<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78">
<title>MT - Economic and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173137"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173132"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173106"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173080"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-05-28T19:53:45Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173137">
<title>Preferensi dan Willingness to Pay Konsumen Terhadap Beras Sorgum Sebagai Pangan Fungsional di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173137</link>
<description>Preferensi dan Willingness to Pay Konsumen Terhadap Beras Sorgum Sebagai Pangan Fungsional di Indonesia
MUSAFIR, S.
Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan salah satu sumber pangan lokal potensial yang kaya serat, protein, mineral memiliki indeks glikemik rendah serta bebeas dari gluten. Kandungan gizi tersebut menjadikan sorgum berpotensi sebagai pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan khususnys individu dengan kondisi kesehtan khusus seperti penderita diabetes, intoleransi gluten, maupun masyarakat yang menerapkan gaya hidup sehat. Beras sorgum jugakini telah dipasarkan secara luas di seluruh platform e-commerce populer di Indonesia. Meskipun demikian, penerimaan sorgum dari sis kondumen masih sangat minim di kaji. Keberhasilan produk ini dipasar tentu saja sangat dipengaruhi oleh preferensi konsumen terhadap atribut produk dan tingkat kesediaan mereka untuk membayar (willingness to pay). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut beras sorgum dan mengukur tingkat kesediaan konsumen dalam membayar produk tersebut.&#13;
&#13;
Penelitian dilaksanakan periode Agustus-September 2025 menggunakan metode survei daring dengan bantuan Google Form mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Responden ditentukan secara purposive sampling, yaitu masyarakat yang pernah membeli dan mengonsumsi beras sorgum, dengan total 254 responden. Penyebaran kuesioner disebarkan dengan bantuan penjual (seller) e-commerce ke konsumen yang telah berbelanja online di toko mereka. Kuesioner juga disebar ke sosial media komunitas peduli hidup sehat, komunitas diabetes, dan komunitas pecinta pangan lokal NTT.&#13;
&#13;
Penelitian ini menguji berbagai atribut produk yang dianggap penting dalam keputusan pembelian beras sorgum, seperti jenis sorgum, tekstur, kemasan, rasa, klaim kesehatan, dan harga. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini ada Discrete Choice Experiment (DCE). DCE merupakan metode yang didasarkan pada teori perilaku pilihan yang sudah teruji dengan baik dan dapat memperhitungkan perilaku yang saling terkait. Metode DCE banyak digunakan untuk mempelajari preferensi seseorang terhadap atribut tertentu dari suatu produk atau jasa. Pada penelitian ini metode DCE digunakan untuk melihat kinerja atribut beras sorgum yang selanjutnya diketahui tingkat nilai WTP yang sanggup dibayarkan konsumen.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil produk dengan atribut jenis sorgum, tekstur pulen, kemasan vacum, rasa netral cenderung hambar, memiliki klaim kesehatan, dan harga yang rendah memiliki pengaruh signifikan terhadap preferensi konsumen dan lebih disukai oleh konsumen. Selain itu, berdasarkan hasil perhitungan tingkat kepentingan atribut beras sorgum didapatkan hasil bahwa konsumen lebih mementingkan klaim kesehatan (sehat) dibandingkan atribut lainnya. Konsumen juga menunjukkan kesediaan untuk membayar harga berdasarkan setiap masing-masing atribut beras sorgum, yaitu: Rp22.000/kg untuk jenis sorgum putih, Rp17.600/kg untuk beras sorgum dengan tekstur pulen, Rp32.000/kg untuk beras sorgum dengan kemasan vacum, Rp11.000/kg untuk beras dengan rasa kuat/khas karena konsumen lebih menyukai rasa netral/hambar, Rp46.000/kg untuk beras sorgum yang memiliki klaim kesehatan.&#13;
&#13;
Selain itu, sebagian besar konsumen yang berperan sebagai responden dalam penelitian ini menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap beras sorgum, dengan hasil persentase 50,% merasa puas, 31,1% merasa sangat puas, dan 16,5% cukup puas dan 2,4% merasa tidak puas. Dalam penelitian ini 92,9% konsumen bersedia membeli kembali produk beras sorgum. Kemudian 85,4% responden bersedia merekomendasikan produk ini kepada orang lain yang menunjukkan loyalitas konsumen yang kuat. Dari segi ketahanan terhadap perubahan harga, 67,3% responden tetap bersedia membeli produk ini meskipun terjadi kenaikan harga, menandakan bahwa faktor kesehatan dan manfaat produk lebih dominan dibandingkan dengan pertimbangan harga.&#13;
&#13;
Temuan ini menegaskan bahwa permintaan terhadap pangan sehat terus meningkat dan beras sorgum memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar Indonesia. Dengan demikian, produsen dan pemasar perlu menyusun strategi yang tepat dalam meningkatkan daya saing produk ini, terutama dengan menekankan kualitas produk, manfaat kesehatan, serta membangun citra merek yang kuat. Selain itu, perlu dilakukan distribusi yang lebih luas, baik melalui platform e-commerce, pasar ritel modern maupun pasar tradisional agar produk ini lebih mudah diakses oleh konsumen yang memiliki minat tinggi terhadap pola makan sehat atau konsumen dengan kondisi tertentu. Dengan memahami preferensi dan kesediaan membayar konsumen, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pelaku industri pangan dalam mengembangkan inovasi produk serta strategi pemasaran yang lebih efektif, sehingga dapat meningkatkan penerimaan pasar terhadap beras sorgum di Indonesia.; Sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) is a potential local food source that is rich in fiber, protein, and minerals, has a low glycemic index, and is gluten-free. These nutritional properties make sorghum a promising functional food that provides health benefits, particularly for individuals with specific health conditions such as diabetes or gluten intolerance, as well as for those who adopt a healthy lifestyle. Sorghum rice is now widely marketed across popular e-commerce platforms in Indonesia. Nevertheless, studies regarding consumer acceptance of sorghum remain limited. The market success of this product is largely influenced by consumer preferences for product attributes and their willingness to pay (WTP). Therefore, this study aims to analyze consumer preferences for sorghum rice attributes and to measure the level of consumers’ willingness to pay for the product.&#13;
&#13;
The research was conducted during the period of August–September 2025 using an online survey method via Google Forms, covering various regions across Indonesia. Respondents were selected using purposive sampling, consisting of individuals who had purchased and consumed sorghum rice, with a total of 254 respondents. The questionnaire was distributed with the assistance of e-commerce sellers to customers who had purchased sorghum rice through their online stores. It was also disseminated through social media communities focused on healthy lifestyles, diabetes awareness, and local food enthusiasts from East Nusa Tenggara (NTT).&#13;
&#13;
This study examined several product attributes considered important in consumers’ purchase decisions for sorghum rice, namely: type of sorghum, texture, packaging, taste, health claims, and price. The analytical method used was the Discrete Choice Experiment (DCE). DCE is based on well-established choice behavior theory and can account for interrelated consumer behavior. It is widely applied to explore individuals’ preferences toward specific product or service attributes. In this study, DCE was employed to evaluate the performance of sorghum rice attributes and to determine consumers’ WTP values for each attribute level.&#13;
&#13;
The results showed that product profiles characterized by white sorghum type, soft texture, vacuum packaging, neutral (rather bland) taste, health claims, and lower price significantly influenced consumer preferences and were generally more preferred. Based on the importance level of sorghum rice attributes, consumers placed the highest priority on health claims, followed by packaging and texture. Consumers also demonstrated positive willingness to pay for each sorghum rice attribute, namely: IDR 22,000/kg for white sorghum, IDR 17,600/kg for soft-textured sorghum rice, IDR 32,000/kg for vacuum-packaged sorghum rice, IDR 11,000/kg for strong-flavored sorghum rice (indicating preference for a neutral/bland taste), and IDR 46,000/kg for sorghum rice with health claims.&#13;
&#13;
Moreover, most consumers participating in this study expressed a high level of satisfaction with sorghum rice products: 50% were satisfied, 31.1% were very satisfied, 16.5% were somewhat satisfied, and only 2.4% were dissatisfied. A total of 92.9% of respondents were willing to repurchase sorghum rice, while 85.4% indicated willingness to recommend it to others, reflecting strong consumer loyalty. Regarding price sensitivity, 67.3% of respondents stated they would continue purchasing sorghum rice even if prices increased, suggesting that health and functional benefits outweigh price considerations.&#13;
&#13;
These findings confirm that the demand for healthy food products continues to grow and that sorghum rice holds great potential to expand within the Indonesian market. Therefore, producers and marketers need to design appropriate strategies to enhance the competitiveness of sorghum products—particularly by emphasizing product quality, health benefits, and strong brand image. Furthermore, broader product distribution is necessary through e-commerce platforms, modern retail outlets, and traditional markets to improve accessibility for consumers interested in healthy diets or with specific health needs. By understanding consumer preferences and willingness to pay, this study provides valuable insights for food industry stakeholders to develop innovative products and more effective marketing strategies, ultimately increasing market acceptance of sorghum-based functional food in Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173132">
<title>Peran Pengembangan Talenta Digital Terhadap Perilaku Kerja Inovatif Karyawan  PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173132</link>
<description>Peran Pengembangan Talenta Digital Terhadap Perilaku Kerja Inovatif Karyawan  PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
Fauziah, Nadira Aribah
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk perkembangan ekonomi digital. Inovasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan ekonomi digital Indonesia. PT Telkom Indonesia merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia yang mendukung pengembangan inovasi dan talenta digital  di Indonesia untuk menjadi lebih berkelanjutan. Saat ini, PT Telkom Indonesia sedang dihadapi oleh kurangnya talenta digital yang berkompetensi ICT global. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kerja inovatif karyawan PT Telkom Indonesia mampu membantu perusahaan dalam bersaing.&#13;
 Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden talenta digital di PT Telkom Indonesia dan menganalisis pengaruh pengembangan talenta digital, kepemimpinan digital, kompetensi digital dan budaya digital terhadap perilaku kerja inovatif. Penelitian menggunakan jenis data primer yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan data sekunder yang diperoleh dari dokumen yang sudah ada. Metode penarikan sampel menggunakan purposive  sampling dengan jumlah sampel sebanyak 189 responden. Penelitian dilakukan pada seluruh unit entitas PT Telkom Indonesia yang meliputi entitas holding dan anak usaha. &#13;
Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif dan analisis SEM PLS. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui karakteristik talenta digital serta menilai perspektif talenta digital terhadap pengambangan talenta di perusahaan. Analisis SEM PLS dilakukan untuk melihat hubungan variabel pengembangan talenta digital, kepemimpinan digital, kompetensi digital dan budaya digital terhadap perilaku kerja inovatif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan talenta digital tidak berpengaruh langsung terhadap perilaku kerja inovatif, melainkan sepenuhnya dimediasi oleh budaya digital, kepemimpinan digital, dan kompetensi digital. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan talenta digital belum cukup untuk menghasilkan perilaku kerja inovatif tanpa adanya dukungan ekosistem perusahaan yang kuat.&#13;
Hasil penelitian memberikan kontribusi teoritis dengan menegaskan bahwa upaya pengembangan talenta digital akan efektif ketika diintegrasikan dengan budaya digital yang mendukung kolaborasi, kepemimpinan digital yang transformatif, serta kompetensi digital yang relevan. Dengan demikian, penelitian ini menambah perspektif baru bahwa keberhasilan pengembangan talenta digital tidak dapat dilakukan secara reaktif, tetapi perlu diintegrasikan oleh faktor-faktor perusahaan yang secara bersamaan menciptakan kapabilitas inovasi talenta digital.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173106">
<title>Dinamika Persaingan Kepiting Beku Indonesia terhadap Eksportir Utama di Pasar Malaysia, Singapura, dan Australia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173106</link>
<description>Dinamika Persaingan Kepiting Beku Indonesia terhadap Eksportir Utama di Pasar Malaysia, Singapura, dan Australia
Nabilla, Nur Afra
Nilai ekspor kepiting beku Indonesia menunjukkan tren positif karena kombinasi kualitas produk, ketersediaan bahan baku yang melimpah, serta peningkatan standar pengolahan dan sertifikasi mutu ekspor. Negara Indonesia menjadi pengekspor kepiting beku terbesar keenam dalam perdagangan dunia setelah Myanmar, Rusia, USA, China, dan Kanada. Volume penjualan kepiting beku Indonesia pada dua belas tahun terakhir mengalami fluktuasi ke berbagai negara tujuan ekspor. Persaingan produk ekspor kepiting beku Indonesia ke negara tujuan yang semakin kompetitif dilihat dari kualitas produk maupun kuantitas yang dimiliki, sehingga dapat menjadi ancaman bagi produk kepiting beku Indonesia lainnya juga yaitu dapat berupa kesamaan kondisi geografis, faktor harga yang dipengaruhi oleh jarak, jumlah penduduk, nilai tukar mata uang, jumlah produksi, kualitas produk, biaya operasional, risiko kerugian, dan adaptasi teknologi berdampak terhadap persaingan selain potensi sumber daya alam dan kondisi geografis.	&#13;
&#13;
Tujuan penelitian ini adalah melihat dan menentukan stuktur pasar, daya saing, dan faktor-faktor ekspor kepiting beku Indnesia di pasar Malaysia, Singapura, dan Australia pada periode 2012 hingga 2023. Analisis dilakukan dengan rentan waktu 12 tahun dengan kode Hermorized System (HS) yaitu 030614. Metode analisis untuk memenuhi tujuan penelitian yaitu dengan Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR) untuk melihat stuktur pasar Indonesia di pasar tujuan, Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) untuk mengidentifikasi tingkat daya saing komparatif kepiting beku Indonesia, Export Dynamic Product (EPD) untuk menganalisis posisi daya saing kompetitif kepiting beku Indonesia, dan Model Gravity untuk melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ekspor kepiting beku Indonesia. &#13;
&#13;
Hasil penelitian diperoleh dinamika pangsa pasar kepiting beku Indonesia di pasar Malaysia dan Australia menunjukkan tren fluktuatif dengan kecenderungan meningkat selama dua belas tahun terakhir, menandakan kemampuan penetrasi produk yang cukup baik di kedua negara tersebut. Struktur pasar ekspor kepiting beku Indonesia di ketiga negara tujuan analisis berada pada tingkat konsentrasi sedang dengan karakteristik oligopoli, menunjukkan bahwa meskipun terdapat dominasi beberapa eksportir utama, persaingan tetap berlangsung dinamis. Posisi daya saing Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan pesaing utama, namun mengalami perbaikan di Malaysia dan Australia yang berada pada kategori rising star, sementara di Singapura masih stagnan pada posisi retreat. Hasil estimasi model Fixed Effect menunjukkan bahwa nilai tukar, jarak ekonomis, harga ekspor, kebijakan SPS dan Biosecurity Act 2015, serta pangsa pasar berpengaruh signifikan terhadap ekspor kepiting beku Indonesia, sedangkan faktor GDP, populasi, dan perjanjian IA-CEPA belum memberikan dampak yang berarti terhadap peningkatan ekspor.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173080">
<title>Daya Saing dan Faktor-Faktor yang  Memengaruhi Ekspor Sarden Olahan Indonesia di Kawasan Afrika</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173080</link>
<description>Daya Saing dan Faktor-Faktor yang  Memengaruhi Ekspor Sarden Olahan Indonesia di Kawasan Afrika
Maharani, Mutiara Ria Despita
Sarden olahan merupakan produk ikan kaleng yang diminati di pasar &#13;
internasional setelah tuna olahan. Ekspor sarden olahan menunjukkan pertumbuhan &#13;
positif selama periode 2019-2023 yang sebagian besar ditujukan ke kawasan &#13;
Afrika. Kandungan gizi yang tinggi dengan harga terjangkau membuat sarden &#13;
olahan diminati konsumen Afrika terutama masyarakat miskin. Maroko sebagai &#13;
pesaing utama mengalami penurunan pangsa pasar, tetapi kehadiran China semakin &#13;
dominan sehingga menciptakan persaingan baru. Kondisi ini menjadi peluang &#13;
sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk mempertahankan dan meningkatkan &#13;
posisinya di pasar Afrika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing &#13;
dan dinamikanya, struktur permintaan dan persaingan serta faktor-faktor yang &#13;
Memengaruhi ekspor sarden olahan Indonesia di kawasan Afrika.  &#13;
Metode analisis yang digunakan meliputi Revealed Comparative Advantage &#13;
(RCA), Export Product Dynamic (EPD), Almost Ideal Demand System (AIDS) dan &#13;
Regresi Data Panel. Penelitian ini menggunakan data time series selama periode &#13;
2011-2023. Analisis RCA dan EPD fokus terhadap daya saing sarden olahan &#13;
Indonesia di 18 negara Afrika. Pada model AIDS menggunakan negara pesaing &#13;
Indonesia seperti Maroko, China, Thailand dan Afrika Selatan. Sementara, regresi &#13;
data panel menggunakan variabel dependen nilai ekspor sarden olahan Indonesia di &#13;
18 negara Afrika dengan variabel independen meliputi harga ekspor, GDP dan &#13;
populasi negara importir, nilai tukar, jarak ekonomi serta dummy SPS dan TBT. &#13;
Analisis RCA menunjukkan sarden olahan Indonesia memiliki keunggulan &#13;
komparatif di 18 negara importir. Analisis EPD menunjukkan posisi daya saing &#13;
yang bervariasi selama tiga periode. Hasil analisis EPD menunjukkan Togo, &#13;
Gambia, Senegal, Benin, Tanzania, Republik Kongo, Equatorial Guinea, Sierra &#13;
Leone, Mesir dan Angola tergolong mitra dagang potensial karena menunjukkan &#13;
peningkatan daya saing. Negara importir seperti Kamerun dan Pantai Gading &#13;
tergolong mitra dagang berkembang karena mengalami pemulihan ekspor pada &#13;
periode terakhir. Sementara Nigeria, Mauritius, Liberia, Ghana, Kenya, dan Gabon &#13;
mengalami penurunan daya saing sehingga diperlukan evaluasi terhadap hambatan &#13;
ekspor di negara tersebut.  &#13;
Hasil model AIDS menunjukkan pangsa pasar sarden olahan Indonesia &#13;
berpengaruh signifikan terhadap harga sarden olahan Maroko, Thailand dan &#13;
Indonesia serta total impor sarden olahan di 18 negara Afrika. Berdasarkan &#13;
elastisitas pendapatan, sarden olahan Indonesia tergolong barang normal. Jika &#13;
pendapatan konsumen di 18 negara Afrika naik, maka akan meningkatkan &#13;
permintaan sarden olahan Indonesia. Permintaan sarden olahan Indonesia bersifat &#13;
elastis yang artinya sensitif terhadap perubahan harga. Hubungan sarden olahan &#13;
Indonesia dengan sarden olahan Maroko bersifat substitusi atau saling bersaing. &#13;
Sebaliknya, hubungan dengan sarden olahan China, Thailand dan Afrika Selatan &#13;
bersifat komplementer atau saling melengkapi. &#13;
Hasil regresi data panel menunjukkan harga ekspor, GDP negara importir &#13;
dan dummy SPS berpengaruh signifikan positif terhadap ekspor sarden olahan &#13;
Indonesia di 18 negara Afrika. Jika harga ekspor sarden olahan Indonesia naik, &#13;
maka produsen cenderung meningkatkan penawaran sehingga ekspor meningkat. &#13;
Hal ini juga sejalan dengan peningkatan ekonomi atau daya beli suatu negara, maka &#13;
akan meningkatkan permintaan sarden olahan yang berdampak pada meningkatnya &#13;
ekspor. Hasil analisis juga menunjukkan ekspor sarden olahan Indonesia ke negara &#13;
importir yang menerapkan SPS cenderung lebih tinggi dibandingkan ke negara &#13;
yang tidak menerapkan. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk memperkuat &#13;
posisi Indonesia di pasar Afrika dapat dilakukan melalui efisiensi produksi, strategi &#13;
harga yang kompetitif, peningkatan sertifikasi dan kualitas, diversifikasi produk, &#13;
serta penguatan promosi dan kerja sama bilateral dengan mitra dagang.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
