawan. Hasil penelitian ini mendukung pemanfaatan ubi Banggai sebagai sumber karbohidrat lokal dan tempe sebagai sumber protein nabati dalam pengembangan pangan fungsional yang praktis, bergizi, dan berpotensi mendukung pemenuhan kebutuhan gizi atlet.; Soccer is a high-intensity intermittent sport that requires endurance, strength, speed, and rapid recovery to maintain optimal performance during training and competition. Consequently, athletes require higher energy and nutrient intake than non-athletes, particularly carbohydrates and proteins. Carbohydrates serve as the primary energy source by maintaining muscle glycogen stores during exercise, while proteins support muscle protein synthesis, tissue repair, and post-exercise recovery. However, many athletes experience difficulties in meeting their nutritional requirements due to limited access to practical, nutrient-dense foods that can be consumed conveniently around training schedules.&#13;
Snack bars are considered a promising sports supplementary food because they are portable, convenient, and can be formulated to meet the nutritional requirements of athletes. The use of local food resources also supports food diversification and enhances the value of indigenous agricultural commodities. Banggai yam (Dioscorea spp.), an indigenous tuber from the Banggai Islands of Central Sulawesi, has a high carbohydrate and starch content, making it a potential source of energy. Tempeh was selected as the primary protein source because it is rich in high-quality plant protein, has good protein digestibility, and contains essential amino acids. Therefore, combining Banggai yam flour and tempeh was expected to produce a high-energy, high-protein snack bar suitable as a sports supplementary food.&#13;
This study aimed to develop a plant-based snack bar formulated from Banggai yam flour and tempeh as a high-energy, high-protein supplementary food for athletes. Specifically, the study evaluated the nutritional composition of Banggai yam flour, determined the best snack bar formulation through sensory evaluation, analyzed the nutritional composition and physical characteristics of the developed products, assessed in vitro protein digestibility, and evaluated the nutritional contribution and compliance of the selected formulation with the requirements for sports supplementary foods.&#13;
An experimental study using a Completely Randomized Design (CRD) was conducted with three formulations based on different proportions of Banggai yam flour and tempeh: F1 (60:40), F2 (50:50), and F3 (40:60). The products were analyzed for proximate composition, starch content, energy value, total sugar, dietary fiber, physical characteristics (texture and color), sensory properties (hedonic, athlete acceptance, ranking, and Quantitative Descriptive Analysis), and in vitro protein digestibility. The results showed that Banggai yam flour contained 75.81% carbohydrate, 9.09% protein, 0.63% fat, 12.71% moisture, 345.3 kcal per 100 g of energy, and 69.48% starch, indicating its potential as a local carbohydrate source for sports food development. All snack bar formulations were generally accepted by both panelists and athletes, with overall preference ranging from neutral to like. Based on the ranking test, formulation F3 was selected as the best formulation. Increasing the proportion of tempeh resulted in a darker color, a stronger tempeh aroma, and a firmer texture due to the baking process. The nutritional composition differed among formulations. Formula F1 contained 23.18% protein, 8.58% fat, 49.65% carbohydrate, and 369.00 kcal per 100 g. Formula F2 contained 26.89% protein, 9.57% fat, 44.02% carbohydrate, and 369.35 kcal per 100 g. Formula F3 exhibited the highest protein content at 28.74%, with 10.31% fat, 40.72% carbohydrate, and 370.63 kcal per 100 g. Increasing the proportion of tempeh significantly increased the protein and fat contents while reducing the carbohydrate content.&#13;
The selected formulation (F3) demonstrated an in vitro protein digestibility of 69.79%, indicating that the protein could be efficiently digested and utilized as a plant-based protein source. Based on the nutritional composition per serving and evaluation according to the Indonesian National Agency of Drug and Food Control (BPOM) regulations, this formulation met the requirements for a high-energy, high-protein sports supplementary food.&#13;
In conclusion, this study demonstrated that combining Banggai yam flour and tempeh successfully produced a snack bar with desirable sensory characteristics, high energy and protein contents, and satisfactory protein digestibility. Formula F3 (40:60) was identified as the optimal formulation because of its superior protein content, favorable sensory quality, and compliance with the nutritional requirements for sports supplementary foods. These findings highlight the potential of utilizing Banggai yam as a local carbohydrate source and tempeh as a plant-based protein source in the development of practical, nutritious, and functional foods to support athletes' nutritional needs.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
