<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27">
<title>Doctoral Final Assignments</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27</link>
<description>Dissertations of IPB's Ph.D. student</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177856"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177781"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177731"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177730"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-08T22:47:37Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177856">
<title>Mitigasi Stres Pasca Transportasi pada Sapi Lokal: Kajian  Terintegrasi Performa Produksi, Respons Fisiologis, dan Metabolit Darah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177856</link>
<description>Mitigasi Stres Pasca Transportasi pada Sapi Lokal: Kajian  Terintegrasi Performa Produksi, Respons Fisiologis, dan Metabolit Darah
Aditia, Edit Lesa
Transportasi ternak merupakan salah satu elemen penting dalam rantai &#13;
pasok sapi pedaging. Meskipun demikian, kegiatan transportasi juga dikenal &#13;
sebagai salah satu faktor yang dapat memicu stres pada ternak sehingga &#13;
berdampak pada produktivitas dan aspek kesejahteraan hewannya. Kondisi stres &#13;
cenderung meningkat di wilayah tropis karena cekaman suhu dan kelembapan &#13;
lingkungan serta intensitas radiasi matahari yang tinggi selama perjalanan. &#13;
Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi terkini &#13;
transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh antarpulau, serta (2) &#13;
mengevaluasi status fisiologis, profil darah, dan performa produksi sapi lokal &#13;
(sapi PO dan Silangan lokal) pada transportasi jarak dekat. Penelitian ini &#13;
merupakan penelitian eksploratif, yang memotret kondisi umum transportasi sapi &#13;
di Indonesia, khususnya transportasi durasi singkat (transportasi &lt; 8 jam).  &#13;
Penelitian bagian pertama adalah benchmarking transportasi sapi di &#13;
Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi &#13;
terkini transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam satu pulau &#13;
dan antarpulau di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei &#13;
pada proses transportasi sapi, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam pulau yang &#13;
sama dan antarpulau yang berbeda. Total 42 orang pengemudi yang diwawancarai &#13;
dengan total 500 ekor sapi yang diangkut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa &#13;
transportasi sapi di Indonesia masih belum memenuhi standar aspek kesrawan &#13;
karena belum memiliki panduan (SOP) yang sesuai. Selanjutnya kompetensi SDM &#13;
pengemudi ternak masih belum memahami aspek kesejahteraan hewan selama &#13;
pengangkutan dan belum pernah mengikuti pelatihan kesrawan. Selama &#13;
pengangkutan, sapi diikat dan berdiri dengan kepadatan yang tinggi, baik untuk &#13;
transportasi jarak dekat dan jarak jauh (0,7-0,8 m2/ekor) dan tanpa pemberian &#13;
pakan sesuai kebutuhan. Lebih lanjut, penyusutan bobot badan semakin &#13;
meningkat seiring dengan peningkatan jarak tempuh. Rataan persentase &#13;
penyusutan bobot badan untuk transportasi adalah 2,49±1,41% dengan lama &#13;
rekondisi sekitar 10-12 hari, sedangkan untuk transportasi jarak jauh penyusutan &#13;
bobot adalah 17,09±3,86% dengan lama rekondisi sekitar 25-30 hari. Kualitasa &#13;
aspek kesejahteraan hewan berdasarkan skoring indeks kesejahteraan hewan &#13;
(IKH) selama transportasi durasi singkat berada dalam kondisi sedang (skor IKH &#13;
2), sedangkan untuk transportasi durasi panjang masih dalam kondisi yang buruk &#13;
(skor IKH 1,9).  &#13;
Penelitian selanjutnya adalah transportasi jarak dekat sapi Peranakan Ongole &#13;
(PO) dan Silangan Lokal (SL). Total 16 ekor sapi jantan, yang terdiri atas 8 ekor &#13;
sapi PO dan 8 ekor sapi SL dengan umur 18–30 bulan (I1-2). Transportasi yang &#13;
dilakukan menempuh jarak ±102 km dengan total durasi perjalanan selama 6 jam &#13;
35 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan susut bobot badan pada &#13;
kedua bangsa sapi adalah sebesar 1,2%. Waktu pemulihan pada kedua bangsa sapi &#13;
relatif sama, yaitu selama 10 hari. Selain itu, sapi PO yang diberi pakan Sorinfer &#13;
maupun konsentrat komersial memiliki pertambahan bobot badan dan bobot akhir &#13;
yang lebih tinggi (P &lt; 0,05) dibandingkan dengan sapi SL. Dapat disimpulkan &#13;
bahwa pakan Sorinfer efektif dalam mendukung pemulihan sapi potong lokal &#13;
setelah transportasi. Namun demikian, pakan Sorinfer menghasilkan performa &#13;
yang lebih rendah dibandingkan dengan konsentrat komersial pada periode &#13;
penggemukan singkat. &#13;
Selanjutnya adalah pengamatan untuk peubah respons fisiologis dan profil &#13;
darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi PO dan SL mengalami stres &#13;
selama transportasi durasi singkat. Kadar glukosa darah dan PCV sapi PO &#13;
pratransportasi nyata lebih tinggi (P&lt;0,05) dibandingkan pada sapi SL. &#13;
Selanjutnya, kadar glukosa dan PCV sapi PO dan SL pascatransportasi nyata lebih &#13;
rendah (P&lt;0,05), meskipun tidak berbeda nyata antarbangsa sapi. Selain itu, rasio &#13;
neutrophil:limfosit (N:L) meningkat pascatransportasi. Analisis hubungan &#13;
antarvariabel memperlihatkan adanya korelasi yang signifikan antara parameter &#13;
fisiologis dan hematologis dengan performa produksi. Peningkatan indikator stres &#13;
fisiologis cenderung diikuti oleh peningkatan kehilangan bobot badan. Lebih &#13;
lanjut, hasil analisis regresi menunjukkan bahwa beberapa parameter, seperti &#13;
frekuensi respirasi dan variabel hematologi tertentu, memiliki potensi sebagai &#13;
prediktor pada penurunan performa dan kerugian ekonomis. Lama rekondisi untuk &#13;
sapi PO dan SL adalah 10 hari, di mana sapi PO memiliki performa yang lebih &#13;
baik selama pemeliharaan rekondisi. Hal ini dapat dilihat dari bobot akhir &#13;
pascarekondisi, PBBH dan PBB, serta konsumsi pakan dan bahan kering ransum &#13;
sapi PO yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan sapi SL (P&lt;0,05).
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177781">
<title>Studi Genomik Resistansi Antimikrob terhadap Escherichia coli pada Interface Manusia, Hewan, dan Lingkungan dalam Ekosistem Tempat Pemotongan Babi di Provinsi Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177781</link>
<description>Studi Genomik Resistansi Antimikrob terhadap Escherichia coli pada Interface Manusia, Hewan, dan Lingkungan dalam Ekosistem Tempat Pemotongan Babi di Provinsi Banten
Saskito, Dinda Iryawati Bedy
Resistansi antimikrob (AMR) merupakan ancaman kesehatan global yang melibatkan manusia, hewan, dan lingkungan. Bakteri Escherichia coli (E. coli) menjadi indikator penting untuk surveilans AMR dalam kerangka One Health, karena kemampuannya membawa dan mempertahankan berbagai gen resistansi antimikrob (ARG). Tempat pemotongan babi (TPB) merupakan ekosistem dengan interaksi manusia-hewan-lingkungan yang intensif sehingga berpotensi berperan dalam dinamika AMR. Penelitian ini bertujuan mengkaji profil ARG, distribusi lokasi gen resistansi, kekerabatan filogenetik, serta keterkaitan antara resistom dan filogenom E. coli pada ekosistem TPB di Provinsi Banten menggunakan pendekatan whole-genome sequencing (WGS).&#13;
Penelitian diawali dengan tinjauan sistematis terhadap 3.550 artikel, yang menghasilkan 13 studi memenuhi kriteria inklusi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa ampisilin merupakan antimikrob dengan resistansi fenotipik tertinggi, sedangkan gen blaTEM dan sul1 ditemukan secara konsisten pada seluruh studi. Sementara itu, penelitian yang dilakukan pada ekosistem TPB di Provinsi Banten menunjukkan bahwa analisis terhadap 94 isolat E. coli manusia mengidentifikasi 30 ARG dari 10 kelas antimikrob, dengan variasi terbanyak berasal dari kelompok beta-laktam dan didominasi oleh gen blaEC.&#13;
Analisis filogenetik terhadap 114 genom E. coli yang berasal dari manusia, lantai TPB, dan efluen TPB menunjukkan adanya kedekatan kekerabatan genetik pada sebagian isolat dari sumber yang berbeda. Selain informasi kekerabatan genetik, analisis genomik juga memberikan gambaran mengenai distribusi ARG dalam ekosistem TPB. Sebanyak 42 ARG yang tergolong dalam 12 kelas antimikrob, dengan tujuh kelas antimikrob ditemukan beririsan antar sumber. Integrasi data filogenetik dan profil ARG menunjukkan bahwa beberapa isolat yang berkerabat dekat memiliki profil ARG yang serupa.&#13;
Karakterisasi lokasi ARG menunjukkan pola yang berbeda antar sumber. Pada isolat manusia, ARG lebih banyak ditemukan pada kromosom, sedangkan pada isolat lantai TPB dan efluen TPB ARG lebih dominan berada pada plasmid. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik keberadaan ARG pada masing-masing kompartemen dalam ekosistem TPB. Sejalan dengan temuan tersebut, potensi multidrug resistance (MDR) tertinggi ditemukan pada isolat lantai TPB (90%), diikuti efluen TPB (40%) dan manusia (12,8%).&#13;
Penelitian ini menunjukkan integrasi informasi genomik dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika AMR pada ekosistem TPB. Hasil tersebut menegaskan pentingnya penguatan surveilans genomik dan pengendalian AMR melalui pendekatan One Health yang didukung oleh komunikasi, kolaborasi, koordinasi, dan penguatan kapasitas lintas sektor.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177731">
<title>Analisis Komponen Utama Terampat Kekar dalam Reduksi Dimensi Menggunakan Algoritma Genetika Imputasi Berganda untuk Analisis Pembangunan Manusia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177731</link>
<description>Analisis Komponen Utama Terampat Kekar dalam Reduksi Dimensi Menggunakan Algoritma Genetika Imputasi Berganda untuk Analisis Pembangunan Manusia
Zubedi, Fahrezal
Analisis data indikator dimensi pembangunan manusia pada tingkat kabupaten/kota di Indonesia menghadapi berbagai permasalahan statistika, seperti dimensi data yang cukup besar, indikator-indikator saling berkorelasi dan kabupaten/kota yang memiliki capaian pembangunan manusia yang mirip. Kondisi tersebut menyebabkan analisis berdasarkan data asli menjadi kurang efektif dan sulit divisualisasikan. Salah satu metode reduksi dimensi yang mampu mereduksi dimensi kolom dan baris secara simultan adalah Analisis Komponen Utama Terampat (AKUT). Namun, AKUT tidak dapat diterapkan secara langsung pada data yang mengandung nilai hilang dan sensitif terhadap pencilan. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan integrasi AKUT dengan Algoritma Genetika Imputasi Berganda (AGIB), AKUT kekar menggunakan transformasi Euler, serta integrasi AKUT kekar-AGIB untuk mereduksi dimensi data yang mengandung nilai hilang dan pencilan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk (1) membandingkan hasil reduksi dimensi menggunakan AKUT antara data seluruh kabupaten/kota di Indonesia dan data yang dikelompokkan berdasarkan wilayah, (2) mengembangkan metode integrasi AKUT-AGIB dalam mereduksi dimensi data yang mengandung nilai hilang, (3) mengembangkan metode AKUT kekar dalam mereduksi dimensi data yang mengandung pencilan, (4) mengembangkan metode integrasi AKUT kekar-AGIB untuk mereduksi dimensi data yang mengandung nilai hilang dan pencilan, (5) mengevaluasi kemampuan metode integrasi AKUT kekar-AGIB dalam mempertahankan kemiripan pola antarmatriks antara data asli dan hasil reduksi dimensi menggunakan pendekatan Procrustes terampat, dan (6) mengkaji perubahan pembangunan manusia antarkabupaten/kota di Indonesia periode 2019–2022 berdasarkan matriks hasil reduksi dimensi yang diperoleh dari metode integrasi AKUT kekar-AGIB. &#13;
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data simulasi dan data empiris. Data simulasi berupa empat matriks berdimensi 500x100 yang saling berkorelasi, dengan struktur 25 kelompok amatan dan lima kelompok peubah. Data empiris berupa 20 indikator dimensi pembangunan manusia dari 514 kabupaten/kota di Indonesia selama periode 2019–2022 yang disusun menjadi empat matriks berdasarkan tahun pengamatan. Kinerja metode dievaluasi menggunakan jumlah komponen utama, RMSE, dan nilai R^2. Signifikansi perbedaan kinerja dievaluasi menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey..&#13;
Hasil analisis AKUT menunjukkan bahwa hasil reduksi dimensi yang diperoleh berbeda antarwilayah. Pada analisis agregat nasional, indikator dominan terutama berasal dari dimensi pengetahuan, sedangkan pada analisis berbasis wilayah indikator dominan berbeda sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah. Meskipun demikian, dua komponen utama hasil AKUT pada data agregat nasional masih mampu menjelaskan lebih dari 50% keragaman data indikator pembangunan manusia kabupaten/kota di Indonesia sehingga tetap representatif dalam menggambarkan pola keragaman data indikator pembangunan manusia secara umum.&#13;
Hasil simulasi menunjukkan bahwa integrasi AKUT-AGIB menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan metode pembanding lainnya. Pada berbagai skenario persentase nilai hilang, integrasi AKUT-AGIB secara konsisten menghasilkan RMSE yang lebih rendah dan nilai R² yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode pembanding. Hasil ANOVA dan uji lanjut Tukey menunjukkan adanya perbedaan kinerja yang nyata antarmetode dan antarspersentase nilai hilang. Hasil simulasi pada data yang mengandung pencilan menunjukkan bahwa AKUT kekar menghasilkan RMSE yang lebih rendah dan hasil reduksi dimensi yang lebih stabil dibandingkan dengan AKUT. Pendekatan transformasi Euler pada AKUT kekar mampu mengurangi pengaruh pencilan terhadap matriks ragam-koragam sehingga struktur utama data tetap dapat dipertahankan meskipun terdapat pencilan. Keunggulan AKUT kekar dibandingkan dengan AKUT semakin terlihat seiring dengan meningkatnya persentase pencilan.&#13;
Pada data simulasi yang mengandung nilai hilang dan pencilan, evaluasi menggunakan Procrustes terampat menunjukkan bahwa nilai R² himpunan matriks hasil reduksi mendekati nilai R² pada himpunan matriks data asli. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi AKUT kekar-AGIB mampu mempertahankan kemiripan pola antarmatriks meskipun data mengandung nilai hilang dan pencilan. Namun, semakin tinggi persentase nilai hilang dan pencilan, nilai R² cenderung menurun. Hasil empiris menunjukkan bahwa pola pembangunan manusia kabupaten/kota di Indonesia periode 2019–2022 relatif stabil, yang ditunjukkan oleh nilai R² Procrustes terampat yang tinggi antartahun. Konfigurasi matriks data indikator dimensi pembangunan manusia kabupaten/kota di Indonesia periode 2019–2022 relatif konsisten antara data asli dan data hasil reduksi. Kedekatan nilai R² Procrustes terampat pada kedua himpunan data tersebut menunjukkan bahwa integrasi AKUT kekar-AGIB mampu mempertahankan pola utama pembangunan manusia meskipun data telah direduksi ke dimensi yang lebih rendah. Analisis Procrustes antartahun menunjukkan bahwa tingkat kemiripan pola pembangunan manusia tertinggi terjadi pada periode pandemi COVID-19. Hasil ini mengindikasikan bahwa pada periode tersebut konfigurasi pembangunan manusia antarkabupaten/kota relatif lebih stabil dibandingkan dengan periode lainnya. Dengan kata lain, perubahan pola relatif antarwilayah berdasarkan indikator pembangunan manusia cenderung lebih kecil pada periode pandemi. Sementara itu, pada periode pascapandemi tingkat kemiripan pola pembangunan manusia kembali menurun, yang menunjukkan mulai terjadinya perubahan konfigurasi pembangunan manusia antarkabupaten/kota di Indonesia. Secara keseluruhan, integrasi AKUT kekar-AGIB mampu mereduksi dimensi kolom dan baris dari matriks data yang mengandung nilai hilang dan pencilan serta mempertahankan pola utama yang terdapat pada data asli.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177730">
<title>Model Pengelolaan Hubungan Industri Kertas dengan Pemasok Bahan Aditif untuk Perumusan Strategi Peningkatan Daya Saing</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177730</link>
<description>Model Pengelolaan Hubungan Industri Kertas dengan Pemasok Bahan Aditif untuk Perumusan Strategi Peningkatan Daya Saing
Diem, Daisy Ade Riany
Industri pulp dan kertas merupakan sektor strategis nasional yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaaan lapangan kerja dan peningkatan devisa non-migas. Peningkatan kapasitas terpasang produksi kertas nasional hingga 20,86 juta ton pada tahun 2024 menunjukkan prospek pertumbuhan yang besar, namun masih dihadapkan pada tingginya ketergantungan terhadap bahan aditif impor yang berperan penting dalam menentukan kualitas produk, efisiensi proses produksi, dan inovasi industri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan hubungan pembeli-pemasok serta penguatan industri bahan aditif domestik menjadi faktor strategis dalam meningkatkan daya saing industri kertas nasional. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi hubungan industri kertas dengan pemasok bahan aditif serta implikasinya terhadap daya saing industri; (2) menganalisis permasalahan dalam sistem rantai pasok bahan aditif; (3) mengembangkan model sistem dinamik dan skenario strategis peningkatan daya saing industri berbasis pengelolaan hubungan pembeli-pemasok; serta (4) menentukan prioritas strategi pengembangan industri kertas nasional.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan Soft System Dynamics Methodology (SSDM) yang mengintegrasikan analisis kualitatif dan kuantitatif untuk memahami kompleksitas hubungan antaraktor dalam sistem industri. Data empiris diperoleh melalui survei terhadap pelaku industri kertas dan pemasok bahan aditif di Jawa Barat dengan melibatkan 35 responden. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS), sedangkan analisis kualitatif diperkuat melalui in-depth interview dengan pihak industri, pemasok, dan pemerintah. Simulasi kebijakan dilakukan dengan model sistem dinamik, sementara penentuan prioritas strategi dilakukan menggunakan Best Worst Method (BWM).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan, etika bisnis, dan tata kelola relasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap hubungan pembeli-pemasok dan dampaknya terhadap daya saing industri kertas. Tata kelola relasional menjadi faktor dominan dengan nilai koefisien tertinggi (ß = 0,469), yang menegaskan pentingnya kepercayaan, komitmen jangka panjang, dan kolaborasi strategis dalam hubungan industrial. Hubungan pembeli-pemasok juga terbukti memiliki pengaruh sangat kuat terhadap daya saing industri (ß = 0,900), sehingga kualitas hubungan antar aktor rantai pasok menjadi determinan utama dalam meningkatkan efisiensi biaya, kualitas produk, stabilitas pasokan, dan posisi kompetitif industri. Berdasarkan analisis faktor dan analisis konten, didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan pembeli-pemasok pada daya saing adalah: fleksibilitas logistik, kualitas bahan aditif, komunikasi, pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia, komitmen, perencanaan dan pemecahan masalah bersama, kepercayaan, serta kolaborasi.&#13;
Berdasarkan hasil simulasi, dikembangkan tiga skenario strategis, yaitu: (1) peningkatan kapabilitas sumber daya manusia; (2) peningkatan kualitas dan stabilitas pasokan bahan aditif lokal; dan (3) pembangunan ekosistem industri terintegrasi berbasis kolaborasi antara industri kertas, pemasok bahan aditif, pemerintah, dan institusi pendukung. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario ketiga memberikan dampak paling optimal terhadap peningkatan hubungan pembeli-pemasok, kapasitas produksi, dan profitabilitas industri hingga tahun 2035. Simulasi menunjukkan peningkatan hubungan buyer–supplier sebesar 0,897, peningkatan kapasitas produksi mencapai 475.314 ton per tahun, serta peningkatan profit industri hingga Rp 811 miliar pada tahun 2035. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan ekosistem industri berbasis kolaborasi dan inovasi merupakan strategi paling efektif dalam meningkatkan daya saing industri kertas nasional.&#13;
Hasil analisis BWM menunjukkan bahwa strategi prioritas utama adalah penguatan kolaborasi inovasi melalui joint research and development (joint R&amp;D) antara industri kertas dan pemasok bahan aditif dengan bobot prioritas sebesar 0,265. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan kualitas produk, mempercepat inovasi proses produksi, memperkuat stabilitas rantai pasok, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing industri secara berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini menghasilkan model strategis terintegrasi yang mengombinasikan pendekatan relasional, sistem dinamik, dan pengembangan ekosistem industri dalam peningkatan daya saing industri kertas. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan kajian buyer–supplier relationship management melalui integrasi SSDM dan sistem dinamik dalam konteks industri manufaktur strategis. Secara praktis, penelitian ini menawarkan kerangka kebijakan bagi pemerintah dan pelaku industri dalam meningkatkan substitusi impor, pengembangan industri bahan aditif lokal, serta peningkatan daya saing industri berbasis inovasi dan keberlanjutan.; The pulp and paper industry is a strategic national sector that contributes to economic growth, job creation, and increased non-oil and gas foreign exchange earnings. The increase in national installed paper production capacity to 20.86 million tons by 2024 indicates significant growth prospects; however, the industry still faces high dependence on imported additives, which play a crucial role in determining product quality, production process efficiency, and industrial innovation. These conditions indicate that managing buyer-supplier relationships and strengthening the domestic additive industry are strategic factors in enhancing the competitiveness of the national paper industry.&#13;
This study aims to: (1) identify the factors influencing the relationship between the paper industry and additive suppliers and their implications for industrial competitiveness; (2) analyse issues within the additive supply chain system; (3) develop a dynamic systems model and strategic scenarios for enhancing industrial competitiveness based on buyer-supplier relationship management; and (4) determine the priorities for the national paper industry’s development strategy.&#13;
The study employs the Soft System Dynamics Methodology (SSDM), which integrates qualitative and quantitative analysis to understand the complexity of relationships among actors within the industrial system. Empirical data were collected through a survey of paper industry stakeholders and additive material suppliers in West Java, involving 35 respondents. Quantitative analysis was conducted using Structural Equation Modelling–Partial Least Squares (SEM-PLS), while qualitative analysis was reinforced through in-depth interviews with industry representatives, suppliers, and government officials. Policy simulations were performed using a dynamic systems model, while strategic prioritization was conducted using the Best Worst Method (BWM).&#13;
The research results indicate that service quality, business ethics, and relational governance have a positive and significant impact on buyer–supplier relationships and the competitiveness of the paper industry. Relational governance emerged as the dominant factor with the highest coefficient value (ß = 0.469), underscoring the importance of trust, long-term commitment, and strategic collaboration in industrial relationships. Buyer–supplier relationships were also found to have a very strong influence on industry competitiveness (ß = 0.900), making the quality of relationships among supply chain actors the primary determinant in improving cost efficiency, product quality, supply stability, and the industry’s competitive position. Analysis of factors and content analysis reveal that the determinants affecting the buyer-supplier relationship regarding competitiveness include logistics flexibility, paper additives quality, communication, human resource expertise dan capabilities, commitment, joint planning and problem solving, trust, and collaboration.&#13;
 &#13;
Based on the simulation results, three strategic scenarios were developed: (1) enhancing human resource capabilities; (2) improving the quality and stability of local additive supply; and (3) building an integrated industrial ecosystem based on collaboration among the paper industry, additive suppliers, the government, and supporting institutions. The simulation results indicate that the third scenario yields the most optimal impact on improving buyer-supplier relationships, production capacity, and industry profitability through 2035. The simulation indicates an improvement in buyer–supplier relationships of 0.897, an increase in production capacity reaching 475,314 tons per year, and an increase in industry profits to Rp 811 billion by 2035. These findings confirm that strengthening a collaborative and innovation-based industrial ecosystem is the most effective strategy for enhancing the competitiveness of the national paper industry&#13;
The results of the BWM analysis indicate that the top priority strategy is strengthening innovation collaboration through joint research and development (joint R&amp;D) between the paper industry and additive suppliers, with a priority weight of 0.265. This strategy is assessed as capable of improving product quality, accelerating production process innovation, strengthening supply chain stability, and enhancing industrial efficiency and competitiveness sustainably.&#13;
This study produces an integrated strategic model that combines relational, dynamic systems, and industrial ecosystem development approaches to enhance the competitiveness of the paper industry. Theoretically, this study contributes to the development of buyer–supplier relationship management research through the integration of SSDM and dynamic systems within the context of strategic manufacturing industries. Practically, this research offers a policy framework for the government and industry stakeholders to strengthen import substitution, develop the domestic additive materials industry, and enhance industrial competitiveness based on innovation and sustainability.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
