<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74">
<title>MT - Animal Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172849"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172628"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172624"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172576"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-09T15:38:26Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172849">
<title>Pertumbuhan dan Produktivitas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) cv. Samurai 1 dengan Aplikasi Boron pada Umur Panen Berbeda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172849</link>
<description>Pertumbuhan dan Produktivitas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) cv. Samurai 1 dengan Aplikasi Boron pada Umur Panen Berbeda
Romadhon, Achmad
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh dosis boron yang berbeda terhadap pertumbuhan dan produktivitas sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) cv. Samurai 1  pada umur panen yang berbeda. Sorgum cv. Samurai 1 merupakan varietas unggul yang memiliki potensi genetik tinggi dalam produktivitas sebagai pakan ternak, namun pengembangan sorgum terkendala kondisi lahan margin seperti lahan dengan defisiensi unsur hara boron (B). Metode dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok faktorial (RAKF) 5×2×4 yang menghasilkan 40 satuan percobaan. Faktor pertama perlakuan yaitu pupuk boron dengan variasi dosis sebagai berikut, A0 = Tanpa penambahan asam borat; A1 = asam borat 10 ppm (setara 0,360 g H3BO3 5 L-1); A2 = asam borat 20 ppm (setara 0,720 g H3BO3 5 L-1); A3 = asam borat 30 ppm (setara 1,080 g H3BO3 5 L-1); A4 = asam borat 40 ppm (setara 1,440 g H3BO3 5 L-1). Faktor kedua adalah umur panen dengan variasi umur panen sebagai berikut B1 = 100 hari setelah tanam dan B2 = 105 HST (hari setelah tanam). Hasil penelitian menunjukan bahwa dosis 30 ppm secara signifikan   meningkatkan pertumbuhan tanaman, diameter batang, panjang malai dan hasil 1000 biji dibandingkan dengan perlakuan kontrol, sedangkan pada dosis 40 ppm secara signifikan (P&lt;0,05) memperlihatkan penurunan terhadap produktivitas tanaman sorgum. Selain itu umur panen secara signifikan (P&lt;0,05) berpengaruh terhadap pertumbuhan sorgum, namun umur panen 105 hari setelah tanam (HST) memberikan pengaruh signifikan (P&lt;0,05) dibandingkan dengan umur panen 100 HST. Kesimpulan penelitian ini yaitu aplikasi boron pada dosis 30 ppm di umur panen 105 HST dapat mengoptimalkan produktivitas sorgum cv. Samurai 1 pada lahan yang defisiensi boron.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172628">
<title>Manfaat Formula Antistres Alami Temulawak, Asam Sitrat, dan Molases terhadap Performa Domba Jantan Pasca Transportasi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172628</link>
<description>Manfaat Formula Antistres Alami Temulawak, Asam Sitrat, dan Molases terhadap Performa Domba Jantan Pasca Transportasi
Fathimah
Proses transportasi yang kurang baik dapat mengakibatkan ternak mengalami cidera, penurunan performa, dan mengalami stres oksidatif akibat terbentuknya radikal bebas selama proses transportasi, sehingga mengakibatkan kerugian bagi peternak secara ekonomi. Pemberian obat-obatan anti stres misalnya antioksidan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Antioksidan alami umumnya tidak memiliki efek samping, karena selain bekerja memperbaiki sel-sel yang rusak juga meningkatkan sistem imun ternak. Dalam penelitian ini digunakan formula anti stres alami berupa temulawak yang dikombinasi dengan penambahan asat sitrat dan molases di dalam ransum. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari manfaat pemberian formula anti stres alami berupa temulawak, asam sitrat, dan molases di dalam ransum pra transportasi terhadap performa domba jantan pasca transportasi.&#13;
Ternak yang digunakan sebanyak 20 ekor domba jantan berumur 12-14 bulan dan berat badan awal 29,76 ± 3,88 kg. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan berupa formula anti stres alami dan 5 kelompok ternak berdasarkan bobot badan domba sebelum perlakuan. Rancangan pertama digunakan pada saat pra dan pasca transportasi. Parameter yang diamati meliputi performa ternak pra dan pasca transportasi, pengaruh perlakuan pada respon fisiologis, dan profil darah pasca transportasi. Adapun ke empat perlakuan tersebut adalah: T0 = Pakan konsentrat + ampas tahu, T1 = T0 + 1% asam sitrat + 1% molases, T2 = T1 + 1% temulawak, dan T3 = T1 + 2% temulawak. Analisis data pada rancangan pertama menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan uji lanjut Duncan. Rancangan selanjutnya, yaitu RAK dengan 2 perlakuan dan 4 kelompok ternak berdasarkan bobot badan domba pasca transportasi. Rancangan kedua digunakan pada saat setelah sembilan hari pemeliharaan pasca transportasi menggunakan ternak dengan perlakuan T0 dan T3. Parameter yang diamati meliputi konsumsi nutrien, efisiensi pakan, income over feed cost (IOFC), dan profil darah setelah sembilan hari pemeliharaan. Analisis data pada rancangan kedua serta pengaruh waktu pada respon fisiologis dan profil darah menggunakan Paired Sample T-Test. Aplikasi yang digunakan berupa IBM SPSS Statistics 25. &#13;
Hasil penelitian tahap pra transportasi menunjukkan bahwa pemberian perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap performa ternak. Hasil penelitian tahap pasca transportasi menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata secara fisiologis terhadap denyut jantung dan suhu rektal, serta profil darah seperti eritrosit, leukosit, hemoglobin, hematokrit, limfosit, neutrofil, eosinofil, basofil, rasio neutrofil terhadap limfosit (N:L), blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin pasca transportasi, namun T1 berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap T2 pada laju respirasi, T3 berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap T0 dan T2 pada persentase penyusutan pasca transportasi, T2 dan T3 berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap  T0 pada monosit, dan T1 berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap T0 pada glukosa. Hasil penelitian antar waktu pada saat pra dan pasca transportasi tidak berpengaruh nyata terhadap laju respirasi dan suhu rektal, namun berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap denyut jantung. Hasil penelitian setelah sembilan hari pemeliharaan pasca transportasi menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan, konsumsi nutrien, efisiensi pakan, IOFC, eritrosit, leukosit, limfosit, neutrofil, eosinofil, monosit, N:L, glukosa, BUN, dan kreatinin, namun T3 berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap T0, T1, dan T3 pada tingkat pemulihan bobot badan, T3 berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap T0 pada hemoglobin, hematokrit, dan basofil. Hasil penelitian antar waktu pada saat pasca transportasi dan setelah 9 hari pemeliharaan tidak berpengaruh nyata terhadap eritrosit, leukosit, limfosit, neutrofil, eosinofil, monosit, basofil, dan N:L, namun berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap hemoglobin, hematokrit, glukosa, BUN, dan kreatinin. Simpulan penelitian ini adalah pemberian formula anti stres alami berupa temulawak, asam sitrat, dan molases dalam ransum pra transportasi mampu meningkatkan performa domba jantan pasca transportasi. Pemberian formula anti stres berupa 1% asam sitrat + 1% molases + 2% temulawak selama 3 hari pemberian pra transportasi menunjukkan hasil terbaik dengan menghasilkan bobot badan 1,59 kali lebih besar setelah 9 hari pemeliharaan pasca transportasi daripada tanpa pemberian. Formula anti stres berupa 1% asam sitrat + 1% molases + 2% temulawak juga mampu menjaga nilai denyut jantung dan suhu rektal dalam keadaan normal saat pra dan pasca transportasi, menurunkan persentase penyusutan dan meningkatkan proses pemulihan bobot badan domba saat pasca transportasi, serta menjaga nilai profil darah dalam keadaan normal pada saat pasca transportasi dan setelah 9 hari pemeliharaan, namun belum mampu memengaruhi pertambahan bobot badan secara signifikan.; Poor transportation processes can lead to injuries and decreased performance. Furthermore, livestock experience oxidative stress due to the formation of free radicals during transportation, resulting in economic losses for farmers. Administering anti-stress medications, such as antioxidants, can address these issues. Natural antioxidants generally have no side effects, as they repair damaged cells and boost the livestock's immune system. This study used a natural anti-stress formula consisting of curcuma combined with the addition of citric acid and molasses to the ration. The purpose of this study was to examine the benefits of providing a natural anti-stress formula consisting of Javanese turmeric, citric acid, and molasses in the pre-transportation ration on the post-transport performance of rams.&#13;
The livestock used were 20 male sheep aged 12-14 months with an initial body weight of 29.76 ± 3.88 kg. This study used a Randomized Block Design (RBD) with 4 treatments in the form of a natural anti-stress formula and 5 groups of livestock based on the sheep's body weight before treatment. The first design was used during pre- and post-transportation. The parameters observed included pre- and post-transportation livestock performance, the effect of treatment on physiological responses, and post-transportation blood profiles. The four treatments were: T0 = Concentrate feed + tofu dregs, T1 = T0 + 1% citric acid + 1% molasses, T2 = T1 + 1% Javanese turmeric, and T3 = T1 + 2% Javanese turmeric. Data analysis in the first design used Analysis of Variance (ANOVA) with Duncan's advanced test. The next design, namely RBD with 2 treatments and 4 groups of livestock based on the sheep's body weight after transportation. The second design was used after nine days of post-transportation maintenance using livestock with treatments T0 and T3. Observed parameters included nutrient consumption, feed efficiency, income over feed cost (IOFC), and blood profiles after nine days of rearing. Data analysis in the second design, as well as the effect of time on physiological responses and blood profiles, used a Paired Sample T-Test. IBM SPSS Statistics 25 was used as the application.&#13;
The results of the pre-transportation phase of the study showed that the treatment had no significant effect on livestock performance. The results of the post-transportation phase of the study showed that the treatment had no significant physiological effect on heart rate and rectal temperature, as well as blood profiles such as erythrocytes, leukocytes, hemoglobin, hematocrit, lymphocytes, neutrophils, eosinophils, basophils, neutrophil to lymphocyte ratio (N:L), blood urea nitrogen (BUN), and creatinine post-transportation. However, T1 had a significant effect (p&lt;0.05) on T2 on the respiration rate, T3 had a significant effect (p&lt;0.05) on T0 and T2 on the percentage of post-transportation shrinkage, T2 and T3 had a significant effect (p&lt;0.05) on T0 on monocytes, and T1 had a significant effect (p&lt;0.05) on T0 on glucose. However, it had a significant effect (p&lt;0.05) on respiration rate, post-transportation loss, monocytes, and glucose. The results of the inter-time study during the pre- and post-transportation phases had no significant effect on respiration rate and rectal temperature, but had a significant effect (p&lt;0.05) on heart rate. The results of the study after nine days of post-transportation maintenance showed that the treatment had no significant effect on body weight gain, nutrient consumption, feed efficiency, IOFC, erythrocytes, leukocytes, lymphocytes, neutrophils, eosinophils, monocytes, N:L, glucose, BUN, and creatinine, however, T3 had a significant effect (p&lt;0.05) on T0, T1, and T3 on the level of body weight recovery, T3 had a significant effect (p&lt;0.05) on T0 on hemoglobin, hematocrit, and basophils. The results of the inter-time study post-transportation and after 9 days of maintenance showed no significant effect on erythrocytes, leukocytes, lymphocytes, neutrophils, eosinophils, monocytes, basophils, and N:L, but had a significant effect (p&lt;0.05) on hemoglobin, hematocrit, glucose, BUN, and creatinine. The conclusion of this study is that the provision of a natural anti-stress formula in the form of Javanese ginger, citric acid, and molasses in the pre-transportation ration can improve the performance of rams after transportation. The provision of an anti-stress formula in the form of 1% citric acid + 1% molasses + 2% Javanese ginger for 3 days of pre-transportation administration showed the best results by producing a body weight 1.59 times greater after 9 days of post-transportation maintenance than without administration. The anti-stress formula in the form of 1% citric acid + 1% molasses + 2% Javanese ginger was also able to maintain heart rate and rectal temperature values in normal conditions during pre- and post-transportation, reduce the percentage of shrinkage and increase the process of recovery of body weight of sheep during post-transportation, and maintain blood profile values in normal conditions during post-transportation and after 9 days of maintenance, but has not been able to significantly affect body weight gain.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172624">
<title>Suplementasi Mineral Mikro Dalam Ransum Mengandung Minyak Ikan Lemuru Terhadap Performa, Fisiologis, Dan Nilai Ekonomi Ayam Sentul</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172624</link>
<description>Suplementasi Mineral Mikro Dalam Ransum Mengandung Minyak Ikan Lemuru Terhadap Performa, Fisiologis, Dan Nilai Ekonomi Ayam Sentul
Aurelia, Marsha Adinda
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan minyak ikan Lemuru yang dikombinasikan dengan suplementasi mineral Fe, Zn, dan Cr dalam ransum terhadap performa, status fisiologis, nilai ekonomi, dan energi metabolis ayam Sentul. Terdapat empat perlakuan pakan dengan lima ulangan masing-masing, yaitu P0 (pakan dengan 2,5% minyak sawit kasar sebagai kontrol), P1 (pakan dengan 2,5% minyak ikan Lemuru), P2 (P1 + 20 ppm Fe, 60 ppm Zn, 0,4 ppm Cr), dan P3 (P1 + 40 ppm Fe, 120 ppm Zn, 0,8 ppm Cr). Parameter yang diamati meliputi bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, konversi pakan, efisiensi pakan, organ dalam, profil hematologi, Income Over Feed Cost (IOFC), dan energi metabolis ayam sentul.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap performa pertumbuhan (P&gt;0,05). Analisis hematologi menunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah eritrosit, dengan nilai tertinggi pada perlakuan P2 (2,83 × 106 mm³). Kombinasi minyak ikan Lemuru dengan suplementasi mineral pada perlakuan P2 mampu meningkatkan efisiensi pakan, jumlah eritrosit, serta memberikan nilai ekonomi yang lebih baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan minyak ikan Lemuru yang dikombinasikan dengan suplementasi mineral mikro Fe, Zn, dan Cr dalam ransum aman diterapkan dan berpotensi mendukung performa pertumbuhan, status fisiologis, efisiensi ekonomi, dan efisiensi energi metabolis ayam Sentul sehingga dapat menjadi salah satu alternatif strategi nutrisi dalam pengembangan ayam lokal unggul.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172576">
<title>Perbaikan Kualitas  Serat Galur Sintetik Sutra Eri (Samia cynthia ricini) melalui Seleksi dan Optimasi  Degumming</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172576</link>
<description>Perbaikan Kualitas  Serat Galur Sintetik Sutra Eri (Samia cynthia ricini) melalui Seleksi dan Optimasi  Degumming
Russpita, Andwi
Serat sutra merupakan salah satu penunjang industri tekstil di Indonesia. Permintaan serat sutra yang cukup tinggi menyebabkan Indonesia melakukan impor dari negara penghasil serat, salah satunya dari Tiongkok. Ulat sutra eri (Samia cynthia ricini) memiliki potensi dalam menunjang kebutuhan dan permintaan serat di Indonesia karena sifatnya yang multivoltin. Galur sintetik sutra eri (Joglo, Pasopati, Jopati, dan Prasojo) yang dibudidayakan di Indonesia memiliki keunggulan adaptif terhadap wilayah marginal dan memiliki siklus larva yang lebih pendek (17-18 hari) sehingga proses pemeliharaannya dapat mengurangi biaya produksi peternak. Galur sintetik sutra eri masih menghadapi tantangan berupa nilai kuat tarik seratnya yang masih belum optimal sehingga dibutuhkan upaya perbaikan kualitas serat melalui metode seleksi dan optimasi teknik degumming multirespon. Penelitian ini menggunakan metode seleksi berupa penyeleksian bobot kokon 30% terbaik.  &#13;
Optimasi teknik degumming pada serat sutra telah banyak dipelajari, namun informasi terkait degumming multirespon masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan meningkatkan kualitas serat sebagai kandidat unggul subgalur sintetik penghasil fibroin dan serisin melalui program seleksi dan optimasi teknik degumming multirespon. Karakteristik morfometrik ulat dan kokon galur sintetik sutra eri diamati sebagai respon biologis yang merupakan potensi dari masing-masing galur. Serat sutra dioptimasi menggunakan pendekatan Response Surface Methodology (RSM) dengan variabel bebas berupa suhu (X1), waktu (X2), dan konsentrasi larutan Na2CO3 (X3) serta variabel terikat berupa bobot serat (Y1), panjang serat (Y2), dan tensile strength (Y3). Hubungan antara variabel bebas dan terikat dianalisis menggunakan rancangan Central Composite Design (CCD) untuk menentukan kondisi optimum dari masing-masing variabel. Serat sutra hasil optimasi degumming kemudian diobservasi di laboratorium untuk melihat kesesuaian model prediksi dengan nilai aktual. Serat sutra hasil optimasi &#13;
degumming dikarakterisasi kualitasnya melalui analisis tensile strength, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscope (SEM), dan tingkat kilau serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur Pasopati dan Prasojo memiliki performa yang stabil dari segi morfometrik maupun kualitas serat. Galur Pasopati dan Joglo memiliki serat yang lebih berkilau dibandingkan galur lainnya, sedangkan galur Prasojo memiliki nilai kuat tarik serat yang paling unggul (1408,35 MPa). Analisis FTIR menunjukkan bahwa puncak serapan amida pada masing-masing galur berada pada kondisi yang stabil sehingga tidak terdapat kerusakan gugus fungsi pada serat. Galur Pasopati dan Prasojo memiliki performa yang lebih stabil dilihat dari morfometrik ulat dan kokon, serta kualitas seratnya. Optimasi teknik degumming pada suhu 67,7 oC dengan konsentrasi larutan Na2CO3 sebanyak 0,053 N selama 27 menit mampu meluruhkan serisin dari fibroin tanpa merusak struktur serat dilihat dari hasil analisis SEM.; Silk fiber is essential for Indonesia's textile sector, driving high import levels from leading producers like China. The eri silkworm (Samia cynthia ricini), with its ability to reproduce up to five times annually due to its multivoltine biology, can fulfill Indonesia's fiber requirements. Indigenous synthetic silk varieties, such as Joglo, Pasopati, Jopati, and Prasojo, are beneficial because they thrive in marginal areas and have a shorter larval period of 17-18 days, which helps lower production costs. Nonetheless, enhancing fiber tensile strength remains challenging, as it is critical for textile use. Current efforts focus on improving fiber quality through selective breeding—ranking the top 30% by cocoon weight—and optimizing multiresponse degumming techniques. Although much research has been conducted on degumming methods, studies on multi-response degumming are scarce. This study seeks to enhance fiber quality by identifying superior synthetic substrains capable of producing fibroin and sericin, through a selection and optimization program targeting multi-response degumming techniques. The morphometric features of caterpillars and cocoons from synthetic eri silk lines were studied as biological indicators and potential markers for each line. Silk fibers were optimized through Response Surface Methodology (RSM), considering temperature (X1), time (X2), and Na2CO3 concentration (X3) as independent variables, and fiber weight (Y1), fiber length (Y2), and tensile strength (Y3) as dependent variables. The relationships between these variables were analyzed using a Central Composite Design (CCD) to identify optimal conditions. After optimizing degumming, fibers were tested in the lab to verify if the model predictions matched &#13;
actual outcomes. Their quality was further evaluated via tensile testing, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM), and luster measurement. Results indicated that the Pasopati and Prasojo strains consistently performed well in morphometrics and fiber quality. Mechanical testing showed that Prasojo had higher tensile strength, reaching 1408.35 MPa. Fiber luster ranged from 4.87 to 7.39 GU in Pasopati, suggesting promising potential. These findings mark notable progress and encourage further research. FTIR results confirmed the stability of the amide absorption peak, indicating no damage to fiber functional groups. Optimal degumming occurred at 67.7 °C with a Na2CO3 concentration of 0.053 N for 27 minutes, effectively removing sericin without harming the fiber structure.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
