<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144">
<title>MF - Business</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144</link>
<description>Master Theses on Business</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180070"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180042"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179994"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179986"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-09T01:27:40Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180070">
<title>Kepemimpinan Perempuan dalam Menghadapi Glass Ceiling pada Industri Kesehatan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180070</link>
<description>Kepemimpinan Perempuan dalam Menghadapi Glass Ceiling pada Industri Kesehatan
Seruni, Ainiyya Hana Pathi
Fenomena kesetaraan gender dalam dunia kerja global baru mencapai 68%. Representasi perempuan pada industri kesehatan cenderung menurun, mulai dari posisi entry level hingga tingkat eksekutif. Kondisi ini menunjukkan adanya fenomena glass ceiling yang menghambat perempuan untuk mencapai posisi kepemimpinan strategis. Penelitian mengenai kepemimpinan perempuan di industri kesehatan relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan penelitian, aspek-aspek dan gaya kepemimpinan, indikator kepemimpinan perempuan pada industri kesehatan, serta langkah-langkah calon pemimpin perempuan dalam menghadapi glass ceiling pada Industri Kesehatan. &#13;
Penelitian ini berlangsung sejak Bulan Oktober 2025 hingga Bulan September 2026 dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan indepth interview terhadap sembilan narasumber serta studi literatur. Sembilan narasumber merupakan perwakilan tiap sub sektor. Metode analisis yang digunakan meliputi Systematic Literature Review (SLR), thematic analysis, dan Interpretive Structural Modeling (ISM)-MICMAC. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa riset tentang kepemimpinan perempuan telah meningkat dengan dominasi teori glass ceiling, dan area kesehatan termasuk penyumbang terkecil pada riset ini. Aspek-aspek gaya kepemimpinan, yaitu kemampuan komunikasi, pemikiran strategis, kecerdasan emosional, resiliensi, dan adaptabilitas. Gaya kepemimpinan yang dihasilkan cenderung mengarah kepada gaya kepemimpinan transformasional yang terbentuk dari integrasi lima aspek tersebut. Indikator keberhasilan pemimpin perempuan di industri kesehatan merupakan sebuah proses keberhasilan mengatasi faktor struktural dan sosial-budaya, pengembangan kompetensi dengan modal relasional, dan berakhir dengan adanya kebijakan, teknologi, serta hard work. Langkah-langkah yang dapat dilakukan bagi calon pemimpin perempuan untuk bisa menempati posisi kepemimpinan di antaranya, yaitu mengikuti program sertifikasi atau pelatihan komunikasi untuk melatih kemampuan berkomunikasi, membangun personal branding serta keberanian menyampaikan ide dalam forum strategis, dan mengembangkan kompetensi diri dengan cara mengikuti pelatihan. Organisasi sebagai wadah perempuan juga diharapkan dapat menerapkan konsep Diversity, Equity, and Inclusivity (DEI), mengevaluasi serta audit kesetaraan karier secara berkala, serta menciptakan kebijakan yang mendukung keseimbangan kerja dan keluarga, terutama bagi keluarga dual-career. Dukungan penuh dari keluarga terutama orang tua, suami, dan anak juga merupakan faktor penting bagi calon pemimpin perempuan agar mampu menghadapi glass ceiling, khususnya di industri kesehatan.; Gender equality in the global workforce has only reached 68%. Women’s representation in the healthcare industry tends to decline across all levels, from entry-level positions to executive roles. This situation indicates the existence of a glass ceiling that prevents women from reaching strategic leadership positions. On the other hand, research on women’s leadership in the healthcare industry remains relatively limited. Therefore, this study aims to analyze the development of research, leadership styles, and indicators of women’s leadership in the healthcare industry, while also providing steps taken by aspiring women leaders to navigate the glass ceiling in the healthcare industry. &#13;
This study was conducted from October 2025 to September 2026 using a qualitative approach. Data collection was carried out through in-depth interviews with nine informants and a literature review. The nine informants represented each subsector. The analytical methods used included a Systematic Literature Review (SLR), thematic analysis, and Interpretive Structural Modeling (ISM)-MICMAC. &#13;
Research findings indicate that studies on women’s leadership have increased, with the “glass ceiling” theory dominating the field, and the health sector was the smallest share of this research. Leadership style aspects, are communication skills, strategic thinking, emotional intelligence, resilience, and adaptability. The resulting leadership style is a transformational leadership style shaped by the integration of five competencies. Indicators of success for women leaders in the healthcare industry include successfully overcoming structural and sociocultural factors, developing competencies through relational capital, and ultimately implementing policies, technology, and hard work.. Steps taken by women leaders to navigate the glass ceiling in the healthcare industry are participating in certification programs or communication training to hone their communication skills, building a personal brand and the confidence to present ideas in strategic forums, and developing their competencies through training. Organizations serving as platforms for women are also expected to implement the DEI (Diversity, Equity, and Inclusivity) framework, periodically evaluate and audit career equity, and create policies that support work-life balance, particularly for dual-career families. Full support from family especially parents, spouses, and children are also a crucial factor for aspiring female leaders in overcoming the glass ceiling, particularly in the healthcare industry.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180042">
<title>Pengaruh Tingkat Kualitas Produk , Loyalitas Pelanggan dan Resiliensi Bisnis IKM Binaan PT KAF SM</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180042</link>
<description>Pengaruh Tingkat Kualitas Produk , Loyalitas Pelanggan dan Resiliensi Bisnis IKM Binaan PT KAF SM
Khoirunnisa
Industri Kecil dan Menengah (IKM) memiliki peran strategis dalam&#13;
memperkuat daya saing industri nasional melalui keterlibatannya sebagai bagian&#13;
dari rantai pasok perusahaan besar. Dalam pola kemitraan Business-to-Business&#13;
(B2B), keberhasilan hubungan antara perusahaan pembina dan IKM tidak hanya&#13;
ditentukan oleh kemampuan memenuhi permintaan pasar, tetapi juga oleh&#13;
konsistensi kualitas produk yang dihasilkan. Pada sektor industri dengan standar&#13;
teknis tinggi, seperti oil and gas services, kualitas produk menjadi prasyarat utama&#13;
dalam menjaga kepercayaan pelanggan serta menjamin keberlangsungan hubungan&#13;
kemitraan. Oleh karena itu, kemampuan IKM dalam mempertahankan standar mutu&#13;
merupakan faktor yang menentukan keberlanjutan usaha sekaligus ketahanan rantai&#13;
pasok secara keseluruhan.&#13;
Fenomena empiris pada IKM binaan PT KAF SM menunjukkan bahwa&#13;
peningkatan volume pesanan tidak selalu diikuti oleh peningkatan kapasitas&#13;
operasional. Ketika permintaan mengalami lonjakan, sebagian IKM justru&#13;
mengalami penurunan kualitas produk akibat keterbatasan sumber daya, sistem&#13;
manajemen, dan pengendalian mutu. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya&#13;
produk yang tidak memenuhi spesifikasi (reject), menurunnya tingkat kepercayaan&#13;
pelanggan, serta terhentinya keberlanjutan pesanan. Dampaknya terlihat dari&#13;
berkurangnya jumlah IKM binaan yang aktif bermitra dari 30 menjadi hanya 11&#13;
IKM. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa keberhasilan memperoleh pesanan&#13;
belum mampu menjamin keberlanjutan usaha apabila tidak diimbangi dengan&#13;
kemampuan mempertahankan kualitas produk secara konsisten.&#13;
Meskipun hubungan antara kualitas produk dan loyalitas pelanggan telah&#13;
banyak dibahas dalam berbagai penelitian terdahulu, sebagian besar penelitian&#13;
masih berhenti pada aspek kepuasan atau loyalitas pelanggan sebagai luaran akhir.&#13;
Di sisi lain, penelitian mengenai resiliensi bisnis umumnya lebih menitikberatkan&#13;
pada faktor finansial, kapasitas adaptasi, maupun strategi operasional tanpa&#13;
mengkaji mekanisme perilaku pelanggan sebagai faktor yang menghubungkan&#13;
kualitas produk dengan ketahanan usaha. Dengan demikian, masih terdapat&#13;
kesenjangan ilmiah mengenai bagaimana kualitas produk mampu membangun&#13;
resiliensi bisnis melalui loyalitas pelanggan, khususnya pada ekosistem kemitraan&#13;
IKM dengan perusahaan pembina dalam hubungan B2B.&#13;
Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini mengembangkan suatu&#13;
model konseptual yang menempatkan kualitas produk sebagai variabel independen,&#13;
loyalitas pelanggan sebagai variabel mediasi, dan resiliensi bisnis sebagai variabel&#13;
dependen. Model ini dibangun atas asumsi bahwa kualitas produk yang konsisten&#13;
akan meningkatkan kepercayaan serta loyalitas pelanggan melalui keberlanjutan&#13;
hubungan bisnis, sehingga loyalitas tersebut menjadi mekanisme yang mengubah.&#13;
keunggulan kualitas menjadi ketahanan usaha dalam jangka panjang. Dengan&#13;
demikian, penelitian ini tidak hanya menguji pengaruh langsung antarvariabel,&#13;
tetapi juga menjelaskan mekanisme kausal yang mendasari terbentuknya resiliensi&#13;
bisnis IKM.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian&#13;
asosiatif kausal. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada&#13;
responden yang terdiri atas pelaku IKM binaan. Analisis dilakukan menggunakan&#13;
Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji&#13;
model pengukuran sekaligus hubungan struktural antarvariabel, termasuk pengaruh&#13;
langsung maupun pengaruh tidak langsung melalui variabel mediasi. Pendekatan&#13;
ini dipilih karena mampu memberikan gambaran empiris mengenai kekuatan&#13;
hubungan antarvariabel secara simultan dalam model penelitian yang kompleks.&#13;
Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada pengembangan model empiris&#13;
yang mengintegrasikan perspektif manajemen kualitas, pemasaran relasional, dan&#13;
resiliensi bisnis dalam konteks kemitraan Business-to-Business antara perusahaan&#13;
pembina dan IKM. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang memandang&#13;
loyalitas pelanggan sebagai tujuan akhir, penelitian ini menunjukkan bahwa&#13;
loyalitas pelanggan merupakan mekanisme strategis yang menghubungkan kualitas&#13;
produk dengan resiliensi bisnis. Dengan demikian, penelitian ini memperluas&#13;
pengembangan teori mengenai pembentukan ketahanan bisnis pada IKM melalui&#13;
pendekatan yang lebih komprehensif dan dinamis.&#13;
Penelitian ini memberikan implikasi bahwa keberhasilan program&#13;
pembinaan IKM tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas&#13;
produksi maupun perluasan akses pasar. Program pembinaan perlu diarahkan pada&#13;
penguatan sistem manajemen mutu yang mampu menghasilkan kualitas produk&#13;
secara konsisten sehingga mampu mempertahankan loyalitas pelanggan sebagai&#13;
fondasi resiliensi bisnis. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi akademik&#13;
dalam pengembangan teori manajemen operasional dan pemasaran relasional,&#13;
sekaligus menjadi dasar bagi perusahaan pembina, pelaku IKM, dan pembuat&#13;
kebijakan dalam merancang strategi pengembangan IKM yang berkelanjutan,&#13;
adaptif, dan berdaya saing tinggi.&#13;
Kata kunci: Business-to-Business , Industri Kecil Menengah (IKM), Kualitas&#13;
Produk, Loyalitas Pelanggan , Resiliensi Bisnis.; Small and Medium Enterprises (SMEs) play a strategic role in strengthening&#13;
national industrial competitiveness by serving as suppliers within the supply chains&#13;
of larger companies. In Business-to-Business (B2B) partnerships, the sustainability&#13;
of collaborative relationships depends not only on production capacity but also on&#13;
the ability of SMEs to consistently deliver products that comply with predetermined&#13;
quality standards. In industries requiring stringent technical specifications, such as&#13;
the oil and gas supply sector, product quality becomes a critical determinant of&#13;
customer trust, long-term collaboration, and business continuity. Consequently,&#13;
maintaining consistent product quality is essential for enhancing the&#13;
competitiveness and resilience of SMEs operating within industrial partnerships.&#13;
Empirical evidence from SMEs fostered by PT KAF SM indicates that an&#13;
increase in customer demand does not necessarily correspond with improved&#13;
operational capability. Instead, rapid growth in production volume has frequently&#13;
been accompanied by declining product quality due to limitations in production&#13;
capacity, quality control systems, and managerial capabilities. These conditions&#13;
have resulted in increased product rejection rates, declining customer confidence,&#13;
and the discontinuation of business contracts. As a consequence, the number of&#13;
active partner SMEs decreased substantially from 30 to only 11 enterprises. This&#13;
phenomenon suggests that market opportunities alone are insufficient to ensure&#13;
business sustainability unless they are supported by the consistent delivery of high-&#13;
quality products.&#13;
Although previous studies have extensively examined the relationship&#13;
between product quality and customer loyalty, most have focused primarily on&#13;
customer satisfaction or loyalty as the final outcome. Likewise, research on&#13;
business resilience has generally emphasized organizational adaptability, financial&#13;
capability, operational flexibility, and risk management while giving limited&#13;
attention to customer-related mechanisms that strengthen business resilience.&#13;
Consequently, limited empirical evidence explains how product quality contributes&#13;
to business resilience through customer loyalty, particularly within B2B&#13;
partnerships involving SMEs and their fostering companies. This gap provides the&#13;
theoretical foundation for the present study.&#13;
This research develops a conceptual model integrating product quality as&#13;
the independent variable, customer loyalty as the mediating variable, and business&#13;
resilience as the dependent variable. The proposed model assumes that consistently&#13;
high product quality enhances customer trust and loyalty, which subsequently&#13;
strengthens SMEs' capability to withstand market uncertainty and operational&#13;
disruptions. Accordingly, customer loyalty is conceptualized not merely as a&#13;
marketing outcome but as a strategic mechanism that transforms superior product&#13;
quality into long-term business resilience.&#13;
This study employed a quantitative approach using an associative causal&#13;
research design. Primary data were collected through structured questionnaires&#13;
administered to management representatives of PT KAF SM and partner SMEs.&#13;
The proposed research model was analyzed using Structural Equation Modeling–&#13;
Partial Least Squares (SEM-PLS), enabling simultaneous evaluation of the&#13;
measurement model and the structural relationships among variables, including&#13;
both direct and indirect effects through the mediating variable.&#13;
The primary scientific contribution of this research lies in the development&#13;
of an integrated empirical framework that combines perspectives from quality&#13;
management, relationship marketing, and business resilience within the context of&#13;
Business-to-Business partnerships. Unlike previous studies that primarily&#13;
considered customer loyalty as the final outcome of product quality, this study&#13;
demonstrates that customer loyalty functions as a strategic mediating mechanism&#13;
linking product quality to business resilience. Therefore, the findings extend the&#13;
theoretical understanding of how resilient SMEs are developed through customer-&#13;
centered quality management within industrial partnership ecosystems.&#13;
Practically, this study highlights that SME development programs should&#13;
extend beyond increasing production capacity and expanding market access.&#13;
Greater emphasis should be placed on strengthening quality management systems&#13;
capable of consistently meeting customer requirements, thereby fostering customer&#13;
loyalty and enhancing business resilience. The findings are expected to contribute&#13;
to the advancement of knowledge in operations management, relationship&#13;
marketing, and SME development, while also providing practical recommendations&#13;
for fostering companies, SMEs, and policymakers in designing sustainable and&#13;
resilient industrial partnership strategies.&#13;
Keywords: Business-to-Business (B2B); Business Resilience; Customer Loyalty; Product Quality; Small and Medium Enterprises (SMEs).
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179994">
<title>Pengaruh Gaya Hidup, Harga, dan Instagram Terhadap Niat Beli Produk Organik pada Generasi Z</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179994</link>
<description>Pengaruh Gaya Hidup, Harga, dan Instagram Terhadap Niat Beli Produk Organik pada Generasi Z
Irsyad, Andika Muhammad
Kesadaran global akan kesehatan dan keberlanjutan telah merevolusi sektor agrikultur, memicu pergeseran preferensi konsumen ke produk organik yang lebih sehat. Di pasar urban seperti Jabodetabek, terdapat anomali pada Generasi Z yang memiliki literasi kesehatan tinggi namun niat beli aktualnya rendah akibat resistensi finansial dan strategi promosi digital yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat niat beli Generasi Z terhadap produk organik; menguji pengaruh gaya hidup, media sosial Instagram, dan harga produk terhadap sikap, norma subjektif, serta persepsi kontrol perilaku; menganalisis pengaruh sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku terhadap niat beli; menguji peran sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku sebagai mediasi; serta merumuskan rekomendasi bagi produsen.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik convenience sampling terhadap 160 responden Generasi Z di Jabodetabek. Data dikumpulkan secara online menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan SEM-PLS melalui perangkat lunak SmartPLS 4.0. Penelitian dilakukan pada Februari hingga April 2026. Profil responden didominasi oleh perempuan dengan status pelajar/mahasiswa. Usia dominan berada pada rentang 18 hingga 21 tahun dan mayoritas berdomisili di Tangerang.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup, media sosial Instagram, dan harga produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Media sosial Instagram menjadi pemicu paling dominan dalam membentuk norma subjektif. Selanjutnya, sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku berpengaruh signifikan terhadap niat beli, dengan persepsi kontrol perilaku sebagai prediktor terkuat. Hasil uji mediasi mengonfirmasi bahwa jalur harga produk terhadap niat beli melalui persepsi kontrol perilaku memiliki koefisien tertinggi, membuktikan bahwa rasa mampu secara finansial dan kemudahan akses adalah saluran mediasi paling efektif bagi Gen Z.&#13;
Berdasarkan implikasi manajerial, perusahaan disarankan mengoptimalisasi social media marketing di Instagram melalui konten edukasi yang menarik dan influencer relevan untuk membangun identitas kelompok yang sehat dan modern. Persepsi kontrol perilaku sebagai penentu akhir, pelaku usaha wajib memastikan aksesibilitas produk di marketplace atau ritel modern serta menerapkan strategi harga kompetitif seperti paket murah. Selain itu, edukasi nilai kesehatan berkelanjutan harus terus dilakukan untuk memperkuat sikap konsumen agar niat beli yang terbentuk tidak sekadar mengikuti tren sesaat.&#13;
Kata kunci: gaya hidup, harga produk organik, instagram, niat beli; Global awareness of health and sustainability has revolutionized the agricultural sector, triggering a shift in consumer preferences toward healthier organic products. In urban markets such as Jabodetabek, there is an anomaly among Generation Z, who possess high health literacy but exhibit low actual purchase intention due to financial resistance and sub-optimal digital promotion strategies. This study aims to analyze the level of purchase intention among Generasi Z toward organic products; examine the influence of lifestyle, Instagram social media, and product price on attitudes, subjective norms, and perceived behavioral control; analyze the influence of these variables on purchase intention; test the mediating roles; and formulate recommendations for producers.&#13;
This study employed a non-probability sampling method with a convenience sampling technique, involving 160 Generasi Z respondents in Jabodetabek. Data were collected online via questionnaires and analyzed using SEM-PLS through SmartPLS 4.0 software. The research was conducted from February to April 2026. The respondent profile was dominated by females with student status. The dominant age group ranged from 18 to 21 years, with the majority residing in Tangerang.&#13;
The results indicated that lifestyle, Instagram social media, and product price have a positive and significant influence on attitudes, subjective norms, and perceived behavioral control. Instagram social media emerged as the most dominant trigger in forming subjective norms. Furthermore, attitudes, subjective norms, and perceived behavioral control significantly influence purchase intention, with perceived behavioral control as the strongest predictor. Mediation analysis confirmed that the path from product price to purchase intention through perceived behavioral control had the highest coefficient, proving that financial capability and ease of access are the most effective mediation channels for Gen Z.&#13;
Based on managerial implications, companies are advised to optimize social media marketing on Instagram through engaging content and relevant influencers to build a healthy and modern group identity. Given that perceived behavioral control is the final determinant, businesses must ensure product accessibility in marketplaces or modern retail and implement competitive pricing strategies such as price promotion. Additionally, education on sustainable health values must be continuously conducted to strengthen consumer attitudes, ensuring that purchase intentions are based on sustainable healthy lifestyle awareness rather than merely following short-term trends.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179986">
<title>Model Struktural dan Strategi Peningkatan Kualitas Keputusan Investasi Generasi Z dalam Merespons Popularitas Saham</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179986</link>
<description>Model Struktural dan Strategi Peningkatan Kualitas Keputusan Investasi Generasi Z dalam Merespons Popularitas Saham
Alya, Rifa Haenun
Pertumbuhan platform investasi digital memperluas akses Generasi Z&#13;
terhadap pasar modal Indonesia, namun belum diimbangi literasi keuangan yang&#13;
memadai, sehingga keputusan investasi rentan dipengaruhi popularitas saham, yaitu&#13;
kecenderungan memilih saham karena sedang ramai diperbincangkan. Penelitian&#13;
ini bertujuan mengidentifikasi faktor penentu keputusan investasi saham, menguji&#13;
pengaruh popularitas saham secara langsung dan melalui mediasi serial emotional&#13;
biases dan herd behavior, menguji moderasi literasi keuangan, serta menyusun&#13;
prioritas strategi peningkatan kualitas keputusan investasi.&#13;
Penelitian menggunakan desain bertahap empat tahap: tinjauan pustaka&#13;
sistematis terhadap 97 artikel terindeks Scopus; meta-analisis terhadap 20 studi&#13;
empiris (76 effect size; 25.244 partisipan kumulatif) menggunakan transformasi&#13;
Fisher’s Z dan model random-effects tiga-level dengan galat baku cluster-robust;&#13;
pemodelan persamaan struktural kuadrat terkecil parsial (SEM-PLS) terhadap 217&#13;
responden Generasi Z di Indonesia; serta Analytic Hierarchy Process (AHP).&#13;
Tinjauan pustaka mengelompokkan faktor keputusan investasi ke dalam&#13;
enam dimensi dan menunjukkan popularitas saham belum diposisikan sebagai&#13;
variabel eksogen individu. Meta-analisis menunjukkan korelasi gabungan positif (r&#13;
= 0,340; I² = 95,1%). Regret aversion menjadi bias afektif dengan pengaruh paling&#13;
konsisten dan homogen (r = 0,437; I² = 0,0%), sedangkan overconfidence menjadi&#13;
prediktor kognitif terkuat (r = 0,380). Herding (r = 0,180) dan financial literacy (r&#13;
= 0,203) positif namun sangat heterogen dan tidak signifikan pada level bivariat,&#13;
mendukung posisinya sebagai mediator dan moderator kontekstual dalam model.&#13;
Model struktural mengonfirmasi popularitas saham berpengaruh positif dan&#13;
signifikan terhadap keputusan investasi Generasi Z, baik secara langsung (ß =&#13;
0,277) maupun melalui mediasi serial (ß = 0,080), dengan pengaruh total 0,357 dan&#13;
keragaman terjelaskan 46,4%. Jalur dari emotional biases menuju herd behavior&#13;
merupakan koefisien terbesar dalam model (ß = 0,466). Literasi keuangan&#13;
memperlemah pengaruh popularitas saham (ß = -0,209) hingga 86,2% pada&#13;
investor berliterasi tinggi, tetapi tidak memoderasi pengaruh herd behavior (ß =&#13;
-0,073; p = 0,242), sehingga bersifat preventif dan bukan korektif.&#13;
Penilaian pakar menempatkan penguatan literasi keuangan sebagai kriteria&#13;
berbobot tertinggi (0,367). Pada tataran strategi, keterbukaan dan penyajian&#13;
informasi memperoleh prioritas tertinggi (0,291), disusul edukasi dan pelatihan&#13;
(0,274) serta pengaturan dan pengawasan (0,264), sedangkan pengingat dan jeda&#13;
pengambilan keputusan menempati posisi terendah (0,172). Berhimpitnya bobot&#13;
ketiga strategi teratas menunjukkan rekomendasi berupa paket intervensi terpadu,&#13;
bukan strategi tunggal, yang bersifat preventif melalui kolaborasi regulator,&#13;
penyedia platform investasi, dan institusi edukasi keuangan.; The rapid growth of digital investment platforms has expanded Generation&#13;
Z’s access to Indonesia’s capital market, but this has not been matched by adequate&#13;
financial literacy, making investment decisions vulnerable to stock popularity, or&#13;
the tendency to choose stocks that are widely discussed. This study aims to identify&#13;
the determinants of stock investment decisions, examine the direct effect of stock&#13;
popularity and its serial mediation through emotional biases and herd behavior, test&#13;
the moderating role of financial literacy, and develop strategic priorities to improve&#13;
investment decision quality.&#13;
A four-stage design was applied: a systematic literature review of 97&#13;
Scopus-indexed articles; a meta-analysis of 20 empirical studies (76 effect sizes;&#13;
25,244 cumulative participants) using Fisher’s Z transformation and a three-level&#13;
random-effects model with cluster-robust standard errors; partial least squares&#13;
structural equation modeling (SEM-PLS) on 217 Generation Z respondents; and an&#13;
analytic hierarchy process (AHP) assessed by four experts.&#13;
The review grouped the determinants into six dimensions behavioral biases,&#13;
financial literacy and knowledge, psychological and personal traits, external and&#13;
contextual factors, demographic variables, and values and religiosity and showed&#13;
that stock popularity had not been positioned as an individual-level exogenous&#13;
variable. The meta-analysis produced a positive, moderate pooled correlation&#13;
(omnibus r = 0.340; I² = 95.1%). Regret aversion was the most consistent and fully&#13;
homogeneous affective bias (r = 0.437; I² = 0.0%), while overconfidence was the&#13;
strongest cognitive predictor (r = 0.380). Herding (r = 0.180) and financial literacy&#13;
(r = 0.203) were positive but highly heterogeneous and not significant at the&#13;
bivariate level, supporting their role as contextual mediator and moderator in the&#13;
model.&#13;
The structural model confirmed that stock popularity positively and&#13;
significantly affected Generation Z investment decisions, both directly (ß = 0.277)&#13;
and through serial mediation (ß = 0.080), with a total effect of 0.357 and 46.4% of&#13;
variance explained. The path from emotional biases to herd behavior was the largest&#13;
coefficient in the model (ß = 0.466). Financial literacy weakened the effect of stock&#13;
popularity (ß = -0.209) by up to 86.2% among highly literate investors, but did not&#13;
moderate herd behavior (ß = -0.073; p = 0.242), acting preventively rather than&#13;
correctively.&#13;
Expert judgment ranked strengthening financial literacy as the highest-&#13;
weighted criterion (0.367), while among strategies information disclosure and&#13;
presentation received the highest priority (0.291), followed by education and&#13;
training (0.274) and regulation and supervision (0.264), and reminders and decision&#13;
pauses (0.172). The near-equal weights of the top three strategies indicate an&#13;
integrated, preventive intervention package requiring collaboration among&#13;
regulators, digital investment platforms, and financial education institutions.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
