<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144">
<title>MF - Business</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78144</link>
<description>Master Theses on Business</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173773"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173572"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173553"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173469"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-02T07:59:58Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173773">
<title>Strategi Pengembangan Bisnis Fotografi pada CV ARH Photo Production</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173773</link>
<description>Strategi Pengembangan Bisnis Fotografi pada CV ARH Photo Production
Setiaji, Fikri Akbar
Subsektor fotografi termasuk industri kreatif dan telah berkembang sebagai bisnis seperti membuka studio foto, pembuatan iklan, model dan fesyen, dokumentasi acara, pre-wedding, jurnalistik dan lain-lain CV ARH Photo Production merupakan perusahaan yang bergerak di bidang fotografi untuk sekolah-sekolah yang ada di depok dan bogor dan menerima klien pengantin untuk acara pernikahan. Perusahaan memerlukan strategi agar bisnis berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi bisnis fotografi ARH Photo serta faktor internal dan eksternal serta menganalisis strategi prioritas yang diterapkan sebagai rumusan model bisnis baru bagi CV ARH Photo. Pengumpulan data diperoleh dari responden internal (direktur utama CV ARH, direktur operasional dan pemasaran supervisor bidang operasional supervisor bidang pemasaran) dan responden eksternal (Wakil ketua asosiasi bola mata kota depok, klien dan vendor bingkai dan percetakan) . &#13;
Hasil penelitian menunjukan identifikasi 9 elemen bisnis model kanvas CV ARH Photo yang saat ini diterapkan. Hasil matriks IE menunjukan bahwa posisi perusahaan berada pada sel II yaitu dalam kondisi grow and built. Analisis SWOT dilakukan untuk mendapatkan 7 alternatif strategi dan prioritas strategi yang didapatkan melalui Analytical Hierachy Process (AHP) adalah Perluasan segmen pelanggan baru  dengan melakukan pendekatan dan menambah kerjasama dengan perusahaan yang relevan, Melakukan difrensiasi produk dengan melakukan memperbanyak pemasaran produk jasa fotografi pernikahan, jasa drone untuk pemetaan area dan photo studio, Melakukan Evaluasi berkala di tiap trimester untuk terus mengevaluasi kinerja perusahaan, Mempunyai ruang kerja dan studio yang representatif, Membuat pembukuan yang teratur dan rinci dengan menggunakan aplikasi yang ada, melakukan perbaikan pengelolaan sosial media untuk menjangkau lebih luas pelanggan, Membuat program referral untuk pelanggan yang memberi rekomendasi ke pelanggan lainnya. Berdasarkan hasil analisis strategi yang didapatkan, bahwa terdapat perubahan rumusan bisnis model kanvas pada elemen customer segments, value proposition, revenue streams, key activities, key partnership, key resources dan cost structure&#13;
Hasil dalam penelitian ini memberikan landasan bagi pengembangan strategi bisnis CV ARH Photo sebagai vendor jasa fotografi. Implementasi strategi dan model bisnis baru yang diusulkan diharapkan dapat memperkuat posisi kompetitif, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan perusahaan dalam industry fotografi.; The photography subsector includes the creative industry,  has developed into a business such as opening a photo studio, making advertisements, models and fashion, event documentation, pre-wedding, journalism and others. Not a few photography enthusiasts then decided to jump into this field as professionals. The community has also given a very positive appreciation to the world of photography. CV ARH Photo Production is a company engaged in photography for schools in Depok and Bogor and accepts bridal clients for wedding events. The company needs a strategy for sustainable business.&#13;
This research aims to analyze the business conditions of ARH Photo photography, along with internal and external factors, and to analyze priority strategies implemented as a formulation of a new business model for CV ARH Photo. Data collection was obtained from interviews, focus group discussions (FGD), questionnaires, and literature studies. The results show the identification of 9 elements of the Business Model Canvas currently applied by CV ARH Photo. The IE matrix results indicate that the company's position is in cell II, which is in a grow and build condition. SWOT analysis was conducted to obtain 7 alternative strategies, and the priority strategy obtained through the Analytical Hierarchy Process (AHP) is: Expanding into new customer segments by establishing approaches and increasing cooperation with government-recognized association groups; Differentiating products by increasing marketing of wedding photography services, drone services for area mapping, and photo studio services; Conducting periodic evaluations every trimester to continuously assess company performance; Having a representative workspace and studio; Maintaining regular and detailed bookkeeping using available applications to help manage finances in a stable and directed manner; Improving social media management to reach a broader customer base; Creating a referral program for customers who recommend to other customers and collaborating with relevant influencers. Based on the results of the strategic analysis, changes were formulated in the Business Model Canvas elements customer segments, value proposition, revenue streams, key activities, key partnership, key resources dan cost structure&#13;
The results of this research provide a foundation for developing the business strategy of CV ARH Photo as a photography service vendor. The implementation of the proposed new strategies and business model is expected to strengthen the company's competitive position and support sustainable growth within the photography industry.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173572">
<title>Mekanisme Pembiayaan Usaha Kecil Berbasis Etnis dan Keluarga: Studi Kasus Warung Madura</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173572</link>
<description>Mekanisme Pembiayaan Usaha Kecil Berbasis Etnis dan Keluarga: Studi Kasus Warung Madura
Kurniawati, Nanda
Warung Madura merupakan salah satu bentuk usaha kecil berbasis etnis dan keluarga yang berkembang dalam ruang ekonomi masyarakat perkotaan. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan harian, tetapi juga menjadi representasi dari praktik kewirausahaan yang bertumpu pada pengalaman merantau, keterlibatan keluarga, kepercayaan, dan jaringan sosial sesama pelaku usaha. Karakter khas warung Madura terlihat dari lokasi yang dekat dengan permukiman, jam operasional yang panjang, harga yang bersaing, kelengkapan barang, serta pelayanan yang fleksibel terhadap kebutuhan pelanggan. Namun, di balik keunggulan tersebut, warung Madura menghadapi tantangan dalam aspek pembiayaan, terutama karena modal usaha masih banyak bersumber dari tabungan pribadi, arus kas harian, dukungan keluarga, dan hubungan informal dengan pemasok.&#13;
Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, kajian ini menggali pengalaman pemilik dan pengelola warung Madura di wilayah Jakarta, Bogor, dan Depok. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan didukung oleh studi literatur mengenai ethnic entrepreneurship, family business, dan microfinance. Hasil analisis menunjukkan bahwa warung Madura memiliki karakter kuat sebagai usaha berbasis etnis sekaligus usaha keluarga. Dari sisi etnis, usaha ini tumbuh melalui jaringan perantau, solidaritas sosial, pertukaran informasi, serta kemampuan membaca peluang pasar lokal. Dari sisi keluarga, pengelolaan usaha dijalankan melalui pembagian peran yang informal, keterlibatan suami-istri atau kerabat dekat, rasa saling percaya, tanggung jawab, dan harapan agar usaha dapat terus berlanjut dalam lingkungan keluarga.&#13;
Praktik pembiayaan warung Madura memperlihatkan tiga pola utama, yaitu pembiayaan internal, pembiayaan informal relasional, dan pembiayaan hibrida selektif. Alternatif pembiayaan yang disusun menyesuaikan dengan karakter usaha kecil berbasis etnis dan keluarga yang bertumpu pada relasi kepercayaan, keterlibatan keluarga, dan arus kas harian. Skema pembiayaan yang dirumuskan tidak hanya diarahkan untuk menjawab kebutuhan warung Madura, tetapi juga dilengkapi dengan basis implementasi yang dapat diterapkan pada usaha etnis lain dengan pola sosial dan usaha yang serupa. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi komunitas, kapasitas pelaku usaha, pola jaringan sosial, serta kelembagaan yang tersedia. Dengan demikian, alternatif pembiayaan ini memiliki sifat kontekstual, tetapi tetap dapat direplikasi secara terbatas pada usaha kecil berbasis etnis lainnya. Hal ini menjadikan hasil pengembangan pembiayaan tidak hanya relevan bagi warung Madura, tetapi juga dapat menjadi rujukan bagi penguatan usaha kecil berbasis etnis dan keluarga secara lebih luas.; Warung Madura represents a form of ethnic- and family-based small enterprise that has developed within the economic landscape of urban communities. Its existence functions not only as a provider of daily necessities, but also as a representation of entrepreneurial practices rooted in migration experience, family involvement, trust, and social networks among business actors. The distinctive characteristics of warung Madura are reflected in its proximity to residential areas, extended operating hours, competitive prices, product completeness, and flexible services that respond to customer needs. However, behind these advantages, warung Madura faces challenges in financing, particularly because business capital is still largely sourced from personal savings, daily cash flow, family support, and informal relationships with suppliers.&#13;
Using a qualitative approach with a case study design, this study explores the experiences of warung Madura owners and managers in Jakarta, Bogor, and Depok. Data were obtained through in-depth interviews and supported by literature studies on ethnic entrepreneurship, family business, and microfinance. The analysis shows that warung Madura has strong characteristics as both an ethnic-based enterprise and a family business. From an ethnic perspective, this business grows through migrant networks, social solidarity, information exchange, and the ability to identify local market opportunities. From a family business perspective, business management is carried out through informal role distribution, the involvement of spouses or close relatives, mutual trust, responsibility, and the expectation that the business can continue within the family.&#13;
The financing practices of warung Madura reveal three main patterns, namely internal financing, relational informal financing, and selective hybrid financing. The proposed financing alternatives are designed to align with the characteristics of ethnic- and family-based small enterprises that rely on trust-based relationships, family involvement, and daily cash flow. The formulated financing schemes are not only intended to address the needs of warung Madura, but are also equipped with an implementation basis that can be applied to other ethnic enterprises with similar social and business patterns. Their application, however, needs to be adjusted to community conditions, business actors’ capacities, social network patterns, and the available institutional arrangements. Thus, these financing alternatives are contextual in nature, yet they remain replicable to a limited extent among other ethnic-based small enterprises. This makes the financing development not only relevant to warung Madura, but also a useful reference for strengthening ethnic- and family-based small enterprises more broadly.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173553">
<title>Strategi Pengembangan Quality of Work Life untuk Meningkatkan Keterikatan Karyawan (Employee Engagement) di PT XYZ</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173553</link>
<description>Strategi Pengembangan Quality of Work Life untuk Meningkatkan Keterikatan Karyawan (Employee Engagement) di PT XYZ
Mastra, Chika Asgara
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Quality of Work Life (QWL) dalam meningkatkan employee engagement di PT XYZ, yang dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat turnover karyawan, khususnya pada posisi Marketing seperti Account Executive (AE) dan Business Development (BD). Tingginya turnover tersebut berdampak pada ketidakstabilan organisasi, proses adaptasi kerja yang berulang, serta belum optimalnya pencapaian target perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini menempatkan QWL sebagai pendekatan strategis dalam meningkatkan employee engagement sekaligus menekan tingkat turnover karyawan.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan metode analisis deskriptif, Importance Performance Analysis (IPA), dan tabulasi silang (cross-tabulation). Penelitian dilakukan menggunakan metode sensus dengan melibatkan seluruh populasi sebanyak 52 responden yang terdiri atas karyawan aktif dan mantan karyawan PT XYZ. Analisis dilakukan dengan membedakan divisi Marketing dan non-Marketing untuk memperoleh prioritas strategi pengembangan QWL yang lebih spesifik sesuai karakteristik pekerjaan dan kondisi turnover pada masing-masing divisi. Pendekatan IPA digunakan untuk mengidentifikasi prioritas pengembangan faktor-faktor QWL berdasarkan kesenjangan antara tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan karyawan, sedangkan tabulasi silang digunakan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik responden dengan faktor-faktor QWL.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum penerapan QWL di PT XYZ telah berada pada kategori baik, khususnya pada aspek komunikasi, kesehatan kerja, dan penyelesaian konflik. Namun demikian, tingkat employee engagement masih belum optimal, terutama pada aspek loyalitas, kedisiplinan, dan kontribusi interpersonal. Berdasarkan hasil analisis IPA, faktor pengembangan karir dan kompensasi menjadi prioritas utama perbaikan karena memiliki tingkat kepentingan yang tinggi namun tingkat kepuasan relatif rendah, terutama pada divisi Marketing. Pada divisi non-Marketing, faktor pengembangan karir juga menjadi prioritas utama yang perlu mendapat perhatian perusahaan. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa sebagian besar faktor QWL tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan karakteristik responden, kecuali faktor pengembangan karir, kompensasi, kesehatan kerja, kebanggaan, dan keselamatan kerja yang memiliki hubungan signifikan dengan masa kerja.&#13;
Berdasarkan hasil tersebut, strategi pengembangan QWL difokuskan pada penguatan sistem pengembangan karir yang lebih terstruktur, penyempurnaan sistem kompensasi berbasis kinerja dan project value, serta optimalisasi kebijakan perusahaan yang telah berjalan dengan baik, seperti komunikasi internal, kesehatan kerja, dan penyelesaian konflik. Strategi yang dirumuskan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing divisi, di mana pengembangan karir menjadi prioritas pada divisi Marketing maupun non-Marketing, sedangkan penyempurnaan sistem kompensasi diprioritaskan khususnya pada divisi Marketing. Strategi tersebut disusun berdasarkan hasil analisis IPA, tabulasi silang, kondisi existing perusahaan, serta telah dikonfirmasi melalui diskusi dengan pihak manajemen sehingga bersifat realistis, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan organisasi. Implementasi strategi ini diharapkan mampu meningkatkan employee engagement, menurunkan tingkat turnover , mempertahankan talenta potensial, serta mendukung keberlanjutan organisasi dan pencapaian target bisnis perusahaan secara berkelanjutan.; This study aims to formulate a Quality of Work Life (QWL) development strategy to enhance employee engagement at PT XYZ. The research was motivated by the high employee turnover rate, particularly in Marketing positions such as Account Executives (AE) and Business Development (BD) personnel. The high turnover has led to organizational instability, repetitive adaptation processes for new employees, and suboptimal achievement of the company’s performance targets. Therefore, this study positions QWL as a strategic approach to improving employee engagement while simultaneously reducing employee turnover .&#13;
The study employed a mixed-methods approach, combining quantitative and qualitative methods through descriptive analysis, Importance Performance Analysis (IPA), and cross-tabulation analysis. A census method was applied by involving the entire population of 52 respondents, consisting of current employees and former employees of PT XYZ. The analysis differentiated between the Marketing and non-Marketing divisions to identify more specific QWL development priorities based on job characteristics and turnover conditions within each division. IPA was used to identify priority QWL factors by analyzing the gap between employees’ perceived importance and satisfaction levels, while cross-tabulation analysis was conducted to examine the relationship between respondent characteristics and QWL factors.&#13;
The findings indicate that, in general, the implementation of QWL at PT XYZ has been categorized as good, particularly in terms of communication, occupational health, and conflict resolution. However, the level of employee engagement has not yet reached an optimal level, especially regarding employee loyalty, work discipline, and interpersonal contribution. Based on the IPA results, career development and compensation emerged as the highest priority areas for improvement due to their high importance but relatively low satisfaction levels, particularly within the Marketing division. In the non-Marketing division, career development was also identified as the primary area requiring improvement. Furthermore, the Chi-Square analysis revealed that most QWL factors were not significantly associated with respondent characteristics, except for career development, compensation, occupational health, organizational pride, and workplace safety, all of which showed significant relationships with employees’ tenure.&#13;
Based on these findings, the proposed QWL development strategy focuses on establishing a more structured career development system, improving a performance- and project value-based compensation system, and optimizing organizational practices that have already been implemented effectively, such as internal communication, occupational health programs, and conflict resolution mechanisms. The strategy is tailored to the specific characteristics of each division, where career development becomes a priority for both Marketing and non-Marketing divisions, while compensation improvement is prioritized particularly for the Marketing division. The proposed strategy was formulated based on the results of IPA, cross-tabulation analysis, and the company’s existing conditions, and was further validated through in-depth interviews and discussions with the management team, ensuring that it is realistic, practical, and aligned with organizational needs. The implementation of this strategy is expected to enhance employee engagement, reduce turnover rates, retain high-potential talent, and support the long-term sustainability and business performance of the company.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173469">
<title>Strategi Integrasi Perlindungan Jaminan Sosial pada Event Olahraga untuk Meningkatkan Kepesertaan BPU BPJS Ketenagakerjaan Samarinda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173469</link>
<description>Strategi Integrasi Perlindungan Jaminan Sosial pada Event Olahraga untuk Meningkatkan Kepesertaan BPU BPJS Ketenagakerjaan Samarinda
PARDEDE, JEPERSON
Pencapaian kepesertaan BPU BPJS Ketenagakerjaan tahun 2024 baru mencapai 24,12% dari target 46.061.629 tenaga kerja. Salah satu sektor potensial namun belum optimal adalah pekerja lepas dan wiraswasta sekitar 25 juta orang, termasuk ekosistem event olahraga yang melibatkan penyelenggara, pelari, dan UMKM.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi dan preferensi peserta serta penyelenggara event olahraga terhadap perlindungan jaminan sosial, mengidentifikasi peluang dan tantangan integrasi BPJS Ketenagakerjaan, serta merumuskan strategi peningkatan kepesertaan BPU melalui integrasi perlindungan dalam penyelenggaraan event olahraga di Samarinda.&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah SEM-PLS dan Soft Systems Methodology (SSM). Hasil SEM-PLS menunjukkan bahwa pada peserta, pengendalian perilaku paling dominan dalam membentuk niat (0,438), diikuti atribut pemasaran (0,243), sikap (0,085), atribut produk (0,067), dan norma subjektif (0,021), menandakan pentingnya kemudahan proses. Pada penyelenggara, atribut produk paling dominan (0,626), diikuti sikap (0,358), atribut pemasaran (0,031), norma subjektif (0,005), dan pengendalian perilaku (-0,055), menunjukkan fokus pada manfaat produk.&#13;
Melalui SSM, dirumuskan enam langkah strategi integrasi perlindungan jaminan sosial event olahraga, yaitu: identifikasi risiko berbasis data, penguatan regulasi lintas lembaga, digitalisasi pendaftaran hybrid, bundling pendaftaran, monitoring-evaluasi, serta feedback berkelanjutan. Peluang didukung regulasi nasional dan standar internasional, sementara tantangan meliputi ego sektoral, keterbatasan teknologi, dan penggunaan waiver sepihak dalam praktik penyelenggaraan event.; The participation rate of informal workers (BPU) in BPJS Ketenagakerjaan remains low at 24.12% of the 2024 target of 46,061,629 workers. A major untapped segment includes freelancers and self-employed workers, totaling around 25 million, including those in sports event ecosystems such as organizers, runners, and MSMEs.&#13;
This study aims to analyze the perceptions and preferences of participants and organizers toward social security, identify integration opportunities and challenges, and formulate strategies to increase BPU participation through sports events in Samarinda.&#13;
This research uses SEM-PLS and Soft Systems Methodology (SSM). The SEM-PLS results show that for participants, perceived behavioral control is the most influential factor (0.438), followed by marketing attributes (0.243), attitude (0.085), product attributes (0.067), and subjective norms (0.021), indicating a preference for ease of process. For organizers, product attributes are most dominant (0.626), followed by attitude (0.358), marketing attributes (0.031), subjective norms (0.005), and perceived behavioral control (-0.055), reflecting a focus on product value.&#13;
The SSM-based integration strategy comprises six stages: data-driven risk identification, regulatory strengthening, hybrid digital registration, bundled participation, monitoring and evaluation, and continuous feedback. Opportunities arise from national regulations, international standards, and growing community awareness, while challenges include sectoral ego, limited technology, and reliance on liability waivers.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
