<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466">
<title>UF - Faculty of Animal Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Animal Science</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180248"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180247"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180199"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180086"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-11-08T03:05:58Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180248">
<title>Skripsi a.n Muhammad Afif Fahreza (D2401211071)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180248</link>
<description>Skripsi a.n Muhammad Afif Fahreza (D2401211071)
Fahreza, Muhammad Afif
Fase lepas sapih merupakan masa adaptasi anak domba terhadap pakan padat. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh penambahan tepung daun pepaya 10% dalam lamb starter terhadap konsumsi dan performa anak domba lepas sapih. Sebanyak 15 anak domba jantan persilangan Dorper × Garut umur 3–5 bulan diamati menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga perlakuan dan lima ulangan, P0 (tanpa tepung daun pepaya), P1 (tepung daun pepaya 10%), dan P2 (albendazol). Data dianalisis dengan analisis ragam, dilanjutkan uji Tukey bila perlakuan berpengaruh nyata. Konsumsi konsentrat pada P1 (538 g/ekor/hari) lebih tinggi daripada P0 (416 g/ekor/hari) dan P2 (399 g/ekor/hari; p : 0,001). Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi hijauan dan nutrien, pertambahan bobot badan harian, maupun efisiensi pakan (p &gt; 0,05). Tidak terjadi kematian selama penelitian. Penambahan tepung daun pepaya 10% meningkatkan konsumsi konsentrat, tetapi belum meningkatkan pertumbuhan anak domba.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180247">
<title>Skripsi a.n FAUZAN ARIFIANDI (D2401221078) PERFORMA DAN KARKAS KELINCI NEW ZEALAND WHITE YANG DIBERI PAKAN KOMPLIT MENGANDUNG INDIGOFERA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180247</link>
<description>Skripsi a.n FAUZAN ARIFIANDI (D2401221078) PERFORMA DAN KARKAS KELINCI NEW ZEALAND WHITE YANG DIBERI PAKAN KOMPLIT MENGANDUNG INDIGOFERA
ARIFIANDI, FAUZAN
Ketergantungan pada bahan pakan impor menyebabkan biaya produksi ternak meningkat sehingga diperlukan bahan pakan alternatif yang tersedia secara lokal, salah satunya Indigofera sp. Penelitian mengevaluasi performa dan karkas kelinci New Zealand White yang diberi pakan komplit mengandung Indigofera 20%. Penelitian menggunakan 12 ekor kelinci New Zealand White dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan yang diberikan terdiri atas pakan kontrol komersial (P0) dan pakan komplit mengandung Indigofera 20% (P1). Peubah yang diamati meliputi konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian, feed con-version ratio (FCR), Mortalitas, income over feed cost (IOFC), dan persentase kar-kas. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian pakan tidak berbeda nyata terhadap konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian, IOFC, dan per-sentase karkas (P&gt;0,05), tetapi berbeda nyata terhadap FCR (P&lt;0,05). Pakan kom-plit mengandung Indigofera 20% menghasilkan performa yang tidak berbeda dengan pakan komersial pada sebagian besar peubah yang diamati, meskipun nilai FCR lebih tinggi. Persentase karkas tidak berbeda antara kedua perlakuan.; Dependence on imported feed ingredients increases livestock production costs, therefore alternative locally available feed resources are needed. One potential feed ingredient is Indigofera sp.This study aimed to evaluate the performance and car-cass characteristics of New Zealand White rabbits fed a complete diet containing In-digofera sp. The experiment used 12 New Zealand White rabbits in a randomized complete block design. The treatments consisted of commercial control feed (P0) and complete feed containing Indigofera (P1). The variables observed included dry matter intake, average daily gain, feed conversion ratio (FCR), income over feed cost (IOFC), and carcass percentage. Analysis of variance showed that feed treat-ment had no significant effect on dry matter intake, average daily gain, IOFC, and carcass percentage (P&gt;0.05), but significantly affected FCR (P&lt;0.05). The 20% Indigofera diet showed no significant differences from the commercial diet in most parameters, although FCR was higher. Carcass percentage did not differ between treatments.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180199">
<title>Analisis Produksi Biogas Berbahan Dasar Campuran Feses Sapi dan Kuda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180199</link>
<description>Analisis Produksi Biogas Berbahan Dasar Campuran Feses Sapi dan Kuda
Dedah, Alvin
Kebutuhan energi nasional meningkat namun ketersediaan energi fosil menurun. Biogas hadir sebagai salah satu sumber energi berkelanjutan dengan pemanfaatan kotoran ternak. Tujuan penelitian adalah menganalisis hasil produksi biogas dari campuran kotoran sapi dan kotoran kuda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga level perlakuan dan tiga ulangan dengan kombinasi S100K0 (100% feses sapi perah dan 0% feses kuda), S80K20 (80% feses sapi perah dan 20% feses kuda), dan S60K40 (60% feses sapi perah dan 40% feses kuda ). Parameter yang diamati meliputi total solid (TS), volatil solid (VS), suhu, pH, volume biogas, dan uji nyala api. Nilai TS awal dan TS akhir setiap perlakuan berbeda nyata (P&lt;0,05). Hasil analisis memaparkan bahwa takaran S60K40 menghasilkan biogas yang signifikan lebih tinggi dibandingkan yang hanya berbahan dasar feses sapi, meskipun hanya relatif lebih tinggi dibanding dengan S80K20. Simpulan, kombinasi antara feses sapi dan kuda dalam proses produksi biogas sangat berpotensi meningkatkan volume gas dan nyala api, sehingga sangat disarankan untuk diterapkan pada pengelolaan limbah di peternakan sapi perah. Kata kunci: biogas, feses, friesian holstein, kuda, pengelolaan limbah; National energy demand is increasing, while the availability of fossil energy is declining. Biogas emerges as a sustainable energy source produced from livestock manure. The objective of this study was to analyze biogas production from a mixture of cow manure and horse manure. This study used a completely randomized design (CRD) with three treatment levels and three replications, with the combinations S100K0 (100% dairy cow feces and 0% horse feces), S80K20 (80% dairy cow feces and 20% horse feces), and S60K40 (60% cow dairy feces and 40% horse feces). The parameters observed were total solids (TS), volatile solids (VS), temperature, pH, biogas volume, and flame test. The initial and final TS values of each treatment differed significantly (P&lt;0.05). The analysis showed that the S60K40 formulation produced significantly more biogas than the formulation based solely on cow feces, although it was only slightly higher than S80K20. In conclusion, combining cow and horse feces in the biogas production process has great potential to increase gas volume and flame duration, making it highly recommended for application in waste management systems on dairy farms. Keywords: biogas, feces, friesian holstein, horse, waste management
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180086">
<title>Evaluasi Sifat Fisikokimia dan Akseptabilitas Total Mixed Ration untuk Domba dengan Metode Pengawetan Hijauan Berbeda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180086</link>
<description>Evaluasi Sifat Fisikokimia dan Akseptabilitas Total Mixed Ration untuk Domba dengan Metode Pengawetan Hijauan Berbeda
Putri, Chintyagy Nabilah
Penggunaan hijauan yang diawetkan sebagai bahan penyusun TMR menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan hijauan segar, namun dapat menyebabkan perubahan kualitas pakan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh metode pengawetan hijauan terhadap sifat fisikokimia dan akseptabilitas TMR pada domba. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 4 kelompok berdasarkan waktu produksi dan bobot domba, yaitu P1 = TMR hijauan segar + konsentrat, P2 = TMR hijauan silase + konsentrat, dan P3 = TMR hijauan hay + konsentrat. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengawetan hijauan berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap karakteristik tekstur hijauan, sifat fisik TMR, kehilangan BK dan BO, serta akseptabilitas domba, tetapi tidak berpengaruh nyata (p&gt;0,05) terhadap kandungan NDF, ADF, hemiselulosa, dan peNDF. TMR dengan silase menghasilkan kehilangan BK dan BO yang lebih rendah serta menunjukkan respon awal konsumsi yang lebih baik dibandingkan TMR dengan hay. Simpulan, silase lebih berpotensi digunakan sebagai sumber hijauan dalam penyusunan TMR untuk domba dibandingkan hay.; While using preserved forage in TMRs offers an alternative to the limitations of fresh forage, it can alter feed quality. This study aimed to evaluate the effect of forage preservation methods on the physicochemical properties and acceptability of TMRs for sheep. A Randomized Block Design (RBD) was employed, featuring three treatments and four blocks based on production timing and sheep weight: P1 (fresh forage TMR + concentrate), P2 (silage forage TMR + concentrate), and P3 (hay forage TMR + concentrate). Data were analyzed using ANOVA followed by Duncan’s post-hoc test. The results indicated that the forage preservation method significantly affected (p&lt;0.05) forage texture characteristics, TMR physical properties, dry matter (DM) and organic matter (OM) losses, and sheep acceptability; however, it did not significantly affect (p&gt;0.05) NDF, ADF, hemicellulose, or peNDF content. TMRs containing silage resulted in lower DM and OM losses and elicited a better initial intake response compared to TMRs containing hay. In conclusion, silage holds greater potential than hay as a forage source for formulating TMRs for sheep.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
