<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144">
<title>MF - Business</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144</link>
<description>Master Theses on Business</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177774"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177653"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177120"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176962"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-08T01:46:40Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177774">
<title>Strategi Bisnis Pest Control Service dalam Memperluas Segmen Pasar Ritel dan Residen (Studi Kasus: PT XYZ)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177774</link>
<description>Strategi Bisnis Pest Control Service dalam Memperluas Segmen Pasar Ritel dan Residen (Studi Kasus: PT XYZ)
Wingtyas, Andriana Kartina
PT XYZ, perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang Integrated Facility Management Service sejak 2006, menghadapi krisis likuiditas dengan cash ratio di bawah 10% dan current ratio menurun (610%?349%) pada 2020–2023. Kondisi ini mendorong perusahaan berekspansi ke segmen ritel dan residen yang memiliki perputaran piutang lebih cepat dan gross profit margin lebih tinggi. Penelitian ini&#13;
bertujuan mengidentifikasi model bisnis dengan Business Model Canvas, menganalisis faktor internal-eksternal, dan menentukan prioritas strategi menggunakan A’WOT.&#13;
Penelitian dilakukan di kantor PT XYZ, BSD Serpong. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan kuesioner untuk pembobotan AHP kepada lima responden pakar (expert sampling): tiga orang dari internal (Direktur Utama, Manajer Marketing, Manajer Operasional Pest Control) dan dua orang dari eksternal (Ketua ASPPHAMI dan CEO PESTIGO). Analisis meliputi pemetaan BMC, analisis internal VRIO dan eksternal PESTEL serta Porter's Five Forces, pembobotan faktor strategis, perumusan alternatif strategi melalui matriks TOWS, dan penentuan prioritas menggunakan A’WOT dengan Expert Choice 11.&#13;
Hasil BMC menunjukkan model bisnis saat ini sangat berorientasi B2B dan belum optimal untuk ritel dan residen. Empat faktor kunci teridentifikasi: regulasi PERMENKES No. 14/2021 (peluang, bobot 0,274), brand Termigon (kekuatan, bobot 0,070), harga murah pesaing lokal (ancaman, bobot 0,031), dan respons 1x24 jam (kelemahan, bobot 0,019). Prioritas strategi A’WOT: (1) ST 1 – diferensiasi brand Termigon (0,170); (2) WO 2 – Optimalisasi respons cepat dan efisiensi operasional (0,156); dan (3) ST 3 – ERP Termigon untuk Green Reporting (0,155). Analisis pemetaan pesaing (Strategic Group Analysis) mengelompokkan pesaing ke dalam empat kategori: pemain global (Rentokil Initial sebagai benchmark), pemain lokal besar (Pestigo, Fumida—ancaman sangat tinggi), pemain lokal menengah (ASPPHAMI), dan UMKM. Analisis AMC menunjukkan Pestigo memiliki motivasi sangat tinggi merespons strategi respons cepat, sementara Rentokil bermotivasi rendah terhadap green reporting karena perbedaan skala. Temuan baru penelitian ini adalah integrasi BMC, VRIO, PESTEL, Porter, A’WOT, dan AMC dalam konteks ekspansi B2B ke B2C di industri jasa pest control Indonesia. Implikasi manajerial pada penelitian ini adalah PT XYZ perlu&#13;
beralih dari price war ke brand war, membangun sistem respons cepat berbasis ERP dan mengimplementasikan green reporting sebagai diferensiasi. Penelitian lanjutan disarankan menguji prioritas strategi dengan SEM atau regresi logistik serta membandingkan A’WOT dengan MCDM lain.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177653">
<title>Strategi Penerapan Manajemen Kinerja pada Usaha Sektor Makanan dan Minuman: Studi Kasus pada UMKM Sajian Toean</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177653</link>
<description>Strategi Penerapan Manajemen Kinerja pada Usaha Sektor Makanan dan Minuman: Studi Kasus pada UMKM Sajian Toean
Angelina, Zelinka Natalia
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengan (UMKM) sudah tidak asing lagi disebut sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia dengan berkontribusinya yang mencapai 60.51% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan penyerapan hampir 97% tenaga kerja pada tahun 2024. Namun dengan capainnya yang besar, kinerja UMKM masih belum optimal. Masalah ini juga dialami oleh UMKM Sajian Toean, sebuah usaha yang bergerak di sektor makanan dan minuman di Kota Bogor dan ditemukan belum menerapkan strategi manajemen kinerja secara sistematis.&#13;
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kondisi manajemen kinerja usaha, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja usaha, merumuskan strategi manajemen yang efektif serta membangun model bisnis yang ideal, sistematis dan aplikatif bagi UMKM Sajian Toean.&#13;
Penelitian ini menggunakan (mixed methods). Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur, data Badan Pusat Statistik, dan artikel resmi lainnya terkait industri kuliner. Tahapan analisis yang dilakukan mulai dari pemetaan kondisi bisnis dengan Business Model Canvas (BMC), Matriks Internal Factor Evaluation (IFE), Matriks External Factor Evaluation (EFE), Matriks Internal-External (IE), analisis SWOT, dan QSPM.&#13;
Analisis matriks IFE menunjukan skor tertimbang sebesar 2,26 dengan kekuatan utama berupa lokasi usaha yang strategis dan kelemahan utamanya adalah kemampuan komunikasi SDM yang masih kurang. Hasil matriks EFE menunjukan skor tertimbang sebesar 2,14 dengan peluang utamanya adalah ekspansi cloud kitchen dan ancaman utama berupa musim hujan yang berdampak terhadap omzet usaha. Kombinasi kedua skor tersebut menempatkan usaha pada sel V yaitu hold and maintain pada matriks IE. Posisi ini menunjukan kondisi usaha rata-rata dan masih memiliki ruang untuk bertumbuh.&#13;
Analisis SWOT menghasilkan sejumlah strategi, dengan delapan strategi di antaranya dievaluasi menggunakan QSPM. Strategi WO2, yaitu perbaikan sistem manajemen internal, perluasan akses kasir, dan penyusunan SOP melalui potensi pengembangan volume penjualan online menjadi prioritas utama dengan nilai STAS sebesar 5,33.&#13;
Berdasarkan hasil tersebut, UMKM Sajian Toean disarankan memprioritaskan perbaikan manajemen internal melalui pencatatan stok dan keuangan yang sistematis, penyusunan SOP, optimalisasi promosi digital dengan adanya penanggung jawab khusus, serta melakukan evaluasi dan penyesuaian harga secara berkala. Penelitian selanjutnya disarankan memperluas objek penelitian, menambah variabel relevan, serta dapat melakukan periode pengamatan yang lebih panjang agar hasilnya lebih komprehensif.; Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are widely recognized as the backbone of the Indonesian economy, contributing 60.51% to the national Gross Domestic Product (GDP) and absorbing nearly 97% of the workforce in 2024. Despite this substantial contribution, MSME performance remains suboptimal. This issue is also faced by Sajian Toean, an MSME operating in the food and beverage sector in Bogor, which was found to have not yet implemented a systematic performance management strategy.&#13;
This study aims to describe the condition of the firm's performance management, identify the factors influencing business performance, formulate an effective management strategy, and develop an ideal, systematic, and applicable business model for Sajian Toean.&#13;
This study employs a mixed-methods approach. Primary data were obtained through interviews, observation, and documentation, while secondary data were obtained from literature studies, data from the Central Statistics Agency (BPS), and other official publications related to the culinary industry. The analysis stages consisted of mapping the existing business condition using BMC, IFE Matrix, EFE Matrix, IE Matrix, SWOT analysis, and QSPM.&#13;
The IFE matrix analysis produced a weighted score of 2.26, with the main strength being the strategic business location and the main weakness being the still-limited communication skills of human resources. The EFE matrix produced a weighted score of 2.14, with the main opportunity being the potential expansion into cloud kitchens and the main threat being the rainy season's impact on business revenue. The combination of these two scores places the business in Cell V, the hold-and-maintain position, on the IE matrix. This position indicates an average business condition that still has room to grow.&#13;
The SWOT analysis generated a number of strategies, eight of which were further evaluated using QSPM. Strategy WO2, which focuses on improving the internal management system, expanding cashier access, and developing standard operating procedures (SOPs) supported by the potential growth of online sales volume, emerged as the top priority strategy with the highest Sum Total Attractiveness Score (STAS) of 5.33.&#13;
Based on these findings, Sajian Toean is advised to prioritize improving its internal management through systematic stock and financial record-keeping, developing SOPs, optimizing digital promotion through a dedicated person in charge, and conducting periodic evaluation and price adjustments. Future research is recommended to broaden the scope of the research object, add relevant variables, and extend the observation period to produce more comprehensive results.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177120">
<title>Rantai Nilai dan Model Bisnis Inklusif Koperasi Produsen Citra Kinaraya Kabupaten Demak</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177120</link>
<description>Rantai Nilai dan Model Bisnis Inklusif Koperasi Produsen Citra Kinaraya Kabupaten Demak
Mubarok, Ahmad Sabiq
Pertanian padi merupakan salah satu sektor krusial yang mendukung perekonomian nasional dan menjadi mata pencaharian masyarakat di Indonesia. Namun menurut data BPS tahun 2023, petani di Indonesia didominasi oleh petani skala kecil/ gurem (smallholders). Petani skala kecil memiliki beberapa tantangan besar meliputi lemahnya daya tawar, ketidakpastian dan fluktuasi harga, serta keterbatasan akses pasar dan layanan teknologi dikarenakan sempitnya penguasaan lahan yang dimiliki. Program korporatisasi petani muncul menjadi salah satu upaya dalam mengatasi tantangan pada petani skala kecil. Koperasi Produsen Citra Kinaraya Demak merupakan salah satu implementasi dari program korporatisasi petani dengan model koperasi. Koperasi Produsen Citra Kinaraya Demak membentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) bernama PT Tasbiha Mulia Tani (PT TMT) sebagai unit usaha komersial yang bertanggung jawab dalam produksi gabah hasil panen petani dan pemasarannya. Dengan bergabung ke dalam lembaga kolektif seperti koperasi, dinilai mampu meningkatkan kekuatan para petani skala kecil dalam mengatasi keterbatasannya. Namun, keikutsertaan petani menjadi anggota koperasi tidak serta merta menjamin bahwa mekanisme usaha benar-benar mampu menjawab permasalahan petani kecil. Pada beberapa penelitian, lembaga kolektif seperti koperasi berpeluang hanya menjadi lembaga aggregator produksi dan tidak memberikan keuntungan yang adil bagi aktor kecil jika model bisnis tidak dilakukan secara inklusif. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai nilai produksi beras, model bisnis, dan tingkat inklusivitas Koperasi Produsen Citra Kinaraya Demak, serta merumuskan rekomendasi penguatan bagi koperasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus yang dilakukan di Koperasi Produsen Citra Kinaraya Demak dan PT TMT yang berlokasi di Desa Mlatiharjo, Kabupaten Demak. Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara secara purposive dengan informan 6 petani anggota koperasi, 1 pengurus koperasi, dan 3 pengurus PT TMT. Alat analisis yang digunakan meliputi identifikasi rantai nilai menggunakan metode ACIAR 2012, analisis model bisnis dengan Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC), dan analisis tingkat inklusivitas menggunakan New Business Model Principles dalam kerangka LINK Methodology.&#13;
Hasil analisis rantai nilai menunjukkan bahwa rantai nilai produksi beras koperasi terdiri dari tiga tahapan utama yaitu budidaya swakelola oleh petani anggota koperasi, pengolahan gabah oleh PT TMT, dan pemasaran melalui distributor, reseller, serta perusahaan mitra. Proses rantai nilai saling terintegrasi dengan PT TMT menjadi penghubung dan koordinator antara petani dengan pasar yang lebih luas. Dari analisis rantai nilai, tergambar permasalahan utama yang dialami adalah belum stabilnya kontinuitas pasokan gabah akibat melemahnya daya tarik kemitraan bagi petani baru. Kondisi ini dipengaruhi oleh kebijakan harga gabah pemerintah yang semakin mengurangi selisih harga antara yang ditawarkan koperasi dengan harga pasar umum. Meskipun demikian, harga beli gabah yang ditetapkan PT TMT masih konsisten berada di atas harga pasar umum, terutama untuk varietas beras khusus premium.&#13;
Hasil analisis model bisnis menggunakan TLBMC menunjukkan bahwa PT TMT menciptakan nilai ekonomi melalui pengembangan dan pemasaran berbagai produk beras khusus premium seperti beras merah, beras hitam, beras coklat, Genki, dan beras putih premium Mlatiharjo. Diferensiasi produk yang dilakukan memiliki keuntungan dengan menyasar segmen pelanggan yang peduli akan kesehatan dan didominasi kelas menengah atas menyebabkan penentuan harga menjadi lebih tinggi sehingga meningkatkan penerimaan bagi para petani pada akhirnya. Lapisan lingkungan model bisnis PT TMT menunjukkan bahwa dalam kegiatan produksi, PT TMT telah berusaha menerapkan praktik bisnis ramah lingkungan dengan memanfaatkan hasil samping walaupun belum sepenuhnya, dan efisiensi dalam kegiatan produksi. Dari lapisan sosial, model bisnis PT TMT memberikan kontribusi dalam menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dan bekerja sama dengan lembaga terkait di daerah operasi bisnis PT TMT. Selain itu, PT TMT juga memberi dukungan sosial kepada petani berupa kepastian pembelian gabah, layanan pendukung pertanian sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.&#13;
Analisis tingkat inklusivitas menggunakan New Business Model Principles menunjukkan bahwa dari enam prinsip yang dinilai, dua prinsip dikategorikan Sudah Berjalan yaitu keterkaitan pasar yang efektif dan kemudahan akses terhadap layanan, tiga prinsip dikategorikan Berjalan Sebagian yaitu kolaborasi rantai yang luas, tata kelola yang adil dan transparan, serta inovasi inklusif, dan satu prinsip dikategorikan Belum Berjalan yaitu pengukuran hasil. Temuan ini menunjukkan bahwa model bisnis koperasi telah mengarah pada praktik bisnis yang inklusif, namun masih memerlukan penguatan terutama pada aspek perlindungan petani, pelibatan petani dalam pengembangan inovasi, dan sistem evaluasi kemitraan yang lebih terstruktur.&#13;
Berdasarkan temuan penelitian, diajukan tiga rekomendasi strategis yaitu, penguatan nilai tambah dan insentif keanggotaan koperasi termasuk mekanisme berbagi risiko bagi petani, pengembangan pemanfaatan limbah hasil penggilingan padi yang lebih terarah dan terkoordinasi, serta pembangunan sistem monitoring dan evaluasi inklusivitas yang sistematis. Implementasi ketiga strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan model bisnis sekaligus meningkatkan tingkat inklusivitas petani dalam rantai nilai beras yang dijalankan Koperasi Produsen Citra Kinaraya Demak.; Rice farming is one of the most important agricultural sectors supporting the national economy and serving as a primary source of livelihood for rural communities in Indonesia. However, according to Statistics Indonesia (BPS) data in 2023, Indonesian agriculture is predominantly characterized by smallholder farmers. Smallholders face several major challenges, including weak bargaining power, price uncertainty and volatility, limited market access, and restricted access to technology and support services due to their small landholdings. The farmer corporatization program has emerged as one approach to addressing these challenges. Koperasi Produsen Citra Kinaraya in Demak is an example of a farmer corporatization initiative implemented through a cooperative model. The cooperative established a Farmer-Owned Enterprise (Badan Usaha Milik Petani/BUMP) called PT Tasbiha Mulia Tani (PT TMT), which functions as a commercial business unit responsible for processing and marketing rice produced by cooperative members. Participation in collective institutions such as cooperatives is expected to strengthen the position of smallholder farmers and help overcome their limitations. Nevertheless, membership in a cooperative does not automatically guarantee that the business mechanism effectively addresses the needs of smallholders. Previous studies have shown that collective institutions may function merely as production aggregators and fail to generate equitable benefits for small-scale actors if the business model is not implemented inclusively. &#13;
This study aimed to analyze the rice value chain, business model, and inclusiveness level of Koperasi Produsen Citra Kinaraya, as well as to formulate recommendations for strengthening the cooperative. This research employed a qualitative case study approach conducted at Koperasi Produsen Citra Kinaraya and PT TMT, located in Mlatiharjo Village, Demak Regency. Data were collected through purposive interviews involving six cooperative-member farmers, one cooperative manager, and three PT TMT management members. The analytical tools used included value chain analysis based on the ACIAR 2012 framework, business model analysis using the Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC), and inclusiveness assessment using the New Business Model Principles within the LINK Methodology framework.&#13;
The results of the value chain analysis indicate that the cooperative’s rice value chain consists of three main stages: self-managed rice cultivation by cooperative-member farmers, paddy processing by PT TMT, and marketing through distributors, resellers, and business partners. The value chain is highly integrated, with PT TMT serving as the coordinator and intermediary linking farmers to broader market opportunities. From the value chain analysis, the main problem identified is the unstable continuity of paddy supply due to the declining attractiveness of partnership for new farmers. This condition is influenced by government paddy price policies that have increasingly narrowed the price gap between what the cooperative offers and the general market price. Nevertheless, the paddy purchase price set by PT TMT remains consistently above the general market price, particularly for premium specialty rice varieties.&#13;
Business model analysis results using TLBMC indicate that PT TMT creates economic value through the development and marketing of various premium specialty rice products such as red rice, black rice, brown rice, Genki, and Mlatiharjo premium white rice. The product differentiation undertaken has the advantage of targeting health-conscious customer segments dominated by the upper middle class, enabling higher selling price determination which ultimately supports PT TMT's ability to purchase farmers' paddy above the general market price. The environmental layer of PT TMT's business model shows that in production activities, PT TMT has made efforts to implement environmentally friendly business practices by utilizing production by-products, although not yet fully, and achieving efficiency in production activities. From the social layer, PT TMT's business model contributes to creating employment opportunities for surrounding communities and collaborating with relevant institutions in PT TMT's business operating area. In addition, PT TMT also provides social support to farmers in the form of guaranteed paddy purchases, agricultural support services, while simultaneously empowering the surrounding community.&#13;
The inclusiveness analysis based on the New Business Model Principles indicates that from the six principles assessed, two principles were categorized as Fully Implemented, effective market linkage and equitable access to services, three principles were categorized as Partially Implemented namely chain-wide collaboration, fair and transparent governance, and inclusive innovation, and one principle was categorized as Not Yet Implemented namely measurement of outcomes. These findings indicate that the cooperative's business model has been moving toward inclusive business practices, but still requires strengthening particularly in aspects of farmer protection, farmer involvement in innovation development, and a more structured partnership evaluation system.&#13;
Based on these findings, three strategic recommendations were proposed: enhancing the added value and membership incentives of the cooperative including risk-sharing mechanisms for farmers, developing more directed and coordinated utilization of rice-milling by-products, and establishing a systematic inclusivity monitoring and evaluation system. The implementation of these three strategies is expected to strengthen business model sustainability while simultaneously increasing the level of farmer inclusivity in the rice value chain operated by Citra Kinaraya Producer Cooperative Demak.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176962">
<title>Minat Siswa SMA pada Program Studi Bidang Agro- Maritim IPB University: Pendekatan Extended Theory of Planned Behavior</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176962</link>
<description>Minat Siswa SMA pada Program Studi Bidang Agro- Maritim IPB University: Pendekatan Extended Theory of Planned Behavior
Widayawati, Retna
Sektor Agro-Maritim memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, pembangunan berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Namun demikian, minat generasi muda terhadap program studi bidang Agro-Maritim masih relatif rendah dibandingkan bidang lain yang dipersepsikan lebih modern, prestisius, dan memiliki masa depan karier yang lebih menjanjikan. Kondisi tersebut menjadi tantangan penting bagi perguruan tinggi, khususnya IPB University, dalam meningkatkan daya tarik bidang Agro-Maritim di tengah perubahan perilaku generasi muda pada era digital. Dalam konteks generasi digital, proses pemilihan pendidikan tinggi tidak lagi hanya dipengaruhi oleh pertimbangan akademik, tetapi juga oleh media sosial, persepsi masa depan, citra profesi, dan pengaruh lingkungan sosial.&#13;
Untuk memahami fenomena tersebut, digunakan pendekatan Extended Theory of Planned Behavior (Extended TPB) dengan mengintegrasikan Theory of Planned Behavior (TPB), Human Capital Theory (HCT), dan Teori Perilaku Konsumen melalui penambahan variabel promosi digital serta persepsi prospek kerja dan karier ke dalam model penelitian. Pendekatan tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana faktor psikologis, sosial, dan komunikasi digital berinteraksi dalam membentuk minat siswa terhadap pendidikan tinggi bidang Agro-Maritim.&#13;
Pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner daring menggunakan platform KoBoToolbox kepada siswa kelas XII SMA jurusan IPA. Jumlah responden sebanyak 1.424 siswa yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dan dipilih menggunakan teknik multistage sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa cenderung memiliki ketertarikan yang lebih tinggi terhadap program studi yang dipersepsikan memiliki prospek masa depan yang jelas, peluang karier yang luas, serta citra profesi yang kuat. Dalam konteks tersebut, keputusan pendidikan tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh ketertarikan akademik, tetapi juga oleh bagaimana siswa memandang nilai masa depan (perceived future value) dari suatu bidang studi. Temuan deskriptif juga memperlihatkan bahwa media sosial telah menjadi ruang utama eksplorasi pendidikan tinggi bagi generasi muda. Instagram dan TikTok merupakan platform yang paling banyak digunakan responden dalam mencari informasi mengenai perguruan tinggi dan program studi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi, preferensi, dan gambaran masa depan siswa terhadap bidang pendidikan tertentu.&#13;
Pengujian model struktural menunjukkan bahwa promosi digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi prospek kerja dan karier siswa terhadap program studi bidang Agro-Maritim. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi digital tidak lagi hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi institusi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan persepsi mengenai peluang kerja, pengembangan karier, dan masa depan yang dapat diperoleh melalui bidang Agro-Maritim. Persepsi prospek kerja dan karier juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap siswa terhadap program studi bidang Agro-Maritim. Semakin positif persepsi siswa terhadap peluang karier dan relevansi bidang Agro-Maritim terhadap kehidupan profesional mereka, semakin positif pula sikap mereka terhadap bidang studi tersebut.&#13;
Selain itu, sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat siswa dalam memilih program studi bidang Agro-Maritim. Di antara ketiga konstruk tersebut, norma subjektif memiliki pengaruh relatif paling kuat, yang menunjukkan bahwa keputusan pendidikan tinggi siswa masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, khususnya orang tua, guru, dan pihak-pihak yang dianggap penting oleh siswa. Promosi digital juga memiliki pengaruh langsung terhadap minat siswa serta pengaruh tidak langsung melalui pembentukan persepsi prospek kerja dan karier dan sikap siswa terhadap bidang Agro-Maritim.&#13;
Secara keseluruhan, pembentukan minat siswa terhadap program studi bidang Agro Maritim merupakan proses yang kompleks dan multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi faktor psikologis, sosial, dan komunikasi digital. Komunikasi pendidikan tinggi pada era digital telah berkembang menjadi instrumen pembentukan persepsi, identitas profesi, dan gambaran masa depan siswa terhadap suatu bidang pendidikan (future imagery). Rendahnya minat generasi muda terhadap bidang Agro-Maritim tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan informasi, tetapi juga dengan masih lemahnya citra profesi dan prestise sosial sektor Agro-Maritim di mata generasi muda dan lingkungan sosialnya.&#13;
Temuan tersebut menegaskan bahwa penguatan minat generasi muda terhadap bidang Agro-Maritim pada era digital tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan promosi institusi secara konvensional. Perguruan tinggi perlu memahami bahwa proses pemilihan pendidikan tinggi pada generasi muda semakin dipengaruhi oleh cara siswa memaknai masa depan, citra profesi, dan legitimasi sosial suatu bidang pendidikan. Oleh karena itu, strategi komunikasi pendidikan tinggi bidang Agro-Maritim perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan awareness, tetapi juga untuk membangun future imagery dan persepsi prestise sosial yang lebih kuat agar bidang Agro-Maritim mampu dipersepsikan sebagai sektor masa depan yang modern, strategis, dan relevan dengan aspirasi generasi&#13;
muda.&#13;
Kontribusi akademik dari kajian ini terletak pada pengembangan model Extended TPB dalam konteks pemilihan pendidikan tinggi bidang Agro-Maritim di Indonesia melalui integrasi promosi digital dan persepsi prospek kerja dan karier ke dalam model pembentukan minat siswa. Secara praktis, temuan penelitian dapat menjadi dasar bagi IPB University dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi dalam merumuskan strategi komunikasi yang lebih berorientasi masa depan (future-oriented), berbasis perilaku generasi digital, serta mampu memperkuat citra dan daya tarik bidang Agro-Maritim di kalangan generasi muda.; The Agro-Maritime sector plays a strategic role in supporting food security, natural resource management, sustainable development, and community welfare in Indonesia. However, younger generations’ interest in Agro-Maritime study programs remains relatively low compared with other fields perceived as more modern, prestigious, and offering more promising career prospects. This condition has become an important challenge for higher education institutions, particularly IPB University, in strengthening the attractiveness of Agro-Maritime fields amid changes in young people’s behavior in the digital era. Within the context of digital generations, higher education decisions are no longer influenced solely by academic considerations, but also by social media exposure, future-oriented perceptions,&#13;
professional image, and social influence surrounding students.&#13;
To understand this phenomenon, this study employed an Extended Theory of Planned Behavior (Extended TPB) approach by integrating the Theory of Planned Behavior (TPB), Human Capital Theory (HCT), and Consumer Behavior Theory through the inclusion of digital marketing communication and perceived career and employment prospects as additional variables in the research model. The framework was used to explain how psychological, social, and digital communication factors interact in shaping students’ intention toward Agro-Maritime higher education.&#13;
This study used a quantitative approach with a cross-sectional survey design. Data collection was conducted through an online questionnaire distributed via the KoBoToolbox platform to twelfth-grade science-track high school students. A total of 1,424 respondents from various provinces in Indonesia were selected using a multistage sampling technique. Data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS software.&#13;
The findings revealed that students tended to show greater interest in study programs perceived as having clear future prospects, broad career opportunities, and strong professional image. In this context, higher education decisions were influenced not only by academic interests, but also by how students perceived the perceived future value of a particular field of study. Descriptive findings also indicated that social media has become a primary space for higher education exploration among younger generations. Instagram and TikTok were identified as the most widely used platforms for obtaining information regarding universities and study programs. These findings suggest that digital communication plays a strategic role in shaping students’ perceptions, preferences, and future imagery regarding particular educational fields.&#13;
The structural model analysis demonstrated that digital marketing communication had a positive and significant effect on students’ perceived career and employment prospects regarding Agro-Maritime study programs. These findings indicate that digital communication no longer functions merely as a medium for institutional information dissemination, but also as a mechanism for shaping perceptions regarding career opportunities, professional development, and future prospects associated with Agro-Maritime fields. Perceived career and employment prospects were also found to positively and significantly influence students’ attitudes toward Agro-Maritime study programs. The more positive students perceived the career opportunities and professional relevance of Agro-Maritime fields, the more favorable their attitudes became toward such study programs.&#13;
In addition, attitude, subjective norm, and perceived behavioral control were found to positively and significantly influence students’ intention to choose Agro-Maritime study programs. Among these constructs, subjective norm showed the strongest influence, indicating that students’ higher education decisions remain strongly affected by their social environment, particularly parents, teachers, and other influential individuals. Digital marketing communication also exerted both direct and indirect effects on students’ intention through the formation of perceived career and employment prospects and students’ attitudes toward Agro-Maritime fields.&#13;
Overall, students’ intention toward Agro-Maritime study programs can be understood as a complex and multidimensional process influenced by the interaction of psychological, social, and digital communication factors. Higher education communication in the digital era has evolved into an instrument for shaping perceptions, professional identity, and students’ future imagery regarding particular educational fields. The relatively low interest of younger generations in Agro-Maritime fields is therefore associated not only with limited information exposure, but also with the still-weak professional image and social prestige&#13;
attached to the Agro-Maritime sector among younger generations and their social environment.&#13;
These findings emphasize that strengthening younger generations’ interest in Agro-Maritime fields in the digital era cannot rely solely on conventional institutional promotion approaches. Higher education institutions need to understand that students’ higher education choices are increasingly influenced by how they interpret the future, professional image, and social legitimacy of a particular educational field. Therefore, communication strategies for Agro-Maritime higher education should be directed not only toward increasing awareness, but also toward building stronger future imagery and social prestige&#13;
perception so that Agro-Maritime fields can be perceived as modern, strategic, and future-oriented sectors that are relevant to the aspirations of younger generations.&#13;
The academic contribution of this study lies in the development of the Extended TPB model within the context of Agro-Maritime higher education choice in Indonesia through the integration of digital marketing communication and perceived career and employment prospects into the student intention formation model. Practically, the findings may serve as a foundation for IPB University and higher education stakeholders in formulating more future-oriented communication strategies based on digital generation behavior and capable of strengthening the image and attractiveness of Agro-Maritime fields among younger generations.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
