<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26">
<title>Master Theses</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26</link>
<description>Master Theses of IPB's master student</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173078"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173064"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173063"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173062"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-05-14T08:36:40Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173078">
<title>KINERJA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR LADA PUTIH BANGKA BELITUNG DI SINGAPURA DAN AMERIKA SERIKAT</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173078</link>
<description>KINERJA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR LADA PUTIH BANGKA BELITUNG DI SINGAPURA DAN AMERIKA SERIKAT
Saptarini, Lingga
Lada putih Bangka Belitung atau Muntok White Pepper (MWP) merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memiliki reputasi kualitas tinggi di pasar internasional dan berkontribusi penting terhadap perolehan devisa negara. Permintaan global terhadap rempah-rempah, khususnya lada putih, terus meningkat seiring dengan berkembangnya industri pangan, farmasi, dan bumbu olahan dunia. Namun demikian, kinerja ekspor lada putih Bangka Belitung dalam satu dekade terakhir mengalami penurunan, baik dari sisi volume maupun nilai ekspor. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain penurunan produktivitas akibat serangan hama dan penyakit, alih fungsi lahan, melemahnya minat petani, fluktuasi harga global, serta semakin ketatnya persaingan dengan negara produsen utama seperti Vietnam dan Brasil. Selain itu, ketergantungan terhadap pasar re-ekspor, khususnya Singapura, serta keterbatasan penetrasi langsung ke pasar konsumsi akhir seperti Amerika Serikat turut menjadi tantangan dalam pengembangan ekspor MWP.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing ekspor, mengidentifikasi posisi pasar ekspor, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai ekspor, serta merumuskan strategi pengembangan ekspor lada putih Bangka Belitung yang berkelanjutan. Analisis dilakukan pada dua negara tujuan utama, yaitu Singapura dan Amerika Serikat, dengan menggunakan data periode 2010–2023. Metode analisis yang digunakan meliputi Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) untuk mengukur tingkat daya saing, Export Product Dynamics (EPD) untuk menganalisis dinamika posisi pasar, regresi data panel untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi nilai ekspor, serta pendekatan A’WOT yang mengombinasikan analisis SWOT dan Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam perumusan strategi pengembangan berdasarkan penilaian key informant.&#13;
Hasil analisis RSCA menunjukkan bahwa daya saing ekspor lada putih Bangka Belitung di pasar Singapura sebagian besar bernilai negatif, yang mengindikasikan bahwa MWP diduga tergolong tidak berdaya saing secara konsisten. Sebaliknya, di pasar Amerika Serikat, nilai RSCA cenderung bernilai positif, yang menunjukkan bahwa MWP memiliki keunggulan komparatif meskipun tingkat daya saingnya menunjukkan fluktuasi yang cenderung menurun. Hasil analisis EPD menunjukkan bahwa posisi pasar ekspor lada putih Bangka Belitung periode 2011-2023 berada pada kategori falling star di Singapura dan Amerika Serikat. Hasil analisis regresi data panel menunjukkan bahwa produksi, nilai tukar, harga ekspor, dan kebijakan non-tarif barrier berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor lada putih Bangka Belitung, sedangkan harga domestik tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor penawaran, kondisi makroekonomi, serta hambatan perdagangan internasional memiliki peran penting dalam menentukan kinerja ekspor lada putih Bangka Belitung. Berdasarkan hasil analisis A’WOT, strategi prioritas pengembangan ekspor lada putih Bangka&#13;
 &#13;
Belitung adalah penerapan Good Agricultural Practices dan pengendalian hama penyakit untuk meningkatkan produktivitas serta mutu produk agar memenuhi standar pasar internasional. Strategi pendukung lainnya meliputi penguatan sistem sertifikasi dan standardisasi mutu, peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui pelatihan teknis, penguatan promosi berbasis indikasi geografis MWP, serta penguatan koordinasi kelembagaan antar pemangku kepentingan. Implementasi strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas akses pasar, memperbaiki posisi pasar ekspor, serta mendukung keberlanjutan pengembangan lada putih Bangka Belitung di pasar global.&#13;
Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan ekspor lada putih Bangka Belitung perlu diarahkan pada penguatan penetrasi pasar konsumsi akhir, peningkatan produktivitas melalui penerapan GAP dan pengendalian hama penyakit, serta perbaikan mutu dan kontinuitas pasokan. Penguatan daya saing harga perlu dilakukan melalui efisiensi biaya produksi dan rantai pasok, sementara pemenuhan persyaratan non-tarif perlu didukung oleh penguatan sertifikasi, standardisasi mutu, dan ketertelusuran produk. Selain itu, penguatan promosi dan branding berbasis indikasi geografis MWP serta peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan posisi pasar dan keberlanjutan ekspor MWP di pasar global.; Bangka Belitung white pepper, known as Muntok White Pepper (MWP), is one of Indonesia’s leading plantation commodities with a strong reputation for quality in international markets and an important contribution to national foreign exchange earnings. Global demand for spices, particularly white pepper, has continued to increase along with the growth of the global food, pharmaceutical, and processed seasoning industries. However, the export performance of Bangka Belitung white pepper over the past decade has shown a fluctuating trend and a general decline in both export volume and value. This condition has been influenced by several factors, including declining productivity due to pest and disease attacks, land conversion, decreasing farmer interest, global price fluctuations, and increasingly intense competition from major producing countries such as Vietnam and Brazil. In addition, dependence on re-export markets, particularly Singapore, as well as limited direct penetration into final consumer markets such as the United States, has also posed challenges to the development of MWP.&#13;
This study aims to analyze export competitiveness, identify export market positions, examine factors affecting export value, and formulate sustainable export development strategies for Bangka Belitung white pepper. The analysis focuses on two main destination markets, namely Singapore and the United States, using data from the period 2010–2023. The analytical methods employed include Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) to measure competitiveness, Export Product Dynamics (EPD) to analyze market position dynamics, panel data regression to identify factors affecting export value, and the A’WOT approach, which combines SWOT analysis and the Analytical Hierarchy Process (AHP) in formulating development strategies based on key informant assessments.&#13;
The RSCA analysis results indicate that the export competitiveness of Bangka Belitung white pepper in the Singapore market is mostly negative, suggesting that MWP is consistently uncompetitive in this market. In contrast, RSCA values in the United States market tend to be positive, indicating that MWP has a comparative advantage, although the level of competitiveness remains fluctuating. The results of the EPD analysis indicate that the export market position of Bangka Belitung white pepper during the 2011–2023 period falls into the falling star category in Singapore and the United States. The panel data regression results show that production, exchange rates, export prices, and non-tariff barrier policies have a significant effect on the export value of Bangka Belitung white pepper, while domestic prices do not have a significant effect. These findings indicate that supply- side factors, macroeconomic conditions, and international trade barriers play important roles in determining export performance. Based on the A’WOT analysis, the main priority strategy for developing Bangka Belitung white pepper exports is the implementation of Good Agricultural Practices (GAP) and pest and disease control to improve productivity and product quality in order to meet international market standards. Supporting strategies include strengthening certification and quality standardization systems, improving the capacity of farmers and business&#13;
 &#13;
actors through technical training, enhancing promotion based on the geographical indication of MWP, and strengthening institutional coordination among stakeholders. The implementation of these strategies is expected to improve competitiveness, expand market access, enhance export market positions, and support the sustainable development of Bangka Belitung white pepper in global markets.&#13;
The implications of this study indicate that the development of Bangka Belitung white pepper exports should be directed toward strengthening penetration into final consumer markets, increasing productivity through the implementation of GAP and pest and disease control, and improving product quality and supply continuity. Price competitiveness should be enhanced through production cost efficiency and supply chain optimization, while compliance with non-tariff requirements should be supported by strengthening certification, quality standardization, and product traceability systems. In addition, strengthening promotion and branding based on the geographical indication of MWP and improving coordination among stakeholders are strategic steps to enhance market position and ensure the sustainability of MWP exports in global markets.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173064">
<title>Fotokatalis Hibrid Carbon Dots/Metal-Organic Framework (CDs@MIL-100(Fe)) untuk Degradasi Auramina O</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173064</link>
<description>Fotokatalis Hibrid Carbon Dots/Metal-Organic Framework (CDs@MIL-100(Fe)) untuk Degradasi Auramina O
Julita, Mardiana
Limbah zat warna sintetis, seperti Auramina O, merupakan salah satu polutan berbahaya yang banyak dihasilkan dari aktivitas industri tekstil dan berpotensi mencemari lingkungan perairan. Keberadaan zat warna di badan air dapat menghambat penetrasi cahaya, mengganggu proses fotosintesis organisme akuatik, serta menurunkan kualitas ekosistem. Salah satu metode yang efektif dan ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah fotokatalisis berbasis cahaya tampak. Metal–organic framework (MOF) MIL-100(Fe) merupakan material berpori yang menarik sebagai fotokatalis, namun keterbatasan dalam penyerapan cahaya tampak dan laju rekombinasi pasangan elektron–hole masih membatasi kinerjanya. Dalam penelitian ini dikembangkan fotokatalis hibrid carbon dots/metal–organic framework (CDs@MIL-100(Fe)) yang responsif terhadap cahaya tampak untuk degradasi Auramina O. Carbon dots (CDs) disintesis menggunakan henna komersial sebagai prekursor melalui metode hidrotermal satu tahap, kemudian dikombinasikan dengan MIL-100(Fe) menggunakan metode liquid-assisted grinding. Metode ini dipilih karena sederhana, efisien, dan mampu menghasilkan komposit dengan distribusi CDs yang homogen tanpa merusak struktur kristalin MOF.&#13;
Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa struktur kristalin MIL-100(Fe) tetap terjaga setelah integrasi CDs. Analisis FTIR mengonfirmasi keberadaan gugus fungsi khas MIL-100(Fe) dan CDs, yang menunjukkan adanya interaksi antarmuka antara kedua komponen. Pengamatan FESEM dan TEM memperlihatkan bahwa morfologi partikel khas MIL-100(Fe) masih dipertahankan, dengan permukaan yang menjadi lebih kasar akibat deposisi CDs. CDs yang disintesis berbentuk nanopartikel kuasi-sferis berukuran nanometer dan terdispersi secara homogen pada permukaan serta pori MOF. Analisis BET menunjukkan penurunan luas permukaan dan volume pori setelah penambahan CDs, yang mengindikasikan adanya penutupan sebagian pori oleh CDs. Karakterisasi optik menggunakan UV–Vis DRS menunjukkan bahwa integrasi CDs secara signifikan memperluas penyerapan cahaya ke wilayah tampak. Analisis energi celah pita menggunakan plot Tauc menunjukkan penurunan nilai band gap MIL-100(Fe) dari 2,97 eV menjadi 2,65 eV pada komposit CDs@MIL-100(Fe) dengan kandungan CDs 5 wt%, yang mengindikasikan peningkatan kemampuan eksitasi fotoelektron di bawah penyinaran cahaya tampak.&#13;
Uji aktivitas fotokatalitik dilakukan melalui degradasi Auramina O pada konsentrasi awal 20 ppm di bawah penyinaran cahaya tampak. Hasil pengujian menunjukkan bahwa MIL-100(Fe) murni mampu mendegradasi sekitar 64% Auramina O setelah 240 menit. Integrasi CDs secara signifikan meningkatkan kinerja fotokatalitik, dengan komposit CDs@MIL-100(Fe) 5 wt% menunjukkan efisiensi degradasi tertinggi sebesar 93%. Penambahan CDs hingga 10 wt% justru menurunkan efisiensi degradasi, yang dikaitkan dengan efek light shielding dan penutupan sebagian situs aktif.; Synthetic dye wastewater, such as Auramine O, is one of the hazardous pollutants widely generated from textile industry activities and poses a serious threat to aquatic environments. The presence of dyes in water bodies can hinder light penetration, disrupt photosynthesis in aquatic organisms, and degrade overall ecosystem quality. One effective and environmentally friendly approach to address this issue is visible-light-driven photocatalysis. The metal–organic framework (MOF) MIL-100(Fe) is an attractive porous material for photocatalytic applications; however, its performance is limited by insufficient visible-light absorption and a relatively high electron–hole recombination rate.&#13;
In this study, a visible-light-responsive hybrid photocatalyst composed of carbon dots and metal–organic framework (CDs@MIL-100(Fe)) was developed for the degradation of Auramine O. Carbon dots (CDs) were synthesized using commercial henna as a precursor via a one-step hydrothermal method and subsequently integrated with MIL-100(Fe) through a liquid-assisted grinding approach. This method was selected due to its simplicity, efficiency, and ability to produce a homogeneous composite without compromising the crystalline integrity of the MOF.&#13;
XRD analysis confirmed that the crystalline structure of MIL-100(Fe) was well preserved after CDs integration. FTIR results verified the presence of characteristic functional groups from both MIL-100(Fe) and CDs, indicating interfacial interactions between the two components. FESEM and TEM observations revealed that the characteristic particle morphology of MIL-100(Fe) was retained, with slightly rougher surfaces resulting from CDs deposition. The synthesized CDs exhibited quasi-spherical nanoparticles at the nanometer scale and were homogeneously dispersed on the surface and within the pores of the MOF. BET analysis showed a decrease in specific surface area and pore volume after CDs incorporation, suggesting partial pore blocking by CDs. Optical characterization using UV–Vis diffuse reflectance spectroscopy demonstrated that CDs integration significantly enhanced visible-light absorption. Band gap analysis based on Tauc plots revealed a reduction in the band gap energy of MIL-100(Fe) from 2.97 eV to 2.65 eV for the CDs@MIL-100(Fe) composite with 5 wt% CDs, indicating more efficient photoexcitation under visible-light irradiation.&#13;
Photocatalytic activity was evaluated through the degradation of Auramine O at an initial concentration of 20 ppm under visible-light irradiation. Pristine MIL-100(Fe) achieved approximately 64% degradation after 240 min, whereas CDs incorporation markedly enhanced photocatalytic performance. The CDs@MIL-100(Fe) composite with 5 wt% CDs exhibited the highest degradation efficiency of 93%. Further increasing the CDs content to 10 wt% led to a decrease in degradation efficiency, which was attributed to light-shielding effects and partial blockage of active sites.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173063">
<title>Analisis Potensi Limbah Biomassa Industri Pisang dan Valorisasi Batang Pisang Menjadi Serat Alami dengan Penghitungan Jejak Karbon</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173063</link>
<description>Analisis Potensi Limbah Biomassa Industri Pisang dan Valorisasi Batang Pisang Menjadi Serat Alami dengan Penghitungan Jejak Karbon
Riskawati, Eka
Produksi pisang skala industri menghadapi tantangan, salah satunya adalah timbulan limbah biomassa yang sangat besar, yakni sekitar 60% hingga 80% dari total biomassa tanaman. Pengelolaan limbah yang kurang memadai menyebabkan pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer melalui proses dekomposisi alami di lahan produksi. Di sisi lain, biomassa pisang memiliki potensi sebagai penyerap karbon yang signifikan selama masa pertumbuhan tanamannya. Oleh karena itu, penerapan praktik pertanian cerdas iklim melalui valorisasi limbah sangat mendesak untuk dilakukan guna menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi biomassa. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis potensi limbah tanaman pisang dengan penghitungan jejak karbon. Secara khusus, penghitungan jejak karbon berfokus pada valorisasi limbah bagian batang untuk dikonversi menjadi serat alami. Metode uji proksimat dan ultimat digunakan untuk karakterisasi kandungan unsur hara dan nilai kalor biomassa sebagai dasar penentuan strategi valorisasi. Pendekatan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) digunakan untuk menghitung baseline emisi dari dekomposisi limbah dengan menggunakan faktor emisi terhadap kandungan karbon teridentifikasi. Metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan integrasi metode pengkategorian dampak IPCC 2021 diterapkan pada proses valorisasi untuk menghitung jejak karbon dan kontribusi dari setiap tahapan proses. Mass Flow Analysis digunakan untuk memetakan aliran massa dan efisiensi konversi biomassa dalam proses valorisasi. Hasil analisis karakteristik menunjukkan bahwa setiap bagian tanaman pisang memiliki potensi pemanfaatan spesifik berdasarkan kandungan kimianya. Bagian daun memiliki konsentrasi karbon tertinggi sebesar 39,89% dan nilai kalor mencapai 15,9 MJ/kg, sehingga potensial untuk difungsikan sebagai sumber bioenergi. Di sisi lain, batang pisang didominasi oleh kandungan serat sehingga mendukung fungsinya sebagai bahan baku serat alami. Secara keseluruhan, limbah biomassa mengandung mineral penting untuk sumber hara tanaman. Akan tetapi, proses pemanfaatannya perlu mempertimbangkan kadar air yang sangat tinggi.  Per hektare lahan diestimasi menyimpan stok karbon dengan rata-rata 3,24 ± 0,27 ton dan mampu menyerap karbon dioksida sebesar 7,93 ± 0,45 ton CO2 per tahun. Timbulan limbah above-ground biomass (AGB) diperkirakan mencapai 85,76 ± 6,48 ton biomassa segar dan diperkirakan menghasilkan emisi fraksi CO2 sebesar 6,43 ± 0,45 ton CO2/ha dan N2O sebesar 0,32 ± 0,02 ton CO2 eq/ha. Temuan ini menegaskan kondisi biomassa tanaman pisang sebagai penyerap sekaligus sumber emisi dan menegaskan pentingnya valorisasi untuk mencegah karbon tersebut terlepas ke atmosfer. Proses valorisasi batang pisang menjadi serat alami menghasilkan jejak karbon sebesar 7,29 kg CO2 eq per pengolahan 1000 kg batang atau 2,35 kg CO2 eq per kg serat. Titik hotspot berasal dari konsumsi energi listrik untuk operasional mesin dekortikator. Meski menghasilkan emisi selama proses produksi, valorisasi mampu mencegah pelepasan karbon biogenik dan N2O masing-masing mencapai 2,19 kg CO2 dan 1,61 kg CO2 eq untuk setiap pengolahan satu ton batang pisang segar. Hasil MFA menunjukkan validasi nilai yield yang kecil dari proses valorisasi hingga dihasilkan serat kering sebesar 0,31% sehingga dibutuhkan optimasi alat dan mesin dekortikasi. Akan tetapi, skenario valorisasi 100% timbulan limbah batang dengan integrasi pengembalian biomassa AGB dan limbah sekunder dari proses konversinya dapat menghemat biaya pupuk sebesar Rp16.849.218 dan memberikan margin produksi serat sebesar Rp15.245.526 per hektare. Selain serat, limbah AGB dan produk samping proses dekortikasi berpotensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut menjadi biomaterial, pupuk organik, dan produk kesehatan berbasis ekstraksi bahan aktif. Saran penelitian selanjutnya perlu difokuskan pada penguatan data empiris mengenai dinamika dekomposisi biomassa dan kuantifikasi karbon tanah secara lebih akurat. Selain itu, diperlukan perluasan batasan sistem dalam analisis LCA mencakup seluruh rantai produksi buah pisang dan integrasinya dengan skenario pengembalian hara menjadi sistem lingkar tertutup yang utuh. Rekayasa pada alat mesin dekortikasi sangat disarankan untuk meningkatkan efisiensi energi dan rendemen serat yang dihasilkan. Dalam rangka perumusan model ekonomi sirkular, diperlukan penentuan strategi valorisasi yang kemudian diterapkan analisis dampak lingkungan dan ekonomi. Hasil pemodelan dapat difungsikan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis multi-kriteria guna mengoptimalkan pemanfaatan limbah biomassa menuju agroindustri yang cerdas iklim.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173062">
<title>Kinerja Keberlanjutan Sektor Pertanian ASEAN:  Efisiensi Teknis, Lingkungan, dan Tekanan Perdagangan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173062</link>
<description>Kinerja Keberlanjutan Sektor Pertanian ASEAN:  Efisiensi Teknis, Lingkungan, dan Tekanan Perdagangan
Danendra, Daffa Ibra
Pertumbuhan penduduk dan peningkatan permintaan pangan menempatkan sektor pertanian ASEAN pada tekanan ganda antara peningkatan produktivitas dan pengendalian eksternalitas lingkungan. Meskipun pertanian masih berperan penting dalam penyediaan pangan, penyerapan tenaga kerja, dan stabilitas ekonomi, distorsi kebijakan pertanian di ASEAN berpotensi menurunkan efisiensi teknis. Tantangan utama pertanian ASEAN terletak pada keberlanjutan produksi on-farm yang terintegrasi dengan sistem perdagangan global. Intensifikasi yang dipicu oleh tekanan perdagangan cenderung meningkatkan penggunaan input lingkungan seperti pupuk kimia dan emisi selama proses produksi, serta menekan efisiensi teknis pada penggunaan input konvensional seperti lahan, tenaga kerja, dan modal sehingga memperburuk efisiensi dan kinerja efisiensi lingkungan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi ketimpangan kebijakan pertanian berkelanjutan, mengukur kinerja yang mencakup efisiensi teknis dan lingkungan sektor pertanian ASEAN, serta mengevaluasi tekanan akibat perdagangan yang mengindikasikan inefisiensi teknis serta implikasinya bagi Indonesia. &#13;
Pendekatan kualitatif digunakan untuk memetakan kebijakan pertanian dan keberlanjutan antarnegara ASEAN sebagai landasan analisis struktural. Pengukuran efisiensi teknis dan lingkungan dilakukan menggunakan pendekatan Stochastic Frontier Analysis dengan fungsi produksi transcendental logarithmic, di mana dimensi lingkungan dimasukkan melalui detrimental variable yang merepresentasikan input berdampak negatif terhadap lingkungan. Analisis tekanan perdagangan yang mengindikasikan inefisiensi teknis serta lanjutan analisis sebagai implikasi bagi Indonesia dilakukan menggunakan Export Similarity Index (ESI) untuk menilai tingkat kesamaan struktur ekspor antarnegara dan potensi tekanan persaingan yang berimplikasi pada intensifikasi produksi on-farm.&#13;
Hasil estimasi menunjukkan bahwa modal memiliki elastisitas terbesar sebesar 0,98, mencerminkan ketergantungan produksi pertanian terhadap akumulasi kapital. Rata-rata efisiensi teknis sektor pertanian ASEAN sebesar 0,68 mengindikasikan adanya ruang peningkatan output melalui optimalisasi penggunaan input konvensional terutama lahan, tenaga kerja, dan modal. Rata-rata efisiensi lingkungan sebesar 0,46 menunjukkan tingginya penggunaan input lingkungan, khususnya pupuk kimia dan hasil emisi selama produksi. Pada Kawasan ASEAN, nilai koefisien yang positif dan signifikan pada ekspor bersih yang mengindikasikan tekanan perdagangan atau inefisiensi teknis menunjukkan ekspansi perdagangan bersih pertanian belum diiringi peningkatan kapasitas teknologi, manajerial, dan kelembagaan.  Hal tersebut mengakibatkan tekanan permintaan eksternal berpotensi mendorong penggunaan input yang tidak efisien. Dominasi komoditas di Kawasan ASEAN yang menyebabkan adanya tekanan perdagangan pada periode analisis didominasi oleh komoditas minyak kelapa sawit dan karet alam.&#13;
Lebih lanjut, sebagai implikasi bagi Negara Indonesia, nilai rata-rata ESI sebesar 0,32 mengindikasikan tingkat kesamaan ekspor yang relatif moderat di Kawasan ASEAN, namun tetap mendorong tekanan kompetisi dan intensifikasi produksi. Implikasi kebijakan menekankan perlunya harmonisasi kebijakan pertanian berkelanjutan, peningkatan efisiensi berbasis teknologi ramah lingkungan, serta penyesuaian strategi perdagangan. Bagi Indonesia, penguatan efisiensi lingkungan dan hilirisasi ekspor menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing tanpa memperbesar tekanan ekologis karena strategi tersebut memungkinkan peningkatan kinerja sektor pertanian yang sesuai antara produktivitas, keberlanjutan lingkungan, dan posisi kompetitif di pasar regional.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
