<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461">
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agriculture</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180106"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180067"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180033"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179978"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-15T07:17:17Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180106">
<title>UJI EFEKTIVITAS KONSENTRASI MINYAK ATSIRI DALAM EDIBLE COATING BERBASIS KITOSAN TERHADAP KUALITAS BUAH PAPRIKA SELAMA PENYIMPANAN</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180106</link>
<description>UJI EFEKTIVITAS KONSENTRASI MINYAK ATSIRI DALAM EDIBLE COATING BERBASIS KITOSAN TERHADAP KUALITAS BUAH PAPRIKA SELAMA PENYIMPANAN
Shelanno, Abrar Naafi
Respiration continues to occur after the bell peppers are harvested. Accurate post-harvest handling is needed to reduce quality degradation and extend the fruits’s shelf life, one of which is through edible coating technology. This research aims to identify the effect of clove essential oil in chitosan edible coating and recommend the most optimum concentration in maintaining the quality of bell peppers during storage. The research was carried out at the Postharvest, Biomass, and Spectrophotometry Laboratory and the Postharvest and Biomass Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University in March–May 2026. The research used a one-factor Randomized Complete Block Design, namely clove essential oil concentrations at the 0%; 0,5%; and 1% levels. Each treatment consists of 3 kg of bell peppers with 3 repetitions. The edible coating solution is applied by immersion for 5 minutes. Bell peppers were stored at room temperature and observed for up to 14–16 days for the parameters of damage intensity, weight and diameter loss, skin color, respiration rate and ethylene production, flesh tenderness, vitamin C, total soluble solids, and total titratable acidity. The results showed that chitosan edible coating without clove oil (P1) and clove oil (P2) was more effective for up to 14 days in extending shelf life and maintaining quality by delaying respiration, green color degradation, and the increase in fruit softness and acidity in bell peppers. In contrast, the addition of clove oil at concentration 1% negatively affected bell pepper quality, as physical damage, respiration rate, and ethylene production were accelerated, resulting in a shorter shelf life. Chitosan edible coating treatments without clove oil (P1) and with clove oil (P2) can extend shelf life to 14 days, with a spoilage rate of approximately 26%–28%.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180067">
<title>Serangan Scirpophaga incertulas (Lepidoptera: Crambidae) dan Oxya chinensis (Orthoptera: Acrididae) pada Pertanaman Padi dengan Perlakuan Insektisida</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180067</link>
<description>Serangan Scirpophaga incertulas (Lepidoptera: Crambidae) dan Oxya chinensis (Orthoptera: Acrididae) pada Pertanaman Padi dengan Perlakuan Insektisida
Puspita, Amanda
Padi merupakan tanaman pangan utama yang menjadi sumber energi dan&#13;
makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Salah satu masalah utama yang&#13;
menyebabkan penurunan hasil panen yang signifikan adalah serangan hama.&#13;
Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan insektisida terhadap serangan&#13;
penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas) dan belalang (Oxya&#13;
chinensis) pada pertanaman padi. Penelitian dilakukan pada lahan seluas 900 m2 di&#13;
Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor menggunakan rancangan&#13;
acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Pengamatan dilakukan pada&#13;
pertanaman padi mulai umur 2 hingga 12 minggu setelah tanam (MST). Penelitian&#13;
ini menggunakan 3 perlakuan insektisida sintetik berbahan aktif klorantraniliprol,&#13;
bioinsektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis dan Serratia marcescens,&#13;
insektisida nabati berbahan mimba, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukan&#13;
bahwa perlakuan insektisida sintetik menurunkan tingkat intensitas serangan S.&#13;
incertulas dan O. chinensis, tetapi tidak berbeda nyata dengan kontrol berdasarkan&#13;
uji Tukey pada taraf 5%. Selain itu, parasitoid telur Telenomus rowani ditemukan&#13;
pada persemaian, petak insektisida sintetik, bioinsektisida, insektisida nabati, dan&#13;
kontrol, sedangkan Trichogramma japonicum ditemukan pada persemaian, petak&#13;
insektisida nabati, dan kontrol. Perlakuan insektisida tidak berpengaruh signifikan&#13;
terhadap laba-laba predator yaitu famili Oxyopidae, Tetragnathidae, dan Lycosidae.; Rice is the main food crop, providing energy and serving as a staple for the&#13;
Indonesian people. One of the main problems causing a significant decline in crop&#13;
yields is pest infestation. This study aimed to determine the effect of insecticide&#13;
treatments on infestations by the yellow rice stem borer (Scirpophaga incertulas)&#13;
and the grasshopper (Oxya chinensis) in rice fields. The study was conducted on a&#13;
900 m² plot in Situgede Village, West Bogor District, Bogor City, using a&#13;
randomized block design with 4 treatments and 6 replicates. Observations were&#13;
made on the rice crops from 2 to 12 weeks after planting. This research used 4&#13;
treatments, a synthetic insecticide containing the active ingredient&#13;
chlorantraniliprole, a bioinsecticide containing the active ingredients Bacillus&#13;
thuringiensis and Serratia marcescens, a botanical insecticide derived from neem,&#13;
and a control. The results showed that the synthetic insecticide treatment reduced&#13;
infestation intensity of S. incertulas and O. chinensis, but did not differ significantly&#13;
from the control at the 5% level of Tukey's test. Additionally, the egg parasitoid&#13;
Telenomus rowani was found in the seedbed and in plots treated with synthetic&#13;
insecticides, bioinsecticides, and botanical insecticides, as well as in the control&#13;
plots, Trichogramma japonicum was found in the seedbed, botanical insecticide&#13;
plots, and control plots. The insecticide treatments did not significantly affect&#13;
predatory spiders belonging to the families Oxyopidae, Tetragnathidae, and&#13;
Lycosidae.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180033">
<title>Pengaruh Mulsa Tandan Kosong dan Pupuk Mikoriza terhadap Regenerasi Perakaran Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180033</link>
<description>Pengaruh Mulsa Tandan Kosong dan Pupuk Mikoriza terhadap Regenerasi Perakaran Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan
Tambunan, Miranda
Regenerasi perakaran kelapa sawit tanaman menghasilkan berperan penting dalam meningkatkan kemampuan tanaman menyerap air dan unsur hara. Pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan pupuk hayati mikoriza merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi perakaran melalui peningkatan sifat kimia tanah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, pada Januari-Juni 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol, mikoriza 250 g perlakuan?¹, TKKS 100 kg perlakuan?¹, TKKS 100 kg dengan mikoriza 125 g perlakuan?¹, dan TKKS 100 kg dengan mikoriza 250 g perlakuan?¹. Peubah yang diamati meliputi volume akar, bobot kering akar, kolonisasi mikoriza, serta sifat kimia tanah. Data dianalisis menggunakan analisis kovarians (ANCOVA) dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap volume akar, tetapi tidak terhadap bobot kering akar. Volume akar tertinggi diperoleh pada perlakuan TKKS 100 kg dengan mikoriza 250 g perlakuan?¹, sedangkan kolonisasi mikoriza tertinggi terdapat pada kombinasi TKKS 100 kg dengan mikoriza 125 g perlakuan?¹. Aplikasi TKKS meningkatkan pH, C-organik, N-total, P-tersedia, dan K-tersedia tanah. Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat antar parameter sifat kimia tanah, sedangkan hubungan kolonisasi mikoriza dengan parameter perakaran tergolong lemah. Pemberian TKKS berperan dalam memperbaiki sifat kimia tanah dan mendukung peningkatan volume akar kelapa sawit tanaman menghasilkan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179978">
<title>Peningkatan Biomassa Tanaman Obat Ciplukan dengan Poliploidisasi In Vitro</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179978</link>
<description>Peningkatan Biomassa Tanaman Obat Ciplukan dengan Poliploidisasi In Vitro
Karimah, Khansa
Ciplukan (Physalis angulata) merupakan tumbuhan liar yang berpotensi sebagai bahan biofarmaka, namun produktivitas biomassanya masih tergolong rendah. Peningkatan biomassa dapat dilakukan dengan poliploidisasi in vitro menggunakan kolkisin. Penelitian ini bertujuan memperoleh konsentrasi kolkisin terbaik yang mampu menggandakan kromosom serta mengetahui perubahan morfologi dan sitologi tanaman ciplukan poliploid yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Agustus 2026 di Laboratorium Kultur Jaringan dan Mikro Teknik serta Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen &#13;
Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, yaitu konsentrasi kolkisin dengan lima taraf: 0 (kontrol), 50, 100, 150, dan 200, dengan lama perendaman 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan, peningkatan konsentrasi kolkisin menurunkan persentase perkecambahan, serta memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap pertumbuhan tinggi tunas dan jumlah daun in vitro. Analisis sitologi dan morfologi mengonfirmasikan terbentuknya tanaman miksoploid pada perlakuan kolkisin. Konsentrasi kolkisin 200 ppm selama 24 jam menunjukkan efektivitas yang cukup baik pada penelitian ini dalam menghasilkan tanaman ciplukan poliploid berdasarkan penurunan jumlah dan densitas stomata, banyaknya jumlah tanaman yang mengalami kondisi miksoploid, serta &#13;
peningkatan diameter batang, bobot basah, dan bobot kering.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
