<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/59">
<title>Marine Science And Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/59</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121084"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120211"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120209"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120206"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-11T13:49:33Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121084">
<title>Seagrass Distribution Area Computations At Tidung Island, Seribu Islands Regency Jakarta Province, Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121084</link>
<description>Seagrass Distribution Area Computations At Tidung Island, Seribu Islands Regency Jakarta Province, Indonesia
Panjaitan, James P; S.B Susilo; Lasqita, Marta
Seagrass ecosystem posses important ecological aspects like primary production,&#13;
biota habitat, sedimentation catching area, nutrient recycling, and CO2 absorptions. Seagrass&#13;
plantation destructions may due to antropogenic activity causing seawater decreasing quality and&#13;
also coastal environmental. Development activity at coastal region like soil hoarding, landfill&#13;
and coastal transportation also posses huge contribution onto seagrass ecosystem damaging.&#13;
Seagrass ecosystem monitoring could be conducted utilising remote sensing technology. The&#13;
study is to compute and to map the distribution of seagrass areas exists on Tidung Island, and&#13;
evaluate the changes to some extent. Field data collections and satellite image processing were&#13;
conducted. The supervised classification performed on Sentinel 2A satellite images year 2017&#13;
and 2019 respectively. The image classification results indicated four classes, namely nonseagrass,&#13;
solid seagrass, medium seagrass and rarely seagrass. In 2017 seagrass areas obtained&#13;
43.47 hectares (0.435 km2) and non seagrass of 217.93 hectares (2,178 km2), but in 2019 the&#13;
seagrass areas of 58.67 hectares (0.587 km2) and non-seagrass of 202.73 hectares (2,027 km2).&#13;
There indicates a change in the seagrass into non-seagrass areas around 39.89 hectares (0.399&#13;
km2) and non-seagrass which became seagrass area of 24.69 hectares (0.247 km2). The accuracy&#13;
value obtained was 74.90 %. However, it has been succesfully conducted computations on&#13;
alteration seagrass areas and mapping spatially at Tidung Island, Indonesia.
</description>
<dc:date>2023-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120211">
<title>Utilization of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) for Tidal Flood Study Related to Land Subsidence in Muara Angke, North Jakarta</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120211</link>
<description>Utilization of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) for Tidal Flood Study Related to Land Subsidence in Muara Angke, North Jakarta
Pasaribu, Riza Aitiando; Lestari, Dea Fauzia; Cakasana, Nadya; Al Hakim, Muhammad Abdul Ghofur; Aditama, Farel Ahadyatulakbar; Lawoliyo, Joachim Yehezkiel Corry; Yasmin, Fida Zalfa Lathifah; Rani, Rizkyah Zahra; Kinanti, Krisanda Sekar; Ravelino, Muhammad; Puspitasari, Kayla Felisha
The Jakarta coastal location is placed in North Jakarta and borders the Java Sea. However, coral reefs have suffered widespread degradation in current years because of the effect of human disturbances and herbal elements on biodiversity and surroundings functions. It is thought that human sports cause 90% of coral reef harm and 10% is due to weather change. This could have an effect on excessive tidal waves, which purpose tidal flooding in coastal regions like Muara Angke. Land subsidence contributes to the phenomenon of tidal flooding in Jakarta. This tidal flood inundates components of the coastal plains or locations decrease than the excessive tide sea level. The method for determining the pool of water that floods the Muara Angke area is by knowing the highest tide and the slope of the area. This can make it easier to predict inundated areas. The tool used to detect the slope of the area using UAV. The results of a drone-based Digital Elevation Model (DEM) are more accurate. A tidal flood in Muara Angke is predicted to result in 5,82 ha using an elevation model. Increased exposure to flooding is a result of land subsidence. This is due to the HHWL's elevation of 0.73 meters above MSL. However, the Muara Angke loss estimate came to 99,5 million Rupiah, covering a total area of 2.72 ha and 0.43 ha (road).
</description>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120209">
<title>Persebaran ikan pelagis (Actinopterygii) di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia berdasarkan hasil identifikasi DNA Barcoding</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120209</link>
<description>Persebaran ikan pelagis (Actinopterygii) di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia berdasarkan hasil identifikasi DNA Barcoding
Lestari, Dea Fauzia; Subhan, Beginer; Arafat, Dondy; Pasaribu, Riza; Cakasana, Nadya; Setyaningsih, Wahyu Adi; L Claudia; W Wulandari; E Afrilliani; R Arachman; Imam; A Suryadamiri; S I Donnita; R A Saragih; N R Ilyas
Actinopterygii merupakan kelompok ikan yang mencakup separuh dari vertebrata yang hidup di bumi. Ikan Actinopterygii yang hidup di laut terbuka, lepas dari dasar perairan dan berada ke arah bagian lapisan permukaan disebut dengan ikan pelagis. Ikan pelagis merupakan kelompok ikan yang dijadikan buruan utama oleh para nelayan. Untuk mempermudah dalam pengelolaan perikanan wilayah perairan indonesia terbagi menjadi 11 wilayah yang disebut dengan Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI). Namun dalam pengelolaanya untuk mengidentifikasi spesies ikan masih cukup sulit karena beberapa spesies ikan memiliki tingkat kemiripan yang cukup tinggi. DNA Barcoding dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies dan keragaman genetiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran ikan pelagis Actinopterygii yang sudah berhasil diidentifikasi melalui metode DNA Barcoding berdasarkan WPP RI. Tahapan dalam penelitian yang pertama adalah mentabulasi data sekunder yang berasal dari jurnal, lalu diolah menggunakan Microsoft Excel untuk mendapatkan grafik, dan membuat peta sebaran dengan software ArcGis. Dari 76 data hasil tabulasi didapatkan bahwa WPP 713 memiliki jenis ikan tangkap paling banyak dan pada WPP 711, 718, dan 717 terdapat jenis ikan tangkap yang sangat sedikit. Pada ordo perciformes paling banyak menggunakan primer dengan primer yang paling dominan yaitu FISH-BCL dan FISH BCH. sedangkan primer yang paling sedikit digunakan adalah CB3R420 dan 12Sar430. Berdasarkan kit yang digunakan kit Accuprep merupakan kit yang paling sering digunakan sedangkan kit yang jarang digunakan dalam barcoding adalah kit gSYNC. Hasil ini dapat digunakan untuk sebagai data dalam melihat sebaran penggunaan DNA Barcoding dalam melakukan identifikasi ikan pelagis kelas Actinopterygii di wilayah perairan indonesia.
</description>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120206">
<title>Keanekaragaman Makrozoobentos di Ekosistem Mangrove Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120206</link>
<description>Keanekaragaman Makrozoobentos di Ekosistem Mangrove Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK)
Cakasana, Nadya; Pasaribu, Riza; Lestari, Dea Fauzia; Solikin, Steven; Setyaningsih, Wahyu Adi; Wulandari, Nib Tri; Ardiansyah, Muhammar; Salsabila, Dedies; Kirtan, Ravidas; Angelina, Gabrielle; Musyari, Nabil Zaidan; Gaol, Afriel Lumban; Husna, Difa Awliya
Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK) memiliki berbagai fungsi ekologis antara lain sebagai ruang lindung yang mampu mengatur air, mencegah banjir, mencegah intrusi air laut, dan mengendalikan erosi, dan rumah bagi sejumlah organisme salah satunya makrozoobentos. Kajian ini bertujuan mengetahui kenakearagaman dan kelimpahan makrozoobentos di HLAK. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling pada tiga stasiun menggunakan transek kuadrat. Analisis data meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indek keseragaman, dan indeks dominansi. Hasil yang diperoleh sebanyak 9 jenis makrozoobentos yang tersebar pada tiga stasiun terdiri dari 5 jenis dari kelas Gastropoda, 2 jenis dari kelas Decapoda, dan 2 jenis dari kelas Bivalvia. Spesies dengan kepadatan tertinggi yaitu Cassidula nucleus dari gastropoda dengan nilai 8.00. Indeks keanekaragaman sebesar 1,63 yang termasuk kategori sedang. Adapun kelimpahan relative dari kelas yang didapatkan yaitu kelas Gastropoda. Hasil analisis kelimpahan makrozoobentos tertinggi terdapat pada stasiun 2, yaitu sebesar 43.5%.
</description>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
