<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71">
<title>MT - Agriculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173227"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173195"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173145"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173144"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-08T10:22:52Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173227">
<title>Potensi Carbon dots Kulit Nanas dan Buah Belimbing Wuluh dalam Mengendalikan Tobacco mosaic virus dan Aphis gossypii Glover.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173227</link>
<description>Potensi Carbon dots Kulit Nanas dan Buah Belimbing Wuluh dalam Mengendalikan Tobacco mosaic virus dan Aphis gossypii Glover.
Huriyah, Zahrotul
Carbon dots (CDs) adalah nanomaterial berbasis karbon berukuran &lt;10 nm tengah mendapat perhatian besar sebagai salah satu pendekatan berkelanjutan yang relatif lebih aman. CDs memiliki solubilitas tinggi, biokompatibel, dan toksisitas sangat rendah (negligible) dengan karakteristik khas fluoresens di bawah penyinaran ultraviolet. Selain itu, CDs memiliki karakteristik fungsional yang mudah dimodifikasi layaknya nanopartikel dalam mengendalikan virus tumbuhan. CDs dapat disintesis dengan strategi bottom-up dan top-down dari berbagai sumber, termasuk biomassa tanaman seperti kulit nanas dan belimbing wuluh yang banyak tersedia di lingkungan sekitar rumah. CDs selama ini lebih banyak dimanfaatkan dalam biomedicine sebagai antivirus, drug delivery, dan sensor. Pemanfaatannya dalam bidang proteksi tanaman masih jarang dikaji dan sampai saat ini belum terdapat laporan ilmiah terkait pemanfaatan CDs berbasis biomassa tanaman untuk mengendalikan virus tumbuhan dan serangga vektor, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menyintesis dan mencirikan CDs dari kulit nanas [Ananas comosus (L.) Merr.] dan buah belimbing wuluh [Averrhoa bilimbi (L.)] serta mengkaji potensi pemanfaatannya dalam mengendalikan infeksi Tobacco mosaic virus (TMV) (Virgaviridae: Tobamovirus) dan aktivitas insektisidanya terhadap kutu daun Aphis gossypii Glover. (Hemiptera: Aphididae). TMV merupakan virus penting dengan kisaran inang luas, mudah ditularkan secara mekanis, serta memiliki stabilitas partikel dan virulensi yang tinggi. Kutu daun merupakan hama dan vektor penting yang menularkan dan menyebarkan virus tumbuhan. Keduanya digunakan sebagai objek penelitian ini karena peran pentingnya dalam pertanian.&#13;
Sintesis CDs dari ekstrak kulit nanas dan buah belimbing wuluh dilakukan menggunakan metode microwave dan hydrothermal. Sebagai pembanding digunakan CDs dari bahan kimia asam askorbat (ascorbic acid). CDs dicirikan berdasarkan bentuk dan ukuran, sifat optik, dan gugus fungsional. Analisis karakteristik CDs dilakukan menggunakan high resolution transmission electron microscope (HR-TEM) untuk menentukan bentuk dan ukuran CDs, spectrofluorometer untuk menguantifikasi sifat photoluminescence (PL), spektrofotometer UV-Vis untuk mengukur penyerapan cahaya, dan spektroskopi fourier transform infrared (FTIR) untuk mengetahui gugus fungsi CDs.&#13;
Potensi CDs dalam mengendalikan TMV dilakukan dengan penyemprotan daun tanaman indikator Chenopodium amaranticolor pada 24 jam sebelum dan sesudah inokulasi TMV pada konsentrasi 100, 200, 300, dan 400 ppm. Parameter yang diamati berupa masa inkubasi, jumlah lesio lokal nekrotik (LLN), akumulasi virus secara serologi, dan tingkat hambatan relatifnya. Aktivitas insektisida CDs terhadap kutu daun dilakukan dengan penyemprotan secara langsung menggunakan konsentrasi terbaik dari pengujian pada tanaman indikator. Parameter yang diamati yaitu mortalitas kutu daun pada 12, 24, dan 48 jam setelah penyemprotan CDs.&#13;
CDs kulit nanas dan buah belimbing wuluh berhasil disintesis berukuran 5,5–9,8 nm dengan bentuk amorf hingga kristalin, memiliki luminesensi tinggi dan kemampuan penyerapan pada daerah ultraviolet. Masing-masing CDs tersusun oleh gugus hidroksil dari pelarutnya, alkena hasil karbonisasi, dan isothiocyanate yang umumnya berasal dari senyawa alami tanaman. Aplikasi penyemprotan daun dengan CDs, baik sebelum maupun sesudah inokulasi TMV, mampu menunda masa inkubasi sehari lebih lama dibandingkan kontrol tanpa perlakuan. Gejala infeksi TMV pada daun C. amaranticolor diawali dengan lesio lokal klorotik yang berkembang menjadi LLN. Peningkatan konsentrasi CDs yang digunakan menyebabkan makin sedikit jumlah LLN yang muncul. Perlakuan CDs secara nyata menghambat gejala LLN dibandingkan kontrol tanpa perlakuan dengan tingkat hambatan relatif berkisar 31%–91% bergantung jenis dan konsentrasi CDs. Akumulasi virus pada perlakuan CDs terdeteksi negatif TMV dengan keefektifan dalam menurunkan titer virus sebesar 25%–53%. Berdasarkan hasil penelitian waktu aplikasi sebelum atau sesudah inokulasi virus menunjukkan keefektifan sebanding dan konsentrasi terbaik CDs 400 ppm.&#13;
Kutu daun Aphis gossypii Glover. teridentifikasi berdasarkan bentuk tubuh membulat, tungkai panjang dan ramping, sepasang antena tegak, serta warna tubuh beragam dari kuning kehijauan hingga hijau kehitaman. Secara mikroskopis, A. gossypii memiliki ciri morfologi khas yakni sepasang kornikel dan kauda dengan 2–3 setae pada ujung abdomen.  Aplikasi semprot CDs pada kutu daun A. gossypii mampu menyebabkan mortalitas berkisar 35%–55% pada pengamatan 48 jam setelah penyemprotan CDs. CDs kulit nanas dan buah belimbing wuluh menyebabkan mortalitas kutu daun lebih tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan CDs asam askorbat sebagai pembanding, mengindikasikan aktivitas biologis CDs relatif sama. Berdasarkan hasil penelitian, CDs kulit nanas dan buah belimbing wuluh terbukti mampu menekan gejala LLN oleh TMV dan memiliki aktivitas insektisida terhadap kutu daun; mengindikasikan potensi CDs sebagai penginduksi ketahanan, bersifat antivirus, dan nanobioinsektisida. Potensi ini perlu dikaji lebih lanjut keefektifannya terhadap infeksi mekanis TMV pada mentimun inang aslinya dan perlu ditingkatkan keefektifan CDs sebagai nanobioinsektisida melalui doping dengan bahan-bahan lainnya.; Carbon dots (CDs), carbon-based nanomaterials measuring &lt;10 nm, are gaining significant attention as a relatively safe and sustainable approach. CDs are highly soluble, biocompatible, and exhibit negligible toxicity, with characteristic fluorescence under ultraviolet irradiation. Furthermore, CDs possess functional properties that can be easily modified, similar to those of nanoparticles, to control plant viruses. CDs can be synthesized using bottom-up and top-down strategies from various sources, including plant biomass such as pineapple peel and bilimbi fruit, which are readily available in the home environment. CDs have primarily been used in biomedicine as antivirals, drug-delivery systems, and sensors. Their use in plant protection has been rarely studied, and to date, there have been no scientific reports on the use of plant biomass-based CDs to control plant viruses and insect vectors, particularly in Indonesia. Therefore, this study aimed to synthesize and characterize CDs from pineapple peel [Ananas comosus (L). Merr.] and bilimbi fruit [Averrhoa bilimbi (L.)]  and to assess their potential use in controlling Tobacco mosaic virus (TMV) (Virgaviridae: Tobamovirus) infections and their insecticidal activity against aphids Aphis gossypii Glover. (Hemiptera: Aphididae). TMV is an important virus with a wide host range, is easily mechanically transmitted, and exhibits high particle stability and virulence. Aphids are important pests and vectors that transmit and spread plant viruses. Both were included in this study because of their important role in agriculture.&#13;
The synthesis of CDs from pineapple peel and bilimbi fruit was carried out using microwave and hydrothermal methods. CDs derived from ascorbic acid were used as a comparison. CDs were characterized by shape and size, optical properties, and functional groups. Analysis of CD characteristics was performed using a high-resolution transmission electron microscope (HR-TEM) to determine CD shape and size, a spectrofluorometer to quantify photoluminescence (PL) properties, a UV-Vis spectrophotometer to measure light absorption, and Fourier transform infrared (FTIR) spectroscopy to determine CD functional groups.&#13;
The potential of CDs in controlling TMV was determined by spraying the leaves of the indicator plant Chenopodium amaranticolor 24 hours before and after TMV inoculation at concentrations of 100, 200, 300, and 400 ppm. The parameters observed were the incubation period, the number of necrotic local lesions (NLL), the virus accumulation by serological test, and the relative inhibition level. The insecticidal activity of CDs against aphids was determined by direct spraying using the best concentration from the test on indicator plants. The parameters observed were aphid mortality at 12, 24, and 48 hours after the CDs spraying.&#13;
Pineapple peel and bilimbi fruit CDs were successfully synthesized with a size of 5,5–9,8 nm with an amorphous to crystalline form, possessing high luminescence and ultraviolet absorption capabilities. Each CD is composed of hydroxyl groups from the solvent, carbonized alkenes, and isothiocyanates, which are generally derived from natural plant compounds. Foliar spraying with CDs, both before and after TMV inoculation, delayed the incubation period by 1 day compared with the untreated control. Symptoms of TMV infection on C. amaranticolor leaves began with local chlorotic lesions that developed into NLL. Increasing the concentration of CDs used resulted in fewer NLL numbers. CD treatment significantly inhibited LLN symptoms compared with the untreated control, with relative inhibition rates ranging from 31%–91% depending on the type and concentration of CDs. Virus accumulation in the CDs treatment was detected as TMV-negative, with an effectiveness of reducing virus titer by 25%–53%. Based on the research results, the CDs application before and after virus inoculation demonstrated comparable effectiveness at the optimal concentration of 400 ppm.&#13;
Aphids Aphis gossypii Glover. are identified by their rounded body shape, long, slender legs, a pair of erect antennae, and varying body color from greenish-yellow to blackish-green. Microscopically, A. gossypii has distinctive morphological characteristics: a pair of cornicles and a cauda, with 2–3 setae at the tip of the abdomen. Spraying CDs onto A. gossypii aphids caused mortality ranging from 35%–55% at 48 hours after spraying. CDs derived pineapple peel and bilimbi fruit caused higher aphid mortality, but not significantly different from the ascorbic acid CDs used as a comparison, indicating relatively similar biological activity. Based on the research results, CDs derived pineapple peel and bilimbi fruit suppressed NLL symptoms caused by TMV and exhibited insecticidal activity against aphids, indicating their potential as resistance inducers, antiviral agents, and nano-bioinsecticides. This potential needs to be further studied for its effectiveness against mechanical infection of TMV in its native host, cucumber, and the effectiveness of CDs as a nanobioinsecticide needs to be increased through doping with other materials.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173195">
<title>Deteksi dan Identifikasi Fitonematoda Karantina pada Tanaman Bawang Putih (Allium sativum L.) Varietas Lokal dan Impor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173195</link>
<description>Deteksi dan Identifikasi Fitonematoda Karantina pada Tanaman Bawang Putih (Allium sativum L.) Varietas Lokal dan Impor
Fatimatuzzahroh
Budi daya tanaman bawang putih di Indonesia umumnya dikembangkan di daerah dataran tinggi dengan tanah yang subur. Bawang putih lokal merupakan hasil seleksi varietas oleh penangkar dan adaptasi terhadap kondisi agroekologi setempat. Varietas yang umum dibudidayakan adalah ‘Lumbu Putih’, ‘Lumbu Kuning’, dan ‘Lumbu Hijau’. Selain itu, terdapat varietas unggul yang dikembangkan secara spesifik di daerah tertentu, antara lain Tawangmangu Baru asal Tawangmangu, ‘Geol’ asal Temanggung, dan ‘Sangga Sembalun’ asal Sembalun.&#13;
Produksi bawang putih lokal di Indonesia pada 2015–2022 rata-rata 57.119 ton/tahun. Di sisi lain, rata-rata konsumsi mencapai 665.033 ton/tahun, menyebabkan ketergantungan terhadap bawang putih impor. Impor bawang putih sebagian besar dipasok dari Cina, Taiwan, dan Amerika Serikat. Tingginya volume impor ini berpotensi terintroduksinya organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) melalui bahan perbanyakan tanaman. Pemerintah merumuskan kebijakan tata niaga dan perlindungan petani lokal melalui regulasi impor.&#13;
 Kementerian Pertanian menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) melalui Permentan nomor 24 tahun 2018 yang mewajibkan importir menanam dan menghasilkan 5% bawang putih dari volume impor. Program RIPH pada periode 2017–2019 bawang putih impor varietas ‘Great Black Leaf’ (GBL) asal Cina digunakan sebagai bahan perbanyakan karena ketersediaan benih lokal sangat terbatas. Introduksi bawang putih impor pada program RIPH dapat menyebabkan infestasi OPTK A1 di lahan pertanaman bawang putih lokal. Laporan terkait keberadaan Ditylenchus spp. dan Aphelenchoides spp. pada tanaman bawang putih lokal perlu dikonfirmasi untuk mencegah risiko penyebaran dan menjadi salah satu faktor penghambat budi daya. &#13;
Pengamatan insidensi penyakit dan pengambilan sampel bawang putih lokal dilakukan di 43 lahan bekas penanaman bawang putih impor di Kabupaten Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) dan Kabupaten Temanggung (Jawa Tengah). Informasi mengenai teknik budi daya dilakukan melalui wawancara 43 petani secara langsung. Pengambilan sampel tanah dan tanaman dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria tanaman kerdil secara mengelompok, serta memiliki ujung daun menguning dan terpilin. Data informasi hubungan budi daya dan agroklimat terhadap insidensi penyakit dianalisis dengan uji Chi-square. Bawang putih impor diperoleh dari Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT) serta pasar tradisional yang dipilih dengan metode random sampling. &#13;
Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode flotasi sentrifugasi, pengabutan (mist chamber) dan modifikasi corong Baermann untuk sampel, tanah, sampel akar, serta sampel umbi dan daun. Ekstraksi DNA dilakukan dengan metode Holterman melalui homogenisasi 1–3 ekor nematoda ke dalam worm lysis buffer.&#13;
Identifikasi morfologi dilakukan dengan mengamati karakteristik kunci spesies mulai dari bagian anterior hingga posterior, sementara pengukuran morfometrik nematoda dilakukan berdasarkan formula De Man. Identifikasi secara molekuler dilakukan dengan PCR menggunakan primer universal (D2A-D3B) yang menargetkan gen 28S rRNA pada nematoda. Konfirmasi spesies fitonematoda OPTK dilakukan dengan primer spesifik Ditylenchus destructor dengan target ITS-rDNA dan Aphelenchoides fragariae (AFragF1-AFragR1) yang menargetkan daerah internal transcribed space (ITS1) nematoda. Runutan DNA hasil amplifikasi menggunakan primer universal D2A-D3B dianalisis melalui penyejajaran berganda ClustalW menggunakan BioEdit versi 7.2.5 dan analisis homologi menggunakan software SDT versi 1.3. Konstruksi filogenetik dilakukan dengan metode Maximum likelihood dan model Kimura 2-parameter 1000 bootstrap pada perangkat lunak MEGA 12.0.&#13;
Faktor budi daya dan agroklimat berhubungan dengan insidensi penyakit fitonematoda pada bawang putih lokal. Faktor tersebut meliputi penggunaan mulsa, penggunaan herbisida, jenis pengairan, tekstur tanah, pH tanah, suhu tanah, kemiringan lahan, serta ketinggian lahan. Pengamatan gejala penyakit akibat fitonematoda di lahan menunjukkan dua tipe gejala, yaitu nekrosis pada tajuk dan puru pada perakaran. Gejala nekrotik dan penyempitan daun dapat disebabkan oleh nematoda daun dari genus Aphelenchoides, sedangkan gejala puru pada perakaran disebabkan oleh Meloidogyne incognita. Insidensi penyakit akibat fitonematoda di Lombok Timur menunjukkan seluruh varietas memiliki nilai insidensi relatif rendah &lt;30%. Sebaliknya, di Temanggung insidensi penyakit cenderung lebih tinggi, terutama pada varietas ‘Geol’ yang mencapai 34,5%.&#13;
Analisis morfologi, morfometrik, dan molekuler menunjukkan bahwa fitonematoda (OPTK) A2, yaitu A. fragariae ditemukan pada kedua sentra produksi bawang putih lokal. Spesies lain yang ditemukan adalah A. bicaudatus, A. varicaudatus, dan A. pseudogoodeyi. Selain itu, M. incognita dan D. ferepolitor hanya ditemukan dari sampel Temanggung. D. destructor adalah OPTK A1 yang ditemukan terintersepsi pada sampel bawang putih impor dari pasar tradisional dan Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT).&#13;
Ciri morfologi Aphelenchoides yaitu bibir offset, metakorpus hampir memenuhi rongga tubuh, dan esofagus yang tumpang tindih atau overlap dengan usus. Pembeda antar spesies dapat dilihat dari bentuk mukro pada ujung ekor. Karakteristik morfometrik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa panjang tubuh (L), panjang stilet, rasio panjang dan lebar tubuh (a), rasio panjang tubuh dan panjang ekor (c), panjang ekor, serta panjang post uterine sac (PUS) dapat menjadi pembeda antar spesies pada betina. Morfologi M. incognita pada fase juvenil dua (J2) memiliki bentuk vermiform, bibir non offset, stilet pendek dengan knob tebal, dan ujung ekor memiliki hyaline. Morfologi D. ferepolitor bibir sedikit offset, stilet sangat pendek dengan knob kecil dan tebal, serta memiliki enam incisures pada bidang lateral.&#13;
Analisis molekuler pada enam spesies fitonematoda isolat Temanggung dan Lombok Timur dilakukan menggunakan primer D2A–D3B dengan target gen 28S rRNA (region D2–D3) berhasil teramplifikasi dengan fragmen berukuran ±780 pasang basa (pb). Hasil analisis penyejajaran pada masing-masing sekuens penelitian dengan sekuens pembanding menunjukkan adanya variasi nukleotida. Nilai pairwise identity pada masing-masing isolat berada di atas 90% dan memiliki kekerabatan terhadap isolat pembanding dari berbagai negara dan inang yang berbeda. Tingginya tingkat kemiripan ini mengindikasikan bahwa isolat yang diperoleh dari kedua lokasi memiliki kekerabatan yang dekat dengan spesies yang telah dilaporkan sebelumnya, meskipun berasal dari inang dan lokasi geografis yang berbeda. Konfirmasi spesies A. fragariae menggunakan primer spesifik AFragF1-AFragR1 berhasil teramplifikasi dengan ukuran fragmen ±169 pb. Selain itu, konfirmasi spesies D. destructor dari bawang putih impor menggunakan primer spesifik dengan gen target ITS-1 berhasil teramplifikasi dengan ukuran fragmen ±780 pb.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173145">
<title>Interaksi GxE Daya Hasil dan Tingkat Kepedasan F1 Silang Tunggal dan Silang Tiga Arah Interspesifik Capsicum frutescens x C. chinense</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173145</link>
<description>Interaksi GxE Daya Hasil dan Tingkat Kepedasan F1 Silang Tunggal dan Silang Tiga Arah Interspesifik Capsicum frutescens x C. chinense
Rizqi, Rizal Hanifur
Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan tanaman semusim yang termasuk dalam komoditas tanaman hortikultura yang memiliki produk berupa buah. Konsumen dalam memilih cabai mempertimbangkan tingkat kepedasan yang dimiliki oleh cabai. Tingkat kepedasan buah cabai dipengaruhi oleh kandungan zat capsaicin yang berasal dari kelompok senyawa kimia capsaicinoid. Peningkatan kepedasan cabai dilakukan dengan meningkatkan kandungan capsaicin lebih tinggi. Peningkatan capsaicin pada cabai dapat dicapai melalui program pemuliaan tanaman melalui persilangan interspesifik.&#13;
Cabai rawit dikenal dengan cabai yang memiliki produktivitas dan adaptasi yang baik di lapangan. Tingkat kepedasan cabai rawit umumnya berada pada nilai 120.000 SHU. Tingkat kepedasan cabai Carolina Reaper dapat mencapai hingga 2,2 juta SHU. Carolina Reaper sebagai Capsicum chinense memiliki kepedasan yang tinggi namun tingkat adaptasinya rendah. Penerapan metode persilangan interspesifik antara varietas diharapkan menghasilkan generasi baru cabai rawit dengan tingkat kepedasan lebih tinggi. Persilangan interspesifik pada tahap F1 silang tunggal dan silang tiga arah dalam tanaman cabai diharapkan dapat meningkatkan adaptasi dan tingkat kepedasan sehingga dapat mereduksi jumlah cabai yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat kepedasan tertentu.&#13;
Percobaan pertama evaluasi daya hasil dan tingkat kepedasan silang tunggal menunjukan interaksi genotipe dengan lingkungan yang sangat nyata pada karakter tinggi tanaman, diameter batang, panjang buah, diameter buah, panjang tangkai buah, bobot buah, jumlah buah, dan potensi hasil serta hasil yang nyata pada tebal daging buah. . Genotipe IPB 420 x IPB 388 memiliki daya hasil terbaik diantara hasil silang tunggal lainnya. Genotipe IPB 420 x IPB 388 memiliki rata-rata bobot buah (2,73 g), jumlah buah (199 buah) di lahan terbuka, rata-rata potensi hasil (11,48 ton/ha). Genotipe IPB 424 x IPB 388 memiliki tingkat kepedasan tertinggi diantara genotipe silang tunggal lainnya dengan nilai sebesar 557.900 SHU meskipun hasil uji lanjut menunjukan tidak berbeda nyata dengan IPB 432 x IPB 388, IPB 420 x IPB 388, dan IPB 434 x IPB 388.&#13;
Percobaan kedua evaluasi daya hasil dan tingkat kepedasan silang tiga arah menunjukkan interaksi genotipe dengan lingkungan nyata pada karakter tinggi tanaman, tinggi dikotomus, diameter batang, panjang daun, tebal daging buah, panjang tangkai buah, bobot buah, jumlah buah, potensi hasil dan tingkat kepedasan. Hasil silang tiga arah belum mampu melampaui daya hasil tetua C. Frutescens. Genotipe IPB 420 memiliki hasil lebih baik pada karakter daya hasil yaitu rata-rata bobot buah (2,39 g), rata-rata potensi hasil (7,77 ton/ha). Genotipe IPB 421 x IPB 388 // IPB 434 x IPB 388 memiliki rata-rata tingkat kepedasan tertinggi diantara genotipe silang tiga arah lainnya sebesar 446.783,33 SHU.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173144">
<title>Reproduction of Helopeltis theivora Waterhouse (Hemiptera: Miridae) and Egg Parasitoid Characteristics of Helopeltis spp. Infesting Eucalyptus in PT Toba Pulp Lestari and PT Riau Andalan Pulp and Paper, Sumatra</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173144</link>
<description>Reproduction of Helopeltis theivora Waterhouse (Hemiptera: Miridae) and Egg Parasitoid Characteristics of Helopeltis spp. Infesting Eucalyptus in PT Toba Pulp Lestari and PT Riau Andalan Pulp and Paper, Sumatra
Rohmah, Wildatur
Mirid bugs of the genus Helopeltis spp. (Hemiptera: Miridae) are major pests of Eucalyptus in Indonesia. These insects attack young shoots and leaves, causing puncture marks, necrotic lesions, shoot dieback, stunted growth, and even mortality of young plants. Egg parasitoids have potential as biological control agents; however, information on their species composition, biological characteristics, and ecological roles in Eucalyptus ecosystems in Indonesia remains limited. In addition, understanding the reproductive performance of Helopeltis theivora on different host plants is essential to support insect rearing and the provision of host eggs for parasitoid studies. This study aimed to (1) compare the reproductive performance of H. theivora on two host plants, (2) identify egg parasitoids associated with Helopeltis spp. eggs on Eucalyptus in PT Toba Pulp Lestari (TPL) and PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), (3) describe the abundance, parasitism rate, and biological characteristics of egg parasitoids, and (4) analyze the main ecological factors influencing parasitism rates of Helopeltis spp. eggs.&#13;
The study was conducted from May 2024 to January 2025. Reproductive performance tests of H. theivora were conducted using 20 pairs of one-day-old adults derived from the first generation (F1) of field-collected populations. The experiments were carried out on two host plants, Eucalyptus shoots and cucumber, with daily replacement of host material until female death. Observed variables included oviposition period, fecundity, daily egg production, and female longevity. Egg samples of Helopeltis spp. on Eucalyptus were collected purposively from infested trees in three TPL estates and three RAPP estates, then reared until parasitoid emergence. Parasitoids were identified based on morphological characteristics, and a dichotomous key was constructed. Observed parasitoid variables included species composition, parasitism rate, incubation period, emergence rate, sex ratio, and egg density per branch.&#13;
Data were analyzed using Microsoft Excel 365 and RStudio (Version 2024.9.01+94). Reproductive performance data of H. theivora on the two host plants were analyzed using two-sample tests (t-test, Welch’s t-test, or Wilcoxon test) based on data normality and variance homogeneity. Egg density per branch was analyzed using Welch ANOVA followed by the Games–Howell post hoc test at a 5% significance level. The number of egg parasitoids was analyzed using one-way ANOVA followed by Tukey’s HSD test. In addition, Conditional Inference Tree (CIT) analysis was applied to identify the main ecological factors influencing parasitism rates based on permutation-based independence tests (a = 0.05).&#13;
The results showed that the reproductive performance of H. theivora was influenced by host plant species. Individuals reared on cucumber exhibited higher fecundity (112.4 eggs/female) and daily egg production (10.6 eggs/day) than those reared on Eucalyptus shoots, indicating that cucumber is a more suitable alternative host plant for laboratory rearing of H. theivora. Egg density of Helopeltis spp. differed significantly between TPL and RAPP estates. Three egg parasitoids were recorded in this study: Chaetostricha sp. (Hymenoptera: Trichogrammatidae), Erythmelus helopeltidis (Hymenoptera: Mymaridae), and Telenomus sp. (Hymenoptera: Scelionidae). A dichotomous key was successfully developed to support identification. The parasitoid community was dominated by Telenomus sp., with the highest abundance and parasitism rate reaching 37.3%. Biologically, E. helopeltidis exhibited a shorter incubation period (8.27 days) and a higher emergence rate (44%) than the other parasitoid species. Parasitoid sex ratios were generally female-biased. CIT analysis identified parasitoid species richness as the main ecological factor influencing parasitism rates of Helopeltis spp. eggs. These findings provide important baseline information for the development of natural enemies as biological control agents against Helopeltis spp. in Eucalyptus plantations in Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
