<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36">
<title>UF - Geophysics and Meteorology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179763"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179674"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178651"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178537"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-29T19:45:30Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179763">
<title>Variabilitas Iklim Musiman dan Hubungannya dengan Dinamika Luas dan Kondisi Kanopi Mangrove di Belitung Timur</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179763</link>
<description>Variabilitas Iklim Musiman dan Hubungannya dengan Dinamika Luas dan Kondisi Kanopi Mangrove di Belitung Timur
Syahputra, Muchayat Aziz
Variabilitas iklim musiman dapat berkaitan dengan perubahan kondisi hidroklimatologis dan respons kanopi mangrove. Penelitian ini menganalisis karakteristik iklim, dinamika luas area mangrove terdeteksi, kondisi kanopi, serta hubungan temporal di antara keduanya di Kabupaten Belitung Timur. Data iklim harian 2010-2025 dianalisis bersama citra Sentinel-2 Level-2A 2019-2025. Area mangrove diidentifikasi menggunakan Mangrove Vegetation Index (MVI) dengan ambang yang dikalibrasi terhadap Peta Mangrove Nasional 2024, sedangkan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi kanopi. Curah hujan lebih berfluktuasi dibandingkan suhu udara, dengan rata-rata curah hujan 8,88 mm/hari, suhu 26,66 °C dan hujan harian maksimum mencapai 232,3 mm. Juni-Agustus 2019 merupakan musim terkering dengan 160,8 mm hujan, 12 hari hujan, dan 40 consecutive dry days (CDD), sedangkan September-November 2022 merupakan periode terbasah. Rata rata luas mangrove berdasarkan MVI mencapai 9.133,15 ha, maksimum 10.686,75 ha pada September-November 2020 dan minimum 7.068,75 ha pada September November 2023, kanopi lebat mendominasi 82,11% area dengan NDVI valid. CDD satu musim sebelumnya menunjukkan hubungan temporal terkuat dengan kejadian penurunan luas dengan (R² = 0,704), sedangkan curah hujan maksimum satu hari paling lemah. Perubahan area MVI dan NDVI merupakan respons penginderaan jauh dan tidak dapat membuktikan kehilangan tegakan, kesehatan ekologis, atau hubungan kausal tanpa validasi lapangan.; Seasonal climate variability may be associated with hydroclimatic changes and mangrove canopy responses. This study analyzed climate characteristics, detected mangrove area dynamics, canopy condition, and their temporal relationships in East Belitung. Climate data from 2010-2025 were analyzed with Sentinel-2 Level-2A imagery from 2019-2025. Mangrove areas were identified using the Mangrove Vegetation Index (MVI), with thresholds calibrated against the 2024 National Mangrove Map, while the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) classified canopy condition. Rainfall fluctuated more strongly than air temperature, with daily rainfall averaging 8.88 mm/day, temperature 26.66 °C, and maximum daily rainfall reached 232.3 mm. June-August 2019 was the driest season, with 160.8 mm rainfall, 12 rainy days, and 40 consecutive dry days (CDD), whereas September-November 2022 was the wettest season. Mean MVI-detected mangrove area was 9,133.15 ha, reaching 10,686.75 ha in September-November 2020 and 7,068.75 ha in September-November 2023 within dense canopy dominated 82.11% of the NDVI-valid area. One-season-lagged CDD showed the strongest temporal relationship with detected area-decline events (R² = 0.704), whereas maximum one day rainfall was weakest. MVI and NDVI changes represent remotely sensed responses and could not demonstrate physical stand loss, ecological health, or causality without field validation.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179674">
<title>Potensi Mitigasi Emisi CO2 Melalui Implementasi PLTS untuk Memenuhi Konsumsi Listrik Area BRIN KST B.J. Habibie</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179674</link>
<description>Potensi Mitigasi Emisi CO2 Melalui Implementasi PLTS untuk Memenuhi Konsumsi Listrik Area BRIN KST B.J. Habibie
Jaya, Adinda Salsabila Kesuma
Tingginya konsumsi listrik suatu area diduga berkontribusi terhadap emisi karbon, khususnya ketika pemenuhan listrik masih bergantung pada jaringan berbasis bahan bakar fosil, sehingga pemanfaatan energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu opsi mitigasi yang perlu dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi emisi baseline serta potensi implementasi dan reduksi emisi PLTS, serta mengevaluasi indikasi kelayakan biaya mitigasi melalui pendekatan Marginal Abatement Cost (MAC) di area BRIN KST B.J. Habibie. Analisis dilakukan menggunakan data konsumsi listrik tahun 2024 dari 81 pelanggan PLN, kajian potensi sumber daya surya, serta pendekatan Equivalent Annual Cost dengan asumsi umur teknis PLTS 25 tahun, tingkat diskonto 10%, dan biaya operasi-pemeliharaan tahunan sebesar 1% dari investasi awal secara konstan. Hasil perhitungan menunjukkan estimasi emisi baseline sebesar 24.861,69 tCO2/tahun. Pada skenario implementasi 100%, PLTS diestimasikan membutuhkan daya output aktual sebesar 15.896,52 kWp dengan energi aktual 26.724.867,31 kWh/tahun, serta berpotensi menurunkan emisi hingga 23.250,63 tCO2/tahun (93,52% dari baseline). Analisis MAC menghasilkan nilai negatif sekitar -Rp710.448/tCO2 pada seluruh skenario, yang mengindikasikan adanya potensi penghematan biaya dari implementasi PLTS pada kondisi asumsi yang digunakan. Namun, hasil ini masih merepresentasikan kondisi ideal dengan parameter teknis dan ekonomi yang diasumsikan konstan, sehingga diperlukan kajian lanjutan yang mempertimbangkan variabilitas cuaca, degradasi panel, serta dinamika kebijakan dan pasar untuk memperoleh gambaran yang lebih representatif.; High electricity consumption in an area is presumed to contribute to carbon emissions, particularly when electricity supply still relies on a fossil fuel-based grid, making the utilization of renewable energy such as Solar Photovoltaic (PV) power systems a mitigation option worth examining. This research aims to estimate baseline emissions along with the implementation and emission-reduction potential of solar PV, as well as to assess indications of mitigation cost feasibility through a Marginal Abatement Cost (MAC) approach in the BRIN KST B.J. Habibie area. The analysis employed 2024 electricity consumption data from 81 PLN customers, an assessment of solar resource potential, and an Equivalent Annual Cost approach assuming a 25-year technical lifetime, a 10% discount rate, and a constant annual operation and maintenance cost of 1% of the initial investment. The results indicate estimated baseline emissions of 24,861.69 tCO2/year. Under the 100% implementation scenario, the solar PV system is estimated to require an actual output capacity of 15,896.52 kWp, generating an actual energy output of 26,724,867.31 kWh/year, with a potential emission reduction of up to 23,250.63 tCO2/year (93.52% of baseline). The MAC analysis yielded a negative value of approximately -IDR 710,448/tCO2 across all scenarios, indicating a potential cost saving from solar PV implementation under the assumptions used. However, these results still represent idealized conditions with technical and economic parameters assumed constant, so further studies incorporating weather variability, panel degradation, and policy or market dynamics are needed to obtain a more representative picture.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178651">
<title>Komparasi Model LSTM dan GRU untuk Prediksi Curah Hujan dan Suhu Udara Harian di Kabupaten Garut</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178651</link>
<description>Komparasi Model LSTM dan GRU untuk Prediksi Curah Hujan dan Suhu Udara Harian di Kabupaten Garut
Akhwati, Anisa Sri
Perubahan iklim dan tingginya variabilitas cuaca menyebabkan prediksi&#13;
curah hujan dan suhu udara harian menjadi semakin penting, khususnya di&#13;
Kabupaten Garut yang memiliki kondisi topografi beragam dan rawan bencana&#13;
hidrometeorologi. Penelitian ini bertujuan membangun serta membandingkan&#13;
kinerja model Long Short-Term Memory (LSTM) dan Gated Recurrent Unit (GRU)&#13;
dalam memprediksi curah hujan dan suhu udara harian di Kabupaten Garut.&#13;
Penelitian menggunakan data harian curah hujan dan suhu udara NASA POWER&#13;
periode 2016–2025. Data dibagi menjadi 80% data latih dan 20% data uji, kemudian&#13;
melalui tahap prapemrosesan berupa transformasi logaritmik, normalisasi&#13;
MinMaxScaler, serta pengujian tambahan menggunakan smoothing simple moving&#13;
average. Kombinasi hyperparameter terbaik diperoleh menggunakan metode&#13;
random search, sedangkan performa model dievaluasi menggunakan Root Mean&#13;
Squared Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), dan Mean Absolute Scaled&#13;
Error (MASE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan smoothing&#13;
meningkatkan akurasi prediksi pada kedua model dengan menurunkan nilai RMSE,&#13;
MAE, dan MASE. Model LSTM menghasilkan nilai kesalahan yang lebih rendah&#13;
dibandingkan GRU, untuk data tanpa maupun dengan smoothing, sehingga dipilih&#13;
sebagai model terbaik untuk prediksi curah hujan dan suhu udara harian di&#13;
Kabupaten Garut.; Climate change and increasing weather variability have made daily rainfall&#13;
and air temperature prediction increasingly important, particularly in Garut&#13;
Regency, which has diverse topographic conditions and is prone to&#13;
hydrometeorological disasters. This study aimed to develop and compare the&#13;
performance of the Long Short-Term Memory (LSTM) and Gated Recurrent Unit&#13;
(GRU) models for daily rainfall and air temperature prediction in Garut Regency.&#13;
The study utilized daily rainfall and air temperature data obtained from NASA&#13;
POWER for the 2016–2025 period. The dataset was divided into 80% training data&#13;
and 20% testing data, followed by preprocessing, including logarithmic&#13;
transformation, MinMaxScaler normalization, and additional experiments using&#13;
simple moving average smoothing. The optimal hyperparameter combination was&#13;
determined using the random search method, while model performance was&#13;
evaluated using Root Mean Squared Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE),&#13;
and Mean Absolute Scaled Error (MASE). The results showed that the application&#13;
of smoothing improved the predictive performance of both models by reducing&#13;
RMSE, MAE, and MASE values. The LSTM model produced lower prediction&#13;
errors than the GRU model for both the original and smoothed datasets, making it&#13;
the best-performing model for daily rainfall and air temperature prediction in Garut&#13;
Regency.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178537">
<title>Proyeksi Kenaikan Muka Laut dan Dampaknya Terhadap Genangan di Pesisir Kota Surabaya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178537</link>
<description>Proyeksi Kenaikan Muka Laut dan Dampaknya Terhadap Genangan di Pesisir Kota Surabaya
SHABRINA, FILDZA SALIMATU
Surabaya adalah kota yang rentan terhadap genangan akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah karena terletak di pesisir dengan elevasi rendah. Studi ini memproyeksikan kenaikan permukaan laut dan memetakan genangan pesisir di Surabaya dengan mempertimbangkan faktor global, regional, dan lokal di bawah skenario iklim SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Genangan permanen diproyeksikan dengan menggabungkan kenaikan permukaan laut global, data altimetri muka laut, dan deformasi vertikal yang diperoleh dengan metode DInSAR. Genangan periodik diproyeksikan dengan menambahkan nilai pasang tinggi pada periode ulang 2, 10, dan 50 tahun. Proyeksi kenaikan permukaan laut di Surabaya pada tahun 2060 mencapai 0,486 m untuk SSP2-4.5 dan 0,632 m untuk SSP5-8.5. Rata-rata laju deformasi permukaan tanah berkisar antara -0,061 hingga 0,037 m/tahun. Pada tahun 2060, sekitar 20% wilayah Surabaya diproyeksikan akan tergenang secara permanen dengan ketinggian rata-rata mencapai 2,08 m dan luas genangan sebesar 6.776 ha untuk SSP2-4.5, dan tinggi mencapai 2,11 m dengan luas 7.175 ha untuk SSP5-8.5. Hasil proyeksi genangan periodik menunjukkan hampir 50% tinggi genangan berada pada rentang 0 hingga 2 meter pada seluruh periode proyeksi. Dampak genangan meliputi aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi, terutama di daerah dengan genangan tinggi, seperti pantai timur dan utara Surabaya.; Surabaya is a city that is vulnerable to inundation from sea level rise and land surface deformation because it lies on the coast at low elevation. This study projects sea level rise and maps coastal inundation in Surabaya, accounting for global, regional, and local factors under SSP2-4.5 and SSP5-8.5 climate scenarios. Permanent inundation is projected by combining global sea level rise, altimetry data, and vertical deformation from DInSAR. For periodic inundation, projections add high tide values at 2, 10, and 50 year return periods. Projected sea level rise in Surabaya by 2060 is 0,486 m for SSP2-4.5 and 0,632 m for SSP5-8.5. The average annual land-surface deformation rate ranges from -0,061 to 0,037 m/year. Approximately 20% of Surabaya is projected to be permanently inundated, with average inundation depths of 2,08 and 2,11 m and inundated areas of 6.776 and 7.175 ha under SSP2-4.5 and SSP5-8.5, respectively. The results of the periodic inundation projections show that almost 50% of the inundation height is in the range of 0 to 2 meters in all projection periods. The impacts of inundation include social, environmental, and economic aspects, especially in areas with high inundation, such as the eastern and northern coasts of Surabaya.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
