<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/52">
<title>Forest Resource Conservation and Ecotourism</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/52</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172906"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172905"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171897"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171798"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-11T17:45:31Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172906">
<title>Perkembangan Ekowisata Di Taman Nasional Karimunjawa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172906</link>
<description>Perkembangan Ekowisata Di Taman Nasional Karimunjawa
Aflaha, Fairuz Rafidah
Indonesia memiliki tujuh taman nasional laut, dan dua di antaranya terdapat di Pulau Jawa. Kedua taman nasional tersebut adalah Taman Nasional Kepulauan Seribu dan Taman Nasional Karimunjawa (Humas Kemensetneg RI, 2016). Kedua kawasan konservasi tersebut merupakan habitat penyu dan menjadi destinasi ekowisata populer. Jika dibandingkan dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Karimunjawa lebih sedikit diteliti. Salah satu penyebabnya adalah lokasi Taman Nasional Karimunjawa yang jauh dari pusat kota serta akses yang terbatas (Yaqin et al., 2025). Padahal, perairan Karimunjawa merupakan ekosistem penting penopang tiga jenis penyu yang ditetapkan sebagai spesies mandat, yakni penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea) (Direktorat Jenderal KSDAE, n.d.).&#13;
Pada mulanya, Karimunjawa ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut melalui Surat Keputusan No. 123/Kpts-II/1986 tanggal 9 April 1986. Kemudian, Karimunjawa ditetapkan menjadi taman nasional pada 29 Februari 1988 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 161/Menhut-II/1988 dalam kategori Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Selanjutnya, Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 78/Kpts-II/1999 tanggal 22 Februari 1999 menyatakan bahwa kawasan Cagar Alam Karimunjawa dan sekitarnya resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Sejalan dengan perkembangan manajemen kawasan konservasi, zonasi pada taman nasional ini ditetapkan pada tahun 2005 dan diperbarui pada tahun 2012 (Taman Nasional Karimunjawa, 2025a). ...
</description>
<dc:date>2025-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172905">
<title>Komunikasi Konservasi Dan Ekowisata Di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172905</link>
<description>Komunikasi Konservasi Dan Ekowisata Di Indonesia
Aflaha, Fairuz Rafidah
Degradasi lingkungan di era modern erat kaitannya dengan upaya konservasi sebagai salah satu solusi. Konservasi memiliki tiga pilar, yakni perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ketiga pilar ini penuh dengan jargon dan bahasa saintifik rumit yang seringkali sangat jauh dari topik obrolan masyarakat sehari-hari. Untuk itu, konservasi membutuhkan teknik-teknik komunikasi yang efektif agar masyarakat dapat turut serta mengokohkan ketiga pilar konservasi. Salah satu contoh populer keberhasilan komunikasi konservasi adalah kiprah The Sierra Club, organisasi lingkungan tertua di Amerika Serikat. Didirikan pada tahun 1892, organisasi ini dipimpin oleh John Muir, seorang naturalis, penulis, dan filsuf lingkungan keturunan Skotlandia-Amerika.&#13;
Misi The Sierra Club adalah "To explore, enjoy, and render accessible the mountain regions of the Pacific Coast; to publish authentic information concerning them [and] to enlist the support and cooperation of the people and government in preserving the forests and other natural features of the Sierra Nevada." Tak hanya mempopulerkan konsep wilderness tourism yang menjadi cikal bakal ekowisata, The Sierra Club juga memegang peran penting dalam pembentukan awal taman nasional dan wilderness areas seperti Yosemite National Park dan Grand Canyon, serta mengadvokasi pembentukan Dinas Taman Nasional dan badan-badan federal lainnya yang bertugas mengelola dan melindungi lahan publik (Clay, 2024; Gao, 2025; Young, 2008). Pencapaian-pencapaian organisasi ini menunjukkan bagaimana komunikasi konservasi dan ekowisata yang efektif dapat secara masif mengajak masyarakat luas melindungi ekosistem penting dan mempopulerkan rekreasi di alam terbuka. ...
</description>
<dc:date>2025-08-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171897">
<title>Beban Pencemaran Lingkungan Kota Depok</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171897</link>
<description>Beban Pencemaran Lingkungan Kota Depok
Priyono, Agus
Pembangunan di wilayah Kota Depok yang terus berkembang sebagai kota satelit bagi wilayah DKI Jakarta, selain berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat juga berdampak negatip pada lingkungan. Jumlah penduduk yang terus meningkat mengakibatkan perubahan penggunaan lahan termasuk di daerah aliran sungai (DAS) Sungai Ciliwung rentan terhadap pencemaran air yang berasal dari masukan limbah domestik, industri, peternakan, dan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kondisi pencemaran air Sungai Ciliwung dan hubungannya dengan penggunaan lahan DAS Ciliwung pada periode 2015–2019. Penggunaan lahan hutan, sawah, dan lahan terbuka mengalami penurunan luas pada tahun 2019, sebaliknya luas kebun campuran dan lahan terbangun meningkat. Parameter kualitas air Sungai Ciliwung yang tidak memenuhi baku mutu air kelas II adalah TSS, BOD, COD, DO, detergen, fosfat dan nitrit. Status mutu air Sungai Ciliwung berdasarkan indeks STORET adalah “cemar sedang” pada bagian hulu dan “cemar berat” pada bagian tengah hingga hilir. Beban pencemaran tertinggi bersumber dari limbah domestik dengan potensi peningkatan pencemaran adalah 1.489 mg/liter untuk parameter BOD, 2.217 mg/liter untuk parameter COD, 1.545 mg/liter untuk parameter dan TSS.
</description>
<dc:date>2025-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171798">
<title>Potensi Tumbuhan Pewarna dan Pestisida Nabati di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171798</link>
<description>Potensi Tumbuhan Pewarna dan Pestisida Nabati di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung
Siswoyo
Suoh District is one of the districts in West Lampung Regency which has a designated community forest area. This&#13;
area has the potential to have high plant diversity with the existence of a community forest area. Suoh District is also an&#13;
area in West Lampung Regency which is located quite far from the city center, so that the community tends to utilize&#13;
existing resources including dye plants and botanical pesticides. However, data regarding the use of dye plants and&#13;
botanical pesticides by the community in Suoh District is still unknown, so this research needs to be done. This study aims&#13;
to identify the potential of dye plants and botanical pesticides in Suoh District, West Lampung Regency, Lampung&#13;
Province. Based on the results of the study, it shows that the richness of dye plants and botanical pesticides in Suoh&#13;
District is 61 species which can be grouped into 36 families, with details of dye plants as many as 26 species and 23&#13;
families, while botanical pesticide plants are 46 species and 26 families. Parts of dye plants utilized by the community in&#13;
Suoh District consist of roots, leaves, flowers, fruits, seeds, bark, powder, rhizomes and tubers; Based on its use, dye&#13;
plants in Suoh District can be divided into 5 types, namely food and beverage dyes, food dyes, beverage dyes, textile dyes&#13;
and hair dyes; and based on the type of color they produce, dye plants in Suoh District can be divided into 8 types, namely&#13;
blue, brown, green, black, yellow. Red, orange, and white. Parts of botanical pesticide plants used by the community in&#13;
Suoh District consist of rice husk ash, roots, shells, stems, seeds, fruit, flowers, leaves, bran, bark, stems, sap, rhizomes,&#13;
and tubers; and based on its use, botanical pesticide plants in Suoh District can be divided into 9 types, namely fungicides,&#13;
insecticides, herbicides, molluscicides, nematodes, non-toxic, growth stimulants, fish poisons, and rodenticides.
</description>
<dc:date>2025-11-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
