<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69">
<title>Landscape Architecture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172893"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171868"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/163916"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162527"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-11T03:16:35Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172893">
<title>Defining Regenerative Zoo Exhibits: A Cross- Cultural Evaluation of Visitor Preferences to  Enhance Experience and Animal Welfare through landscape-Based Design</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172893</link>
<description>Defining Regenerative Zoo Exhibits: A Cross- Cultural Evaluation of Visitor Preferences to  Enhance Experience and Animal Welfare through landscape-Based Design
Nafar, Sholihin; Gunawan, Andi; Shibata, Shozo; Nurhayati
Zoos, as part of the components of urban parks, offer significant&#13;
potential for integrating sustainability and regenerative landscape principles&#13;
within city environments. Although these principles have been widely applied in&#13;
urban and ecological contexts, their specific application in zoo environments,&#13;
particularly in balancing visitor experience, animal welfare, and enhancing urban&#13;
overall livability remains underexplored. This study investigates regenerative zoo&#13;
exhibit strategies by evaluating visitor preference towards landscape elements.&#13;
The research was conducted through two previous case studies: Ragunan Zoo in&#13;
Jakarta, Indonesia, and Kyoto City Zoo in Kyoto, Japan. Visitor preferences were&#13;
assessed through surveys and visual simulations of various exhibit design models,&#13;
focusing on key landscape elements such as trees, water features, shrubs, and&#13;
environmental enrichment. The findings show that while naturalistic elements&#13;
consistently enhance animal welfare, visitor satisfaction is often influenced by&#13;
visibility and spatial openness, highlighting a potential trade-off in exhibit design.&#13;
Cross-cultural analysis shows both Japanese and Indonesian preferred a&#13;
naturalistic landscape setting for the visitor satisfaction and animal welfare. The&#13;
most influential landscape elements that influence the naturalistic landscape&#13;
setting are trees, water features, and shrubs on both case studies. However, the&#13;
degree of naturalistic landscape setting tends to be higher in the Japanese case&#13;
study compared to Indonesian case, which may be influenced by cultural&#13;
perceptions of animals and recreational expectations. This study proposes a&#13;
framework for regenerative zoo exhibit design that integrates ecological aesthetic,&#13;
animal behavioral enrichment, and human-animal interaction. These findings&#13;
contribute to the practical strategies for supporting both sustainable and inclusive&#13;
landscape design, especially in zoological settings.
</description>
<dc:date>2005-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171868">
<title>Perencanaan “Urban Landscape” Berbasis “Shinrin – Yoku”</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171868</link>
<description>Perencanaan “Urban Landscape” Berbasis “Shinrin – Yoku”
Zain, Alinda Fitriany Malik; Tanjung, Angelicha Nurmara
Shinrin-yoku, merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan pada suatu landscape dengan&#13;
tujuan untuk melakukan Forest Bathing. Sebagaimana kita ketahui Bersama “Forest Environment”&#13;
banyak diminati manusia sejak lama karena nilai estetika “natural landscape” yang sangat tinggi,&#13;
udara yang bersih dan segar, serta dapat menjadi tempat untuk mencari “quiet atmosphere” yang&#13;
dapat menjauhkan manusia dari kebisingan perkotaan.&#13;
Perencanaan Kawasan urban landscape, biasanya di awali dengan membuat Masterplan RTH&#13;
Kawasan Perkotaan, yang diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah nya. Sejak di wajibkan&#13;
nya penyediaan RTH sebesar 30 % di Kawasan perkotaan sesuai yang tertuang dalam UU 26/2007,&#13;
kota2 dan wilayah perkotaan dalam kabupaten berupaya memenuhi amanah undang-undang&#13;
tersebut. Perencanaan lanskap perkotaan harus ditujukan pada dua tujuan utama, yakni untuk&#13;
menjaga sustainability dari kota, dimana perencanaan ditujukan dengan pendekata ekologis;&#13;
serta untuk meningkatkan estetika kota agar para penduduk kota dapat menikmati keindahan&#13;
kota. Kota yang memiliki taman2 kota dan hutan kota yang memadai, akan memberikan dampak&#13;
positive kepada “urban dwellers”&#13;
Integrasi Shinrin-yoku ke dalam perencanaan lanskap kota bukan sekadar tren estetika, melainkan&#13;
urgensi kesehatan publik. Dengan memanfaatkan kekayaan botani tropis dan desain yang&#13;
berpusat pada sensorik manusia, kota dapat bertransformasi dari sumber stres menjadi sumber&#13;
energi pemulihan. Investasi pada hutan kota terapeutik adalah investasi jangka panjang untuk&#13;
kualitas hidup manusia di masa depan. ...
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/163916">
<title>Sketsa Dalam Arsitektur Lanskap</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/163916</link>
<description>Sketsa Dalam Arsitektur Lanskap
Utami, Fitriyah Nurul Hidayati
Sketsa adalah gambar yang dilakukan dengan cepat untuk mengungkapkan dan&#13;
mengembangkan gagasan/merancang, atau memvisualisasikan/mendokumentasikan) suatu&#13;
obyek. Bahasa gambar (termasuk gambar sketsa) jauh lebih komunikatif daripada bahasa&#13;
tulisan, seperti ungkapan popular “a picture is worth a thousand words”. Bagi arsitek lanskap,&#13;
lebih mudah untuk mempresentasikan ide dan pemikirannya dalam bentuk gambar. Sketsa juga&#13;
berperan penting dalam proses pembelajaran desain lanskap untuk membantu menggali ide-ide&#13;
desain yang kreatif dan estetis. Membuat sketsa dapat digunakan pada semua tahapan proses&#13;
desain, dari tahap membuat konsep, bahkan sampai proyek dibangun. Beberapa arsitek,&#13;
contohnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau dikenal dengan Romo Mangun, menggunakan&#13;
sketsa sebagai sarana utama mengkomunikasikan ide desain kepada klien. Kemampuan&#13;
menggambar sketsa dapat ditingkatkan dengan latihan terus-menerus, dengan cara&#13;
membiasakan keterampilan memindahkan obyek gambar secara langsung ke media kertas,&#13;
dengan membiasakan menarik garis-garis secara lentur dan berkarakter pada satu bidang&#13;
kertas. Dengan demikian, untuk membekali dan mengasah keterampilan tersebut, maka Mata&#13;
Kuliah Menggambar Sketsa diberikan kepada mahasiswa Program Studi S1 Arsitektur&#13;
Lanskap IPB.
</description>
<dc:date>2025-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162527">
<title>Geongang Jiap Bodo, Terapeutik Pada Taman Kota</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162527</link>
<description>Geongang Jiap Bodo, Terapeutik Pada Taman Kota
Pramukanto, Qodarian
Baleun jae-i-ui simjang (bahasa Korea) merupakan slogan&#13;
yang artinya “kaki adalah jantung kedua kita”. Slogan ini&#13;
menjadi pahatan prasasti tapak kaki pada salah satu taman&#13;
kota di pusat kota Bucheon, Korea Selatan (Gambar 1). Apa&#13;
sebenarnya fungsi tapak kaki sebagai simbol taman therapeutic yang dibangun berupa jalur lintasan dengan panjang hampir 500 meter ini ? Seberapa istimewakah alat gerak manusia -&#13;
untuk berjalan dan berlari ini, sehingga layak dianggap sebagai jantung kedua bagi kita ? Secara anatomis, tapak kaki kita&#13;
dan bagian “punggung”-nya, seperti juga tapak tangan dan&#13;
“punggung-nya”, serta daun telinga, mengandung ribuan&#13;
sensor penghubung ke keseluruhan bagian tubuh. Secara&#13;
khusus, sensor-sensor pada tapak kaki “lebih“ berhubungan&#13;
dengan jantung dan sistem peredaran darah, sedangkan sensor tapak tangan “lebih“ berhubungan dengan sistem syaraf&#13;
dan otak. Berdasarkan peran sentral sensor-sensor tapak kaki&#13;
sebagai pengendali kesehatan organ jantung, beserta organ&#13;
lain tentunya, diangkat slogan dalam memasyarakatan program taman terapeutik tersebut di negeri ginseng. Sensorsensor tersebut merupakan rangkaian simpul yang memetakan wilayah dan titik yang berhubungan dengan organ tubuh,&#13;
system kelenjar, bagian dan sistem tubuh lainnya. Peta wilayah-wilayah dan titik-titik tersebut merupakan miniatur tubuh&#13;
manusia. Representasi miniatur tubuh manusia pada tapak&#13;
kaki ini merupakan “tombol” pengendali organ beserta&#13;
jaringan-jaringan penghubung “instalasi” tubuh manusia&#13;
tersebut (Gambar 2). Pada tapak kaki terdapat belasan&#13;
jaringan meridian mikro dengan ratusan lebih titik akupunktur&#13;
yang berhubungan dengan organ tubuh dan jaringan yang&#13;
dikendalikannya.  ...
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
