<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/54502">
<title>Faculty of Human Ecology Book's</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/54502</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173570"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173213"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173212"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173075"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-10T12:13:44Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173570">
<title>KULINER DAN BUDAYA: Dinamika Pangan dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173570</link>
<description>KULINER DAN BUDAYA: Dinamika Pangan dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia
Ali Khomsan; Anwar, Khoirul; Iskandar, Adi; Asri, Muthia Novita; Melani, Vitria; karimah, Ima; Sulistiawati, Febrina; Kurniawati, Meti
Buku "Kuliner dan Budaya: Dinamika Pangan dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia" mengkaji peran penting pangan tidak hanya sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai representasi budaya, identitas sosial, dan dinamika kehidupan masyarakat. Buku ini menyajikan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan perspektif ilmu gizi, sosial, dan antropologi untuk memahami hubungan kompleks antara kuliner dan budaya di Indonesia.&#13;
Pembahasan diawali dengan konsep dasar kuliner dan budaya, termasuk bagaimana pangan menjadi bagian dari identitas dan nilai sosial masyarakat. Selanjutnya, buku ini mengulas antropologi pangan yang menyoroti pola makan sebagai produk sosial, simbolisme kuliner dalam ritual, serta dampak globalisasi terhadap transformasi budaya pangan. Keanekaragaman kuliner Nusantara dibahas sebagai warisan budaya yang sarat filosofi, sekaligus memiliki potensi dalam konteks gastronomi global.&#13;
Buku ini juga mengangkat isu stratifikasi sosial bahwa pangan menjadi penanda status, serta perubahan pola konsumsi akibat urbanisasi dan modernisasi. Selain itu, aspek keamanan pangan, pengolahan tradisional, serta inovasi teknologi menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan nilai gizi makanan.&#13;
Di bagian akhir, buku ini menyoroti tantangan kontemporer seperti transisi gizi, meningkatnya konsumsi pangan modern, serta permasalahan food loss dan food waste yang berdampak pada lingkungan dan ketahanan pangan. Buku ini juga menawarkan strategi berbasis budaya serta peluang inovasi kuliner berkelanjutan di era digital.&#13;
Secara keseluruhan, buku ini memberikan wawasan komprehensif dan relevan bagi akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam memahami dinamika kuliner sebagai bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173213">
<title>Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dan Problem Stunting</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173213</link>
<description>Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dan Problem Stunting
Khomsan, Ali; Fatimah, Hana; Priyatnasari, Nabila Sukma; Fikrah ’Arifah, Dzakiyyatul
Di tingkat rumah tangga konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Oleh karena itu, meningkatkan daya beli adalah hal utama yang harus dilakukan untuk terpenuhinya ketahanan pangan rumah tangga. Terkadang meski negara surplus produksi beras atau pangan lainnya, ini belum menjamin tercapainya ketahanan pangan rumah tangga. Distribusi pangan yang tidak merata menjadi kendala untuk mewujudkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.&#13;
Masyarakat yang mengalami rawan pangan bukan hanya golongan miskin, tetapi juga mereka yang berada sedikit di atas garis kemiskinan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Batas kemiskinan di Indonesia mungkin ditetapkan dengan cut-off point terlalu rendah, sehingga rumah tangga miskin sebenarnya sudah masuk kategori sangat sangat miskin dan mereka yang berada sedikit di atas garis kemiskinan sebenarnya sudah sangat miskin.&#13;
Ketahanan pangan merupakan konsep yang multidimensi yaitu meliputi mata rantai sistem pangan dan gizi mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, dan status gizi. Secara ringkas ketahanan pangan sebenarnya hanya menyangkut tiga hal penting yaitu ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan. ...
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173212">
<title>Gizi dan Penyakit Tidak Menular Edisi Revisi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173212</link>
<description>Gizi dan Penyakit Tidak Menular Edisi Revisi
Khomsan, Ali; Briawan, Dodik; Firdausi, Alya; Dewi, Puspita; Marliyati, Sri Anna; Riyadi, Hadi
Pertambahan penduduk secara signifikan akan memengaruhi kemampuan bangsa untuk menyediakan pangan, layanan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa harus bersiap diri untuk menyambut lahirnya bayi-bayi baru yang mungkin akan mewarisi segala persoalan sosial-ekonomi, kesehatan, dan masalah gizi yang kini sedang kita hadapi.&#13;
Mencermati lati transisi transisi demografi demografis yang terjadi secara global, maka kita bisa mengetahui bahwa sampai tahun 1800 total populasi dunia hanya sekitar 1 miliar orang. Sampai dengan abad ke 18, penduduk dunia mempunyai laju pertambahan yang sangat lambat. Hal ini disebabkan oleh kematian yang tinggi akibat perang, wabah, dan kelaparan.&#13;
Pada masa tersebut, industri belum menjadi tulang punggung ekonomi negara, pertanian belum modern, dan pelayanan kesehatan masih sangat kurang. Produksi pangan sering tidak mencukupi kebutuhan manusia sehingga kelaparan terjadi. Sampai-sampai Malthus sebagai ilmuwan pemikir begitu pesimis terhadap nasib umat manusia karena pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sementara produksi pangan mengikuti deret hitung.&#13;
Pada fase awal transisi demografis ini juga ditandai dengan tingginya angka kelahiran. Keluarga berencana belum muncul dan setiap orang berpikir untuk beranak banyak agar ada yang tersisa hidup sampai dewasa dan menggantikan orang tuanya. Dengan angka kelahiran tinggi dan angka kematian juga tinggi, maka secara keseluruhan pertumbuhan penduduk relatif lambat. ...
</description>
<dc:date>2026-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173075">
<title>Ekologi Pangan, Gizi, Dan Kesehatan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173075</link>
<description>Ekologi Pangan, Gizi, Dan Kesehatan
Khomsan, Ali; Husnul, Nisatami; Damayati, Dwi Santy; Rusyantia, Anggun
Menurut UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang&#13;
dimaksud dengan kemandirian pangan adalah kemampuan&#13;
negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang&#13;
beranekaragam dari dalam negeri yang dapat menjamin&#13;
pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat&#13;
perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya&#13;
alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara&#13;
bermartabat. Secara eksplisit di sini ditekankan tentang&#13;
pemanfaatan segala sumberdaya yang didukung oleh&#13;
kearifan lokal.&#13;
Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar&#13;
dari suatu bangsa. Hidup matinya suatu bangsa tergantung&#13;
pada kemampuan negara dalam mengelola pangan bagi&#13;
rakyatnya. Sejarah menunjukkan bahwa strategi penguatan&#13;
pangan dapat menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan&#13;
musuh. Bangsa yang kebutuhan pangannya banyak&#13;
tergantung dari negara lain akan menjadi bangsa yang rapuh,&#13;
apalagi apabila populasi bangsa tersebut besar seperti&#13;
Indonesia. Dengan demikian upaya untuk mencapai&#13;
kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional&#13;
bukan melulu persoalan ekonomi tetapi juga menyangkut&#13;
ketahanan nasional.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
