<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25">
<title>Undergraduate Theses</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25</link>
<description>Undergraduate theses of IPB's bachelor student</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173261"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173260"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173259"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173255"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-05T17:54:06Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173261">
<title>Penerapan Pseudo Relevance Feedback pada Mesin Pencari E-Commerce.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173261</link>
<description>Penerapan Pseudo Relevance Feedback pada Mesin Pencari E-Commerce.
Syarif, Muhammad
Electronic commerce menyediakan suatu fitur pencarian (mesin pencari) untuk memudahkan pengguna menemukan produk yang diinginkan. Mesin pencari menemukan dokumen berdasarkan query yang diberikan oleh pengguna. Tidak semua pengguna dapat memberikan kata kunci yang tepat sebagai query. Sehinggga hasil pencarian yang dikembalikan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Pseudo relevance feedback (PRF) merupakan salah satu metode temu kembali informasi yang digunakan untuk meningkatkan relevansi hasil pencarian. Penelitian ini menggunakan metode PRF untuk melakukan formulasi ulang query pada mesin pencari e-commerce. Formulasi ulang query dilakukan dengan menambahkan term pada query awal (perluasan query). Data yang digunakan merupakan dokumen produk yang dimiliki oleh PT. Global Digital Niaga. Penerapan PRF untuk perluasan query berdasarkan atribut categories memberikan hasil MAP yang lebih tinggi yaitu 0.6836 dan nilai MAP tanpa PRF yaitu 0.5990. Penerapan PRF berdasarkan atribut name dan description menghasilkan nilai MAP paling rendah yaitu 0.2940.; Electronic commerce provides a product search feature (search engine) to facilitate users to find a specific product. The search engine finds documents according to user’s query. Not all user can formulate a good keyword as the query. It makes the search results irrelevant with the user’s need. Pseudo relevance feedback (PRF) is one of information retrieval methods that is used to increase results relevance. This research proposed pseudo relevance feedback to reformulate query that implemented in e-commerce search engine. Data for this research is products document from PT. Global Digital Niaga. Implementation of PRF to expand query by product categories attribute give a MAP value of 0.6836 higher than MAP value without PRF (0.5990). The implementation of PRF to expand query by product name and description attribute give a lowest MAP value of 0.2940.
</description>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173260">
<title>Pengaruh Umur dan Jumlah Bibit pada Sistem Tanam Pindah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah Varietas IPB 13S</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173260</link>
<description>Pengaruh Umur dan Jumlah Bibit pada Sistem Tanam Pindah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah Varietas IPB 13S
ASMARA, AHMAD ARYA
Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama di Indonesia&#13;
dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan kebutuhan yang terus meningkat seiring&#13;
dengan pertambahan jumlah penduduk. Salah satu upaya peningkatan produksi&#13;
dapat dilakukan melalui perbaikan teknik budidaya antara lain perlu dikajinya&#13;
pengaruh dari perbedaan umur dan jumlah bibit pada sistem tanam pindah.&#13;
Penelitian ini menggunakan varietas unggul tipe baru IPB 13S yang memiliki&#13;
potensi hasil tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru&#13;
IPB, Dramaga, Bogor, pada bulan September 2025 hingga Januari 2026 dengan&#13;
menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial.&#13;
Perlakuan percobaan terdiri dari umur bibit (10, 16, 22, dan 28 Hari Setelah Semai&#13;
(HSS)) dan jumlah bibit per rumpun (1, 3, dan 5 bibit). Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa umur bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman,&#13;
jumlah anakan, bobot kering akar, bobot kering malai, nisbah akar tajuk, umur&#13;
berbunga, umur panen, jumlah gabah per malai, persentase gabah terisi, serta&#13;
bobot gabah ubinan dan bobot gabah per hektar. Jumlah bibit per rumpun&#13;
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot kering tajuk,&#13;
indeks panen umur berbunga, umur panen, jumlah gabah per malai, dan bobot&#13;
gabah per rumpun. Interaksi antara faktor umur bibit dan jumlah bibit&#13;
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada hampir seluruh peubah&#13;
pengamatan. Penggunaan bibit muda (10–16 HSS) dengan 1–3 bibit per rumpun&#13;
direkomendasikan untuk meningkatkan efisiensi dan memperoleh pertumbuhan&#13;
dan hasil yang optimal.; Rice (Oryza sativa L.) is a major food commodity in Indonesia, with high&#13;
consumption levels and continuously increasing demand in line with population&#13;
growth. One approach to increasing rice production is improving cultivation&#13;
practices, including optimizing age and the number of seedlings used in&#13;
transplanting systems. This study employed the newly developed high-yielding&#13;
rice variety IPB 13S. The experiment was conducted at the IPB Sawah Baru&#13;
Experimental Farm, Dramaga, Bogor, from September 2025 to January 2026&#13;
using a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD). The experimental&#13;
treatments consisted of seedling age (10, 16, 22, and 28 days after sowing (DAS))&#13;
and the number of seedlings per clump (1, 3, and 5 seedlings). The results showed&#13;
that seedling age significantly affected plant height, number of tillers, dry root&#13;
weight, dry panicle weight, root-to-shoot ratio, flowering time, harvest time,&#13;
grains per panicle, grain filling percentage, as well as grain weight per plot and&#13;
grain weight per hectare. The number of seedlings per hill had a significant effect&#13;
on plant height, number of tillers, dry weight of the canopy, harvest index,&#13;
flowering time, harvest time, number of grains per panicle, and grain weight per&#13;
hill. The interaction between seedling age and the number of seedlings showed no&#13;
significant differences in almost all observed variables. The use of young&#13;
seedlings (10–16 days after sowing) at a rate of 1–3 seedlings per clump is&#13;
recommended to improve efficiency and achieve optimal growth and yield.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173259">
<title>Deteksi Molekuler Plasmodium sp. pada Macaca fascicularis Menggunakan Penanda Gen Sitokrom b dan SSU rRNA dari Sampel Darah dan Usap Rektal</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173259</link>
<description>Deteksi Molekuler Plasmodium sp. pada Macaca fascicularis Menggunakan Penanda Gen Sitokrom b dan SSU rRNA dari Sampel Darah dan Usap Rektal
Anggraeni, Rani
Plasmodium sp. merupakan parasit penyebab penyakit malaria pada manusia. Dalam siklus penularannya, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berperan sebagai inang penting penyakit zoonosis ini. Informasi mengenai deteksi infeksi Plasmodium sp. pada primata masih terbatas, terutama pemilihan penanda gen molekuler dan penggunaan sampel non-invasif. Penelitian ini bertujuan mendeteksi Plasmodium sp. pada M. fascicularis menggunakan penanda gen sitokrom b (cyt b) dan small subunit ribosomal RNA (SSU rRNA), membandingkan dan menghitung persentase keberhasilan amplifikasi DNA sampel darah dan usap rektal. Deteksi Plasmodium terhadap 23 sampel darah dan 23 sampel usap rektal dilakukan menggunakan PCR dengan marka gen sitokrom b (170 pb dan 90 pb) dan gen SSU rRNA parsial (1640 pb) lalu divisualisasi menggunakan elektroforesis dengan gel agarose 2% dan pewarna ethidium bromida. Seluruh sampel darah terdeteksi positif Plasmodium sp. pada kedua gen penanda sedangkan sampel usap rektal hanya menghasilkan amplikon pada sitokrom b (90 pb) sebesar 13% yaitu W0163, W0139 dan 170702A. Hasil-hasil ini mengindikasikan dapat dilakukannya deteksi Plasmodium sp. melalui sampel usap rektal, meskipun tingkat keberhasilannya lebih kecil dibandingkan sampel darah pada M. fascicularis.; Plasmodium sp. is a major parasitic protozoan responsible for malaria in humans. In its transmission cycle, long-tailed macaques (Macaca fascicularis) serve as important reservoir hosts. However, information of detecting malaria infections in non-human primates remains limited. In this study, Plasmodium sp. infection in M. fascicularis was detected using cytochrome b (cyt b) and small subunit ribosomal RNA (SSU rRNA) gene markers, followed by calculation and comparison of DNA amplification success rates between blood and rectal swab samples. DNA was isolated from 23 blood samples and 23 rectal swab samples. Detection was performed using PCR targeting cytochrome b fragments (170 bp and 90 bp) and a partial SSU rRNA gene fragment (1640 bp), with amplification products visualized by 2% agarose gel electrophoresis stained with ethidium bromide. All blood samples tested positive for Plasmodium sp. for both gene markers. In contrast, detection from rectal swab samples was successful in only 13% of samples using the cytochrome b 90 bp marker, specifically in samples W0163, W0139, and 170702A.These findings demonstrate that Plasmodium sp. can be detected from rectal swab samples; however, the detection success rate is substantially lower than that obtained from blood samples in M. fascicularis.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173255">
<title>Proses Pelarutan dan Karakterisasi Fibroin Attacus atlas dalam Pelarut Kalsium Nitrat Tetrahidrat dan Metanol</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173255</link>
<description>Proses Pelarutan dan Karakterisasi Fibroin Attacus atlas dalam Pelarut Kalsium Nitrat Tetrahidrat dan Metanol
Dewanty, Anggun Wahyu Putri
Fibroin merupakan komponen protein utama pada kokon ulat sutra yang diikat oleh serisin. Fibroin memiliki sifat dan biokompabilitas yang bermanfaat untuk tubuh manusia. Namun, sifat kristalinnya menyebabkan protein ini tidak mudah larut, sehingga diperlukan metode pelarutan yang tepat. Penelitian ini bertujuan menghasilkan formulasi yang dapat melarutkan fibroin dan mengkarakterisasi berdasarkan pelarut kalsium nitrat tetrahidrat dan metanol. Penelitian ini menggunakan metode trial and adjustment. Analisis yang dilakukan meliputi, penentuan formulasi pelarutan terbaik, pengujian FTIR, SEM, dan uji kadar protein lowry. Hasil penelitian mendapatkan bahwa formulasi kalsium nitrat tetrahidrat dan metanol pada konsentrasi 4,77 M dalam suhu 72,5 °C menggunakan hotplate, merupakan formulasi yang dapat melarutkan fibroin Attacus atlas. Pada karakterisasi gugus fungsi diperoleh adanya pita Amida I dan II yang menandakan adanya ß-sheet. Hasil SEM memperlihatkan bahwa kondisi morfologi larutan fibroin A. atlas berupa rongga dalam larutan akibat pengaruh metanol dan dialisis. Kadar protein fibroin A. atlas yang dihasilkan adalah sebesar 4,45 ??g/mL.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
