<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57772">
<title>Faculty of Animal Science Book's</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57772</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/133274"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113019"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76871"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69776"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-18T06:54:51Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/133274">
<title>Sapi Lokal Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/133274</link>
<description>Sapi Lokal Indonesia
Priyanto, Rudy
Sapi lokal merupakan sumberdaya ternak penghasil daging merah yang&#13;
sangat potensial di Indonesia. Populasi sapi lokal tahun 2022 tercatat sekitar&#13;
17,6 juta ekor yang terdiri lebih dari 25 rumpun. Sapi lokal berasal dari Bos&#13;
javanicus, Bos indicus dan Bos taurus maupun hasil persilangan dari ketiga&#13;
kelompok sapi tersebut.&#13;
Perkembangan rumpun sapi lokal tidak terlepas dari dinamika sistem&#13;
pertanian di Indonesia. Ternak sapi memiliki peran penting baik sebagai hewan&#13;
pekerja dalam pertanian maupun sebagai sumber pangan. Pola ini yang selama&#13;
ini dipraktekkan oleh peternak dari generasi ke generasi dan rumpun sapi lokal&#13;
yang berkembang berasal dari Bos javanicus, Bos indicus (draft type) dan hasil&#13;
persilangannya. Dalam perjalanannya, fungsi ternak sapi sebagai ternak kerja&#13;
berangsur tergantikan oleh mesin pertanian dan alat transpor. Disisi lain, terjadi&#13;
lonjakan permintaan akan daging sapi akibat perubahan gaya hidup karena&#13;
peningkatan ekonomi masyarakat, serta meningkatnya wisatawan dan&#13;
ekspatriat mancanegara. Dalam tahap ini, sapi lokal perlu ditingkatkan populasi&#13;
maupun produktivitasnya dengan cara persilangan yang menggunakan rumpun&#13;
sapi Bos taurus (beef type) melalui program inseminasi buatan sehingga&#13;
menghasilkan berbagai rumpun sapi lokal yang mengarah ke sapi tipe pedaging.&#13;
Sebagai konsekuensi, keberadaan berbagai rumpun sapi lokal yang&#13;
terbentuk saat ini memiliki keragaman bentuk dan ukuran kerangka tubuh&#13;
(frame size) yang berdampak pada perbedaan karakteristik pertumbuhan,&#13;
produktivitas karkas dan kualitas daging. ...
</description>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113019">
<title>Implementasi Sistem Breeding Sapi Pedaging Di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113019</link>
<description>Implementasi Sistem Breeding Sapi Pedaging Di Indonesia
Komariah; Audona, Rani [Editor}
Pemenuhan kebutuhan protein hewani khususnya daging masih belum dapat&#13;
mengimbangi permintaan dalam negeri sehingga masih diperlukan impor dalam&#13;
jumlah cukup besar. Dilihat dari populasi nasional populasi ternak besar pada tahun&#13;
2017 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan populasi 2016, kecuali&#13;
ternak kuda dan kerbau. Populasi sapi potong 16,4 juta ekor, sapi perah 0,5 juta&#13;
ekor, kerbau 1,3 juta ekor (penurunan 2,44%), dan kuda 0,4 juta ekor (penurunan 3,57&#13;
%). Walaupun secara data statistik terjadi peningkatan populasi sapi potong dari&#13;
tahun sebelumnya, namun peninngkatan tersebut masih belum dapat mencukupi&#13;
permintaan. Tercatat pad tahun 2017, total volume impor sub sektor peterrnakan&#13;
adalah 1,649 juta ton, sedangkan impor ternak saja senilai 169.208 ton dan tertinggi&#13;
adalah sapi sebesar 168.588 ton (Ditjen PKH 2018). Sapi pedaging atau sapi potong&#13;
merupakan salah satu jenis ternak ruminansia yang mempunyai kontribusi terbesar&#13;
sebagai penghasil daging, serta untuk pemenuhan kebutuhan pangan khususnya&#13;
protein hewani (Yuliana et al 2014).&#13;
Pembibitan sapi pedaging menjadi pilar penting dalam usaha ternak mengingat&#13;
pembibitan adalah suatu kegiatan pemeliharaan ternak dengan tujuan utama&#13;
pembibitan ternak. Pembibitan adalah kegiatan budidaya yang menghasilkan bibit&#13;
ternak untuk keperluan sendiri atau diperjual-belikan. Good Breeding Practice (GBP)&#13;
terdiri dari enam aspek, yaitu sarana dan prasarana, cara pembibitan, kesehatan&#13;
ternak, pelestarian fungsi lingkungan hidup, sumber daya manusia serta pembinaan&#13;
dan pengawasan (Sundra et al 2016).Keberhasilan Breeding pada sapi potong&#13;
terdiri dari bebersapa faktor : 1). Bibit (bangsa) ternak sapi potong yang digunakan,&#13;
karena setiap bangsa ternak sapi potong memiliki potensi yang berbeda-beda, 2).&#13;
Pakan untuk ternak sapi potong, karena kualitas dan kuantitas pakan sangat&#13;
mempengaruhi tumbuh kembang ternak. dari kriteria calon induk betina, umur induk,&#13;
dan tata kelola reproduksi (Amam dan Harsital 2019).
</description>
<dc:date>2022-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76871">
<title>Performa Pertumbuhan dan Kualitas Karkas Domba Lokal Muda dengan Ransum Mengandung Indigo/era sp.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76871</link>
<description>Performa Pertumbuhan dan Kualitas Karkas Domba Lokal Muda dengan Ransum Mengandung Indigo/era sp.
Rahayu s; Yamin M; Astuti DA; Priyanto R; Khotijah L
The aim of this experiment was to evaluate the growth performance and carcass quality of local male sheep Oonggol and garut) fed with pellet ration containing 30% Indigo/era sp. Sixteen local growing male sheeps consisting of eight UP3-jonggol and eight garut strains, with physiological state of weaning or balibu and young sheep), were used in this experiment for three months. The complete ration was pellet containing 30% of Indigo/era Sp. with 87.3% dry matter (DM), 18.1% crude protein and 73.8% total digestible nutrient (TDN). The animals were reared in individual cages with water and feed ad libitum. Parameters measured were average daily gain (ADG), daily feed consumption (FC) and feed conversion ratio (DFCIADG), carcass percentage and carcass composition. Data were analyzed by descriptif way. The results showed that average daily gain (ADG) of garut balibu lamb was the highest, but the highest feed conversion ratio was in UP3J balibu lamb. Meanwhile, carcass percentage of UP3J young sheep and carcass composition of garut young sheep were the highest. In general, it is concluded that growth and carcass performance of local sheeps fed with pellet containing 30% Indigo/era were good.
</description>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69776">
<title>Teknik Pengendalian Mutu Proses Produksi Pakan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69776</link>
<description>Teknik Pengendalian Mutu Proses Produksi Pakan
Sukria, Heri Ahmad; Koswara, Dedi
Berbagai perubahan dalam aspek sosial budaya, ekonomi, teknologi industri, dan teknologi informasi membuat dunia usaha berkembang secara pesat, termasuk industri pakan. Perusahaan pakan ternak tentu saja menghadapi tantangan untuk dapat tumbuh dan berkembang, sekaligus memenangkan persaingan yang tinggi dalam memperebutkan pasar. Perusahaan pakan ternak dituntut untuk memiliki keunggulan kompetitif, yaitu adaptif terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen yang selalu berubah serta berusaha untuk memenuhinya dengan cara yang lebih memuaskan darip2da yang dilakukan para pesaing. Mutu produk pakan yang dihasilkan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan perusahaan pakan ternak, karena akan menentukan persepsi konsumen tentang produk dan citra perusahaan itu sendiri.
</description>
<dc:date>2014-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
