<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/43923">
<title>SO-Economics and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/43923</link>
<description>Scientific Orations on Economics and Management</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85231"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73654"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73635"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73633"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-06T14:10:24Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85231">
<title>FTA Dan Daya Saing Industri Pertanian Indonesia Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Global</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85231</link>
<description>FTA Dan Daya Saing Industri Pertanian Indonesia Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Global
Oktaviani, Rina
Derajat keterbukaan dan interdependence perdagangan barang&#13;
dan jasa antarnegara yang semakin tinggi sejak akhir abad ke 20&#13;
memberikan konsekuensi saling ketergantungan antarnegara dalam&#13;
perekonomian di tingkat makro maupun sektoral. Beberapa negara&#13;
ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan juga China&#13;
bahkan memiliki tingkat keterbukaan yang tinggi di mana nilai&#13;
perdagangan (nilai ekspor ditambah dengan nilai impor) relatif&#13;
terhadap Gross Domestic Product (GDP) lebih besar dari 100%&#13;
(Gambar 1). Hal ini menunjukkan kondisi perdagangan dan&#13;
ekonomi mitra dagang Singapura, Malaysia, Thailand, dan China&#13;
sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi negara-negara&#13;
tersebut.&#13;
Pada kondisi krisis ekonomi global tahun 2008, IMF (2008)&#13;
mencatat performa perdagangan internasional sangat depressive pada&#13;
periode 2008-2009 seiring dengan pertumbuhan PDB riil Amerika&#13;
Serikat dan Uni Eropa yang melambat (masing-masing 0,1% dan&#13;
0,2%) serta neraca perdagangan yang defisit (masing-masing -3,3%&#13;
dan -0,4%) pada tahun 2009. Gambar 1 juga menunjukkan telah&#13;
terjadi penurunan nilai perdagangan per GDP pada tahun 2009&#13;
dibandingkan dengan tahun 2008 di sebagian besar negara akibat&#13;
pengaruh melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat&#13;
dan Uni Eropa yang merupakan mitra dagang utama.
</description>
<dc:date>2011-10-29T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73654">
<title>Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah Di Indonesia: Fakta Dan Strategi Inisiatif</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73654</link>
<description>Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah Di Indonesia: Fakta Dan Strategi Inisiatif
Firdaus, Muhammad
Masalah ketidakmerataan dalam pembangunan wilayah adalah masalah historis yang dihadapi oleh setiap negara mulai dari aras kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, kepulauan bahkan global. Dunia belahan selatan dianggap lebih tertinggal daripada  belahan utara. Beberapa negara seperti USA, China, dan Thailand menghadapi permasalahan yang berkebalikan dengan Indonesia: pembangunan wilayah bagian barat lebih tertinggal dibandingkan dengan bagian timur. Pulau Jawa bagian selatan secara umum lebih tertinggal dibandingkan daerah utara, atau kawasan pantai timur Sumatera yang lebih maju daripada kawasan pantai barat. Pada tingkat kabupaten misalnya, wilayah barat Kabupaten Bogor memiliki pertumbuhan baik ekonomi dan kesejahteraan  (diindikasikan tingkat pengangguran dan kemiskinan) yang lebih buruk dibandingkan dengan wilayah Kabupaten Bogor bagian tengah dan timur. Terjadinya fenomena tersebut dapat disebabkan oleh faktor keterbukaan/akses terhadap luar wilayah yang sudah berlangsung sejak lama. Ini menghasilkan ukuran pasar yang lebih besar karena konsentrasi jumlah penduduk di wilayah yang lebih maju tersebut; meskipun wilayah yang kurang berkembang tersebut banyak yang lebih kaya dengan sumberdaya alam.
</description>
<dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73635">
<title>Beberapa Masalah Dan Kebijakan Publik Tentang Infrastruktur: Tinjauan Dari Perspektif Ilmu Ekonomi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73635</link>
<description>Beberapa Masalah Dan Kebijakan Publik Tentang Infrastruktur: Tinjauan Dari Perspektif Ilmu Ekonomi
Priyarsono, Dominicus Savio
Tinjauan Singkat atas Perkembangan Perekonomian Indonesia Dalam perspektif sejarah sejak proklamasi kemerdekaan, terutama dalam sekitar lima puluh tahun terakhir ini, kita telah menyaksikan perkembangan perekonomian nasional yang sangat mengesankan. Dalam kurun waktu itu pendapatan rata-rata kita meningkat lebih dari lima kali lipat, sehingga kita telah naik kelas dari negara berpendapatan rendah menjadi negara berpendapatan menengah.
</description>
<dc:date>2014-11-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73633">
<title>Tantangan Baru Ekonomi Politik Indonesia Menghadapi Problema Lokal Dan Dinamika Global</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73633</link>
<description>Tantangan Baru Ekonomi Politik Indonesia Menghadapi Problema Lokal Dan Dinamika Global
Achsani, Noer Azam
Dalam dua dekade terakhir, dunia dilanda rangkaian krisis ekonomi dan keuangan yang cukup hebat. Krisis diawali dengan terdevaluasinya mata uang Baht Thailand sehingga menyebabkan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997/1998. Kemudian, terjadi perlambatan ekonomi dunia tahun 2001 yang diperburuk oleh tragedi World Trade Centerdi New York, 11 September 2001, sehingga berpengaruh luas terhadap pasar modal di berbagai negara. Pada 2008, krisis kredit perumahan (subprime mortgage)  yang melanda Amerika Serikat dengan cepat berubah menjadi krisis keuangan global. Tidak berhenti sampai di sana, krisis keuangan kembali terjadi pada tahun 2011, yang dipicu karena persoalan utang negara di kawasan Eropa. Sebagai negara small-open economy, Indonesia tidak bisa terlepas dari dampak berbagai krisis tersebut. Sebagai contoh, data tahun 2008 mencatat kejatuhan Indeks BEI (Bursa Saham Indonesia)  sebesar -43,3 % serta depresiasi Rupiah sebesar -16,88 % akibat krisis keuangan Amerika Serikat. Ekspor Indonesia juga mengalami penurunan yang diakibatkan oleh penurunan permintaan di negara tujuan. Pelemahan Rupiah serta penurunan ekspor pada akhirnya memicu penurunan cadangan devisa Indonesia. Kondisi yang sama  dan bahkan lebih buruk dialami pula oleh semua negara di Asia, tak terkecuali Jepang, China, Korea, Singapura maupun India.
</description>
<dc:date>2014-09-20T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
