<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/43925">
<title>SO-Human Ecology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/43925</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171052"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85228"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81456"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73613"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-22T23:43:12Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171052">
<title>Data Presisi untuk Pembangunan Desa: Manifesto Tindakan Kolektif menuju Dekolonisasi Data</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171052</link>
<description>Data Presisi untuk Pembangunan Desa: Manifesto Tindakan Kolektif menuju Dekolonisasi Data
Sjaf, Sofyan
Desa menjadi rumah mayoritas rakyat Indonesia, tetapi masih terperangkap dalam kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan struktural. Akar persoalan ini, tidak sematamata terletak pada kekurangan anggaran atau program, melainkan cara negara memandang dan memperlakukan desa sebagai objek pembangunan. Pusat dari relasi timpang ini adalah sistem pendataan yang top-down, agregatif, dan tidak partisipatif, yang tidak menangkap keragaman sosial, budaya, dan kerentanan lokal. Dalam era big data, data seyogyanya menjadi alat emansipasi, bukan sebaliknya menjadi alat dominasi. Warga desa tidak mengetahui tentang data apa yang dikumpulkan tentang mereka, oleh siapa, dan untuk kepentingan apa. Akibatnya, mereka menjadi tidak terlihat dalam kebijakan publik, terutama kelompok rentan, seperti: perempuan kepala keluarga, lansia, atau anak-anak disabilitas. Dalam banyak kasus, pendataan yang tidak akurat menyebabkan program bantuan sosial salah sasaran, memperkuat ketimpangan, dan merusak kepercayaan sosial di tingkat lokal. Tulisan ini mengkritisi teknokratisme pembangunan dan mengaitkannya dengan konsep kolonialisme data yang dikemukakan Nick Couldry dan Ulises Mejias. Negara memandang desa “dari atas”, menggunakan kategori statistik yang menyederhanakan kompleksitas sosial. Pengetahuan lokal, musyawarah warga, dan pengalaman komunitas dianggap tidak valid dalam sistem formal. Pendataan berubah menjadi proses ekstraktif, di mana warga hanya menjadi objek pencatatan, tanpa partisipasi, dan tanpa kendali atas data mereka sendiri.&#13;
Sebagai respons atas kondisi tersebut, ditawarkan pendekatan Data Desa Presisi (DDP). DDP bukan sekadar inovasi teknis, melainkan sebuah gerakan epistemik. DDP memadukan pendekatan mikro spasial, sensus menyeluruh, dan partisipasi warga secara aktif dalam seluruh proses. Dalam DDP, desa menjadi subjek pengetahuan: warga bukan hanya pemberi data, tetapi juga penafsir, pengguna, dan pemilik data. Dengan demikian, DDP mengusung tiga prinsip utama: (1) setiap keluarga terpetakan secara spasial dan sosial; (2) data digunakan untuk musyawarah dan pengambilan keputusan lokal, bukan hanya laporan birokratis; dan (3) desa memiliki kontrol penuh atas data, termasuk hak untuk menyimpan, mengatur akses, dan menggunakan data secara mandiri. Dalam hal ini, DDP merupakan bentuk nyata dari dekolonisasi data dan menjadi gerakan tindakan kolektif warga menuju kedaulatan pengetahuan. Akhirnya seruan manifesto kolektif dibutuhkan untuk membangun sistem data yang adil, partisipatif, dan demokratis; mendesak negara mengakui data komunitas sebagai dasar kebijakan; serta membangun aliansi antara desa, kampus, dan jaringan sipil sebagai kekuatan baru pengetahuan. Dalam dunia yang dipenuhi oleh dashboard dan algoritma, masa depan pembangunan harus dimulai dari desa dari data yang dimiliki, dipahami, dan diperjuangkan oleh warga itu sendiri.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85228">
<title>Gizi Dan Kesehatan Masyarakat: Tantangan Dan Intervensi Gizi Menghadapi Krisis Pangan Global</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85228</link>
<description>Gizi Dan Kesehatan Masyarakat: Tantangan Dan Intervensi Gizi Menghadapi Krisis Pangan Global
Kusharto, Clara M.
Sampai saat ini, Indonesia masih berkutat terus menangani dua&#13;
permasalahan utama yang mempengaruhi upaya peningkatan&#13;
kualitas kehidupan manusia, yaitu kemiskinan dan masalah gizi&#13;
(defisiensi gizi makro dan gizi mikro serta kelebihan gizi). Masalah&#13;
kemiskinan adalah penyebab mendasar dalam menentukan indeks&#13;
pembangunan manusia (IPM) sebagai indikator kemajuan suatu&#13;
negara. Masalah gizi merupakan gangguan kesehatan dan fisik&#13;
individu atau masyarakat yang disebabkan tidak terpenuhinya&#13;
kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari asupan makanan dan&#13;
minuman (selanjutnya disebut asupan makanan) yang erat kaitannya&#13;
dengan ketersediaan dan utilisasi makanan di dalam tubuh.&#13;
Selain itu, bagan yang dikembangkan oleh UNICEF (1998)&#13;
menunjukkan krisis ekonomi, politik, dan sosial merupakan akar&#13;
permasalahan kurang gizi. Sedangkan penyebab langsungnya adalah&#13;
ketidakseimbangan antara asupan makanan, yang berkaitan erat&#13;
dengan penyakit infeksi. Kekurangan asupan makanan membuat&#13;
daya tahan tubuh menjadi lemah, sehingga memudahkan terkena&#13;
penyakit infeksi. Pengaruh iklim tropis dan sanitasi lingkungan&#13;
yang buruk pun kian mempermudah terjadinya kurang gizi. Sampai&#13;
saat ini, di Indonesia masih terjadi tren prevalensi gizi kurang pada&#13;
anak-anak.
</description>
<dc:date>2011-10-29T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81456">
<title>Ketahanan Keluarga Indonesia: Dari Kebijakan Dan Penelitian Menuju Tindakan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81456</link>
<description>Ketahanan Keluarga Indonesia: Dari Kebijakan Dan Penelitian Menuju Tindakan
Sunarti, Euis
Pada tahun 1980-an PBB menyadari bahwa salah satu faktor kegagalan pembangunan di negara berkembang adalah diakibatkan program yang terlalu menempatkan  individu sebagai sasarannya, dan mengabaikan keluarga sebagai unit pengelola sumberdaya dan pengambil keputusan aspek kehidupan individu yang menjadi sasaran program tersebut. PBB mendeklarasikan Tahun 1984 sebagai tahun internasional keluarga dan menyerukan pentingya “strengthening the family”.  Sementara itu Indonesia merupakan negara yang memiliki kebijakan keluarga eksplisit sejak mengesahkan UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 diikuti  UU No 10 Tahun 1992 (menjadi UU No 52 Tahun 2009) yang mengatur pembangunan keluarga. Namun demikian setelah sekian lama pembangunan keluarga dijalankan, fakta menunjukkan masih besarnya masalah dan tantangan pembangunan keluarga Indonesia yaitu satu dari dua keluarga terkategori sebagai keluarga PraSejahtera dan Keluarga Sejahtera-1. Terlebih dengan semakin semakin meningkatnya masalah keluarga berkaitan dengan perubahan sosial-ekonomi, perkembangan kependudukan dan teknologi informasi, juga globalisasi. Hal tersebut semakin meningkatkan kesadaran pentingnya ketahanan keluarga dan percepatan pembangunannya.&#13;
Ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga dalam mengelola sumberdaya dan masalah keluarga, dengan dilandasi nilai yang dianutnya berusaha mencapai tujuan yang ingin dicapai yaitu kehidupan yang sejahtera dan berkualitas. Ketahanan keluarga (baik ketahanan isik-ekonomi, ketahanan sosial, dan ketahanan psikologis) ditunjukkan oleh pemenuhan peran, fungsi, tugas keluarga, dan bagaimana keluarga berinteraksi sepanjang kehidupannya.
</description>
<dc:date>2015-06-06T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73613">
<title>Komponen Fungsional Pangan, Gizi Seimbang Dan Nutrigenomik Untuk Mencegah Penyakit Tidak Menular Kronis Di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73613</link>
<description>Komponen Fungsional Pangan, Gizi Seimbang Dan Nutrigenomik Untuk Mencegah Penyakit Tidak Menular Kronis Di Indonesia
Damayanthi, Evy
Besar harapan saya agar karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan Ilmu Gizi dan Pangan yang mendasari pengembangan pemanfaatan berbagai pangan untuk kesehatan. Semoga implementasi hasil penelitian berupa peningkatan pemanfaatan pangan lokal bagi kesehatan dapat berguna bagi bangsa Indonesia dalam mencapai derajat kesehatan yang lebih optimal khususnya untuk mencegah penyakit tidak menular kronis.
</description>
<dc:date>2014-06-21T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
