<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73">
<title>MT - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173166"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173102"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173091"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173026"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-05-26T18:44:58Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173166">
<title>Pengaruh Resolusi Spasial Citra Drone Multispektral Terhadap Efektivitas Pemetaan Habitat Bentik Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173166</link>
<description>Pengaruh Resolusi Spasial Citra Drone Multispektral Terhadap Efektivitas Pemetaan Habitat Bentik Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu
Sari, Devi Aliyah
Habitat bentik merupakan suatu ekosistem perairan dangkal yang mencakup&#13;
padang lamun, makroalga, rumput laut, terumbu karang hidup, serta karang mati&#13;
dengan substrat pasir, lumpur, dan pecahan karang. Pemantauan habitat bentik&#13;
sangat penting dilakukan karena ekosistem ini memiliki berbagai manfaat ekologis&#13;
dan ekonomis. Salah satu bentuk pemantauan awal yang dapat dilakukan yaitu&#13;
dengan pemetaan habitat bentik. Saat ini, drone merupakan salah satu teknologi&#13;
yang efektif dan efisien untuk pemantauan habitat bentik. Namun, keberhasilan&#13;
dalam pemetaan habitat bentik menggunakan drone dipengaruhi oleh beberapa&#13;
faktor seperti resolusi spasial, faktor lingkungan, pemilihan metode pengolahan&#13;
citra yang tepat, dan waktu komputasi yang efisien. Studi ini bertujuan untuk&#13;
mengevaluasi pengaruh perbedaan resolusi spasial, penggunaan band dan&#13;
penggunaan algoritma terhadap hasil klasifikasi habitat bentik.&#13;
Pengambilan data lapang dilakukan pada tanggal 19 Mei 2024 sampai 23&#13;
Mei 2024 di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.&#13;
Pengambilan data habitat bentik dilakukan menggunakan teknik purposive random&#13;
sampling dan pengambilan data citra dilakukan menggunakan teknologi drone DJI&#13;
Phantom 4 Multispectral. Kelas habitat yang diidentifikasi yaitu kelas habitat&#13;
bentik seperti macroalgae (MA), coral with alga (CA), dead coral with alga&#13;
(DCA), live coral (LC), seagrass (SG), sand (S), dan rubble (R). Metode analisis&#13;
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pixel based analysis (PBIA)&#13;
dengan menerapkan agregasi spasial kelipatan lima dari citra aslinya. Algoritma&#13;
klasifikasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu support vector machine&#13;
(SVM), random forest (RF) dan extreme gradient boosting (XGBoost).&#13;
Hasil pemetaan habitat bentik menggunakan citra drone multispektral dan&#13;
RGB menunjukkan bahwa penurunan resolusi spasial dapat meningkatkan&#13;
efektivitas pemetaan. Penurunan resolusi menyebabkan ukuran data citra berkurang&#13;
signifikan, sehingga waktu komputasi menjadi jauh lebih efisien pada semua&#13;
algoritma. Secara bersamaan, nilai overall accuracy (OA) justru meningkat, dengan&#13;
nilai tertinggi yaitu hasil klasifikasi menggunakan algoritma XGBoost yaitu&#13;
91,80% pada citra multispektral dan 90,98% pada citra RGB. Hal ini disebabkan&#13;
oleh resolusi yang sangat tinggi (6 cm) yang cenderung menangkap variabilitas&#13;
spektral skala mikro seperti noise dan heterogenitas substrat yang menurunkan&#13;
konsistensi klasifikasi. Sebaliknya, resolusi yang lebih kasar menghasilkan agregasi&#13;
piksel yang meningkatkan homogenitas spektral, sehingga klasifikasi menjadi lebih&#13;
stabil dan akurat.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173102">
<title>DINAMIKA SPASIAL DAN TEMPORAL (2014-2023) PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI KAWASAN KONSERVASI PENYU PANTAI PANGUMBAHAN</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173102</link>
<description>DINAMIKA SPASIAL DAN TEMPORAL (2014-2023) PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI KAWASAN KONSERVASI PENYU PANTAI PANGUMBAHAN
Sukma, Mutiara Antini
Indonesia merupakan habitat bagi enam dari tujuh spesies penyu di dunia, salah&#13;
satunya penyu hijau (Chelonia mydas). Meskipun kajian mengenai habitat&#13;
peneluran penyu telah banyak dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, kawasan&#13;
konservasi yang juga berfungsi sebagai destinasi wisata masih menghadapi tekanan&#13;
akibat aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu keberlanjutan habitat&#13;
peneluran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial dan temporal&#13;
peneluran, serta faktor lingkungan yang mempengaruhi habitat peneluran penyu&#13;
hijau di Kawasan Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan. Hasil analisis spasial&#13;
menunjukkan bahwa frekuensi peneluran tertinggi terdapat pada Pos 2 dan terendah&#13;
pada Pos 6. Kondisi optimal di Pos 2, seperti kemiringan pantai yang landai, tekstur&#13;
pasir halus, vegetasi pandan yang lebat, serta stabilitas garis pantai, menjadi faktor&#13;
utama tingginya aktivitas peneluran. Kondisi ekstrem seperti pantai curam,&#13;
kedekatan dengan muara sungai, dan tingginya abrasi pada stasiun lain&#13;
menyebabkan rendahnya aktivitas peneluran. Secara temporal, peneluran penyu&#13;
hijau menunjukkan fluktuasi antar tahun (interannual variability) dan pola&#13;
musiman yang jelas. Tingkat keberhasilan peneluran umumnya berada di atas 50%&#13;
dari jumlah penyu yang mendarat, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2021&#13;
dan 2022. Jumlah penyu bertelur mengalami puncak pada tahun-tahun tertentu&#13;
seperti 2017 dan 2019, serta penurunan signifikan pada tahun 2018 dan 2022 yang&#13;
dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti abrasi pantai, gelombang tinggi, dan&#13;
curah hujan. Pola musiman menunjukkan peningkatan aktivitas peneluran pada&#13;
bulan April hingga Oktober, dengan puncak pada September–Oktober, kemudian&#13;
menurun hingga bulan Maret. Pengamatan in situ dilakukan pada bulan September&#13;
2024 di enam area peneluran melalui observasi lapangan dengan pengumpulan data&#13;
ekologis penyu dan parameter biofisik habitat. Hasil penelitian menunjukkan&#13;
ditemukannya 54 individu penyu hijau dengan total 54 sarang. Kondisi biofisik&#13;
Pantai Pangumbahan masih mendukung aktivitas peneluran, ditunjukkan oleh suhu&#13;
sarang yang tidak melebihi 30 °C, kelembaban sarang berkisar 66–75%, kedalaman&#13;
sarang 71–73 cm, dan diameter sarang 31–33 cm. Karakteristik pantai meliputi&#13;
kemiringan 8,9°–27,5°, lebar pantai 50–80 m, serta dominasi substrat pasir halus&#13;
dengan persentase lebih dari 78%. Vegetasi pantai yang ditemukan terdiri atas&#13;
pandan laut, katang-katang, dan ketapang. Beberapa proses peneluran terhambat&#13;
oleh abrasi pantai, kedekatan dengan aliran sungai, kemiringan pantai yang curam,&#13;
serta aktivitas manusia di sekitar kawasan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi&#13;
dasar ilmiah dalam upaya konservasi dan pengelolaan berkelanjutan habitat&#13;
peneluran penyu hijau di wilayah pesisir yang berada di bawah tekanan aktivitas&#13;
manusia dan perubahan lingkungan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173091">
<title>Karakteristik Sediaan Body scrub Residu Garam Ulva lactuca dengan Penambahan Beras (Oryza sativa)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173091</link>
<description>Karakteristik Sediaan Body scrub Residu Garam Ulva lactuca dengan Penambahan Beras (Oryza sativa)
Sinambela, Tioko Arzeti
Rumput laut Ulva lactuca berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kosmetik karena kandungan senyawa bioaktifnya. Pengolahan Ulva lactuca menjadi garam menghasilkan residu berupa butiran kasar yang berpotensi digunakan sebagai bahan abrasif alami dalam sediaan body scrub untuk menggantikan microbeads sintetis yang berisiko mencemari lingkungan. Namun, penggunaan residu garam secara tunggal dapat memengaruhi kenyamanan dan karakteristik fisik sediaan, sehingga diperlukan bahan tambahan alami. Beras putih (Oryza sativa) dipilih sebagai bahan pendukung karena memiliki kandungan antioksidan dan sifat abrasif ringan yang telah lama dimanfaatkan dalam perawatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi optimal beras putih (Oryza sativa) dalam formulasi body scrub berbasis residu garam Ulva lactuca 7%, berdasarkan evaluasi karakteristik kimia dan fisik produk (meliputi total fenol dan antioksidan, pH, viskositas, daya sebar, serta kelembaban sediaan).&#13;
Prosedur penelitian ini mencakup preparasi dan karakterisasi residu garam Ulva lactuca serta serbuk beras putih (Oryza sativa), diikuti dengan pembuatan body scrub dengan residu garam Ulva lactuca 7% dengan penambahan beras putih pada konsentrasi (6%, 8%, dan 10% b/b). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan beras putih (Oryza sativa) pada body scrub berbasis residu garam Ulva lactuca 7% memengaruhi karakteristik kimia dan fisik sediaan. Aktivitas antioksidan dan total fenol meningkat hingga konsentrasi 8% dan menurun pada konsentrasi 10%. Seluruh formulasi memiliki pH yang sesuai dengan persyaratan SNI 16-4399-1996. Nilai viskositas dan daya sebar menunjukkan perbedaan antar formulasi seiring peningkatan konsentrasi beras putih, sementara seluruh sediaan bersifat homogen dan bertipe emulsi minyak dalam air (M/A). Seluruh formulasi mampu meningkatkan kelembaban kulit setelah penggunaan, namun peningkatan kelembaban cenderung menurun dengan meningkatnya konsentrasi beras putih. Uji sensori menunjukkan perbedaan signifikan pada kenampakan, sedangkan aroma, warna, dan tekstur tidak berbeda nyata dan masih dapat diterima panelis. Seluruh sediaan tidak menimbulkan iritasi kulit. Sediaan body scrub terbaik diperoleh pada formulasi dengan penambahan beras putih 8% (F2), yang memiliki aktivitas antioksidan tergolong kuat, mengandung senyawa fenol, memenuhi persyaratan fisik SNI 16-4399-1996, serta aman digunakan.; Ulva lactuca seaweed has potential for cosmetic applications due to its bioactive compound content. The processing of Ulva lactuca into salt produces a residue in the form of coarse granules, which has potential as a natural abrasive material in body scrub formulations to replace synthetic microbeads that pose environmental risks. However, the use of salt residue alone may affect the comfort and physical characteristics of the formulation; therefore, an additional natural ingredient is required. White rice (Oryza sativa) was selected as a supporting material because it contains antioxidants and has mild abrasive properties that have long been utilized in skin care. This study aimed to determine the optimal composition of white rice (Oryza sativa) in a body scrub formulation based on 7% Ulva lactuca salt residue, based on the evaluation of the chemical and physical characteristics of the product (including total phenolic content and antioxidant activity, pH, viscosity, spreadability, and skin moisture).&#13;
The research procedure included the preparation and characterization of Ulva lactuca salt residue and white rice powder (Oryza sativa), followed by the formulation of body scrub containing 7% Ulva lactuca salt residue with the addition of white rice at concentrations of 6%, 8%, and 10% (w/w). The results showed that the addition of white rice (Oryza sativa) affected the chemical and physical characteristics of the body scrub formulation. Antioxidant activity and total phenolic content increased up to a concentration of 8% and decreased at a concentration of 10%. All formulations exhibited pH values within the range specified by SNI 16-4399-1996 for cosmetic products. Viscosity and spreadability varied among formulations with increasing white rice concentration, while all formulations were homogeneous and exhibited an oil in water (O/W) emulsion type. All formulations were able to increase skin moisture after application; however, the increase in skin moisture tended to decrease with increasing white rice concentration. Sensory evaluation showed a significant difference in appearance, whereas aroma, color, and texture did not differ significantly among formulations and were acceptable to panelists. All formulations did not cause skin irritation. The best body scrub formulation was obtained with the addition of 8% white rice (F2), which exhibited strong antioxidant activity, contained phenolic compounds, met the physical requirements of SNI 16-4399-1996, and was safe for use.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173026">
<title>Pengelolaan Kawasan Pesisir yang Terdampak Banjir  dan Penilaian Kerugian Ekonomi di Medan Belawan, Kota Medan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173026</link>
<description>Pengelolaan Kawasan Pesisir yang Terdampak Banjir  dan Penilaian Kerugian Ekonomi di Medan Belawan, Kota Medan
Naipospos, Hafiza Fikri
Banjir pesisir di Kecamatan Medan Belawan merupakan fenomena berulang &#13;
yang dipengaruhi oleh interaksi dinamika pasang surut, debit Sungai Belawan, &#13;
topografi dataran rendah, serta penurunan muka tanah yang progresif. Karakter &#13;
kejadian yang periodik dan semakin meluas menimbulkan tekanan ekonomi yang &#13;
signifikan terhadap masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis &#13;
dinamika spasial–temporal banjir pesisir, (2) mengestimasi nilai kerugian ekonomi &#13;
akibat banjir pada tiga sektor utama, dan (3) merumuskan strategi adaptasi berbasis &#13;
struktur kerugian dan pola paparan genangan.&#13;
Analisis spasial–temporal dilakukan menggunakan pemodelan hidrodinamika &#13;
HEC-RAS 1D steady flow untuk mensimulasikan interaksi antara pasang maksimum &#13;
dan debit sungai. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa luas genangan pada tahun &#13;
2025 mencapai 2.266 ha dengan kecenderungan peningkatan akibat kenaikan muka &#13;
laut sebesar 4,42 mm/tahun dan penurunan muka tanah sebesar 1–5 cm/tahun. Pola &#13;
temporal menunjukkan frekuensi banjir sekitar dua kali per bulan pada fase pasang &#13;
purnama, dengan durasi genangan 4–12 jam. Karakter genangan yang berulang dan &#13;
dapat diprediksi menunjukkan dominasi fenomena high tide flooding dan compound &#13;
flooding pada wilayah muara dan dataran rendah pesisir.&#13;
Estimasi nilai kerugian ekonomi dilakukan menggunakan pendekatan &#13;
Environmental Damage Assessment (EDA) dengan menggabungkan kerusakan &#13;
langsung (direct damage) dan kerugian tidak langsung (indirect loss) pada sektor &#13;
rumah tangga, unit bisnis, dan fasilitas umum. Total kerugian akibat banjir pesisir Juli &#13;
2025 diestimasi sebesar Rp6.048.478.626 per bulan. Struktur kerugian menunjukkan &#13;
dominasi sektor rumah tangga sebesar 78,55%, diikuti fasilitas umum sebesar 16,63% &#13;
dan unit bisnis sebesar 4,82%. Analisis spasial menunjukkan intensitas kerugian rata-&#13;
rata sebesar Rp6,1 juta per hektare per bulan, dengan intensitas tertinggi di Kelurahan &#13;
Belawan Bahagia sebesar Rp16,6 juta/ha/bulan. Temuan ini menunjukkan bahwa &#13;
tekanan ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh luas genangan, tetapi oleh kepadatan &#13;
aset dan intensitas aktivitas sosial-ekonomi pada ruang yang sama.&#13;
Sintesis antara pola genangan dan struktur kerugian menunjukkan bahwa &#13;
adaptasi yang paling efektif untuk menurunkan total kerugian ekonomi perlu &#13;
memprioritaskan perlindungan aset rumah tangga pada zona dengan intensitas kerugian &#13;
tinggi. Strategi adaptasi difokuskan pada pengurangan kerusakan aset non-produktif &#13;
dan perlindungan aset produktif melalui pendekatan mikro berbasis rumah tangga, &#13;
penguatan kontinuitas operasional usaha kecil, serta perlindungan fungsi layanan publik. Rekomendasi adaptasi dikembangkan melalui integrasi pendekatan grey &#13;
solution dan green solution yang berbasis pada hasil analisis spasial paparan genangan &#13;
dan distribusi kerugian ekonomi.&#13;
Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis melalui integrasi pemodelan &#13;
hidrodinamika estuari, estimasi nilai kerugian ekonomi berbasis sektor, dan perumusan &#13;
adaptasi berbasis struktur kerugian dalam satu kerangka analisis terpadu. Penelitian ini &#13;
membatasi estimasi nilai kerugian pada tiga sektor utama dan satu periode kejadian &#13;
banjir, sehingga nilai kerugian yang diperoleh merepresentasikan kerugian langsung &#13;
jangka pendek dan belum mencakup sektor perikanan, jasa ekosistem, serta dampak &#13;
makroekonomi jangka panjang. Temuan penelitian ini dapat menjadi dasar penentuan &#13;
prioritas adaptasi berbasis bukti dalam perencanaan wilayah pesisir perkotaan yang &#13;
menghadapi peningkatan risiko akibat kenaikan muka laut dan penurunan muka tanah
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
