<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78">
<title>MT - Economic and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172850"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172744"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172662"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172654"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-06T13:59:21Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172850">
<title>Akses Kredit Terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172850</link>
<description>Akses Kredit Terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten
Kartika, Sri Ajeng
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan meningkatnya permintaan pangan, sehingga komoditas padi (Oryza sativa L.) memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Meskipun produktivitas padi di Indonesia cenderung meningkat, luas panen dan volume produksi menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi juga pada efisiensi penggunaan input produksi. Namun, petani masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan modal, tingginya harga input, serta akses teknologi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh skala usaha terhadap efisiensi produksi usahatani padi serta mengkaji dampak akses kredit terhadap efisiensi teknis dan pendapatan petani di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penelitian dilakukan di Kecamatan Panimbang pada Agustus–September 2025 menggunakan data cross-section satu musim tanam (MT I November 2024–April 2025) dengan sampel 130 petani yang dipilih melalui teknik multistage random sampling, terdiri atas 65 petani kredit dan 65 petani nonkredit. Analisis dilakukan menggunakan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk mengestimasi efisiensi teknis, regresi Tobit untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi, serta Propensity Score Matching (PSM) untuk menganalisis dampak kausal akses kredit terhadap efisiensi teknis dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani padi berada pada kondisi Increasing Returns to Scale (IRTS), yang menunjukkan bahwa peningkatan input secara proporsional akan meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar. Rata-rata efisiensi teknis petani kredit (0,977) lebih tinggi dibandingkan petani nonkredit (0,952). Akses kredit dan keanggotaan kelompok tani berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis pada taraf nyata 1%, sedangkan usia berpengaruh signifikan pada taraf 5%. Selain itu, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, dan status kepemilikan lahan berpengaruh signifikan pada taraf 10%. Dari sisi ekonomi, pendapatan petani kredit mencapai Rp10,23 juta per musim tanam pada luas lahan rata-rata 0,94 ha, lebih tinggi dibandingkan petani nonkredit sebesar Rp5,86 juta pada luas lahan 0,83 ha. Hasil estimasi PSM menunjukkan bahwa akses kredit memberikan dampak positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis dan pendapatan petani, dengan peningkatan efisiensi teknis berkisar antara 0,0025–0,0312 dan peningkatan pendapatan antara Rp2.041.958–Rp2.818.706 per musim tanam. Temuan ini menunjukkan bahwa akses kredit berperan dalam meningkatkan efisiensi produksi dan pendapatan petani, sehingga perluasan akses pembiayaan, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan penyuluhan pertanian diperlukan untuk mendukung keberlanjutan usahatani padi.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172744">
<title>Strategi Pengembangan UMKM Sektor Makanan dan Minuman pada Pasar Modern di Kabupaten Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172744</link>
<description>Strategi Pengembangan UMKM Sektor Makanan dan Minuman pada Pasar Modern di Kabupaten Bogor
Junaedi, Edi
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di Kabupaten Bogor, UMKM sektor makanan dan minuman merupakan salah satu subsektor yang berkontribusi penting terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terutama melalui peningkatan konsumsi rumah tangga. Namun, pengembangan UMKM sektor ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan kapasitas manajerial, rendahnya pemanfaatan teknologi digital, kualitas kemasan yang belum memenuhi standar pasar modern, serta belum optimalnya pemenuhan aspek legalitas usaha. Kondisi tersebut menjadi hambatan utama bagi UMKM sektor makanan dan minuman dalam memasuki pasar modern dan membangun kemitraan usaha yang berkelanjutan dengan ritel modern.&#13;
Penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1) Mengidentifikasi kondisi UMKM sektor makanan dan minuman pada pasar modern di Kabupaten Bogor, 2) Menganalisis faktor-faktor apa saja yang menghambat UMKM sektor makanan dan minuman untuk menebus ke pasar modern di Kabupaten Bogor, dan 3) Merumuskan strategi pengembangan UMKM sektor makanan dan minuman pada pasar modern di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada narasumber ahli serta pelaku UMKM sektor makanan dan minuman, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data sekunder didapatkan dari informasi yang dipublikasikan oleh instansi terkait, serta kajian pustaka dan dokumen yang relevan. Untuk menganalisis data, menggunakan metode analisis deskriptif, matriks IFE, EFE dan IE, Analisis SWOT, serta Analisis QSPM.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM sektor makanan dan minuman di Kabupaten Bogor berada pada kuadran V (hold and maintain) dalam matriks IE, dengan skor faktor internal sebesar 2,91 dan skor faktor eksternal sebesar 2,97. Posisi ini mengindikasikan bahwa peluang eksternal relatif mendukung, namun kapasitas internal UMKM sektor makanan dan minuman masih perlu diperkuat agar mampu memanfaatkan peluang pasar modern secara optimal. 12 alternatif strategi SWOT yang menjadi 3 strategi utama, yaitu: 1) Strategi pengembangan produk melalui peningkatan kualitas, inovasi, dan daya saing produk, 2) Strategi pengembangan pasar, dengan memperluas jangkauan pemasaran melalui kemitraan dengan pasar modern, dan 3) Strategi penetrasi pasar, dengan memperkuat posisi produk pada pasar yang telah ada melalui promosi yang lebih intensif. Strategi terbaik berdasarkan analisis QSPM adalah peningkatan kualitas kemasan dan pemenuhan legalitas produk melalui program pendampingan, dengan nilai TAS tertinggi sebesar 6,98. Strategi tersebut, paling efektif dalam meningkatkan daya saing UMKM sektor makanan dan minuman sehingga mampu memasuki dan bertahan secara berkelanjutan di pasar modern.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172662">
<title>Analisis Pendapatan dan Keberlanjutan Pertanian Kopi Arabika di Desa Sukawangi Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172662</link>
<description>Analisis Pendapatan dan Keberlanjutan Pertanian Kopi Arabika di Desa Sukawangi Bogor
Febriana, Amelia
Kopi merupakan salah satu komoditas pertanian strategis yang berperan penting dalam perdagangan internasional dengan permintaan global yang terus meningkat setiap tahunnya. Indonesia, sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia, memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pertanian kopi yang unggul. Namun, sektor kopi global saat ini dihadapkan pada tantangan berat berupa volatilitas harga, krisis iklim, serta kesenjangan produktivitas dan pendapatan petani. Menurut laporan International Coffee Organization (ICO 2024), diperlukan investasi global sebesar USD 256,2 juta hingga lebih dari USD 1 miliar per tahun untuk meningkatkan ketahanan iklim dan keadilan nilai dalam rantai pasok. Kondisi ini menuntut adanya perubahan sistem produksi melalui pendekatan prinsip keberlanjutan pertanian organik. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis persepsi keberlanjutan petani kopi arabika, 2) menganalisis pendapatan rumah tangga petani dalam rangka keberlanjutan kopi Arabika di Desa Sukawangi dan 3) menganalisis status keberlanjutan pertanian kopi arabika di Desa Sukawangi, Bogor.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan melibatkan 40 petani sebagai responden di Desa Sukawangi secara purposive. Analisis data mencakup analisis skala Likert dan deskripsi kualitatif untuk persepsi, analisis pendapatan R/C rasio untuk aspek ekonomi, serta analisis keberlanjutan Multidimensional Scaling (MDS). Uji sensitivitas juga dilakukan melalui analisis Monte Carlo untuk menjamin kestabilan indeks keberlanjutan yang dihasilkan.&#13;
Studi ini menjawab tiga tujuan utama. Pertama, petani memiliki persepsi sangat positif terhadap aspek keberlanjutan yang mengacu pada standar pertanian organik SNI 6729:2016 dengan rata-rata skor 3,54 (Kategori Sangat Setuju). Tingginya persepsi ini didorong oleh kesadaran lingkungan (skor 3,65) dan keyakinan bahwa praktik berkelanjutan mampu meningkatkan kualitas panen serta nilai jual di pasar premium. Kedua, analisis ekonomi menunjukkan bahwa usahatani kopi arabika memberikan keuntungan finansial yang signifikan dengan total profit riil kelompok mencapai Rp1.499.010.080. Nilai R/C rasio sebesar 2,29 membuktikan kelayakan usahatani yang valid, di mana setiap pengeluaran Rp1,00 menghasilkan penerimaan Rp2,29, sehingga petani memiliki kapasitas modal untuk pemeliharaan intensif sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP). Ketiga, status keberlanjutan multidimensi berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan indeks median 65,33. Dimensi teknologi mencatat skor tertinggi (78,85) diikuti dimensi sosial (73,41) dan ekologi (72,99). Namun, dimensi ekonomi (49,87) dan kelembagaan (51,54) menunjukkan nilai terendah yang memerlukan perhatian khusus.&#13;
Penelitian ini menawarkan strategi bagi pihak terkait guna menjamin keberlanjutan pertanian kopi di masa depan. Pemerintah perlu memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani dan memperluas akses pasar guna meningkatkan posisi tawar petani. Selain itu, diperlukan pendampingan berkelanjutan dalam standarisasi organik agar tren pendapatan positif yang ada saat ini dapat dipertahankan secara konsisten. Analisis Monte Carlo yang menunjukkan perbedaan nilai sangat kecil dibandingkan MDS menegaskan bahwa model kebijakan yang diusulkan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang tinggi untuk diterapkan.; Coffee is a strategic agricultural commodity that role in international trade, with global demand continuing to rise annually. As the world’s fourth-largest coffee producer, Indonesia possesses significant opportunities to develop superior and sustainable coffee farming systems. However, the global coffee sector currently faces severe challenges, including price volatility, the climate crisis, and gaps in productivity and farmer income. According to the International Coffee Organization (ICO 2024) report, the global coffee sector requires an annual investment of USD 256.2 million to over USD 1 billion to enhance climate resilience, productivity, and value equity within the supply chain. This underscores the urgent need for a shift in coffee production systems through approaches based on organic farming sustainability principles. This research aims to: 1) analyze the sustainability perceptions of Arabica coffee farmers in Sukawangi Village, Bogor; 2) analyze the relationship between farming income and sustainability; and 3) analyze the multidimensional sustainability status of Arabica coffee farming in the region.&#13;
This study employed a survey method involving 40 farmers as respondents, selected through purposive sampling in Sukawangi Village, Bogor Regency. Data analysis included Likert scale and qualitative descriptive analysis for perceptions, R/C ratio analysis for economic feasibility, and Multidimensional Scaling (MDS) for sustainability status. Sensitivity testing was conducted using Monte Carlo analysis to ensure the stability of the sustainability indices.&#13;
The study addresses three primary objectives. First, farmers possess a highly positive perception toward the sustainability aspects of Arabica coffee farming based on the organic agriculture standard SNI 6729:2016, with an average score of 3.54 (Highly Agree). This high perception is driven by environmental awareness, with farmers viewing nature conservation as a guarantee for future productivity (score 3.65), and the belief that sustainable cultivation enhances harvest quality and market value. Second, economic analysis reveals that coffee farming provides significant financial benefits, with a total group real profit of IDR 1,499,010,080. The feasibility is validated by an R/C ratio of 2.29, indicating that every IDR 1.00 of expenditure generates IDR 2.29 in revenue, providing farmers with sufficient capital to implement Good Agricultural Practices (GAP). Third, the multidimensional sustainability status of Arabica coffee in Sukawangi Village is categorized as sufficiently sustainable, with a median index value of 65.33. The technological dimension recorded the highest score (78.85) due to good post-harvest mechanization, followed by the social (73.41) and ecological (72.99) dimensions. However, the economic (49.87) and institutional (51.54) dimensions require further strengthening through active farmer group participation and broader market access.&#13;
The research offers strategies for stakeholders to maintain future sustainability. The government needs to facilitate institutional strengthening and market access to sustain positive income trends. Monte Carlo analysis showed minimal differences compared to MDS values, confirming the model's reliability. Strengthening farmer groups and ensuring consistent organic standards are essential to securing the long-term viability of Arabica coffee farming.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172654">
<title>Dampak Inklusi Keuangan Digital terhadap Stabilitas Sistem Keuangan berdasarkan Tingkat Pengembangan Keuangan Negara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172654</link>
<description>Dampak Inklusi Keuangan Digital terhadap Stabilitas Sistem Keuangan berdasarkan Tingkat Pengembangan Keuangan Negara
Lutpiana, Ana
Penelitian ini menyoroti fenomena digitalisasi dalam inklusi keuangan serta pengaruhnya terhadap stabilitas sistem keuangan. Meskipun tingkat inklusi keuangan di beberapa negara masih relatif rendah dan kesenjangan dalam akses terhadap layanan keuangan antarnegara masih signifikan, perkembangan digitalisasi telah mempermudah masyarakat dalam mengakses berbagai layanan keuangan. Namun, di sisi lain, digitalisasi tidak hanya berpotensi meningkatkan inklusi keuangan, tetapi juga dapat menimbulkan implikasi terhadap stabilitas sistem keuangan, baik dalam bentuk penguatan maupun peningkatan risiko yang dapat memicu penurunan stabilitas keuangan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun indeks inklusi keuangan digital (digital financial inclusion index/DFII) yang mencakup dimensi akses dan penggunaan, serta menganalisis pengaruhnya terhadap stabilitas sistem keuangan di 30 negara selama periode 2015–2021. DFII dikembangkan menggunakan metode principal component analysis (PCA) dengan mengintegrasikan indikator kredit daring (online credit) sebagai proksi utama pemanfaatan layanan keuangan digital. Stabilitas sistem keuangan diukur menggunakan rasio non-performing loans (NPL), sementara tingkat inklusi keuangan direpresentasikan oleh financial inclusion index (FII) yang mengombinasikan aspek inklusi keuangan tradisional dan digital. Estimasi empiris dilakukan menggunakan model fixed effects dengan clustered standard errors untuk mengakomodasi heterogenitas dan potensi autokorelasi antarnegara.&#13;
Hasil empiris menunjukkan bahwa inklusi keuangan digital secara signifikan menurunkan rasio NPL pada model global, negara berpendapatan tinggi (high-income countries/HIC), dan negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income countries/UMIC). Namun demikian, pengaruh tersebut tidak signifikan secara statistik pada negara berpendapatan menengah bawah (lower-middle-income countries/LMIC), yang mengindikasikan adanya kendala struktural seperti keterbatasan infrastruktur digital dan literasi keuangan. Selain itu, efisiensi perbankan menunjukkan dampak yang heterogen antar kelompok pendapatan. Temuan ini menegaskan pentingnya percepatan digitalisasi keuangan dan penguatan kapasitas kelembagaan guna meningkatkan stabilitas sistem keuangan.&#13;
Kata kunci: Efisiensi perbankan, inklusi keuangan digital, stabilitas keuangan, kredit bermasalah (Non-Performing Loans/NPL), data panel.; This study examines the phenomenon of digitalisation in financial inclusion and its implications for financial system stability. Although the level of financial inclusion in several countries remains relatively low and substantial disparities persist in access to financial services across countries, rapid advancements in digital technologies have significantly facilitated public access to a wide range of financial services. However, digitalisation not only holds the potential to enhance financial inclusion, but may also generate implications for financial system stability. These implications can manifest either as a stabilising force or, conversely, as an amplification of financial risks that may undermine overall financial stability.&#13;
This study aims to construct a digital financial inclusion index (DFII) encompassing both access and usage dimensions, and to examine its impact on financial system stability across 30 countries over the period 2015–2021. The DFII is developed using the principal component analysis (PCA) method by integrating online credit indicators as the primary proxy for the utilisation of digital financial services. Financial system stability is measured using the non-performing loans (NPL) ratio, while the overall level of financial inclusion is represented by a financial inclusion index (FII) that combines both traditional and digital dimensions of financial inclusion. Empirical estimation is conducted using a fixed-effects model with clustered standard errors to account for cross-country heterogeneity and potential serial correlation.&#13;
The empirical findings reveal that digital financial inclusion significantly reduces the NPL ratio in the global model, as well as in high-income countries (HICs) and upper-middle-income countries (UMICs). However, this effect is not statistically significant for lower-middle-income countries (LMICs), suggesting the presence of structural constraints, such as limited digital infrastructure and low levels of financial literacy, which may hinder the effective transmission of digital financial inclusion to financial stability. Furthermore, banking efficiency exhibits heterogeneous effects across different income groups. Overall, these findings underscore the critical importance of accelerating financial digitalisation and strengthening institutional capacity in order to enhance financial system stability.&#13;
Keywords: Banking efficiency; digital financial inclusion; financial stability; non-performing loans (NPL); panel data
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
