<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/20">
<title>IPB's Books</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/20</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173213"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173212"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173075"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173035"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-14T16:57:27Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173213">
<title>Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dan Problem Stunting</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173213</link>
<description>Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dan Problem Stunting
Khomsan, Ali; Fatimah, Hana; Priyatnasari, Nabila Sukma; Fikrah ’Arifah, Dzakiyyatul
Di tingkat rumah tangga konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Oleh karena itu, meningkatkan daya beli adalah hal utama yang harus dilakukan untuk terpenuhinya ketahanan pangan rumah tangga. Terkadang meski negara surplus produksi beras atau pangan lainnya, ini belum menjamin tercapainya ketahanan pangan rumah tangga. Distribusi pangan yang tidak merata menjadi kendala untuk mewujudkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.&#13;
Masyarakat yang mengalami rawan pangan bukan hanya golongan miskin, tetapi juga mereka yang berada sedikit di atas garis kemiskinan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Batas kemiskinan di Indonesia mungkin ditetapkan dengan cut-off point terlalu rendah, sehingga rumah tangga miskin sebenarnya sudah masuk kategori sangat sangat miskin dan mereka yang berada sedikit di atas garis kemiskinan sebenarnya sudah sangat miskin.&#13;
Ketahanan pangan merupakan konsep yang multidimensi yaitu meliputi mata rantai sistem pangan dan gizi mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, dan status gizi. Secara ringkas ketahanan pangan sebenarnya hanya menyangkut tiga hal penting yaitu ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan. ...
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173212">
<title>Gizi dan Penyakit Tidak Menular Edisi Revisi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173212</link>
<description>Gizi dan Penyakit Tidak Menular Edisi Revisi
Khomsan, Ali; Briawan, Dodik; Firdausi, Alya; Dewi, Puspita; Marliyati, Sri Anna; Riyadi, Hadi
Pertambahan penduduk secara signifikan akan memengaruhi kemampuan bangsa untuk menyediakan pangan, layanan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa harus bersiap diri untuk menyambut lahirnya bayi-bayi baru yang mungkin akan mewarisi segala persoalan sosial-ekonomi, kesehatan, dan masalah gizi yang kini sedang kita hadapi.&#13;
Mencermati lati transisi transisi demografi demografis yang terjadi secara global, maka kita bisa mengetahui bahwa sampai tahun 1800 total populasi dunia hanya sekitar 1 miliar orang. Sampai dengan abad ke 18, penduduk dunia mempunyai laju pertambahan yang sangat lambat. Hal ini disebabkan oleh kematian yang tinggi akibat perang, wabah, dan kelaparan.&#13;
Pada masa tersebut, industri belum menjadi tulang punggung ekonomi negara, pertanian belum modern, dan pelayanan kesehatan masih sangat kurang. Produksi pangan sering tidak mencukupi kebutuhan manusia sehingga kelaparan terjadi. Sampai-sampai Malthus sebagai ilmuwan pemikir begitu pesimis terhadap nasib umat manusia karena pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sementara produksi pangan mengikuti deret hitung.&#13;
Pada fase awal transisi demografis ini juga ditandai dengan tingginya angka kelahiran. Keluarga berencana belum muncul dan setiap orang berpikir untuk beranak banyak agar ada yang tersisa hidup sampai dewasa dan menggantikan orang tuanya. Dengan angka kelahiran tinggi dan angka kematian juga tinggi, maka secara keseluruhan pertumbuhan penduduk relatif lambat. ...
</description>
<dc:date>2026-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173075">
<title>Ekologi Pangan, Gizi, Dan Kesehatan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173075</link>
<description>Ekologi Pangan, Gizi, Dan Kesehatan
Khomsan, Ali; Husnul, Nisatami; Damayati, Dwi Santy; Rusyantia, Anggun
Menurut UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang&#13;
dimaksud dengan kemandirian pangan adalah kemampuan&#13;
negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang&#13;
beranekaragam dari dalam negeri yang dapat menjamin&#13;
pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat&#13;
perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya&#13;
alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara&#13;
bermartabat. Secara eksplisit di sini ditekankan tentang&#13;
pemanfaatan segala sumberdaya yang didukung oleh&#13;
kearifan lokal.&#13;
Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar&#13;
dari suatu bangsa. Hidup matinya suatu bangsa tergantung&#13;
pada kemampuan negara dalam mengelola pangan bagi&#13;
rakyatnya. Sejarah menunjukkan bahwa strategi penguatan&#13;
pangan dapat menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan&#13;
musuh. Bangsa yang kebutuhan pangannya banyak&#13;
tergantung dari negara lain akan menjadi bangsa yang rapuh,&#13;
apalagi apabila populasi bangsa tersebut besar seperti&#13;
Indonesia. Dengan demikian upaya untuk mencapai&#13;
kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional&#13;
bukan melulu persoalan ekonomi tetapi juga menyangkut&#13;
ketahanan nasional.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173035">
<title>Kenangan  Reuni Alumni Universitas Indonesia Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173035</link>
<description>Kenangan  Reuni Alumni Universitas Indonesia Bogor; Tahun 1948 - 1963
Aten Suwanda; Hasan Zaini; Koeswanda Wijayakusumah; Soebroto lsnomo; Soekirman Atmosoedarjo; Wardono Saleh
Saya sambut dengan gembira adanya inisiatif para alumni UI Bogor untuk menerbitkan buku kecil kenang-kenangan nostalgia pada masa lalu, yang diisi dengan penyajian kilas balik, kesan dan pesan serta pula mengetengahkan butir­butir panting masa lalu dan masa kini serta harapan-harapan masa pembangunan selanjutnya. &#13;
Dari spa yang disajikan, dapatlah dirangkai sejarah perkembangan pendidikan IPB serta pengungkapan adanya nilai-nilai dan kualitas dari para alumnus dalam pembangunan negara Republik Indonesia. &#13;
Selanjutnya hadirnya buku kenangan ini, diharapkan akan dapat dilanjutkan penelusuran perkembangan pendidikan serta penganalisaan nilai-nilai keberhasilannya dari kurun waktu ke waktu. &#13;
Dengan cara ini diharapkan sejarah pembangunan pendidikan di IPB dapat secara berantai diikuti. &#13;
Kami sampaikan selamat dan terima kasih atas penyajian buku kenangan ini, dan semoga dapat disebar luaskan dan didalami oleh generasi-generasi berikut­nya.
</description>
<dc:date>1994-08-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
