<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/65">
<title>Animal Disease and Veterinary Health</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/65</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173828"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160387"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160142"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-12T06:52:39Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173828">
<title>Panduan Praktikum Mata Kuliah Penyakit Bakterial Dan Mikal</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173828</link>
<description>Panduan Praktikum Mata Kuliah Penyakit Bakterial Dan Mikal; Topik : Dermatofitosis
Budiono, Novericko Ginger; Sunartatie, Titiek; Indrawati, Agustin; Pribadi, Eko Sugeng
Praktikum ke-9 ini bertujuan untuk dapat mengisolasi dan mengidentifikasi jamur dermatofit. Mahasiswa diharapkan dapat mengambil sampel dari hewan yang diduga menderita dermatofitosis.&#13;
Dermatofitosis pada hewan peliharaan adalah penyakit kulit dengan infeksi jamur pada struktur kulit organisme dengan keratin. Jamur yang menyebabkan penyakit ini adalah dermatofit. Tiga jenis dermatofit adalah zoofilik, geofilik, atau antropofilik. Genus jamur yang dikenal sebagai penyebab dermatofitosis yakni Microsporum, Trichophyton, Epidermophyton, Nannizzia, Lopophyton, Arthroderma, Paraphyton, dan Guarromyces. Dua genus pertama paling sering ditemukan pada anjing dan kucing. Dermatofitosis pada anjing dan kucing penting karena memiliki gejala klinis yang tidak spesifik (pleomorfik), menular, dan memiliki potensi zoonosis. Pada sebagian besar inang yang sehat, dermatophytosis adalah penyakit kulit yang sembuh dalam beberapa minggu hingga bulan. Kehadiran dermatofit tidak normal pada hewan, oleh karena itu, dapat menjadi indikasi penyakit pada hewan.
</description>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539">
<title>Pelacakan Sianida Dalam Upaya Pencegahan Penggunaan Sianida Pada Destructive Fishing</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539</link>
<description>Pelacakan Sianida Dalam Upaya Pencegahan Penggunaan Sianida Pada Destructive Fishing
Pribadi, Eko S; Deskiharto, Arman
Selain menggunakan setrum, sodium sianida juga digunakan untuk&#13;
menangkap ikan hidup-hidup dari habitat aslinya. Setelah ditangkap, ikan-ikan&#13;
tersebut dipindahkan dan disimpan dalam air tawar untuk memulihkan dan&#13;
mengurangi jumlah sianida karena hampir 80% dari semua sianida diubah&#13;
menjadi anion tiosianat (SCN-&#13;
). Anion tiosianat (SCN-&#13;
) dihasilkan melalui jalur&#13;
metabolisme utama untuk mendetoksifikasi anion sianida (CN-&#13;
) dan kemudian&#13;
dikeluarkan melalui air seni (urin) (Rubec et al., 2002).&#13;
Penangkapan ikan menggunakan sianida dianggap merupakan cara&#13;
menangkap ikan karang yang mudah dan murah. Ikan karang bernilai tinggi&#13;
dapat ditangkap hidup-hidup (Frey 2012). Penggunaan sianid tidak selektif&#13;
terhadap jenis ikan yang akan ditangkap. Terumbu karang hidup dapat&#13;
teracuni oleh sianida. Paparan sianida diketahui menyebabkan pemutihan&#13;
karang di terumbu, karena sianida mengganggu simbiosis hubungan antara&#13;
polip karang dan zooxanthelle yang memberi nutrisi pada karang (Mak et al.,&#13;
2005; Almany et al., 2007).&#13;
Meskipun melawan hukum, penangkapan ikan dengan sianida masih&#13;
umum dilakukan oleh nelayan di masyarakat miskin dan pedesaan yang&#13;
mengandalkan perdagangan untuk mata pencaharian mereka (Frey, 2012;&#13;
Reksodihardjo dan Lilley, 2007).  ...
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160387">
<title>Penggunaan Sianida dalam Penangkapan Ikan dan Potensi Risiko dalam Kesehatan Lingkungan dan Masyarakat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160387</link>
<description>Penggunaan Sianida dalam Penangkapan Ikan dan Potensi Risiko dalam Kesehatan Lingkungan dan Masyarakat
Pribadi, Eko Sugeng; Deskiharto, Arman
Sodium sianida (NaCN) dan garam sianida lainnya digunakan secara luas dalam berbagai&#13;
kegiatan industri, termasuk industri penghasil pewarna, pigmen, nilon, dan agen khelasi;&#13;
pembersihan, pelapisan listrik, dan pengerasan logam; ekstraksi emas dan perak dari bijih;&#13;
pembuatan adiponitril; gasifikasi batu bara; dan pengasapan kapal, bangunan, dan tanah&#13;
(Zhengwei 2005).&#13;
Sodium sianida juga digunakan oleh nelayan Indonesia untuk menangkap ikan yang tidak&#13;
sesuai dengan hukum. Nelayan menggunakan sodium sianida untuk memingsankan ikan&#13;
kerapu, napoleon, dan ikan-ikan hias lainnya yang hidup di sekitar perairan karang (Puspito&#13;
2010). Padahal kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan, alat atau cara yang&#13;
merusak sumberdaya ikan maupun lingkungannya, seperti menggunakan bahan peledak,&#13;
bahan beracun, strum, dan alat tangkap lainnya yang tidak ramah lingkungan. Larutan sianida&#13;
sangat beracun bagi hewan laut yang lebih kecil dan terumbu karang, penggunaannya&#13;
terkenal sebagai praktik penangkapan ikan yang merusak dan ilegal, yang menyebabkan&#13;
degradasi terumbu karang yang parah. Cara penangkapan ikan seperti ini tentu dilarang oleh&#13;
Pemerintah melalui KepMen KP Nomor 114 tahun 2019 (Erdmann dan Pet-Soede 1997;&#13;
Petrossian 2015). Meskipun secara resmi dilarang, praktik ini masih banyak dilakukan di&#13;
seluruh Asia Tenggara. Praktik ini memasok perdagangan internasional ikan karang hidup di&#13;
Kalimantan Timur yang menguntungkan, khususnya ikan kerapu karang dan ikan kerapu&#13;
yang berakhir sebagai makanan laut mewah di kota-kota Asia yang sedang berkembang&#13;
(Fabinyi 2016; Pauwelussen 2022). ..
</description>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160142">
<title>Laporan Kasus: Suspek Hidronefrosis akibat Tumor Prostat pada Anjing di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160142</link>
<description>Laporan Kasus: Suspek Hidronefrosis akibat Tumor Prostat pada Anjing di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB
Amani, Aqila Zata; Darmawan, Aurelia Huriyah Fathin; Caesarani, Rizky Mastrinda; Ananda, Fawwazzaki; Kurniawan, Muhamad Azkaa; Ma’rufi, Yoga Sekar; Intan, Felisa Sonya; Idajanto, Amrullah Putra Pratama; Zuwono, Salma Aqilah; Hanna, Aisya; Afiqah, Nur; Wulansari, Retno; Wibowo, Deny Setyo
Seekor anjing jantan intact ras campuran berumur 16 tahun bernama Brownies dibawa ke&#13;
Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP), Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), IPB&#13;
University. Pasien datang dengan keluhan tidak mau makan hingga dua hari, berdiri dan jalan tidak&#13;
stabil, muntah, nistagmus, dan sempat jatuh terguling. Pemeriksaan fisik palpasi abdomen&#13;
menunjukkan adanya pembesaran serta nyeri pada kelenjar prostat. Setelah dilakukan pemeriksaan&#13;
penunjang hematologi, anjing menunjukkan penurunan jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit,&#13;
trombosit, dan PCT. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan penurunan kadar SGOT serta&#13;
peningkatan kadar BUN dan kreatinin. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan adanya formasi&#13;
kristal pada pyelum ginjal kiri, perubahan batas antara korteks dengan medula dan atrofi ginjal&#13;
kanan, peningkatan ketebalan vesika urinaria, serta perubahan ekogenitas parenkim dan ukuran&#13;
prostat. Hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya pembesaran pada prostat dan&#13;
preputium. Hasil pemeriksaan urinalisis menunjukkan peningkatan UPC serta adanya protein,&#13;
darah, kreatinin, dan leukosit. Kasus ini memiliki diagnosa banding yaitu hidronefrosis, tumor&#13;
prostat, prostatitis, dan neuron injury dengan prognosis infausta. Penanganan pada kasus ini&#13;
dilakukan dengan pemberian terapi berupa infus asering, suplemen, bronkodilatator, diuretik, serta&#13;
antiemetik.
</description>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
