<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79">
<title>MT - Human Ecology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172650"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172649"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172501"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-07T15:58:43Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888">
<title>Analisis Hubungan Karakteristik Kader Posyandu dengan Kualitas Data Pengukuran Status Gizi dalam E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888</link>
<description>Analisis Hubungan Karakteristik Kader Posyandu dengan Kualitas Data Pengukuran Status Gizi dalam E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara
ISHAK, ANISA
Kualitas data status gizi dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) sangat bergantung pada akurasi pengukuran antropometri oleh kader posyandu. Namun, kompetensi kader dan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas data pengukurannya masih perlu dikaji, khususnya di daerah dengan tantangan geografis seperti Kabupaten Toraja Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik kader Posyandu dengan kualitas data tinggi badan balita dalam aplikasi E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sequential explanatory dengan pendekatan utama kuantitatif (cross-sectional) dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif (wawancara mendalam). Sebanyak 34 kader posyandu dan 188 balita dari delapan posyandu dipilih secara purposif, serta 8 informan kunci dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, observasi keterampilan pengukuran tinggi badanmenggunakan daftar tilik, pengukuran presisi dan akurasi tinggi badan berulang (kader dan gold standard), serta wawancara mendalam. Analisis data kuantitatif menggunakan uji Chi square, regresi logistik, uji diagnostik (ROC, sensitivitas, spesifisitas, PPV, dan NPV), dan analisis Bland-Altman plot. Analisis kualitatif menggunakan analisis tematik dan SWOT.&#13;
Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar kader memiliki pengetahuan (70,6%) dan keterampilan (79,4%) yang kurang. Akurasi (82,4%) dan presisi (64,7%) pengukuran kader tergolong tidak baik. Pekerjaan merupakan faktor determinan utama, di mana kader tidak bekerja/Ibu Rumah Tangga memiliki akurasi (OR=12,6) dan presisi (OR=53,3) yang lebih baik dibanding kader petani. Data E-PPGBM cenderung underestimate prevalensi stunting (30,9% vs 39,9% menurut gold standard) dengan sensitivitas 70,7% dan spesifisitas 95,6%. Analisis kualitatif mengungkap tantangan validasi eksternal, risiko data di level input, dan hambatan koordinasi dalam pemanfaatan data.&#13;
Kualitas data pengukuran tinggi badan oleh kader masih rendah dengan pekerjaan sebagai faktor dominan. Data E-PPGBM berpotensi menyebabkan underdiagnosis stunting. Diperlukan peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan berjenjang dan berkelanjutan, standarisasi dan kalibrasi alat ukur antropometri, monitoring dan evaluasi secara berkala, penguatan sistem validasi data, dan sinergi lintas sektor untuk meningkatkan akurasi data dan efektivitas program penurunan stunting.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172650">
<title>Resiliensi Akademik Mahasiswa Disabilitas: Analisis Faktor Individual dan Konteks Sosial dengan Pendekatan Mix Methods</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172650</link>
<description>Resiliensi Akademik Mahasiswa Disabilitas: Analisis Faktor Individual dan Konteks Sosial dengan Pendekatan Mix Methods
Jannah, Miftachul
Kesadaran inklusif yang meningkat telah mendorong bertambahnya jumlah mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi, namun mereka tetap menghadapi berbagai tantangan dalam pemenuhan kebutuhan belajar, seperti hambatan personal dan komunikasi, stigma dan penerimaan sosial, keterbatasan aksesibilitas fisik, serta kurangnya sumber daya pembelajaran. Beragam hambatan tersebut berdampak pada kesejahteraan psikologis dan performa akademik, sehingga resiliensi akademik menjadi aspek penting bagi mahasiswa disabilitas dalam menghadapi tekanan dan tuntutan studi. Dalam perspektif teori ekologi Bronfenbrenner, resiliensi akademik terbentuk melalui interaksi faktor internal individu dan faktor eksternal dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga, teman sebaya, dan institusi pendidikan.&#13;
	Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang membentuk resiliensi akademik mahasiswa disabilitas dengan melihat pengaruh hubungan orang tua dan anak, hubungan teman sebaya, efikasi diri akademik serta persepsi mahasiswa mengenai aksesibilitas lingkungan akademik.  Penelitian ini merupakan penelitian campuran dengan desain Explanatory Research Design. Pengambilan data dilakukan pada bulan Febuari hingga Mei 2025 dengan menggunakan kuesioner dan wawancara semi terstruktur. &#13;
	Penelitian melibatkan 155 mahasiswa disabilitas dengan hambatan penglihatan, pendengaran, dan fisik-motorik pada jenjang Diploma hingga Strata 1 di perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pengambilan sampling dilakukan secara voluntary sampling. Data yang diambil berupa karakteristik mahasiswa disabilitas, karakteristik keluarga, hubungan orang tua-anak, hubungan teman sebaya, efikasi diri akademik, dan resiliensi akademik yang merupakan data kuantitatif, serta persepsi mahasiswa disabilitas mengenai aksesibilitas lingkungan akademik di kampus mereka yang merupakan data kualitatif. &#13;
	Data penelitian kuantitatif diolah dan dianalisis melalui Microsoft Excel, SPSS, dan SMART-PLS. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan distribusi jawaban responden berdasarkan variabel penelitian dan kategori jenis hambatan. Analisis hubungan dilakukan melalui uji korelasi Spearman guna menilai keterkaitan antara karakteristik responden dan keluarga sebagai variabel utama. Analisis Structural Equation Modeling (SEM)-PLS diterapkan untuk menguji pengaruh langsung maupun tidak langsung antar variabel laten. Selanjutnya dilakukan eksplorasi peran aksesibilitas lingkungan akademik dengan efikasi diri akademik dan resiliensi akademik melalui analisis tematik dengan cara pengodean hasil transkrip wawancara.&#13;
	Rata-rata usia responden yang terlibat dalam penelitian ini berada pada usia 18-25 tahun (SD= 2,967; min-maks= 18-35) dengan sebaran mahasiswa dengan hambatan penglihatan (n= 36; 23,2%), hambatan pendengaran (n= 82; 52,9%), dan hambatan fisik-motorik (n= 37; 23,9%). Rata-rata usia ayah dan ibu yakni antara 40 sampai 60 tahun. Proporsi terbesar pendidikan ayah (39,4%) adalah SMA, sedangkan proporsi terbesar pendidikan ibu (40%) adalah tamatan perguruan tinggi. Sebagian besar pekerjaan ayah (27,7%) adalah pedagang/wiraswasta, dan sebagian besar profesi ibu (35,5%) adalah ibu rumah tangga. Sebanyak 24,5 persen pendapatan keluarga berada di antara 1 hingga 2 juta rupiah.&#13;
	Hubungan orang tua dan anak masuk dalam kategori sedang (55,7%) dengan rata-rata indeks 63,28. Proporsi terbesar hubungan teman sebaya total berada dalam kategori sedang (65,8%) dengan rata-rata indeks 66,57. Skor efikasi diri akademik menunjukkan lebih dari separuh responden berada dalam kategori sedang (69%) dengan rata-rata indeks 63,9. Tingkat Resiliensi Akademik mahasiswa disabilitas menunjukkan berada pada kategori sedang (60,6%) dengan rata-rata 67,91.&#13;
	Hasil uji beda menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada hubungan orang tua-anak, hubungan teman sebaya, dan efikasi diri akademik di antara ketiga jenis hambatan mahasiswa. sedangkan pada resiliensi akademik terdapat perbedaan signifikan, dengan tingkat resiliensi tertinggi diperoleh oleh kelompok mahasiswa dengan hambatan fisik-motorik.&#13;
	Hasil uji SEM-PLS menunjukkan bahwa kualitas hubungan orang tua-anak memberi pengaruh terhadap hubungan teman sebaya dan resiliensi akademik mahasiswa disabilitas, namun tidak berpengaruh terhadap efikasi diri akademik. hubungan teman sebaya memiliki pengaruh signifikan baik terhadap efikasi diri akademik maupun terhadap resiliensi akademik. kemudian efikasi diri akademik memiliki pengaruh signifikan terhadap resiliensi akademik. Temuan menunjukkan bahwa hubungan teman sebaya dan efikasi diri akademik menjadi prediktor tertinggi dalam memberi pengaruh terhadap peningkatan resiliensi akademik.&#13;
	Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa aksesibilitas lingkungan akademik berperan penting dalam membentuk efikasi diri akademik dan resiliensi akademik mahasiswa disabilitas. Aksesibilitas yang baik meliputi kebijakan institusi, dukungan sosial, dan fasilitas pembelajaran adaptif yang dapat mendorong peningkatan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan akademiknya. Di perguruan tinggi dengan praktik inklusi yang kuat, mahasiswa cenderung memiliki efikasi diri tinggi, ditunjukkan dengan kemampuan mengelola proses belajar baik secara mandiri, adaptif, dan memanfaatkan layanan akademik dengan optimal. Sebaliknya, keterbatasan aksesibilitas membuat mahasiswa harus mengandalkan motivasi internal dan dukungan keluarga sebagai bentuk adaptasi terhadap minimnya dukungan lingkungan.&#13;
	Hasil penelitian ini menegaskan bahwa resiliensi akademik mahasiswa disabilitas terbentuk melalui interaksi antara faktor individual dan konteks sosial, sehingga memperluas pemahaman dalam kerangka ekologi Bronfenbrenner. Kualitas hubungan keluarga dan teman sebaya, serta keyakinan diri terhadap kemampuan akademik terbukti meningkatkan resiliensi mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik. Selain itu, institusi pendidikan tinggi sebagai bagian dari mesosistem perlu berperan aktif tidak hanya dalam menyediakan akses fisik, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan sosial yang inklusif dan suportif supaya mahasiswa disabilitas dapat berkembang secara optimal.; Increased awareness of inclusiveness has led to an increase in the number of students with disabilities in higher education. However, they still face various challenges in meeting their learning needs, such as personal and communication barriers, stigma and social acceptance, limited physical accessibility, and a lack of learning resources. These various obstacles impact psychological well-being and academic performance, making academic resilience a crucial aspect for students with disabilities in coping with the pressures and demands of study. Form Bronfenbrenner’s ecological theory perspective, academic resilience is formed through the interaction of internal factors within the individual and external factors from immediate environment, including family, peers, and educational institutions.&#13;
	This study aims to analyze the factors shaping academic resilience in students with disabilities by examining the influence of parent-child relationships, peer relationships, academic self-efficacy, and student’s perceptions of the accessibility of the academic environment. This is a mixed-methods study with a explanatory research design. Data collection was conducted from February to May 2025 using questionnaires and semi-structured interviews.&#13;
The study involved 155 students with disabilities with visual, hearing, and physical-motor impairments at the Diploma to Bachelor’s level at universities across Indonesia, predominantly located on the Java island. Voluntary sampling was used. Quantitative data included respondent characteristics, family characteristics, parent-child relationships, peer relationships, academic self-efficacy, and academic resilience, as well as students’ perceptions of the accessibility of the academic environment on their campuses as qualitative data.&#13;
	Quantitative research were processed and analyzed using Microsoft Excel, SPSS, and SMART-PLS. Descriptive analysis was used to describe the distribution of respondents’ answers based on research variables and categories of barriers. Relationship analysis was conducted using the Spearman correlation test to assess the relationship between respondent characteristics and family characteristics as the primary variable. Structural Equation Modeling (SEM)-PLS analysis was applied to test the direct and indirect effects between latent variables. Furthermore, an exploration of the role of academic environmental accessibility with academic self-efficacy and academic resilience was carried out through thematic analysis by coding the results of interview transcripts.&#13;
	The average age of respondents in this study was 18-25 years (SD= 2,967; min-max= 18-35), with students distributed among them with visual impairments (n= 36; 23,2%), hearing impairments (n= 82; 52,9%), and physical-motor impairments (n= 37; 23,9%). The average age of fathers and mothers was between 40-60 years. The largest proportion of fathers’ education (39,4%) was high school, while the largest proportion of mothers’ education (40%) was college graduates. Most fathers’ occupations (27,7%) were entrepreneurs, and most mothers’ professions (35,5%) were housewives. A 24,5 percent family income was between 1 and 2 million rupiah. &#13;
	Parent-child relationships fell into the moderate category (55,7%) with an average index of 63,28. The largest proportion of total peer relationships fell into the moderate category (65,8%) with an average index of 66,57. Academic self-efficacy scores showed that more than half of respondents fell into the moderate category (69%) with an average index of 63,9. The academic resilience level of students with disabilities fell into the moderate category (60,6%) with an average index of 67,91. &#13;
The results of the difference test showed no significant differences in parent-child relationships, peer relationships, and academic self-efficacy among the three categories of students with disabilities. Meanwhile, in Academic Resilience there are significant differences, with the highest level of resilience obtained by the group of students with physical-motor disabilities.&#13;
	The SEM-PLS results showed that the quality of parent-child relationships influenced academic resilience in students with disabilities, but not academic self-efficacy. Peer relationships had a significant influence on both academic self-efficacy and academic resilience. Furthermore, academic self-efficacy had a significant influence on academic resilience. In the path analysis, parent-child relationships directly influence academic resilience, but become insignificant when moderated by academic self-efficacy. Meanwhile, peer relationships have both direct and indirect effects on academic resilience through academic self-efficacy. The findings show that peer relationships and academic self-efficacy are the highest predictors in influencing increased academic resilience.&#13;
Ther results of the qualitative analysis indicated that the accessibility of the academic environment plays a crucial role in shaping the academic self-efficacy and resilience of students with disabilities. Good accessibility encompasses institutional policies, social support, and adaptive learning facilities that can foster students’ confidence in their academic abilities. In universities with strong inclusive practices, students tend to have high self-efficacy, demonstrated by their ability to manage the learning process independently, adaptively, and optimally utilize academic services. Conversely, limited accessibility forces students to rely on internal motivation and family support to cope with minimal environmental support.&#13;
The results of this study confirmed that the academic resilience of students with disabilities is formed through the interaction of individual factors and the social context, thus broadening the understanding within Bronfenbrenner’s ecological framework. Social support, the quality of family and peer relationships, and self-confidence in academic abilities have been shown to increase student resilience in facing academic challenges. Furthermore, higher education institutions, as part of the mesosystem, need to play an active role not only in providing physical access but also in creating an inclusive and supportive social environment so that students with disabilities can develop optimally.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172649">
<title>Kualitas Diet, Status Gizi dan Kebugaran Remaja Penerima dan Bukan Penerima Program Makan Bergizi Gratis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172649</link>
<description>Kualitas Diet, Status Gizi dan Kebugaran Remaja Penerima dan Bukan Penerima Program Makan Bergizi Gratis
Rahmah
Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami transisi perubahan  pertumbuhan fisik, kognitif, dan emosional dari periode anak-anak ke periode dewasa. Pada fase ini, kebutuhan gizi pada kelompok remaja meningkat secara signifikan untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, dan pematangan organ reproduksi (Das et al. 2017). Namun, remaja sering kali menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi harian karena kebiasaan makan yang tidak teratur, preferensi terhadap makanan cepat saji, dan kurangnya kesadaran tentang pentingnya gizi seimbang (Story et al. 2002). Berdasarkan penelitian Devie dan Dwiriani (2020) kualitas konsumsi remaja usia 13-15 tahun di Bogor berdasarkan DQI-A tergolong dalam kualitas diet buruk yaitu hanya sebesar 32,2%. Program pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) pada peserta didik bertujuan untuk memberikan akses terhadap makanan yang berkualitas yang secara tidak langsung dapat menambah pengetahuan peserta didik tentang komposisi makanan yang bergizi dan seimbang sehingga dapat mengubah perilaku tentang asupan yang lebih berkualitas. Melalui program MBG dapat memastikan remaja secara konsisten mengonsumsi makanan seimbang di sekolah. Kualitas diet yang baik memiliki dampak langsung terhadap status gizi remaja. Asupan gizi yang tidak mencukupi atau tidak seimbang dapat menyebabkan masalah gizi seperti stunting, anemia, atau obesitas, yang dapat memengaruhi pertumbuhan fisik dan kesehatan jangka panjang (Popkin et al. 2020). Selain status gizi, asupan gizi juga dapat memengaruhi kebugaran fisik remaja. Makanan bergizi mendukung perkembangan otot, tulang, dan sistem kardiovaskular yang penting untuk aktivitas fisik dan kebugaran (Janssen dan Leblanc 2010). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas diet, status gizi dan kebugaran pada remaja penerima dan bukan penerima program bergizi gratis.&#13;
Penelitian menggunakan desain crosssectional compatarive yang dilakukan pada 88 siswa SMP PGRI 6 Bogor (MBG) dan 88 siswa SMP PGRI 5 Bogor (Non MBG) pada bulan Juli hingga September 2025. Data karakteristik subjek dan keluarga dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, data asupan makan menggunakan metode recall 2x24 jam, data antropometri dengan mengukur BB dan TB serta data kebugaran kardiorespirasi menggunakan tes PACER. Analisis dilakukan dengan uji Independent T-Test atau uji Mann Whitney untuk melihat perbandingan antara remaja penerima MBG dan Non MBG, serta regresi logistik untuk melihat faktor yang memengaruhi kebugaran kardiorespirasi pada remaja.&#13;
Sebagian besar siswa dalam penelitian ini berjenis kelamin Perempuan (57,4%), dengan mayoritas usia 13 tahun (85,2%) dan uang saku ? Rp 20.000 (51,1%). Mayoritas pendidikan terakhir ayah dan ibu adalah SMA/sederajat dengan pekerjaan ayah hampir setengah nya karyawan swasta (42,6%) dan mayoritas ibu adalah ibu rumah tangga (75%) dengan pendapatan keluarga sebagian besar lebih kecil dari UMK Kota bogor yaitu Rp 5.126.897 (58,5%) serta jumlah besar keluarga siswa lebih dari setengah siswa dalam penelitian ini memiliki jumlah besar keluarga &gt;4 orang (51,1%). Berdasarkan hasil analisis karakteristik antara remaja penerima MBG dan non MBG, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik pada seluruh variabel karakteristik yang dianalisis dengan nilai p &gt; 0,05.&#13;
Hasil analisis perbandingan terhadap skor kualitas diet menggunakan Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A) menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti program MBG memiliki kualitas diet yang secara signifikan lebih baik dibandingkan siswa yang tidak mengikuti program MBG. Rata-rata skor total DQI-A pada kelompok MBG adalah 49,81±6,92, secara signifikan lebih tinggi dari kelompok non-MBG yang hanya memperoleh skor rata- rata 39,15±10,26. Skor DQI-A yang lebih tinggi pada kelompok MBG mencerminkan keberagaman dan keseimbangan gizi yang lebih baik, serta kualitas diet yang lebih baik sesuai dengan prinsip gizi seimbang. Skor rata-rata DQI-A yang lebih tinggi pada kelompok MBG mencerminkan bahwa program MBG berkontribusi positif terhadap peningkatan asupan gizi seimbang.&#13;
Pada analisis status gizi berdasarkan IMT/U, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok MBG dengan kelompok non MBG. Sebagian besar subjek memiliki status gizi baik yaitu 60,2% pada remaja penerima MBG dan 72,7% remaja yang tidak menerima MBG di sekolah. &#13;
Kebugaran kardiorespirasi antara remaja penerima MBG dan Non MBG juga tidak terdapat perbedaan yang bermakna berdasarkan analisis uji mann whitney menunjukkan p = 0,232. Kebugaran kardiorespirasi antara kedua kelompok relatif sama yaitu mayoritas tergolong sangat rendah (MBG 53,4% dan Non MBG 56,8%), hal ini dikarenakan sebagian besar remaja pada kedua kelompok menunjukkan tingkat aktifitas fisik yang hampir sama yaitu tergolong sangat ringan hingga ringan (MGB 87,5% dan Non MBG 89,7%). &#13;
Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kualitas diet (OR=2,591; p=0,024), status gizi (OR=6,784; p=&lt;0,001) dan aktifitas fisik (OR=20,437; p&lt;0,001) merupakan faktor protektif terhadap kebugaran kardiorespirasi pada remaja. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa status gizi (IMT/U), aktivitas fisik, dan kualitas diet (DQI-A) berhubungan signifikan dengan kebugaran remaja. Model akhir mampu menjelaskan 36,2% variasi kebugaran, menunjukkan bahwa kebugaran merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172501">
<title>Pengaruh Investasi Resiliensi, Dukungan Sosial, Stres Pengasuhan, dan Parenting Self-Efficacy terhadap Kesejahteraan Subjektif Keluarga dengan Anak Disabilitas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172501</link>
<description>Pengaruh Investasi Resiliensi, Dukungan Sosial, Stres Pengasuhan, dan Parenting Self-Efficacy terhadap Kesejahteraan Subjektif Keluarga dengan Anak Disabilitas
Aliyah, Uluwul Himah
Peningkatan jumlah anak penyandang disabilitas secara global, termasuk di Indonesia, menciptakan tantangan besar bagi keluarga, khususnya dalam aspek pengasuhan. Di Indonesia, terdapat sekitar 2,19 juta penyandang disabilitas, termasuk 1.527 jiwa di Kota Cimahi, Jawa Barat. Kondisi ini sering memicu tekanan psikologis, konflik internal, serta penurunan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan karakteristik keluarga dan anak, investasi resiliensi, dukungan sosial, stres pengasuhan, parenting self-efficacy, serta kesejahteraan subjektif keluarga; (2) menganalisis perbedaan karakteristik berdasarkan variabel utama; (3) menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga dengan variabel utama; dan (4) menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung antarvariabel utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 128 keluarga yang memiliki anak disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Cimahi. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur. &#13;
Pemilihan sampel keluarga menggunakan metode non-proportional stratified random sampling berdasarkan jenis hambatan anak (fisik-motorik dan mental-intelektual) berdasarkan data Dapodik 2024. Instrumen yang digunakan meliputi: Dukungan sosial menggunakan MSPSS (The Multidimentional Scale of Percerived Social Support) (Zimmet et al. 1988; a = 0,88). Investasi resiliensi menggunakan LIENSI-GA (Sunarti 2021; a = 0,94). Stres Pengasuhan menggunakan PSS (The Parenting Stress Scale: Berry &amp; Jones 1995; a = 0,75 – 0,90). Parenting self efficacy menggunakan MaaPs (Me as a Parent Scale: Hamilton et al. 2015; a = 0,80). Kesejahteraan Subjektif Keluarga menggunakan TERA-GA (Sunarti 2021; a = 0,94). &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada karakteristik keluarga, mayoritas ibu dan ayah berada pada usia dewasa madya, dengan rata-rata usia ayah 46,7 tahun dan ibu 42,6 tahun. Mayoritas orang tua berpendidikan SMA dan memiliki penghasilan rata-rata sebesar Rp 3.075.000/ bulan. Sebagian besar ayah bekerja sebagai buruh harian lepas, sementara ibu berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Usia rata-rata anak adalah 12,26 tahun, dengan mayoritas masih berada di jenjang SDLB. Secara deskriptif, skor rata-rata menunjukkan bahwa investasi resiliensi keluarga (63,25), dukungan sosial (67,15), parenting self-efficacy (67,31), dan kesejahteraan subjektif keluarga (54,58) berada pada kategori sedang, sementara tingkat stres pengasuhan tergolong rendah (25,51). Namun analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa variasi stres pengasuhan tetap berdampak pada kapasitas keluarga. Pada investasi resiliensi, komponen nilai dan kepercayaan keluarga relatif lebih baik, namun konsistensi penerapan aturan, pengelolaan peran keluarga, dan atmosfer keluarga masih menunjukkan variasi antarresponden. Pada dukungan sosial, dukungan dari keluarga inti cenderung lebih tinggi dibandingkan dukungan dari teman dan significant others yang masih terbatas. Pada parenting self-efficacy, keyakinan orang tua dalam mengelola pengasuhan dan emosi berada pada tingkat sedang, menunjukkan perlunya penguatan pengalaman pengasuhan yang bersifat praktis dan aplikatif.&#13;
Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan pendapatan per kapita berhubungan positif dan signifikan dengan investasi resiliensi pada keluarga dengan anak disabilitas (r = 0,193; r = 0,213; r = 0,206), yang menunjukkan bahwasumber daya pendidikan dan ekonomi berperan dalam penguatan nilai, pengelolaan keluarga, serta atmosfer keluarga. Pendapatan keluarga (r = 0,222) juga berhubungan positif dengan dukungan sosial, menandakan bahwa kondisi ekonomi yang baik memperluas akses terhadap jaringan sosial yang lebih luas. Sebaliknya, stres pengasuhan meningkat seiring usia ayah (r = 0,213), namun menurun dengan meningkatnya pendidikan ibu (r = -0,219) dan pendapatan keluarga (r = -0,244). Selain itu, usia ayah (r = -0,198) berhubungan negatif dengan parenting self-efficacy, sedangkan pendidikan ibu (r = 0,210), pendapatan keluarga (r = 0,310), dan pendapatan per kapita (r = 0,304) berhubungan positif dengan kesejahteraan subjektif keluarga. Parenting self-efficacy menurun seiring usia ayah, namun meningkat seiring pendidikan ibu dan pendapatan keluarga, yang menunjukkan pentingnya kapasitas personal orang tua dalam pengasuhan&#13;
Analisis jalur SEM menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif keluarga dipengaruhi signifikan oleh investasi resiliensi (ß = 0,701), dukungan sosial (ß = 0,168), dan parenting self-efficacy (ß = 0,180), sedangkan stres pengasuhan tidak berpengaruh (ß = -0,086), tetapi berdampak negatif pada investasi resiliensi (ß = -0,303) dan parenting self-efficacy (ß = -0,295). Berdasarkan hasil temuan tersebut, implikasi penelitian ini menegaskan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan subjektif keluarga dengan anak disabilitas perlu diarahkan pada penguatan mekanisme protektif dalam sistem keluarga, bukan semata-mata pada penurunan stres pengasuhan. Intervensi kebijakan dan program layanan keluarga perlu memprioritaskan penguatan investasi resiliensi, melalui penciptaan atmosfer keluarga yang hangat, komunikasi yang suportif, serta penguatan kapasitas organisasi keluarga keluarga. Selain itu, penguatan dukungan sosial berbasis komunitas dan institusi menjadi krusial karena terbukti berperan dalam meningkatkan resiliensi dan parenting self-efficacy, sehingga keluarga mampu mengelola tekanan pengasuhan secara adaptif dan mempertahankan kesejahteraan jangka panjang. Temuan ini juga mengimplikasikan bahwa program pendampingan keluarga perlu difokuskan pada pemberdayaan orang tua melalui peningkatan keyakinan pengasuhan dan kemampuan pemaknaan pengalaman (meaning-making), sehingga keluarga mampu mengelola tekanan secara adaptif dan mempertahankan kesejahteraan jangka panjang meskipun berada dalam kondisi pengasuhan yang menantang.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
