<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64">
<title>Veterinary Clinic Reproduction and Pathology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160414"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160134"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153190"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-09T09:58:22Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468">
<title>Cystic Endometrial Hyperplasia Pada Kucing Maya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468</link>
<description>Cystic Endometrial Hyperplasia Pada Kucing Maya; STUDI KASUS
Rr. Soesatyoratih
Kucing merupakan salah satu jenis hewan yang banyak ditemukan di&#13;
lingkungan, baik sebagai hewan kesayangan (peliharaan) maupun sebagai&#13;
hewan liar. Beberapa faktor yang menyebabkan populasi kucing cukup tinggi&#13;
adalah siklus berahi, periode kebuntingan, dan frekuensi melahirkan yang cukup&#13;
sering dalam setahun. Kucing memiliki siklus birahi seasonal polyestrus, yaitu&#13;
birahi yang tidak bermusim, bisa terjadi kapan saja. Dalam satu periode&#13;
kebuntingan induk kucing dapat menghasilkan 1-6 ekor anak dan dalam setahun&#13;
kucing dapat beranak 1-3 kali. Apabila dikalkulasikan, seekor kucing dapat&#13;
menghasilkan sekitar 40 ekor anak selama 5 tahun masa hidupnya (Kennedy et&#13;
al. 2020).&#13;
Salah satu penyakit reproduksi yang dapat terjadi pada kucing betina yaitu&#13;
cystic endometrial hyperplasia (CEH). CEH merupakan suatu penyakit&#13;
reproduksi yang dikarakterisasikan dengan hiperplasia endometrium akibat&#13;
induksi progesteron yang disertai dengan keberadaan kista pada endometrium&#13;
(Agudelo 2005). CEH lebih jarang ditemukan pada kucing jika dibandingkan&#13;
dengan anjing. Hal ini disebabkan oleh rendahnya paparan progesterone&#13;
terhadap kucing karena kucing adalah hewan induced-ovulator, sehingga&#13;
perkembangan CEH memiliki risiko yang lebih rendah (Becha 2017). Pada&#13;
kucing, risiko kejadian CEH dapat meningkat seiring bertambahnya usia kucing&#13;
(Binder et al. 2020). CEH pada kucing umum ditemukan pada kucing betina yang&#13;
belum pernah melahirkan yang berusia lebih dari 3 tahun. ...
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160414">
<title>Evans Syndrome</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160414</link>
<description>Evans Syndrome
Kemuning, Asri Ragil
Evans Syndrome (ES) pertama kali diketahui oleh Robert Evans pada tahun&#13;
1951. Evans Syndrome merupakan penyakit autoimun yang langka, dimana sistem&#13;
kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang secara keliru menghancurkan&#13;
eritrosit, trombosit, dan kadang leukosit (neutrofil). Evans Syndrome (ES)&#13;
dikarakteristikan dengan perkembangan simultan atau sekuensial dari&#13;
Autoimmune Haemolytic Anemia (AIHA) dan Immune Thrombocytopenia&#13;
Purpura (ITP) dan/atau immune neutropenia tanpa etiologi yang mendasari,&#13;
sehingga Evans Syndrome merupakan diagnosa eksklusi ...
</description>
<dc:date>2024-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160134">
<title>Diagnosa Penunjang Ultrasonografi Pada Kasus Feline Infectious Peritonitis (FIP) Pada Kucing Milo</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160134</link>
<description>Diagnosa Penunjang Ultrasonografi Pada Kasus Feline Infectious Peritonitis (FIP) Pada Kucing Milo
Rr. Soesatyoratih
Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang umum dipelihara oleh masyarakat. Sebagai hewan peliharaan, hal tersebut menjadikan kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang sangat dekat dengan manusia. Seperti pada hewan lainnya, kucing rentan terhadap berbagai penyakit khususnya penyakit virus. Terdapat penyakit virus yang umum dan sering menginfeksi kucing salah satunya adalah Feline Infectious Peritonitis (FIP).&#13;
Feline Infectious Peritonitis (FIP) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Feline Coronavirus (FCoV). Coronaviruses merupakan salah satu virus yang telah beradaptasi selama jutaan tahun yang menyebabkan enteritis serta permasalahan respirasi (Pedersen 2014). Feline infectious peritonitis (FIP) merupakan salah satu infeksi virus dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada kucing (Jayanti et al 2021). Virus FCoV ditemukan pada sebagian besar populasi kucing domestik, kucing liar, dan kucing non-domestik di seluruh dunia dan FIP akan berkembang pada &lt;10% kucing yang seropositif terhadap FCoV (Brown  et al. 2009). Sampai saat ini tidak ada vaksin untuk penyakit ini di Indonesia, sehingga diperlukan pengetahuan mengenai virus ini untuk mengetahui pencegahan serta penanganannya (Arimbi 2010).
</description>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153190">
<title>Aktivitas Antitumor Kombinasi Ekstrakkeladi Tikus (Typhonium Flagelliforme) Denganinterferonalamiah Kucing Dan Anjing Secara Invivopadamencit Yang Diinduksi Subkutan7.12- Dimetilbenz(Α)Anthracne (Dmba).</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153190</link>
<description>Aktivitas Antitumor Kombinasi Ekstrakkeladi Tikus (Typhonium Flagelliforme) Denganinterferonalamiah Kucing Dan Anjing Secara Invivopadamencit Yang Diinduksi Subkutan7.12- Dimetilbenz(Α)Anthracne (Dmba).
Harlina, Eva; Sandriya, Ardi; Rostantinata, Riski; Nurcholis, Waras; Sutardi, Lina Noviyanti; Subangkit, Mawar; Ridho, Rachmi; Priosoeryanto, Bambang Pontjo
Kejadian tumor pada hewan tergolong tinggi, dan terapi tumor&#13;
menggunakan bahan herbal dan substansi biologi merupakan salah satu metodeyang memiliki efek samping yang rendah. Indonesia memiliki berbagai tanamanyang berpotensi sebagai anti tumor, salah satunya adalah keladi tikus (T. flagelliforme) yang dipercaya dapat mengurangi perkembangan sel tumor. Substansi biologi yang telah diketahui memiliki potensi sebagai antitumor adalahinterferon (IFN). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek penggunaankombinasi ekstrak etanol keladi tikus (T. flagelliforme) dan interferon alamiahsebagai agen antitumor. Penelitian ini menggunakan 18 ekor mencit betina galur&#13;
ddY yang diinduksi dengan 7.12-dimetilbenz (α) anthracne (DMBA) sebagai&#13;
substansi karsinogen. Mencit dibagi kedalam 6 kelompok, yaitu kelompok kontrol&#13;
(I), kelompok ekstrak etanol daun keladi tikus (II), kelompok nCaIFN(III), kelompok nFeIFN (IV), kelompok kombinasi ekstrak daun keladi tikus dannCaIFN (V), dan kelompok kombinasi ekstrak daun keladi tikus dan nFeIFN(VI). Jaringan tumor yang terbentuk diberi bahan uji selama selama 4 minggu. Selanjutnya semua jaringan tumor dikoleksi dan dibuat slide histopatologi yangdiwarnai dengan Hematoxylin-Eosin (HE) dan pewarnaan imunohistokimiaPCNA dan Caspase-3. Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan permukaankulit yang mengalami tumor mengalami alopesia dan kemerahan. Pada indikator&#13;
penambahan diameter dan berat badan, terdapat perbedaan nyata antara kelompokkontrol dengan kelompok yang diberi bahan uji (p&lt;0.05), dan terdapat perbedaannyata antara kelompok yang diberi bahan uji tunggal dibandingkan kelompokyang diberi kombinasi (p&lt;0.05). Pengamatan mikroskopis menunjukkan terbentuktiga jenis tumor yaitu anaplastic carcinoma, fibrosarcoma, dan squamous cell&#13;
carcinoma. Pada pengujian indeks mitosis dan angiogenesis terdapat perbedaannyata antara kelompok kontrol dengan kelompok yang diberi bahan uji (p&lt;0.05), dan terdapat perbedaan nyata antara kelompok yang diberi bahan uji tunggal&#13;
dibandingkan kelompok yang diberi kombinasi (p&lt;0.05). Pengujian terhadapPCNA dan Caspase-3, terdapat perbedaan yang nyata antara kelompok kontrol&#13;
dengan kelompok yang diberi bahan uji (p&lt;0.05), dan terdapat perbedaan nyataantara kelompok yang diberi bahan uji tunggal dibandingkan kelompokyang&#13;
4&#13;
diberi kombinasi (p&lt;0.05). Kombinasi ekstrak etanol daun keladi tikus daninterferon alamiah mampu menstabilkan berat badan, menghambat pertumbuhantumor, mengurangi terjadinya mitosis dan angiogenesis, serta menurunkanekspresi PCNA dan Caspase-3. Kelompok yang diberi kombinasi bahan uji&#13;
menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan kelompok yang diberi bahan uji&#13;
tunggal.
</description>
<dc:date>2024-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
