<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76">
<title>MF - Agriculture Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178235"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178175"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178055"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178067"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-12T06:24:29Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178235">
<title>Profil dan Evaluasi Implementasi Persyaratan Pangan Steril Komersial pada Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178235</link>
<description>Profil dan Evaluasi Implementasi Persyaratan Pangan Steril Komersial pada Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia
Khodijah, Ikeu Siti
Pangan steril komersial merupakan pangan olahan berasam rendah yang dikemas secara hermetis dan telah mengalami proses sterilisasi komersial sehingga&#13;
aman disimpan pada suhu ruang. Produk ini memiliki risiko keamanan pangan yang tinggi apabila proses sterilisasi tidak dilakukan secara memadai karena berpotensi mendukung pertumbuhan mikroorganisme patogen, terutama Clostridium botulinum. Meskipun telah diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 27 Tahun 2021, informasi mengenai profil pangan steril komersial di Indonesia, khususnya yang diproduksi oleh usaha mikro dan kecil (UMK), serta implementasi persyaratan pangan steril komersial dan tingkat pemahaman pelaku usaha terhadap regulasi tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profil pangan steril komersial yang terdaftar di BPOM, mengidentifikasi profil produk yang diproduksi oleh UMK, mengevaluasi implementasi persyaratan pangan steril komersial, serta menganalisis tingkat pemahaman pelaku usaha terhadap persyaratan yang berlaku.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder dan data primer. Data sekunder berupa database registrasi pangan olahan BPOM yang digunakan untuk mengidentifikasi 5.004 produk pangan steril komersial. Identifikasi skala usaha menghasilkan 291 produk yang diproduksi oleh 54 UMK. Evaluasi implementasi persyaratan dilakukan terhadap 110 produk melalui wawancara terstruktur, sedangkan tingkat pemahaman pelaku usaha diukur menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 41 responden dari 14 UMK.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangan steril komersial terdaftar di BPOM didominasi oleh produk kategori minuman bukan susu. Sebaran pabrik&#13;
terkonsentrasi di Provinsi Jawa Timur. Dari sisi kemasan, produk nasional didominasi oleh karton laminat dan kaleng. Profil pangan steril komersial yang&#13;
diproduksi UMK menunjukkan karakteristik yang berbeda, yaitu didominasi oleh kategori daging dan produk daging, dengan sebaran pabrik terbesar di Provinsi DI Yogyakarta. Evaluasi implementasi persyaratan pada produk yang memiliki data pengujian menunjukkan nilai pH rata-rata 5,42 dan aw rata-rata 0,94, sehingga memenuhi karakteristik pangan olahan berasam rendah yang dikemas secara hermetis dan wajib menerapkan sterilisasi komersial. Seluruh produk menggunakan proses sterilisasi termal (100%), dengan nilai F0 berkisar antara 4,05–26,14 menit, serta 106 produk (96,4%) telah memiliki validasi kecukupan panas. Produk memiliki masa simpan 3–24 bulan dengan rata-rata 14,35 bulan. Pengukuran tingkat pemahaman terhadap 41 pelaku usaha menunjukkan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 79,01%, dengan capaian tertinggi pada aspek titik kritis keamanan pangan (82,11%) serta proses dan validasi proses (81,46%), sedangkan aspek jenis dan klasifikasi pangan (75,61%) serta pengemasan dan jaminan mutu (76,83%) masih memiliki tingkat pemahaman yang relatif lebih rendah.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178175">
<title>Rancangan Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Waktu Tanam Cabai Rawit Berbasis Prediksi Harga dan Spasial di Lombok Timur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178175</link>
<description>Rancangan Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Waktu Tanam Cabai Rawit Berbasis Prediksi Harga dan Spasial di Lombok Timur
Aeni, Wardatul
Cabai rawit merupakan komoditas hortikultura strategis dengan fluktuasi harga signifikan; di Kabupaten Lombok Timur harga dapat bergerak antara Rp10.000 hingga lebih dari Rp130.000 per kilogram dalam satu periode tahunan. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian bagi petani dalam menentukan waktu tanam, terlebih karena sistem informasi harga yang ada belum dimanfaatkan optimal dan petani masih mengandalkan pengumpul serta kebiasaan berulang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksisting sistem informasi harga cabai rawit serta merancang sistem pendukung keputusan berbasis prediksi harga dan spasial untuk rekomendasi waktu tanam. Penelitian dilaksanakan Juli–Desember 2025 menggunakan data primer (wawancara 20 petani dan Dinas Ketahanan Pangan) dan data sekunder harga mingguan dari empat pasar (Pancor, Aikmel, Paok Motong, Sakra) periode 2021–2024. Model prediksi dikembangkan menggunakan Random Forest dengan 41 fitur prediktor, pembagian data kronologis 80:20, dan pendekatan rolling forecast untuk prediksi 12 minggu ke depan, yang diintegrasikan ke QGIS untuk visualisasi spasial. Model menunjukkan kinerja baik (R² 0,859–0,931; error Rp2.657–Rp4.206/kg), dengan fitur momentum dan lag lebih dominan dibanding fitur musiman. Prediksi harga mencapai puncak pada minggu ke-6, tertinggi di Pasar Paok Motong (Rp76.513/kg). Dihasilkan dua rekomendasi waktu tanam: November–Desember (panen Februari–Maret) dan Maret–April (panen Juni–Juli), diintegrasikan dalam sistem pendukung keputusan berbasis dashboard, prediksi harga, peta spasial, dan rekomendasi tanam.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178055">
<title>EVALUASI KEPATUHAN REGISTRASI DAN LABEL HALAL PADA PRODUK PANGAN BEKU: STUDI KASUS DI PASAR TRADISIONAL BOGOR</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178055</link>
<description>EVALUASI KEPATUHAN REGISTRASI DAN LABEL HALAL PADA PRODUK PANGAN BEKU: STUDI KASUS DI PASAR TRADISIONAL BOGOR
hadijah, Wenni
Transformasi gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat telah memunculkan berbagai inovasi pangan, termasuk pangan beku, khususnya produk olahan daging sapi atau daging unggas seperti bakso, nuget, dan sosis. Produk ini menawarkan kepraktisan dan rasa khas yang diminati oleh berbagai kalangan. Namun, keberadaan produk pangan ini memerlukan perhatian terhadap aspek halal dan segi keamanan pangan sebagai wujud kepatuhan terhadap syariat Islam dan jaminan keamanan pangan. &#13;
Jaminan keamanan pangan pada produk pangan beku yang memiliki masa simpan di atas 7 hari diwajibkan memiliki izin edar produk yang dikeluarkan oleh BPOM RI karena dikategorikan sebagai pangan berisiko tinggi (high-risk food). Produk olahan beku memerlukan kontrol ketat karena sangat rentan terhadap kerusakan, kontaminasi mikroba dan penurunan kualitas jika tidak ditangani dengan benar. BPOM memastikan prosedur cold chain (penyimpanan dan distribusi beku) dipertahankan pada suhu -18°C untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Kewajiban produk pangan yang beredar di Indonesia untuk memiliki izin edar diatur dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012.  &#13;
Kewajiban sertifikasi halal, sebagaimana diatur dalam UU No. 33 Tahun 2014, menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa produk pangan memenuhi standar halal dan tayyib. Kewajiban sertifikasi halal terutama untuk produk daging sangat kritis kehalalannya, dikarenakan daging yang digunakan harus terjamin proses penyembelihan dan pengolahannya sudah sesuai dengan ketentuan syariat agama Islam agar bahan baku daging tidak kehilangan status halal. Selain itu, pencantuman logo dan nomor registrasi halal serta nomor izin edar produk pada kemasan menjadi langkah penting dalam memberikan kepercayaan kepada konsumen yang mayoritas beragama Islam (87,08%) di Indonesia, sehingga regulasi ini menjadi urgensi untuk mencegah praktik pemalsuan. &#13;
Konsumen diharapkan semakin bijak dalam memeriksa keabsahan label halal, sementara pelaku usaha dituntut untuk mematuhi regulasi yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis frozen food yang telah memenuhi registrasi halal dan BPOM serta mengevaluasi kepatuhan produk yang beredar di pasar terhadap regulasi tersebut.&#13;
Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang diperoleh dari pendataan produk yang terdapat di pasar tradisional Bogor dan database BPOM dan BPJPH. Pasar yang dijadikan target dipilih menggunakan metode simple random sampling dengan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Pendataan untuk pedagang dan produk yang ada di pasar menggunakan metode total sampling. Data produk yang dihasilkan dari pasar tradisional dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil dari analisis deskriptif diuji dengan menggunakan metode uji Chi-Square untuk membuat kesimpulan mengenai hubungan antarvariabel pada populasi yang besar.&#13;
Hasil penelitian pendataan produk yang sudah teregistrasi BPOM dan yang sudah teregistrasi BPJPH menunjukkan perbedaan jumlah yang signifikan. Produk yang terdaftar di BPOM jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang sudah terdaftar di BPJPH. Hal tersebut terjadi karena setiap frozen food wajib memiliki izin edar yang sudah berlaku semenjak tahun 2012, berbeda dengan aturan kewajiban halal yang sampai saat ini masih bertransisi dari tidak wajib menjadi wajib. Selain faktor tersebut, faktor lainnya terjadi karena produk yang terdaftar pada BPOM tidak semuanya halal, seperti produk yang terbuat dari daging babi yang dikenakan kewajiban izin edar BPOM, tetapi tidak dikenakan kewajiban halal.&#13;
Survei produk dilakukan di pasar tradisional Bogor, dengan jumlah pasar yang dijadikan tempat survei adalah 32 pasar aktif. Tingkat kepatuhan pencantuman nomor izin edar BPOM dan logo halal pada produk frozen food yang paling rendah di pasar tradisional Kota dan Kabupaten Bogor adalah produk bakso. Tingkat kepatuhan paling tinggi terhadap aturan registrasi pencantuman nomor edar BPOM RI dan logo halal pada kemasan diantara ketiga produk yang dijadikan target sampel adalah produk sosis. Temuan ini diperkuat oleh hasil uji chi-square yang membuktikan bahwa perbedaan tingkat kepatuhan bukan kebetulan, melainkan adanya kemungkinan penyebab lain. Banyaknya frozen food yang sudah teregistrasi BPOM dan BPJPH bukan berarti semua produk yang terdapat di pasaran sudah mengikuti regulasi wajib tersebut. Hal ini kemungkinan dikarenakan kurangnya pemahaman pelaku usaha terhadap pemenuhan sistem regulasi yang berlaku ataupun pelaku usaha yang memang tidak mau mengikuti sistem regulasi yang berlaku.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178067">
<title>Studi Eksperimental Stabilisasi Pasir Menggunakan Fly Ash: Korelasi Peningkatan Kuat Geser, Mikrostruktural, dan Sifat Ultrasonic</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178067</link>
<description>Studi Eksperimental Stabilisasi Pasir Menggunakan Fly Ash: Korelasi Peningkatan Kuat Geser, Mikrostruktural, dan Sifat Ultrasonic
Wangsawitana, Yunan Yakuta
Tanah pasir merupakan jenis tanah yang rentan terhadap permasalahan geoteknik seperti likuefaksi, erosi, dan kelongsoran akibat rendahnya kohesi dan kuat gesernya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi kadar fly ash tipe C, kepadatan relatif (DR), dan derajat kejenuhan (SR) terhadap kuat geser tanah pasir, mengkaji perubahan morfologi dan mineralogi, serta menentukan korelasi kuat geser tanah pasir berdasarkan kontribusi kadar fly ash, kepadatan relatif, derajat kejenuhan. Penelitian menggunakan pasir dan fly ash tipe C dengan variasi kadar fly ash (5%, 10%, 15%), kepadatan relatif (50%, 70, 90%), serta derajat kejenuhan (0%, 30%, 100%). Seluruh sampel mengalami curing selama 7 hari pada 3 tingkat derajat kejenuhan sebelum dilakukan pengujian Unconfined Compressive Strength (UCS), Ultrasonic Pulse Velocity (UPV), Scanning Electron Microscopy (SEM), dan X-Ray Diffraction (XRD). &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai UCS meningkat seiring bertambahnya kadar fly ash dan kepadatan relatif, serta berkurangnya derajat kejenuhan. Nilai UCS tertinggi sebesar 141,42 kPa dicapai pada kadar fly ash 15%, DR 90%, dan SR 0%. Peningkatan kekuatan paling signifikan terjadi pada penambahan fly ash 10-15% serta peningkatan kepadatan relatif 50-70%. Analisis SEM-XRD mengonfirmasi terbentuknya produk pozzolanik berupa calcium silicate hydrate (C-S-H) sebesar 19,30% yang berperan sebagai pengikat antarpartikel pasir. UCS dan UPV berkorelasi sangat kuat dengan y = 2,05 x + 670,46 dengan R² sebesar 0,98 sehingga berpotensi sebagai metode evaluasi non-destruktif kekuatan tanah. Persamaan regresi linear berganda terbaik yang diperoleh adalah UCS = 4,52 (FA) – 0,51 (SR) + 0,33 (DR) dengan R² sebesar 0,88 yang dapat digunakan sebagai alat prediksi kekuatan tanah pasir terstabilisasi.; Sandy soil is highly susceptible to geotechnical problems, including liquefaction, erosion, and slope failure, due to its low cohesion and shear strength. This study aimed to investigate the effects of Class C fly ash content, relative density (DR), and degree of saturation (SR) on the shear strength of sandy soil, examine the corresponding changes in its morphology and mineralogical characteristics, and develop a predictive correlation for the shear strength of fly ash-stabilized sandy soil based on the contributions of fly ash content, relative density, and degree of saturation. The study employed sandy soil stabilized with Class C fly ash at dosages of 5%, 10%, and 15%, with relative densities of 50%, 70%, and 90%, and degrees of saturation of 0%, 30%, and 100%. All specimens were cured for seven days under the designated saturation conditions before being tested using the Unconfined Compressive Strength (UCS), Ultrasonic Pulse Velocity (UPV), Scanning Electron Microscopy (SEM), and X-Ray Diffraction (XRD) methods.&#13;
The results showed that the UCS increased with increasing fly ash content and relative density, while decreasing with increasing degree of saturation. The highest UCS value of 141.42 kPa was obtained at 15% fly ash, 90% relative density, and 0% degree of saturation. The most significant strength improvement occurred with fly ash contents ranging from 10% to 15% and an increase in relative density from 50% to 70%. SEM and XRD analyses confirmed the formation of the pozzolanic product calcium silicate hydrate (C-S-H), reaching 19.30%, which acted as a cementing agent between sand particles. A very strong correlation was observed between UCS and UPV, expressed by the equation y = 2.05x + 670.46 with an R² of 0.98, indicating the potential of UPV as a non-destructive technique for evaluating the strength of stabilized sandy soil. Furthermore, the best multiple linear regression equation obtained was UCS = 4.52(FA) - 0.51(SR) + 0.33(DR) with an R² of 0.88, demonstrating its applicability as a predictive model for estimating the strength of fly ash-stabilized sandy soil.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
