<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7464">
<title>UF - Faculty of Agricultural Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7464</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agricultural Technology</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180191"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180180"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180159"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180145"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-30T12:39:08Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180191">
<title>Perancangan Sistem Filtrasi Pascafermentasi Kombucha dan Strategi Pengembangan Usaha Hakko Kombucha</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180191</link>
<description>Perancangan Sistem Filtrasi Pascafermentasi Kombucha dan Strategi Pengembangan Usaha Hakko Kombucha
Baktir, Waliyah Farid
Fermentasi lanjutan pada kombucha setelah pengemasan dapat menyebabkan&#13;
peningkatan karbonasi, gushing, dan kebocoran kemasan sehingga diperlukan&#13;
perbaikan proses pascafermentasi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem filtrasi&#13;
pascafermentasi yang sesuai dengan kondisi produksi Hakko Kombucha serta&#13;
merumuskan strategi pengembangan usahanya. Penelitian menggunakan&#13;
pendekatan desain keteknikan yang meliputi eksplorasi masalah, pendefinisian&#13;
masalah, pembangkitan alternatif solusi, pengembangan prototipe, dan validasi&#13;
prototipe. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa cartridge filter 10 µm mampu&#13;
menurunkan jumlah khamir dari 3,84 menjadi 2,72 log CFU/mL pada varian nanas&#13;
dan dari 3,04 menjadi 2,47 log CFU/mL pada black tea, sedangkan jumlah bakteri&#13;
asam asetat relatif tetap. Filtrasi juga menunjukkan kecenderungan memperlambat&#13;
perkembangan keasaman selama penyimpanan dan tetap mempertahankan&#13;
karakteristik sensori produk. Penerapan sistem filtrasi meningkatkan HPP dari&#13;
Rp8.504 menjadi Rp8.510 per botol dan dapat diintegrasikan ke dalam penjadwalan&#13;
produksi. Skor IFE sebesar 2,736 dan EFE sebesar 2,667 menempatkan perusahaan&#13;
pada sel V dengan strategi hold and maintain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
filtrasi 10 µm berpotensi diterapkan untuk mendukung kestabilan produk dan&#13;
pengembangan usaha Hakko Kombucha.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180180">
<title>Analisis Distribusi Mikroklimat Budidaya Daun Dewa (Gynura segetum) di Plant Factory Menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180180</link>
<description>Analisis Distribusi Mikroklimat Budidaya Daun Dewa (Gynura segetum) di Plant Factory Menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD)
SAPTIADI, DINUR
Budidaya daun dewa (Gynura segetum) di plant factory memerlukan mikroklimat yang seragam di sekitar kanopi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi mikroklimat pada level kanopi daun dewa, mengembangkan model computational fluid dynamics (CFD) berbasis geometri tanaman hasil pemindaian tiga dimensi (3D) dan transpirasi, serta simulasi skenario perbaikan sirkulasi udara untuk mengurangi dead zone. Model memuat 128 tanaman hasil pemindaian 3D, sedangkan transpirasi dimasukkan sebagai fluks panas laten pada permukaan daun dan sebagai tracer uap air. Galat model simulasi CFD pada satu titik sensor sebesar 0,81 °C untuk suhu dan 0,67 % untuk kelembapan relatif (RH), berada dalam batas akurasi alat ukur. Hasil simulasi menunjukkan vapor pressure deficit (VPD) rata-rata pada lapisan 8 cm di atas kanopi sebesar 1,17–1,23 kPa dengan koefisien variasi 5,63%, dan seluruh region pada mesh terhalus berada dalam rentang anjuran 0,5–1,5 kPa, meskipun selisihnya terhadap batas atas masih setara dengan ketidakpastian model. Namun, 98,95% sel di dalam kanopi memiliki kecepatan udara di bawah 0,2 m/s dengan rata-rata 0,086 m/s. Penambahan 32 kipas sirkulasi menurunkan proporsi dead zone menjadi 17,54% dan menaikkan kecepatan rata-rata menjadi 0,435 m/s, dengan VPD tetap dalam rentang anjuran dan koefisien variasi turun menjadi 4,36%. Nilai suhu dan VPD zona kanopi belum dibandingkan dengan pengukuran pada level kanopi, belum konvergen terhadap kerapatan mesh, dan dipengaruhi asumsi neraca energi daun. Hasil ini dapat menjadi dasar perbaikan rancangan sirkulasi udara plant factory.; Cultivation of Gynura segetum in a plant factory requires a uniform microclimate around the canopy. This study aimed to analyze the microclimate distribution at the canopy level of Gynura segetum, to develop a computational fluid dynamics (CFD) model based on three-dimensional (3D) scanned plant geometry and transpiration, and to simulate an air circulation improvement scenario to reduce dead zones. The model included 128 scanned plants, and transpiration was applied as a latent heat flux on the leaf surfaces and as a water vapor tracer. After calibrating the door leakage rate, the model error at a single sensor point was 0.81 °C for temperature and 0.67 percentage points for relative humidity, within the accuracy of the instrument. The simulation showed a mean vapor pressure deficit (VPD) of 1.17–1.23 kPa in the 8 cm layer above the canopy, with a coefficient of variation of 5.63%, and all regions on the finest mesh were within the recommended range of 0.5–1.5 kPa, although the margin to the upper limit is comparable to the model uncertainty. However, 98.95% of the cells within the canopy had air velocities below 0.2 m/s, with a mean of 0.086 m/s. Adding 32 circulation fans reduced the proportion of dead zones to 17.54% and increased the mean velocity to 0.435 m/s, while VPD remained within the recommended range and its coefficient of variation decreased to 4.36%. The canopy temperature and VPD have not been compared with canopy-level measurements, have not converged with mesh refinement, and are affected by the leaf energy balance assumption. These results provide a basis for improving air circulation design in plant factories.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180159">
<title>Karakteristik dan Potensi Risiko  Keamanan Pangan Olahan Siap Saji Pada Program Makan Bergizi Gratis: Studi  Kasus di Wilayah Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180159</link>
<description>Karakteristik dan Potensi Risiko  Keamanan Pangan Olahan Siap Saji Pada Program Makan Bergizi Gratis: Studi  Kasus di Wilayah Bogor
MARIZQI, HANIFA MAULIDINA
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program pemerintah &#13;
yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, ibu hamil, dan balita. &#13;
Akan tetapi, sebanyak 33.626 kejadian luar biasa keracunan pangan (KLB-KP) &#13;
dilaporkan di tahun 2025/2026, melebihi angka KLB-KP tahun-tahun sebelum &#13;
diterapkan Program MBG. Umumnya KLB-KP yang dilaporkan disebabkan oleh &#13;
kontaminasi bakteri patogen pada pangan olahan siap saji (POSS) yang disajikan. &#13;
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi praktik penanganan dan pengolahan pangan &#13;
pada tiga SPPG,  mengidentifikasi jenis POSS yang disajikan dalam Program MBG &#13;
di wilayah Bogor, serta menganalisis karakteristik intrinsik pangan yakni &#13;
kandungan gizi, aktivitas air (Aw), dan pH. Penelitian dilakukan melalui survei &#13;
pada tiga SPPG di wilayah Bogor menggunakan kuesioner mengacu Peraturan &#13;
Menteri Kesehatan Nomor 1096 Tahun 2011, serta analisis laboratorium terhadap &#13;
25 sampel POSS meliputi analisis kandungan gizi serta pengukuran Aw dan pH. &#13;
Hasil penelitian menemukan praktik penyimpanan pada suhu ruang dan waktu &#13;
tunggu penyajian mencapai 3-6 jam, melebihi batas aman yang ditetapkan. Selain &#13;
itu, hasil menunjukkan bahwa menggoreng merupakan teknik pengolahan paling &#13;
banyak digunakan untuk pengolahan POSS Program MBG. Berdasarkan porsi &#13;
penyajiannya, menu MBG didominasi pangan tinggi protein dan karbohidrat serta &#13;
memiliki nilai Aw (0,895-0,999) dan pH (5,267-8,839) yang mendukung &#13;
pertumbuhan bakteri patogen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa POSS dalam &#13;
Program MBG memiliki risiko kontaminasi mikrobiologis tinggi, sehingga &#13;
diperlukan perbaikan kontrol suhu, waktu tunggu, dan higiene sanitasi selama &#13;
penanganan dan penyajian guna menekan risiko keracunan pangan pada program &#13;
tersebut.; The Free Nutritious Meals Program is a government program aimed at &#13;
meeting the nutritional needs of schoolchildren, pregnant women, and toddlers. &#13;
However, as many as 33,626 cases of food poisoning outbreaks were reported in &#13;
2025/2026, exceeding the number of food poisoning cases in the years prior to the &#13;
implementation of the Program. Generally, cases of food poisoning were reported &#13;
to be caused by pathogenic bacterial contamination in ready-to-eat foods that were &#13;
served. This study aims to evaluate food handling and processing practices at &#13;
Nutrition Program Implementation Units (SPPG), identify the types of ready-to-eat &#13;
foods served in this program, and analyze the intrinsic characteristics of the food, &#13;
namely nutritional content, water activity (Aw), and pH. The study was conducted &#13;
through a survey of three SPPGs in the Bogor area using a questionnaire based on &#13;
Minister of Health Regulation No. 1096 of 2011, as well as laboratory analysis of &#13;
25 food sample, including an evaluation of macronutrient content, and Aw and pH &#13;
measurement. The results showed that storage at room temperature and waiting &#13;
times before serving ranged from 3 to 6 hours, exceeding the established safety &#13;
limits. Additionally, it was found that frying was the most commonly used cooking &#13;
technique for the foods served. Based on serving sizes, the foods served were &#13;
predominantly high in protein and carbohydrates and had Aw (0.895–0.999) and &#13;
pH (5.267–8.839) values that support the growth of pathogenic bacteria.  This study &#13;
concludes that the ready-to-eat meals in this program carry a high risk of &#13;
microbiological contamination. Therefore, improvements are needed in &#13;
temperature control, holding times, and sanitation practices during handling and &#13;
serving to reduce the risk of food poisoning in the program.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180145">
<title>PEMETAAN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI AGRIBUSINESS AND TECHNOLOGY PARK IPB UNIVERSITY</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180145</link>
<description>PEMETAAN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI AGRIBUSINESS AND TECHNOLOGY PARK IPB UNIVERSITY
YASIN, SYARIEF IRVAN
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam pengelolaan risiko di fasilitas agribisnis terpadu. Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University memiliki beragam aktivitas dan fasilitas yang berpotensi menimbulkan risiko K3, tetapi belum dipetakan secara sistematis berbasis spasial. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya, menilai risiko menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC), serta mengembangkan pemetaan K3 berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Sebanyak 67 unit fasilitas terinventarisasi, terdiri atas 64 fasilitas aktif dan 3 tidak aktif. Dari 64 fasilitas aktif, 30 fasilitas berhasil dinilai secara lengkap melalui observasi, wawancara, pengukuran lingkungan, dan penilaian menggunakan formulir HIRARC. Hasil penelitian mengidentifikasi 197 entri risiko, meliputi risiko fisik (70,1%), ergonomi (14,2%), biologi (9,1%), dan kimia (6,6%), dengan 37 entri berkategori risiko tinggi. Temuan utama mencakup suhu rata-rata tertinggi sebesar 35,6°C pada fasilitas pertanian luar ruangan, kebisingan generator saat pengisian daya baterai drone sebesar 98,97 dBA yang melebihi nilai ambang batas, serta risiko gigitan hewan liar berbisa di area perkebunan. Hasil HIRARC diintegrasikan ke dalam WebGIS untuk memvisualisasikan distribusi spasial risiko dan rekomendasi pengendalian sebagai sumber informasi pendukung pengelolaan K3 di ATP IPB University.; Occupational Safety and Health (OSH) is an important aspect of risk management in integrated agribusiness facilities. The Agribusiness and Technology Park (ATP) of IPB University encompasses various activities and facilities that may pose OSH risks, but these risks have not been systematically mapped spatially. This study aimed to identify hazards, assess risks using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method, and develop OSH mapping using a Geographic Information System (GIS). A total of 67 facility units were inventoried, comprising 64 active and 3 inactive facilities. Of the 64 active facilities, 30 were fully assessed through observations, interviews, environmental measurements, and HIRARC assessment forms. The study identified 197 risk entries, comprising physical (70,1%), ergonomic (14,2%), biological (9,1%), and chemical risks (6,6%), with 37 entries classified as high risk. Key findings included the highest average temperature of 35,6°C in outdoor agricultural facilities, generator noise during drone battery charging reaching 98,97 dBA and exceeding the exposure limit, and the risk of venomous wild animal bites in plantation areas. HIRARC results were integrated into a WebGIS to visualize the spatial distribution of risks and control recommendations, supporting OSH management at ATP IPB University.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
