<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75">
<title>MF - Forestry</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179878"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179855"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179843"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179739"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-20T15:41:29Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179878">
<title>Pemanfaatan Terak Nikel sebagai Media Perbanyakan Fungi Mikoriza Arbuskula</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179878</link>
<description>Pemanfaatan Terak Nikel sebagai Media Perbanyakan Fungi Mikoriza Arbuskula
Huwaida, Hanifah
Peningkatan produksi nikel di Indonesia menghasilkan limbah terak nikel dalam jumlah besar. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 mengelompokkan terak nikel sebagai limbah non-B3. Karakteristik fisik terak nikel yang stabil, berpori makro, serta kaya kandungan silikon dan magnesium berpotensi dimanfaatkan sebagai media pembawa alternatif untuk perbanyakan inokulum fungi mikoriza arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terak nikel sebagai media perbanyakan FMA dibandingkan media standar, serta menguji kompatibilitas berbagai jenis tanaman inang dan spesies FMA pada media terak nikel.&#13;
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terbagi dalam dua tahap percobaan: (1) pengujian tiga media perbanyakan (zeolit, pasir, dan terak nikel) dengan empat spesies FMA (Glomus manihotis, Glomus etunicatum, Acaulospora tuberculata, dan Gigaspora margarita) pada inang sorgum; serta (2) pengujian media terak nikel pada empat spesies FMA dengan tiga jenis tanaman inang (Falcataria moluccana, Sorghum bicolor, dan Pueraria javanica). Parameter yang diamati meliputi persentase hidup tanaman, waktu perkecambahan spora, persentase kolonisasi akar, kepadatan spora, serta bobot kering tajuk dan akar.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit dan pasir menghasilkan persentase kolonisasi akar dan kepadatan spora yang lebih tinggi dibandingkan terak nikel, namun terak nikel terbukti mampu menopang kelangsungan hidup tanaman inang (73,33%) dan mendukung kolonisasi akar pada kategori tinggi (55,30%). Spesies Glomus manihotis menunjukkan waktu perkecambahan tercepat (5 hari setelah inokulasi), persentase kolonisasi tertinggi (75,91–77,81%), dan produksi spora terbanyak (75–89 spora per 20 g media) dibandingkan spesies lainnya. Ketiga jenis tanaman inang terbukti kompatibel dan mampu mempertahankan kelangsungan hidup yang tinggi (&gt;79%) pada media terak nikel, dengan sorgum menghasilkan akumulasi bobot kering tajuk tertinggi (3,38 g). Terak nikel layak digunakan sebagai media perbanyakan alternatif untuk memproduksi inokulum FMA dalam mendukung reklamasi lahan pascatambang.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179855">
<title>Pendugaan Parameter Genetik Pertumbuhan dan Kualitas Kayu Jabon Merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser).</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179855</link>
<description>Pendugaan Parameter Genetik Pertumbuhan dan Kualitas Kayu Jabon Merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser).
Qolbi, Ruhul Hazuma Satya
Jabon merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser) merupakan jenis&#13;
cepat tumbuh endemik Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan hutan&#13;
tanaman, namun benih unggul hasil pemuliaan belum tersedia. Uji keturunan&#13;
diperlukan untuk menduga parameter genetik pertumbuhan dan kualitas kayu&#13;
sebagai dasar seleksi famili unggul.&#13;
Penelitian ini bertujuan menduga parameter genetik pertumbuhan dan&#13;
kualitas kayu, destruktif maupun nondestruktif, serta menganalisis strategi seleksi&#13;
untuk konversi tegakan menjadi kebun benih semai. Uji keturunan di Kawasan&#13;
Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Parungpanjang yang dibangun tahun&#13;
2017 menggunakan rancangan acak lengkap berblok dengan 6 blok, 10 provenansi,&#13;
dan 72 famili. Parameter yang diukur meliputi diameter, tinggi, volume, penetrasi&#13;
Pilodyn, kadar air, kerapatan, berat jenis, kecepatan ultrasonik, dan MOEd. Data&#13;
dianalisis melalui analisis ragam, pendugaan komponen ragam, heritabilitas,&#13;
korelasi rerata famili dan fenotipe, serta kemajuan dan perolehan genetik.&#13;
Tegakan berumur delapan tahun dengan tingkat hidup 46%. Rata-rata&#13;
diameter 18,56 cm, tinggi 12,55 m, penetrasi Pilodyn 29,59 mm, kerapatan kayu&#13;
0,726 g cm-3, berat jenis 0,423, kadar air 72,2%, kecepatan ultrasonik 3.417 m s-1,&#13;
dan MOEd 8,521 GPa. Faktor blok berpengaruh sangat nyata pada hampir seluruh&#13;
karakter, sedangkan faktor famili di dalam provenansi hanya nyata pada kerapatan&#13;
kayu ketika diuji terhadap kuadrat tengah interaksi blok × famili. Meskipun asal&#13;
materi mencakup wilayah monsunal dan anti-monsunal, provenansi menyumbang&#13;
paling kecil terhadap ragam total (0,03–1,55%), sementara interaksi blok × famili&#13;
menyumbang 3,3–33,1%. Heritabilitas individu berkisar 0,044–0,313 dan&#13;
heritabilitas famili 0,090–0,390, tertinggi pada kerapatan kayu (0,313 dan 0,390);&#13;
nilai mutlak digunakan bagi komponen ragam famili yang bernilai negatif. Korelasi&#13;
rerata famili nyata dan positif antara kerapatan kayu dengan berat jenis (0,822) dan&#13;
MOEd (0,494), sedangkan diameter tidak berkorelasi nyata dengan MOEd (0,079)&#13;
maupun kecepatan ultrasonik (-0,019) sehingga tidak ditemukan pola pertukaran&#13;
sifat antara pertumbuhan dan kualitas mekanik kayu. Perolehan genetik seleksi&#13;
famili berkisar 0,59–11,22% pada intensitas 5% dan 0,40–7,61% pada intensitas&#13;
20%, dengan kerapatan kayu 3,69% dan 2,50%. Kerapatan kayu juga berkaitan&#13;
dengan ketahanan terhadap rayap dan keamanan hidraulik saat kekeringan sehingga&#13;
seleksi pada sifat ini memberi manfaat ganda. Seleksi famili berbasis kerapatan&#13;
kayu pada intensitas sekitar 20% direkomendasikan sebagai dasar konversi menjadi&#13;
kebun benih semai, dengan penetrasi Pilodyn sebagai penyaring awal.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179843">
<title>Evaluasi Kualitas Kayu Gergajian dari Tiga Wilayah di Kawasan Kabupaten Bogor untuk Keperluan Komponen Bangunan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179843</link>
<description>Evaluasi Kualitas Kayu Gergajian dari Tiga Wilayah di Kawasan Kabupaten Bogor untuk Keperluan Komponen Bangunan
Christiawan, Nikolaus Adven
Kayu masih menjadi material konstruksi yang penting karena bersifat terbarukan, ramah lingkungan, dan mudah diolah. Namun, pemanfaatannya di tingkat masyarakat menghadapi kendala berupa keterbatasan informasi mengenai kualitas dan kontinuitas pasokan kayu yang beredar di pasaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis kayu gergajian yang diperdagangkan di Kabupaten Bogor, mengevaluasi mutu fisik dan kekuatan kayu, serta mengkaji karakteristik perdagangan kayu pada toko bangunan. Penelitian dilakukan di Kecamatan Leuwiliang, Parung Panjang, dan Jonggol melalui survei terhadap 90 toko bangunan, wawancara, penilaian mutu visual, penentuan rasio kekuatan, pengujian menggunakan mesin pemilah kayu MPK-5 Panter®, pengujian destruktif dengan Universal Testing Machine, serta analisis statistik deskriptif dan regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasokan kayu terutama berasal dari supplier atau distributor, dengan jenis kayu yang paling banyak diperdagangkan adalah sengon, durian, dan meranti. Sortimen utama yang tersedia berupa papan, kaso, balok, dan reng. Evaluasi mutu fisik menunjukkan keberadaan cacat kayu berupa retak checks dan shakes, miring serat, mata kayu, serta cacat pengeringan seperti membusur dan mencawan. Meskipun demikian, sebagian besar sampel memiliki nilai rasio kekuatan tinggi sehingga masih layak digunakan sebagai komponen bangunan hunian, seperti rangka atap, kaso, reng, dan elemen struktural rumah tinggal. Pengujian sifat mekanis menunjukkan bahwa nilai modulus elastisitas meningkat seiring bertambahnya berat jenis kayu. Analisis hubungan antara hasil pengujian nondestruktif menggunakan MPK-5 Panter® dan pengujian statis menunjukkan korelasi yang kuat dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,7113. Temuan utama penelitian menunjukkan semakin dominannya kayu cepat tumbuh dari hutan rakyat dan sistem agroforestri sebagai sumber bahan baku konstruksi. Selain itu, penggunaan mesin pemilah kayu MPK-5 Panter® terbukti efektif untuk menduga kekuatan kayu secara cepat tanpa merusak sampel. Kualitas kayu yang beredar dipengaruhi oleh jenis kayu, cacat alami, proses pengolahan, dan pengeringan. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya pengembangan standar mutu yang lebih spesifik untuk kayu cepat tumbuh serta peningkatan penerapan teknologi pemilahan guna mendukung ketersediaan kayu konstruksi hunian yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan.; Wood remains an important construction material due to its renewable nature, environmental friendliness, and ease of processing. However, its utilization at the community level is constrained by limited information regarding the quality and continuity of timber supply available in the market. This study aimed to identify the species of sawn timber traded in Bogor Regency, evaluate their physical quality and strength properties, and examine the characteristics of timber trade in building material stores. The research was conducted in the districts of Leuwiliang, Parung Panjang, and Jonggol through surveys of 90 building material stores, interviews, visual quality assessments, determination of the strength ratio, testing using the MPK-5 Panter® timber grading machine, destructive testing with a Universal Testing Machine, and descriptive statistical and linear regression analyses. The results showed that timber supplies were primarily obtained from suppliers and distributors, with sengon (Falcataria moluccana), durian (Durio zibethinus), and meranti (Shorea spp.) being the most commonly traded species. The main timber products available in the market consisted of boards, battens, beams, and laths. Evaluation of physical quality revealed the presence of wood defects, including checks and shakes, slope of grain, knots, and drying defects such as bowing and cupping. Nevertheless, most samples exhibited high strength ratio values and were therefore suitable for use in residential construction components, including roof framing, battens, laths, and other structural elements in housing applications. Mechanical property testing demonstrated that the modulus of elasticity increased with increasing wood specific gravity. Analysis of the relationship between nondestructive testing results obtained from the MPK-5 Panter® and static testing results indicated a strong correlation, with a coefficient of determination (R²) value of 0.7113. The main findings of this study indicate the increasing dominance of fastgrowing timber species sourced from community forests and agroforestry systems as raw materials for construction purposes. Furthermore, the application of the MPK-5 Panter® for machine grading proved effective in rapidly estimating timber strength without damaging the specimens. The quality of timber circulating in the market was influenced by species characteristics, natural defects, processing methods, and drying practices. The findings highlight the need to develop more specific quality standards for fast-growing timber species and to expand the implementation of machine grading technologies to support the availability of safe, high-quality, and sustainable timber for residential construction.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179739">
<title>Laju Sekuestrasi Karbon pada Hutan Mangrove Restorasi Region Jawa Timur dan Sumatera Utara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179739</link>
<description>Laju Sekuestrasi Karbon pada Hutan Mangrove Restorasi Region Jawa Timur dan Sumatera Utara
Panjaitan, Grace Yanti Angelina
Mangrove forests are an integral component of blue carbon ecosystems and play an important role in climate change mitigation. Atmospheric carbon dioxide (CO2) is absorbed through photosynthesis and converted into carbohydrates, which are subsequently stored as biomass in leaves, stems, and roots. Carbon is also stored in sediments through the decomposition of dead plant materials and the deposition of organic matter transported by tidal processes, which is subsequently buried and preserved under anaerobic conditions.&#13;
Mangrove ecosystems face increasing challenges associated with changes in forest extent resulting from global climate change and anthropogenic disturbances. Mangrove restoration is therefore considered a nature-based solution that contributes to ecosystem recovery and the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs). This study was conducted in two regions: East Java, covering Mangrove forests in Mangunharjo Urban Village and Dringu Village, and North Sumatra, covering Lubuk Kertang Village and Tanjung Rejo Village.&#13;
The study had four objectives: (1) to analyze mangrove species composition and measure the physicochemical characteristics of soil and water; (2) to quantify carbon stocks and carbon sequestration rates; (3) to map actor influence, dependence, and mobilization toward restoration objectives; and (4) to estimate the economic value of carbon based on voluntary carbon market prices. Carbon stocks were quantified non-destructively in restored mangrove forests aged 8, 14, and 20 years. The 8-year-old stands were selected because the trees had developed secondary xylem, the 14-year-old stands represented an intermediate stage, and the 20-year-old stands represented the climax stage. Biomass was estimated using general allometric equations based on two parameters: tree diameter (D) and diameter-height (DT), under two conditions: (1) ideal intact conditions (Di; DTi), in which all trees within the subplots were assumed to be alive; and (2) actual conditions (Da; DTa), in which all trees were recorded according to their actual field conditions, including both living and dead trees.&#13;
The mangrove species composition in East Java was dominated by Rhizophora mucronata (Importance Value Index [IVI] 183.14%), followed by R. stylosa (49.57%). In North Sumatra, the mangrove community was dominated by R. apiculata (IVI 192.03%), followed by R. mucronata (61.58%). The physicochemical characteristics of the mangrove environment did not differ significantly, with soil pH ranging from 3.8–6.0; soil moisture from 5.4–7.7; soil temperature from 25.3–31.0 °C; conductivity from 3.5–4.0 mS cm?¹; water temperature from 26.3–32.6 °C; water TDS from 25.4–38.8; EC from 37.8–59.60 mS cm?¹; ORP from 86.0–167.4; salinity from 24.9–41.8 ppt; and soil bulk density from 0.81–1.03 g cm?³.&#13;
In East Java, the mean carbon stock at 8, 14, and 20 years of age estimated using the ideal diameter-based allometric equation (Di) was 42.33 ± 4.36, 70.97 ± 11.87, and 96.11 ± 17.70 Mg C ha?¹, respectively, whereas the actual condition (Da) yielded 41.79 ± 4.11, 69.08 ± 11.68, and 93.08 ± 17.03 Mg C ha?¹, respectively. Using the ideal diameter-height allometric equation (DTi), the corresponding values were 43.47 ± 5.74, 88.67 ± 12.92, and 116.13 ± 22.66 Mg C ha?¹, while the actual condition (DTa) produced 43.06 ± 5.59, 86.61 ± 12.85, and 113.93 ± 22.05 Mg C ha?¹, respectively. In North Sumatra, the mean carbon stock at 8, 14, and 20 years based on the Di equation was 42.33 ± 4.36, 70.97 ± 11.87, and 96.11 ± 17.70 Mg C ha?¹, respectively, whereas the Da estimates were 41.79 ± 4.11, 69.08 ± 11.68, and 93.08 ± 17.03 Mg C ha?¹. Based on DTi, the corresponding values were 43.47 ± 5.74, 88.67 ± 12.92, and 116.13 ± 22.66 Mg C ha?¹, while DTa produced 43.06 ± 5.59, 86.61 ± 12.85, and 113.93 ± 22.05 Mg C ha?¹, respectively.&#13;
Total ecosystem carbon (TEC) in East Java ranged from 250.92 ± 1.23 to 390.02 ± 7.28 Mg C ha?¹, whereas in North Sumatra it ranged from 289.66 ± 3.86 to 416.08 ± 24.05 Mg C ha?¹. The annual carbon sequestration rate in East Java ranged from 18.40–19.82 Mg CO2e ha?¹ year?¹, while that in North Sumatra ranged from 49.97–56.02 Mg CO2e ha?¹ year?¹.&#13;
The influence and dependence analysis indicated that mangrove restoration governance in East Java and North Sumatra exhibited similar patterns, characterized by government institutions acting as key decision-making actors, supported by facilitating institutions serving as bridging actors. Meanwhile, academic institutions, village and subdistrict governments, and local community groups remained relatively less active. Actor mobilization indicated that mangrove restoration in both East Java and North Sumatra received positive support without explicit opposition. However, the mobilization priorities remained unbalanced between ecological, economic, and social interests.&#13;
The estimated economic value of carbon (EVC), based on the average global voluntary carbon market price of USD 30 tCO2e?¹ and an exchange rate of USD 1 (IDR 17,000), ranged from IDR 408,065,338 to IDR 551,618,532 for restored mangrove forests in East Java, covering an area of 136.45 ha. In North Sumatra, covering 2,221.18 ha, the estimated EVC ranged from IDR 20,650,587,526 to IDR 26,816,990,839. The estimated allocation per hectare was IDR 7,300,404 ha?¹ in East Java and IDR 22,552,772 ha?¹ in North Sumatra. Under the National Economic Value of Carbon (NEK) framework established by Presidential Regulation No. 110 of 2025 and Minister of Forestry Regulation No. 6 of 2026, the economic benefits generated from carbon projects should be managed through a fair, accountable, and transparent benefit-sharing mechanism. The distribution of carbon-related economic benefits should not be limited to investors or project developers but should also provide equitable benefits to local communities, government institutions, and other relevant stakeholders involved in project implementation.; Hutan mangrove merupakan bagian dari ekosistem karbon biru (blue carbon ecosystem) berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Karbon dioksida (CO2) di atmosfer diserap dan digunakan dalam proses fotosintesis menghasilkan karbohidrat yang disimpan dalam bentuk biomasssa pada daun, batang, akar. Penyimpanan karbon juga terjadi di sedimen melalui dekomposisi bagian tumbuhan yang mati dan dari  pasang surut, kemudian tersimpan dalam kondisi aneraob. &#13;
Mangrove menghadapi tantangan perubahan luasan disebabkan perubahan iklim global dan gangguan antropogenik. Dalam upaya memulihkan hutan mangrove, maka restorasi merupakan solusi berbasis alam yang berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan (SDGs). Penelitian dilakukan pada dua region, yaitu hutan mangrove region Jawa Timur (Kel. Mangunharjo, Desa Dringu) dan region Sumatera Utara (Desa Lubuk Kertang, Tanjung Rejo) &#13;
Penelitian memiliki 4 tujuan, yaitu: 1) menganalisis spesies penyusun hutan mangrove dan pengukuran faktor fisik-kimia tanah dan air; 2) kuantifikasi stok dan laju sekuestrasi karbon; 3) pemetaan pengaruh dna ketergantungan serta mobilisasi aktor terhadap tujuan; 4) mengestimasi nilai ekonomi karbon dari harga pasar sukarela. Stok karbon yang diukur merupakan hasil dari kuantifikasi hutan mangrove restorasi umur 8, 14 dan 20 tahun secara non destruktif. Umur 8 tahun dipilih karena kayu sudah memiliki xylem sekunder, sedangkan umur 14 tahun merupakan fase tengah dan umur 20 tahun fase klimaks. Alometrik biomassa yang digunakan adalah alometrik umum dengan dua parameter yaitu diameter (D) dan diameter-tinggi pohon (DT) pada dua kondisi: 1) ideal utuh (Di;DTi), yaitu seluruh pohon pada sub plot diasumsikan hidup; 2) aktual (Da;DTa), yaitu seluruh pohon didata sesuai dengan kondisi aktual, ada pohon yang hidup dan mati. &#13;
Komposisi spesies penyusun hutan mangrove Jawa Timur didominasi Rhizophora mucronata (INP 183,14%) kemudian R.stylosa (49,57%). Komposisi spesies penyusun Sumatra Utara di dominasi R. apiculata (INP 192,03%) dan R. mucronata (61,58%). Sifat fisik-kimia tanah mangrove tidak berbeda nyata pada nilai pH tanah yaitu rentang 3,8–6,0; kelembapan tanah 5,4–7,7; suhu tanah 25,3–31,0 °C; konduktifitas 3,5–4,0 mS/cm; suhu air 26,3–32,6 °C; TDS air 25,4–38,8; EC 37,8–59,60mS/cm; ORP 86,0 – 167,4; salinitas 24,9–41,8 ppt, dan BD tanah 0,81-1,03 g/cm3. &#13;
Nilai stok karbon rata-rata di Jawa Timur umur 8, 14 dan 20 tahun dengan alometrik (Di) berturut-turut 42,33±4,36, 70,97±11,87 dan 96,11±17,70 Mg C ha-1, sedangkan alometrik (Da) berturut-turut 41,79±4,11; 69,08±11,68 dan 93,08±17,03 Mg C ha-1. Nilai stok karbon rata-rata dengan alometrik (DTi) berturut-turut 43,47±5,74, 88,67±12,92 dan 116,13±22,66 Mg C ha-1, sedangkan alometrik (DTa) berturut-turut 43,06±5,59, 86,61±12,85 dan 113,93±22,05 Mg C ha-1. Nilai stok karbon rata-rata di Sumatera Utara umur 8, 14 dan 20 tahun (Di) berturut-turut 42,33±4,36, 70,97±11,87 dan 96,11±17,70 Mg C ha-1, sedangkan pada (Da) berturut-turut 41,79±4,11; 69,08±11,68 dan 93,08±17,03 Mg C ha-1. Nilai stok karbon rata-rata (DTi) berturut-turut 43,47±5,74, 88,67±12,92 dan 116,13±22,66 Mg C ha-1, sedangkan pada (DTa) berturut-turut 43,06±5,59, 86,61±12,85 dan 113,93±22,05 Mg C ha-1. &#13;
Total Karbon Ekosistem di Jawa Timur umur berada pada rentang 250,92 ±1,23 Mg C/ha hingga 390,02 ±7,28 Mg C ha-1. Sementara itu di Sumatera Utara rentang 289,66 ±3,86 Mg C ha-1 hingga 416,08 ±24,05 Mg C ha-1. Laju sekuestrasi karbon tahunan JT sebesar 18,40-19,82 Mg Mg CO2e ha-1 tahun-1 dan SU sebesar 49,97 -56, 02 Mg CO2e ha-1 tahun-1. &#13;
Peta pengaruh dan ketergantungan menunjukkan bahwa tata kelola restorasi mangrove di Jawa Timur dan Sumatera Utara memiliki pola umum yang serupa, yaitu didominasi oleh aktor pemerintah sebagai aktor penentu, didukung lembaga pendamping sebagai aktor penghubung, sementara aktor akademisi, pemerintah desa dan kecamatan masih berada pada posisi kurang aktif, termasuk kelompok masyarakat tapak. Mobilisasi aktor menunjukkan bahwa restorasi mangrove Jawa Timur dan Sumatera Utara sama-sama memperoleh dukungan positif tanpa penolakan eksplisit, tetapi prioritas mobilisasinya belum seimbang antara kepentingan ekologis dengan ekonomi dan sosial. &#13;
Estimasi NEK dengan rata-rata harga pasar sukarela global yaitu 30USD (1 USD: Rp17.000) pada mangrove restorasi di Jawa Timur dengan luasan 136,45 ha berada pada rentang Rp 408.065.338,- hingga Rp 551.618.532,- sedangkan pada mangrove restorasi di Sumatera Utara dengan luasan 2.221,18 ha pada rentang Rp 20.650.587.526,- hingga  Rp 26.816.990.839,- dengan alokasi per hektarnya Rp 7.300.404,- untuk Jawa Timur dan Rp 22.552.772,- untuk Sumatera Utara. Tata cara laksana NEK sesuai Perpres 110/2025 dan Permenhut No. 6 Tahun 2026 bahwa manfaat ekonomi yang dihasilkan dari proyek karbon perlu dikelola melalui mekanisme benefit sharing yang adil, akuntabel, dan transparan, tidak hanya bagi investor atau pengelola proyek, tetapi bagi masyarakat, pemerintah, dan pihak yang terkait lainnya dalam proyek.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
