<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26">
<title>Master Theses</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26</link>
<description>Master Theses of IPB's master student</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172926"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172922"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172920"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172915"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-13T05:57:14Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172926">
<title>Morfometri Geometris Venasi Sayap Lebah tanpa Sengat (Hymenoptera: Apidae: Meliponinae)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172926</link>
<description>Morfometri Geometris Venasi Sayap Lebah tanpa Sengat (Hymenoptera: Apidae: Meliponinae)
Rahma, Hanifa
Lebah tanpa sengat (Meliponinae) adalah lebah eusosial yang termasuk dalam subfamili Apinae, yang dikenal sebagai penyerbuk utama. Lebah tanpa sengat tersebar di daerah tropis dan subtropis. Identifikasi morfologi lebah tanpa sengat sulit dilakukan karena adanya fenomena spesies kriptik. Metode identifikasi morfologi yang dapat digunakan meliputi metode morfometrika tradisional dan morfometrika geometris. Penelitian ini menggunakan metode morfometrika geometris dengan menggunakan titik koordinat sebanyak 9 titik landmark sebagai acuan anatomi. Sayap lebah tanpa sengat telah menjadi subjek penelitian morfometrika geometris karena terdapat titik koordinat pada setiap venasi sayap yang dapat menunjukkan variasi utama pada sumbu Relative Warps (RW). &#13;
Morfometrika geometris merupakan metode yang memiliki kemampuan yang lebih baik dan pendekatan yang menggambarkan bentuk menggunakan titik koordinat kartesius dan sudut berupa titik koordinat yang disebut dengan landmark. Studi ini bertujuan untuk menganalisis variasi venasi sayap lebah tanpa sengat menggunakan metode morfometrika geometris dari enam belas spesies lebah tanpa sengat di empat daerah di Indonesia. &#13;
Hasil menunjukkan bahwa variasi venasi sayap lebah tanpa sengat sangat beragam, dengan pelebaran dan penyempitan akibat tarikan ke dalam dan ke luar oleh titik-titik digitasi venasi sayap. Sayap tampak lebih besar pada genus Tetragonula dan Sundatrigona, dan tampak lebih kecil pada genus Heterotrigona, Genotrigona, dan Lepidotrigona. Analisis PCA (Principal Component Analysis) menunjukan persebaran tumpang tindih yaitu T. colinna, T. clypearis, dan S. moorei. Sementara itu, hasil analisis dendrogram unrooted Neighbor-Joining, percabangan dimulai dengan Heterotrigona, diikuti oleh Genotrigona, Lepidotriga, dan Tetragonula, serta cabang Sundatrigona yang merupakan keturunannya.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian, metode morfometrika geometrik menggunakan landmark diketahui bahwa venasi sayap dapat memperlihatkan adanya perbedaan antar spesies lebah tanpa sengat dari empat daerah berbeda di Indonesia. Data penelitian ini diharapkan sumber data morfometrika geometris data untuk membantu proses identifikasi spesies lebah tanpa sengat yang memiliki kemiripan secara morfologi di Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172922">
<title>Peningkatan Kualitas Sirap Bambu Laminasi melalui Pemipihan Bilah  Termodifikasi Panas dan Aplikasi Perekat Resorsinol Formaldehida</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172922</link>
<description>Peningkatan Kualitas Sirap Bambu Laminasi melalui Pemipihan Bilah  Termodifikasi Panas dan Aplikasi Perekat Resorsinol Formaldehida
Sya'diah, Siti Masriva
Fenomena pemanasan global  mendorong penerapan arsitektur hijau pada &#13;
bangunan gedung antara lain melalui penggunaan bahan bangunan ramah &#13;
lingkungan. Dalam kaitan ini bambu merupakan salah satu pilihan mengingat &#13;
berbagai keunggulan yang dimilikinya sebagai bahan bangunan. Namun,  &#13;
penggunaan bambu sebagai atap bangunan gedung sering terkendala oleh morfologi &#13;
(bulat berongga, dimensi terbatas) dan stabilitas dimensinya yang rendah. Studi ini &#13;
mencoba mengatasi keterbatasan tersebut melalui teknik laminasi bilah bambu &#13;
terpipihkan (lamina) menggunakan perlakuan panas dan aplikasi perekat berkinerja &#13;
tinggi yaitu resorsinol formaldehida (RF). Penelitian ini juga berfokus pada &#13;
optimasi rasio resorsinol (R) terhadap formaldehida (F) serta optimasi  durasi &#13;
pengempaan pada proses laminasi.   &#13;
Bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dipilih sebagai bahan &#13;
baku utama berdasarkan hasil analisis viskoelastisitasnya yang menunjukkan &#13;
kapasitas regangan tinggi, sehingga mampu meminimalkan kerusakan serat selama &#13;
proses pemipihan menggunakan kempa panas pada suhu 140 °C selama 15 menit. &#13;
Rasio molar R:F yang diaplikasikan adalah 1:1 hingga 1:4  dengan durasi kempa &#13;
dingin 150, 180, dan 210 menit. Karakterisasi perekat RF mencakup kadar padatan &#13;
dan sifat termal nya menggunakan Differential Scanning Calorimetry  dan &#13;
Thermogravimetric Analysis. Sementara itu karakteristik bilah bambu terpipihkan &#13;
dianalisis menggunakan Micro-CT scanner dan pengukuran indeks kristalinitas. &#13;
Kualitas akhir sirap bambu laminasi dievaluasi berdasarkan sifat fisis, yang &#13;
mencakup kadar air, delaminasi, dan stabilitas dimensi, serta sifat mekanis yang &#13;
meliputi Modulus of Elasticity , Modulus of Rupture, dan keteguhan rekat. &#13;
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peningkatan kadar formaldehida &#13;
dalam perekat berbanding terbalik dengan kadar padatan. Rasio RF  1:3 dan 1:4 &#13;
menunjukkan sifat termal yang inferior. Sementara itu modifikasi panas terbukti &#13;
efektif menghasilkan bilah bambu terpipihkan dengan permukaan rata dan &#13;
intensitas retak minimal serta meningkatkan indeks kristalinitasnya. Hal ini  &#13;
memvalidasi peningkatan stabilitas dimensi (penurunan daya serap air mencapai &#13;
29,03%) dan kekuatan mekanis sirap bambu laminasi (peningkatan nilai MOE   &#13;
mencapai 51,38 %, sedangkan MOR mencapai 76,1 %). Selain itu, aplikasi perekat &#13;
RF mampu menghasilkan  sirap bambu laminasi yang tahan terhadap delaminasi  &#13;
(intensitas delaminasi = 0%), mengindikasikan ketahanan rekat yang sangat baik. &#13;
Studi ini menyimpulkan bahwa pemipihan lamina bambu dengan kempa panas, &#13;
aplikasi perekat RF pada rasio 1:2, dan durasi pengempaan 210 menit merupakan &#13;
perlakuan optimal untuk menghasilkan sirap bambu laminasi dengan kualitas yang &#13;
memenuhi SNI 01-5008.2-1999 dan SNI 01-5008.7-1999 atau setara dengan &#13;
formula 1:1  namun dengan biaya yang lebih efisien.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172920">
<title>Karakteristik Kayu Cepat Tumbuh Terimpregnasi Nano TiO2 dan Nano C-dots dengan Asam Sitrat-Gliserol</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172920</link>
<description>Karakteristik Kayu Cepat Tumbuh Terimpregnasi Nano TiO2 dan Nano C-dots dengan Asam Sitrat-Gliserol
Syah, Fiony Aqilah
Kayu sengon (Falcataria falcata (L.) Greuter &amp; R. Rankin) dan jabon (Neolamarckia cadamba Roxb.) merupakan kayu cepat tumbuh yang hingga saat ini pemanfaatannya masih relatif terbatas. Hal tersebut disebabkan oleh stabilitas dimensi rendah, dinding sel tipis, berat jenis rendah, serta kekuatan dan keawetan rendah. Kondisi ini mendorong perlu adanya peningkatan kualitas kayu melalui teknik impregnasi sebagai salah satu metode modifikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh impregnasi nano TiO2 dan nano C-dots dengan tambahan asam sitrat-gliserol terhadap stabilitas dimensi, kerapatan, serta ketahanan kayu sengon dan jabon terhadap serangan jamur pelapuk. Nano C-dots, nano TiO2, serta nanokomposit TiO2/C-dots disintesis menggunakan metode hidrotermal. Impregnasi kayu dilakukan dengan pemberian vakum sebesar -0,7 bar selama 30 menit dan tekanan sebesar 2,5 bar selama 2 jam. Pengujian meliputi stabilitas dimensi, kerapatan, serta ketahanan terhadap jamur pelapuk putih Schizophyllum commune. Karakterisasi nanomaterial dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectrometry (FTIR) dan Particle Size Analyzer (PSA), sedangkan karakterisasi kayu terimpregnasi menggunakan Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX), FTIR, dan X-ray Diffraction (XRD). Hasil penelitian menunjukkan impregnasi menggunakan nano TiO2 dan nano C-dots dengan penambahan asam sitrat-gliserol berpengaruh nyata terhadap stabilitas dimensi dan kerapatan kayu sengon dan jabon. Analisis SEM-EDX menunjukkan bahwa  noktah serta sebagian dinding vessel tertutup oleh material impregnasi, disertai dengan terdeteksinya unsur titanium (Ti) pada kayu yang diberi perlakuan nano TiO2. Analisis FTIR menunjukkan terbentuknya ikatan ester dan keberadaan pita serapan Ti–O–Ti, sedangkan analisis XRD menunjukkan terjadinya penurunan derajat kristalinitas akibat meningkatnya fase amorf pada dinding sel kayu. Pengujian ketahanan terhadap jamur pelapuk putih menunjukkan penurunan kehilangan berat kayu serta peningkatan kelas ketahanan dari kelas IV menjadi kelas III. Secara keseluruhan, perlakuan asam sitrat-gliserol dengan penambahan nanokomposit TiO2/C-dots (CGK) memberikan peningkatan stabilitas dimensi, kerapatan, dan ketahanan terhadap jamur pelapuk putih yang paling optimal pada kayu sengon dan jabon.; Sengon wood (Falcataria falcata (L.) Greuter &amp; R. Rankin) and jabon wood (Neolamarckia cadamba Roxb.) are fast-growing woods whose utilization remains relatively limited. This is due to their low dimensional stability, thin cell walls, low specific gravity, and low strength and durability. This condition encourages the need to improve wood quality through impregnation techniques as a modification method. This study aims to analyze the effect of impregnation with nano-TiO2 and nano-C-dots, supplemented with citric acid-glycerol, on the dimensional stability, density, and resistance of sengon and jabon wood to fungal decay. Nano C-dots, nano TiO2, and TiO2/C-dots nanocomposites were synthesized using a hydrothermal method. Wood impregnation was carried out by applying a vacuum of -0,7 bar for 30 minutes, followed by a pressure of 2,5 bar for 2 hours. The evaluated properties included dimensional stability, density, and resistance to white-rot fungus Schizophyllum commune. Nanomaterials were characterized using Fourier Transform Infrared Spectrometry (FTIR) and Particle Size Analyzer (PSA), while the impregnated wood was characterized using Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX), FTIR, and X-ray Diffraction (XRD). The results showed that impregnation using nano TiO2 and nano C-dots with the addition of citric acid-glycerol had a significant effect on the dimensional stability and density of sengon and jabon wood. SEM-EDX analysis showed that the pits and part of the vessel walls were covered by the impregnation material, accompanied by the detection of titanium (Ti) in wood treated with nano TiO2. FTIR analysis showed the formation of ester bonds and the presence of Ti–O–Ti absorption bands, while XRD analysis showed a decrease in crystallinity due to an increase in the amorphous phase in the wood cell walls. Testing for resistance to white rot fungi showed a decrease in wood weight loss and an increase in resistance class from class IV to class III. Overall, citric acid-glycerol treatment with the addition of TiO2/C-dots nanocomposites (CGK) provided the most optimal improvement in dimensional stability, density, and resistance to white rot fungi in sengon and jabon wood.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172915">
<title>Pengaruh Kombinasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Rizobakteri terhadap Pertumbuhan Bibit Kopsia (Kopsia arborea Blume)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172915</link>
<description>Pengaruh Kombinasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Rizobakteri terhadap Pertumbuhan Bibit Kopsia (Kopsia arborea Blume)
H, Rachmad Chaerul
Kopsia (Kopsia arborea Blume) merupakan salah satu tanaman yang memiliki metabolit sekunder. Penelitian mengenai metabolit sekunder pada tanaman kopsia telah banyak dilakukan, namun penelitian terkait budidaya dan teknik perbanyakannya masih terbatas. Perbanyakan bibit kopsia secara generatif dapat dilakukan dengan menggunakan benih. Peningkatan perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit dapat dilakukan dengan aplikasi mikrob. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis pengaruh tingkat kematangan buah dan perlakuan rizobakteri terhadap perkecambahan benih kopsia, dan (2) pengaruh pemberian fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan rizobakteri terhadap pertumbuhan bibit tanaman kopsia. Penelitian ini terdiri atas 2 topik dengan judul, yaitu: (1) Peran Tingkat Kematangan Buah dan Rizobakteri dalam Meningkatkan Perkecambahan Benih Kopsia, dan (2) Efektivitas Fungi Mikoriza Arbuskula dan Rizobakteri terhadap Pertumbuhan Bibit Kopsia.&#13;
Penelitian topik 1 mengaplikasikan perbedaan tingkat kematangan buah dan perlakuan rizobakteri terhadap perkecambahan benih kopsia. Tingkat kematangan buah yang digunakan ada tiga, yaitu: belum matang, setengah matang, dan matang. Rizobakteri yang digunakan mengandung bakteri Bacillus sp., Pseudomonas sp. dan Azospirillum sp. Buah kopsia sesuai tingkat kematangan direndam dalam larutan rizobakteri selama 24 jam, kemudian ditabur di atas media pasir. Hasil pengamatan selama 2 bulan menunjukkan bahwa tingkat kematangan buah memiliki peran penting dalam menentukan daya kecambah benih dan indeks vigor kecambah. Hanya benih yang berasal dari buah matang yang mampu berkecambah dan menghasilkan pertumbuhan awal yang optimal. Sebaliknya, benih dari buah yang belum matang maupun setengah matang tidak menunjukkan kemampuan berkecambah karena embrio belum berkembang sempurna secara fisiologis. Penerapan rizobakteri terbukti efektif dalam mempercepat waktu perkecambahan, meningkatkan laju perkecambahan, dan memperbaiki nisbah pucuk-akar. Namun, efek positif tersebut hanya terjadi pada benih matang dengan embrio yang telah berkembang sempurna secara fisiologis. Temuan ini menekankan pentingnya pemilihan tingkat kematangan buah yang tepat dan pemanfaatan rizobakteri sebagai strategi biologis untuk meningkatkan keberhasilan perkecambahan dan pertumbuhan awal kopsia, sehingga mendukung upaya perbanyakan dan konservasi spesies ini.&#13;
Penelitian topik 2 menggunakan bibit kopsia hasil penelitian topik 1, untuk meningkatkan pertumbuhannya bibit kopsia diinokulasi dengan FMA dan rizobakteri. Inokulum yang digunakan berupa campuran spora (Acaulospora spinosa, Glomus manihotis, dan Gigaspora margarita) dan potongan akar yang tergabung dalam media zeolit; sedangkan inokulum rizobakteri yang digunakan sama dengan pada topik 1.  Aplikasi FMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif awal, tetapi berpengaruh nyata terhadap nisbah pucuk-akar, kandungan klorofil daun, dan sifat kimia tanah. Sebaliknya, rizobakteri tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan vegetatif, namun berperan dalam kolonisasi mikrob pada konsentrasi 3-5%. Kombinasi FMA dengan rizobakteri pada konsentrasi 3-5% tepat dapat meningkatkan kolonisasi FMA, meski kontribusi terhadap pertumbuhan vegetatif masih terbatas pada fase awal pembibitan.; Kopsia (Kopsia arborea Blume) is one of the plants that has secondary metabolites. Research on secondary metabolites in kopsia plants has been widely conducted, but studies related to its cultivation and propagation techniques are still limited. Propagation of kopsia seedlings growth can be carried out generatively using seeds. Seed germination and seedling growth can be enhanced through microbial application. This study aims to: (1) analyze the effect of fruit maturity level and rhizobacteria treatment on kopsia seed germination, and (2) examine the effect of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and rhizobacteria on the growth of kopsia seedlings. The research consists of two topics with the following titles: (1) The Role of Fruit Maturity Level and Rhizobacteria in Enhancing Kopsia Seed Germination, and (2) Effectiveness of Arbuscular Mycorrhizal Fungi and Rhizobacteria on Kopsia Seedling Growth. &#13;
The first research topic applied differences in fruit maturity levels and rhizobacteria treatment to the germination of kopsia seeds. Three levels of fruit maturity were used, namely immature, half-ripe, and ripe. The rhizobacteria applied contained Bacillus sp., Pseudomonas sp., and Azospirillum sp. Kopsia fruits at each maturity level were soaked in a rhizobacteria solution for 24 hours and then sown on sand media. Observations over two months showed that fruit maturity plays crucial role in determining seed germination capacity and seedling vigor index. Only seeds derived from ripe fruits were able to germinate and produce optimal initial growth, whereas seeds had not yet developed physiologically. The application of rhizobacteria proved effective in acceleration germination time, increasing germination rate, and improving the shoot-root ratio. However, these positive effects were observed exclusively in mature seeds with physiologically well-developed embryos. These findings underscore the importance of selecting the appropriate fruit maturity level and utilizing rhizobacteria as a biological strategy to enhance the success of kopsia seed germination and early growth, thereby supporting propagation and conservation efforts for this species.&#13;
The second research topic utilized kopsia seedlings obtained from the first study, which were inoculated with arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and rhizobacteria to enhance their growth. The inoculum consisted of a mixture of spores (Acaulospora spinosa, Glomus manihoting, and Gigaspora margarita) and root fragments incorporated into a zeolited medium, while the rhizobacteria inoculum used was the same as that in topic 1. The application of AMF did not significantly improve early vegetative growth. However, it exerted a notable effect on the shoot-root ratio, chlorophyll content, and soil chemical properties. Conversely, rhizobacteria did not have a significant impact on vegetative growth, but contributed to microbial colonization at concentrations of 3-5%. The combination of AMF and rhizobacteria at concentrations of 3-5% was effective in enhancing AMF colonization, although its contribution to vegetative growth remained limited during the initial seedling phase.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
