<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469">
<title>UF - Faculty of Forestry and Environment</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Forestry and Environment</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180000"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179981"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179980"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179970"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-24T12:19:06Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180000">
<title>Karakteristik Bambu Batik (Bambusa maculata Widjaja) Asal Ternate</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180000</link>
<description>Karakteristik Bambu Batik (Bambusa maculata Widjaja) Asal Ternate
ZAGHITA, INDHIRA
Bambu batik (Bambusa maculata Widjaja) merupakan bambu lokal Ternate dengan corak khas yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku produk berbasis bambu. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur anatomi, sifat fisis, sifat mekanis, dan keawetan alami bambu batik asal Ternate, serta menganalisis sifat fisis dan keawetan alami pada bagian pangkal, tengah, dan ujung batang. Pengamatan anatomi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis, pengujian sifat fisis dan mekanis mengacu pada International Organization for Standardization 22157:2019, sedangkan pengujian keawetan alami berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7207:2014. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan uji Tukey pada taraf 5%. Bambu batik memiliki struktur anatomi berupa berkas vaskular, parenkim, serat sklerenkim, metaksilem, dan floem. Kadar air berkisar 14,757–15,315% dengan kerapatan 0,847–0,919 g/cm³. Nilai kuat tekan, tarik sejajar serat, dan tarik tegak lurus serat berturut-turut sebesar 61,17; 39,18; dan 10,20 MPa. Kehilangan berat akibat rayap tanah dan rayap kayu kering masing-masing sebesar 5,470–5,984% dan 2,225–2,584% dengan kelas ketahanan II berdasarkan SNI 7207:2014.; Batik bamboo (Bambusa maculata Widjaja) is a local bamboo species from Ternate with a distinctive pattern and potential for bamboo-based products. This study aimed to analyze the anatomical, physical, mechanical properties, and natural durability of batik bamboo, including variations among the base, middle, and tip sections. Anatomical observations were conducted macroscopically and microscopically, while physical and mechanical properties were tested according to International Organization for Standardization 22157:2019, and natural durability was evaluated based on Standar Nasional Indonesia (SNI) 7207:2014. Data were analyzed using Analysis of Variance and Tukey’s test at a 5% significance level. Batik bamboo consists of vascular bundles, parenchyma, sclerenchyma fibers, metaxylem, and phloem. Moisture content and density ranged from 14.757– 15.315% and 0.847–0.919 g/cm³, respectively. The compressive strength, parallel tensile strength, and perpendicular tensile strength were 61.17, 39.18, and 10.20 MPa, respectively. Weight loss caused by subterranean and drywood termites ranged from 5.470–5.984% and 2.225–2.584%, respectively, corresponding to durability class II according to SNI 7207:2014.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179981">
<title>Modifikasi Boraks Asam Borat dan Termal pada Jenis Kayu Rotasi Pendek Skalan Industri</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179981</link>
<description>Modifikasi Boraks Asam Borat dan Termal pada Jenis Kayu Rotasi Pendek Skalan Industri
Dzulfikar.F.A, M.Fauzan
Kayu rotasi pendek memiliki potensi sebagai bahan baku industri, namun sifat fisis, mekanis, dan ketahanan biologinya masih relatif rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kombinasi impregnasi boraks-asam borat dan perlakuan termal terhadap kualitas kayu rotasi pendek pada skala industri. Lima jenis kayu diimpregnasi menggunakan larutan boraks-asam borat 1,3% dengan metode vakum-tekan, kemudian diberi perlakuan panas pada suhu 200 °C selama 20 jam. Pengujian meliputi sifat fisis, stabilitas dimensi, sifat mekanis, ketahanan rayap, FTIR, dan kekasaran permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan menurunkan kadar air, water uptake, dan kekasaran permukaan serta meningkatkan stabilitas dimensi kayu. Nilai impregnation rate dan retensi tertinggi diperoleh pada pinus radiata, sedangkan jati terendah. Perlakuan menurunkan nilai MOE dan MOR, tetapi meningkatkan ketahanan rayap terutama pada pinus merkusii dan pinus radiata. Analisis FTIR menunjukkan degradasi hemiselulosa dan pembentukan ikatan ester borat yang menurunkan sifat higroskopis kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tersebut berpotensi meningkatkan kualitas kayu rotasi pendek untuk aplikasi industri.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179980">
<title>Modifikasi Gliserol-Asam Sitrat dan Termal pada Jenis Kayu Rotasi Pendek Skala Industri</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179980</link>
<description>Modifikasi Gliserol-Asam Sitrat dan Termal pada Jenis Kayu Rotasi Pendek Skala Industri
Tobing, Nicholas Ramos Lumban
Kayu rotasi pendek berpotensi sebagai bahan baku industri perkayuan, tetapi umumnya memiliki sifat fisis, mekanis, dan ketahanan biologi yang rendah akibat tingginya proporsi kayu juvenil. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perlakuan panas tunggal serta kombinasi impregnasi gliserol-asam sitrat (GCA) dan perlakuan panas terhadap sifat lima jenis kayu rotasi pendek. Sampel kayu diimpregnasi menggunakan larutan GCA 40% dan diberi perlakuan panas pada suhu 180 °C. Perlakuan panas tunggal menurunkan kadar air dan daya serap air, tetapi cenderung menurunkan kerapatan dan modulus of rupture. Sebaliknya, kombinasi impregnasi GCA dan perlakuan panas lebih efektif meningkatkan stabilitas dimensi dan ketahanan rayap. Analisis FTIR menunjukkan terbentuknya ikatan ester, sedangkan perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap kekasaran permukaan. Kombinasi impregnasi GCA dan perlakuan panas berpotensi sebagai teknologi modifikasi kayu yang ramah lingkungan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179970">
<title>Komposisi, Struktur, dan Simpanan Biomassa Tegakan  di Hutan Wakaf Bogor, Ekoton, dan Zona Rehabilitasi TNGHS.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179970</link>
<description>Komposisi, Struktur, dan Simpanan Biomassa Tegakan  di Hutan Wakaf Bogor, Ekoton, dan Zona Rehabilitasi TNGHS.
ISLAMI, TANTRIE NURCAHYA
The presence of ecotones in forest areas reflects ecological interaction between adjacent ecosystems. One such area is located in the transition zone between the Bogor Waqf Forest (HWB) and Gunung Halimun Salak National Park (TNGHS). This study aims to analyze species composition, stand structure, and biomass stock in the ecotone between HWB and TNGHS. Data were collected using the transect-plot method, the SexI-FS application, and allometric equations across six 20 × 100 m transects comprising 30 sample plots (20 × 20 m). The results showed that the study sites contained 37 species from 22 families, with HWB having the highest species composition (25 species from 19 families), followed by TNGHS (18 species from 14 families), and the ecotone (17 species from 14 families). The dominant species were Syzygium aromaticum in HWB, Schima wallichii in the ecotone, and Persea americana in TNGHS. Stand structure exhibited an inverted "J" shaped pattern dominated by the 1 - 10 cm diameter class and stratum C (4 - 20 m). The highest average of stand biomass stock was recorded in HWB (82.42 tons/ha), followed by TNGHS (28.54 tons/ha) and the ecotone (26.23 tons/ha).; Keberadaan ekoton di kawasan hutan mencerminkan interaksi ekologis yang dinamis antara dua ekosistem yang berbatasan. Salah satu kawasan tersebut berada pada zona peralihan antara Hutan Wakaf Bogor (HWB) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur tegakan, dan simpanan biomassa di HWB, ekoton, dan TNGHS. Data dikumpulkan melalui analisis vegetasi metode jalur berpetak, pengukuran struktur tegakan menggunakan aplikasi SexI-FS, serta pendugaan biomassa dengan persamaan alometrik. Penelitian dilakukan pada enam jalur berukuran 20×100 m yang terdiri atas 30 petak contoh berukuran 20×20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis pada ketiga lokasi penelitian &#13;
mencakup 37 jenis dari 22 famili, dengan HWB memiliki komposisi jenis tertinggi (25 jenis dari 19 famili), diikuti TNGHS (18 jenis dari 14 famili), dan ekoton (17 jenis dari 14 famili). Jenis dominan pada HWB adalah Syzygium aromaticum, di ekoton Schima wallichii, dan di TNGHS Persea americana. Struktur tegakan menunjukkan pola “J” terbalik, dengan rata-rata kelas diameter 1 - 10 cm serta dominasi stratum C (4 - 20 m). Rata-rata simpanan biomassa tegakan tertinggi terdapat di HWB (82,42 ton/ha), diikuti TNGHS (28,54 ton/ha), dan ekoton (26,23 ton/ha).
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
