<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76">
<title>MF - Agriculture Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173545"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173537"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173448"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173342"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-01T12:00:21Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173545">
<title>Analisis Metode Proses Produksi Biopelet Berbahan Limbah Tanaman Jagung dan Serbuk Kayu Sengon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173545</link>
<description>Analisis Metode Proses Produksi Biopelet Berbahan Limbah Tanaman Jagung dan Serbuk Kayu Sengon
Rahmadani, Karina
KARINA RAHMADANI. Analisis Metode Proses Produksi Biopelet Berbahan &#13;
Limbah Tanaman Jagung dan Serbuk Kayu Sengon. Dibimbing oleh DYAH &#13;
WULANDANI dan LEOPOLD OSCAR NELWAN. &#13;
Kebutuhan energi yang terus meningkat mendorong pemanfaatan biomassa &#13;
sebagai sumber energi terbarukan melalui pengolahan limbah pertanian dan &#13;
kehutanan menjadi biopelet. Limbah tanaman jagung tersedia melimpah dengan &#13;
kadar air tinggi dan nilai kalor relatif rendah. Serbuk kayu sengon memiliki &#13;
karakteristik energi yang lebih baik sehingga berpotensi sebagai bahan campuran &#13;
untuk meningkatkan kualitas biopelet. Penelitian ini bertujuan menganalisis metode &#13;
proses produksi melalui kombinasi kadar air campuran bahan, kecepatan putaran &#13;
die, dan komposisi bahan terhadap performa pelletizer serta mutu biopelet. &#13;
Metode penelitian diawali dengan pengujian pendahuluan untuk menentukan &#13;
kondisi operasi yang sesuai pada mesin pelet. Kadar air campuran bahan ditetapkan &#13;
pada kisaran 37,00–40,85% (wb), kecepatan putaran die diatur secara bertahap pada &#13;
rentang 25–50 Hz untuk setiap siklus pemasukan bahan, serta digunakan lima &#13;
kombinasi komposisi bahan (A1–A5) dengan massa total 1,5 kg setiap perlakuan. &#13;
Pengujian utama meliputi evaluasi performa pelletizer dan mutu biopelet &#13;
berdasarkan parameter fisik, proksimat, nilai kalor, termofisik, kapasitas produksi &#13;
dan konsumsi energi listrik spesifik. Analisis statistik menggunakan one-way &#13;
analysis of variance (ANOVA) satu arah dan uji lanjut Tukey untuk mengevaluasi &#13;
pengaruh metode proses terhadap kepadatan dan ketahanan biopelet. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode proses produksi memengaruhi &#13;
performa pelletizer dan karakteristik fisik biopelet. Kadar air campuran bahan &#13;
berperan dalam menjaga stabilitas aliran dan mengendalikan fluktuasi beban mesin. &#13;
Kecepatan putaran die memengaruhi tekanan pemadatan dan suhu gesek internal. &#13;
Komposisi bahan menentukan kemampuan ikat serta integritas struktur biopelet. &#13;
Analisis statistik parameter fisik menunjukkan bahwa perlakuan P4 menghasilkan &#13;
performa pelletizer paling konsisten berdasarkan nilai kepadatan dan ketahanan &#13;
mekanik dengan kondisi kadar air 40,85%, kecepatan putaran die 45–35–30 Hz, &#13;
serta komposisi bahan A4 (70% limbah tanaman jagung : 30% serbuk kayu sengon). &#13;
Metode proses produksi terbaik ditentukan berdasarkan evaluasi terpadu &#13;
antara performa pelletizer dan mutu biopelet menggunakan metode pembobotan &#13;
enam parameter. Perlakuan P3 memperoleh nilai tertinggi sebesar 4,90 dengan &#13;
kondisi kadar air 39,86%, kecepatan putaran die 40–30–25 Hz atau 120–90–75 rpm, &#13;
dan komposisi A3 (50% limbah tanaman jagung : 50% serbuk kayu sengon). Hasil &#13;
uji parameter biopelet meliputi nilai kalor 16,7–17,8 MJ/kg, kepadatan 0,89–1,28 &#13;
g/cm³, laju pembakaran 0,98–2,37 kg/jam, konsumsi energi listrik spesifik 1,98&#13;
4,39 kWh/kg, ketahanan 96,54–99,74%, serta kadar abu 0,20–0,30%. Penelitian ini &#13;
menyimpulkan bahwa pengaturan kadar air, kecepatan putaran die bertahap, dan &#13;
komposisi bahan yang tepat mampu meningkatkan performa pelletizer dan mutu &#13;
biopelet serta diperlukan penelitian lanjutan pada skala produksi dan analisis &#13;
ekonomi.; KARINA RAHMADANI. Analysis of Biopellet Production Process Methods &#13;
Using Corn Stover and Sengon Wood Sawdust. Supervised by DYAH &#13;
WULANDANI and LEOPOLD OSCAR NELWAN. &#13;
The continuously increasing demand for energy encourages the utilization of &#13;
biomass as a renewable energy source through the conversion of agricultural and &#13;
forestry residues into biopellets. Corn stover is abundantly available with high &#13;
moisture content and relatively low calorific value, while sengon wood sawdust has &#13;
better energy characteristics and potential as a blending material to improve &#13;
biopellet quality. This study aimed to analyze the production process method &#13;
through the combination of blended material moisture content, die rotational speed, &#13;
and material composition on pelletizer performance and biopellet quality. &#13;
The research method began with preliminary experiments to determine &#13;
suitable operating conditions for the pellet machine. The moisture content of the &#13;
blended material ranged from 37.00–40.8% on a wet basis, die rotational speed was &#13;
applied stepwise within the range of 25–50 Hz for each feeding cycle, and five &#13;
material composition combinations (A1–A5) were used with a total mass of 1.5 kg &#13;
per treatment. The main experiments included evaluation of pelletizer performance &#13;
and biopellet quality based on physical, proximate, calorific value, production &#13;
capacity, and specific electrical energy consumption parameters. Statistical analysis &#13;
was conducted using one-way analysis of variance (ANOVA) followed by Tukey’s &#13;
test to evaluate the effects of process methods on biopellet density and durability. &#13;
The results showed that the production process method influenced pelletizer &#13;
performance and the physical characteristics of biopellets. Moisture content &#13;
contributed to flow stability and control of machine load fluctuations. Die rotational &#13;
speed affected compaction pressure and internal friction temperature. Material &#13;
composition determined bonding ability and structural integrity of the biopellets. &#13;
Statistical analysis of physical parameters indicated that treatment P4 produced the &#13;
most consistent pelletizer performance based on density and mechanical durability, &#13;
with process conditions of 40.85% moisture content, die rotational speed of 45–35&#13;
30 Hz, and composition A4 (70% corn stover : 30% sengon wood sawdust). &#13;
The optimal production process method was determined through an integrated &#13;
evaluation of pelletizer performance and biopellet quality using a weighted scoring &#13;
method based on six parameters. Treatment P3 achieved the highest score of 4.90, &#13;
with process conditions of 39.86% moisture content, die rotational speed of 40–30&#13;
25 Hz or 120–90–75 rpm, and composition A3 (50% corn stover : 50% sengon &#13;
wood sawdust). The resulting biopellet parameters included calorific value of 16.7&#13;
17.8 MJ kg?¹, density of 0.89–1.28 g cm?³, combustion rate of 0.98–2.37 kg h?¹, &#13;
specific electrical energy consumption of 1.98–4.39 kWh kg?¹, durability of 96.54&#13;
99.74%, and ash content of 0.20–0.30%. This study concludes that appropriate &#13;
control of moisture content, stepwise die rotational speed, and material composition &#13;
improves pelletizer performance and biopellet quality, and further studies at the &#13;
production scale and economic analysis are required.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173537">
<title>Analisis Potensi Energi Biodiesel dan Biomassa dari Empat Varietas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagai Sumber Energi Terbarukan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173537</link>
<description>Analisis Potensi Energi Biodiesel dan Biomassa dari Empat Varietas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagai Sumber Energi Terbarukan
Usman, Ali
Meningkatnya kebutuhan energi mendorong pengembangan sumber energi terbarukan berbasis potensi lokal, khususnya di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai sumber energi melalui pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) dan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS), namun pemanfaatannya belum optimal dan belum mempertimbangkan perbedaan karakteristik antar varietas serta keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik kimia mesokarp dan TKKS dari empat varietas kelapa sawit (Sain, Lonsum, Marihat, dan Dampi), mengidentifikasi potensi energi masing-masing varietas, serta mengkaji integrasi energi biodiesel dan biomassa disertai analisis trade-off energi dan pangan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan empat taraf varietas dan tiga ulangan, sehingga diperoleh 24 sampel (12 mesokarp dan 12 TKKS). Analisis dilakukan secara kuantitatif melalui ANOVA, korelasi, analisis multivariat, serta pendekatan skenario dengan indikator Food Energy Index (FEI), Food Security Ratio (FSR), dan optimasi menggunakan metode TOPSIS.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Lonsum dan Sain memiliki kadar minyak tertinggi sehingga lebih potensial sebagai bahan baku biodiesel, sedangkan varietas Dampi dan Marihat memiliki potensi biomassa yang lebih baik berdasarkan kandungan lignoselulosa. Kandungan lignin yang tinggi pada TKKS menunjukkan bahwa biomassa lebih sesuai dimanfaatkan melalui jalur termokimia dibandingkan biokimia. Integrasi energi biodiesel dan biomassa menghasilkan total energi sistem sebesar ±12,69 juta GJ per tahun, yang jauh melebihi kebutuhan energi wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (±450 ribu GJ/tahun), sehingga secara teoritis mampu memenuhi lebih dari 28 kali kebutuhan energi wilayah.&#13;
Analisis trade-off menunjukkan bahwa peningkatan alokasi CPO untuk energi akan meningkatkan potensi energi, namun menurunkan ketersediaan untuk pangan. Hasil optimasi menunjukkan bahwa alokasi CPO pada kisaran 20–25% merupakan kondisi yang relatif optimal dalam menjaga keseimbangan antara energi dan pangan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan kelapa sawit secara terintegrasi, berbasis karakteristik varietas, dan didukung analisis kuantitatif trade-off dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pengembangan energi terbarukan yang berkelanjutan di wilayah penyangga IKN.; The increasing demand for energy has encouraged the development of renewable energy based on local resources, particularly in the buffer area of Indonesia’s new capital (IKN). Oil palm has significant potential as an energy source through the utilization of Crude Palm Oil (CPO) and empty fruit bunch (EFB) biomass. However, its utilization remains suboptimal and has not fully considered varietal characteristics and the balance between energy and food demands.&#13;
This study aims to analyze the chemical characteristics of mesocarp and EFB from four oil palm varieties (Sain, Lonsum, Marihat, and Dampi), identify their respective energy potentials, and evaluate the integration of biodiesel and biomass energy, including the trade-off between energy and food. The research employed a Completely Randomized Design (CRD) with one factor (variety) and three replications, resulting in 24 samples (12 mesocarp and 12 EFB). Data were analyzed using quantitative and statistical approaches, including ANOVA, correlation analysis, multivariate analysis, and scenario-based analysis using the Food Energy Index (FEI), Food Security Ratio (FSR), and TOPSIS method for optimization.&#13;
The results show that Lonsum and Sain varieties have the highest Oil Content, making them more suitable as biodiesel feedstock, while Dampi and Marihat demonstrate better biomass potential based on their lignocellulosic composition. The high lignin content in EFB indicates that it is more suitable for thermochemical conversion processes rather than biochemical pathways. The integration of biodiesel and biomass energy results in a total system energy potential of approximately ±12.69 million GJ per year, which significantly exceeds the regional energy demand of Penajam Paser Utara (±450 thousand GJ/year), indicating its strong potential to support regional energy security.&#13;
The trade-off analysis reveals that increasing the allocation of CPO for energy enhances energy potential but reduces food availability. The optimization results suggest that an allocation of 20–25% of CPO for energy represents a relatively optimal balance between energy and food needs. Overall, this study demonstrates that integrated oil palm-based energy utilization, supported by varietal characteristics and quantitative trade-off analysis, can serve as a strategic foundation for sustainable renewable energy development in the IKN buffer region.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173448">
<title>STRATEGI PENGEMBANGAN IKM AGROINDUSTRI  BERKELANJUTAN DI JAKARTA UTARA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173448</link>
<description>STRATEGI PENGEMBANGAN IKM AGROINDUSTRI  BERKELANJUTAN DI JAKARTA UTARA
NAJMI, DZILALIN
Industri Kecil dan Menengah (IKM) agroindustri berperan penting untuk &#13;
perekonomian nasional melalui penyerapan tenaga kerja (sekitar 65%) yang &#13;
secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan PDB. Provinsi dengan PDRB &#13;
tertinggi di Indonesia yaitu DKI Jakarta, memiliki 70,02% IKM bermasalah. &#13;
Sektor IKM dengan permasalahan tertinggi adalah IKM agroindustri. Permasalahan &#13;
yang dihadapi antara lain keterbatasan permodalan, kesulitan akses pasar, &#13;
penerapan standar produksi yang belum optimal, serta minimnya adopsi &#13;
teknologi. Pemerintah Jakarta Utara melalui SUDIN PPKUKM berusaha &#13;
menyelesaikan permasalahan tersebut dengan menyelenggarakan program &#13;
pengembangan, akan tetapi program pengembangan yang diselenggarakan &#13;
terfokus pada aspek ekonomi dan sosial, sementara aspek lingkungan dan &#13;
teknologi cenderung diabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan &#13;
strategi pengembangan IKM agroindustri yang berkelanjutan di Jakarta Utara &#13;
melalui pendekatan empat dimensi keberlanjutan, yaitu ekonomi, sosial, &#13;
lingkungan, dan teknologi. &#13;
Perumusan strategi pengembangan dalam penelitian ini dicapai melalui &#13;
empat tahapan penelitian. Tahap pertama yaitu identifikasi kondisi eksisting. &#13;
Tahap ini dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara dengan pelaku IKM &#13;
agroindustri otak-otak, staf pemerintah daerah, dan pakar akademisi, serta &#13;
pemetaan aliran proses produksi dengan menggunakan Value Stream Mapping &#13;
(VSM). Tahap kedua yaitu pembobotan indikator prioritas, Tahap ini &#13;
menggunakan pendekatan metode Bayesian Best–Worst Method (Bayesian- &#13;
BWM) untuk menghitung bobot relatif setiap indikator keberlanjutan berdasarkan &#13;
penilaian kelompok pakar. Tahap ketiga yaitu penyusunan alternatif strategi &#13;
pengembangan. Penyusunan alternatif strategi dilakukan dengan bantuan Matriks &#13;
Eisenhower. Matriks tersebut mengkategorikan setiap alternatif strategi &#13;
berdasarkan tingkat kepentingan dan tingkat urgensi. Tahap keempat yaitu &#13;
penentuan strategi prioritas. Strategi prioritas ditentukan berdasarkan hasil &#13;
analisis hirarki dan keterkaitan tiap strategi dengan menggunakan Interpretive &#13;
Structural Modeling (ISM) dan kombinasi analisis MICMAC. Konsep Triple &#13;
Bottom Line (TBL) digunakan sebagai dasar penyusunan indikator keberlanjutan &#13;
tahap awal yang kemudian diperluas dengan penambahan dimensi teknologi. &#13;
Implementasi setiap tahapan penelitian diharapkan mampu menghasilkan rumusan &#13;
strategi pengembangan IKM agroindustri yang komprehensif, hierarkis, dan dapat &#13;
diimplementasikan secara nyata dan berkelanjutan. &#13;
Hasil analisis kondisi eksisting menunjukkan bahwa IKM agroindustri di &#13;
Jakarta Utara berada pada level perkembangan dasar. Hal ini dibuktikan dengan &#13;
sebagian besar pelaku IKM didominasi oleh perempuan tamatan SD. Aktvitias &#13;
produksi cenderung dilakukan secara mandiri tanpa bantuan karyawan dengan &#13;
omset bulanan yang relatif rendah Rp1–3 juta. Hasil analisis kinerja dengan VSM &#13;
diperoleh nilai Value Added Ratio (VAR) sebesar 11,49%, dengan pemborosan &#13;
utama berupa penumpukan produk setengah jadi dengan lead time 3 hari. Margin &#13;
keuntungan usaha sebesar 21,57% atau Rp3.710.000 per bulan. Profil dan &#13;
karakteristik IKM tersebut menggambarkan bahwa IKM Otak-Otak memiliki &#13;
keterbatasan kemampuan operasional dalam menjalankan praktik bisnisnya. &#13;
Prioritas kriteria IKM berkelanjutan didapatkan melalui perhitungan nilai &#13;
bobot terhadap 10 kriteria dan 40 subkriteria. Hasil perhitungan dengan B-BWM &#13;
dengan bantuan software MATLAB menunjukkan bahwa kriteria dengan bobot &#13;
tertinggi yaitu kinerja operasional dan kelembagaan (KE3, 0,1304), higiene dan &#13;
sanitasi produksi (KL1, 0,1271), kompetensi SDM (KS1, 0,1135), dan dukungan &#13;
pemerintah (KS3, 0,1133). Pada level sub kriteria, tiga subkriteria dengan bobot &#13;
tertinggi adalah penerapan standar CPPOB dan Halal (KL24, 0,4634), perawatan &#13;
higienitas peralatan produksi (KL13, 0,3908), serta penggunaan sistem pemasaran &#13;
dan pembayaran digital (KT12, 0,3756). &#13;
Perumusan alternatif strategi dengan Matriks Eisenhower menghasilkan &#13;
tujuh alternatif strategi. Hasil analisis ISM-MICMAC menetapkan strategi &#13;
Penguatan Kapasitas Tenaga Pendamping IKM (A2) sebagai strategi penggerak &#13;
utama (key driver) pada kuadran independent. Strategi A2 berperan sebagai faktor &#13;
kunci dan memiliki daya dorong tertinggi terhadap seluruh strategi lainnya. &#13;
Sedangkan, strategi Penguatan Kelayakan Usaha dan Standarisasi Mutu Produksi &#13;
(A1), Penguatan Ekosistem Digital dan Kelembagaan (A3), dan Peningkatan &#13;
Kapasitas SDM (A5) berada pada kuadran keterkaitan. Implementasi ketiga &#13;
strategi tersebut perlu dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Strategi &#13;
Integrasi Teknologi (A7) dan Pengelolaan Lingkungan Produksi Terpadu (A6) &#13;
berada pada level atas dan berperan sebagai hasil dari penerapan strategi &#13;
sebelumnya sehingga keberhasilan implementasinya bergantung pada &#13;
keberhasilan strategi sebelumnya. Seluruh rangkaian strategi bermuara pada &#13;
strategi Pengembangan Produk Unggulan Berbasis Inovasi dan Kolaborasi Pasar &#13;
(A4) sebagai tujuan strategis jangka panjang. &#13;
Hasil dari hierarki tersebut dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan &#13;
implikasi kebijakan. Implikasi kebijakan yang dapat diberikan kepada pemerintah &#13;
Jakarta Utara berdasarkan hasil penelitian yaitu optimalisasi pengembangan IKM &#13;
berkelanjutan di Jakarta Utara dapat dimulai dengan pembangunan inkubator &#13;
bisnis terintegrasi. Pembangunan proyek fisik inkubator bisnis tersebut dijadikan &#13;
sebagai titik awal pengembangan, yakni digunakan sebagai tempat berkumpulnya &#13;
seluruh aktor pengembangan IKM dan tempat penyelenggaraan setiap program &#13;
pengembangan SUDIN PPKUKM. Sehingga nantinya seluruh program &#13;
pengembangan IKM berkelanjutan di Jakarta Utara dapat terintegrasi dalam &#13;
inkubator bisnis tersebut. Realisasi kebijakan tersebut akan membantu penerapan &#13;
kebijakan selanjutnya diantaranya kebijakan untuk peningkatan fasilitas sertifikasi &#13;
Halal dan BPOM, pengembangan literasi digital pelaku usaha, hingga penyediaan &#13;
fasilitas pengelolaan limbah dan fasilitasi akses pasar yang lebih luas.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173342">
<title>Kinerja Teknologi Fertigator Otomatis Nirdaya (FONi)  pada Berbagai Rezim Irigasi dan Media Tanam</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173342</link>
<description>Kinerja Teknologi Fertigator Otomatis Nirdaya (FONi)  pada Berbagai Rezim Irigasi dan Media Tanam
Permatasari, Ide
Konversi lahan sawah padi menjadi lahan non pertanian seperti kawasan pemukiman, infrastruktur, dan industri tidak dapat terhindarkan. Luas panen padi pada tahun 2024 menurun sebanyak 1,33 juta ha sejak tahun 2018 (BPS 2025). Pertanian perkotaan berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap padi sawah dan menciptakan kemandirian pangan. Kegiatan pertanian perkotaan memerlukan teknologi irigasi yang praktis dan efisien karena akses sumber air terbatas. Fertigator Otomatis Nirdaya (FONi) merupakan teknologi irigasi terbaru yang hemat air, hemat energi, dan mudah diaplikasikan pada pertanian skala kecil. Teknologi ini diterapkan dengan mempertimbangkan titik optimal tanaman agar target produksi tercapai. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja teknologi FONi pada kondisi pertumbuhan optimal tanaman padi.&#13;
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan petak terbagi. Rezim irigasi diterapkan sebagai plot utama yang terdiri dari irigasi tergenang (IT), irigasi basah (IB), dan irigasi kering (IK). Rezim IT diatur 2 cm di atas permukaan tanah lalu diturunkan hingga sama dengan permukaan tanah pada 80 HST hingga akhir masa tanam. Rezim irigasi basah (IB) diatur dengan ketinggian 1 cm hingga -3 cm di bawah permukaan tanah sedangkan muka air rezim irigasi kering (IK) ditetapkan dengan ketinggian 1 cm sampai -5 cm. Media tanam sebagai subplot terdiri dari enam perlakuan kombinasi arang sekam dan pupuk kandang kambing. Kombinasi perlakuan media tanam antara lain M1P0 (tanah), M1P1(tanah+10% pupuk kandang), M2P0 (tanah+1% arang sekam), M2P1(tanah+1% arang sekam+10% pupuk kandang), M3P0(tanah+2% arang sekam), dan M3P1(tanah+2% arang sekam+10% pupuk kandang). Kinerja FONi diuji melalui pengukuran tinggi muka air pot harian selama masa tanam. Neraca air dianalisis untuk mengetahui kebutuhan air pada setiap rezim irigasi.&#13;
Hasil ANOVA menunjukkan bahwa rezim irigasi memberikan pengaruh signifikan terhadap jumlah malai sedangkan pupuk kandang berpengaruh signifikan terhadap bobot gabah dan jumlah malai (p&lt;0,01). Arang sekam tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan padi. Terdapat interaksi antara irigasi dan pupuk kandang terhadap bobot gabah kering (p&lt;0,01). Interaksi signifikan juga ditemukan pada kombinasi arang sekam dan pupuk kandang terhadap bobot gabah dan jumlah malai (p&lt;0,05). Produktivitas padi tertinggi dicapai pada rezim IT dengan 0,40 kg/m2. Perlakuan IB menghasilkan produktivitas 0,38 kg/m2 dan IK memproduksi 0,37 kg/m2. Media tanam dengan penambahan pupuk kandang memberikan produksi tertinggi di antara semua perlakuan media tanam. Produktivitas M2P1, M3P1, dan M1P1 berturut-turut yaitu 0,55, 0,47, dan 0,45 kg/m2. Efisiensi penggunaan air tertinggi dicapai perlakuan IK sebesar 6,31 kg/m3. Perlakuan IK juga menghasilkan nilai RMSE terkecil dengan 1,5 mm. Kondisi optimal tanaman padi dengan FONi dicapai perlakuan M2P1. Pipa drainase pada FONi perlu dirancang ulang agar lebih adaptif dan tertata.; The conversion of rice fields to non-agricultural areas such as residential areas, infrastructure, and industrial areas is inevitable. The rice harvested area in 2024 had decreased by 1.33 million hectares since 2018 (BPS 2025). Urban farming potentially reduce dependence on rice fields and create food self-sufficiency. Urban farming activities require practical and efficient irrigation technology due to limited access to water sources. An Unpowered Automatic Fertigation (FONi) is the latest irrigation technology that need less water, energy-efficient, and easy to apply to small-scale farming. This technology is implemented by considering the optimal crop growth point to achieve production targets. Therefore, this study aims to evaluate the performance of FONi technology under optimal rice growth conditions.&#13;
A split-plot design was used for this research. The irrigation regime applied to the main plot consisted of continuous flooding (IT), wet irrigation (IB), dry irrigation (IK) regime. IT regime was set at 2 cm above the soil surface and then lowered to the same level as the soil surface at 80 days after transplanting until the end of the planting season. While the wet irrigation regime (IB) was set at a height of 1 cm to -3 cm below the soil surface, the dry irrigation regime (IK) water level was set at a height of 1 cm to -5 cm. There were six combinations of growing media with rice husk charcoal and manure added. The growing media combinations were M1P0 (soil), M1P1 (soil + 10% manure), M2P0 (soil + 1% rice husk charcoal), M2P1 (soil + 1% rice husk charcoal + 10% manure), M3P0 (soil + 2% rice husk charcoal), and M3P1 (soil + 1% rice husk charcoal + 10% manure). Performance of FONi was evaluated through measurement water level of pots over the planting period. Water balance was analyzed to determine water demand for each irrigation regime.&#13;
ANOVA results showed that the irrigation regime significantly affected panicle number, while manure significantly affected grain weight and panicle number (p&lt;0.01). Rice husk charcoal had no significant effect on rice growth. There was an interaction between irrigation and manure on dry grain weight (p&lt;0.01). A significant interaction was also found in the combination of rice husk charcoal and manure on grain and panicle weight (p&lt;0.05). The highest rice productivity was achieved in the IT regime with 0.40 kg/m2. Meanwhile, IK resulted the lowest grain yield with 0.37 kg/m2. At harvest, the IB treatment produced 0.38 kg/m2 of grain. The growing media with the addition of compost provided the highest production among all growing media treatments. M2P1, M3P1, and M1P1 produced 0.55, 0.47, and 0.45 kg/m2, respectively. The highest water use efficiency (WUE) was achieved by the IK treatment of 6.31 kg/m3. RMSE value of IK treatment was also the smallest with 1.5 mm. Optimal conditions for rice plants with FONi were achieved by the M2P1 media. The design of drainage pipes in FONi needs to be developed to be more adaptive and organized.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
