<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461">
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Agriculture</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172907"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172742"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172651"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172640"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-08T03:23:22Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172907">
<title>EFFECT OF VERMICOMPOST PRIMING ON SEED VIABILITY AND VIGOR, AND PLANT GROWTH OF EXPIRED COMPOSITE MAIZE VARIETIES</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172907</link>
<description>EFFECT OF VERMICOMPOST PRIMING ON SEED VIABILITY AND VIGOR, AND PLANT GROWTH OF EXPIRED COMPOSITE MAIZE VARIETIES
Roger, Theodore Hesed
Penelitian ini mengevaluasi pengaruh vermicompost priming (Vp) terhadap viabilitas dan vigor benih serta pertumbuhan tanaman tiga varietas jagung komposit yang telah kedaluwarsa (benih telah disimpan 3 tahun pada kondisi ±20 °C, RH 60–65%). Penelitian ini menggunakan desain split-plot dengan empat ulangan, menggunakan tiga varietas jagung komposit (Sukmaraga, Lamuru, dan Srikandi Kuning) sebagai plot utama. Sub-plot terdiri atas kontrol tanpa perlakuan, dan Vp 15% selama 18 jam. Perlakuan Vp ini diterapkan dalam studi laboratorium yang menguji viabilitas dan vigor benih setelah penyimpanan ulang selama 3 bulan pada kondisi ±20 °C, RH 65% (percobaan 1) dan studi lapangan yang mengevaluasi pertumbuhan tanaman (percobaan 2). Hasil percobaan 1 menunjukkan bahwa Vp yang diikuti penyimpanan ulang selama 3 bulan menurunkan secara signifikan viabilitas (daya berkecambah turun dari 91,0% menjadi 84,8%) dan vigor benih (indeks vigor), yang mengindikasikan bahwa priming dan redrying benih yang tidak optimal (kadar air benih menjadi 12,5% lebih tinggi daripada kadar air awal 10,4%), diikuti dengan penyimpanan 3 bulan  menyebabkan deteriorasi lebih lanjut benih yang telah kedaluwarsa. Percobaan 2, performa lapangan lebih didorong oleh faktor genetik; Sukmaraga dan Lamuru menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan dengan Srikandi Kuning. Perlakuan Vp pada awalnya memicu perlambatan pertumbuhan (growth lag) di mana benih memprioritaskan perbaikan metabolik daripada perkembangan fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vermicompost priming tidak dapat sepenuhnya memperbaiki kerusakan fisiologis pada benih jagung yang telah disimpan selama 3 tahun.; This study evaluated vermicompost priming (Vp) on seed viability and vigor, and plant growth of three 3-year-aged (expired seeds stored at ±20 °C and RH 60-65%) composite maize varieties. This study followed a split-plot design with four replicates, using three composite maize varieties (Sukmaraga, Lamuru, and Srikandi Kuning) as main plots. The subplots consisted of the untreated control and 15% vermicompost priming for 18 hours. This Vp seed treatment was applied across a laboratory study testing seed viability and vigor after 3-month re-storage at ±20 °C and RH 60-65% (experiment 1) and a field study assessing plant growth (experiment 2). The result of experiment 1 showed that Vp, followed by 3-month re-storage, significantly reduced seed viability (germination fell from 91.0% to 84.8%) and vigor (vigor index), indicating that the priming-suboptimal redrying (seed moisture content becomes 12.5% higher than the initial moisture content of 10.4%), and subsequent 3-month storage cause further deterioration of expired seeds. In experiment 2, field performance was driven by genetics; Sukmaraga and Lamuru exhibited superior resilience compared to Srikandi Kuning.  Vermicompost priming did not improve field emergence and survival. Results suggest that vermicompost priming cannot fully mitigate the physiological damage of 3-year-old seeds.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172742">
<title>Pengaruh Pemberian PGPR terhadap Produktivitas dan Kandungan Nutrisi Pakan Biomassa Sorgum Harapan IPB NS2-111 dan NS2-140</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172742</link>
<description>Pengaruh Pemberian PGPR terhadap Produktivitas dan Kandungan Nutrisi Pakan Biomassa Sorgum Harapan IPB NS2-111 dan NS2-140
Fazriah, Aurelia Nur
Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) berpotensi dikembangkan sebagai hijauan pakan karena adaptif di beragam lingkungan dan mampu menghasilkan biomassa tinggi; penelitian ini mengevaluasi pengaruh aplikasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) melalui perendaman benih (menggunakan produk Rhizomax berbahan aktif Rhizobium sp., Bacillus polymyxa, dan Pseudomonas fluorescens) serta perbedaan genotipe terhadap produktivitas biomassa dan kualitas nutrisi hijauan sorgum. Percobaan dilaksanakan Mei–Juli 2025 di Kebun Percobaan Sawah Baru, Dramaga, Bogor, dan analisis nutrisi dilakukan di Laboratorium Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN), IPB, dengan rancangan RKLT faktorial dua faktor: PGPR (kontrol vs perendaman) dan genotipe (NS2-111, NS2-140, Samurai 1) dengan tiga ulangan; parameter meliputi karakter vegetatif, kadar kemanisan batang (°brix), bobot segar-kering, rasio biomassa batang:daun, komposisi proksimat, serta produktivitas nutrien. Hasil menunjukkan aplikasi PGPR tidak berpengaruh nyata pada sebagian besar peubah, sedangkan genotipe berpengaruh nyata terutama pada bobot segar-kering malai dan mutu nutrisi hijauan. Galur NS2-111 cenderung lebih seimbang pada kandungan bahan kering dan protein kasar. Faktor genotipe lebih dominan daripada aplikasi PGPR dalam menentukan produktivitas serta kualitas nutrisi hijauan sorgum sebagai pakan ternak.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172651">
<title>Isolasi Cendawan Kanker Buah Pada Jambu Biji Dan Infeksinya Pada Tiga Varietas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172651</link>
<description>Isolasi Cendawan Kanker Buah Pada Jambu Biji Dan Infeksinya Pada Tiga Varietas
Yani, Mely Indri
Jambu biji (Psidium guajava) merupakan salah satu tanaman hortikultura&#13;
dengan nilai ekonomis yang signifikan dan permintaan yang tinggi serta berpotensi&#13;
untuk bersaing di pasar global. Gangguan hama dan penyakit dapat menurunkan&#13;
produksi serta harga jual komoditas, sehingga pendapatan petani dapat menurun.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan gejala&#13;
serangan patogen Pestalotiopsis pada varietas jambu biji, serta pada 5 jenis umur&#13;
jambu kristal (1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, dan 8 minggu). Isolat&#13;
patogen didapatkan dari buah jambu kristal dari pasar Bogor. Sumber buah yang&#13;
digunakan dalam pengujian selanjutnya adalah buah jambu biji varietas jambu&#13;
kristal, jambu biji putih, dan jambu biji merah yang ditanam di pekarangan&#13;
masyarakat di Kecamatan Ciampea dan Rancabungur. Identifikasi patogen&#13;
dilakukan secara morfologi dan molekuler dengan primer ITS1 dan ITS4.&#13;
Pengamatan gejala dilakukan dengan memerhatikan gejala yang muncul di&#13;
permukaan setiap sampel buah jambu. Selain itu, juga dilakukan pemotongan buah&#13;
dan mengukur kedalaman gejala pada buah. Identifikasi secara morfologi&#13;
menunjukkan patogen kanker buah merupakan genus Pestalotiopsis. Jambu kristal&#13;
memiliki perkembangan gejala paling parah dan tercepat dibandingkan varietas&#13;
lain, serta jambu biji kristal berumur muda (1-2 minggu) memiliki keparahan&#13;
tertinggi dibandingkan jambu kristal berumur lebih tua (3-8 minggu).&#13;
&#13;
Kata kunci: hama, keparahan, molekuler, morfologi, penyakit.; Guava (Psidium guajava) is a horticultural crop with significant economic&#13;
value and high market demand, and it has strong potential to compete in the global&#13;
market. Pest and disease infestations can reduce yield and market price, there by&#13;
decreasing farmers’ income. This study aimed to identify and compare the&#13;
symptoms of Pestalotiopsis pathogen infection among guava varieties, as well as at&#13;
different developmental stages of crystal guava (1, 2, 3, 4, and 8 weeks). Pathogen&#13;
isolates were obtained from crystal guava fruits purchased from a market in Bogor.&#13;
The fruit sources used for subsequent experiments were crystal guava, white guava,&#13;
and red guava grown in household gardens in the Ciampea and Rancabungur&#13;
districts. Pathogen identification was carried out using morphological and&#13;
molecular approaches with ITS1 and ITS4 primers. Symptom observation was&#13;
conducted by examining the visible symptoms on the surface of each guava fruit&#13;
sample. In addition, fruits were cut to measure the depth of symptom penetration.&#13;
Morphological identification indicated that the fruit cancer pathogen belonged to&#13;
the genus Pestalotiopsis. Crystal guava showed the fastest and most severe&#13;
symptom development compared to other varieties, and younger crystal guava fruits&#13;
(1–2 weeks old) exhibited higher disease severity than older fruits (3–8 weeks old).&#13;
&#13;
Keywords: disease, molecular, morphological, pest, severity
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172640">
<title>Tingkat Penghambatan Relatif Bahan Aktif Metalaksil dan Mankozeb terhadap Alternaria porri pada Bawang Daun (Allium fistulosum)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172640</link>
<description>Tingkat Penghambatan Relatif Bahan Aktif Metalaksil dan Mankozeb terhadap Alternaria porri pada Bawang Daun (Allium fistulosum)
Rahmadani, Dewi
Bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri merupakan salah satu &#13;
penyakit penting pada bawang daun yang dapat menurunkan produktivitas dan &#13;
meningkatkan biaya pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui &#13;
keefektifan bahan aktif metalaksil dan mankozeb dalam menekan pertumbuhan A. &#13;
porri secara in vitro. Sampel daun bergejala dikumpulkan dari empat lokasi di &#13;
Cianjur dan Bogor menggunakan metode purposive sampling, kemudian dilakukan &#13;
isolasi A. porri dan diidentifikasi secara morfologi. Sebanyak 20 isolat A. porri &#13;
berhasil diisolasi dan diuji responnya terhadap kedua bahan aktif fungisida &#13;
menggunakan metode peracunan media pada konsentrasi 0,25; 0,50; 1; dan 2 ml/L. &#13;
Pertumbuhan koloni A. porri diamati pada 3, 7, 10, dan 14 hari setelah perlakuan &#13;
untuk menghitung tingkat hambatan relatif dan IC50. Hasil pengamatan &#13;
menunjukkan bahwa sensitivitas isolat terhadap mankozeb bervariasi, dengan nilai &#13;
IC50 berkisar 0,347–0,597 ml/L. Isolat JGC3 merupakan isolat yang paling sensitif, &#13;
sedangkan STP5 paling toleran. Pengujian terhadap metalaksil juga &#13;
memperlihatkan variasi sensitivitas yang lebar dengan nilai IC50 antara 4,32-45,69. &#13;
Isolat BLC2 memiliki sensitivitas tertinggi, sedangkan STP3 paling toleran &#13;
terhadap metalaksil.; Purple blotch caused by Alternaria porri is a major disease of Welsh onion that &#13;
reduces productivity and increases control costs. This study aimed to determine the &#13;
effectiveness of the active ingredients metalaxyl and mancozeb in suppressing the &#13;
growth of A. porri under in vitro conditions. Symptomatic leaves were collected &#13;
from four locations in Cianjur and Bogor using purposive sampling, followed by &#13;
isolation and morphological identification of A. porri. A total of 20 A. porri isolates &#13;
were successfully isolated and then tested for sensitivity to both fungicides using &#13;
the poisoning medium method at the concentrations of 0.25, 0.50, 1, and 2 ml/L. &#13;
The growth of fungal colony was measured at 3, 7, 10, and 14 days after treatment &#13;
to calculate relative inhibition and IC50 values. Results showed variable sensitivity &#13;
to mancozeb, with IC50 values ranging from 0.347 to 0.597 ml/L. Isolate JGC3 was &#13;
the most sensitive, whereas STP5 was the most tolerant. Metalaxyl sensitivity also &#13;
varied widely, with IC50 values ranging from 4.32 to 45.69. Isolate BLC2 exhibited &#13;
the highest sensitivity, while STP3 showed the greatest tolerance.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
