<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144">
<title>MT - Business</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144</link>
<description>Master Theses on Business</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172780"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172779"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172639"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172637"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-14T19:50:26Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172780">
<title>Penerimaan dan Kesiapan Implementasi Precision Agriculture dalam Industri Kelapa Sawit</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172780</link>
<description>Penerimaan dan Kesiapan Implementasi Precision Agriculture dalam Industri Kelapa Sawit
Ardimansyah
Industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi tantangan terkait efisiensi operasional, pengelolaan sumber daya, dan tuntutan keberlanjutan. Kompleksitas pengelolaan lahan, variasi kondisi agroekologis, serta keterbatasan pemanfaatan teknologi digital menyebabkan proses produksi belum sepenuhnya berbasis data. Penerapan precision agriculture dipandang sebagai pendekatan yang memungkinkan pengelolaan perkebunan secara lebih presisi melalui pemanfaatan sensor, sistem informasi, dan analitik data. Meskipun demikian, keberhasilan implementasi precision agriculture sangat bergantung pada tingkat penerimaan pengguna dan kesiapan teknologi di tingkat individu maupun organisasi.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerimaan dan kesiapan implementasi precision agriculture dalam industri kelapa sawit Indonesia. Secara khusus, penelitian ini menganalisis pola penerapan teknologi presisi pada perusahaan perkebunan kelapa sawit, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan aktual precision agriculture, serta mengevaluasi tingkat kesiapan teknologi perusahaan dalam mendukung adopsi teknologi tersebut. Fokus penelitian diarahkan pada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah Kalimantan dengan melibatkan responden dari tingkat manajerial dan operasional.&#13;
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode campuran. Systematic literature review dilakukan untuk memetakan perkembangan kajian business analytics dan precision agriculture dalam industri kelapa sawit. Analisis deskriptif dan content analysis digunakan untuk menggambarkan praktik penerapan teknologi berdasarkan dokumen, survei dan laporan perusahaan. Pengujian faktor penerimaan teknologi dilakukan menggunakan structural equation modeling berbasis partial least squares untuk menganalisis hubungan antar konstruk yang merepresentasikan persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dukungan organisasi, karakteristik inovasi, dan risiko yang dirasakan terhadap penggunaan aktual precision agriculture. Tingkat kesiapan teknologi dianalisis melalui pendekatan technology readiness, yang mencerminkan dimensi optimisme, inovasi, ketidaknyamanan, dan rasa tidak aman terhadap teknologi.&#13;
Hasil content analysis terhadap dokumen dan laporan perusahaan menunjukkan bahwa penerapan precision agriculture berada pada tahap berkembang dengan tingkat adopsi yang belum merata. Sebagian perusahaan telah mengintegrasikan teknologi presisi ke dalam aktivitas pemantauan lahan, pengelolaan data, dan pengambilan keputusan operasional, sementara perusahaan lain masih mengadopsinya secara terbatas dan bersifat parsial. Pola ini mencerminkan perbedaan orientasi manajerial, kapasitas organisasi, serta tingkat integrasi teknologi dalam proses kerja harian.&#13;
Penggunaan systematic literature review menunjukkan bahwa pengembangan business analytics dalam mendukung precision agriculture bergerak dari analitik deskriptif menuju analitik prediktif dan preskriptif. Analitik deskriptif digunakan untuk pemantauan kondisi tanaman dan lahan, analitik prediktif diarahkan pada proyeksi produksi dan risiko, sedangkan analitik preskriptif difokuskan pada rekomendasi operasional. Meskipun pendekatan analitik telah berkembang, penerapannya di tingkat perusahaan masih dibatasi oleh kualitas data yang belum seragam, keterbatasan infrastruktur, dan perbedaan kapasitas analitik antar pelaku usaha.&#13;
Analisis empiris menggunakan structural equation modeling berbasis partial least squares menunjukkan bahwa penggunaan aktual precision agriculture dipengaruhi oleh persepsi manfaat, kemudahan penggunaan yang didukung fasilitas organisasi, keunggulan relatif teknologi, ekspektasi kinerja, serta kondisi pendukung di lingkungan perusahaan. Sebaliknya, persepsi risiko dan kompleksitas teknologi menunjukkan kecenderungan menahan intensitas penggunaan. Faktor sosial dan sikap personal tidak muncul sebagai penentu utama, yang menunjukkan bahwa keputusan adopsi lebih banyak didasarkan pada pertimbangan operasional dan kesiapan organisasi.&#13;
Analisis kesiapan teknologi menggunakan pendekatan technology readiness menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kecenderungan optimisme dan orientasi inovatif terhadap teknologi digital, yang berjalan berdampingan dengan ketidaknyamanan dan kekhawatiran terkait keandalan sistem serta dampaknya terhadap pekerjaan. Pola ini menunjukkan tingkat kesiapan teknologi yang berada pada level menengah, yang memungkinkan transformasi digital dimulai namun belum sepenuhnya didukung oleh integrasi sistem dan pemanfaatan teknologi yang konsisten. Implikasi penelitian mengarah pada perlunya penguatan dukungan organisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengelolaan risiko teknologi yang lebih terstruktur guna mendorong implementasi precision agriculture yang lebih stabil dan berkelanjutan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172779">
<title>Strategi Peningkatan Daya Saing dan Posisi Kompetitif Industri Kopi di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172779</link>
<description>Strategi Peningkatan Daya Saing dan Posisi Kompetitif Industri Kopi di Indonesia
Yusuf, Mochammad
Indonesia sebagai negara produsen kopi terbesar keempat di dunia memiliki industri kopi yang sangat potensial untuk dikembangkan, yang dapat dilihat dari pangsa pasar dan volume nya yang terus tumbuh dari tahun ke tahun baik dari sisi industri hulu maupun hilir. Pada realitanya, Industri kopi Indonesia mengalami berbagai permasalahan struktural baik pada sektor hulu maupun hilir. Volatilitas produksi, penurunan produktivitas, serta struktur pasar hilir yang relatif terkonsetrasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir, serta ketidakstabilan harga pada tingkat petani dan pelaku hilir. Permasalahan ini secara kolektif menunjukkan bahwa industri kopi di Indonesia mengalami tantangan yang struktural utamanya dalam meningkatkan daya saing industri.&#13;
Penelitian ini diawali dengan pemetaan isu, tantangan, dan permasalahan dalam rantai nilai kopi pada tingkat nasional dan global sebagai landasan analitis. Selanjutnya, penelitian menilai daya saing industri kopi Indonesia melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif di pasar internasional. Penelitian ini juga menguji secara empiris berbagai faktor yang memengaruhi daya saing komparatif dan kompetitif. Pada tahap terakhir, penelitian ini akan merumuskan strategi peningkatan daya saing industri kopi di Indonesia.&#13;
Penelitian ini dilakukan sejak Agustus hingga Desember 2025. Penelitian ini menggunakan data sekunder dan primer, yang diperoleh melalui studi literatur, observasi, kuesioner, dan wawancara. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejumlah 200 responden yang merupakan pelaku industri kopi hilir di Indonesia, serta lima responden ahli yang berasal dari kalangan akademisi, pelaku usaha nasional dan multinasional, pemerintah, serta asosiasi industri kopi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method, dengan menggunakan analisis Systematic Literature Review (SLR), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), Auto-Regressive Distributted lags (ARDL),Porter Diamond Axes Lenght Analysis, Structural Equation Modelling (SEM), serta Analytical Hierarchy Process (AHP).&#13;
Hasil Systematic Literature Review menunjukkan bahwa dalam upaya peningkatan daya saing rantai nilai global industri kopi Indonesia dan beberapa negara berkembang produsen kopi dihadapkan permasalahan terkait dinamika adopsi sertifikasi, keterbatasan teknologi pengolahan produksi dan pasca-panen, ketergantungan ekspor produk mentah pada pasar tradisional, regulasi perdagangan hingga perubahan preferensi konsumen dunia. Tantangan-tantangan tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap rendahnya penciptaan nilai pada produk kopi yang di ekspor oleh negara sentra produsen kopi utama dunia termasuk Indonesia.&#13;
Penelitian ini juga menemukan bahwa industri kopi hilir di Indonesia memiliki posisi daya saing komparatif yang memiliki tren pertumbuhan sejak tahun 2007 hingga saat ini yang ditunjukkan melalui nilai Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) yang bernilai positif, Hasil ini secara empiris, menunjukan potensi kapasitas industri kopi olahan untuk dapat dikembangkan disamping hanya berfokus pada ekspor produk kopi mentah yang menjadi struktur&#13;
utama ekspor kopi di Indonesia. Lebih lanjut, hasil Porter Diamond Axes-Lenght analysis juga menunjukkan bahwa industri kopi hilir di Indonesia memiliki daya saing yang baik, yang utamanya ditopang oleh aspek factor conditions seperti ketersediaan sumber daya, keragaman varietas kopi, dan kapasitas produksi domestik.&#13;
Penelitian ini berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing komparatif bisnis industri kopi di Indonesia. Berdasarkan hasil estimasi Auto-Regressive Distributted Lags (ARDL), faktor-faktor yang secara signfikan dapat mendorong daya saing komparatif industri kopi hilir di Indonesia dalam jangka panjang maupun jangka pendek adalah pertumbuhan ekonomi, penanaman modal asing, serta nilai tambah sektor manufaktur. Harga kopi di pasar internasional menjadi faktor yang secara statistik dapat menurunkan daya saing industri kopi hilir di Indonesia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.&#13;
Hasil Structural Equation Modeling menunjukkan bahwa Factor Conditions memberikan pengaruh signifikan terhadap seluruh aspek Competitive Advantage, namun tidak signifikan terhadap Technologycal Capability. Demand Conditions berperan dalam mendorong kemampuan teknologi dan keunggulan bersaing seiring meningkatnya tuntutan konsumen terhadap mutu dan keberlanjutan. Firm Strategy, Structure and Rivalry berkontribusi pada penguatan industri pendukung dan technological capability, dan daya saing. Sedangkan Related and Supporting Industries hanya berdampak langsung pada keunggulan bersaing tanpa memengaruhi dinamika permintaan. Government and Chance menjadi faktor yang signfikan mendorong seluruh aspek dalam Porter Diamond Model, sehingga kebijakan harga, koordinasi lintas sektor, dan faktor eksternal tetap menjadi elemen pengarah utama bagi perkembangan industri kopi hilir.&#13;
Hasil Analytical Hierarchy Process menunjukkan bahwa pemerintah merupakan aktor prioritas dalam penguatan daya saing industri. Strategi yang diprioritaskan meliputi: 1) ekspansi pasar ekspor non tradisional, 2) penguatan ekosistem riset dan inovasi, serta 3) pengembangan branding dan sertifikasi keberlanjutan. Urutan ini menunjukkan perlunya perluasan akses pasar, peningkatan diferensiasi produk, dan modernisasi teknologi agar industri mampu bersaing secara berkelanjutan. Ekspansi pasar non tradisional membuka peluang baru bagi produk spesialti yang membutuhkan dukungan riset dan sertifikasi untuk memenuhi standar global. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat memperkuat struktur daya saing nasional dan menciptakan perkembangan industri kopi yang lebih adaptif dan kompetitif.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172639">
<title>Analisis Struktur Perilaku dan Kinerja Industri Penerbangan Berjadwal di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172639</link>
<description>Analisis Struktur Perilaku dan Kinerja Industri Penerbangan Berjadwal di Indonesia
Sofura, Nia
Pandemi Covid-19 memberikan dampak paling signifikan terhadap industri penerbangan nasional, menyebabkan penurunan drastis pada permintaan perjalanan, pengurangan kapasitas, dan tekanan finansial pada sebagian besar maskapai. Memasuki periode pasca pandemi, industri penerbangan Indonesia menunjukkan pola pemulihan yang dipengaruhi oleh perubahan struktur pasar, strategi bisnis maskapai, serta dinamika perilaku konsumen yang semakin mengadopsi mobilitas udara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur, perilaku, dan kinerja industri penerbangan nasional pasca pandemi Covid-19 dengan menggunakan pendekatan Structure Conduct Performance (SCP). Data yang digunakan meliputi data primer melalui wawancara dengan pemangku kepentingan industri serta data sekunder dari laporan regulator, operator bandara, dan maskapai untuk periode 2019–2024.&#13;
Analisis struktur menunjukkan bahwa industri penerbangan nasional berada pada kondisi konsentrasi pasar tinggi, ditandai dominasi dua grup maskapai besar dan tingginya hambatan masuk. Dari sisi perilaku, maskapai secara umum menerapkan capacity discipline, strategi penetapan harga yang adaptif, percepatan digitalisasi layanan, serta efisiensi biaya melalui optimalisasi armada dan jaringan. Pada aspek kinerja, industri mengalami perbaikan yang ditunjukkan oleh meningkatnya load factor, pemulihan indikator RPK–ASK, penurunan yield, serta perbaikan profitabilitas.&#13;
Hasil penelitian menjelaskan bahwa hubungan antara struktur pasar yang terkonsentrasi, perilaku adaptif maskapai, dan peningkatan kinerja pasca pandemi konsisten dengan kerangka SCP. Penelitian ini memberikan implikasi manajerial penting bagi maskapai, pemerintah atau regulator dan operator Bandar Udara dan stakeholder dalam penguatan strategi kapasitas, akselerasi digitalisasi, diversifikasi pendapatan, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing industri penerbangan nasional terutama di pasar domestik.; The Covid-19 pandemic brought unprecedented disruptions to the Indonesian aviation industry, causing a sharp decline in passenger demand, significant capacity reductions, and severe financial pressure on most airlines. As the industry enters the post-pandemic recovery phase, structural shifts, evolving competitive behaviors, and changing consumer travel patterns have reshaped market dynamics. This study aims to analyze the structure, conduct, and performance of the national aviation industry in the post-Covid-19 period using the Structure Conduct Performance (SCP) framework. The research utilizes primary data collected through interviews with key industry stakeholders and secondary data derived from regulatory reports, airport operators, and airline financial and operational records from 2019 to 2024.&#13;
The structural analysis reveals that the Indonesian aviation industry remains highly concentrated, dominated by two major airline groups and characterized by strong entry barriers. In terms of conduct, airlines have generally adopted capacity discipline, adaptive pricing strategies, accelerated digitalization initiatives, and cost-efficiency measures through fleet and network optimization. In terms of performance, the industry demonstrates a gradual recovery, indicated by increasing load factors, improvements in RPK–ASK metrics, lower yield, and strengthened profitability following restructuring efforts.&#13;
The findings indicate that the interaction between a highly concentrated market structure, adaptive airline strategies, and improved post-pandemic airlines performance in Indonesia are aligns with the SCP paradigm. This study provides important managerial implications for airlines and regulators, emphasizing the need to strengthen capacity strategies, accelerate digital transformation, diversify ancillary revenues, and enhance cross-stakeholder collaboration to ensure long-term competitiveness and sustainability of the national aviation industry in domestic markets.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172637">
<title>Penerapan Manajemen Risiko dalam Underwriting Marine Hull Facultative: Studi Kasus pada PT XYZ</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172637</link>
<description>Penerapan Manajemen Risiko dalam Underwriting Marine Hull Facultative: Studi Kasus pada PT XYZ
Kusumah, Siti Thifal Permana
Industri reasuransi Marine Hull memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi akibat karakteristik risiko yang kompleks, dinamis, dan berdampak besar terhadap kinerja keuangan perusahaan. Risiko yang dihadapi umumnya bersifat low frequency namun high severity, sehingga satu kejadian klaim besar berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas portofolio dan keberlanjutan usaha. Dalam konteks tersebut, kualitas proses underwriting menjadi faktor utama dalam menjaga keseimbangan antara penerimaan risiko dan tingkat profitabilitas perusahaan. Proses underwriting yang tidak didukung oleh manajemen risiko yang memadai dapat meningkatkan eksposur risiko serta memperbesar potensi terjadinya kerugian underwriting. PT XYZ sebagai perusahaan reasuransi di Indonesia menghadapi tantangan meningkatnya kompleksitas risiko underwriting Marine Hull yang menuntut penerapan manajemen risiko yang lebih terstruktur, terintegrasi, dan konsisten guna memastikan bahwa keputusan underwriting yang diambil telah selaras dengan kebijakan risiko dan kemampuan perusahaan dalam menanggung risiko.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penilaian risiko pada Underwriting Marine Hull Facultative di PT XYZ dengan mengukur tingkat maturitas manajemen risiko berdasarkan kerangka ISO 31000, serta merumuskan rekomendasi perbaikan yang relevan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods melalui kuesioner, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan analisis dokumen. Pengukuran tingkat maturitas manajemen risiko dilakukan menggunakan Risk Management Maturity Model (RMM) yang mencakup empat atribut utama, yaitu kerangka kerja, budaya risiko, dokumentasi, dan sistem dalam proses underwriting. &#13;
	Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai penerapan manajemen risiko pada underwriting Marine Hull Facultative di PT XYZ. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), serta analisis dokumen internal perusahaan. Pengukuran tingkat maturitas manajemen risiko dilakukan menggunakan Risk Management Maturity Model (RMM) yang menilai empat atribut utama, yaitu kerangka kerja, budaya risiko, dokumentasi, dan sistem, dengan skala Likert lima tingkat. Penelitian ini melibatkan lima narasumber utama yang dipilih secara purposif, terdiri atas manajer underwriting, senior underwriter, underwriting analyst, dan staf manajemen risiko. Penelitian dilaksanakan pada periode Juli hingga Oktober 2025, dan hasil pengukuran maturitas serta temuan kualitatif dianalisis secara terintegrasi untuk menjawab tujuan penelitian dan merumuskan rekomendasi perbaikan penerapan manajemen risiko.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen risiko pada proses underwriting Marine Hull Facultative di PT XYZ pada prinsipnya telah mengacu pada kerangka ISO 31000. Proses identifikasi, analisis, dan evaluasi risiko telah dilakukan sejak tahap awal underwriting, khususnya terkait karakteristik kapal, rute pelayaran, jenis muatan, serta rekam jejak klaim. Namun demikian, penerapan manajemen risiko tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dan konsisten di seluruh tahapan underwriting. &#13;
Hasil pengukuran tingkat maturitas manajemen risiko menggunakan Risk Management Maturity Model (RMM) menunjukkan bahwa tingkat maturitas manajemen risiko underwriting Marine Hull di PT XYZ berada pada level Preliminary hingga Defined. Tingkat maturitas ini menggambarkan bahwa praktik manajemen risiko telah ada dan dijalankan dalam organisasi, namun belum sepenuhnya terintegrasi secara optimal ke dalam proses pengambilan keputusan underwriting. Kelemahan utama masih ditemukan pada aspek kerangka kerja, dan sistem pendukung. Kondisi tingkat maturitas yang belum optimal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara praktik underwriting yang berjalan dengan praktik manajemen risiko yang ideal, khususnya dalam menjamin konsistensi dan kualitas keputusan underwriting, meskipun tingkat maturitas tersebut tidak secara langsung mencerminkan kinerja underwriting dalam jangka pendek.&#13;
Berdasarkan hasil pengukuran tingkat maturitas dan analisis kondisi internal serta eksternal perusahaan, penelitian ini merumuskan sejumlah rekomendasi perbaikan strategis untuk meningkatkan kualitas penerapan manajemen risiko underwriting Marine Hull di PT XYZ. Rekomendasi difokuskan pada penguatan kebijakan internal yang selaras dengan ISO 31000 dan lebih adaptif terhadap karakteristik risiko Marine Hull yang bersifat low frequency high severity. Selain itu, diperlukan peningkatan standarisasi proses underwriting melalui penyusunan pedoman penilaian risiko yang lebih terstruktur dan terdokumentasi guna mengurangi ketergantungan berlebihan pada judgment individu underwriter. Dari sisi tata kelola dan budaya risiko, perusahaan disarankan untuk memperkuat penerapan risk based decision making serta meningkatkan integrasi antara fungsi underwriting dan manajemen risiko, didukung oleh pengembangan sistem informasi dan mekanisme pelaporan risiko yang lebih memadai. Rekomendasi ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat maturitas manajemen risiko secara bertahap dan memperkuat ketangguhan PT XYZ dalam menghadapi risiko underwriting Marine Hull yang kompleks dan tidak terduga.; The Marine Hull reinsurance industry is characterized by a high level of uncertainty due to the complex, dynamic nature of its risks and their significant impact on companies’ financial performance. The risks involved are generally low in frequency but high in severity, meaning that a single major claim event may have a substantial impact on portfolio stability and business sustainability. In this context, the quality of the underwriting process becomes a key factor in maintaining a balance between risk acceptance and corporate profitability. Underwriting processes that are not supported by adequate risk management may increase risk exposure and amplify the potential for underwriting losses. PT XYZ, as a reinsurance company in Indonesia, faces increasing complexity in Marine Hull underwriting risks, which necessitates the implementation of a more structured, integrated, and consistent risk management approach to ensure that underwriting decisions are aligned with the company’s risk policies and risk-bearing capacity.&#13;
This study aims to analyze the risk assessment process in Marine Hull Facultative underwriting at PT XYZ by measuring the level of risk management maturity based on the ISO 31000 framework and by formulating relevant improvement recommendations. The study adopts a mixed-methods approach, utilizing questionnaires, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and document analysis. The measurement of risk management maturity is conducted using the Risk Management Maturity Model (RMM), which encompasses four main attributes: framework, risk culture, documentation, and systems within the underwriting process.&#13;
This research combines quantitative and qualitative methods to obtain a comprehensive understanding of the implementation of risk management in Marine Hull Facultative underwriting at PT XYZ. Data are collected through questionnaires, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and analysis of internal company documents. Risk management maturity is measured using the Risk Management Maturity Model (RMM), which evaluates four main attributes—framework, risk culture, documentation, and systems—using a five-point Likert scale. The study involves five key informants selected purposively, consisting of an underwriting manager, senior underwriters, an underwriting analyst, and risk management staff. The research is conducted from July to October 2025, and the maturity assessment results and qualitative findings are analyzed in an integrated manner to address the research objectives and formulate risk management improvement recommendations.&#13;
The results indicated that the implementation of risk management in the Marine Hull Facultative underwriting process at PT XYZ had generally referred to the ISO 31000 framework. Risk identification, analysis, and evaluation had been conducted since the early stages of underwriting, particularly with respect to vessel characteristics, sailing routes, cargo types, and claims history. However, the implementation of risk management had not yet been fully integrated or consistently applied across all underwriting stages.&#13;
The measurement of risk management maturity using the Risk Management Maturity Model (RMM) showed that the maturity level of Marine Hull underwriting risk management at PT XYZ ranged from the Preliminary to Defined levels. This maturity level indicated that risk management practices had existed and had been implemented within the organization but had not yet been optimally integrated into underwriting decision-making processes. Major weaknesses had still been identified in the areas of the risk management framework and supporting systems. This suboptimal maturity level reflected a gap between existing underwriting practices and ideal risk management practices, particularly in ensuring the consistency and quality of underwriting decisions, although the maturity level had not directly reflected short-term underwriting performance.&#13;
Based on the maturity assessment results and the analysis of the company’s internal and external conditions, this study formulated several strategic improvement recommendations to enhance the quality of risk management implementation in Marine Hull underwriting at PT XYZ. The recommendations were focused on strengthening internal policies aligned with ISO 31000 and making them more adaptive to Marine Hull risks characterized by low frequency and high severity. In addition, greater standardization of underwriting processes was required through the development of more structured and well-documented risk assessment guidelines to reduce excessive reliance on individual underwriter judgment. From a governance and risk culture perspective, the company was advised to strengthen the application of risk-based decision making and to enhance integration between underwriting and risk management functions, supported by the development of more robust information systems and risk reporting mechanisms. These recommendations were expected to gradually increase the level of risk management maturity and to strengthen PT XYZ’s resilience in managing complex and unpredictable Marine Hull underwriting risks.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
