<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162420">
<title>UF - Mathematics</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162420</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178403"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178241"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178109"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177999"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-12T13:56:30Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178403">
<title>Analisis Komparatif Konsistensi Respons pada Mode Survei Online dan Offline</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178403</link>
<description>Analisis Komparatif Konsistensi Respons pada Mode Survei Online dan Offline
Manty, Muhammad Ihsan
Survei online dianggap lebih efisien karena dapat menjangkau wilayah yang &#13;
luas, kecepatan penyebaran kuesioner, kemudahan akses data, dan ekonomis. &#13;
Namun keunggulan ini belum menjamin data yang diperoleh berkualitas (valid, &#13;
reliabel serta representatif). Penelitian ini berupaya mengungkap tingkat konsistensi &#13;
data hasil survei online dan offline pada kelompok responden yang sama agar &#13;
hasilnya dapat dibandingkan dan menghindarkan bias sampling dan bias non respon. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan, tingkat konsistensi jawaban secara keseluruhan dari &#13;
pertanyaan utama berskala Likert 5 pilihan mencapai 58,9%, dan meningkat &#13;
menjadi 70,7% setelah dikonversikan menjadi 3 skala pilihan. Tingkat konsisten &#13;
jawaban biner mencapai 89,6%. Jawaban pertanyaan afeksi relatif lebih konsisten &#13;
dibanding kognisi. Rata-rata jumlah kata jawaban pertanyaan terbuka survei offline &#13;
1,5 kali lebih banyak dari online. Penyebab inkonsistensi antara lain suasana &#13;
psikologis serta rasa tanggungjawab, kondisi lingkungan responden saat menjawab &#13;
pertanyaan.; Online surveys are considered to be more efficient because they can reach &#13;
wider areas, enable faster questionnaire distribution, facilitate easier data access, &#13;
and require relatively lower costs. However, these advantages do not necessarily &#13;
guarantee that the data obtained are high quality (validity, reliability, and &#13;
representativeness). This study seeks to examine the level of consistency between &#13;
data collected through online and offline surveys from the same group of &#13;
respondents, allowing the results to be compared while minimizing sampling bias &#13;
and non-response bias. The findings show that the overall consistency rate for the &#13;
main questions using five-point Likert scale reached 58.9%, increasing to 70.7% &#13;
after the responses were recoded into a three-point scale. The consistency rate for &#13;
binary questions reached 89.6%. Affective questions were found to be relatively &#13;
more consistent than cognitive ones. The average word count of responses to open&#13;
ended questions in the offline survey was 1.5 times higher than in the online. The &#13;
inconsistencies may be attributed to respondents’ psychological state, sense of &#13;
responsibility, and environmental conditions while answering the questionnaire.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178241">
<title>Skripsi a.n Zhafier Zulfiqar (G54190031) Ant Colony Optimization untuk Traveling Salesman Problem: Perbandingan Kinerja dengan Mixed Integer Linear Programming.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178241</link>
<description>Skripsi a.n Zhafier Zulfiqar (G54190031) Ant Colony Optimization untuk Traveling Salesman Problem: Perbandingan Kinerja dengan Mixed Integer Linear Programming.
Zulfiqar, Zhafier
Traveling Salesman Problem (TSP) merupakan permasalahan optimisasi yang bertujuan menentukan rute terpendek dengan mengunjungi setiap lokasi tepat satu kali dan kembali ke titik awal. Peningkatan jumlah lokasi menyebabkan kompleksitas permasalahan semakin tinggi sehingga diperlukan metode penyelesaian yang efisien. Penelitian ini menerapkan Ant Colony Optimization (ACO), yaitu algoritma metaheuristik yang terinspirasi dari perilaku semut dalam menemukan jalur terpendek berdasarkan jejak feromon, untuk menyelesaikan TSP. Kinerja ACO diuji pada beberapa skenario jumlah node dan dibandingkan dengan metode eksak Mixed Integer Linear Programming (MILP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ACO mampu menghasilkan solusi yang mendekati optimal dengan waktu komputasi yang lebih cepat, terutama pada permasalahan dengan jumlah node yang besar. MILP menghasilkan solusi optimal, namun membutuhkan waktu komputasi yang lebih lama seiring bertambahnya ukuran permasalahan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178109">
<title>Optimasi Penjadwalan Perawat Menggunakan Fuzzy Goal Programming: Studi Kasus di  UGD RSUD Kota Semarang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178109</link>
<description>Optimasi Penjadwalan Perawat Menggunakan Fuzzy Goal Programming: Studi Kasus di  UGD RSUD Kota Semarang
Wigawijayanti
Penjadwalan perawat memiliki peran penting dalam mendukung efektivitas &#13;
operasional rumah sakit dan kualitas pelayanan kesehatan. Penyusunan jadwal &#13;
perawat yang masih dilakukan secara manual sering kali kurang efisien dan rentan &#13;
terhadap kesalahan, terutama ketika melibatkan banyak perawat dan berbagai &#13;
aturan kerja. Penelitian ini bertujuan membangun model penjadwalan perawat di &#13;
Unit Gawat Darurat RSUD Kota Semarang menggunakan Fuzzy Goal &#13;
Programming (FGP) dengan bantuan perangkat lunak LINGO 21.0 serta &#13;
membandingkan hasilnya dengan Goal Programming (GP). Model yang &#13;
dikembangkan mempertimbangkan berbagai kendala dan preferensi kerja perawat, &#13;
meliputi jumlah minimum shift pagi, siang, dan malam, pemerataan jumlah shift, &#13;
serta pemberian libur di akhir pekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model &#13;
FGP yang dibangun menghasilkan solusi penjadwalan dengan distribusi beban &#13;
kerja yang lebih merata dibandingkan model GP.; Nurse scheduling plays a crucial role in supporting the operational &#13;
effectiveness of hospitals and the quality of healthcare services. Scheduling that is &#13;
performed manually is often inefficient and prone to errors, particularly when it &#13;
involves a large number of nurses and various work regulations. This study aims to &#13;
develop a nurse scheduling model for the Emergency Department of Semarang &#13;
Regional Public Hospital using the Fuzzy Goal Programming (FGP) with the &#13;
assistance of LINGO 21.0 software and to compare the results with those obtained &#13;
using the Goal Programming (GP). The proposed model incorporates various &#13;
scheduling constraints and nurses' work preferences, including the minimum &#13;
number of morning, afternoon, and night shifts, equitable distribution of shifts, and &#13;
weekend day-off assignments. The results indicate that the developed FGP model &#13;
produces a nurse scheduling solution with a more balanced workload distribution &#13;
than the GP model.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177999">
<title>Optimisasi Penjadwalan Karyawan Menggunakan Goal Programming: Studi Kasus PT Changyang Material Plastics</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177999</link>
<description>Optimisasi Penjadwalan Karyawan Menggunakan Goal Programming: Studi Kasus PT Changyang Material Plastics
Sukmaningrum, Mardiana Tri
Penelitian ini membahas optimisasi penjadwalan shift karyawan pada departemen injection PT Changyang Material Plastics menggunakan goal programming dengan memisahkan kendala menjadi hard constraint dan soft constraint dalam dua skenario. Skenario 1 dimodelkan berdasarkan ketentuan operasional perusahaan, sedangkan Skenario 2 menambahkan kendala batas bawah jumlah shift malam per karyawan sebagai soft constraint. Model diselesaikan menggunakan Lingo 20.0. Skenario 1 menghasilkan nilai fungsi objektif sebesar 4, namun terdapat karyawan yang hanya memperoleh 2 shift malam dalam satu periode. Skenario 2 menghasilkan nilai fungsi objektif sebesar 5, di mana seluruh karyawan memperoleh minimal 5 shift malam. Skenario 2 terbukti lebih baik karena menghasilkan distribusi shift malam yang lebih adil bagi seluruh karyawan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
